Perilaku Informasi Generasi Milenial Kota Semarang di Media Sosial Saat Menghadapi Era Post-Truth
Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro
Abstrak
Adanya internet mengubah sumber media informasi masyarakat ke media sosial dan landasan dalam mempercayai informasi juga ikut berubah, berdasarkan keyakinan, emosi dan kepercayaan diri dibandingkan fakta dan data, terbukti dengan banyaknya informasi hoax di media sosial. Penelitian ini membahas tentang bagaimana perilaku informasi generasi milenial dalam mencari, menemukan, mengelola dan menggunaan informasi di media sosial untuk memenuhi kebutuhan informasinya di era post-truth. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengambilan data observasi, wawancara semi terstruktur dan dokumentasi. Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria generasi milenial kelahiran 1981-1996, aktif memenuhi kebutuhan informasinya dan pernah bersinggungan dengan hoax di media sosial, serta tinggal di Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan perilaku informasi yang dilakukan generasi milenial Kota Semarang di media sosial yang pertama informan mampu mengetahui kebutuhan informasi yang dibutuhkan, yaitu terkait kebutuhan kognitif dan kebutuhan berkhayal yang dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan lingkungan; kedua, generasi milenial menggunakan keempat jenis perilaku pencarian informasi di media sosial, yaitu perhatian pasif, pencarian pasif, pencarian aktif, dan pencarian berlanjut; ketiga, generasi milenial mengevaluasi informasi yang dijumpai di media sosial, yaitu dengan perilaku membacanya, mengecek kebenaran fakta dan data untuk mempercayai informasi; keempat, pengolahan atau penggunaan informasi, informasi yang diperoleh tidak selalu sampai ke tahap penggunaan.
Abstract
The existence of the internet has changed public information media sources to social media and the basis for believing in information has also changed, based on beliefs, emotions and self-confidence rather than facts and actual data, as evidenced by the large amount of hoax information on social media. This research discusses how the information behavior of the millennial generation in searching, finding, managing and using information on social media in an effort to fulfill their information needs while in the post-truth era. This study uses qualitative research methods with observational data collection techniques, semi-structured interviews and documentation. The selection of informants in this study used a purposive sampling technique with the criteria of the millennial generation born 1981-1996, actively fulfilling their information needs and having been in contact with hoaxes on social media, and lived in the city of Semarang. The results of the study show that the information behavior carried out by the millennial generation in Semarang City on social media is that the first informant is able to know the information needs needed, namely related to cognitive needs and imaginary needs which are influenced by psychological and environmental conditions; second, the millennial generation uses four types of information-seeking behavior on social media, namely passive attention, passive search, active search, and continuous search; third, the millennial generation evaluates information found on social media, namely by reading behavior, checking the truth of facts and data to believe the information; fourth, processing or use of information, the information obtained does not always reach the stage of use.
Keywords:
information behavior
· information seeking behavior
· millennial generation
· social media
· post-truth
Introduction
Adanya pandemi Covid-19 membuat jumlah jiwa dan durasi pengguna internet semakin meningkat. Di Indonesia sendiri ada sebanyak 210,03 juta pengguna internet dari 272,68 juta penduduk Indonesia (APJII, 2022:10). Konten yang paling banyak diakses dengan internet oleh masyarakat adalah media sosial, yaitu sebanyak 89,15% (APJII, 2022:22). Media sosial adalah media yang bisa digunakan untuk banyak hal, contohnya untuk bersosialisasi, membagikan informasi dan mencari informasi tanpa dibatasi ruang dan waktu, sehingga wajar jika media sosial menjadi konten internet yang banyak diakses dan menggeser perilaku pencarian informasi masyarakat dari media tradisional (radio, televisi, koran) ke media sosial (Faturahmi, 2020:240). Perubahan perilaku pencarian tersebut pada akhirnya mengubah perilaku informasi masyarakat menjadi cenderung berpikir instan (Faturahmi, 2020:240). Selain itu juga adanya kenyamanan baru di masyarakat yang menerima informasi atau berita tidak lagi berdasarkan fakta dan data, melainkan berdasarkan dengan keyakinan dan emosi yang sudah terbangun dalam diri individu sebelumnya (Faturahmi, 2020). Hal itu disebut dengan era post-truth, yang ditandai dengan banyaknya hoax di media sosial. Sepanjang tahun 2021 KOMINFO RI telah melakukan pemblokiran sebanyak 565.449 konten hoax di media sosial (Rizkinaswara, 2022). Hal tersebut dilakukan karena hoax bisa meresahkan masyarakat dan memecah belah, sehingga pemerintah sangat serius mengatasi hoax. Salah satu golongan masyarakat yang rentan di era post-truth adalah generasi milenial, yaitu generasi yang lahir pada tahun 1981-1996 yang tidak bisa dilepaskan dari penggunaan internet karena tumbuh secara bersamaan dengan berkembangnya teknologi. Generasi Milenial sering terpapar informasi yang mengandung ujaran kebencian, hoax, dan hal sejenis lainnya yang pada akhirnya membangun sifat terbiasa mengkritik, menyebarkan argumen berdasarkan kebenaran pribadi, dan unjuk diri sebagai yang paling benar di media sosial (Sabani, 2018:96). Kota Semarang adalah salah satu kota besar yang memiliki sekitar 500.000 jiwa lebih jumlah penduduk di rentang usia generasi milenial (Badan Pusat Statistik Kota Semarang, 2022:99). Kota Semarang merupakan pusat pemerintahan dan perekonomian, kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia, tentunya Kota Semarang memiliki masyarakat dengan pengguna internet yang tinggi, sehingga masyarakat tidak asing melalukan perilaku informasi di media sosial. Contoh penelitian mengenai perilaku informasi salah satunya penelitian dengan judul “Model Perilaku Pencarian Informasi Generasi Milenial” yang diteliti oleh Rohmiyati (2018), membahas tentang seperti apa perilaku informasi generasi milenial di Kota Semarang. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa terlihat pola baru perilaku pencarian informasi generasi milenial, yaitu yang diawali dengan suatu dorongan untuk melakukan searching atau browsing, kemudian seleksi, evaluasi, share, repost, evaluasi dan respon. Faturahmi (2020) mengungkapkan bahwa masyarakat memiliki literasi yang rendah, jarang tertarik melakukan evaluasi informasi dan sumbernya secara kritis, membuat masyarakat tidak cakap dalam menghadapi informasi. Ditambah dengan adanya era post-truth yang dalam mempercayai suatu informasi mengesampingkan kebenaran karena emosi dan kepercayaan pribadi, semakin menjadi pemicu banyaknya hoax di media sosial, dipercayai oleh masyarakat dan menimbulkan banyak dampak negatif bagi masyarakat. Berdasarkan latar belakang yang sudah dipaparkan dan penelusuran yang telah dilakukan pada google scholar, GARUDA, dan SINTA, tidak ditemukan hasil penelitian yang sama dengan judul penelitian Perilaku Informasi Generasi milenial Kota Semarang di Media Sosial saat Menghadapi Era Post-Truth, maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul “Perilaku Informasi Generasi Milenial Kota Semarang saat Menghadapi Era Post-Truth”. 2. Landasan Teori 2.1 Perilaku Informasi Perilaku informasi merupakan rangkaian kegiatan yang terdiri dari pencarian, pemilihan, penghindaran, dan penggunaan informasi (Cooke, 2017:213). Perilaku informasi menurut Wilson (dalam Widiyastuti, 2016) adalah gabungan dari faktor “kebutuhan” dan “perilaku” yang dilakukan seseorang yang terkait sumber dan saluran informasi, termasuk perilaku pencarian serta penggunaan informasi baik secara aktif maupun pasif dan kebutuhan pribadi seseorang berkaitan dengan kebutuhan fisiologis, afektif dan kognitif. Salah satu teori perilaku informasi yang terkenal yaitu dari Wilson. Pada tahun 1996 Wilson memperbarui usulan teori perilaku informasi, yaitu: 1) perhatian pasif, 2) pencarian pasif, 3) pencarian aktif. Menurut Wilson (dalam Indah, 2013) perilaku seseorang dipengaruhi oleh 1) kondisi psikologis seseorang, 2) demografis, 3) peran seseorang di masyarakat, 4) lingkungan. 2.2 Generasi Milenial Menurut Kupperschmidt (dalam Binus, 2018:1), generasi merupakan individual yang dikelompokkan berdasarkan identifikasi tahun kelahiran, umur, tempat, dan peristiwa yang berlangsung serta memiliki dampak signifikan dalam fase perkembangan kelompok individu tersebut. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), yang termasuk kelompok generasi milenial adalah masyarakat indonesia dengan kelahiran tahun 1981 -1996 (Badan Pusat Statistik dan Kementerian Dalam Negeri, 2021). Generasi milenial merupakan generasi yang memiliki intelegensi digital yang tinggi dan senang berkolaborasi melalui media sosial dan internet karena generasi tersebut hidup di zaman yang sedang berubah dari konvensional menjadi modern, yaitu cukup merasakan budaya dan saat bertubuh dewasa mulai menggunakan teknologi (Basuki, 2021). Pemikiran para generasi milenial adalah generasi yang kreatif, haus akan pengakuan, percaya diri yang tinggi dan pemberani dalam segala hal (Binus, 2018). 2.3 Media Sosial Carr & Hayes (2015:49-50) mendefinisikan media sosial adalah saluran internet dengan banyak keuntungan untuk penggunanya dalam berinteraksi, menentukan image diri, dengan audiens tak terbatas secara langsung maupun tidak terhadap konten dan persepsi interaksi pengguna dengan yang lainnya. Sosial media memiliki banyak jenis dan fungsi, yaitu konten kolaborasi, blog dan microblog, situs jejaring sosial berita, konten video, situs jejaringan sosial, game dunia maya, dan situs dunia sosial virtual (Putri, Nurwati and S, 2016). 2.4 Era Post-Truth Arti kata post-truth menurut Oxford Learner’s Dictionaries adalah “relating to circumstances in which people respond more to feelings and beliefs than to facts”. Proses perkembangan post-truth berkaitan dengan era politik yang menurut mcComiskey adalah dari kejadian kampanye Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat dan Referendum Brexit (British Exit) pada 2016 (Danardono, 2019:2). Penyebaran post-truth terjadi secara masif dan terus-menerus melalui media sosial (Putro & Dkk, 2020:81). Era post-truth ditandai dengan banyaknya informasi hoax, misinformation, disinformation, fake news, nonsense (omong kosong) yang ada di media sosial. Era post-truth di Indonesia semakin terlihat pada kejadian pemilu presiden dan wakil presiden tahun 2019 yang di media sosial banyak buzzer “pendengung” dan menimbulkan “perang maya” mengandung ungkapan kebencian (hate speech) dan kabar bohong (hoax) (Danardono, 2019:1). 2.5 Media Sosial di Era post-truth Pesan atau informasi di media sosial memiliki sensasi yang tinggi dan spektakuler yang menyebabkan suburnya post-truth (Salman et al., 2019:138). Media sosial hadir dengan kebebasan yang diberikan kepada penggunanya, sehingga masyarakat dapat menggunakannya sebagai tempat mengeluarkan segala pendapat individu serta adu argumentasi antara individu lainnya. Para pengendali akun palsu atau buzzer banyak bermunculan di media sosial saat era post-truth
Method
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Menurut Helaluddin & Wijaya (2019:3) penelitian kualitatif merupakan penelitian yang mencoba setting dan konteks untuk mengetahui kejadian secara natural. Metode penelitian kualitatif memiliki karakteristik berupa mengeksplorasi dan menceritakan pengalaman atau keterlibatan seseorang dalam sebuah kejadian (Heriyanto, 2018:317). Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus menurut Rahardjo (2017) adalah suatu kegiatan ilmiah yang dilakukan secara masif, terinci, dan mendalam tentang suatu orang, peristiwa, dan aktivitas pada perorangan, sekelompok orang, lembaga atau organisasi dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan mendalam tentang peristiwa tersebut. Peristiwa atau kasus dalam penelitian ini adalah hal yang sedang berlangsung, yaitu era post-truth, ketika masyarakat mempercayai informasi di media sosial bukan berdasarkan fakta dan data, tetapi lebih berdasarkan emosi, perasaan dan kepercayaan yang telah dimiliki sebelumnya. Pengambilan data dilakukan secara obsevasi, wawancara semi terstruktur dan dokumentasi kepada informan dengan teknik purposive sampling untuk pemilihannya. Menurut Helaluddin & Wijaya (2019:64), purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu, misalnya orang tersebut dianggap tahu atau mengerti apa yang kita harapkan. kriteria informan yang digunakan adalah generasi milenial kelahiran 1981-1996, aktif di media sosial untuk memenuhi kebutuhan informasinya dan pernah bersinggungan dengan hoax di media sosial, serta tinggal di Kota Semarang. Perekrutan informan dilakukan secara online dengan membuat broadcast atau postingan informasi yang disebarkan melalui media sosial. Wawancara dilakukan secara online melalui aplikasi Whatsapp dan dilaksanakan sesuai pedoman wawancara yang telah dibuat, kemudian observasi dan dokumentasi dilakukan dengan melihat aktivitas informan di media sosial dengan tujuan untuk mendapatkan data pendukung.
Result & Discussion
4.1 Analisis Kebutuhan Informasi Generasi Milenial Kota Semarang 4.1.1 Jenis Kebutuhan Informasi Informan Seseorang menggunakan media sosial dengan berbagai macam alasan dan tujuan. Menurut Wilson hal itu disebut dengan perilaku penemuan informasi, yaitu usaha untuk memenuhi tujuan tertentu karna adanya kebutuhan tertentu. Pendorong timbulnya kebutuhan informasi menurut Wilson (1981) adalah berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan karakteristik personal, yang melibatkan aspek kognitif, afektif, integrasi personal, integrasi sosial dan berkhayal. Aspek tersebut bisa dipengaruhi oleh diri sendiri atau kehidupannya, atau tuntutan peran dari pekerjaan lingkungan yang bisa berupa politik, ekonomi, teknologi, dll (Wilson, 2000). Berdasarkan hasil wawancara, informan aktif di media sosial karena untuk memenuhi kebutuhan kognitif dan kebutuhan berkhayal. Menurut Katz, Gurevitch, dan Haas (dalam Indah, 2013) kebutuhan kognitif adalah kebutuhan untuk memahami dan menguasai lingkungannya, berkaitan dengan kebutuhan untuk memperkuat atau menambah informasi, pengetahuan, dan pemahaman seseorang terhadap lingkungannya. Kebutuhan informasi informan masuk kedalam kebutuhan kognitif karena tujuan dari informan aktif menggunakan media sosial adalah untuk mencaritahu informasi apa yang sedang terjadi atau ramai dibicarakan di media sosial baik topik secara luas yang ada di media sosial atau topik tentang kejadian di lingkungan tempat tinggal informan. Selain untuk memenuhi kebutuhan kognitif, pendorong timbulnya kebutuhan informasi informan juga karena kebutuhan berkhayal. Kebutuhan berkhayal adalah kebutuhan untuk mencari hiburan diri atau pengalihan dari stress aktivitas sehari-hari yang telah dilakukan (Katz, Gurevitch, dan Haas dalam Indah,2013). Informan mengungkapkan bahwa tujuannya aktif menggunakan media sosial adalah untuk menghibur diri di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari. Media sosial selain berisikan informasi atau berita, tetapi juga berisikan topik hiburan, contohnya saat informan mencari hiburan melalui platform media sosial twitter. Seseorang dapat dengan bebas menuangkan apa pun yang ada di pikirannya dan juga dapat mencari hiburan melalui konten hiburan yang diunggah oleh pengguna media sosial lainnya. 4.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Informasi Apa yang Sering dicari Informan di Media Sosial Media sosial menjadi tempat dengan beragam topik informasi, berita, pengetahuan, dan sebagainya. Segala jenis informasi tersebut dapat dengan bebas dibuat dan dibagikan oleh siapa pun yang memiliki akun media sosial tersebut. Topik informasi yang dicari oleh Generasi milenial Kota Semarang dapat dipicu atau dipengaruhi oleh beberapa hal. Wilson (1996) menjelaskan bahwa ada lima subbagian atau variabel perantara yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang, yaitu kondisi psikologis seseorang, demografis, interpersonal atau peran seseorang di masyarakat, lingkungan, dan karakteristik sumber informasi. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa topik informasi para generasi milenial Kota Semarang di media sosial diantaranya tentang politik, berita kejadian, tentang kajian sunah, berita perang yang terjadi di dunia, berbagai topik berita yang terjadi di Indonesia, dan tentang kesehatan karna adanya pandemi Covid-19. Berdasarkan wawancara, topik tersebut dipengaruhi oleh psikologis, mood atau ketertarikan individu akan topik informasi dalam mencari atau membaca informasi atau berita di media sosial. Selain dipengaruhi oleh psikologis, mood atau kesukaan dari diri sendiri, topik informasi generasi milenial Kota Semarang juga dipengaruhi oleh lingkungan, yaitu berkaitan dengan wilayah atau tempat informan tinggal. Contohnya adalah informan mencari atau membaca informasi yang berkaitan dengan kejadian, peristiwa atau pengumuman terbaru di sekitar informan tinggal melalui media sosial. Melalui media sosial, seseorang dapat memperoleh informasi terbaru tanpa melakukan pencarian terlebih dahulu. Hal tersebut dapat terjadi karena fitur algoritma penelusuran media sosial, yaitu berdasarkan topik informasi yang dicari sebelumnya. Topik informasi yang dicari maupun dibaca oleh para informan dipengaruhi oleh psikologis dan lingkungan informan sendiri. Hal tersebut sejalan dengan Naufal (2017), topik atau judul yang cenderung dicari adalah yang cocok dengan keseharian individu. 4.1.3 Faktor yang Mempengaruhi Informan dalam Menolak atau Menghindari Informasi yang dijumpai di Media Sosial Saat era post-truth penolakan atau menghindari informasi kemungkinan besar bisa terjadi, karena menganggap informasi itu benar jika sesuai dengan selera individu. Hal tersebut sejalan dengan teori komunikasi S-O-R (stimulus-organism-respon), yaitu perubahan sikap individu bergantung kepada proses yang dialaminya, stimulus atau pesan yang disampaikan oleh komunikator (pembuat informasi) bisa saja diterima atau ditolak oleh komunikan (informan) (Rumyeni and Mayangsari, 2014). Kondisi saat ini, yaitu banyaknya informasi hoax di media sosial akan memperbesar kemungkinan seseorang melakukan penolakan atau penghindaran terhadap suatu informasi. Berdasarkan hasil wawancara, informan mengungkapkan bahwa pernah menolak atau menghindari informasi yang ditemukan di media sosial. Generasi milenial menolak atau menghindari informasi yang ditemukan di media sosial berdasarkan kemauan diri atau psikologis. Ketika informan merasa tidak senang atau tidak tertarik dengan topik tersebut, maka ada kemungkinan untuk menolak atau menghindari informasi tersebut, seperti yang diungkapkan salah satu informan yang menghindari topik politik dan masalah pemerintahan karena tidak menarik bagi dirinya. Penolakan atau penghindaran tersebut terjadi karena psikologis manusia berkaitan erat dengan komunikasi yang dilakukan (Putriana et al., 2021:2). Salah satu kegiatan yang dilakukan di media sosial adalah komunikasi, komunikasi yang di lakukan secara virtual dan menurut Putriana et al., (2021) komunikasi adalah bagian penting dari tumbuh kembang kepribadian manusia, serta berkaitan erat dengan pola tingkah laku, kesadaran dan pengalaman manusia sebelum dan sesudah bertindak. Berdasarkan temuan yang telah disampaikan di atas, terlihat bahwa secara tidak disadari informan mengalami post-truth, yaitu terjadi penolakan atau menghindari informasi yang di jumpai di media sosial karena faktor psikologis (ketidaksesuaian antara topik atau isi informasi tersebut dengan selera informan). Tanpa disadari oleh para informan, aspek psikologis begitu besar mempengaruhi keputusan atau pandangannya terhadap suatu informasi. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Joseph Kahne dan Benjamin Bowyer (2017) (dalam Lintang, 2022), seseorang cenderung menerima informasi yang sudah dipercayai sebelumnya dan akan tidak disukai ketika informasi tersebut tidak sejalan dengan kepercayaan individu (directional motivation). 4.2 Analisis Pencarian Informasi Generai Milenial Kota Semarang 4.2.1 Media Informasi yang digunakan Informan Untuk Memenuhi Informasinya Seseorang melakukan pencarian karena terdorong untuk memenuhi kebutuhan informasi yang dibutuhkannya. Perkembangan teknologi menghadirkan pilihan untuk masyarakat terhadap media informasi. Media informasi atau media yang digunakan untuk memperoleh atau mengakses informasi dibedakan menjadi dua, yaitu media tradisional (radio, televisi, koran) dan media sosial (Faturahmi, 2020:240). Media sosial merupakan media yang bisa digunakan untuk banyak hal, seperti bersosialisasi atau interaksi, share atau membagikan informasi, dan sebagai tempat dalam mencari informasi tanpa ada batasan ruang dan waktu (Nimda, 2012). Saat ini, media sosial dipilih oleh para informan yaitu generasi milenial Kota Semarang untuk memenuhi informasi karena faktor kemudahannya dibandingkan dengan media tradisional. Informan mengungkapkan bahwa lebih praktis mendapatkan informasi melalui media sosial. Cukup dengan gawai atau smartphone, barang kecil yang selalu dibawa kemanapun pemiliknya pergi karena ukurannya yang ramping dapat membuka seluruh jenis media sosial asalkan terhubung dengan internet. Keunggulan tersebut yang menjadi alasan informan lebih memilih menggunakan media sosial. Alasan lain kenapa lebih menggunakan media sosial dalam mencari informasi adalah karena media sosial sudah banyak digunakan oleh banyak orang, sehingga banyak informasi yang dapat ditemukan di dalamnya karena banyak yang menggunakannya. Menurut Farida dan Sari (2020) manusia dituntut untuk semakin cerdas dalam melakukan komunikasi, karena akibat dari kemajuan teknologi. Melalui media sosial bisa digunakan untuk berkomunikasi, berbagi dan mencari informasi tanpa batasan ruang dan waktu. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Kurniasih (2016) yang mengungkapkan bahwa karakteristik masyarakat di era digital adalah ingin mendapatkan informasi dari berbagai sumber dan dalam bentuk multimedia yang didapatkan secara cepat dan secara multitasking, berinteraksi secara real-time, serta tanpa batas dalam membuat konten. 4.2.2 Media Sosial yang Aktif digunakan dan Kegiatan Aktif yang dilakukannya Media sosial memiliki beragam jenis dan fungsinya, yaitu konten kolaborasi, Blog dan microblog, Situs jejaring sosial berita, Konten Video, Situs jejaringan sosial, Game dunia maya, dan Situs dunia sosial virtual (Putri, Nurwati and S, 2016). Semakin berkembangnya teknologi membuat semakin cepat pembaharuan terhadap fitur dari suatu platform media sosial dan juga lahirnya platform media sosial baru. Cepatnya perubahan tersebut tidak selalu beriringan dengan kecepatan adaptasi masyarakat, sehingga tak jarang generasi yang semakin tua hanya menggunakan media sosial tertentu yang masih mudah di pahami penggunaannya dan sesuai dengan tujuannya dalam menggunakan media sosial. Berdasarkan data yang diperoleh, media sosial yang aktif digunakan sehari-hari oleh generasi milenial Kota Semarang yaitu Facebook, Instagram, Twitter, TikTok, dan Whatsapp. Media sosial tersebut adalah platform media sosial yang sering diakses oleh masyarakat Indonesia pada tahun 2022 berdasarkan infografik GoodStats (Goodstats, 2022). Selain media sosial yang telah disebutkan sebelumnya, ditemukan fakta menarik bahwa informan juga memenuhi kebutuhan informasinya melalui Google. Google merupakan mesin pencari internet yang mengelola informasi dunia untuk dapat digunakan dan diakses oleh semua orang, seperti misi dari google “mengelola informasi dunia serta membuatnya berguna dan dapat diakses semua orang” (Google, no date). Aktivitas generasi milenial Kota Semarang di media sosial adalah dalam bentuk aktivitas melihat, mencari, dan sesekali melakukan share atau reshare Informasi. Beberapa informan menyatakan bahwa informan lebih aktif mendapatkan dan share informasi melalui Whatsapp. Walaupun informan aktif setiap hari memenuhi informasi melalui media sosial seperti Facebook, Instagram dan platform media sosial lainnya, akan tetapi aplikasi Whatsapp menjadi tempat urutan pertama yang lebih sering dan fitur story Instagram di urutan kedua yang dijadikan untuk melakukan share atau reshare informasi. Maka tak heran jika pengguna Whatsapp di Indonesia menempati posisi kelima negara dengan pengunduh terbanyak selama kuartal kedua 2022 berdasarkan data yang dimiliki oleh perusahaan Jerman spesialisasi dalam data pasar dan konsumen, Statista (Muhid, 2022). 4.2.3 Jenis Perilaku Pencarian Informasi yang dilakukan Informan di Media Sosial Pencarian informasi menurut Wilson (1996) terbagi menjadi empat jenis, yaitu perhatian pasif (passive attention), pencarian pasif (passive search), pencarian aktif (active search), dan pencarian berlanjut (ongoing search). Perhatian pasif adalah keadaan di saat memperoleh informasi walaupun sebenarnya tidak ada niat untuk mencari informasi, contohnya saat menonton TV; pencarian pasif adalah pencarian informasi karena seseorang mendapatkan informasi yang relevan terhadap dirinya; pencarian aktif adalah pencarian informasi yang dilakukan secara aktif; dan pencarian berlanjut adalah pencarian aktif untuk memperbarui atau memperluas kerangka dasar gagasan, kepercayaan, nilai dan sebagainya yang telah ada sebelumnya (Widiyastuti, 2016). Berdasarkan data wawancara, jenis perilaku pencarian informasi yang dilakukan oleh generasi milenial Kota Semarang di media sosial adalah sebagai berikut Pertama, informan mendapatkan informasi secara tidak sengaja atau disebut dengan perhatian pasif (passive attention). Informan mendapatkan informasi tanpa melakukan pencarian pasif maupun aktif, tidak ada maksud untuk mencari informasi, seperti yang diungkapkan oleh salah satu informan yang mendapatkan informasi secara tidak sengaja dari pesan anggota grup media sosial Whatsapp. Informasi tersebut diperoleh tanpa informan melakukan pencarian informasi karena informan menggunakan media informasi yang terhubung dengan internet. Kedua, informasi diperoleh dengan pencarian pasif (passive search). Informan mendapatkan informasi yang dibutuhkan bukan karena melakukan pencarian aktif, tetapi informan mendapatkan informasi yang relevan karena algoritma media sosial, seperti yang diungkapkan oleh salah satu informan bahwa informan mendapatkan informasi terbaru karena informasi tersebut lewat saat scrolling di beranda media sosial. Algoritma media sosial adalah timbal balik dalam bentuk konten yang kita sukai berdasarkan pantauan yang kita lakukan dalam menggunakan media sosial (Christianus and Suisanto, 2021). Hasil algoritma setiap pengguna media sosial pasti berbeda, karena berdasarkan klik, tayangan, like konten penggunanya. Ketiga, Informan mendapatkan informasi yang dibutuhkan melalui usaha pencarian aktif (active search) yang informan lakukan di media sosial. Cara pencarian aktif ini dilakukan oleh informan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan atau disukai oleh informan, contohnya terkait kejadian yang sedang terjadi di sekitar tempat tinggal informan, informan ingin mengetahui ada peristiwa terbaru apa di Semarang atau ada pengumuman seperti jalan mana yang akan ditutup. Melalui media sosial, informan dapat mengetahui informasi tersebut secara lebih cepat, mudah dan tepat. Keempat, informan melakukan pencarian berlanjut (ongoing search) di media sosial. Pencarian berlanjut ini terjadi ketika rasa penasaran atau keingintahuan informan akan sebuah informasi yang didapatkan atau jumpai di media sosial, sehingga mendapatan informasi yang seluruhnya. Contoh dari pencarian berlanjut adalah informan melakukan perbandingan untuk menyaring informasi yang di temukan, apakah informasi tersebut hoax atau tidak. Banyaknya informasi hoax dan ujaran kebencian yang ada di media sosial membuat informan harus lebih teliti dan mencari perbandingan dari berbagai sumber lainnya, sehingga hoax dan ujaran kebencian bisa diketahui melalui pencarian berlanjut, yaitu informan sudah ada informasi atau kerangka dasar sebelumnya dan akan dikembangkan lagi. Contoh lainnya adalah pencarian berlanjut akibat melihat trending topic Twitter. Platform media sosial Twitter memiliki fitur trending topic, yaitu topik atau informasi apa yang sedang terjadi saat ini yang sedang hangat dibicarakan di Twitter. Trending topic juga ditentukan oleh algoritma, berdasarkan akun yang diikuti, minat, dan lokasi dari pengguna Twitter tersebut (Iskandar, 2020). Saat informan tertarik akan suatu topik yang ia lihat di trending topic Twitter, selanjutnya akan mencari informasi tersebut lebih lengkap untuk dapat menuntaskan rasa penasarannya. Berdasarkan penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa generasi milenial Kota Semarang di media sosial menggunakan keempat jenis pencarian Informasi, yaitu perhatian pasif (passive attention), pencarian pasif (passive search), pencarian aktif (active search), dan pencarian berlanjut (ongoing search) untuk memenuhi kebutuhan informasinya. 4.3 Analisis Evaluasi yang dilakukan Informan Terhadap Informasi di Media Sosial 4.3.1 Perilaku Membaca Informan di Media Sosial Perilaku membaca masyarakat di media sosial atau media online berbeda dengan media tradisional. Menurut Kurniasih (2016), perilaku membaca di media online terutama media sosial memiliki karakteristik tersendiri, yaitu semua orang dapat menciptakan informasi, pesan disampaikan secara singkat, penyebaran informasi sangat cepat dan serentak, serta adanya interaksi antara para pengguna media sosial. Setiap saat masyarakat membaca melalui media sosial, baik dalam bentuk konten berita, news feed media sosial, dan sebagainya (Kurniasih, 2016). Saat membaca, setiap orang memiliki perilaku membaca yang berbeda-beda, seseorang dapat membaca secara rinci, secara keseluruhan dari informasi yang ada atau hanya membaca di bagian tertentu saja, bahkan bisa jadi hanya membaca judulnya saja. Berdasarkan hasil wawancara, perilaku membaca informasi atau berita yang di jumpai atau dapatkan di media sosial adalah sebagai berikut Perilaku pertama adalah membaca secara keseluruhan. Alasan informan ketika membaca informasi di media sosial secara keseluruhan adalah berkaitan dengan psikologis akan keingintahuan dan kepuasan diri sendiri. Melalui cara membaca secara keseluruhan, maka informan dapat mengetahui informasi tersebut secara lengkap dan dapat memastikan kebenaran informasinya, sehingga tidak ada misinformasi. Saat ini banyak jurnalis menulis berita di media sosial dengan judul sangat menarik namun isi informasinya belum tentu sama atau disebut dengan click bait. Jika masyarakat tidak membaca keseluruhan, maka akan sangat mungkin dan mudah masyarakat mempercayai informasi tersebut dan tidak berusaha melakukan perbandingan dengan informasi sejenisnya dari akun atau media lain. Hal tersebutlah yang juga menjadi alasan salah satu informan ketika memutuskan untuk membaca informasi di media sosial secara keseluruhan. Perilaku kedua adalah membaca hanya pada inti tulisan. Alasan saat seseorang langsung membaca atau mencari ke tulisan yang berisi inti informasi atau berita juga dipengaruhi oleh sikap psikologisnya, yaitu berkaitan dengan literasi atau tingkat kemauan membaca dari individu. Seperti contoh salah satu informan yang saat membaca berita kecelakaan di media sosial langsung pada inti tulisannya, membaca judul, kemudian ke pertengahan tulisan untuk membaca lokasi kecelakaan, berapa korban atau inti informasi lainnya karena alasan tidak suka begitu banyak membaca suatu berita. Situasi dan topik informasi juga mempengaruhi perilaku membaca generasi milenial Kota Semarang, seperti yang disampaikan oleh salah satu informan yang mengungkapkan lebih membaca secara detail jika berkaitan dengan informasi hukum atau putusan kasus, sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saat ini. Berdasarkan hasl temuan yang telah dijabarkan diatas, dapat disimpulkan ada dua perilaku membaca informan, yaitu secara keseluruhan dan secara langsung ke inti tulisan. Alasan yang mempengaruhi hal tersebut karena faktor ketertarikan akan isi informasi dan situasi. Informan menyampaikan bahwa saat membaca informasi atau berita di media sosial, para informan masih menyadari akan pentingnya memastikan terlebih dahulu apakah informasi tersebut sesuai fakta dan data. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Naufal (2017), bahwa keputusan masyarakat untuk membaca secara keseluruhan atau tidak karena menyesuaikan dengan waktu yang dimiliki serta keinginan untuk memahami isi informasi. 4.3.2 Tindakan Informan Saat Kebingungan akan Kebenaran Informasi yang dibaca Banyaknya informasi yang ada di media sosial dan semakin pandai seseorang dalam membuat berbagai hoax, membuat masyarakat terkadang kesulitan untuk menilai kebenaran dari informasi atau berita yang di jumpai di media sosial. Hal tersebut selaras dengan pernyataan Reuters Institute dan pengukuran melalui Alexa.com, masyarakat lebih mempercayai media fake news dibandingkan dengan media terpercaya seperti Tempo.co dan Antaranews (Devega, 2017). Tindakan yang diambil genera milenial Kota Semarang saat merasakan keraguan akan kebenaran informasi sangatlah beragam. Berdasarkan yang disampaikan oleh para informan, tindakan tersebut bisa dari kecakapan dari diri individu untuk dapat menganalisis dan membedakannya, serta bisa melalui pihak luar yang datang dari orang sekitarnya. Tindakan berdasarkan kecakapan diri individu adalah dengan kemampuan membandingkan informasi serupa. Informan menyampaikan ketika mengalami kesulitan saat membedakan kebenaran informasi, informan akan mencari perbandingan dengan informasi atau berita yang sama dari akun lainnya. Namun, ada juga kondis disaat bingung atau ragu akan kebenarannya, jalan keluarnya hanyalah menunggu informasi kelanjutannya. Contoh informasinya adalah terkait spill tentang isu-isu penipuan seseorang di twitter dan informasi tentang pemerintahan, jika ingin mengetahui kebenarannya maka harus menunggu jika nantinya ada informasi kembali dari pihak yang bersangkutan. Sedangkan tindakan yang berasal dari pihak luar atau orang sekitarnya adalah informan melakukan diskusi atau bertanya kepada teman yang memiliki pemikiran sejalan dengan informan. Dengan begitu maka akan mendapatkan solusi atas kebingungan informasi yang dijumpai atau dapatkan di media sosial. Tindakan yang dilakukan informan saat kebingungan akan kebenaran informasi di media sosial bergantung kepada jenis atau topik informasi tersebut. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Joseph Kahne dan Benjamin Bowyer (2017) (dalam Lintang, 2022), dalam menerima setiap informasi, seseorang akan lebih berhati-hati dengan menggali dan mengkritik suatu informasi lebih dalam (accuracy motivation). 4.3.3 Alasan Informan saat Mempercayai Informasi yang dijumpai di Media Sosial Mempercayai suatu informasi haruslah berlandaskan fakta dan data yang jelas terkait informasi tersebut. Akan tetapi di era post-truth yang mendasari dalam mempercayai suatu informasi menjadi berubah. Berdasarkan wawancara yang telah dilaksanakan, diketahui bahwa para informan yaitu generasi milenial Kota Semarang ternyata masih mempertimbangkan fakta dan data dalam mempercayai suatu informasi di media sosial. Selain dari fakta dan data, akun pembuat informasi juga menjadi pertimbangan informan dalam mempercayai informasi tersebut, apakah akun tersebut terpercaya atau memiliki reputasi, sudah berapa lama berdirinya, apakah banyak pengikutnya dan kejelasan dari sumber informasi yang dibuat. Contoh akun berita yang dipercaya oleh informan adalah Metro News, Liputan 6, Jawa Pos, Detikcom. Kepercayaan masyarakat akan media berita online terbukti sangat tinggi. Sesuai dengan hasil laporan akhir kepercayaan publik terhadap media pers arus utama tahun 2019, media online seperti detik.com, kompas.com, vivanews.com sering diakses oleh masyarakat setiap harinya (Widarini et al., 2019:18-19). Informasi yang dijumpai di media sosial tidak seluruhnya dapat dipercaya akan kebenarannya, apalagi saat ini adalah era post-truth, banyaknya informasi hoax beredar di media sosial. Tetapi, ternyata para informan masih mempertimbangkan fakta dan data dalam mempercayai informasi yang dijumpai di media sosial, serta asal usul media pembuat informasi juga menjadi pertimbangan tambahan dalam mempercayai informasi. 4.4 Analisis Pemahaman dan Pengolahan Informasi yang diperoleh Informan 4.4.1 Pemahaman Informan tentang Hoax dan dampaknya Informasi hoax sejatinya memiliki berbagai macam jenis, bisa karena berdasarkan bentuk, tujuan, dan hal lain terkait informasi tersebut. Jenis-jenis informasi hoax menurut Santoso ada tujuh, yaitu: 1. Fake news atau berita bohong 2. Clickbait atau tautan jebakan untuk menarik orang berkunjung ke situs tersebut 3. Confirmation bias, yaitu menginterpretasikan kejadian yang baru terjadi untuk menjadi bukti dari kepercayaan yang sudah ada sebelumnya. 4. Misinformation, yaitu informasi salah atau tidak akurat dan biasanya bertujuan menipu. 5. Satire, yaitu tulisan humor, ironi, hal yang dibesar-besarkan dengan tujuan mengkomentari kejadian yang sedang hangat. 6. Post-truth atau pasca-kebenaran, yaitu di saat emosi lebih berperan dibandingkan fakta untuk membentuk opini publik. 7. Propaganda, yaitu menyebarluaskan informasi, fakta, argumen, gosip, setengah-kebenaran atau kebohongan dengan tujuan untuk mempengaruhi opini publik (Santoso melalui Rahardi, 2017: 62). Karena banyaknya jenis hoax, maka perlu mengetahui sejauh mana pemahaman atau pengetahuan informan tentang informasi hoax. Dari pemahaman tersebut akan menentukan perilaku penggunaan informasi seseorang, tindakan atau respon terhadap informasi yang telah didapatkan berdasarkan pertimbangan atau pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki dirinya. Pendapat informan mengenai hoax adalah berita atau informasi yang tidak atau belum tentu benar, dan tidak sesuai dengan faktanya. Selain mengetahui sejauh mana pemahaman atau pengetahuan informan tentang hoax, penting juga untuk mengetahui pendapat informan mengenai dampak dari hoax yang di jumpai di media sosial saat ini. Karena ketika kita mengetahui seberapa jauh dampak negatifnya, maka cara seseorang menyikapi informasi hoax juga pastinya berbeda. Informan mengungkapkan bahwa dampak dari hoax bisa lumayan besar dan luar biasa, dapat membuat seseorang mudah merespon secara emosi, terlebih jika menyangkut tentang SARA. Seseorang yang sedang terpancing emosi dapat dengan mudah dipengaruhi, apalagi jika pengguna masih di bawah umur (yang belum dewasa). Ketika seseorang sudah percaya dengan informasi hoax, terkadang akan membela mati-matian, sesuai dengan apa yang dipercayai saat itu. Dampak dari hoax, berita bohong dan ketidakbenaran lainnya di media sosial bahkan bisa sampai di dunia nyata. Dampak hoax dapat membuat perdebatan di antara teman di dunia nyata, karena permasalahan atau informasi yang ada di media sosial. Contohnya adalah topik informasi diwaktu pemilihan umum raya presiden, karena opini yang berserangan pada akhirnya membuat perdebatan sampai di dunia nyata. Kesadaran informan akan dampak hoax yang luar biasa dapat membantu informan lebih berhati-hati saat menyikapi informasi yang dirasa merupakan informasi hoax. 4.4.2 Pemahaman Generasi Milenial Kota Semarang tentang Era Post-Truth Post-truth secara umum mungkin masih asing bagi mayoritas masyarakat, tidak sefamiliar istilah hoax yang sudah diketahui dan dipahami masyarakat. Tetapi tanpa disadari, banyak masyarakat di Indonesia, orang terdekat maupun teman di media sosial, atau bahkan bisa jadi diri kita sendiri sedang mengalami post-truth ini. Secara umum post-truth adalah situasi saat seseorang lebih didominasi atau dipengaruhi emosi, keyakinan dan perasaan pribadi sebagai landasan dirinya dalam membuat opini publik dibandingkan fakta dan data sebenarnya. Penyebaran post-truth terjadi melalui media sosial secara terus-menerus karena tidak terseleksi dan terverifikasi dengan ketat kebenarannya (Putro & dkk, 2020:80). Menurut (Putro & dkk, 2020: 81), fenomena post-truth ini menibulkan banyak sekali dampak negatif di Indonesia, dan hal tesebut dapat meluas karena empat sebab, yaitu: 1. Kemajuan teknologi informasi yang tidak seimbang dengan tingkat adaptasi pemerintah dan masyarakat 2. Kompetisi politik yang tidak berkesudahan sejak pilpres 2014 3. Adanya dukungan dari masyarakat tertentu pada ideologi ekstrim anti-Pancasila 4. Adanya kegelisahan dengan perubahan dan perbaikan sistem yang dilakukan pemerintah saat ini. Karena semakin berkembangnya post-truth tersebut, akhirnya menjadikan lahirnya era baru terkait fenomena ini, yaitu era post-truth. Akan tetapi, di masyarakat istilah post-truth tersebut belum cukup familiar, terbukti dengan informan yang mengungkapkan bahwa baru saja mendengar tentang posttruth saat proses wawancara. Para generasi milenial Kota Semarang masih asing tentang istilah post-truth, akan tetapi sejatinya informan sadar dan bisa jadi informan mengalaminya saat ini. Hal tersebut terbukti dengan sadarnya informan bahwa saat ini banyak orang di media sosial yang termasuk ke dalam post-truth setelah mengetahui apa itu era post-truth, yaitu emosi dan keyakinan akan diri sendiri lebih berperan dibandingkan fakta dan data dalam mempercayai suatu informasi. Contohnya seperti yang diungkapkan salah satu informan, yang mana teman informan sering membagikan berita hoax melalui grup Whatsapp karena informasi tersebut dianggap benar olehnya, dan informan juga menambahkan jika terkait informasi sensitif yang mengandung SARA dan ditambah minimnya pengetahuan tentang hoax membuat seseorang mudah terpancing emosi terhadap informasi tersebut dan tidak melihat fakta dan data sebenarnya. Informan juga menyadari bahwa masyarakat saat ini mengalami fenomena post-truth tidak hanya saat di media sosial, yaitu sampai saat berkumpul bersosial di kehidupan nyata. Bahkan salah satu informan menyadari dan mengungkapkan bahwa ia pernah mengalami sendiri fenomena post-truth ini, yaitu mendapatkan hate speech, hate comment di media sosial karena memiliki pertanyaan yang tidak disukai oleh pemberi hate speech, hate comment tersebut. Berdasarkan hal tersebut dapat dismpulkan bahwa tanpa disadari informan saat ini ada di era post-truth, baik mengalami pada diri sendiri maupun pada lingkungan sekitar informan. Saat informan mengetahui post-truth, informan menyadari bahwa masyarakat saat ini di media sosial berperilaku post-truth, yaitu mempercayai informasi dengan emosi dan kepercayaan diri sendiri. 4.4.3 Tindakan yang dilakukan Informan Terhadap Informasi yang dijumpainya di Media Sosial Setelah pencarian atau penemuan informasi akan terjadi respon atau tindakan yang muncul, yaitu bisa berupa tindakan fisik dan mental yang merupakan proses menggabungkan informasi yang ditemukan ke dalam basis pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Yang terjadi pada generasi milenial Kota Semarang adalah sebagai tersebut. 1. Tidak terjadi penggunaan informasi Tidak selalu informasi yang informan dapatkan atau jumpai di media sosial akan membuat informan bertindak untuk menggunakan informasi tersebut. Mayoritas informan tidak menggunakan informasi yang ditemukan karena informasi tersebut dirasa mengandung hoax atau ujaran kebencian ataupun karena sudah memiliki pengetahuan akan informasi tersebut, sehingga informan tidak melakukan tahapan perilaku informasi sampai ke tahap penggunaan informasi, hanya berhenti pada penemuan informasi. Selain mengabaikan informasi, terkadang informan melakukan tindakan penghapusan atau melaporkan akun pembuat informasi melalui fitur yang telah disediakan oleh aplikasi media sosial karena dirasa mengandung hoax atau ujaran kebencian. 2. Terjadi penggunaan informasi Informasi yang dijumpai di media sosial terkadang akan membuat informan menggunakan lebih lanjut informasi tersebut, dengan melakukan tindakan fisik maupun tindakan mental. Tindakan sebagai bentuk penggunaan informasi yang dilakukan oleh generasi milenial Kota Semarang terhadap informasi yang didapatkan dari media sosial adalah sebagai berikut: A. Perbaikan informasi kepada orang terdekat Di real life atau di luar media sosial informan melakukan pelurusan atau perbaikan informasi atau memberitahu ke orang lain bahwa informasi tersebut tidak benar. Contohnya ketika salah satu informan mencoba memberitahu orang terdekatnya untuk lebih melihat kembali fakta yang sebenarnya dari suatu informasi hoax yang dipercayai tersebut. Di media sosial informan tidak melakukan penggunaan informasi, tetapi terjadi perbaikan informasi ketika ada orang terdekat di real life yang percaya akan berita hoax. B. Memberikan like terhadap postingan informasi yang dibaca Aplikasi media sosial memiliki berbagai fitur, salah satunya fitur untuk merespon atau memberi tanggapan langsung terhadap postingan, di antaranya adalah like, komentar, dan share. Generasi milenial melakukan hal tersebut, Salah satu contohnya informan melakukan like dan quote retweet sebagai respon di media sosial secara langsung terhadap informasi atau berita yang dibaca. Sedangkan untuk komentar, generasi milenial jarang melakukannya karena mengetahui dampaknya jika berkomentar tanpa mengetahui kebenaran informasi sebenarnya. Informan mengambil sikap dengan mempertimbangkan dampaknya, sehingga Informan sangat berhati-hati saat memutuskan untuk berkomentar terhadap suatu postingan yang dijumpai di media sosial. Hal tersebut terjadi karena rasa takut jika telah meninggalkan komentar tetapi ternyata informasi tersebut tidak benar. C. Reshare Informasi yang ditemukan di Media Sosial Ketika membaca atau menjumpai informasi yang menarik, sedang menjadi pembicaraan di media sosial, terkadang mendorong seseorang untuk membagikan kembali informasi yang dibaca. Kemudahan dari media sosial untuk membuat, mengunggah, dan membagikan kembali atau reshare suatu informasi tidak dapat dipungkiri membuat kebiasaan masyarakat saat ini sering melakukan share atau reshare informasi di media sosialnya. Berda
Conclusion
Hasil penelitian dan analisis data penelitian menunjukkan bahwa generasi milenial Kota Semarang mengetahui informasi apa yang dibutuhkan, yaitu informan membutuhkan informasi dalam aspek kognitif dan kebutuhan berkhayal yang dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan lingkungan informan. Kebutuhan kognitif berkaitan dengan keingintahuan informasi terbaru yang sedang ramai dibicarakan di media sosial dan kebutuhan berkhayal berkaitan dengan hiburan untuk mengalihkan stress dari kegiatan sehari-hari. Kebutuhan informasi tersebut terpenuhi melalui empat jenis pencarian, yaitu perhatian pasif (pesan personal atau grup yang didapatkan dari teman di media sosial), pencarian pasif (informasi relevan akibat algoritma media sosial), pencarian aktif, dan pencarian berlanjut. Banyaknya informasi yang belum tentu kebenarannya dapat ditemukan dengan mudah oleh generasi milenial Kota Semarang di media sosial. Informan melakukan evaluasi untuk mengatahi hal tersebut, yaitu memastikan kebenaran informasi dan reputasi media pembuatnya dengan membaca secara keseluruhan maupun inti informasi tersebut. Hasil penemuan informasi tersebut diolah dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan informasi generasi milenial Kota Semarang. Informan tidak selalu melalui tahapan perilaku informasi mulai dari saluran sampai penggunaan informasi. Tahapan perlaku informasi dapat terhenti hanya sampai penemuan atau pencarian informasi karena tidak berdampak atau membuat hal baru pada pengetahuan informan. Saat tahapan perilaku sampai pada penggunaan informasi, pengolahan atau pemanfaatan yang terjad pada informan adalah informan melakukan perbaikan informasi ke orang terdekatnya, memberikan like untuk reaksi langsung terhadap postingan, reshare informasi yang ditemukan, dan pertimbangan untuk mengikuti akun pembuat informasi.