Kembali
16
1
2021 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 5 · 3 ISSN 2598-3040

Negosiasi Ideologi Pengarang pada Novel of Mice and Men Karya John Steinbeck Kajian Sosiologi Sastra dalam Perspektif Antonio Gramsci

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Penelitian ini membahas tentang negosiasi ideologi pengarang dalam novel Of Mice and Men karya John Steinbeck. Novel ini merepresentasikan perlawanan antara kaum borjuis dan proletariat yang terjadi pada masyarakat kapitalis. Rumusan masalah dalam makalah ini adalah ideologi yang dinegosiasikan pengarang dalam novel Of Mice and Men karya John Steinbeck. Makalah ini menggunakan pendekatan kajian sosiologi sastra. Makalah ini menggunakan teori Antonio Gramsci tentang perlawanan tokoh dalam masyarakat kapitalis. Makalah ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa ideologi yang dinegosiasikan oleh pengarang dalam novel Of Mice and Men adalah perlawanan ideologi kapitalis yang direpresentasikan melalui tokoh utamanya, George, Lennie dan Curley.

Abstract

This research discusses about the ideological negotiation of the author in John Steinbeck's novel Of Mice and Men. This novel represents the inevitable conflict between the bourgeoisie and the proletariat in a capitalist society. This research question is the ideology negotiated by the author in John Steinbeck's in novel Of Mice and Men. This research uses a sociological literature study approach. This research uses Antonio Gramsci's theory of the resistance of figures in capitalist society. This research uses a descriptive qualitative method. From the analysis, it can be summarized that the ideology negotiated by the author in novel Of Mice and Men is the resistance to capitalist ideology represented by the main characters, George, Lennie and Curley.
Keywords: capitalist ideology · hegemony · sociology of literature

Introduction

Pada bulan Oktober 1929 mulai terjadi The Great Depression di Amerika yang merupakan bagian dari dampak Revolusi Industri dan Perang Dunia I. The Great Depression pada tahun 1929–1939 memiliki pengaruh besar bagi masyarakat Amerika karena tidak hanya mengubah kondisi ekonomi tetapi juga pola pikir masyarakat Amerika dalam budaya, hubungan sosial masyarakat, dan politik. Kejadian The Great Depression menjadi pemicu munculnya kelas sosial di Amerika yang menjadi standar bagi masyarakat untuk membagi orang-orang berdasarkan modal dan kekuasaan mereka. Amerika adalah salah satu negara yang mengkritik sistem kapitalis selama era The Great Depression. Banyak industri runtuh setelah Perang Dunia I dan membuat ekonomi Amerika mengalami masa krisis. Situasi perekonomian Amerika semakin terpuruk dengan semakin maraknya pengangguran dan meningkatnya ketidakseimbangan sosial yang menjadikan era baru di Amerika. Perbedaan kelas sosial tersebut memantik berkembangnya sastra modern di Amerika. Pada awal abad ke-20, sebagian besar penulis Amerika terbuka tentang berbagi ide mereka mengenai kondisi sosial di Amerika. Banyak novel dalam sastra modern Amerika merupakan hasil reaksi penulis terhadap masalah kelas sosial di Amerika (Straumann, 1965:23). Perbedaan kelas menjadi topik yang menonjol bagi banyak penulis di awal abad ke-20. Para penulis menjadi lebih terbuka untuk berbagi dan menyatakan ide mereka dalam mengkritik situasi pada saat itu. John Steinbeck terinspirasi oleh kondisi sosial di awal abad ke-20 untuk mengkritik fenomena The Great Depression pada tahun 1929-1939 dalam gagasan utama novel-novelnya. Steinbeck adalah salah satu penulis Amerika yang mengkritik ketidakseimbangan sosial antara kaum borjuis dan proletar. Sebagian besar karya sastranya menceritakan tentang perbedaan kelas di Amerika. Straumann (1965:97) menyatakan dalam bukunya American Literature in Twentieth Century bahwa John Steinbeck adalah salah satu penulis proletariat. Novel Of Mice and Men menunjukkan minat Steinbeck dalam menunjukkan masyarakat kelas proletar yang digambarkan dari kisah dan juga menyiratkan kemurnian manusia yang rindu akan kedamaian. Karakter dari George dan Lennie dalam Of Mice and Men mewakili pekerja migran Amerika di awal abad ke-20. George dan Lennie adalah tokoh utama yang mewakili kaum proletar. Mereka ingin meraih impian mereka memiliki sebidang tanah dengan cara mengumpulkan uang dari pekerja migran dan petani (proletar). Terkait dengan hal tersebut, penulis mencoba mengkaji lebih dalam novel Of Mice and Men dengan analisis hegemoni Gramsci. Beberapa poin di atas sangat krusial untuk diteliti karena idelogi yang diyakini pengarang sangat erat kaitannya dengan gagasan dan pandangan yang dituangkan pengarang dalam sebuah karya sastra. Melalui karya sastra, pengarang menegosiasikan ideologi yang diyakininya dan tergambar pada interaksi antartokoh dalam struktur serta alur cerita. Novel Of Mice and Men karya fenomenal John Steinbeck ditulis pada tahun 1937. Ia dihormati dan dihargai karena menjunjung nilai-nilai solidaritas. Steinbeck merefleksikan masalah gerakan proletar yang terhubung dengan masalah politik sosial. Novel Of Mice and Men adalah salah satu novel Steinback yang paling sukses. Steinbeck mendapat Hadiah Nobel pada tahun 1962 dari Swedia. Novelnya telah sukses menggambarkan kondisi kelas sosial pada awal abad ke-20 di Amerika. Steinbeck berhasil memberikan nilai moral dan nilai sosial dalam novel Of Mice and Men. Ideologi-ideologi yang berformasi dalam sebuah karya sastra perlu ditelaah secara mendalam dan sangat menarik untuk dikaji menggunakan analisis hegemoni. Ideologi yang dinegosiasikan pengarang untuk menentang ideologi dominan yang menguasai masyarakat dapat diidentifikasi melalui analisis hegemoni. Selanjutnya melalui kajian tersebut juga dapat ditelusuri munculnya ideologi yang dinegosiasikan pengarang disebabkan oleh faktor-faktor luar yang mempengaruhinya. Berkenaan dengan hal tersebut, dalam mengkaji novel Of Mice and Men ini penulis menggunakan analisis hegemoni Gramsci. Sebuah karya sastra merupakan representasi dari gagasan-gagasan ataupun pandangan-pandangan dunia yang ditulis oleh pengarang di suatu tempat dan zaman. Dalam hal pribadi sosial yang hidup bermasyarakat dan dipengaruhi oleh orang-orang disekitarnya, ideologi yang dianut oleh pengarang secara otomatis sangat mempengaruhi gagasan yang diekspresikan dalam bentuk karya sastra. Disamping itu, ideologi, gagasan dan pandangan pengarang yang dituangkan dalam karya sastra merupakan respon dan/atau reaksi pengarang terhadap persoalan social masyarakat yang melingkupinya. Gramsci (1971:89) mengemukakan bahwa superstruktur, kebudayaan, gagasan (ideologi) lebih berfokus pada salah satu kekuatan material itu sendiri, bukan hanya sebagai ekspresi struktur kelas (infrastruktur) atau refleksi yang bersifat material semata. Dalam hal kedudukannya sebagai kekuatan yang bersifat material, dunia gagasan (ideologi) berfungsi sebagai penggerak manusia dalam sebuah organisasi sosial masyarakat di dunia ini untuk beraktivitas dan berinteraksi (Gramsci, 1971:93). Konsep hegemoni memiliki sistem kerja yang sangat halus, bukan dengan cara memaksakan tetapi melalui konsensus-konsensus. Hal ini dapat dikatakan pula bahwa konsep hegemoni bekerja atas dasar negosiasi atau tawar menawar dunia gagasan (ideologi). Konflik dalam sebuah karya sastra lebih merupakan proses negosiasi ideologi baru yang ditawarkan pengarang untuk melawan ideologi hegemonik yang mendominasi. Penawaran ideologi yang dinegosiasikan pengarang seringkali dilatarbelakangi oleh benturan ideologi dengan ideologi hegemonik yang memiliki kekuasaan. Dalam novel Of Mice and Men, masalah kapitalis muncul ketika perjuangan proletariat melawan borjuis. Mencapai kesetaraan melalui revolusi proletariat adalah tugas karakter utama sebagai representasi proletariat. John Steinbeck dalam karyanya Novel Of Mice and Men memilih topik tentang perjuangan para buruh di Amerika. Teori Marxis dan turunannya sangat tepat untuk menganalisis karya sastra ini untuk mencari tahu karakteristik sistem kapitalis dan perlawanan terhadap sistem kapitalis melalui kehidupan dan gerakan proletariat dan borjuis di Amerika. Berdasarkan latar belakang inilah, penulis mencoba mendeskripsikan ideologi yang dinegosiasikan oleh pengarang dalam novel Of Mice and Men yang akan dikaji menggunakan pendekatan sosiologi sastra melalui teori Antonio Gramsci. 2. Landasan Teori Hegemoni Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditentukan oleh penulis, maka penulis mengunakan teori hegemoni Antonio Gramsci dalam penelitian ini. Hegemoni dibangun atas premis yang menyatakan pentingnya ide dan tidak mencukupi kekuatan fisik belaka dalam kontrol sosial politik. Pentingnya ide dalam kontrol sosial politik itu artinya agar dikuasai mematuhi penguasa, yang dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, lebih dari itu mereka juga harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka (Femia, 1981:31-34). Ada empat hal yang patut dicatat dari teori Gramsci dalam kaitannya definisi tentang hegemoni. Pertama, Gramsci berpendapat bahwa selalu ada pluralitas ideologi dalam masyarakat. Kedua, konflik tidak hanya terjadi antarkelas saja, tetapi juga antarkelompok dengan kepentingan tertentu yang ingin mendapatkan kontrol atas ideologi dan politik terhadap masyarakat. Ketiga, Marx berpendapat bahwa kelas sosial harus menyadari keberadaan dirinya dan mempunyai semangat juang sebagai kelas (Marx, 1867:45). Sedangkan Gramsci menyatakan bahwa untuk menjadi kelompok dominan, kelompok harus mewakili kepentingan umum. Kelompok yang dominan harus berkoordinasi, memperluas, dan mengembangkan ketertarikannya dengan kepentingan-kepentingan umum kelompok subaltern. Dalam pemahaman teori hegemoni Gramsci, negosiasi sangat dibutuhkan untuk mencapai konsensus semua kelompok. Keempat, Gramsci berpandangan bahwa seni atau sastra berada dalam superstruktur. Seni merupakan salah satu cara pembentukan hegemoni dan budaya baru. Seni membawa ideologi atau superstruktur yang kohesi sosialnya dijamin kelompok dominan. Ideologi tersebut merupakan wujud hegemoni kelas penguasa yang dipertahankan melalui anggapan palsu bahwa kebiasaan dan kekuasaan penguasa merupakan kehendak Tuhan atau produk alam. Seni merupakan salah satu upaya persiapan budaya sebelum sebuah kelas melakukan tindakan politik. Hal ini berati bahwa seniman atau sastrawan merupakan intelektual. Untuk mengidentifikasi ideologi, tidak hanya melihat karya seni atau sastra, tetapi juga memperhatikan pandangan seniman dan institusi pengarang tentang kehidupan, serta kondisi sosial historis pada saat yang bersangkutan (Gramsci, 1971:56). Proses terjadinya hegemoni melalui tiga momen. Momen pertama adalah kesadaraan seorang individu akan tertarik pada hal yang ia miliki didalam satuan kelas. Momen kedua adalah terjadi hubungan antara individu satu dengan individu lain didalam kelas yang sama dan memiliki ketertarikan yang sama pula. Momen ketiga adalah kesadaran seorang individu dalam satuan kelas untuk mengembangkan ketertarikannya terhadap kelas lainnya yang lebih subordinat. Dalam momen ketiga ini kejadian politis sudah terbentuk antara semua individu yang terkait untuk menguasai secara halus dengan cara menyebarkan kepercayaan-kepercayaan kepada kelas-kelas yang subordinat. Dan merekapun menerima dengan kesadaran penuh. Hal inilah yang disebut hegemoni, dimana bukan hanya hubungan ekonomi antara masyarakat dan kelompok-kelompok tertentu, tetapi juga diiringai dengan hubungan tentang gagasan-gagasan atau kesadaran (Faruk, 2017:142-143). Ideologi Dalam menjelaskan hegemoni, Gramsci juga menekankan pentingnya ideologi sebagai pengikat kelompok sosial yang berbeda-beda dalam suatu wadah. Ideologi mempunyai peranan sebagai pondasi atau agen penyatuan sosial. Suatu kelas hegemonik adalah kelas yang berhasil menyatukan kepentingan-kepentingan dari suatu kelas, kelompok, gerakan-gerakan lain ke dalam kepentingan mereka sendir dengan tujuan membangun kehendak kolektif rakyat secara nasional (Gramsci, 1971:86-87). Inti dari penelitian ini merupakan formasi ideologi yang ada di dalam karya sastra (teks), maka akan dijelaskan terlebih dahulu tentang apa itu formasi. Formasi adalah suatu susunan dengan hubungan yang bersifat kontradiktif, korelatif, dan subordinatif. Formasi ideologi tidak hanya membahas ideologi apa saja yang terdapat dalam teks, tetapi juga membahas bagaimana hubungan antara ideologi. Kaum Intelektual Kata intelektual harus dipahami bukan sebagai sesuatu yang individual, tetapi sebagai suatu tatanan strata sosial yang menjalankan fungsi organisasional. Kaum intelektual harus berada di tengah masyarakat dan mempunyai tugas untuk mendorong massa untuk menciptakan sebuah perubahan, terutama perubahan sosial. Dalam pandangan Gramsci, perubahan sosial bukanlah semata-mata upaya yang berhubungan dengan kekuatan ekonomi, politik dan fisik saja, tetapi juga melibatkan hal-hal yang menyangkut masalah kebudayaan dan ideologi. Dalam konteks ini dapat dikatakan bahwa supremasi intelektual merupakan prakondisi tercapainya kekuasaan politik (Kolakowski, 1978:240). Gramsci membagi pengertian kaum intelektual menjadi dua yaitu intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional merupakan intelektual hegemonik, yang mana bertugas untuk menjamin pandangan dunia massa tetap konsisten dengan nilai-nilai kapitalis yang telah diterima oleh semua kelas masyarakat (Gramsci, 1971:87-88). Intelektual tradisional juga bisa dipahami sebagai intelektual yang belum meluas dan masih perlu digerakkan oleh produksi. Bagi Gramsci, intelektual organik atau bisa disebut juga intelektual counter hegemonic, adalah para intelektual yang tidak sekedar menjelaskan kehidupan sosial dari luar berdasarkan kaidah-kaidah saintifik, tapi juga memakai bahasa kebudayaan untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman yang riil yang tidak bisa diekspresikan oleh masyarakat sendiri (Kolakowski, 1978:242).

Method

Novel Of Mice and Men karya John Steinbeck merupakan objek material penelitian ini, sedangkan objek formal penelitian ini adalah hegemoni kekuasaan dan formasi ideologi antartokoh dalam novel tersebut sehingga penulis dapat mengetahui ideologi yang dinegosiasikan oleh pengarang. Perspektif kajian penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra, yaitu pendekatan yang menekankan pada hubungan karya sastra dengan nilai-nilai sosial yang berlaku antara pengarang dan pembaca (Damono, 2003:36). Penelitian ini tergolong penelitian kepustakaan karena tidak melakukan penelitian secara langsung kepada pengarang dan pembaca. Penelitian ini berfokus pada karya sastra novel Of Mice and Men. Dalam mengungkap ideologi yang dinegosiasikan oleh pengarang, penulis perlu menelaah hegemoni kekuasaan maupun formasi ideologi antartokoh dalam novel tersebut. Langkah kerja pada penelitian ini adalah dengan melakukan metode pengumpulan data melalui studi pustaka, mengumpulkan data primer dan sekunder yang erat hubungannya dengan hegemoni kekuasaan dan formasi ideologi antartokoh dalam karya sastra, sehingga dapat terbentuk ideologi yang dinegosiasikan oleh pengarang. Melalui objek material yaitu novel Of Mice and Men karya John Steinbeck, penulis dapat memperoleh data sekunder. Sedangkan sumber-sumber lain yang memaparkan terkait objek material menjadi data sekunder penulis. Setelah data-data dikumpulkan, penulis menganalisis data dengan cermat menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Pendekatan sosiologi sastra ialah pendekatan yang menekankan pada karya sastra yang memiliki hubungan erat dengan masyarakat (Damono, 2003:45). Hal ini dikarenakan karya sastra juga ditulis oleh pengarang yang merupakan anggota masyarakat, maka apa yang ditulis pun tidak sekadar mengangkat persoalan masyarakat. Hal ini dipandang sebagai solusi ideal bagi pengarang untuk menegosiasikan sudut pandang pribadinya bahkan pandangan kritisnya terhadap persoalan dan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Perspektif hegemoni Antonio Gramsci digunakan untuk mengkaji aspek hegemoni kekuasaan dan formasi ideologi antartokoh dalam novel Of Mice and Men. Pada perspektif ini, karya sastra dipandang sebagai alat untuk mendeklarasikan ideologi yang diperjuangkan, diidealkan, dan diyakini oleh pengarang. Melalui perspektif hegemoni ini, penulis dapat mengungkapkan ideologi yang dinegosiasikan John Steinbeck untuk melawan ideologi hegemonik yang mendominasi.

Result & Discussion

Karakteristik Periode Modern Sebagai akibat timbulnya perang dunia, Periode Modern dianggap merupakan periode kesengaraan dan kehancuran. Perang dunia telah menyebabkan dua per tiga penduduk dunia kekurangan pangan dan kehilangan pekerjaan. Hal ini sangat kontras dengan pesatnya kemajuan yang dicapai dalam bidang ilmu dan teknologi. Beberapa hal penting yang terjadi pada periode ini adalah bahwa Inggris telah kehilangan kekuasaanya yang dominan seperti yang dimilikinya pada periode sebelumya. Inggris berada di posisi ke-3 setelah Rusia dan Amerika. Masalah berikutnya adalah Inggris harus menghadapi dua perang yang dahsyat yang menyebabkannya banyak kehilangan dana dan daya, pemuda serta kemegahannya. Pada abad ini, perubahan tatanan kewarganegaraan mulai terjadi dengan begitu cepat. Sebutan British Empire telah berubah menjadi British Commonwealth. Perubahan ini tidak hanya pada perbedaan nama. Lebih dari itu, pada tahun 1921, Irlandia, kecuali Ulser, mendeklarasikan kemerdekaanya sebagai negara Republik Irlandia. Prose mendapatkan tempat terhormat pada abad ke-19, hal ini sejalan dengan perkembangan sastra yang mulai dirasakan. Beberapa penulis mulai belajar teknik penulisan dan bahan cerita. Pada periode ini, terdapat tiga macam teknik yaitu, teknik otobiografi (autobiography technique), teknik mata tuhan (old eyes) dan teknik surat (epistolary technique). Perubahan dunia yang terjadi pada periode ini juga mempengaruhi hadirnya The Great Depression di Amerika. Fenomena ini terjadi pada bulan Oktober 1929 sebagai bagian dari dampak Perang Dunia I. The Great Depression memiliki pengaruh besar bagi orang Amerika karena tidak hanya mengubah kondisi ekonomi tetapi juga pola pikir orang Amerika dalam budaya, masyarakat, dan politik. Kelas sosial menjadi standar bagi masyarakat untuk membagi orang berdasarkan modal dan kekuasaan mereka. Perang Dunia I menjadi pemicu kemunculannya kelas sosial di Amerika. Begitu pula dengan berkembangnya sastra modern di Amerika. Pada era ini, sebagian besar penulis Amerika terbuka tentang berbagi ide mereka mengenai kondisi sosial di Amerika. Banyak novel dalam sastra modern Amerika merupakan hasil reaksi penulis terhadap masalah kelas sosial pada era itu. Tema-tema baru serta gaya penarasian yang kompleks dan penceritaan yang tidak sederhana menjadi warna berbeda dalam kesusastraan pada periode ini. Hal ini berbeda dengan novel-novel di era sebelumnya yang berfokus pada novel klasik awal Amerika seperti novel The Scarlet Letter karya Nathaniel Hawthorne. Tematema baru tersebut dapat terlihat pada beberapa penulis pada era The Great Depression seperti penulis F. Scott Fitzgerald dalam novel dan cerita pendeknya yang menceritakan tentang suasana di tahun 1920an dan John Dos Passos yang menulis tentang perang. Hegemoni Kekuasaan Konsep hegemoni dapat diartikan sebagai penguasaan terhadap sesuatu melalui kepemimpinan moral dan intelektual. Kekuatan hanyalah alat untuk menjaga stabilitas kekuasaan terhadap kultur penguasa, ideologi, dan moral (Gramsci, 1971:76). Atas dasar tersebut, hegemoni kekuasaan pada novel Of Mice and Men karya John Steinbeck, dinyatakan dalam beberapa kutipan sebagai berikut: Hegemoni yang terjadi pada para buruh di peternakan Hegemoni yang terjadi dalam novel Of Mice and Men tersirat pada tokoh Curley (sang pemilik tanah peternakan) yang menghegemoni para buruh di peternakan. Masyarakat di peternakan sebagian besar bekerja sebagai buruh pekerja musiman. Hegemoni terjadi pada proses yang ditanamkan Curley dan ayahnya agar para buruh tidak merasa terpaksa dan melakukan dengan senang hati atas hal-hal yang diperintahkan oleh tuan/pemilik tanah. Hegemoni terjadi pada hubungan penguasa (tuan/pemilik tanah) dan para buruh dalam novel ini. Hal ini dapat terlihat pada dominasi yang dilakukan oleh tuan/pemilik tanah sebagai kelas borjuis yang berkuasa. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut: “The bunkhouse was a long, rectangular building. Inside, the walls were whitewashed and the floor unpainted. In three walls there were small, square windows, and in the fourth, a solid door with a wooden latch. Against the walls were eight bunks, five of them made up with blankets and the other three showing their burlap ticking. Over each bunk there was nailed an apple box with the opening forward so that it made two shelves for the personal belongings of the occupant of the bunk. And these shelves were loaded with little articles, soap and talcum powder, razors and those Western magazines ranch men love to read and scoff at and secretly believe. And there were medicines on the shelves, and little vials, combs; and from nails on the box sides, a few neckties. Near one wall there was a black cast-iron stove, its stovepipe going straight up through the ceiling. In the middle of the room stood a big square table littered with playing cards, and around it were grouped boxes for the players to sit on...” (Steinbeck, 1965:28). “Bring a gallon of whisky right in here and says, 'Drink hearty, boys. Christmas comes but once a year...” (Steinbeck, 1965:32). Pada 2 (dua) kutipan percakapan di atas, terlihat gambaran bentuk hegemoni penguasa dengan menyediakan fasilitas bagi para buruh untuk tinggal di sebuah rumah barak. Mereka disediakan fasilitas yang cukup memadai agar bekerja siang dan malam untuk pemilik tanah. Rumah barak dan fasilitasnya digunakan sebagai ‘alat’ untuk mengikat para buruh agar tetap tinggal di peternakan dan mempermudah pemilik tanah untuk menggunakan jasa para buruh sewaktu-waktu. Selain itu, Curley juga secara khusus menyediakan segalon wiski untuk para buruh sebagai bentuk perayaan Natal di Peternakan. Dalam kutipan selanjutnya, pemilik tanah menghegemoni para buruh di peternakan dengan dominasi sebagai berikut: "Well, I had to send out the grain teams short two buckers. Won't do any good to go out now till after dinner." (Steinbeck, 1965:56). "All right. But don't try to put nothing over, 'cause you can't get away with nothing. I seen wise guys before. Go on out with the grain teams after dinner. They're pickin' up barley at the threshing machine. Go out with Slim's team." (Steinbeck, 1965:81). Beberapa kutipan di atas merupakan sebuah titik mula dominasi bekerja. Dominasi yang terjadi dengan sangat halus merupakan awal dari terbentuknya hegemoni. Para buruh melaksanakan perintah tuan/pemilik tanah tanpa mendapatkan perlawanan. Dalam novel ini, dideskripsikan bahwa tokoh George dan Lennie berkeinginan untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin agar segera dapat membeli tanah. Mereka bermimpi memiliki tanah pertanian milik mereka pribadi. Terdapat harapan dari kaum proletar yang dimunculkan dalam novel ini. Penguasa (tuan/pemilik tanah) sekaligus sebagai pemilik modal yang direpresentasikan pada tokoh Curley mendominasi para buruh dengan hal-hal yang dilakukan tanpa adanya protes dari buruh di peternakan. Hal ini merupakan bentuk persetujuan atas dominasi penguasa yang membentuk dirinya hegemoni kekuasaan di peternakan. "The hell he did! Whole gallon?" "Yes sir. Jesus, we had fun. They let the nigger come in that night.” (Steinbeck, 1965:74). "He can do anything you tell him," said George. "He's a good skinner. He can rassel grain bags, drive a cultivator. He can do anything....” (Steinbeck, 1965:92). Dalam 2 (dua) kutipan di atas, terlihat bahwa penguasa telah menanamkan gagasan/ideologi melalui dominasi terhadap para buruh. Hal ini terungkap pada bentuk hegemoni yang menampilkan para buruh peternakan sangat antusias ‘menikmati’ perintah tersebut dengan mengajak mereka bermabuk dan bersenang-senang. Beberapa kutipan di atas merupakan asal mula hegemoni terbentuk dari penguasa. Selain itu, pada kutipan di atas juga digambarkan wujud kepasrahan dan penerimaan dengan sukarela yang merupakan bentuk awal terjadinya hegemoni. Kepasrahan dan penerimaan dengan sukarela menandakan ketidakmampuan dan ketidakberdayaan para buruh dalam menjalankan dan melaksanakan sesuatu hal, sehingga para buruh terdominasi dan terbentuklah hegemoni kekuasaan oleh Curley sang tuan/pemilik tanah. Hegemoni yang terjadi pada tokoh Lennie Hegemoni yang terjadi pada tokoh Lennie, yaitu, dominasi tokoh George yang merupakan sahabat dari tokoh Lennie. Hegemoni terjadi pada beberapa situasi dan kondisi yang menyebabkan dirinya terdominasi atas kejadian-kejadian di peternakan yang mengharuskan dirinya patuh pada perintahperintah George, karena diakibatkan oleh karakter tokoh Lennie yang idiot. Hal ini terlihat pada kutipan cakapan di bawah ini; “George gestured with his spoon. "What you gonna say tomorrow when the boss asks you questions?" Lennie stopped chewing and swallowed. His face was concentrated. "I... I ain't gonna... say a word." "Good boy! That's fine, Lennie!” (Steinbeck, 1965:25). Kutipan cakapan menunjukan wujud hegemoni yang mewajibkan tokoh membuat kesepakatan. Hal ini adalah konsesus-konsesus yang menjelaskan bentuk ketidakberdayaan dan ketidakmampuan pada kondisi yang ada. George memiliki perawakan dengan tubuh kecil dan ramping namun ia sangat cekatan. Ia memiliki kulit berwarna kehitam-hitaman, dengan raut muka tegas dan pemberani. Ia sosok yang kuat dan penuh percaya diri. Hal ini berbanding terbalik dengan sahabatnya, Lennie. Karakter tokoh Lennie adalah sosok yang serba bertentangan dengan George dalam segala hal. Lennie memiliki tubuh yang besar dan memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Apapun yang ia sentuh dan genggam dapat hancur hanya dalam hitungan detik. Ia bermata besar namun pucat, bahunya lebar tetapi menurun, langkahnya sangat gontai, lambat dan selalu melangkah dengan berat, kakinya selalu diseret jika berjalan dan karakternya mengarah pada sifat idiot atau keterbelakangan mental. Celakanya Lennie tidak memiliki akal dan kemampuan berpikir menggunakan logika. Ia tidak memiliki otonomi atas dirinya sendiri. Ia bertindak atas perintah orang lain, dalam hal ini George. Relasi yang terbentuk adalah relasi saling melengkapi, bersifat tidak setara dan hirarkis. George selalu menjadi penentu atas tindakan-tindakan Lennie. Lennie selalu menjadi pelaksana atas perintah-perintah George. Dalam hal lain, George selalu memimpin seluruh aksi-aksi yang mereka lakukan, sedangkan Lennie selalu patuh dan mengikuti seluruh arahan George. Dalam lingkup yang lebih sederhana lagi, wujud hegemoni terungkap pada dominasi George atas Lennie. Konsep kelas berkuasa direpresentasikan oleh George, yang dalam kasus ini dianggap sebagai kaum penguasa atas Lennie. Pada beberapa situasi, George diuntungkan atas kondisi yang menerpa Lennie. Lennie memandang George sebagai sahabat penyelamat dan pelindung dirinya yang ia sayangi. Lennie dengan sukarela melaksanakan apa saja yang dikatakan oleh George. Lennie bahkan menangis tersedu-sedu layaknya bocah menghadapi kemungkinan kehilangan George seperti yang pernah dikatakan tokoh Crooks kepadanya. Hal ini terlihat pada kutipan sebagai berikut. “No..It won’t happen. George won’t leave me. He would be with me together to get our own land” (Steinbeck, 1965:89). Formasi Ideologi Antartokoh dalam Novel Of Mice and Men Ideologi/gagasan lebih dari sekadar sistem ide semata. Ideologi terjelma dalam cara hidup bermasyarakat, bukan hanya pada fantasi/pandangan hidup perorangan. Eksistensi material dari sebuah ideologi terwujud dalam berbagai aktivitas praktis. Ideologi mengatur perilaku moral manusia dan tindakan praktis, salah satunya yaitu pemahaman antara konsepsi dunia dengan norma dan tingkah laku (Gramsci, 1971:78). Pada novel Of Mice and Men karya John Steinbeck, bentuk-bentuk ideologi dapat terlihat pada beberapa tokoh yang mendominasi dalam alur dan struktur cerita. Ideologi terwujud melalui karakter tokoh dan tingkahlaku. Terdapat beberapa tokoh yang menawarkan ideologi yang diyakininya. Beberapa formasi ideologi antartokoh terungkap berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap novel Of Mice and Men. Bentuk-bentuk ideologi dapat terlihat pada tokoh utama, antara lain pada tokoh Lennie, George dan Curley. Dominasi ideologi humanisme pada tokoh Lennie Dominasi ideologi humanisme pada tokoh Lennie tercermin pada kutipan sebagai berikut; "An' rabbits," Lennie said eagerly. "An' I'd take care of 'em. Tell how I'd do that, George." (Steinbeck, 1965:83). “Lennie smiled helplessly in an attempt to make friends. Crooks said sharply, "You got no right to come in my room. This here's my room. Nobody got any right in here but me." Lennie gulped and his smile grew more fawning. "I ain't doing nothing," he said. "Just come to look at my puppy. And I seen your light," he explained.” (Steinbeck, 1965:92). Kutipan 2 (dua) percakapan di atas, menjelaskan ideologi humanisme yang dianut oleh tokoh Lennie. Lennie sangat menyayangi binatang dan tidak ingin berjauhan dengannya. Dalam kutipan di atas, Lennie menyatakan bahwa jika ia memiliki tanah sendiri, dan akan membangun rumah disana, ia akan menjaga kelinci dan memberinya makan setiap waktu. Dalam kutipan kedua, Lennie juga menunjukkan ideologi humanismenya melalui adegan percakapannya dengan Crooks Si Negro. Dia sangat ramah dan peduli dengan Crooks dibandingkan dengan para pekerja lainnya. Saat para pekerja lainnya pergi ke kota, Lennie menemani Crooks di kamarnya dengan mendengarkan cerita-cerita Crooks tentang dirinya yang dikucilkan oleh para pekerja lainnya. Lennie merasa Crooks adalah kawannya yang malang. Ia selalu sendiri karena merasa dirinya berkulit hitam dan berbeda dengan lainnya. Dominasi ideologi humanisme sosialis pada tokoh George Dominasi ideologi humanisme sosialis pada tokoh George tercermin pada kutipan sebagai berikut; “The boss turned on George. "Then why don't you let him answer? What you trying to put over?" George broke in loudly, "Oh! I ain't saying he's bright. He ain't. But I say he's a God damn good worker. He can put up a four hundred pound bale." (Steinbeck, 1965:35). "I said what stake you got in this guy? You takin' his pay away from him?" "No, 'course I ain't. Why ya think I'm sellin' him out?" "Well, I never seen one guy take so much trouble for another guy. I just like to know what your interest is." (Steinbeck, 1965:49). Kutipan di atas menunjukan seorang George yang sangat peduli dan perhatian terhadap kondisi Lennie. Lennie yang berkebutuhan khusus sangat sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Curley, Si Pemilik Tanah. George langsung cekatan untuk menjawab pertanyaan yang ditujukan ke Lennie. George tak ingin sahabatnya berada dalam masalah. George meminta Lennie untuk membiarkan ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tertuju padanya. Bahkan dalam suatu peristiwa, George rela berpura-pura mengakui bahwa Lennie adalah sepupunya hanya untuk membela Lennie yang melakukan kesalahan. Dalam kutipan kedua, George ditanya oleh Curley Si Pemilik Tanah mengapa ia selalu berdua dengan Lennie. Curley bahkan bertanya-tanya mengapa ada orang yang mau membantu temannya sampai rela memberikan semuanya. Bagi Curley, kehidupan di peternakan, orang-orang lebih memilih untuk individualis tanpa memperhatikan temannya yang lain. Namun hal ini berbeda pada hubungan antara George dan Lennie, George sangat peduli dan khawatir jika Lennie berada dalam suatu masalah. Peristiwa tersebut merupakan salah satu contoh dari representasi ideologi humanis sosialis yang diwujudkan dalam tokoh George. Dominasi ideologi kapitalis pada tokoh Curley Dominasi ideologi kapitalis pada tokoh Curley tercermin pada kutipan sebagai berikut; “You need to work harder to get more money. Every workers must struggle for their own” (Steinbeck, 1965:29). "If we could keep Curley in, we might. But Curley's gonna want to shoot 'im. Curley's still mad about his hand. An' s'pose they lock him up an' strap him down and put him in a cage. That ain't no good, George." (Steinbeck, 1965:130). Curley's face reddened. "I'm goin'," he said. "I'm gonna shoot the guts outa that big bastard myself, even if I only got one hand. I'm gonna get 'im." (Steinbeck, 1965:140). Dari kutipan percakapan diatas, menunjukkan bahwa ideologi kapitalisme adalah ideologi yang dianut oleh tokoh Curley. Pada kutipan tersebut merepresentasikan tingkah laku penguasa yang dominan dalam sebuah peternakan. Curley Sang Pemilik Tanah merasa bahwa segala keputusannya harus diikuti oleh para pekerja lainnya. Curley juga memaksa para pekerjanya untuk kerja siang dan malam untuk mendapatkan uang. Menurutnya, siapapun yang bekerja lebih keras, ialah yang akan mendapatkan keuntungan dan upah lebih banyak pula. Pada kutipan kedua, ia juga memaksakan kehendaknya untuk membunuh Lennie. Ia merasa Lennie-lah yang menjadi penyebab terbunuhnya istrinya. Selain itu, sesuai dengan konsep kapitalisme, Lennie harus dibuang karena dinilai sebagai ‘mesin yang merugikan’. Pada bagian terakhir novel ini, Lennie duduk di pinggir danau dan memandangi angsa-angsa yang sedang bercengkerama, ia mengalami delusi atas berbagai hal yang telah ia lalui. Ia berhalusinasi dengan meracau tentang mimpi-mimpinya hidup di sebuah desa yang indah dan menikmati tanah pribadi idamannya. Nasib tragis menjadi pilihan sulit pada akhir cerita ini, George yang merupakan sahabat Lennie diminta oleh Curley untuk menembak paksa kepala Lennie. Dengan tega George menepuk dan mengelus pundak sahabatnya dari belakang, kemudian tersenyum manis sembari bercerita tentang impian-impiannya. Dalam pikiran George berkecamuk antara mempertahankan Lennie atau mematuhi peritah Curley. Di sisi lain ia setuju bahwa Curley akan membebaskan dirinya dari Lennie atas permasalahan yang selalu membuntutinya ketika bersama Lennie. Hal ini menunjukkan bahwa ideologi kapitalisme sangat berperan bahwa siapa yang lemah harus dimusnahkan sehingga tidak mengganggu pekerjaan dan selalu mengutamakan keuntungan belaka. Pada akhir cerita, George akhirnya terhegemoni atas perintah Curley dengan menembakkan pistol tepat di bagian tengkuk kepala Lennie. Ideologi yang Dinegosiasikan Pengarang John Steinbeck merupakan seorang sastrawan Amerika yang peka dalam merespon peristiwaperistiwa yang terjadi di sekitarnya. Hal ini terbukti dari bagaimana ia merespon terjadinya resesi sebagai akibat dari The Great Depression. Steinbeck adalah salah seorang warga Amerika Serikat yang menjadi saksi hidup atas terjadinya The Great Depression. Sebagai seorang muda yang memiliki kepekaan tinggi terhadap segala fenomena, Steinbeck terpanggil untuk menyikapi segala kegetiran yang dialaminya sebagai imbas dari kemerosotan perekonomian tersebut. Hal ini sesuai dengan kutipan sebagai berikut; “Of Mice and Men is a short novel which Steinbeck tried to make like a play, and of which he produced also a version for the state the same year. There was something theatrical as well as pitiful in the moron Lennie who is dependent on his friend George, but there was also an aching timeliness in the plans they make to have somewhere a small farm of their own and be secure.” (Doren, 2006:194). Dengan menggunakan keahlian estetisnya, Steinbeck secara profesional menggunakan kesadaran individualnya menjadikan peristiwa tersebut sebagai inspirasi untuk merefleksikan kondisi Amerika melalui novel Of Mice and Men. Steinbeck menggali dan menuangkan segala ide kreatifnya untuk mewujudkan keterpanggilannya sebagai seorang warga negara menjadi pemerhati keterpurukan ekonomi di Amerika. Keberadaan Steinbeck sebagai seorang pengarang, sebagaimana yang telah disinggung di atas, adalah keterlibatan personalnya dengan segala fenomena. Pengamatan-pengamatan tersebut kemudian memantik insting kreatifnya untuk menulis novel Of Mice and Men yang secara mendalam mengulas tentang hubungan dan interaksi para buruh yang nomaden dengan tuan/pemilik tanahnya. Steinbeck secara gamblang mengungkap sisi buruk kehidupan para buruh dalam bersosialisasi dan berinteraksi di peternakan sebagai upaya mempertahankan eksistensi kehidupan masing-masing (Parini, 1995:19). Dalam relasi interaksi antar individu, tekanan-tekanan mental terjadi tidak hanya dialami oleh para buruh, namun juga oleh sang tuan tanah. Secara psikologis mereka mengalami keterpaksaan untuk melakukan tindakan-tindakan yang secara logika sebenarnya dipahami sebagai sesuatu yang melebihi kapasitas dan kemampuan pribadi seorang manusia. Namun, walaupun manusia selalu berusaha melakukan usaha untuk menghindari hal-hal yang membahayakan dirinya, baik dalam internal maupun eksternal dirinya, ada satu kekuatan kodrati yang tidak dapat ditolaknya, yaitu takdir. Akibat dari hal ini adalah munculnya perlawanan-perlawanan dalam internal diri mereka, sehingga akhirnya mengutamakan hasrat dan ambisi demi kepuasan batin dan lahirnya, meskipun akan ada kekecewaan dan penyesalan setelah mereka melakukannya (Parini, 1995:29). Sesuai dengan Periodenya, pengarang John Steinbeck mencoba menegosiasikan perlawanan ideologinya terhadap sistem kapitalis pada masa itu. Kapitalisme adalah sistem yang mencakup tentang industri, perdagangan dan alat-alat produksi yang dikendalikan oleh penguasa atau pemilik modal dan kekuasaan dengan tujuan menciptakan keuntungan secara optimal dalam ekonomi pasar. (Faruk, 2017:13). Penguasa yang memiliki modal dapat melakukan apapun untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Ideologi kapitalis direpresentasikan oleh pengarang dalam interaksi yang terwujud pada kesadaran palsu atau false consciousness. Kesadaran ini ditekankan agar para pekerja buruh merasa senang dan tidak terpaksa dalam menjalankan pekerjaan dan perintah yang diminta oleh penguasa. Dalam novel Of Mice and Men, false consciousness bekerja dalam relasi antara George dan Lennie. George dan Lennie digambarkan bertolak belakang, dan karenanya, saling melengkapi. Mereka cocok untuk diajak bekerja dan dihitung hanya sebagai satu manusia, berdua, namun dibayar satu. Steinbeck menggambarkan tokoh-tokohnya secara gambling melalui narasi-narasi paradoksnya. Hal ini dapat terlihat pada kutipan sebagai berikut; “You guys travel around together?” His tone was friendly. It invited confidence without demanding it. “Sure,” said George. “We kinda look after each other.” He indicated Lennie with his thumb. “He ain’t bright. Hell of a good worker, though. Hell of a nice fella, but he ain’t bright. I’ve knew him for a long time.” (Steinbeck, 1937:36). Dalam lingkup yang lebih kecil lagi, gejala sistem kapitalisme bekerja dalam hubungan antara George dan Lennie. Konsep false consciousness ditanamkan oleh George, yang dalam hal ini sebagai kapitalis, sehingga George mendapatkan keuntungan yang optimal dari Lennie. False consciousness yang bekerja dapat dilihat dari bagaimana Lennie memandang George sebagai pelindung yang ia sayangi sehingga ia rela melakukan apa saja yang diperintahkan George. Namun, dalam proses pengambilan keuntungan tersebut, George justru merasa semakin banyak dirugikan. Atas dasar tersebut, Lennie harus segera disingkirkan karena dianggap mesin yang tidak menguntungkan sama sekali. Menariknya, Steinbeck juga tidak hanya menegosiasikan ideologi humanisme dan sosialisme semata. Secara ironis, pengarang mencoba menarasikan peran sistem kapitalis yang sangat kejam dan tidak masuk akal. Hal ini terlihat dari interaksi yang digambarkan pengarang pada adegan ketika Carlson ingin membunuh anjing Candy dengan cara menembak menggunakan pistol di belakang kepala anjing. Menurut Carlson, di posisi itulah anjing tidak akan tahu jika ia akan dibunuh. Anjing tersebut sudah sangat tua, memiliki aroma tidak sedap yang sangat menyengat, tak memiliki gigi dan sakit-sakitan. Carlson menambahkan bahwa anjing tersebut sudah tidak berguna bagi Candy. Hal ini dikomparasikan oleh pengarang secara kontras dengan adegan ketika George akhirnya membunuh Lennie atas perintah Curley. Hal ini tampak pada narasi pengarang sebagai berikut; “The voices came close now. George raised the gun and listened to the voices. Lennie begged, “Le’s do it now. Le’s get that place now.” “Sure, right now. I gotta. We gotta.” And George raised the gun and steadied it, and he brought the muzzle of it close to the back of Lennie’s head. The hand shook violently, but his face set and his hand steadied. He pulled the trigger. The crash of the shot rolled up the hills and rolled down again. Lennie jarred, and then settled slowly forward to the sand, and he lay without quivering. George shivered and looked at the gun, and then he threw it from him, back up on the bank, near the pile of old ashes.” (Steinbeck, 1937:52). George tidak ingin terlibat pada kasus pembunuhan tidak sengaja yang dilakukan oleh Lennie atas istri Curley. Pada akhir cerita, George yang merupakan sahabat Lennie akhirnya menembak dengan pistol Luger milik Carlson tepat di tengkuk belakang kepala Lennie, tempat tulang belakang dan tengkorak menyatu. Walaupun George sebenarnya sempat beberapa kali ragu dengan menjatuhkan pistol tersebut ke tanah, akhirnya George memantapkan diri untuk menaikkan kembali pistol Luger tersebut dengan tangan bergeming dan gemetar luar biasa. Setelah Lennie tersungkur, George menggigil dan menatap pistol kemudian melemparkannya. Ia telah membunuh Lennie sahabatnya. Ia duduk tersungkur kaku di tepi sungai menyadari perbuatan yang telah dilakukannya, dengan nanar ia menatap tangan kanannya yang mencampakkan pistol.

Conclusion

Periode Modern dianggap merupakan periode kesengaraan dan kehancuran. Perang dunia telah menyebabkan dua per tiga penduduk dunia kekurangan pangan dan kehilangan pekerjaan. Hal ini sangat kontras dengan pesatnya kemajuan yang dicapai dalam bidang ilmu dan teknologi. Perubahan yang terjadi pada saat itu juga mempengaruhi hadirnya The Great Depression di Amerika. Fenomena ini terjadi mulai bulan Oktober 1929 sebagai bagian dari dampak Perang Dunia I. Great Depression memiliki pengaruh besar bagi orang Amerika karena tidak hanya mengubah kondisi ekonomi tetapi juga pola pikir orang Amerika dalam budaya, masyarakat, dan politik. Kelas sosial menjadi standar bagi masyarakat untuk membagi orang berdasarkan modal dan kekuasaan mereka. Perang Dunia I menjadi pemicu kemunculannya kelas sosial di Amerika. Hal ini juga memperlihatkan kesenjangan masyarakat antara kelas proletar (buruh) dan kelas borjuis (pemilik modal) dan dengan sangat jelas. Keadaan sosial masyarakat yang seperti ini menggugah salah satu penulis besar Amerika saat itu, John Steinbeck, dengan menerbitkan salah satu karyanya, Of Mice and Men pada tahun 1937. Novelnya merefleksikan ideologi yang berkembang di masyarakat pada saat itu. Melalui karakter-karakter tokoh yang ia ciptakan, relasi dan interaksi antar tokoh, hegemoni yang dinarasikan dalam novel, dan formasi ideologi yang tercipta antar tokoh merupakan wujud dari terbentuknya ideologi yang dinegosiasikan oleh pengarang. John Steinbeck mengritik ideologi pada saat itu yang condong ke arah kapitalis. Hal ini dikarenakan, masyarakat sudah tidak lagi peduli kepada sesamanya, mereka hanya peduli terhadap kepentingan dan kehidupan mereka sendiri, terutama dalam mengumpulkan materi.