Peran Pustakawan dalam Pembentukan Pustakawan Kecil di Perpustakaan Sekolah Dasar Islam Hidayatullah Semarang
Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pustakawan dalam pembentukan “Pustakawan Kecil” di perpustakaan SD Islam Hidayatullah Semarang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode wawancara, observasi, dan studi dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data. Program “Pustakawan Kecil” dimulai pada awal tahun 2018. Kegiatan ini dibentuk atas permintaan Kepala SD Hidayatullah Semarang. Tujuan dari program “Pustakawan Kecil” sendiri adalah mengajak mahasiswa untuk berorganisasi dan membantu pustakawan dalam menjalankan tugasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pustakawan Kecil telah melakukan kegiatan dasar yang dilakukan oleh pustakawan, seperti pembuatan rak, checkout buku, dan pelayanan retur buku. Kendala utama yang dihadapi pustakawan dalam menangani program “Pustakawan Kecil” adalah seringnya siswa tidak fokus, karena program itu sendiri dilaksanakan pada waktu istirahat sekolah. Siswa merasa waktu istirahatnya berkurang dan membuat mereka tidak fokus mengikuti program. Kata kunci: Perpustakaan sekolah; Pustakawan Kecil; Program Pustakawan
Abstract
This study aims to understand librarian roles in forming “Pustakawan Kecil” in the Library of Islamic Hidayatullah Elementary School Semarang. This research used qualitative research method. Interviews, observation, and documentation study methods were used to collect data. “Pustakawan Kecil” program started in early 2018. This activity was formed based on request from Head of Hidayatullah Elementary School Semarang. The purpose of “Pustakawan Kecil” program itself is to make pupils join organization and help librarians carry out their duties. The results show that “Pustakawan Kecil” have done basic activities that librarians do, such as shelving, book checkout, and book return services. The main obstacle that librarians face in handling “Pustakawan Kecil” program is that pupils are frequently out of focus, as the program itself is done during school break time. The pupils feel that their break is reduced and this makes them not focus in joining the program.
Keywords:
school library
· pustakawan kecil
· librarian program
Introduction
Perpustakaan merupakan lembaga yang bergerak dalam bidang informasi untuk melayani kebutuhan informasi pengguna. Dalam hal ini perpustakaan harus memberikan kegiatan-kegiatan untuk mendukung pelaksanaan pendidikan secara teratur. Salah satu jenis kegiatan yang dapat di lakukan adalah pustakawan perpustakaan yang mempunyai peran penting dalam kegiatan pendidikan karena di dalamnya terdapat kegiatan penghimpunan, pengolahan, penyebarluasan informasi dalam berbagai layanan, baik dalam bentuk tercetak maupun terekam seperti buku, majalah, kaset, film dan lain sebagainya. Perpustakaan sekolah mempunyai tugas pokok dalam membantu proses belajar mengajar siswa dan guru dengan menyediakan bahan pustaka yang sesuai dengan kurikulum. Menurut Hartono (2016:26), perpustakaan sekolah adalah “perpustakaan yang berada pada lembaga pendidikan sekolah, yang merupakan bagian integral dari sekolah yang bersangkutan dan merupakan sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan.” Pernyataan di atas penting untuk sebuah perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah membantu segala bentuk kegiatan belajar mengajar dan proses itu tidak lepas dari seorang pustakawan yang juga menjadi faktor pendukung dalam semua bentuk kegiatan tersebut. Menurut Darmono, (2007 : 51), pustakawan adalah “seorang yang telah diangkat oleh pejabat yang berwenang untuk menjabat atau melaksanakan tugas-tugas sehubungan dengan penyelenggaraan perpustakaan baik di lingkungan sekolah maupun lembaga lainnya, karena dianggap memenuhi syarat tertentu”. Sedangkan pustakawan sekolah adalah seseorang yang bertugas untuk mengelola perpustakaan sesuai dengan aspek dan kaidah yang berlaku untuk menunjang pendidikan. Seorang pustakawan diwajibkan untuk membuat inovasi-inovasi yang memberi dampak baik untuk perpustakaan sekolah itu sendiri. Sama halnya dengan pustakawan yang ada yang ada di Perpustakaan Sekolah Dasar Islam Hidayatullah Semarang. Pustakawan Perpustakaan Sekolah Dasar Islam Hidayatullah ini membuat inovasi dan pengembangan perpustakaan yaitu pustakawan kecil. Dimana kita mengetahui bahwa era sekarang ini anak-anak banyak yang mulai tidak tertarik dengan perpustakaan tetapi di sekolah ini sangat berbeda. Anak-anak yang ada di sekolah ini masih banyak yang sangat tertarik untuk menjadi seorang pustakawan kecil karena bagi mereka menjadi pustakawan kecil adalah hal yang baru dan membuat mereka lebih bisa dekat dengan buku baik itu buku pelajaran maupun buku lainnya. Penelitian tentang peran pustakawan terhadap pembentukan pustakawan kecil ini juga sudah ada yang pernah melakukannya. Seperti yang di teliti oleh Dwi Andriyan yang berjudul “Partisipasi Siswa Pustakawan Cilik Dalam Pengelolaan Bahan Pustaka, Layanan dan Sosialisasi Pemanfaatan : Studi Kasus Perpustakaan SDN Kramat Beji Depok” Pustakawan kecil di bentuk dengan tujuan agar menjadi role model untuk memperkenalkan profesi pustakawan dan perpustakaan. Berdasarkan hal tersebut peneliti ingin mengetahui peran pustakawan dalam pembentukan pustakawan cilik di tinjau dari teori. 2. Landasan Teori 2.1 Perpustakaan Sekolah Perpustakaan sekolah sebagai bagian penting untuk terlaksananya proses belajar di sekolah dan merupakan bagian penting juga dalam proses pendidikan, bagi pengembangan literasi, informasi, pengajaran dan pembelajaran. Tujuan dari perpustakaan sekolah menurut Darmono (2007: 21) adalah sebagai berikut : 1. Mendukung dan memperluas sasaran pendidikan sebagai mana digariskan dalam misi dan kurikulum sekolah. 2. Mengembangkan dan mempertahankan kelanjutan dalam kebiasaan dan keceriaan membaca dan belajar, serta menggunakan perpustakaan sepanjang hayat mereka. 3. Memberikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman dalam menciptakan dan menggunakan informasi untuk pengetahuan, pemahaman, daya pikir dan keceriaan. 4. Mendukung semua murid dalam pembelajaran dan praktek keterampilan mengevaluasi dan menggunakan informasi, tanpa memandang bentuk, format atau media, termasuk kepekaan modus berkomunikasi di komunitas. 5. Menyediakan akses ke sumber daya lokal, regional, nasional, global dan kesempatan pembelajaran menyingkap ide, pengalaman, dan opini yang beraneka ragam 6. Mengorganisasikan aktivitas yang mendorong kesadaran serta kepekaan budaya dan sosial. 7. Bekerja dengan murid, guru, administrator dan orang tua untuk mencapai misi sekolah. 8. Menyatakan bahwa konsep kebebasan intelektual dan akses informasi merupakan hal penting bagi terciptanya warga negara yang bertanggung jawab dan efektif, serta berpatisipasi di alam demokrasi. 9. Promosi membaca dan sumber daya serta jasa perpustakaan sekolah kepada seluruh komunitas sekolah dan masyarakat luas. Tujuan Perpustakaan menurut Yunus (2007 : 3) adalah sebagai berikut : 1. Mendorong dan mempercepat proses penguasaan teknik membaca para siswa 2. Membantu menulis kreatif siswa dengan bimbingan guru dan pustakawan 3. Menumbuhkan minat baca siswa. 4. Menyediakan berbagai informasi yang sesuai dengan kurikulum sekolah. 5. Mendorong, menggairahkan, memelihara dan memberi semangat membaca dan semangat belajar bagi siswa. 6. Memperluas, memperdalam dan memperkaya pengalaman belajar para siswa dengan membaca buku dan koleksi lain yang mengandung ilmu pengetahuan dan teknologi, yang disediakan oleh pustakawan. 7. Memberikan hiburan sehat untuk menngisi waktu senggang melalui kegiatan membaca. Menurut pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan dari perpustakaan sekolah adalah untuk memberikan sarana informasi kepada siswa serta memberikan peluang kepada siswa untuk mewujudkan kemandiriannya. Tujuan dari proses belajar mengajar apabila mencapai tujuan maka perpustakaan dapat dikatakan bermanfaat. Bafadal (2011: 5) mengemukakan manfaat perpustakaan sekolah diantaranya sebagai berikut: 1. Dapat menimbulkan kecintaan murid terhadap membaca 2. Dapat memperkaya ilmu pengetahuan serta wawasan. 3. Menanamkan kebiasaan belajar secara mandiri. 4. Mempercepat penguasaan teknik membaca. 5. Membantu perkembangan kecakapan berbahasa. 6. Melatih murid-murid untuk bertanggung jawab 7. Membantu murid untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah. 8. Memperbanyak sumber-sumber pengajaran bagi guru. 9 Membantu para murid, guru serta staf sekolah dalam mengikuti perkembangan teknologi Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa manfaat dari perpustakaan sekolah untuk menimbulkan kecintaan serta kemandirian siswa dalam menambah ilmu dan wawasan. Kebiasaan untuk mengunjungi perpustakaan dapat meningkatkan kualitas membaca para pengguna perpustakaan. Perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar yang berarti perpustakaan sebagai sumber belajar dan sumber informasi bagi para siswa. Menurut Bafadal (2011: 6), ada beberapa fungsi perpustakaan sekolah, diantaranya sebagai berikut : 1. Fungsi edukatif yaitu perpustakaan sekolah menyediakan buku-buku fiksi maupun non fiksi. Adanya buku tersebut membiasakan peserta didik untuk belajar mandiri tanpa bimbingan guru, baik secara individual maupun kelompok. 2. Fungsi informatif yaitu perpustakaan tidak hanya menyediakan bahan-bahan pustaka yang berupa buku-buku, akan tetapi juga menyediakan bahan-bahan yang berupa buku (non book material) seperti majalah, surat kabar, peta, gambar-gambar dan lain-lain. 3. Fungsi tanggung jawab administratif yaitu pinjaman dan pengembalian buku selalu dicatat oleh pustakawan yang berada di perpustakaan. Setiap peserta didik yang akan masuk ke perpustakaan sekolah harus mematuhi peraturan yang ada. Apabila ada siswa yang terlambat mengembalikan buku pinjaman akan terkena denda dan apabila ada peserta didik yang telah menghilangkan buku pinjaman maka harus menggantinya. Hal ini membuat siswa untuk mempunyai rasa tanggung jawab terhadap buku yang telah dipinjamnya. 4. Fungsi riset yaitu di dalam perpustakaan terdapat banyak bahan pustaka, dengan adanya bahan pustaka yang lengkap maka peserta didik dan guru dapat melakukan riset yaitu mengumpulkan data atau keterangan yang dibutuhkan. 5. Fungsi rekreatif yaitu perpustakaan sekolah dapat berfungsi rekreatif yang dapat dijadikan sebagai tempat mengisi waktu luang seperti waktu istirahat dengan membaca buku cerita, novel, majalah, surat kabar dan sebagainya. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi perpustakaan sekolah sebagai tempat menyimpan buku yang ditujukan untuk para siswa untuk meningkatkan minat baca. Selain itu juga untuk mengajarkan para siswa untuk bertanggung jawab terhadap bahan pustaka yang telah dipinjamnya. 2.2 Pustakawan Peranan pustakawan sangat penting untuk perpustakaan, karena dengan adanya pustakawan sebuah perpustakaan dapat terkelola dengan baik. Pustakawan tidak hanya dituntut untuk melayani peminjaman buku akan tetapi juga memberikan informasi yang cepat, tepat dan akurat. Daryono (2008: 23) mengemukakan peranan pustakawan selain melakukan layanan sirkulasi, pengadaan dan pengelolaan bahan pustaka, pustakawan juga harus mampu mengelola laporan administrasi, mengelola web-OPAC, melakukan pelestarian dokumen, (diantaranya mengelola dokumen menjadi bentuk digital), mengelola layanan pinjam antar perpustakaan (PAP), melakukan kontrol keamanan bahan pustaka, pengelolaan layanan multi, media (CD, DVD/ audio kaset/ sinar X dan lain-lain), mengelola dan mencetak barkod, mengelola keanggotaan pemustaka, melakukan penyusunan anggaran, melakukan katalogisasi (pra dan pasca katalog), membuat laporan, mengelola terbitan berseri, dan melakukan tugas lain yang berkaitan dengan teknologi informasi. Menurut Hermawan (2006 : 56-57), pustakawan mempunyai banyak peran sebagai berikut: 1. Edukator Sebagai edukator (pendidik), pustakawan dalam melaksanakan tugasnya harus berfungsi dan berjiwa sebagai pendidik. Sebagai pendidik, ia harus melaksanakan fungsi pendidikan yaitu mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik adalah mengembangkan kepribadian, mengajar adalah mengembangkan kemampuan berfikir, dan melatih adalah membina dan mengembangkan keterampilan. 2. Manager Pada hakikatnya pustakawan adalah “manajer informasi” yang mengelola informasi pada satu sisi, dengan pengguna informasi pada sisi lain. Informasi yang banyak dan dapat dalam berbagai wadah yang jumlah selalu bertambah harus dikelola dengan baik. Kebutuhan informasi pengguna merupakan dasar pengelolaan informasi. 3. Administrator Sebagai administrator pustakawan harus mampu menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi program perpustakaan, serta dapat melakukan analisis atas hasil yang telah dicapai, kemudian melakukan upaya-upaya perbaikan untuk mencapai hasil yang lebih baik. 4. Supervisor Sebagai supervisor pustakawan harus: a. Dapat melaksanakan pembinaan profesional, untuk mengembangkan jiwa kesatuan dan persatuan antar sesama pustakawan, sehingga dapat menumbuhkan dan meningkatkan semangat kerja dan kebersamaan. b. Dapat meningkatkan prestasi, pengetahuan dan keterampilan, baik rekan-rekan sejawat maupun masyarakat pengguna yang dilayaninya. c. Mempunyai wawasan yang luas, pandangan jauh kedepan, memahami beban kerja, hambatanhambatan, serta bersikap sabar, tetap tegas, adil, obyektif dalam melaksanakan tugasnya. d. Mampu berkoordinasi, baik dengan sesama pustakawan maupun dengan para pembinanya dalam menyelesaikan berbagai persoalan dan kendala, sehingga mampu meningkatkan kinerja unit organisasinya. Menurut pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pustakawan memiliki banyak peran untuk kegiatan di perpustakaan. Selain berperan sebagai edukator, manajer, pustakawan juga berperan untuk mengelola serta mengembangkan perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan informasi penggunanya. 2.3 Pustakawan Kecil Menurut Pradhito (2015), pengertian pustakawan cilik adalah program di mana siswa memabantu pustakawan di perpustakaan. Tugasnya mengatur sirkulasi buku, menjaga ketertiban di ruang baca, melakukan kontrol terhadap siapa saja yang terlambat dalam mengembalikan buku. Sedangkan menurut Yusuf (2019) pustakawan cilik adalah sebuah program yang dirancang bagi siswa untuk dapat berperan aktif dalam mengelola perpustakaan yang ada di Sekolah Dasar. Adapun tujuan dari program pustakawan kecil ini, menurut Yusuf (2015) tujuan dari program ini adalah agar siswa mendapatkan pengalaman untuk dapat bertanggung jawab mengelola perpustakaan dan melatih siswa untuk menjadi lebih mandiri lagi dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Berdasarkan tujuan di atas, adanya pustakawan kecil menjadikan rumah bagi siswa dalam memenuhi kebutuhan informasinya Dalam melaksanakan program pustakawan kecil, ada bebarapa proses yang pelaksanaan yang harus dilalui, yaitu: 1. Proses Perekrutan Menurut Yusuf (2015), proses perekrutan pustakawan cilik, pustakawan diharuskan untuk memilih siswa yang tertarik untuk untuk mengikuti program ini. Dengan adanya pemilihan ini, dimaksudkan agar pelaksanaan pustakawan cilik lebih terarah.Terlebih lagi apabila pustakawan cilik masih dalam pelaksanaan perdana. Adapun menurut Franklin dan Claire Gatrell Stephents (2008: 43) “pemilihan pustakawan cilik, idealnya diharapkan mencari siswa yang tertarik.” 2. Pembinaan atau Pelatihan Setelah melewati proses perekrutan masuklah siswa dalam proses pembinaan atau pelatihan. Menurut Indrasari (2015: 379) pustakawan cilik yang baru masuk biasanya akan membahas program satu tahun pertemuan rutin mereka. Program dan ide untuk membuat perpustakaan lebih berwarna dan berguna lagi. Sedangkan Yusuf (2019: 45) memaparkan bahwa “pembinaan atau pelatihan yang dilakukan pustakawan kepada pustakawan cilik akan memberikan pemahaman kepada mereka seperti pentingnya membaca, fungsi perpustakaan, tugas dan peran pustakawan cilik, pelayanan prima di perpustakaan serta bagaimana organisasi kelompok bagi pustakawan cilik. “ 3. Pengontrolan Proses pengontrolan ini adalah proses akhir dalam melakukan program pustakawan cilik. Menurut Yusuf (2015), setelah semua proses sudah dijalani dengan baik, hal terakhir yang pustakawan lakukan adalah mengontrol para siswa dalammelaksanakan pekerjaannya. Hal yang harus dilakukan dalam proses pengontrolan ini adalah melakukan evaluasi berkala yang menghasilkan rekomendasi selama kegiatan atau setelah kegiatan. Bentuk kegiatan pustakawan kecil menurut Yusuf (2015), kegiatan yang dilakukan siswa ketika menjadi pustakawan cilik biasanya adalah pengelolaan perpustakaan, pemberian materi serta simulasi. Pustakawan cilik dapat mengembangkan program-program untuk komunitas sekolah dan menjadi contoh bagi sekolah lain untuk mempromosikan program yang sama. Program-program yang dikembangkan biasanya bisa menjadi kompetisi, amal, kreatifitas, bahkan tamasya dengan sekolah lain. Pustakawan cilik akan melakukan sosialisasi untuk mengajak siswa lain membaca di perpustakaan. Siswa akan di perpustakaan dengan cara memperkenalkan buku-buku yang menarik agar siswa lain tertarik. Adapun menurut Briggs (2019), program pustakawan cilik jika dikaitkan dengan dunia pendidikan disebut dengan metode peer teaching, yaitu teknik menyampaikan materi ajar melalui rekan atau bantuan teman sendiri.
Method
Desain dan jenis penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Desain penelitian adalah rencana dalam melakukan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis, sebagai rencana kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu dengan menentukan cara pengumpulan dan analisis data yang sesuai dengan tujuan penelitian (Arikunto, 2010: 90). Menurut Saryono (2010: 48) Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh social yang tidak dapat dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kuantitatif. Dalam penelitian ini peneliti mengunakan data dari hasil wawancara dan observasi. Nazir (2011: 52 ) mengemukakan metode deskriptif adalah satu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu subjek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran atau pun kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif untuk memahami dan mendeskripsikan peran pustakawan dalam pembentukan pustakawan cilik. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa cara yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian (Gulo, 2002: 110). 1. Observasi Observasi adalah suatu proses melihat, mengamati, dan mencermati serta merekam perilaku secara sistematis untuk suatu tujuan tertentu (Cartwright dan Cartwright dalam Herdiansyah, 2012: 131). Adapun menurut Sugiyono (2009: 145), observasi merupakan teknik pengumpulan data mempunyai ciri spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara. Wawancara selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek alam lainnya. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan observasi non-partisipan, peneliti terpisah dari kegiatan yang diobservasi. Peneliti hanya mengamat-amati, mencatat apa yang terjadi (Sulistyo-Basuki, 2006: 151). Peneliti mengamati peran pustakawan terhadap pembentukan pustakawan cilik di Perpustakaan Sekolah Dasar Islam Hidayatullah Semarang. 2. Wawancara Wawancara merupakan suatu metode pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan atau tanya jawab. Wawancara ini sifatnya mendalam karena ingin mengeksplorasi informasi secara holistik dan jelas dari informan (Satori, 2012: 129-131). Adapun menurut Yin (2013: 111) wawancara merupakan sumber bukti yang esensial bagi studi kasus, karena studi kasus umumnya berkenaan dengan urusan kemanusiaan. Urusan-urusan kemanusiaan ini harus dilaporkan dan diinterpretasikan melalui penglihatan pihak yang diwawancarai dan para responden yang mempunyai informasi dapat memberikan keterangan-keterangan penting dengan baik ke dalam situasi yang berkaitan. Teknik wawancara yang digunakan oleh peneliti yaitu wawancara semiterstruktur (semistucture interview), di mana dalam pelaksanannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstuktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat dan ide-idenya. Dalam melakukan wawancara, peneliti mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan (Sugiyono, 2010: 233). Wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah wawancara dengan pustakawan dan pustakawan cilik yang berada di perpustakaan Sekolah Dasar Islam Hidayatullah Semarang, agar mendapatkan data yang kongkrit. 3. Dokumentasi Selain wawancara dan observasi teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan studi dokumentasi. Studi dokumentasi yaitu mencari data melalui dokumen-dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar ataupun digital. Di sini penulis mengumpulkan data dokumen yang berkaitan dengan penelitian seperti dokumen gambar untuk melihat situasi di perpustakaan Sekolah Dasar Islam Hidayatullah Semarang dan dokumen berupa jurnal, surat.
Result & Discussion
Pada bab ini berisi tentang hasil penelitian yang didapatkan dari hasil pengamatan atau observasi dan wawancara dalam mengumpulkan data penelitian, peneliti menganalisis jawaban-jawaban dari informan. Peneliti mendapatkan data di Perpustakaan SDI Hidayatullah Semarang. Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan teknik observasi dan wawancara. Kriteria informan dalam penelitian ini adalah pustakawan dari SDI Hidayatullah Semarang. Teknik observasi digunakan untuk melihat langsung bagaimana pustakawan dalam menjalankan program kegiatan pustakawan kecil. Teknik wawancara digunakan untuk mengumpulkan data dari informan dengan cara memberikan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh informan. Berikut adalah analisis dan pembahasan hasil temuan dari data yang telah dikumpulkan dalam penelitian ini. 1. Profil Informan Beberapa aspek yang akan dibahas oleh peneliti terbagi menjadi empat. Pertama yaitu mengenai latar belakang, tujuan, hingga kendala yang ada selama kegiatan pustakawan kecil ini berlangsung. Adapun tiga lainnya mengenai tahap proses dari kegiatan pustakawan kecil, dimulai dari perekrutan, pelatihan dan terakhir pengontrolan. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai masalah penelitian, peneliti terlebih dahulu memaparkan profil informan. Peneliti melakukan analisis untuk menentukan informan. Dari hasil analisis tersebut, peneliti memilih informan yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. 2. Latar Belakang Pustakawan Kecil Dalam proses menjalankan kegiatan pustakawan kecil, pustakawan harus menjalankan beberapa proses pelaksanaan, yaitu perekrutan, pelatihan atau pembianaan dan terakhir pengontrolan (Yusuf, 2015). Dalam hal ini, peneliti menanyakan kepada informan yaitu pustakawan mengenai asal mula terbentuknya program pustakawan kecil di SDI Hidayatullah Semarang. Berdasarkan jawaban informan tersebut dapat diketahui bahwa latar belakang dibentuknya program pustakawan kecil ini adalah untuk membantu pustakawan, namun selain itu juga agar semua siswa dapat mengikuti ekskul yang ada. Program kegiatan pustakawan kecil ini sebenarnya sudah direncanakan sejak lama, namun karena pustakawan di SDI Hidyatullah berganti-ganti maka baru terealisasi diawal tahun 2019 tepatnya di bulan Januari. Jika nantinya adanya pergantian pustakawan ada proses transfer informasi yang dilakukan pustakawan lama kepada pustakawan yang baru, prosesnya yaitu pustakawan sebelumnya sudah membuat buku pedoman yang nantinya dapat dipakai sebagai acuan untuk pustakawan yang baru. Selain itu pihak sekolah juga meminta bantuan kepada pustakwan lama sebelum berhenti bekerja untuk memberikan arahan kepada pustakawan yang baru. disetiap periodenya pustakawan kecil akan mendapat piagam penghargaan sebagai pustakawan kecil terbaik pada periode tersebut, selain itu pustakawan juga memberikan pengharagaan dan pembagian kepada siswa-siswa. tujuan dari diadakannya program kegiatan pustakawan kecil ini selain agar siswa kelas empat dapat mengikuti semua kegiatan, juga untuk membantu pustakawan karena dilihat dari minat kunjung siswa SDI Hidayatullah terbilang banyak dan hal program kegiatan pustakawan kecil ini sangat membantu untuk meringankan tugas pustakawan. 3. Perekrutan Menurut Yusuf (2015), proses perekrutan pustakawan cilik, pustakawan diharuskan untuk memilih siswa yang tertarik untuk untuk mengikuti program ini. Dengan adanya pemilihan ini, dimaksudkan agar pelaksanaan pustakawan cilik lebih terarah. Terlebih lagi apabila pustakawan cilik masih dalam pelaksanaan perdana. dalam perekrutan pustakawan cilik di tahun pertama, semua siswa yang tidak terdaftar dalam kegiatan ekskul polisi kecil dan dokter kecil maka siswa tersebut secara otomatis mengikuti kegiatan pustakawan kecil dan tetunya siswa yang mengikuti program pustakawan kecil ini sudah mendapat persetujuan dari masing-masing orang tua siswa. Minat siswa terhadap program pustakawan kecil ini sangat baik, dapat dilihat dari jumlah siswa yang ingin mengikuti program pustakawan kecil ini dan alasan dari para siswa yang terlihat antusias karena ingin mengetahui program pustakawan kecil ini serta ingin membantu pustakawan. siswa yang diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan pustakawan kecil ini mulai dari siswa kelas empat karena sesuai dengan hasil musyawarah pihak sekolah serta wali kelasnya merasa bahwa siswa kelas empat sudah mulai mempunyai rasa bertanggung jawab dan bekerjasama dan masa periode untuk program pustakawan kecil ini dimulai dari kelas empat semester awal sampai sampai kelas lima semester kedua. proses perekrutan pustakawan kecil ini, pustakawan tidak hanya bekerja sendiri, melainkan dibantu oleh pihak sekolah yang lainnya seperti walikelas dan tatausaha yang membantu untuk memberikan formulir kepada siswa dan mengumpulkannya kembali sehingga setelah itu dapat diinput oleh pustakawan siswa mana saja yang ikut dalam kegiatan pustakawan kecil ini. dalam proses perekrutan pustakawan kecil ini tidak ada batasan ditahun pertamanya, dikarenakan siswa yang mengikuti kegiatan pustakawan kecil ditahun pertama adalah siswa-siswa yang tidak mengikuti kegiatan dokter kecil dan polisi kecil, namun di tahun berikutya jumlah siswa untuk mengikuti program kegiatan yang ada dibagi sama rata, jadi jumlah siswa dalam setiap kegiatan sama. Proses perekrutan, waktu yang dibutuhkan adalah satu minggu karena pustakawan harus membuat formulir yang nantinya akan dikasihkan kepada siswa dan selanjutnya untuk ditanda tangani oleh orang tua siswa. 4. Pelatihan atau Pembinaan Setelah melewati proses perekrutan masuklah siswa dalam proses pembinaan atau pelatihan. Menurut Yusuf (2019), pembinaan atau pelatihan yang dilakukan pustakawan kepada pustakawan cilik akan memberikan pemahaman kepada mereka seperti pentingnya membaca, fungsi perpustakaan, tugas dan peran pustakawan cilik, pelayanan prima di perpustakaan serta bagaimana organisasi kelompok bagi pustakawan cilik. Melakukan proses pelatihan pustakawan kecil, pustakawan memberikan materi-materi yang digabungkan oleh game agar siswa tidak cepat merasa bosan. Namun game yang diberikan juga masih berkaitan dengan perpustakaan. Lalu pustakawan juga memberikan kesempatan siswa untuk berdiskusi dan selanjutnya siswa diberikan kesempatan untuk melakukan praktek sesuai dengan materi yang sudah diberikan oleh pemateri. Dengan begitu dapat mempermudah siswa dalam menjalankan tugasnya nanti. Siswa sangat antusias dalam mengikuti program kegiatan pustakawan kecil ini dan ditambah rata-rata yang siswa yang mengikuti program pustakawan kecil ini siswa yang sudah terbiasa datang ke perpustakaan sehingga mereka tidak asing lagi dengan aktivitas yang berada di perpustakaan. Pelaksanaan program pustakawan kecil diadakan di perpustakaan SDI Hidayatullah Semarang, dilihat perpustakaan yang ada di SDI Hidayatullah terbilang besar untuk menampung calon pustakawan kecil. Pustakawan mendapatkan bantuan dari lulusan S1 Ilmu Perpustakaan untuk membantu memberikan materi serta pengetahuan mengenai perpustakaan kepada siswa yang mengikuti program Pustakawan kecil. Pada tahun pertama program pustakawan kecil ini dibantu oleh dua orang dan tahun berikutnya hanya satu orang saja. Dalam mempersiapkan pelatihan untuk para calon pustakawan kecil sangatlah matang, semua dipersiapkan secara baik dan tertata agar para siswa mudah memahami apa yang akan disampaikan oleh pemateri. Pustakawan juga sudah menyederhanakan bahasa yang akan disampaikan kepada siswa agar siswa mudah memahami apa yang disampaikan oleh pemateri. Pemateri juga memberikan materi seputar perpustakaan serta tugas dari pustakawan itu sendiri seperti mengenalkan apa itu perpustakaan, apa itu pustakawan, bagaimana melayani pemninjaman dan pengembalian buku secara manual mengenal punggung buku ada nomer buku dan laun-lainnya lagi. Siswa juga diberi kesempatan untuk praktek langsung agar siswa mudah memahi tugasnya nanti sebagai pustakawan. Proses pelatihan pustakawan kecil, wakil kepala sekolah serta beberapa guru ikut hadir untuk membantu pustakawan agar pelatihan berjalan lancar. Karna dilihat calon pustakawan kecil ini masih anak-anak dan jumlah pustakawan yang ada di SDI Hidayatullah hanya satu orang, jadi pustakawan membutuhkan bantuan dari pihak sekolah juga untuk mengatur para siswa. 5. Pengontrolan Proses pengontrolan ini adalah proses akhir dalam melakukan program pustakawan cilik. Menurut Yusuf (2015), setelah semua proses sudah dijalani dengan baik, hal terakhir yang pustakawan lakukan adalah mengontrol para siswa dalam melaksanakan pekerjaannya. Hal yang harus dilakukan dalam proses pengontrolan ini adalah melakukan evaluasi berkala yang menghasilkan rekomendasi selama kegiatan atau setelah kegiatan. Menjalankan kegiatan pustakawan kecil ini mendapatkan pengontrolan langsung dari pustakawan. Pustakawan menggunakan absensi yang nantinya diisi oleh pustakawan yang cilik yang hadir, jadi pustakawan tau siapa saja siswa yang hadir dan yang tidak hadir. dan dengan adanya kegiatan pustakawan kecil ini sangat membantu pustakawan di SDI Hidayatullah. Semua kegiatan siswa dalam menjalankan kegiatan pustakawan kecil ini sepenuhnya di kontrol dengan baik oleh pustakawan, pustakawan memperhatikan juga siswa-siswa yang hadir, memeriksa siapa saja datang telat, lalu memimbing pustakawan cilik saat menjalankan kegiatannya sebagai pustakawan. Pustakawan memberikan arahan kepada pustakawan cilik saat menjalankan tugasnya seperti saat melayani peminjaman dan pengembalian. Proses evaluasi mandiri sendiri belum diadakan namun ada evaluasi bersama dengan pihak sekolah yang diadakan biasanya saat akan pergantian angkatan, mengevaluasi kekurangan apa yang terjadi di tahun sebelumnya sehingga dapat diperbaiki ditahun berikutnya. Pustakawan punya rencana untuk membuat evaluasi yang secara bertahap agar program pustakawan kecil ini dapat berjalan dengan baik. Didalam tahap proses pengontrolan terdapat kendala yang juga yang dihadapi, pustakawan kadang merasa kesulitan untuk mengontrol pustakawan kecil karna pustakawan hanya sendirian walaupun ada wakasek dan walikelas yang membantu tetapi itu hanya terkadang saja. Program kegiatan pustakawan kecil ini juga ada beberapa aturan yang diterapkan dan bagi pustakawan kecil yang melanggar tidak ada sanksi khusus, hanya saja di beri terguran serta pengertian sehingga tidak mengulanginya lagi. Pustakawan kecil dalam menjalankan tugasnya juga mendapatkan kesulitan seperti terjadinya kesalahan dalam kegiatan shelving, namun itu tidak jadi masalah karena untuk kegiatan ini. Program kegiatan pustakawan kecil memberikan pengaruh yang baik kepada siswa, sebagaimana yang disampaikan oleh pustakawan , siswa jadi mempunyai rasa tanggung jawab, jiwa peduli terhadap sesama dan menjadikan siswa yang pendiam dan pemalu untuk berani berbicara di depan umum.
Conclusion
Berdasarkan hasil analisis penelitian mengenai peran pustakawan terhadap pembentukan Pustakawan Kecil di Perpustakaan Sekolah Dasar Islam Hidaytullah Semarang disimpulkan bahwa peran pustakawan dalam pembentukan pustakawan kecil meliputi perekrutan, pelatihan atau pembinaan dan terakhir pengontrolan. Perekrutan merupakan tahap awal yang dilakukan oleh pustakawan dalam proses kegiatan pustakawan kecil ini. Waktu yang dibutuhkan untuk proses perekrutan adalah satu minggu. Alur dalam proses perekrutannya yaitu pustakawan membuat formulir yang nantinya akan dibagikan ke siswa untuk mendapatkan persetujuan dari orang tua dan nantinya akan dikembalikan kepada pustakawan. Pustakawan juga dibantu oleh pihak sekolah dalam membagikan formulir yang akan diberikan kepada siswa. Siswa yang diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan pustakawan kecil ini dimulai dari siswa kelas empat, karena sesuai hasil musyawarah pihak sekolah serta wali kelas bahwa siswa kelas empat sudah mulai mempunyai rasa tanggungjawab dan kerja sama. Proses selanjutnya yang dilakukan pustakawan dalam kegiatan pustakawan kecil ini adalah tahap pembinaan atau pelatihan. Proses pelatihan pustakawan kecil dilakukan dalam dua hari yang dalam seharinya dilakukan selama tiga jam. Pembinaan atau pelatihan ini pustakawan memberikan materimateri yang nantinya akan dijelaskan kepada siswa sebagai gambaran untuk tugas yang nanti akan dikerjakan. Dalam memberikan materi kepada siswa, pustakawan mendapatkan bantuan dari lulusan S1 Ilmu Perpustakaan. Pustakawan juga memberikan game disela-sela materi yang bertujuan agar siswa tidak mudah bosan dengan proses pelatihan yang dilakukan. Selanjutnya proses akhir yang dilakukan pustakawan adalah proses pengontrolan. Proses ini adalah mengontrol para siswa dalam melaksanakan pekerjaannya dan mengevaluasinya. Dalam melakukan proses pengontrolan ini pustakawan belum mengadakan evaluasi mandiri, pustakawan hanya melakukan evaluasi bersama pihak sekolah yang diadakan saat akan pergantian angkatan. Evaluasi bertujuan untuk memperbaiki kekurangan di tahun sebelumnya sehingga di tahun berikutnya dapat dijalani dengan lebih baik lagi. Siswa yang menajalankan program pustakawan kecil ini mendapatkan pengontrolan langsung dari pustakawan. Pustakawan menggunakan absensi yang nantinya diisi oleh pustakawan cilik yang hadir, jadi pustakawan tau siapa saja siswa yang hadir dan tidak hadir. Pustakawan juga memberikan arahan kapada pustakawan kecil saat menjalankan tugasnya, seperti saat melayani peminjaman dan pengembalian serta melakukan kegiatan shelving. Adapun kesulitan yang dihadapi oleh pustakawan kecil seperti, terjadinya kesalahan dalam shelving namun menurut pustakawan itu bukan masalah ,karena melihat bahwa siswa juga masih perlu banyak belajar dan memahami tugasnya sendiri. Saran Berdasarkan pembahasan tentan peran pustakawan dalam pembentukan pustakawan kecil di perpustakaan Sekolah Dasar Islam Hidaytullah Semarang, penulis ingin menyampaikan beberapa saran berikut : 1. Pustakawan diharapkan dapat lebih mengeksplorasi lagi peran pustakawan kecil sebagai contoh untuk murid-murid lainnya. 2. Pustakawan perlu mengutamakan evaluasi pada masing-masing pustakawan kecil agar dapat mengetahui perkembangan skill dalam bidang perpustakaan di setiap individu 3. Pustakawan perlu memberikan kegiatan-kegiatan baru untuk setiap periodenya, agar kegiatan dalam pustakawan kecil tidak monoton.