Kembali
16
1
2020 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 4 · 3 ISSN 2598-3040

Pemanfaatan Podcast dan Instagram Oleh Komunitas Literatif sebagai Media Penyebaran Informasi Bidang Perpustakaan

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemanfaatan Podcast dan Instagram oleh Komunitas Literatif sebagai media penyebaran informasi bidang perpustakaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini dalam proses pengambilan datanya menggunakan metode observasi non partisipan dan wawancara semi terstruktur. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 10 partisipan yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah thematic analysis. Hasil analisis menunjukkan bahwa Komunitas Literatif memiliki peran sebagai komunikator untuk menyebarkan informasi bidang perpustakaan. Komunitas Literatif dalam melakukan penyebaran informasi, menetapkan sasaran yaitu orang yang berkecimpung pada bidang perpustakaan dan masyarakat umum. Selain penetapan sasaran, Komunitas Literatif juga melakukan penyusunan pesan, dan pemilihan media. Media yang dipilih oleh Komunitas Literatif adalah Podcast dan Instagram. Podcast dipilih karena belum ada podcast mengenai bidang perpustakaan di Indonesia. Adapun Instagram dipilih karena merupakan media populer untuk konten infografis. Informasi yang telah disebarkan menimbulkan efek bagi sasaran yaitu berupa penambahan pengetahuan mengenai bidang perpustakaan.

Abstract

This study aims to explore the use of the Podcast and Instagram by the Literative Community as a media for disseminating information in the library field. The method used in this research is qualitative method with a phenomenological approach. In this study, the data collection process used non-participant observation methods and semi-structured interviews. There were 10 participants in this study who were selected using purposive sampling. The analytical method used in this study is thematic analysis. The analysis shows that the Literative Community has a role as a communicator to disseminate information in the library field. Literative Community, in disseminating information, set goals that are the people who are involved in the field of libraries and the general public. In addition to setting targets, the Literative Community also organize messages and media selection. Media chosen by the Literative Community are Podcast and Instagram. Podcasts have been chosen because there are no podcasts about the field of libraries in Indonesia. The Instagram has been chosen because it is a popular media for infographic content. The information disseminated has an effect on the target in the form of additional knowledge about the library field.
Keywords: information dissemination · media · Podcasts · Instagram

Introduction

Kegiatan penyebaran informasi tidak terlepas dari proses komunikasi. Salah satu unsur pada proses komunikasi adalah media. Media merupakan sarana dari kegiatan penyebaran informasi yang dapat berbentuk media audio, media visual, dan media audiovisual. Media penyebaran informasi tumbuh pesat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Adanya perkembangan IPTEK memunculkan internet. Kombinasi antara media dan internet menciptakan kemudahan dalam menyebarkan informasi tanpa mengenal waktu. Saat ini terdapat media audio yang mulai diminati oleh masyarakat yaitu Podcast. Perbedaan Podcast dengan media lain adalah Podcast dapat diakses secara otomatis, kontrol Podcast berada di pendengar Podcast, dapat dibawabawa, dan selalu tersedia selama terkoneksi dengan internet (Geoghegan dan Klass, 2007). Podcast merupakan media yang dapat menjadi sumber belajar berbasis audio, yang di dalamnya juga tersedia berbagai macam informasi seperti politik, pendidikan, hiburan, dan gaya hidup sesuai dengan pembuat Podcast (Podcaster). Selain Podcast, media lainnya yang dapat digunakan untuk menyebarkan informasi adalah Instagram. Instagram merupakan aplikasi yang interaktif karena pengguna dapat melihat, mengomentari, dan menyukai postingan yang dibagikan kepada pengikutnya. Selain itu, Instagram juga didukung dengan fitur-fitur seperti membagikan stories yang bertahan hanya 24 jam di akun Instagram, mengirim foto, video, dan pesan secara pribadi ke teman, dan menonton video dengan durasi yang panjang melalui IGTV. Instagram dapat menjadi media untuk menyebarakan informasi berupa foto atau video. Media ini sering digunakan di Indonesia, Instagram menduduki posisi keempat sebagai platform yang sering digunakan yaitu sebanyak 80% dari pengguna internet di Indonesia (Kemp, 2019). Meskipun Podcast dan Instagram memiliki peningkatan popularitas, namun untuk Podcast dan Instagram yang membahas tentang bidang perpustakaan masih sangat minim di Indonesia. Melihat hal tersebut, sebuah komunitas online bernama Komunitas Literasi Alternatif (Literatif) yang memiliki fokus pengembangan pengetahuan perpustakaan menginisiasi pembuatan Podcast yang diberi nama Library Podcast (Libcast) dan membuat akun Instagram dengan nama Literatif.id. Instagram Komunitas Literatif berisi informasi mengenai bidang perpustakaan yang dikemas dalam bentuk infografis. Adapun Libcast juga berisi pembahasan mengenai bidang perpustakaan. Libcast diunggah pertama kali pada tanggal 9 September 2019 melalui aplikasi seperti Anchor dan Spotify. Dengan demikian, Libcast menjadi pelopor Podcast yang berfokus pada bidang perpustakaan di Indonesia. Komunitas Literatif menjadi komunitas yang befokus pada pengembangan pengetahuan perpustakaan dengan memanfaatkan Instagram dan menjadi pembuat Libcast yang merupakan pelopor Podcast dengan fokus pada bidang perpustakaan di Indonesia. Namun, belum diketahui bagaimana pemanfataan dari Podcast dan Instagram yang dilakukan oleh Komunitas Literatif dan efek informasi yang ditimbulkan dari pemanfataan Podcast dan Instagram. Untuk dapat mengeksplorasi pemanfaatan Podcast dan Instagram yang dilakukan oleh Komunitas Literatif sebagai media penyebaran informasi bidang perpustakaan, sebelumnya perlu diketahui pola penyebaran informasi yang berkaitan dengan proses komunikasi. Terciptanya proses komunikasi, diperlukan unsur-unsur yang membentuknya. Cangara (2006) menjelaskan unsur-unsur komunikasi yang didasarkan oleh teori Lasswell yaitu pengirim (sender), pesan (message), media yang digunakan (channel), penerima (receiver), dan efek yang ditimbulkan (effect). Berikut penjelasan dari lima unsur yang membentuk proses komunikasi: 1. Pengirim (sender) merupakan pihak yang memiliki rencana atau inisiatif untuk berkomunikasi. Pengirim (sender) dalam komunikasi antarmanusia dapat terdiri dari satu orang ataupun kelompok. 2. Pesan (message) merupakan simbol verbal dan/atau simbol nonverbal yang mewakili perasaan, ide, nilai, dan gagasan dari pengirim. Isi pesan dapat berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, atau nasihat. Pesan dapat disampaikan melalui tatap muka atau media komunikasi. 3. Saluran atau media (channel) merupakan alat dan sarana yang digunakan pengirim untuk menyampaikan informasi. 4. Penerima (receiver) adalah pihak yang menjadi sasaran informasi yang dikirim oleh pengirim. 5. Efek (impact) merupakan hasil atau respon yang ditunjukkan oleh penerima setelah memperoleh informasi. Hasil atau respon yang ditunjukkan dapat berupa penambahan pengetahuan (kognitif), perubahan sikap (afektif), dan tindakan (konatif). Sebuah proses komunikasi tidak terlepas dari rintangan dan hambatan yang terjadi, untuk itu diperlukan perencanaan komunikasi. Menurut Wijaya (2015, p. 58), terdapat strategi yang dapat digunakan dalam perencanaan komunikasi, yaitu sebagai berikut: 1. Menetapkan komunikator. Komunikator menjadi sumber kendali penting dari proses komunikasi, karena komunikator yang menyusun pesan, memilih media yang tepat, dan mendekati target sasaran. 2. Menetapkan target sasaran dan analisis kebutuhan khalayak. Sasaran dapat diartikan sebagai komunikan. Memahami masyarakat yang menjadi target sasaran sangat penting karena semua aktivitas komunikasi ditujukkan kepada sasaran. 3. Menyusun pesan. Pesan adalah segala sesuatu yang disampaikan oleh seseorang dalam bentuk simbol yang dipersepsi dan diterima oleh komunikan dalam serangkaian makna. 4. Memilih media dan saluran komunikasi. Memilih dan menetapkan media komunikasi harus mempertimbangkan karakteristik isi dan tujuan isi pesan yang ingin disampaikan. 5. Efek komunikasi. Semua program komunikasi yang dilakukan mempunyai tujuan, yaitu mempengaruhi target sasaran. Pengaruh bisa terjadi dari perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan hasil penelitian peneliti sebelumnya yang berfungsi sebagai pandangan dan acuan dalam pelaksanaan penelitian. Penelitian sebelumnya yang pertama berjudul “Dissemination of Medical and Science-based Information: The Effectiveness of Podcasting” ditulis oleh Younger (2011). Penelitian oleh Younger ini membahas tentang potensi dan efektivitas Podcast dalam penyebaran informasi kesehatan dan pendidikan medis. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk memeriksa Podcast dari perspektif kegunaan untuk pendidikan medis. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah tinjauan literatur guna mendefinisikan dan memeriksa Podcast secara rinci. Hasil dari penelitian tersebut adalah informasi medis melalui Podcast berpotensi baik untuk menjadi metode pendidikan. Podcast dapat berfungsi baik bagi peserta didik ketika dikombinasikan dengan gambar atau diskusi. Secara keseluruhan Podcast terus mewakili peluang bagus untuk menyebarkan informasi. Walaupun Podcast berpotensi bermanfaat, tetapi potensinya kurang dimanfaatkan. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Bierman dan Valentino (2011) dengan judul “Podcasting Initiatives in American Research Libraries”. Penelitian tersebut membahas mengenai inisiatif dari American Research Libraries (ARL) dalam bidang Podcasting. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk mengetahui seberapa banyak American Research Libraries (ARL) memproduksi Podcast, subjek yang diproduksi, dan cara Podcast dipromosikan. Dalam penelitian tersebut, metode yang digunakan adalah campuran antara kualitatif dan kuantitatif. Hasil dari penelitian yang kedua terdiri dari tiga poin utama yaitu analisis konten yang diproduksi oleh ARL, frekuensi Podcast, dan promosi Podcast. Dari analisis konten yang diproduksi, subjek Podcast sangat bervariasi seperti mengenai beasiswa, kesenian, berita perpustakaan, sejarah lisan, dan penggunaan perpustakaan. Pada bagian frekuensi Podcast, hanya tujuh perpustakaan yang memproduksi Podcast secara rutin. Pada bagian promosi Podcast, media sosial hanya digunakan sesekali untuk promosi. Podcasting adalah teknologi yang masih belum mencapai puncaknya dan perpustakaan masih memiliki banyak peluang untuk mengeksplorasi teknologi ini. Penelitian ketiga ditulis oleh Moorefield-Lang (2017) dengan judul “Delivering the Message: Disseminating Information and Professional Development in the Field of Librarianship through Technology”. Penelitian tersebut membahas mengenai penyebaran informasi dan pengembangan professional dengan menggunakan teknologi dalam bidang kepustakawanan. Tujuan dari penelitian ketiga adalah untuk menggambarkan penggunaan Podcast, siaran radio online, saluran youtube, dan media teknologi lainnya untuk menyampaikan informasi dan pengembangan profesional di bidang kepustakawanan. Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah pendekatan studi kasus, dengan lima pustakawan dan profesional perpustakaan sebagai informan. Hasil dari penelitian tersebut adalah dalam penyebaran informasi terdapat empat elemen yang harus dipertimbangkan yaitu pengguna, sumber penyebaran, konten informasi, dan jenis media yang digunakan. Pada akhirnya, penelitian tersebut bermanfaat untuk mengetahui pengunaan dan tantangan penggunaan teknologi dalam menyampaikan informasi dan pengembangan profesional. Penelitian yang keempat ditulis oleh Shonhe dan Jain (2017) dengan judul “Information Dissemination in the 21st Century: The Use of Mobile Technologies”. Penelitian tersebut membahas mengenai persebaran informasi menggunakan teknologi dan kesiapan penggunanya pada abad 21 di perpustakaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi penggunaan dan aplikasi mobile teknologi di perpustakaan abad ke-21. Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah tinjauan literatur dan survei online. Hasil dari penelitian tersebut adalah pengguna layanan perpustakaan memiliki sudut pandang bahwa penggunaan mobile teknologi dapat meningkatkan akses informasi, meningkatkan pengetahuan, inovasi, motivasi, efektif, dapat digunakan dengan mudah, dan terjangkau. Responden menggunakan media sosial dan aktif diberbagai media sosial yang berbeda. Tiga media sosial teratas yang digunakan adalah Facebook, WhatsApp, dan Youtube. Adapun Instagram berada pada posisi kedelapan dari tujuh belas media sosial. Pengguna dari perpustakaan di Botswana siap mengadopsi mobile teknologi dalam mengakses informasi. Namun beberapa pengguna masih berhati-hati tentang efek setelah menggunakan teknologi seluler untuk berbagi data personal. Penelitian yang kelima berjudul “Linking Podcast with Social Media to Promote Community Health and Medical Research: Feasibility Study” ditulis oleh Balls-Berry et al., (2018). Hasil penelitian tersebut dimuat dalam Journal of Medical Internet Research Vol. 20 Issue 10. Penelitian oleh Joyce Balls-Berry dan kawan-kawan membahas mengenai pembuatan Podcast dan strategi penyebaran informasi. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk menggambarkan proses pembuatan perpustakaan Podcast dan mempromosikannya di media sosial sebagai strategi untuk menyebarluaskan topik mengenai kesehatan dan biomedis kepada masyarakat. Penelitian tersebut melakukan pendekatan yang melibatkan komunitas dan pasien untuk mengembangkan proses penggunaan Podcast dalam penyebaran informasi kesehatan. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa Podcast yang terhubung dengan platform media sosial adalah strategi yang layak untuk berbagi dan mendorong komunikasi tentang informasi kesehatan dan biomedis kepada khalayak luas tanpa hambatan waktu, geografi, dan cuaca. Penelitian keenam ditulis oleh Arceneaux dan Dinu (2018) dengan judul “The Social Mediated Age of Information: Twitter and Instagram as Tools for Information Dissemination in Higher Education”. Penelitian tersebut membahas mengenai penyebaran informasi melalui media sosial, yang dilakukan dengan cara menyelidiki penyajian pesan berbasis teks (Twitter) dan visual (Instagram) dalam mempengaruhi mahasiswa Amerika untuk menemukan kembali informasi digital, dan juga menyelediki kredibilitas komunikator (professional dan pengguna biasa) dalam mempengaruhi mahasiwa dari informasi yang disebarluaskan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan kontribusi pada bidang komunikasi untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang media sosial yang dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen yang dilakukan pada 405 mahasiswa. Hasil dari penelitian tersebut ditemukan bahwa professional menjadi sumber informasi yang kredibel daripada informasi yang dibuat oleh pengguna biasa. Hasil penelitian ini juga menemukan, bahwa Instagram yang dominan secara visual lebih efektif dibandingkan dengan Twitter yang tekstual. Dengan demikian, menggunakan gambar dalam penyebaran informasi akan memungkinkan mahasiswa untuk membentuk mental yang lebih kuat ketika menerima informasi. Dengan menggunakan acuan-acuan tersebut, penelitian ini mendapatkan hasil pemanfaatan Podcast dan Instagram oleh Komunitas Literatif sebagai media penyebaran informasi bidang perpustakaan.

Method

Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode penelitian kualitatif dengan penedekatan fenomenologi. Metode pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi non partisipan dan wawancara semi terstruktur. Observasi non partisipan menjadikan peneliti atau pengamat tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan para subjek yang diamati (Kartono, 1996). Sehingga, observasi yang dilakukan peneliti adalah mengamati aktivitas Komunitas Literatif, dalam penyebaran informasi melalui Podcast dengan cara mendengarkan seluruh episode yang diunggah oleh Komunitas Literatif, melalui aplikasi Spotify. Selain itu, peneliti juga mengikuti Instagram dari Komunitas Literatif serta melihat seluruh postingannya. Dikarenakan hanya sebagai penonton, maka diperlukan metode lain dalam pengambilan data. Untuk itu, dalam penelitian ini juga digunakan metode wawancara. Wawancara merupakan salah satu cara pengambilan data melalui kegiatan komunikasi lisan (Suyitno, 2018). Alasan penggunaan wawancara dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap, mendalam, dan menyeluruh. Pada proses wawancara, peneliti menggunakan teknik wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur yaitu teknik wawancara yang sudah diarahkan dengan sejumlah daftar pertanyaan tetapi tidak menutup kemungkinan memunculkan pertanyaan baru secara spontan sesuai topik pembicaraan (Suyitno, 2018). Terkait dengan teknis wawancara, teknis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara secara online. Wawancara online dilakukan dengan alasan jarak partisipan yang jauh dan juga terjadi pandemi Covid-19 di Indonesia pada waktu pengambilan data sehingga tidak memungkinkan untuk bertemu langsung dengan partisipan. Partisipan dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Oleh karena itu, peneliti memiliki ciri atau kriteria yang dikehendaki dalam penentuan partisipan. Penentuan pendengar Podcast dan pengikut Instagram dari Komunitas Literartif adalah memenuhi 2 dari 3 kriteria yang telah dikehendaki peneliti. Adapun kriterianya adalah sebagai berikut: 1. Melihat seluruh postingan Instagram Komunitas Literatif 2. Mendengarkan seluruh episode Libcast, dan; 3. Bersedia diwawancarai sebagai partisipan. Kriteria yang peneliti terapkan untuk pengelola Komunitas Literatif adalah sebagai berikut: 1. Bertanggung jawab pada bagian pengelolaan Instagram dan Podcast di Komunitas Literatif, dan; 2. Bersedia diwawancarai sebagai partisipan. Setelah penentuan kriteria, kemudian dilkukan proses rekrutmen. Proses rekrutmen dilakukan untuk memperoleh partisipan yang sesuai dengan kriteria yang telah diterapkan oleh peneliti. Proses rekrutmen yang dilakukan ada dua proses yaitu untuk merekrut pendengar Podcast dan pengikut Instagram dari Komunitas Literatif, dan pengelola Komunitas Literatif. Proses rekrutmen pendengar Podcast dan pengikut Instagram dimulai dengan membuat pengumuman berisi kriteria yang telah dikehendaki untuk pendengar Podcast dan pengikut Instagram dari Komunitas Literatif, kemudian disebarkan melalui media sosial peneliti seperti Instagram, Line, dan WhatsApp untuk mencari partisipan. Tahap berikutnya, memilih pendengar Libcast dan pengikut Instagram untuk menjadi partisipan. Tahap terakhir adalah menghubungi partisipan yang telah dipilih untuk memastikan teknis dalam pengambilan data. Proses rekrutmen yang kedua adalah merekrut pengelola Komunitas Literatif. Proses rekrutmen dimulai dari peneliti mengirimkan surat izin penelitian dan pengambilan data yang ditujukan kepada ketua Komunitas Literatif. Tahap kedua adalah menghubungi partisipan dari Komunitas Literatif yaitu penanggung jawab Podcast dan Instagram yang telah sesuai dengan kriteria, kemudian memeriksa kembali respon dari pengelola Podcast dan Instagram. Tahap berikutnya, memilih pengelola Podcast dan Instagram berdasarkan respon yang diterima dan disepakati untuk menjadi partisipan. Tahap terakhir adalah menghubungi partisipan yang telah dipilih untuk memastikan teknis dalam pengambilan data. Dari penentuan kriteria tersebut didapatkan partisipan yang berjumlah 10 partisipan dengan rincian yaitu 1 partisipan merupakan pengelola Komunitas Literatif, 3 partisipan merupakan pendengar Libcast, dan 6 partisipan yang merupakan pengikut Instagram Komunitas Literatif. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah thematic analysis. Tahapan yang dilakukan dalam thematic analysis menurut Braun & Clarke (2006, p. 87-93) adalah memahami data yang diperoleh, menyusun kode, mencari tema, meninjau tema, memberi nama tema, dan membuat laporan. Berikut tema akhir yang didapatkan dalam proses thematic analysis. Tabel 1. Tema Akhir Kode Grup Tema Akhir Penetapan Komunikator Penetapan Komunikator Pemanfaatan Podcast dan Instagram Penetapan Sasaran Penetapan sasaran Tahapan pembuatan infografis Penyusunan Pesan Waktu Pembuatan infografis Tahapan Pembuatan podcast Waktu Pembuatan podcast Sumber konten Tahapan Pencarian konten Aturan Konten Instagram Aturan Konten podcast Harapan konten Pemilihan Instagram Pemilihan Media Pemilihan Podcast Penyebaran Infografis Penyebaran podcast Kendala podcast Rencana Podcast Keperluan podcast Alasan mengikuti Instagram Alasan Sasaran Hasil Penyebaran Informasi Alasan mendengarkan podcast Efek postingan Efek Informasi Efek podcast Informasi yang didapat Menjaga kualitas penelitian dilakukan untuk membuktikan penelitian yang dilakukan merupakan penelitian ilmiah sekaligus mengkaji data-data yang telah diperoleh. Ada empat kriteria yang dapat digunakan untuk memeriksa keabsahan data. Empat kriteria menurut Lincoln dan Guba tersebut adalah credibility, transferability, dependability, dan confirmability (Cohen, 2008). Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: 1. Credibility Credibility (kredibilitas) merupakan tingkat kepercayaan. Agar memiliki tingkat kepercayaan tinggi, peneliti melakukan cara seperti peningkatan ketekunan untuk membaca kembali laporan yang telah dibuat, meng-crosscheck hasil dari jawaban penanggung jawab Podcast dan Instagram Komunitas Literatif, pendengar Libcast dan pengikut Instagram Komunitas Literatif, serta membuktikan data dengan rekaman wawancara dan transkrip wawancara. 2. Transferability (Validitas Eksternal) Transferability ini ialah uji validitas eksternal pada sebuah penelitian kualitatif. Transferability penelitian kualitatif tidak dapat dilakukan peneliti sendirian, melainkan dari pembaca hasil penelitian (Afiyanti, 2008, p.138). Untuk itu, agar hasil penelitian yang dilakukan peneliti dapat dimengerti dan dilakukan oleh orang lain, maka pada penulisan penelitian ini peneliti memberikan uraian secara jelas, rinci dan sistematis. 3. Dependability Dependability merupakan tahap pemeriksaan proses penelitian. Untuk itu, peneliti bekerjasama dengan dosen pembimbing dalam melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian yang dilakukan. Proses penelitian yang diaudit seperti dalam penentuan masalah, terjun ke lapangan, mengolah serta menganalisis data, melakukan pengendalian kualitas data yang telah diperoleh, dan tahap terakhir adalah sampai pada pembuatan laporan hasil penelitian. 4. Confirmability Confirmability lebih difokuskan untuk pemeriksaan kualitas hasil penelitian. Karena mirip dengan dependability, proses uji keabsahan data dapat diuji secara bersamaan. Pada confirmability, peneliti menguji hasil penelitian dan dikaitkan dengan proses penelitian. Jika hasil penelitian telah sesuai dengan fungsi dari proses penelitian, maka penelitian ini telah memenuhi standar Confirmability.

Result & Discussion

Tema pertama membahas mengenai pemanfaatan Podcast dan Instagram oleh Komunitas Literatif. Pada tema pertama ini berisi analisis mengenai penetapan komunikator, penetapan sasaran, penyusunan pesan, dan alasan pemilihan media yang dilakukan oleh Komunitas Literatif. Berikut adalah hasil analisis dari data yang didapatkan: 3.1.1 Penetapan Komunikator Komunikator menjadi sumber kendali penting dari proses komunikasi, karena komunikator yang menyusun pesan, memilih media yang tepat, dan mendekati target sasaran (Wijaya, 2015, p. 58). Dalam penelitian ini, komunikator adalah Komunitas Literatif. Komunitas Literatif melakukan penyusunan pesan, pemilihan media, dan penetapan sasaran untuk menyebarakan informasi. Melalui Komunitas Literatif, pengelola memiliki pesan dan kritik yang ingin disampaikan. Hal yang ingin disampaikan berkaitan dengan bidang perpustakaan, seperti memberikan kritik tentang kebijakan atau program yang dilakukan oleh perpustakaan dan memberikan pandangan serta informasi yang menarik mengenai perkembangan perpustakaan kepada sasaranya. Sehingga dapat diketahui bahwa Komunitas Literatif berperan sebagai komunikator atau pengirim (sender) karena merupakan pihak yang memiliki rencana atau inisiatif untuk berkomunikasi. 3.1.2 Penetapan Sasaran Sasaran dapat diartikan sebagai komunikan (Wijaya, 2015, p. 58). Komunitas Literatif menetapkan dua sasaran yang menjadi target dari informasi yang disebarkan. Komunitas Literatif dalam penetapan sasaran memiliki alasan tersendiri menjadikan orang-orang yang berada di bidang kepustakawanan dan masyarakat umum menjadi sasaran dari informasi yang disebarakan. Alasan dari pemilihan orang di bidang kepustakawanan adalah kurang adanya pengetahuan mengenai perkembangan dunia kepustakawanan yang menarik sehingga orang-orang tersebut terutama mahasiswa kurang memiliki wawasan terhadap bidang kepustakawanan. Alasan kedua adalah pemilihan masyarakat umum sebagai sasaran karena Komunitas Literatif yang ingin merubah persepsi dari masyarakat umum dari perpustakaan yang cenderung biasa. Penetapan kedua sasaran ini diharapkan dalam memberikan keseimbangan pengetahuan mengenai bidang kepustakawanan, hal tersebut seperti yang disampaikan oleh pengelola Komunitas Literatif. Memahami masyarakat yang menjadi target sasaran sangat penting karena semua aktivitas komunikasi ditujukkan kepada sasaran. Sehingga Komunitas Literatif dalam penetapan sasarannya memiliki alasan terlebih dulu. Melihat sasaran yang ditujukkan adalah orang-orang yang berkecimpung di bidang kepustakawanan dan masyarakat umum, Komunitas Literatif dalam penyusunan pesan dan pemilihan media mempertimbangkan sasaran tersebut dalam menyebarkan informasi bidang perpustakaan. 3.1.3 Penyusunan Pesan Pada kegiatan penyebaran informasi, komunitas ini juga melakukan kegiatan yang mendukung penyebaran informasi yaitu penyusunan pesan. Pesan (message) merupakan simbol verbal dan/atau simbol nonverbal yang mewakili perasaan, ide, nilai, dan gagasan dari pengirim (Cangara, 2006). Komunitas Literatif untuk menyebarkan informasi di Instagram memilih informasi yang berbentuk infografis. Dalam menyebarkan infografis, proses yang dilakukan oleh Komunitas Literatif adalah dimulai dari mencari trend yang berkembang, kemudian pencarian data, dilanjutkan dengan tahap rubrikasi, kemudian pembuatan grafis, dan setelah itu diunggah. Pembuatan infografis sampai infografis tersebut diunggah melewati waktu yang tidak pasti. Keadaan tersebut karena terkait dengan kompleksitas dari konten yang dibuat. Semakin kompleks data dari konten, waktu yang dibutuhkan lebih lama. Adapun ketika konten mengenai pengetahuan yang umum, waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan infografis lebih cepat. Tahapan dalam pembuatan Podcast lebih ringkas dibandingankan pembuatan infografis. Hanya saja waktu yang dibutuhkan lebih lama lagi dibandingkan dengan pembuatan infografis. Dalam pembuatan Podcast, hal yang membutuhkan waktu lebih lama adalah menyusun kata-kata untuk disampaikan pada pendengar, karena Komunitas Literatif tidak ingin durasi Podcast yang dibuat lebih dari 10 menit. Dalam penyusunan informasi, terdapat berbagai sumber data yang digunakan oleh Komunitas Literatif. Sumber yang digunakan seperti artikel jurnal, portal berita, IFLA, dan fitur Ask Librarian pada Library of Congress. Untuk mendalami data yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut, maka topik yang ada akan dibahas bersama-sama dengan pengelola Komunitas Literatif lainnya. Pembahasan tersebut dilakukan untuk memperoleh data yang valid. Komunitas Literatif tidak menerapkan aturan pada grafis sehingga tidak terdapat penghalang dalam penyusunannya. Adapun untuk Podcast, Komunitas Literatif menerapkan aturan yaitu membatasi Podcast yang dibuat berdurasi 10 menit agar lebih ringkas. Sehingga pesan yang disampaikan oleh Komunitas Literatif merupakan pesan verbal yang berbentuk lisan disampaikan melalui Podcast serta berbentuk tulisan dan gambar yang disampaikan dalam bentuk infografis dan disebarkan melalui Instagram. Pesan tersebut mewakili ide dan nilai yang dibuat oleh Komunitas Literatif dalam menyebarkan informasi bidang perpustakaan. 3.1.4 Pemilihan Media Saluran atau media (channel) merupakan alat dan sarana yang digunakan pengirim untuk menyampaikan informasi (Cangara, 2006). Keberhasilan penyebaran informasi ditentukan oleh media yang dimanfaatkan sebagai salurannya, baik yang sifatnya langsung ataupun yang termediasi teknologi (Rumata, 2017, p. 96). Media yang dimanfaatkan oleh Komunitas Literatif untuk menyebarkan informasi adalah Podcast dan Instagram. Alasan dari pemilihan Podcast karena di Indonesia belum ada yang membuat Podcast mengenai informasi bidang perpustakaan. Adapun Instagram dipilih karena merupakan media yang populer untuk konten infografis. Secara keseluruhan Podcast terus mewakili peluang bagus untuk menyebarkan informasi. Walaupun Podcast berpotensi bermanfaat tetapi potensinya kurang dimanfaatkan (Younger, 2011, p. 6). Untuk itu, Komunitas Literatif sebagai komunitas yang berfokus pada pengembangan pengetahuan perpustakaan telah mencoba memanfaatkan Podcast sebagai media penyebaran informasi bidang perpustakaan, karena di Indonesia belum ada yang memanfaatkan media tersebut untuk menyebarkan informasi bidang perpustakaan. Dengan demikian Podcast dari Komunitas Literatif merupakan Podcast pertama di Indonesia yang membahas informasi bidang perpustakaan. Pemanfaatan Podcast yang dilakukan oleh Komunitas Literatif tersebut terinspirasi dari Podcast yang berasal dari luar Indonesia. Komunitas Literatif dalam menyebarkan informasi lebih banyak di Instagram. Frekuensi penyebaran informasi dari Komunitas Literatif dapat dikatakan lebih banyak di Instagram. Hal ini dikarenakan dari Instagram, informasi tersebut dapat tersebar ke berbagai media lain termasuk Whatsapp. Selain itu informasi yang berbentuk grafis juga menjadi salah satu penyebab penyebarannya lebih mudah. Hal tersebut selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Arceneaux dan Dinu pada tahun 2018 yaitu Instagram yang dominan secara visual lebih efektif dibandingkan dengan Twitter yang tekstual. Dengan demikian, menggunakan gambar dalam penyebaran informasi akan memungkinkan sasaran menerima informasi lebih kuat. Aplikasi yang digunakan oleh Komunitas Literatif pada pembuatan Podcast adalah aplikasi Anchor. Dari aplikasi tersebut, Podcast yang telah dibuat dapat tersebar dan didengarkan melalui Spotify dan Apple. Untuk memeriksa Podcast yang telah dibuat, Komunitas Literatif memantau melalui aplikasi Spotify karena Spotify yang paling populer. Sehingga dapat diketahui bahwa, Komunitas Literatif dalam meyebarkan Podcast memanfaatkan satu aplikasi yang dapat juga tersebar ke platform lain. Cara ini membuat Podcast yang telah dibuat dapat didengarkan tidak hanya pada satu aplikasi, sehingga dapat menjadi strategi untuk berbagi informasi. Selain itu, Komunitas Literatif dalam pembuatan Podcast juga membutuhkan alat-alat seperti Mic, Mixer, Earphone, serta diperlukan juga aplikasi Adobe Audition untuk mengedit suara. Komunitas Literatif dalam pembuatan Podcast mengalami kendala. Kendala yang dihadapi seperti terbentur dengan waktu karena memerlukan riset yang lebih lama, pemilihan konten, dan merangkum informasi untuk disampaikan kepada pendengar. Untuk mengembangkan Podcast, Komunitas Literatif memiliki rencana salah satunya adalah membuat kolaborasi dengan dosendosen. Podcasting adalah teknologi yang masih belum mencapai puncaknya dan perpustakaan masih memiliki banyak peluang untuk mengeksplorasi teknologi ini (Bierman dan Valentino, 2011, p. 349). Komunitas Literatif sebagai komunitas yang berfokus pada pengembangan pengetahuan perpustakaan mencoba untuk mengeksplorasi teknologi ini dengan cara berkolaborasi dengan pihak lain. 3.2 Hasil Penyebaran Informasi oleh Komunitas Literatif Tema kedua membahas mengenai hasil penyebaran informasi yang dilakukan oleh Komunitas Literatif. Podcast dan Instagram yang dimanfaatkan oleh Komunitas Literatif untuk menyebarkan informasi juga dimanfaatkan oleh pengikut dari Instagram Komunitas Literatif dan juga pendengar Podcast Komunitas Literatif untuk memperoleh informasi. Pengikut Instagram dari Komunitas Literatif yang bernama RS menyatakan bahwa alasan mengikuti Instagram dari Komunitas Literatif adalah karena sesuai dengan keilmuannya dan konten dari Komunitas Literatif merupakan konten yang baru ditemui. Selain RS, DP dan GR yang juga pengikut Instagram dari Komunitas Literatif menyatakan bahwa alasan mereka mengikuti Instagram Komunitas Literatif karena sesuai dengan keilmuan mereka. Bagi salah satu pendengar Podcast Komunitas Literatif bernama F yang memiliki latar pendidikan ilmu perpustakaan, alasan mendengarkan Podcast karena selain menyukai mendengarkan Podcast, Podcast dari Komunitas Literatif tersebut membahas keilmuannya. F juga belum pernah mendengar Podcast yang membahas perpustakaan menggunakan bahasa Indonesia. Sehingga dapat diketahui bahwa partisipan-partisipan tersebut mengikuti Instagram dan mendengarkan Podcast Komunitas Literatif didasari karena sesuai dengan bidang keilmuaan partisipan. Selain beberapa partisipan yang menyatakan bahwa mengikuti Instagram dan mendengarkan Podcast dari Komunitas Literatif karena sesuai dengan keilmuannya, terdapat alasan lain dari partisipan untuk memanfaatkan Podcast dan Instagram dengan cara mengikuti Instagram dan mendengarkan Podcast dari Komunitas Literatif. SW yang merupakan pengikut Instagram Komunitas Literatif menyatakan bahwa informasi yang disampaikan Komunitas Literatif menarik sehingga memperoleh pengetahuan baru, selain itu desain grafis yang ditampilkan juga bagus. Informasi yang dikemas dalam bentuk infografis sehingga mudah dipahami juga menjadi alasan sehingga NP dan IS mengikuti Instagram dari Komunitas Literatif. Berbeda dengan alasan dari pengikut Instagram Komunitas Literatif. Alasan dari pendengar Podcast untuk mendengarkan Podcast Komunitas Literatif karena diawali dengan rasa suka mendengarkan Podcast. Adanya Podcast yang berisi informasi mengenai perpustakaan membuat M dan N menjadi tertarik untuk mendengarkan Podcast Komunitas Literatif. Dengan demikian dapat diketahui bahwa, partisipan yang mendengarkan Podcast Komunitas Literatif diawali dengan rasa suka mendengarkan Podcast yang kemudian diikuti dengan rasa tertarik untuk mendengarkan Podcast yang membahas bidang perpustakaan. Hal tersebut sesuai dengan salah satu keunggulan Podcast yaitu Podcast memungkinkan untuk pendengar mendengarkan rekaman sesuai keinginan. Informasi yang diperoleh pendengar Podcast dan pengikut Instagram Komunitas Literatif beragam. Informasi yang diperoleh seperti mengenai Banned book weeks, korupsi di perpustakaan, dan kesejahteraan pustakawan. Informasi-informasi tersebut tidak hanya diperoleh orang-orang yang berlatar belakang perpustakaan, masyarakat umum juga memperoleh informasi terkait perpustakaan. Informasi yang diperoleh juga dapat menjadi referensi kegiatan atau kebijakan untuk diterapkan kepada masyarakat. Sehingga jenis informasi yang diperoleh partisipan dalam penelitian ini termasuk informasi bagi individu yang berarti informasi yang diperoleh bermanfaat untuk individu sesuai dengan statusnya dalam masyarakat, pendidikan, dan kegiatannya. Selain itu, informasi yang diperoleh termasuk juga jenis informasi bagi mahasiswa yang berarti, informasi digunakan oleh mahasiswa untuk mengembangkan pengetahuannya. Informasi yang diperoleh dapat menimbulkan efek yang beragam. Efek (impact) merupakan hasil atau respon yang ditunjukkan oleh penerima setelah memperoleh informasi. Hasil atau respon yang ditunjukkan dapat berupa penambahan pengetahuan (kognitif), perubahan sikap (afektif), dan tindakan (konatif) (Cangara, 2006). Seperti yang diungkapkan oleh RS berdasarkan postingan di Instagram mengenai pustakawan sekolah sebagai berikut (Gambar 1): “Dari postingan di IG ternyata gaji pustakawan di Indonesia ini masih rendah, padahal mereka juga menempuh pendidikan yang tinggi, mereka banyak yang berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa, namun dengan minimnya anggaran itu membuat para sarjana lulusan ilmu perpustakaan banting stir untuk memperoleh pekerjaan yang mereka nilai lebih besar gajinya” (RS, 12 Mei 2020, pengikut Instagram Komunitas Literatif). Gambar 1. Postingan mengenai pustakawan sekolah (Literatif.id, 2020) DP yang merupakan pengikut Instagram Komunitas Literatif juga mengungkapkan bahwa dari postingan Instagram yang diunggah oleh Komunitas Literatif menambah pengetahuannya mengenai perpustakaan. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh DP sebagai berikut (Gambar 2): “Oh iya mbak pengetahuan mengenai perpustakaan ku bertambah Mbak. Aku tadinya gatau juga apa itu cybrarian setelah liat postingan di literatif.id aku tau dan kebetulan tadi waktu kuliah membahas itu jadi aku sudah tau dulu Mbak mengenai apa itu cybrarian, terus aku juga baru tau ternyata ga cuma aset dalam bentuk dokumen aja Mbak yang harus dipreservasi ternyata pengetahuan dari seseorang yang menjadi aset kultural juga bisa dipreservasi” (DP, 13 Mei 2020, pengikut Instagram Komunitas Literatif). Gambar 2. Postingan mengenai Didi Kempot (Literatif.id, 2019) SW, M, dan N juga mengungkapkan bahwa Podcast yang didengarkan dan postingan Instagram dari Komunitas Literatif menambah informasi mereka terkait dunia perpustakaan. Hal tersebut seperti diungkapkan sebagai berikut: “Penambahan pengetahuan sih. Penambahan persepsi mungkin, kalau perubahan tindakan belum” (SW, 16 Mei 2020, pengikut Instagram Komunitas Literatif). “Menurut saya, ada peningkatan informasi dari informasi yang saya belum ketahui menjadi tau kak” (M, 03 Juni 2020, pendengar Podcast Komunitas Literatif). “Perubahannya mungkin jadi ada penambahan informasi mengenai dunia perpustakaan yang jadi aku ketahui gitu kak” (N, 03 Juni 2020, pendengar Podcast Komunitas Literatif). Efek dari postingan juga dirasakan oleh IS. Ia jadi mengetahui bahwa minat menjadi pustakawan terbilang cukup rendah. Hal tersebut seperti yang diungkapkannya sebagai berikut: ”Tentu ada, saya jadi lebih mengetahui bahwa minat menjadi pustakawan di Indonesia terbilang cukup rendah. Padahal jika dilihat, seorang pustakawan memiliki prospek dan peluang kerja yang mumpuni di berbagai instansi” (IS, 26 Mei 2020, pengikut Instagram Komunitas Literatif). F yang merupakan pendengar Podcast Komunitas Literatif mengungkapkan setelah mendengarkan 2 episode Podcast Komunitas Literatif, memunculkan ide-ide baru dan sepertinya seru jika diadakan di Indonesia. Hal tersebut diungkapkan seperti berikut: “Aku ga tau ini termasuk perubahan atau ga, cuma setelah mendengarkan episode 2 libcast jadi muncul ide-ide baru, macam bakal seru nih kalau diadain di Indonesia” (F, 18 Mei 2020, pendengar Podcast Komunitas Literatif). Efek postingan juga dirasakan oleh NP. NP mengungkapkan perubahan yang dirasakan lebih kepada cara pikirnya tentang memperkaya literasi. Dengan kemajuan teknologi, menambah pengetahuan melalui media-media edukatif yang dikemas dengan kesan hiburan ternyata menyenangkan. Hal tersebut diungkapkan sebagai berikut: “Perubahan yang dirasakan mungkin lebih kepada cara pikir saya tentang memperkaya literasi yang ternyata bisa menyenangkan apalagi dengan kemajuan teknologi dimana kita menambah pengetahuan melalui media-media edukatif yang dikemas dengan kesan hiburan” (NP, 22 Mei 2020, pengikut Instagram Komunitas Literatif). Dari pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa informasi yang diperoleh dapat menimbulkan efek kepada penerimanya. Efek yang ditimbulkan bagi penerima informasi dari Komunitas Literatif adalah penambahan pengetahuan mengenai dunia perpustakaan, seperti informasi mengenai gaji pustakawan di Indonesia masih rendah, cybrarian, dan tidak hanya aset dalam bentuk dokumen yang harus dipreservasi, pengetahuan seseorang yang menjadi aset kultural juga bisa dipreservasi.

Conclusion

Berdasarkan analisis hasil penelitian tentang bagaimana pemanfaatan Podcast dan Instagram oleh Komunitas Literatif sebagai media penyebaran informasi bidang perpustakaan dapat ditarik simpulan bahwa Komunitas Literatif yang berperan sebagai komunikator melakukan penetapan sasaran, penyusunan pesan, dan pemilihan media yang digunakan untuk menyebarkan informasi bidang perpustakaan. Komunitas Literatif berperan sebagai komunikator karena memiliki inisiatif dan rencana untuk berkomunikasi. Dalam berkomunikasi, sasaran yang ditetapkan oleh Komunitas Literatif untuk menerima informasi bidang perpustakaan adalah orang-orang yang berkecimpung di dunia kepustakawanan dan masyarakat umum. Pemilihan Podcast dan Instagram oleh Komunitas Literatif sebagai media penyebaran informasi bidang perpustakaan memiliki alasan tersendiri. Alasan dari pemilihan Podcast karena di Indonesia belum ada yang membuat Podcast mengenai informasi bidang perpustakaan. Adapun Instagram dipilih karena merupakan media yang populer untuk konten infografis. Hasil penelitian menunjukkan dalam menyebarkan informasi, Komunitas Literatif lebih sering menggunakan Instagram. Instagram dipilih karena informasi yang berbentuk grafis lebih mudah diterima oleh sasaran. Adapun dalam menyebarkan informasi melalui Podcast, Komunitas Literatif mengalami beberapa kendala. Kendala yang dihadapi seperti terbentur dengan waktu karena memerlukan riset yang lebih lama, pemilihan konten, dan merangkum informasi untuk disampaikan kepada pendengar. Sasaran yang ditetapkan oleh Komunitas Literatif dalam penyebaran informasi bidang perpustakaan yaitu orang-orang yang berkecimpung pada bidang kepustakawanan dan masyarakat umum juga telah berhasil. Hal tersebut didasari dari 10 partisipan yang berpartisipasi dalam penelitian ini, 5 partisipan memiliki latar pendidikan ilmu perpustakaan dan 5 partisipan lainnya merupakan masyarakat umum yang memiliki latar pendidikan berbeda. Informasi yang telah disebarkan, menimbulkan efek kepada penerimanya. Efek yang ditimbulkan bagi penerima informasi dari Komunitas Literatif adalah penambahan pengetahuan mengenai bidang perpustakaan. Berdasarkan hasil analisis penelitian, peneliti memiliki saran terkait dengan pemanfaatan Podcast dan Instagram sebagai media penyebaran informasi oleh Komunitas Literatif sebagai berikut: 1. Pemanfaatan Podcast oleh Komunitas Literatif sebagai media penyebaran informasi lebih digencarkan dalam mengunggah episode baru, mengingat Podcast dari Komunitas Literatif menjadi Podcast pertama di Indonesia yang membahas mengenai dunia perpustakaan. 2. Podcast merupakan teknologi yang masih memiliki banyak peluang untuk dieksplorasi. Sehingga untuk menghadapi kendala dalam pembuatan Podcast, Komunitas Literatif dapat menjalin kerjasama dengan berbagai pihak seperti dengan komunitas penggiat perpustakaan lainnya untuk riset bersama-sama dan mengeksplorasi Podcast sebagai media penyebaran informasi.