Perkembangan Kepribadian Ali Akbar dalam Cerpen Orang Kalah Karya Dadang Ari Murtono
Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro
Abstrak
Akhir-akhir ini psikoanalisis umumnya digunakan untuk mengkaji tokoh-tokoh dalam karya sastra. Cerpen berjudul Orang Kalah dengan tokoh utama Ali Akbar yang merantau ke Kota Surabaya untuk mencari makan kemudian memutuskan menjadi pencopet hingga akhirnya berhenti mencopet dan memilih menjadi pegawai di sebuah warung kopi dengan gaji yang kecil. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perkembangan kepribadian tokoh utama dari mulai sebelum menjadi pencopet, saat menjadi pencopet, dan setelah berhenti pencopet. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra dengan teori Sigmund Freud khususnya pada aspek id, ego, dan superego. Perkembangan kepribadian Ali Akbar dipengaruhi oleh aspek kepribadian yaitu id, ego, dan superego. Sebelum menjadi pencopet, aspek "id" Ali Akbar begitu hebat sedangkan superegonya lemah. Ketika Ali Akbar menjadi pencopet, superego Ali Akbar lebih besar dari aspek id dan ego, sehingga Ali Akbar memilih untuk menghentikan pencopet. Setelah berhenti menjadi pencopet, Ali Akbar masih memiliki dorongan “id” yang merupakan dorongan untuk bertahan hidup sehingga mewujudkan ego mogok kerja selama dua minggu namun gagal.
Abstract
Lately, psychoanalysis is generally used to examine figures in literary works. Short story titled Orang Kalah with the main character Ali Akbar who migrated to the city of Surabaya to look for food and then decided to become a pickpocket until he finally stopped pickpocketing and chose to become an employee at a coffee shop with a small salary. The aims of study are to explain developing the main character's personality from starting before becoming a pickpocket, when becoming a pickpocket, and after stopping pickpockets. This study uses a literary psychology approach with Sigmund Freud's theory especially in the aspects of id, ego, and superego. The development of Ali Akbar's personality is influenced by aspects of personality namely id, ego, and superego. Before becoming a pickpocket, Ali Akbar's "id" aspect was so great while the superego was weak. When Ali Akbar was a pickpocket, Ali Akbar's superego was bigger than the aspects of the id and the ego, so Ali Akbar chose to stop pickpockets. After stopping being a pickpocket, Ali Akbar still had the "id" impulse which was the drive to survive so as to realize the ego of a work strike for two weeks but failed.
Keywords:
psychoanalysis
· psychology
· short story
· sigmund freud
· superego
Introduction
Adanya perbedaan kepribadian individu satu dengan yang lain membuat manusia disebut sebagai makhluk yang unik. Perasaan, pengalaman, dan pandangan individu yang berbeda merupakan bukti nyata bahwa manusia memang makhluk yang unik. Dengan demikian, pertemuan antara satu manusia dengan manusia lain rawan akan terjadinya suatu konflik. Di era post-modern ini, konflik menjadi penyebab penyimpangan perilaku manusia seperti meningkatnya angka kematian karena bunuh diri atau karena pembunuhan yang disebabkan karena cemburu berlebih, perselingkuhan, kesalahpahaman, kemiskinan, stres, dan iman yang lemah. Cerpen Orang Kalah karya Dadang Ari Murtono yang diterbitkan di Jawa Pos bercerita tentang seorang laki-laki bernama Ali Akbar yang menjadi seorang perantau di Kota Surabaya. Ali Akbar memiliki seorang teman bernama Wili Kucing. Wili Kucing mengajak Ali Akbar untuk mencopet namun Ali Akbar menolak. Seminggu kemudian, karena mencari pekerjaan teramat sulit dan ia mulai kehabisan uang sedangkan ia perlu uang untuk makan dan segala macamnya, akhirnya ia tergoda untuk mencopet. Padahal baru sekali mencopet, Ali Akbar tertangkap dan dipukuli oleh warga setempat sampai kakinya pincang sebelah. Sebulan kemudian ia bebas dan tak mau lagi mencopet meski berkali-kali ia dibujuk untuk mencopet oleh temannya. Alih-alih menjadi copet lagi setelah bebas dari penjara, ia memilih untuk menjadi pegawai di kedai kopi dengan gaji yang bisa dibilang kecil. Psikoanalisis merupakan suatu penelitian terhadap kejiwaan dan berusaha untuk menjelaskan tentang hakikat dan perkembangan kepribadian manusia. Struktur, dinamika, dan perkembangan kepribadian masuk ke dalam ruang lingkup pembahasan psikoanalisis. Teori psikoanalisis dipelopori oleh seorang dokter psikiatri berkebangsaan Austria bernama Sigmund Freud. Meski demikian, Sigmund Freud tidak pernah mengaku secara terang-terangan bahwa ia adalah penemu pertama psikoanalisis. Bahkan, ia sendiri mengakui bahwa orang lain sebagai penemu psikoanalisis. Faktanya ada beberapa usaha sebelum Freud yang membuka jalan bagi penemuan Freud. Akhir-akhir ini, psikoanalisis sering digunakan untuk meneliti tentang kejiwaan tokoh-tokoh dalam karya sastra meskipun masih ada tiga aspek lainnya yaitu aspek kejiwaan pengarang, aspek kejiwaan pembaca, dan aspek proses penciptaan karya sastra. Dalam penelitian ini, penulis akan mengamati tokoh utama yang bernama Ali Akbar dan menggambarkan dengan menganalisis kejiwaannya sesuai dengan teori Sigmund Freud khususnya dalam aspek id, ego, dan superego. Penelitian yang terkait dengan cerpen Orang Kalah memang belum ada karena cerpen Orang Kalah adalah cerpen yang belum lama terbit. Namun, penelitian serupa yang menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud terutama dalam aspek id, ego, dan superego sangat banyak dan melimpah ruah baik pada cerpen maupun pada novel. Sesuai dengan penjelasan di atas, alasan penulis memilih cerpen Orang Kalah yaitu karena adanya perkembangan kepribadian tokoh utama yang bernama Ali Akbar. Maka rumusan masalah dalam penelitian ini yakni bagaimana perkembangan kepribadian tokoh Ali Akbar dalam cerpen Orang Kalah karya Dadang Ari Murtono berdasarkan aspek id, ego, dan superego. Pendekatan psikologi sastra dirasa sangat cocok untuk menganalisis kejiwaan tokoh Ali Akbar. 2. Landasan Teori Pendekatan psikologis banyak bersandar kepada psikoanalisis yang dikembangkan oleh Freud setelah melakukan berbagai penelitian bahwa manusia banyak dikuasai oleh alam batinnya sendiri. Terdapat id, ego, dan superego dalam diri manusia yang menyebabkan manusia selalu berada dalam keadaan berperang dalam dirinya, resah, gelisah, tertekan, dan lain-lain apabila terdapat ketidakseimbangan antara ketiga unsur tersebut (Endraswara, 2008: 196–97). Kajian psikologi sastra berusaha mengungkap psikoanalisa kepribadian yang dipandang meliputi tiga unsur kejiwaan, yakni: id, ego, dan superego. Ketiga sistem kepribadian ini satu sama lain saling membentuk keterkaitan dan membentuk totalitas, sedangkan tingkah laku manusia tak lain merupakan produk dari interaksi ketiganya (Endraswara, 2013: 101). Sigmund Freud mengenalkan tiga model struktural, yakni id, ego, dan superego. Tiga model struktural ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggantikan model topografis melainkan dimaksudkan untuk melengkapi sekaligus menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau tujuannya (Alwisol, 2019: 15). Di bawah ini akan dijabarkan tiga model struktural untuk mempermudah pembahasan pada kerangka psikoanalisis. 2.1 Id Id merupakan sistem kepribadian yang asli yang dibawa sejak lahir dan tidak berubah oleh faktor realitas maupun moralitas. Id berisi semua aspek psikologi yang diturunkan saat manusia dilahirkan, seperti insting, impuls, dan drives. (Hamzah, 2019: 10). Insting terbagi menjadi dua, yakni insting hidup (life instinct) dan insting mati (death instinct). Insting hidup dapat disebut sebagai Eros yaitu dorongandorongan yang menjamin agar bisa bertahan hidup dan reproduksi demi mempertahankan kelangsungan hidup generasi berikutnya. Sedangkan insting mati atau insting destruktif dapat disebut sebagai Thanatos. Insting mati mendorong orang untuk merusak dirinya sendiri dan dorongan agresif merupakan bentuk penyaluran agar orang tidak membunuh dirinya sendiri (suicide). Untuk bertahan hidup, insting hidup biasanya menyerang insting mati dengan mengerahkan energinya keluar, ditunjukkan untuk orang lain (Alwisol, 2019: 21–22). Menurut Bertens (2016: 32–33) lapisan psikis yang paling mendasar dan primitif adalah Id. Ego dan prinsip realitas sekali-kali tak mampu mempengaruhi id. Sedangkan menurut Olson (2013: 51–52) keadaan manusia saat lahir ke dunia, seluruh jiwa hanya memiliki satu komponen saja, atau masih belum terbagi-bagi, satu komponen tersebut disebut id. Id terdiri atas energi insting yang murni dan tidak pernah dewasa, primitif, berada sepenuhnya di tingkat bawah-sadar. Id tidak bisa menolerir tegangan yang muncul dari kebutuhan-kebutuhan badani atau biologis sehingga selalu menuntut penghilangan tegangan itu sesegera mungkin. Dengan kata lain, id menuntut pemuasan langsung dan segera kebutuhan tubuh, oleh karena itu bisa dikatakan id diatur sepenuhnya oleh prinsip kesenangan. 2.2 Ego Bertolak belakang dengan id yang memuat gairah, ego merepresentasikan nalar dan akal sehat (Freud, 2018: 23). Dorongan-dorongan ego, yang didasarkan pada usaha untuk mempertahankan diri, perlu dilihat sebagai sesuatu yang lebih berdasar pada realita – pada kebutuhan dan kemampuan untuk memperoleh makanan dan suplainya, dan untuk menghindari rasa sakit (Freud, 2009: 677). Sementara menurut Suryabrata (2016: 126) aspek ego adalah aspek psikologis dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan. Orang yang lapar mesti perlu makan untuk menghilangkan tegangan yang ada dalam dirinya, ini berarti bahwa organisme harus dapat membedakan antara khayalan tentang makanan dan kenyataan tentang makanan. Ego berkembang dari id agar setiap orang mampu menangani realita sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita. Ego adalah eksekutif atau pelaksana dari kepribadian yang memiliki dua tugas; pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan, kedua, menentukan kapan, bagaimana kebutuhan dipuaskan sesuai dengan tersedianya peluang risiko minimal. Ego bekerja untuk memuaskan id, oleh karena itu ego yang tidak memiliki energi sendiri akan mendapatkan energi dari id (Hamzah, 2019: 10–11). Menurut Koswara (1991, 34) id dan ego tampak selalu terjadi pertentangan atau konflik. Walau begitu, ego dalam menjalankan tugasnya tidaklah dimaksudkan untuk menghambat pemuasan kebutuhankebutuhan atau naluri-naluri yang berasal dari id, melainkan sebagai perantara dari tuntutan naluri di satu pihak dengan keadaan lingkungan di pihak lain. Yang dihambat oleh ego adalah pengungkapan nalurinaluri yang tidak layak atau tidak bisa diterima oleh lingkungan. Ego bertugas membuat rencana dan menguji rencana tersebut. 2.3 Superego Hati nurani sama halnya dengan superego yang mengenali nilai baik dan buruk. Superego tidak mempertimbangkan realitas, seperti halnya id, karena tidak bergumul dengan hal-hal realistik (Minderop, 2018: 22). Koswara (1991: 34–35) menambahkan bahwa superego adalah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif. Aktivitas superego dalam diri individu, terutama apabila aktivitas ini bertentangan dengan ego, maka timbul dalam diri emosi-emosi tertentu seperti perasaan bersalah dan penyesalan. Sikap-sikap tertentu dari individu seperti observasi diri, koreksi atau kritik diri, juga bersumber pada superego. Superego yang berkembang sepenuhnya memiliki dua bagian. Yang pertama adalah nurani. Yang kedua adalah ideal ego, yaitu terinternalisasinya pengalaman-pengalaman yang secara konsisten melalui penghargaan dan persetujuan. Superego secara konstan berjuang menuju kesempurnaan, sehingga sama tidak realistiknya seperti id. Pengalaman apa pun yang mengganggu nilai-nilai tidak bisa ditolerir oleh superego. Sehingga akibatnya tugas ego menjadi sedemikian berat, tidak hanya harus memenuhi kebutuhan id tapi juga harus mewaspadai rambu-rambu superego (Olson, 2013: 55). Bagi beberapa orang, superego tidak berkembang setelah masa kanak-kanak tetapi bagi yang lain, superego mendominasi kepribadian lewat rasa bersalah dan perasaan inferior. Bagi yang lain, ego dan superego bergantian mengendalikan kepribadian sehingga akibatnya suasana hati menjadi turun naik secara ekstrem dan muncul siklus ketika rasa percaya diri dan rasa menghukum diri sendiri muncul bergantian. Pada individu yang sehat, id dan superego terintegrasi ke dalam ego yang berfungsi baik dan beroperasi harmonis. Apabila id mendominasi ego yang lemah sedangkan superego plin-plan sehingga ego tidak mampu menyeimbangkan gigihnya dorongan id, maka akibatnya orang tersebut terus-menerus memuaskan kesenangannya tanpa memedulikan hal tersebut mungkin atau layak. Apabila superego mendominasi ego yang lemah maka akibatnya muncul perasaan bersalah atau inferioritas. Individu yang sehat secara psikologis dan memiliki kendali yang baik atas prinsip kesenangan maupun prinsip moralitas adalah individu dengan ego kuat yang menyatukan banyak tuntutan dari id dan superego (Feist, 2017: 33– 34). Kepribadian berkembang dalam hubungan dengan empat macam sumber tegangan pokok, yaitu; (1) proses pertumbuhan fisiologis, (2) frustasi, (3) konflik, dan (4) ancaman. Sebagai akibat dari meningkatnya tegangan karena keempat sumber itu, maka orang terpaksa, mau tidak mau, perlu belajar cara-cara yang baru untuk mereduksi tegangan. Belajar mempergunakan cara-cara baru dalam mereduksikan tegangan inilah yang disebut perkembangan kepribadian (Suryabrata, 2016: 141).
Method
Objek material pada penelitian ini adalah cerpen berjudul Orang Kalah karya Dadang Ari Murtono. Objek formal penelitian ini adalah id, ego, dan superego. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang kepribadian tokoh utama dalam cerpen Orang Kalah. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori Sigmund Freud. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode kepustakaan. Bahan yang digunakan sebagai objek penelitian adalah teks berupa cerpen. Tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan tipe kepribadian yang ada pada tokoh utama berdasarkan teori Sigmund Freud.
Result & Discussion
Pembahasan dalam penelitian ini disesuaikan dengan fokus penelitian lalu menafsirkan temuan yang didapat berdasarkan teori yang telah dijelaskan di atas. Fokus penelitian pada pembahasan ini yaitu perkembangan tokoh Ali Akbar dalam cerpen Orang Kalah. Dari sebelum ia menjadi copet, lalu saat menjadi copet, hingga setelah berhenti menjadi copet. 4.1 Sebelum Menjadi Pencopet Aspek id yang ada dalam kepribadian Ali Akbar adalah insting untuk bertahan hidup. Ia pergi ke kota Surabaya dengan maksud untuk mencari makan. Namun, mencari pekerjaan demikian sulit sehingga ia pun mulai cemas akan kehabisan uang. Kalau ia kehabisan uang tentu ia tidak akan mampu membeli makanan untuk dimakan. Seminggu setelah percakapan itu, sewaktu sangu dari kampung sudah menipis...(Murtono, 2019). Dalam cerpen Orang Kalah ditemukan data bahwa Ali Akbar tidak mampu memenuhi kebutuhan id. Ali Akbar telah berusaha memenuhi kebutuhan id dengan cara mencari pekerjaan di mana pun ada lowongan sehingga ia dapat membeli makanan untuk dimakan. Namun nyatanya, mencari pekerjaan demikian sulit. Ali Akbar mulai mengalami kecemasan karena ia tidak kunjung segera memenuhi kebutuhan id. Aspek ego sebagai perantara aspek id yang primitif, merancang sebuah rencana sekaligus mengidentifikasi realitas. Ego yang ditunjukkan oleh tokoh Ali Akbar sesaat sebelum ia menjadi pencopet adalah mencari pekerjaan di mana pun ada lowongan. Namun mencari pekerjaan teramat susah bagi Ali Akbar. ...sementara pekerjaan belum juga didapat, dengan ragu Ali Akbar mengetuk kamar kos Wili Kucing. (Murtono, 2019). Ada keinginan dalam diri Ali Akbar untuk mengikuti kemauan Wili Kucing yakni mencopet. Tapi superego yang ada dalam diri Ali Akbar cukup kuat sehingga ego Ali Akbar patuh pada superego. Aspek superego atau das Ueberich yang ditampilkan oleh Ali Akbar sesaat sebelum ia memutuskan menjadi pencopet adalah keengganannya mengikuti rayuan Wili Kucing untuk mencopet. Ia memiliki nilai-nilai yang ia pegang teguh di dalam dirinya sehingga ia enggan untuk mengikuti ajakan Wili Kucing untuk mencopet. Ia kepada Wili Kucing mengajukan bermacam-macam alasan saat diajak oleh Wili Kucing mencopet. “Tapi aku picak,” kata Ali Akbar waktu itu. (Murtono, 2019). Salah satu dari tiga tujuan superego adalah mencapai kesempurnaan. Artinya superego ingin hidup sempurna, superego ingin selalu mengganti keadaan realitas dengan moralitas dan juga ingin mengekang naluri seksual dan agresi yang tidak diterima oleh masyarakat. Oleh sebab itu, lagi-lagi Ali Akbar mengajukan satu alasan lagi demi untuk menolak ajakan Wili Kucing. “Aku tidak sepertimu.” (Murtono, 2019). Akhirnya Wili Kucing pun pulang ke kamar kosnya setelah merasa dirinya tidak berhasil membujuk Ali Akbar untuk mencopet. Seminggu kemudian, Ali Akbar mengetuk pintu kamar kos Wili Kucing. Kepada Wili Kucing, Ali Akbar memutuskan untuk mencopet karena mencari pekerjaan demikian sulit. Akhirnya mereka berdua pun pergi untuk mencopet. 4.2 Saat Menjadi Pencopet Akhirnya Ali Akbar mencopet untuk pertama kali dengan Wili Kucing. Mereka berdua mencopet seorang perempuan paruh baya. Saat perempuan paruh baya itu berteriak. Teriakan itu didengar oleh tentara yang kebetulan ada di dekat lokasi kejadian. Akhirnya, tentara itu berlari mengejar Ali Akbar ketimbang mengejar Wili Kucing karena keberuntungan tampaknya sedang memihak kepada Wili Kucing. Pada waktu itulah malaikat kesialan mesti memilih, menjaga sayap-sayapnya tetap menaungi Ali Akbar atau mengikuti Wili Kucing. Malaikat kesialan jelas tidak menyukai kepengecutan di kota macam Surabaya. Maka ia beri kesempatan kepada Wili Kucing dan menimpakan tulah buruknya kepada Ali Akbar (Murtono, 2019). Kecemasan dan ketakutan ada dalam diri Ali Akbar sehingga membuat kecepatan larinya semakin memudar sehingga membuat tentara itu dengan mudah menangkap Ali Akbar. Ali Akbar kena amuk masa dan ditangkap. Kalau saja tak ada polisi yang melerai maka Ali Akbar pun bisa tewas di tempat. Maka Ali Akbar pun masuk rumah sakit dan dipenjara selama sebulan. Saat Ali Akbar menjadi copet, aspek kepribadian yang paling dominan adalah aspek ego. Bahkan aspek ego Ali Akbar berusaha menentang aspek superego. Aspek ego yang ditunjukkan oleh Ali Akbar adalah saat ia mencopet uang dari seorang perempuan paruh baya. Si tentara memilih mengejar Ali Akbar sambil mulutnya terus meneriakkan kata copet. (Murtono, 2019). Namun, karena ia sedang sial, akhirnya ia berhasil dilumpuhkan dan masuk rumah sakit untuk kemudian masuk ke dalam penjara selama sebulan. Di dalam penjara itu, superego Ali Akbar mulai bekerja. Superego Ali Akbar berkembang sehingga mampu mengekang ego mencopet karena tidak sesuai dengan nilai-nilai dan moral masyarakat. Setelah peristiwa tersebut, Ali Akbar memutuskan menjaga jarak dengan Wili Kucing. (Murtono, 2019). Ali Akbar memilih menjaga jarak dengan Wili Kucing supaya ia tidak tergoda lagi untuk mencopet. Ia menyesali perbuatannya sehingga ia pun memilih mengambil langkah untuk jauh-jauh dari Wili Kucing. Bahkan, Ali Akbar memutuskan untuk pindah kos ke tempat yang agak jauh dari tempat tinggal Wili Kucing. 4.3 Setelah Berhenti Menjadi Pencopet Setelah dipukuli oleh warga dan tertangkap karena mencopet, Ali Akbar pun memutuskan untuk berhenti mencopet. Karena ia mendapat pengaruh buruk dari temannya yang bernama Wili Kucing sehingga Ali Akbar dengan sengaja menjauhkan diri dari Wili Kucing. Ali Akbar bahkan pindah kos dan Ali Akbar akhirnya mendapatkan sebuah pekerjaan di sebuah kedai kopi. Di kedai kopi, ia tidak bekerja sendirian. Ia bersama dua orang lainnya yakni Madjuki dan Rusman Hadi. Meskipun telah meninggalkan Wili Kucing dan berhenti mencopet, di kedai kopi itu, Ali Akbar sama sekali tidak puas. Ia dan kedua koleganya mengajukan permintaan kepada pemilik kedai dengan mogok kerja selama empat belas hari. Namun, semua usahanya itu sia-sia belaka. Aspek id yang terlihat setelah Ali Akbar memutuskan untuk berhenti menjadi pencopet adalah insting untuk bertahan hidup. Dorongan-dorongan biologis yang dimiliki oleh Ali Akbar adalah dorongan untuk makan. Ali Akbar yang hanya seorang pelayan di sebuah kedai dengan gaji mingguan merasa kurang mendapat perhatian sehingga kebutuhan sehari-hari seperti belanja makan pun tidak terpenuhi. Dorongan-dorongan id yang tidak terpenuhi dengan segera menimbulkan ketegangan dan kecemasan. Dan kini kita kembali karena kita butuh kerja, kita butuh makan. Kita memang kalah. Dua minggu tanpa pemasukan benar-benar mengerikan,” jawab Ali Akbar. (Murtono, 2019). Dorongan-dorongan biologis tersebut membuat Ali Akbar bersama rekan kerjanya mengajukan semacam protes kepada pemilik kedai dalam bentuk mogok kerja. Protes tersebut dilakukan karena Ali Akbar mengalami ketidakpuasan termasuk gaji yang ia dapatkan. Ia melakukan mogok kerja selama empat belas hari lamanya dan mengajak serta teman-temannya yang juga pegawai di kedai tersebut. Mogok kerja yang dilakukan oleh Ali Akbar dan rekan-rekannya merupakan sebuah wujud ego. “Ya. Kita kalah. Permintaan kita tidak dituruti, bahkan sekalipun kita sudah empat belas hari mogok kerja. . (Murtono, 2019). Pada akhirnya, bahkan ketika Ali Akbar mogok kerja, si pemilik kedai masih tidak mau menuruti permintaan Ali Akbar dan rekan-rekannya. Akhirnya Ali Akbar kembali membuka dan bekerja di kedai kopi lagi dan melanjutkan hidup.
Conclusion
Setelah penulis mengkaji kepribadian yang berkenaan dengan aspek id, ego, dan superego pada tokoh utama cerpen Orang Kalah karya Dadang Ari Murtono yang bertujuan untuk memahami perkembangan kepribadian tokoh utama dalam cerpen tersebut, maka penulis menarik beberapa kesimpulan berdasarkan rumusan masalah sebagai berikut ini. Perkembangan kepribadian Ali Akbar pada cerpen Orang Kalah karya Dadang Ari Murtono dipengaruhi oleh ketiga aspek kepribadian yaitu id, ego, dan superego. Ketiganya saling mempengaruhi dan terkait satu sama lain. Pada saat sebelum Ali Akbar memutuskan menjadi copet, aspek id lebih dominan ketimbang aspek ego dan superego. Karena dorongan-dorongan aspek id yang kuat dari dalam dirinya dan superego Ali Akbar tak berdaya atau lemah membawa Ali Akbar menjadi seorang pencopet. Bahkan ketika menjadi pencopet, dorongan-dorongan biologis tersebut masih ada, tetapi pada akhirnya superego menentang ego dan id sehingga Ali Akbar memutuskan berhenti mencopet. Sesaat sesudah ia berhenti mencopet, Ali Akbar masih menunjukkan aspek id yaitu dorongan bertahan hidup. Namun, kali ini, aspek id mendorong egonya dengan mogok bekerja selama empat belas hari. Walau begitu, egonya gagal mendapatkan apa yang Ali Akbar minta dari pemilik kedai kopi. Pemilik kedai kopi mengabaikan pemogokan yang dilakukan oleh Ali Akbar dan teman-temannya. Sesuai paragraf di atas, maka jelas bahwa aspek id, ego, dan superego mempengaruhi perkembangan kepribadian Ali Akbar dari seorang perantau lalu memutuskan menjadi pencopet lalu insaf dan memilih hidup sebagai pelayan di kedai yang bergaji kecil.