Pengetahuan Lokal Jawa Pada Koleksi Museum Mangkunegaran
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Diponegoro
Abstrak
Mangkuneragan merupakan salah satu kerajaan pewaris kerajaan yang pernah berjaya di tanah Jawa, yakni Mataram Islam. Dengan demikian dapat dipahami bahwa Mangkunegaran memiliki beragam produk budaya yang mencerminkan pengetahuan dari pembuatnya. Pengetahun ini didapat dari warisan masyarakat dari kerajaan sebelumnya selama ratusan tahun. Saat ini bukti warisan pengetahuan tersebut tersimpan di Museum Mangkunegaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan lokal masyarakat Mangkunegaran berdasarkan koleksi museum. Peneliti melakukan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi museum untuk memetakan jenis pengetahuan lokal tersebut berdasarkan ragam koleksi museum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka memiliki pengetahuan dalam mengubah logam menjadi perhiasan, pernak pernik, peralatan rumah tangga, dan senjata. Pengetahuan lain yang mereka miliki adalah pengolahan kayu (menjadi rumah dan mebeler) dan pengolahan bambu menjadi kerajinan tangan. Merekapun ahli dalam membuat gula pasir dan pengawetan hewan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan lokal masyarakat Mangkunegaran yang tersirat dalam koleksi Museum Mangkunegaran berupa pengolahan logam, kayu, dan bambu. Mereka memiliki pengetahuan dalam membuat gula tebu dan pengawetan hewan. Penelitian ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi penelitian dengan tema sejenis yakni pengetahuan lokal yang ada di balik koleksi museum atau cara berbagi pengetahuan yang dilakukan oleh para ahli sehingga kepiawaian mereka dalam membuat sesuai tetap lestari hingga saat ini.
Abstract
Mangkuneragan is one of the heirs to the kingdom that once triumphed in Java, Mataram Islam. Thus it can be understood that Mangkunegaran has a variety of cultural products that reflect the knowledge of the maker. This knowledge is obtained from the heritage of the previous kingdom for hundreds of years. The evidence of it is stored in the Mangkunegaran Museum. This study aims to determine the indigenous knowledge of the Mangkunegaran community based on museum collections. Researchers conducted qualitative research with a museum study approach to map the types of local knowledge based on various museum collections. The results showed that they had knowledge in turning metal into jewelry, knickknacks, household utensils, and weapons. Other knowledge they have is wood processing (to make houses and furniture) and bamboo processing into handicrafts. They are also experts in sugarcane making and animal preservation. This study concludes that the local knowledge of the Mangkunegaran community which is implied in the Mangkunegaran Museum collection is in the form of processing metal, wood, and bamboo. They also have knowledge in cane sugar making and animal preservation. This research can be a source of inspiration for research with similar themes, namely local knowledge behind museum collections or ways of sharing knowledge carried out by experts so that their expertise in making appropriate remains sustainable to this day.
Keywords:
indigenous knowledge
· mangkunegaran kingdom
· museum collection
Introduction
Kadipaten Mangkunegaran adalah salah satu kerajaan Jawa yang masih eksis hingga saat ini. Kerajaan ini merupakan salah satu dari pecahan Kerajaan Mataram Islam. Sejarah panjang kerajaan tersebut menjadikan Mangkunegaran secara otomatis memiliki warisan kekayaan budaya yang beragam. Keluarga raja, abdi dalem, dan masyarakat memiliki kemampuan dalam membuat berbagai produk budaya Mangkunegaran. Warisan budaya peninggalan leluhur yang menjadi cerminan keahlian mereka tersimpan di Museum Mangkunegaran. Setiap koleksi merupakan bukti pengetahuan dari pembuatnya yang merupakan masyarakat lokal. Philip (2015) pengetahuan lokal lazim dimaknai sebagai pengetahuan pribumi dan bagian dari etnosains karena memiliki keunikan khusus, yakni pengetahuan yang merepresentasikan budaya tertentu. Koleksi tersebut juga akan menjadi pengetahuan bagi pengunjung. Latham (2015) menjelaskan bahwa museum memiliki peran sebagai pusat pengelolaan pengetahuan yang memiliki aktivitas menciptakan, mengumpulkan, mengolah, dan membagikan pengetahuan kepada pengunjungnya. Pada posisi ini koleksi yang ada di museum diberlakukan sebagai benda penyimpan pengetahuan. Tugas pegawai museum adalah menjelaskan pengetahuan yang ada di balik koleksi. Penelitian sebelumnya tentang kaitan museum dan pengetahuan lokal yang telah kami lakukan adalah penelitian di Museum Setu Babakan. Museum tersebut berfungsi sebagai penyimpan bukti pengetahuan lokal dari masyarakat Betawi (Sukaesih, et al., 2022). Berdasarkan temuan pada penelitian tesebut kami berargumentasi bahwa museum lain juga menyimpan produk budaya. Kami memilih Museum Mangkunegaran sebagai lokasi penelitian selanjutnya karena Mangkunegaran adalah salah satu kerajaan penerus Kerajaan Mataram Islam. Dengan demikian akan diperoleh kekayaan produk budaya. Contoh koleksi di Museum Mangkunegaran yang mereprentasikan pengetahuan lokal adalah benda-benda dari berbagai logam seperti perhiasan dan peralatan rumah tangga. Supriyanto (2014) menjelaskan bahwa pada masa Jawa Kuno perhiasan tidak hanya berperan sebagai benda penghias badan agar terlihat indah. Perhiasan juga digunakan sebagai atribut pelengkap upacara keagamaan, hadiah kepada pejabat tinggi, dan pembeda status sosial dari pemakainya. Jejak keahlian pengolahan logam dari masyarakat yang ada di Jawa Tengah dapat diketahui dari penelitian Darmojo (2018) yang menjelaskan bahwa di Kabupaten Boyolali masih ada pengrajin logam yang mampu bertahan selama ratusan tahun. Mereka mendiami desa Tumang. Mereka piawai dalam membuat peralatan rumah tangga, ornamen, hiasan pelengkap tugu, gapura, bahkan monumen. Hasil kreativitas mereka juga merambah pasar internasional. Berdasarkan hal tersebut kami berargumen bahwa koleksi lain juga mencerminkan pengetahuan lokal masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan pengetahuan lokal yang ada di balik koleksi Museum Mangkunegaran yang berada di Jawa Tengah. Dengan demikian akan didapat ragam pengetahuan lokal suku jawa yang menjadi cerminan masyarakat Mangkunegaran.
Method
Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi museum. Menurut Leavy (2014) penelitian kualitatif digunakan bila peneliti ingin mengeksplorasi fenomena sosial untuk dideskripsikan atau dijelaskan bagaimana aktivitas, kenyataan, dan situasinya berdasarkan peristiwa, dokumen, dan artefak pendukung. Tucker (2014) menjelaskan bahwa studi museum adalah penelitian yang berdasarkan pada benda yang menjadi koleksi museum. Pengumpulan data utama pada studi ini adalah observasi dan analisis konten yang ada di masing-masing koleksi. Data tambahan diperoleh dari teks yang berisi penjelasan singkat yang dipajang di dekat masing-masing koleksi. Proses analisis data dilakukan dengan cara memetakan tema yang sesuai dengan kluster koleksi (yang telah dikelompokkan oleh petugas museum). Hasil analisis diperkuat dengan penjelasan singkat agar pembaca memahami inti koleksi. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati satu persatu koleksi di Museum Mangkunegaran, mencatat teks penjelas koleksi, dan wawancara dengan pemandu wisata (bapak P). Kami memilih koleksi yang asli buatan masyarakat pribumi sesuai dengan penjelasan dari pemandu wisata. Analisis data dilakukan dengan cara memetakan pengetahuan lokal yang sesuai dengan koleksi. Penjelasan hasil analisis data diperkuat dengan kutipan dari hasil penelitian lain yang sudah terlebih dahulu ada. Hasil analisis koleksi dan teks, hasil wawancara, dan kutipan dari jurnal menjadi triangulasi yang mendukung keabsahan data riset.
Discussion
Sejarah Mangkunegaran secara singkat dijelaskan oleh pemandu wisata (bapak P). Kerajaan Mangkunegaran adalah salah satu kerajaan penerus tradisi Kerajaan Mataram Islam. Museum Mangkunegaran didirikan untuk melestarikan bukti sejarah kehidupan leluhur kerajaan, mulai dari Kerajaan Mataram Islam hingga Mangkunegaran. Dengan demikian masyarakat Jawa pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya dapat mengenal sejarah kerajaan tersebut. Hal ini seperti yang dikatakan Kim (2012) bahwa museum merupakan institusi memori yang memiliki tugas sebagai pengelola warisan budaya sekaligus sumber pengetahuan untuk masyarakat. Warisan budaya dan pengetahuan yang dimaksud adalah koleksi museum. Howard et al. (2016) mengatakan bahwa kurator juga mengakui bahwa pekerjaan mereka sangat berkaitan dengan pengetahuan. Kurator bekerja menghimpun, mengelompokkan, dan memajang artefak berdasarkan pengetahuan tentang spesifikasi koleksi. Pengetahuan tentang koleksi juga harus dikuasai oleh pemandu wisata di museum agar dapat meningkatkan pengetahuan pengunjung. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa museum sejatinya memiliki fungsi sebagai penyimpan bukti kepiawaian masyarakat dalam membuat sesuatu. Kepiawaian dari masyarakat tertentu inilah yang dikenal sebagai pengetahuan lokal khas masyarakat setempat. Sehubungan dengan penelitian ini maka Museum Mangkunegaran adalah penyimpan pengetahuan lokal khas masyarakat Mangkunegaran. Berikut penjelasan pengetahuan lokal yang ada dibalik koleksi. 3.1. Pengolahan Logam Museum Mangkunengaran memiliki beragam koleksi yang terbuat dari logam seperti perhiasan, alat musik, peralatan rumah tangga, dan senjata. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat pribumi memiliki keterampilan dalam membuat kerajinan tangan dari bahan emas, tembaga, aluminium, dan besi. Keahlian ini juga diakui oleh pemandu wisata. Bapak P menjelaskan pada zaman dahulu Mangkunegaran memiliki abdi dalem yang ahli dalam membuat berbagai peralatan dan perabotan yang dikhususkan untuk kebutuhan istana. Sebagian besar koleksi yang ada di Museum Mangkunegaran adalah hasil kreativitas mereka. Namun demikian, bapak P menambahkan, saat ini keahlian abdi dalem istana dalam pengolahan logam sudah menghilang. Kebutuhan istana akan hasil olah logam kini dipenuhi dengan cara pembelian, bukan lagi produksi sendiri. Menurut Sudarwanto & Darmojo (2018) kerajian berbahan baku logam seperti tembaga, aluminium dan kuningan di Jawa Tengah yang masih eksis hingga saat ini ada di Desa Tumang. Masyarakat memiliki kemampuan mengubah logam menjadi perhiasan (untuk perlengkapan menari) peralatan dapur (wajan, panci, milk can), gapura, hingga kubah tempat ibadah. Mereka menguasai teknik kriya logam secara turun temurun yang dipelajari dari nenek moyang. Sebagai contoh hasil olah bahan aluminium diberi sentuhan terakhir dengan powder coating agar produk menjadi lebih bagus sehingga memiliki nilai jual yang lebih bagus pula. Bapak P masih mengingat beberapa istilah yang disematkan untuk spesialis dalam pengolahan masing-masing jenis logam. Kemasan adalah ahli membuat perhiasan dari emas. Sayang adalah ahli membuat pernak pernik hiasan atau peralatan rumah tangga dari tembaga. Empu adalah ahli membuat keris. Masyarakat juga mengenal istilah pande untuk menyebut keahlian seseorang dalam pengolahan logam, seperti pande wsi untuk orang yang ahli mengubah besi menjadi peralatan seperti senjata. Menurut Supriyanto (2014) pada prasasti Sadang tertulis istilah apande (kata ini kita kenal sekarang dengan istilah lain seperti pande atau pandai) yang merujuk pada spesialisasi keahlian atau kemampuan khusus seseorang dalam membuat sesuatu atau mengolah berbagai bahan mentah menjadi barang yang memiliki nilai guna. Apande wsi berarti orang yang ahli mengolah bijih besi. Apande mas berarti ahli membuat benda-benda dari emas seperti perhiasan. Koleksi lain berbahan logam yang terpajang adalah keris. Menurut bapak P, selain sebagai senjata khas laki-laki Jawa, keris juga menjadi simbol status sosial pemiliknya. Hal ini dapat dilihat dari bentuk lekukan dan gambar ukiran di bilah besi. Ukiran pada kayu gagang dan sarung dan bahan tambahan untuk mempercantik sarung (seperti perak atau emas) juga melambangkan kedudukan atau jabatan dari pemilik keris. Andriana (2017) menyampaikan, kedudukan keris dalam masyarakat jawa meliputi bidang religi, sosial, budaya, dan psikologis. Keris di lingkungan istana dianggap sebagai benda pusaka yang wajib dimiliki oleh Raja, keluarga raja, pejabat pemerintahan, dan abdi dalem. Hal ini karena keris dianggap menyimpan kekuatan magis yang akan meningkatkan wibawa pemiliknya. Keris juga berperan sebagai pelengkap upacara adat yang ada dalam budaya Jawa. Penjelasan lebih lengkap tentang keris disampaikan Irawan et al. (2021) yang menjelaskan bahwa keris adalah bagian dari sejarah Indonesia karena telah ada sejak tahun 800an. Prasasti lempengan perunggu (748 Saka atau 842 Masehi) yang ditemukan di Karangtengah menyebutkan keris sebagai salah satu benda persembahan pada saat ritual pemujaan. Keris juga tertulis dalam prasasti Rukam (829 Saka atau 907 Masehi). Secara umum struktur dari senjata ini adalah bilah besi (berfungsi untuk senjata) dan gagang kayu (untuk pegangan agar tidak melukai pemegangnya saat sedang bertarung). Keris biasanya dibalut dengan sarung yang terbuat dari kayu. Sarung ini berfungsi sebagai pelindung pemiliknya agar tidak tergores besi keris saat disimpan dibalik ikat pinggang. Proses pembuatan keris tidak hanya sebatas teknik menempa besi menjadi senjata tajam namun juga dibutuhkan laku spiritual dari pembuatnya. Bahan baku pembuatan keris adalah besi, baja, dan bahan pamor (batu meteorit atau batu bintang yang mengandung unsur titanium, nikel, senyawa besi, dan senyawa besi dari daerah lain). 3.2. Bangunan Istana Bapak P menjelaskan bahwa abdi dalem memiliki keahlian dalam membuat bangunan untuk istana dan rumah-rumah khusus yang ada di lingkungan istana. Beberapa bangunan di Pura Mangkunegaran diarahkan menghadap ke selatan. Arah ini didasarkan pada kepercayaan masyarakat bahwa arah selatan adalah arah yang baik untuk rumah. Fahrozi (2021) menjelaskan bahwa menurut feng shui arah selatan dipercaya sebagai pemberi kehangatan yang dapat mengimbangi energi chi sehingga rezeki akan mudah masuk ke dalam rumah. Oleh sebab itu pintu utama rumah sebaiknya berada di selatan. Yan & Zaijun (2016) menyatakan bahwa feng shui adalah seni tata aturan dalam membuat tata letak pemukiman, bangunan, dan pemakaman yang baik menurut kepercayaan Cina. Mulyono (2015) mengatakan bahwa beberapa bangunan di Indonesia juga masih menganut feng shui. Bagian depan bangunan yang berada di selatan merupakan pilihan terbaik karena akan ada energi hangat yang masuk dari pintu utama. Sunarmi (2019) menjelaskan bahwa Pura Mangkunegaran memiliki bermacam bangunan seperti pendopo, kediaman para putra raja, dan kediaman para putri raja. Rosalinda & Kholisya (2017) mengatakan bangunan utama yang terlihat saat kita masuk ke dalam wilayah Pura Mangkunegaran adalah Pendapa Ageng yang berbentuk joglo, Dalem Ageng berbentuk joglo, Dalem Ageng berbentuk limasan, serta Peringgitan yang berbentuk kutuk ngambang. Mangkunegaran masih mempertahankan bangunan asli khas Jawa yakni bentuk joglo. Istana memiliki pendopo, tempat tinggal keluarga raja, dan rumah para abdi dalem (orang terdekat dengan keluarga raja dan mengabdikan diri pada kehidupan istana). Bahan utama bangunan istana adalah kayu jati. Menurut Savero et al. (2020) kayu jati telah dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan dasar furnitur dan bangunan tradisional sejak zaman dahulu. Kayu ini memiliki sifat kuat, pori-pori yang rapat, tahan cuaca, dan tidak mudah rapuh hingga puluhan tahun. Contoh salah satu bangunan di Pura Mangkunegaran dapat dilihat pada gambar 1. Gambar 1. Pendopo Pura Mangkunegaran Sumber: Dokumen Peneliti 3.3. Mebeler Ciri khas koleksi yang umumnya ada di museum, termasuk Mangkunegaran adalah mebeler yang terbuat dari kayu. Meja, kursi, lemari, dan kotak kontainer ditata elegan yang mengingatkan pada suasana rumah zaman kerajaan. Bapak P menjelaskan bahwa semua koleksi mebeler ini dibuat oleh pengrajin lokal yang dikenal dengan sebutan undagi. Bahan utama mebeler adalah kayu jati. Pohon kayu untuk membuat bangunan atau peralatan mebeler disayat terlebih dahulu agar getahnya keluar agar kayu tidak lembab. Proses ini biasanya memerlukan waktu beberapa hari. Setelah getah mengering, kayu siap ditebang untuk di olah menjadi produk siap pakai. Penebangan kayu biasanya di musim kemarau agar kayu tidak basah karena hujan. Musim kemarau juga musim terbaik untuk mengeringkan kayu secara alami. Jejak keahlian pembuatan perabotan rumah tangga dari kayu di wilayah Jawa Tengah terlihat dari penelitian Pratama et al. (2018) yang menjelaskan bahwa hingga saat ini Jawa Tengah masih menjadi sentral industri mebeler di Indonesia. Jepara, Solo dan Semarang menjadi pusat terbesar industri perabotan rumah tangga yang terbuat dari kayu seperti aneka furnitur, kursi, meja, dan tempat tidur. Hasil produksi tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal dan nasional melainkan juga sudah merambah pasar ekspor. 3.4. Anyaman bambu Bapak P menjelaskan bahwa masyarakat pribumi juga piawai dalam membuat berbagai kerajinan dari bambu. Berbagai produk rumah tangga, khususnya peralatan dapur tercipta dari tangan terampil para pengrajin. Lebih jauh bapak P menjelaskan bahwa bambu yang baik adalah yang dipanen saat musim kemarau (juni atau juli) karena pada musim tersebut bambu tidak lembab, basah, dan berjamur. Susilo et al. (2019) secara sederhana mendefinisikan anyaman sebagai teknik membuat karya seni rupa dengan cara merajut bahan anyaman secara tumpang tindih hingga membentuk pola yang diinginkan oleh pengrajin. Menurut salah satu informan dalam penelitian Susilo et al. (2019) menjelaskan bahwa pengrajin lebih memilih bambu jenis apus sebagai bahan anyaman. Bambu jenis ini memiliki tekstur yang halus, mudah dibentuk, dan liat (tidak mudah patah). Apiati et al. (2019) menganggap bahwa kemampuan seseorang dalam membuat berbagai bentuk anyaman bambu adalah bagian dari keahlian tentang geometri. Kukusan atau topi caping mengingatkan kita pada bentuk kerucut. Piring, tatakan gelas, nampan, wadah bumbu dan tampah membentuk bulat atau elips nyaris sempurna meski saat menganyamnya tanpa menggunakan penggaris. 3.5. Membuat Gula Tebu Keahlian lain yang dimiliki oleh masyarakat Jawa Tengah adalah mengolah tebu menjadi gula. Pabrik gula tebu yang didirikan oleh salah satu raja Mangkunegaran menjadi bukti bahwa mereka memiliki pengetahuan dalam membuat gula pasir. Birsyada et al. (2016) menjelaskan bahwa Raja Mangkunegara IV mendirikan dua pabrik gula, Colomadu (1861) dan Tasik Madu (1871) untuk memenuhi kebutuhan gula warga lokal, perdagangan tingkat nasional dan ekspor ke luar negeri. Setyaningrum et al. (2020) menjelaskan bahwa eksistensi Jawa Tengah sebagai propinsi penghasil gula tebu masih terjaga hingga saat ini. Propinsi ini sebagai produsen gula pasir terbesar ketiga di Indonesia. Hartanto (2014) menjelaskan bahwa pembuatan gula putih dilakukan dengan pemurnian nira tebu menggunakan teknologi sulfitasi (sulfur dioksida) atau teknologi defekasi remelt karbonatasi (kapur tohor). Perbedaan teknologi tersebut akan berpengaruh pada tingkat kejernihan warna bulir gula pasir. Pemurnian dengan cara sulfitasi menghasilkan pasir berwarna keruh cenderung kuning cream sedangkan gula hasil karbonatasi berwarna lebih putih. 3.6. Pengawetan Hewan Koleksi Museum Mangkunegaran dari hewan asli yang diawetkan adalah harimau kering yang terlihat kokoh berdiri dengan bentuk tubuh, kulit, dan bulu yang masih utuh, mirip dengan harimau hidup. Koleksi ini menandakan bahwa pribumi memiliki pengetahuan tentang pengawetan hewan (harimau). Kaenuwihanulah et al. (2021) menjelaskan secara umum proses pengawetan hewan dilakukan dengan cara pembersihan organ dalam hewan dan diganti dengan kapas, serbuk kayu, atau polystyrene. Dengan demikian bentuk hewan tetap utuh (bagian perut tidak mengempis). Seluruh tubuh hewan di rendam dengan cairan alkohol atau formalin. Kedua bahan tersebut dapat digunakan untuk mengawetkan hewan dengan hasil basah (menyerupai aslinya), bukan untuk pengawetan kering yang menyerap semua cairan dalam tubuh hewan.
Conclusion
Berdasarkan koleksi yang ada di Museum Mangkunegaran dapat disimpulkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan dalam pengolahan emas dan tembaga menjadi perhiasan badan dan pernak pernik hiasan rumah. Mereka juga ahli membuat tembaga menjadi peralatan rumah tangga dan membuat senjata dari besi. Keahlian lain yang mereka miliki terlihat dari cara pembuatan bangunan tradisional mulai dari pemilihan kayu sebagai bahan utama hingga posisi bangunan yang sesuai dengan arah mata angin yang baik. Kemahiran dalam pemilihan kayu juga diaplikasikan pada kerajinan mebeler. Kerajian lain yang mereka kuasai adalah membuat aneka produk anyaman bambu. Produk kerajian anyaman menjadi bukti masyarakat piawai dalam membuat bangun ruang dan tips memilih bambu yang tepat sebagai bahan utama anyaman. Selain pengetahuan tentang membuat benda pakai seperti yang telah disebutkan, masyarakat Mangukengaran juga memiliki pengetahuan dalam membuat gula tebu. Pengetahuan lain adalah pengawetan hewan secara utuh (masih terlihat seperti aslinya) tidak terlihat mengering. Penelitian ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi penelitian dengan tema sejenis yakni pengetahuan lokal yang ada di balik koleksi museum atau cara berbagi pengetahuan yang dilakukan oleh para ahli sehingga kepiawaian mereka dalam membuat sesuai tetap lestari hingga saat ini.