Kembali
16
1
2022 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 6 · 4 ISSN 2598-3040

Persepsi Mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Terhadap Pelaksanaan Klasifikasi Koleksi di Perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang

Universitas Diponegoro

Abstrak

Persepsi merupakan bagian dari bidang psikologi yang mempelajari tentang proses mental seseorang. Proses mental merupakan proses kemampuan seseorang untuk menerima, mengelola, memberikan respon informasi yang ditangkap oleh alat-alat penginderaan manusia. Proses tersebut dapat dilihat dari gejala kognisi, gejala emosi, gejala konasi. Keahlian seseorang dalam mengklasifikasi koleksi perpustakaan banyak dipengaruhi oleh kemampuan seseorang tersebut dalam mengingat subjek koleksi perpustakaan yang pernah diklasifikasi. Ingatan merupakan bagian dari gejala kognisi. Informan penelitian ini adalah para mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro yang menjadi pendamping dalam kegiatan pendampingan penetapan klasifikasi koleksi perpustakaan di SD Negeri Manyaran 01 Semarang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi mereka terhadap kegiatan mengklasifikasi koleksi perpustakaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dikumpulkan melalui metode observasi, studi dokumen, dan wawancara. Observasi dilakukan selama para informan melaksanakan pendampingan penetapan klasifikasi koleksi perpustakaan. Studi dokumen dilakukan terhadap draft buku inventaris/buku induk koleksi perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang. Wawancara tidak terstruktur dilakukan kepada para informan. Kuesioner dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka untuk diisi oleh para informan tentang persepsi mereka selama melaksanakan klasifikasi koleksi perpustakaan. Hasil penelitian menunjukkan persepsi para informan, bahwa mereka harus melatih keahlian klasifikasi koleksi perpustakaan secara berkesinambungan selama beberapa hari hingga mereka mampu mengingat klasifikasi koleksi perpustakaan.

Abstract

Perception is part of the field of psychology that studies a person's mental processes. Mental processes are processes of a person's ability to receive, manage, respond to information captured by human sensory devices. This process can be seen from the symptoms of cognition, emotional symptoms, conation symptoms. A person's skill in classifying library collections is heavily influenced by the person's ability to remember the subject of the library collection that has been classified. Memory is part of the symptoms of cognition. The informant of this study were students of Undergraduate of Library Science, Faculty of Humanities, Diponegoro University who became assistants in assisting activities in determining the classification of library collections at Manyaran 01 Public Elementary School Semarang. The purpose of this study was to determine their perceptions of classifying library collections. This research is a qualitative research. Data was collected through observation, document study, and interview methods. Observations were made while the informant carried out assistance in determining the classification of library collections. A document study was carried out on the draft inventory book/main book collection of the Manyaran 01 Public Elementary School Semarang. Unstructured interviews were conducted with the informant. Questionnaire with open questions to be filled in by informants about their perceptions while carrying out the classification of library collections. The results of the study showed the informant perceptions that they had to practice the skills of classifying library collections on an ongoing basis for several days until they were able to remember the classification of library collections.
Keywords: classification · memory · perception · skill · subject

Introduction

Judul penelitian ini adalah “Persepsi Mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Terhadap Pelaksanaan Klasifikasi Koleksi di Perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang”. Dari judul tersebut diketahui tujuan dari penelitian ini adalah upaya untuk mengetahui pengalaman apa yang dirasakan oleh para mahasiswa program studi S1 Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro yang dilibatkan dalam suatu kegiatan pendampingan klasifikasi terhadap koleksi perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang. Persepsi merupakan proses alat indera menangkap stimulus yang berasal dari objek-objek, peristiwa, dan hubungan- hubungan antar gejala. Stimuli yang ditangkap oleh alat-alat sensoris indera manusia ini kemudian diproses oleh otak. Luaran dari proses tersebut disebut sebagai kognisi rasa yang diperoleh dari suatu stimulus melalui alat indera manusia (Couto: 2016: 15). Disisi lain, Sebastian (2016: 96) menjabarkan makna persepsi menurut pandangan Merleau-Ponty. Merleau-Ponty adalah seorang fenomenolog, sehingga persepsi yang da nyatakan juga mengacu kepada bidang fenomenologi. Dia berpendapat, bahwa persepsi merupakan “rasa” yang diperoleh manusia dari pengalaman yang mereka terima sebagai hasil interaksinya dengan dunia. Pengalaman yang diperoleh dari hasil interaksi manusia dengan dunia melalui tubuhnya menjadi pengetahuan baginya. Kaitan antara persepsi dengan klasifikasi dalam penelitian ini adalah rasa yang diperoleh para mahasiswa program studi S1 Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro yang dilibatkan dalam kegiatan pendampingan klasifikasi terhadap koleksi perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang. Posisi mereka yang masih dalam tahap belajar, menjadi model bagi pengelola perpustakaan sekolah pada penelitian ini. Klasifikasi merupakan salah satu subjek yang diajarkan kepada mereka. Klasifikasi merupakan suatu subjek yang unik, karena kegiatan klasifikasi memerlukan kemampuan logika. Struktur klasifikasi yang dikerjakan harus masuk akal, sehingga klasifikasi yang dihasilkan benar-benar mengelompok berdasar sistem klasifikasi. Setiap orang akan terampil dalam melaksanakan klasifikasi koleksi bila mereka aktif melatih dan mengembangkan logika mereka ketika melaksanakan klasifikasi (Hidayat, 2018: 1-3). Klasifikasi adalah salah satu sarana yang digunakan dalam kegiatan pengelompokkan koleksi perpustakaan secara sistematis berdasar ciri-ciri yang sama. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah agar koleksi yang dijajarkan di rak dapat mengelompok sesuai jenis maupun isi atau subjek koleksi. Keberadaan klasifikasi membuat pustakawan lebih mudah dan lebih cepat menyajikan koleksi di masing-masing rak. Sementara itu, pemustaka juga lebih mudah dan lebih cepat mengetahui apakah koleksi yang diperlukan tersedia atau tidak. Apabila perpustakaan tersebut memiliki koleksi yang diperlukan, maka dengan klasifikasi tersebut para pemustaka juga dapat lebih mudah dan lebih cepat untuk mengaksesnya (Hamakonda & Tairas, 2012: 1). Pendefinisian serupa juga disampaikan oleh Darmono (2007: 113), Sutarno (2006: 180), Lasa (2007: 66), Soeatminah (2000: 81), Mijburga, et al. (2001: 81); dan Mohamad (2019: 56). Para petugas perpustakaan atau pustakawan menyatukan koleksi-koleksi perpustakaan yang memiliki subjek, divisi, seksi hingga sub seksi yang sama ke satu tempat atau rak yang sama. Setiap koleksi dilakukan analisis terkait notasi yang sesuai untuk masing-masing koleksi. Notasi menurut kamus istilah perpustakaan, dokumentasi, informasi (Handisa, 2009: 35) memiliki arti “sistem menulis angka; penunjukan”. Notasi merupakan penunjuk “subjek dan hubungan antar subjek”. Notasi yang telah diperoleh setelah proses klasifikasi, selanjutnya diterakan pada sarana bantu temu kembali koleksi termasuk pada label buku yang disebut call number atau nomor panggil. Keberadaan nomor panggil tersebut merupakan sarana bantu bagi pustakawan saat menjajarkan koleksi ke rak-rak masing-masing koleksi. Sementara itu keberadaan call number memudahkan pemustaka mendapatkan koleksi yang mereka perlukan. (Lasa, 2007: 108). Terdapat beberapa sistem klasifikasi yang dapat digunakan untuk kegiatan tersebut. Sistem yang dimaksud antara lain Dewey Decimal Classification (DDC), Universal Dewey Classification (UDC), Library of Congress Classification (LCC), Bibliograpic Classification (BC), Colon Classifiaction, Klasifiksi Islam (Darmono, 2007: 118-119; Sutarno, 2006: 181; Lasa, 2007: 6; Soeatminah, 2000: 81 Mijburga et al., 2001: 81-82). Menurut Soeatminah (2000: 82) setiap perpustakaan memiliki keleluasaan untuk memilih sistem klasifikasi yang akan diterapkan. Mereka akan memilih dan menetapkan sistem klasifikasi yang sesuai dengan subjek hingga sub seksi koleksi yang dikoleksi oleh perpustakaan. Hamakonda dan Tairas (2012: 2) menyatakan, bahwa DDC merupakan salah satu sistem klasifikasi koleksi perpustakaan yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Disisi lain, Saputro (2017: 108) menyatakan, bahwa DDC atau UDC merupakan sistem klasifikasi yang lazim digunakan di perpustakaan-perpustakaan yang ada di Indonesia. Sementara itu Darmono (2007: 119) menyatakan, bahwa DDC merupakan sistem klasifikasi yang banyak digunakan di Indonesia. Diketahui, bahwa Lasa Hs melalui karyanya yang berjudul Manajemen Perpustakaan Sekolah pernah merekomendasikan penggunaan Klasifikasi Persepuluhan Dewey karya Towa P. Hamakonda dan J.N.B Tairas bagi perpustakaan sekolah di Indonesia Lasa (2007: 66). Tidak dijelaskan alasan rekomendasi tersebut. Nampaknya sarana bantu klasifikasi koleksi perpustakaan yang relatif mudah untuk digunakan pada saat itu (tahun 2007) adalah karya Towa P. Hamakonda dan J.N.B Tairas. DDC diciptakan oleh Melville Louis Kossuth Dewey dalam bentuk notasi persepuluhan pada tahun 1873 dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1876. DDC saat ini telah mencapai edisi ke-23. Hamakonda dan Tairas telah mengadaptasi DDC sejak DDC edisi ke-18, sementara itu buku yang dikutip oleh penulis adalah adaptasi DDC edisi ke-20. Berikut adalah 10 kelas utama dari DDC sebagaimana diadaptasi oleh Hamakonda dan Tairas (2012: 57) 000 – Karya umum 100 – Filsafat 200 – Agama 300 – Ilmu Sosial 400 – Bahasa 500 – Ilmu pengetahuan umum 600 – Ilmu pengetahuan terapan/teknologi 700 – Seni, olah raga 800 – Kesusasteraan 900 – Sejarah, geografi Setiap kelas utama dibagi menjadi 10 divisi. Berikut adalah contoh divisi dari kelas utama 300 sebagai hasil adaptasi Hamakonda dan Tairas (2012: 58 ) 300 – Ilmu-ilmu Sosial 310 – Statistik umum 320 – Ilmu politik 330 – Ilmu ekonomi 340 – Ilmu hukum 350 – Administrasi negara 360 – Layanan sosial, Asosiasi 370 – Pendidikan 380 – Perdagangan, komunikasi, transport 390 – Adat istiadat dan kebiasaan Setiap divisi dibagi menjadi 10 seksi. Berikut adalah contoh seksi dari divisi 340 sebagai hasil adaptasi Hamakonda dan Tairas (2012: 68) 340 – Ilmu hukum 341 – Hukum internasional 342 – Hukum konstitusional dan administratif 343 – Aneka ragam hukum publik 344 – Hukum sosial 345 – Hukum pidana 346 – Hukum perdata 347 – Hukum acara perdata dan pengadilan 348 – Undang-undang, peraturan-peraturan, perkara-perkara 349 – Hukum negara dan bangsa tertentu Seksi yang telah terbentuk dalam bagan sistem klasifikasi dapat diperluas lagi dalam 10 kelipatan menjadi sub seksi. Tata cara penulisannya adalah dengan memberikan tanda titik setelah angka ketiga pada notasi. Pustakawan juga diberikan keleluasaan untuk menambahkan angka sesuai kebutuhan setelah tanda titik tersebut (Hamakonda dan Tairas, 2012: 6). Berikut adalah contoh sub seksi dari seksi 343 dan tata cara penulisannya sebagai hasil adaptasi oleh Hamakonda dan Tairas (2012: 109110) 343 – Aneka ragam hukum publik .01 Hukum veteran dan hukum militer dan pertahanan .02 Hukum tentang hak milik umum .03 Hukum tentang keuangan negara .04 Hukum pajak .05 Jenis-jenis pajak menuuurut dasar Pajak penghasilan, pajak milik, cukai dan sebagainya .07 Peraturan tentang kegiatan ekonomis .08 Peraturan tentang perdagangan .09 Pengawasan kegunaan umum Pengawasan persediaan air dan tenaga, pengawasan pengangkutan dan komunikasi Dari paparan sebelumnya diketahui, bahwa DDC sebagai sarana bantu untuk menentukan klasifikasi dari suatu koleksi perpustakaan berupa bagan yang terdiri dari 10 kelas utama, 100 sub divisi, 1000 seksi. Bahkan seksi masih bisa dikembangkan menjadi sub seksi sesuai kebutuhan masing-masing perpustakaan. Dengan demikian siapapun yang melaksanakan tugas mengklasifikasi koleksi perpustakaan harus memiliki keahlian menghafal notasi di dalam DDC. Sehubungan dengan peluang kesulitan yang dihadapi oleh para pustakawan maupun orang-orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal Ilmu Perpustakan maupun pelatihan tentang keperpustakaan dalam menentukan subjek suatu koleksi perpustakaan, maka Rotmianto Mohamad dan kawan-kawan mengembangkan DDC untuk mengklasifikasikan koleksi perpustakaan di Indonesia dalam bentuk aplikasi dengan nama e-DDC (electronic Dewey Decimal Classification). e-DDC versi 1.1. dibuat sejak tahun 2009 dan dirilis pada tanggal 17 April 2010 dengan nama e-DDC. E-DDC pertama hingga ke-5 mengadaptasi DDC edisi ke 22. Setelah itu versi ke-6 hingga ke-14 mengadaptasi e-DDC edisi ke 23. e-DDC versi ke-14 diberi nama electronic class (e-Class) yang dibaca IKHLAS dan dirilis pada tanggal 22 Februari 2022. Setiap versi yang diluncurkan merupakan perbaikan terhadap versi sebelumnya, sehingga siapapun dapat melaksanakan klasifikasi dengan mudah (Mohamad, R, 2019: 57; Mohamad R., 2022 http://www.e-ddc.web.id/). DDC dalam bentuk elektronik ini mudah diakses, mudah diunduh dan tidak dipungut biaya. Siapapun diharapkan dapat lebih mudah melaksanakan klasifikasi koleksi perpustakaan dengan menggunakan aplikasi ini. Para mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Perpustakaan FIB Undip yang melaksanakan pendampingan klasifikasi koleksi di SD Negeri Manyaran 01 Semarang menggunakan sarana bantu DDC elektronik karya Rotmianto Mohamad. Diketahui, mereka masih mengalami beberapa kali kesulitan untuk menentukan subjek di awal kegiatan. Kesulitan terjadi ketika menjumpai judul yang membingungkan, sehingga memerlukan waktu yang relatif lebih lama untuk menentukan subjeknya. Namun, kesulitan tersebut berangsur memudar ketika mereka telah terlatih melaksnakan klasifikasi dihari-hari selanjutnya. Para mahasiswa yang sedang dalam proses belajar ini merupakan representasi petugas perpustakaan yang belum terlatih melaksanakan klasifikasi koleksi perpustakaan. Ketidakmampuan melakukan klasifikasai koleksi perpustakaan berpotensi terhadap operasionalisasi perpustakaan. Sumber dari artikel jurnal menunjukkan adanya perpustakaan sekolah dasar di Kota Banda Aceh, Kabupaten Bone, dan Kota Singaraja yang mengalami permasalahan dalam operasionalisasi perpustakaan meskipun telah memiliki ruang perpustakaan. Pertama, Musliadi (2018: 56 – 58) pada tanggal 7 hingga 9 September 2016 melaksanakan penelitian dengan judul “Analisis Pelatihan Pengelolaan Perpustakaan dan Kaitannya Terhadap Kemampuan Teknis Pengelola Perpustakaan Madrasah di Banda Aceh”. Dari kegiatan tersebut diketahui: (1) pengelola sekolah adalah guru, (2) pengelola sekolah tidak memiliki latar belakang Ilmu Perpustakaan, (3) pengelola perpustakaan sekolah diberikan pelatihan tentang perpustakaan, (4) pengelola perpustakaan tidak menerapkan hasil pelatihan tidak mengimplementasikan hasil pelatihan dalam tugas mereka di perpustakaan. Akibatnya muncul masalah di perpustakaan, antara lain: (1) notasi tidak tepat, (2) kartu katalog tidak tepat, (3) penguasaan automasi masih sangat rendah. Kedua, Syahwal (2015: 48) pada tanggal 14 April hingga 10 Mei 2015 melaksanakan penelitian dengan judul “Sistem Klasifikasi Bahan Perpustakaan pada Perpustakaan SD Inpres 12/79 Pattuku Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone”. Dari kegiatan tersebut diketahui: (1) perpustakaan SD tersebut merupakan didirikan bersamaan dengan didirikan SD terbut pada tanggal 20 Maret 1990, (2) ruang perpustakaan semula menyatu dengan ruang guru, namun akhirnya sekolah tersebut berhasil memiliki ruang khusus untuk perpustakaan meskipun belum kondusif, (3) koleksi penunjang pembelajaran memadai, (4) pengelola perpustakaan adalah seorang guru kelas yang tidak memiliki latar belakang ilmu perpustakaan maupun pelatihan perpustakaan. Ketiga, Artana (2017: 77) pada tanggal 25 September 2012 melaksanakan pelatihan dengan judul “Pelatihan Klasifikasi Buku dan Pembuatan Kartu Katalog Buku Bagi Petugas Perpustakaan Sekolah Tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kota Singaraja”. Dari kegiatan diketahui: (1) petugas perpustakaan belum memiliki kemapuan dan keterampilan mengolah koleksi perpustakaan, (2) belum nmemiliki alat bantu pengolahan buku, seperti: pedoman klasifikasi persepuluhan Dewey (buku DDC), pedoman tajuk subjek (Subject Heading), dan pedoman katalogisasi, (3) koleksi perpustakaan sekolah diolah secara sederhana, yaitu memisahkan antara buku fiksi dan nin fiksi, (4) notasi koleksi berdasar nomor buku inventaris, (5) belum ada kartu katalog, (6) koleksi dalam keadaan terjajar di rak tetapi tidak rapi. Fenomena di perpustakaan sekolah-sekolah dasar di Kota Banda Aceh, Kabupaten Bone, Kota Singaraja serupa dengan observasi awal pada tanggal 21 Oktober 2021 di perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang. Sekolah dasar ini ketika didirikan pada awal tahun 1970 an merupakan SD Negeri Inpres. Ruang perpustakaan mula-mula masih menyatu dengan ruang guru, namun pada tahun 2018 berhasil memiliki ruang khusus untuk perpustakaan yang representatif. Pengadaan ruang tersebut merupakan bagian dari bantuan Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Fasilitas yang melekat pada ruang tersebut adalah: ruang perpustakaan lengkap dengan jendela maupun pendingin udara, koleksi perpustakaan banyak, ruang dan meja kerja pengelola perpustakaan, rak perpustakaan, meja baca pemustaka (Handayani, 2021: 637) Wawancara peneliti kepada Pravitasari pada tanggal 29 Juli 2022 menunjukkan, bahwa alat penunjang seperti Buku Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey karya Hamakonda dan Tairas telah dia siapkan tetapi hampir tidak pernah difungsikan, karena Pravitasari selaku operator sekolah dan guru berfokus sesuai tupoksi mereka, bukan mengelola perpustakaan. Sarana bantu lainnya seperti pedoman tajuk subjek, pedoman katalogisasi belum dimiliki. Kelemahan selanjutnya adalah perpustakaan tidak dilengkapi dengan pegawai dengan latar belakang pendidikan di bidang ilmu perpustakan atau pelatihan perpustakaan yang khusus ditugaskan untuk mengelola perpustakaan. Pegawai dengan latar belakang pendidikan Diploma II Perpustakaan tidak ditempatkan di perpustakaan namun sebagai operator sekolah. Pengelola perpustakaan adalah para guru yang diberikan tugas tambahan mengelola perpustakaan. Para guru tersebut adalah: Tabel 1. Pengelola Perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang No. Nama Usia Pendidikan Pekerjaan 1 Sarmiyatun 55 tahun PGSD Guru Kelas 2 2 Aprilia Dini 24 tahun PGSD Guru Kelas 2 3 Pravita Rachmawati 30 tahun D2 Perpustakaan Tenaga Operator 4 Tri Nur Aisyah, S.Pd. 28 tahun S1 Guru Kelas 5 Devi Kristin Lumentut, S.Pd. 25 tahun S1 Guru Berdasar pada paparan sebelumnya, diketahui bahwa bidang kerja perpustakaan relatif cukup menantang. Pada konteks penelitian ini adalah perpustakaan sekolah. Diperlukan dukungan terhadap pekerjaan berupa sarana, prasarana, perhatian dari teman kerja, pimpinan sekolah, maupun latar belakang keilmuan sebagai pengelola perpustakaan. Latar belakang pengelolaan perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang cukup memberikan alasan mengapa perlu dilakukan pendampingan terhadap pengelola perpustakaan sekolah tersebut dalam melaksanakan klasifikasi koleksi perpustakaan. Kepada para pengelola perpustakaan diberikan pengetahuan tentang DDC, elektonik DDC, cara menggunakan DDC, cara memverifikasi antara koleksi yang telah diberikan notasi dengan data pada Buku Inventaris, serta cara menjajarkan koleksi pada rak koleksi. Meskipun para pengelola tidak bisa fokus dalam kegiatan ini, namun setidaknya mereka pernah diberikan pengetahuan tentang klasifikasi koleksi perpustakaan secara menyeluruh. Pendampingan klasifikasi koleksi perpustakaan melibatkan tujuh mahasiswa program studi S1 Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. Empat mahasiswa telah melampaui semester ke-4, tiga mahasiswa telah melampaui semester ke-2. Mereka telah mendapatkan ilmu yang terkait dengan klasifikasi koleksi perpustakaan, namun mereka belum pernah terlibat dalam kegiatan sebesar dan sekomplek ini. Pendampingan yang berlangsung selama 20 hari efektif sejak tanggal 27 Juli hingga 20 Agustus 2022 tentu memberikan pengalaman yang mengesankan bagi mereka, baik tentang pengalaman praktis melaksanakan klasifikasi terhadap ribuan koleksi secara bersama-sama, atmosfir lingkungan pendidikan dasar, dan atmosfir kerja tim membekas dalam ingatan mereka. Ingatan ini akan membangkitkan persepsi mereka terhadap klasifikasi dan kegiatan klasifikasi yang telah mereka kerjakan bersama-sama (Saleh, 2018: 66). 2. Landasan Teori A. Persepsi Persepsi ditinjau dari psikologi memiliki arti “suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indra atau juga disebut proses sensoris” (Saleh, 2018: 79). Stimulus memiliki arti organ penerima stimulus yang dipersepsi melalui alat indera (Saleh, 2018: 69). Dari pengertian-pengertian tersebut diketahui bagaimana manusia mendapatkan persepsi. Mata merupakan alat indera manusia yang digunakan oleh para mahasiswa program studi S1 Ilmu Perpustakaan FIB Undip dalam proses menilai klasifikasi yang tepat terhadap koleksi perpustakaan milik perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang yang sedang mereka klasifikasikan. Kata nilai dalam konteks penelitian ini ditinjau dari psikologi menunjukkan subjek yang sesuai untuk suatu koleksi menurut ingatan orang yang melaksanakan klasifikasi terhadap bagan klasifikasi. Dari pengertianpengertian tersebut, maka kita dapat mengetahui, bahwa para mahasiswa melalui ujung saraf mata mereka menerima informasi tentang apa yang mereka baca. Informasi yang mereka terima kemudian “diberikan nilai” menurut ketentuan dalam ilmu perpustakaan terkait langkah-langkah untuk menentukan kelas koleksi pustaka berdasar subjeknya. Objek penelitian ini adalah tentang persepsi. Sehubungan dengan objek yang diteliti berkaitan keahlian seseorang dalam melaksanakan klasifikasi koleksi perpustakaan yang relatif memerlukan daya ingat terhadap klasifikasi sebagaimana dicantumkan dalam DDC, maka penelitian ini akan menggunakan aspek gejala kognitif, khususnya tentang ingatan. Seseorang memerlukan “objek stimulus” agar dia atau mereka mampu memanggil kembali ingatannya terhadap sesuatu yang pernah di masa sebelumnya (Saleh, 2018: 74). Objek yang menjadi stimulus dalam penelitian ini adalah DDC. B. Klasifikasi Klasifikasi merupakan kegiatan pengumpulan koleksi pustaka dengan ciri yang sama. Tujuan kegiatan ini agar pustakawan mudah ketika menjajarkan koleksi ke rak koleksi, sementara itu pemustaka juga mudah mendapatkan koleksi yang diperlukan. Pelaksanaan terhadap kegiatan klasifikasi diperlukan sarana bantu sistem klasifikasi. Sistem klasifikasi yang telah kita kenal antara lain DDC, UDC, LCC, BC, Colon Classification, Klasifikasi Islam, dan Klasifikasi Perpustakaan Arkeologi (Darmono, 2007: 118-119; Sutarno, 2006: 181; Lasa, 2007: 66; Soeatminah, 2000: 81; Mijburga et al, 2001: 81-82; Saputro, 2017; 108, Mohamad, 2017: 56). Sistem klasifikasi yang digunakan oleh para informan dalam kegiatan penelitian ini adalah DDC dalam bentuk aplikasi yang diciptakan oleh Rotmianto Mohamad (Mohamad, 2017: 57). DDC merupakan bagan klasifikasi yang tersusun secara hierarki. Langkah-langkah analisis yang harus dilakukan oleh seseorang ketika akan menentukan kelas suatu koleksi perpustakaan terdiri dari tujuh langkah alternatif. Ketujuh langkah tersebut merupakan analisis terhadap: (1) Judul buku, (2) Kata pengantar, (3) Daftar isi buku, (4) Bibliografi, (5) Pendahuluan, (6) Membaca teks buku secara keseluruhan atau sebagian, (7) Meminta bantuan dari seseorang yang ahli dalam menilai subjek yang dikandung dalam suatu pustaka. Langkah ketujuh merupakan alternatif pilihan apabila seseorang yang sedang melakukan klasifikasi koleksi pustaka benar-benar kesulitan menentukan subjeknya. Setelah mendapatkan subjek dari suatu koleksi perpustakaan, maka orang yang mengerjakannya dapat menetapkan “nilai” subjek koleksi tersebut. “Nilai” yang ditangkap oleh otak orang tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk notasi. Notasi tersebut diperoleh dari bagan klasifikasi (Darmono, 2007: 115 dan 118).

Method

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualititatif untuk mengetahui persepsi mahasiswa program studi S1 Ilmu Perpustakaan FIB Undip terhadap kegiatan klasifikasi koleksi di perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang selama kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 27 Juli hingga 20 Agustus 2022 selama 20 hari efektif. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah observasi, dokumen dan wawancara (Herdiansyah, H., 2011: 117-151). Peneliti menggunakan metode observasi dengan cara memperhatikan dan mengikuti seluruh aktifitas mahasiswa ketika melaksanakan penetapan subjek koleksi perpustakaan hingga ke rincian yang paling rinci. Peneliti melihat para mahasiswa tersebut mendiskusikan dan memutuskan bersama-sama tentang apa yang akan dilakukan. Namun, dalam perjalanan waktu diketahui terdapat satu mahasiswa yang lebih kuat pengetahuan dan pengalamannya tentang klasifikasi koleksi perpustakaan dibanding anggota tim yang lain. Pada akhirnya mahasiswa tersebut menjadi tempat untuk berkonsultasi anggota tim yang lain bila muncul keraguan terhadap subjek maupun notasi koleksi perpustakaan yang sedang dilakukan klasifikasi. Metode pengumpulan data kedua adalah peneliti melakukan studi dokumentasi terhadap draft Buku Inventaris/Buku Induk yang dihasilkan oleh tim lain yang juga dikoordinir oleh peneliti pada semester gasal 2021/2022. Dokumen tersebut menjadi petunjuk bagi tim tentang sebaran subjek dan jumlah koleksi perpustakaan milik SD Negeri Manyaran 01 Semarang. Metode pengumpulan data ketiga adalah peneliti menggunakan metode wawancara tidak terstruktur kepada para mahasiswa sebagai informan dalam penelitian ini. Nama masing-masing informan adalah nama yang disamarkan sebagaimana tampak pada tabel 2. Tabel 2. Informan Penelitian No. Informan Deskripsi 1. Joko Mahasiswa program studi S1 Ilmu Perpustakaan yang terdaftar sebagai mahasiswa pada tahun ajaran 2020/2021 2. Sri Mahasiswa program studi S1 Ilmu Perpustakaan yang terdaftar sebagai mahasiswa pada tahun ajaran 2020/2021 3. Sari Mahasiswa program studi S1 Ilmu Perpustakaan yang terdaftar sebagai mahasiswa pada tahun ajaran 2020/2021 4. Heru Mahasiswa program studi S1 Ilmu Perpustakaan yang terdaftar sebagai mahasiswa pada tahun ajaran 2020/2021 5. Siti Mahasiswa program studi S1 Ilmu Perpustakaan yang terdaftar sebagai mahasiswa pada tahun ajaran 2021/2022 6. Titik Mahasiswa program studi S1 Ilmu Perpustakaan yang terdaftar sebagai mahasiswa pada tahun ajaran 2021/2022 7. Wiwik Mahasiswa program studi S1 Ilmu Perpustakaan yang terdaftar sebagai mahasiswa pada tahun ajaran 2021/2022 Wawancara tidak terstruktur berlangsung selama kegiatan pendampingan klasifikasi perpustakaan berlangsung sejak tanggal 27 Juli hingga 20 Agustus 2022 (20 hari efektif). Wawancara dilakukan kepada para mahasiswa untuk mengetahui bagaimana mereka berkomunikasi satu sama lain sebagai satu tim, bagaimana mereka berkoordinasi, bagaimana mereka menetapkan langkah pertama dalam kegiatan klasifikasi koleksi perpustakaan, bagaimana mereka menyelesaikan masalah. Selanjutnya, peneliti mengumpulkan data melalui kuesioner kepada mereka untuk memperkuat seluruh proses penelitian tersebut. Terdapat tujuh pertanyaan terbuka yang diberikan kepada ketujuh mahasiswa. Setiap jawaban dilakukan analisis kemudian dideskripsikan. Tujuh petanyaan tersebut terdapat pada butir pertanyaan ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, ke-7, ke-9 Sementara itu terdapat dua pertanyaan tentang kemampuan klasifikasi mahasiswa yang diukur dari level 1 sampai dengan 10. Dua pertanyaan ini merupakan pertanyaan tertutup. Jawaban yang disampaikan menunjukkan persepsi tingkat kemampuan mahasiswa terhadap klasifikasi koleksi. Level 1 menunjukkan persepsi mahasiswa, bahwa kemampuan klasifikasinya paling rendah. Sebaliknya level 10 menunjukkan persepsi mahasiswa, bahwa kemampuan klasifikasinya paling tinggi. Dua pertanyaan tersebut terdapat pada butir pertanyaan ke-1 dan ke-6. Selanjutnya satu pertanyaan tertutup tentang tingkat kerumitan klasifikasi koleksi di perpustakaan SD dibanding perpustakaan perguruan tinggi . Level 1 menunjukkan persepsi mahasiswa, bahwa tingkat kerumitan klasifikasi di perpustakaan SD lebih rendah dibandingkan dengan tingkat kerumitan klasifikasi di perguruan tinggi. Level 10 menunjukkan persepsi mahasiswa, bahwa tingkat kerumitan klasifikasi di perpustakaan SD lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat kerumitan klasifikasi di perguruan tinggi. Pertanyaan tersebut terdapat pada butir pertanyaan ke-8.

Result & Discussion

A. Profil Koleksi Perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang Profil koleksi perpustakaan milik SD Negeri Manyaran 01 Semarang terbagi menjadi dua kategori, yaitu (1) koleksi yang sudah tidak digunakan lagi (out of date) ditinjau dari aspek kurikulum tetapi masih bisa digunakan sebagai bahan belajar bagi peserta didik, (2) koleksi yang masih update ditinjau dari: (a) aspek tahun terbit, (b) aspek isi. Penetapan kategori koleksi perpustakaan merupakan keputusan yang diambil secara bersama oleh tim dan pengelola perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang setelah dilakukan observasi dan pencatatan ke dalam buku inventaris/buku induk pada semester gasal 2021/2022. Kedua kategori tersebut dicatat ke dalam dua buku inventaris/buku induk yang berbeda. Buku inventaris/buku induk I untuk mencatat koleksi dengan kategori update. Sementara itu buku inventaris/buku induk II untuk mencatat koleksi dengan kategori out of date. (Handayani, T, 2022: 240). Profil koleksi perpustakaan milik SD Negeri Manyaran 01 Semarang menurut kategori dan jenis koleksi nampak pada tabel 3. Tabel 3. Kategori dan Jenis Koleksi Perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang Kategori Lokasi Pencatatan Jenis Jumlah dan satuan Koleksi update Buku Inventaris/Buku Induk I Referensi 72 buah Ensiklopedi 55 buah Buku Bacaan 3282 buah Keterampilan 54 buah Kamus 2 buku Jumlah 3465 buah Koleksi out of date Buku Inventaris/Buku Induk II Terbitan Berkala/Majalah 219 buah Terbitan Berkala/Bulletin 22 buah Terbitan Berkala/Jurnal 3 buah Lembar Kerja Siswa 20 buah Buku Teks/Paket 1117 buah Buku Pegangan Guru 229 buah Kurikulum 26 buah Jumlah 1636 buah Profil koleksi perpustakaan sebagaimana nampak pada tabel 3 masih akan dilakukan verifikasi kembali sebagai bagian dari quality control terhadap kegiatan klasifikasi yang telah dilakukan. B. Persepsi Mahasiswa Prodi S1 Ilmu Perpustakaan terhadap kegiatan klasifikasi koleksi perpustakaan milik SD Negeri Manyaran 01 Semarang Penelitian ini merupakan penelitian yang tujuannya untuk mengetahui persepsi mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Perpustakaan terhadap kemampuan klasifikasi mereka setelah mengikuti kegiatan pendampingan klasifikasi koleksi perpustakaan milik SD Negeri Manyaran 01 Semarang. Mereka berjumlah tujuh orang dengan rincian empat orang berasal dari angkatan masuk sebagai mahasiswa pada tahun akademik 2020/2021, sementara itu tiga orang berasal dari angkatan masuk sebagai mahasiswa pada tahun akademik 2021/2022. Kedua angkatan tersebut sama-sama telah melampaui mata kuliah yang berkaitan dengan klasifikasi koleksi perpustakaan. Jawaban-jawaban yang mereka berikan dimuat dalam bentuk tabel. Selanjutnya hasil jawaban dideskripsikan oleh peneliti berbasis bidang psikologi karena bidang tersebut yang mempelajari tentang persepsi. Tabel 4. Persepsi informan tentang kemampuan klasifikasi (dinyatakan dalam level 1 hingga 10) Informan Level Joko 8 Sri 5 Sari 2 Heru 4 Siti 5 Titik 4 Wiwik 5 Berdasar pada tabel 4 diketahui, bahwa angkatan masuk bukan merupakan ukuran kepercayaan diri mahasiswa dalam mengklasifikasi koleksi perpustakaan. Data pada tabel tersebut merupakan data yang menunjukkan persepsi informan mengenai kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan yang memerlukan keahlian mengklasifikasi koleksi perpustakaan. Terdapat satu reponden yang merasa keahlian mengklasifikasinya berada pada level 8. Ditinjau dari bidang psikologi, bisa jadi informan tersebut memiliki kategori short-term store. Apa yang dipersepsi dalam ingatannya akan dimunculkan lagi dalam jarak waktu yang singkat. Sebaliknya bagi informan yang menjawab keahlian mengklasifikasinya ada di level 2, maka informan tersebut memiliki kategori long-term store. Data tabel 1 menunjukkan dua informan menjawab keahlian mengklasifikasinya ada di level empat, dan tiga infomran menjawab level lima. Artinya, kelima informan tersebut memiliki persepsi, bahwa keahlian mereka dalam mengklasifikasi koleksi berada di level antara long-term store dan short-term store. (Saleh, 2018: 68-69). Tabel 5. Persepsi informan terhadap kesulitan klasifikasi Informan Kesulitan Joko Mengklasifikasi koleksi berjenis novel fiksi, kesulitan menyamakan pendapat dengan tim Sri Menetapkan subjek, kesulitan menyamakan pendapat dengan tim Sari Menetapkan subjek, kesulitan menyamakan pendapat dengan tim Heru Menetapkan subjek, kesulitan menyamakan pendapat dengan tim Siti Menetapkan subjek Titik Menetapkan subjek dasar, divisi, seksi Wiwik Menetapkan subjek Berdasar pada tabel 5 diketahui, bahwa mereka mayoritas memiliki kesulitan yang sama yaitu menetapkan klasifikasi (subjek utama, divisi, seksi, sub seksi). Permasalahan yang dihadapi para informan nampak masih sama dengan masalah ingatan (Saleh, 2018: 72). Para informan perlu melatih keahlian mereka dalam mengklasifikasi koleksi perpustakaan, sehingga jejak ingatan tentang subjek yang pernah diklasifikasi akan terpanggil lagi dari ingatan mereka. Dengan kata lain, semakin banyak berlatih, semakin mahir mengerjakannya. Tabel 6. Persepsi informan terhadap subjek diklasifikasi Informan Subjek Joko Dua pilihan: karya umum atau koleksi anak Sri Buku bacaan Sari Ilmu Sosial Heru Dua pilihanL mata pelajaran SD atau subjek (misal: IPA, IPS, dan lain-lain) Siti -terlewatTitik Agama, Ilmu Komputer, Science Wiwik Fiksi, misteri Berdasar pada tabel 6. diketahui, bahwa masing-masing informan memiliki kesulitan mengklasifikasi subjek yang berbeda. Perbedaan subjek yang menurut para informan sulit untuk di klasifikasikan bisa jadi karena koleksi yang mereka klasifikasi menyebar, karena koleksi perpustakaan cukup banyak dan luas subjek utama, divisi, seksi maupun sub seksinya. Data tabel 6 ditinjau dari bidang psikologi menunjukkan persepsi para informan terhadap subjek koleksi perpustakaan yang mereka klasifikasikan. Saleh (2018: 72) menyampaikan bahwa persepsi yang diterima dalam ingatan akan memunculkan jejak. Dalam konteks ini, para informan telah melakukan kegiatan klasifikasi terhadap koleksi perpustakaan di sekolah yang sama secara berkelanjutan dalam waktu tertentu. Kegiatan ini meninggalkan jejak dalam ingatan mereka termasuk ingatan tentang subjek yang sulit untuk ditetapkan klasifikasinya. Tabel 7. Persepsi informan terhadap solusi menetapkan subjek klasifikasi Informan Subjek Joko (1) Diskusi dengan tim, (2) membaca isi buku Sri Diskusi dengan anggota tim Sari Diskusi dengan anggota tim yang lebih paham tentang klasifikasi Heru Membaca isi buku Siti Diskusi dengan anggota tim Titik (1) memeriksa melalui e-DDC, (2) Diskusi dengan anggota tim yang lebih paham tentang klasifikasi Wiwik Diskusi dengan anggota tim yang lebih paham tentang klasifikasi Berdasar pada tabel 7 diketahui, bahwa mayoritas informan memilih untuk berdiskusi dengan anggota tim khususnya anggota tim yang menurut informan lebih paham tentang klasifikasi subjek pada koleksi yang sedang diklasifikasi ketika mereka mengalami kesulitan untuk menetapkan klasifikasi subjek. Disisi lain, terdapat dua informan dari angkatan masuk sebagai mahasiswa tahun 2020 yang juga menerapkan teori mengklasifikasi perpustakaan berupa membaca isi buku. Data pada tabel 7 ditinjau dari bidang psikologi menunjukkan, bahwa para informan mengalami “problem psikologis”. Mereka perlu usaha agar subjek yang pernah dipersepsi (dalam konteks ini adalah diklasifikasi), dapat cepat masuk tersimpan dalam ingatan para informan dan disimpan dengan baik (Saleh, 2018: 71) Tabel 8. Persepsi informan terhadap subjek yang mudah untuk diklasifikasi Informan Subjek Joko (1) Pendidikan, (2) Sosial karena subjek mudah diketahui dari judul, dan daftar isi Sri Buku teks (Buku Paket) karena subjeknya sesuai dengan isi mata pelajarannya Sari Agama (tanpa penjelasan alasan) Heru Sastra karena kelas 800 khusus untuk kesusatraan Siti Karya Sastra Indonesia karena kelasnya hanya disekitar 899 Titik Fiksi, bahasa, literature karena topiknya tidak terlalu rumit sehingga mudah ditetapkan klasifikasinya. Wiwik Science karena topiknya jelas sehingga mudah ditetapkan klasifikasinya Berdasar pada tabel 8 diketahui, bahwa para informan mengklasifikasi koleksi yang relatif berbeda subjeknya. Indikasi terlihat dari subjek yang menyebar. Mereka menyatakan koleksi perpustakaan mudah diketahui subjeknya karena didukung oleh judul, daftar isi, topik. Data ini sesuai strategi untuk mengetahui isi buku sebagaimana disampaikan oleh Darmono (2007: 116). Urut-urutan langkah yang disampaikan oleh Darmono merupakan urut-urutan langkah dari yang paling mudah hingga yang paling sulit untuk mengetahui isi buku, yaitu: (1) Judul buku, (2) Kata pengantar, (3) Daftar isi buku, (4) Bibliografi, (5) Pendahuluan, (6) Membaca teks buku secara keseluruhan atau sebagian. Jika dengan enam langkah tersebut masih belum yakin dengan subjeknya, maka pengklasifikasi dapat meminta bantuan dari seseorang yang ahli dalam menilai subjek yang dikandung dalam suatu pustaka. Data tabel 8 ditinjau dari bidang psikologi menunjukkan persepsi para informan terhadap subjek koleksi perpustakaan yang mereka klasifikasikan. Kegiatan klasifikasi yang berkelanjutan meninggalkan jejak dalam ingatan para informan (Saleh, 2018: 72). Data tabel 8 menunjukkan jejak ingatan para informan tentang subjek yang mudah untuk ditetapkan klasifikasinya oleh mereka. Tabel 9. Persepsi informan tentang kemampuan mengklasifikasi (dinyatakan dalam level 1 hingga 10) Informan Level Joko 9 Sri 8 Sari 8 Heru 8 Siti 7 Titik 7 Wiwik 8 Berdasar pada tabel 9 diketahui, bahwa persepsi mahasiswa terhadap kemampuan diri mereka dalam mengklasifikasi koleksi perpustakaan setelah melaksanakan pendampingan penetapan koleksi perpustakaan di SD Negeri Manyaran 01 Semarang mengalami lompatan level yang jauh dibandingkan persepsi sebelum mereka melaksanakan kegiatan tersebut. Sampai pada tahap ini diketahui, bahwa kegiatan yang sama dan dilakukan secara berkelanjutan efektif untuk melatih kemampuan memanggil ingatan tentang klasifikasi yang pernah dilakukan sebelumnya. Tabel 10. Persepsi informan terhadap manfaat mengikuti kegiatan penetapan klasifikasi koleksi Informan Level Joko (1)mudah untuk mengklasifikasi koleksi tanpa melihat nomor umum klasifikasi di ddc. (2) Mengetahui jenis koleksi perpustakaan di sekolah dasar Sri 1. Mengasah keahlian klasifikasi dan verifikasi buku sebelum dimasukkan ke rak 2. Mengasah kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara baik Sari Mengasah keahlian klasifikasi dan verifikasi buku sebelum dimasukkan ke rak Heru 1. Meningkatkan kemampuan mengklasifikasi 2. Meningkatkan kecepatan mengklasifikasi Siti Lebih paham tentang klasifikasi Titik Lebih paham tentang klasifikasi Wiwik Lebih paham tentang klasifikasi, input data, penata koleksi ke rak Berdasar pada tabel 10 diketahui, bahwa para informan memiliki persepsi, bahwa mereka mendapat manfaat dengan mengikuti kegiatan pendampingan penetapan klasifikasi koleksi perpustakaan di SD Negeri Manyaran 01 Semarang. Dengan kegiatan itu mereka menjadi lebih paham tentang klasifikasi dan pengklasifikasi koleksi perpustakaan. Persepsi para informan yang merasa mendapatkan manfaat dari kegiatan tersebut ditinjau dari bidang psikologi menunjukkan bahwa kegiatan klasifikasi yang berlangsung secara berkesinambungan di perpustakaan yang sama dan dalam waktu yang relatif panjang membuat ingatan para informan terhadap klasifikasi mulai melekat. Tabel 11. Persepsi informan terhadap tingkat kerumitan klasifikasi (dinyatakan dalam level 1 hingga 10) Informan Level Joko 4 Sri 5 Sari 5 Heru 6 Siti 5 Titik 5 Wiwik 5 Berdasar pada tabel 11 diketahui, bahwa rata-rata mereka menjawab level 5. Artinya para informan memiliki persepsi, bahwa para informan memiliki persepsi hampir tidak ada beda antara tingkat kerumitan mengklasifikasi koleksi perpustakaan sekolah dengan mengklasifikasi koleksi perpustakaan perguruan tinggi. Tabel 12. Persepsi informan tentang upaya untuk meningkatkan kemampuan klasifikasi Informan Pernyataan Joko (1)Memahami lebih detail sub disiplin ilmu dari koleksi yang ada. (2)Diperlukan kemampuan memahami subjek DDC 23 yang baik karena akan banyak kekeliruan pemahaman jika menemukan subjek yang sama. Sri (1) melakukan pelatihan lagi seperti mengikuti program magang ke perpustakaan lain (2) mengasah keahlian klasifikasi dengan membaca materi yang sudah ada Sari (1)Belajar lagi tentang klasifikasi karena klasifikasi berupa bagan subjek yang berjenjang (subjek utama, disvisi, seksi, sub seksi) (2) Mengikuti kegiatan klasifikasi lagi Heru Sangat perlu untuk menambah kemampuan, karena kekurangan saya di kecepatan mengklasifikasikan Siti Belajar lagi tentang klasifikasi Titik Belajar lagi tentang klasifikasi Wiwik Memperbanyak latihan mengklasifikasi koleksi perpustakaan Berdasar pada tabel 12 diketahui, bahwa pada umumnya para informan memiliki persepsi bahwa mereka harus belajar dan berlatih mengklasifikasi koleksi perpustakaan agar keahlian mengklasifikasi koleksi perpustakaan mereka meningkat. Persepsi ini sesuai dengan teori kognisi terkait ingatan sebagaimana dikemukakan oleh Woodworth dan Marquis pada tahun 1957 (Saleh, 2018: 67)

Conclusion

Persepsi mahasiswa program studi S1 Ilmu Perpustakaan FIB Undip terhadap pelaksanaan klasifikasi koleksi di perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang adalah, sebagai berikut: (1). Mayoritas mahasiswa memiliki persepsi, bahwa keahlian mereka dalam mengklasifikasi koleksi sebelum mengikuti mengikuti kegiatan penetapan klasifikasi koleksi adalah berada diantara level empat dan lima. Artinya mayoritas ingatan mahasiswa berada di posisi long-term store dan shortterm store. (2) Mayoritas mahasiswa harus rajin latihan mengklasifikasi koleksi perpustakaan agar jejak ingatan terhadap subjek yang pernah diklasifikasi akan lebih cepat terpanggil lagi dari ingatan mereka. (3) Para mahasiswa memiliki jawaban yang berbeda tentang persepsi mereka terhadap subjek yang sulit diklasifikasi. Dengan demikian mereka memiliki persepsi yang merata terhadap klasifikasi yang pernah dipersepsi. (4) Mayoritas mahasiswa mengalami “problem psikologis” terhadap kegiatan klasifikasi. Solusinya mereka harus rajin latihan mengklasifikasi koleksi perpustakaan untuk meningkatkan kepercayan diri. (5) Para mahasiswa memiliki jawaban yang berbeda tentang persepsi mereka terhadap subjek yang mudah diklasifikasikan. Dengan demikian mereka memiliki persepsi yang merata terhadap klasifikasi yang pernah dipersepsi. (6) Para mahasiswa memiliki persepsi , bahwa ingatan terhadap klasifikasi semakin mudah dipanggil ketika ingatan terhadap klasifikasi sering dipanggil. (7) Seluruh mahasiswa memiliki persepsi, bahwa mengikuti kegiatan penetapan klasifikasi koleksi memberi manfaat karena ingatan mereka terlatih untuk dipanggil. (8) Seluruh mahasiswa memiliki persepsi, bahwa kecepatan mengklasifikasi koleksi perpustakaan dipengaruhi oleh sering atau tidaknya klasifikasi sering dipanggil. (9) Seluruh mahasiswa memiliki persepsi, bahwa mereka perlu berlatih memanggil ingatan tentang klasifikasi untuk meningkatkan keahlian mereka dalam bidang tersebut. Saran Diharapkan perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang dilengkapi dengan sarana bantu klasifikasi terutama sarana bantu klasifikasi elektronik berbasis DCC edisi termutakhir, pedoman tajuk subjek, pedoman katalogisasi Kekurangan penelitian Lokus penelitian ini terbatas di lingkungan perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang, sehingga tidak dapat digeneralisasi untuk lingkungan perpustakaan SD laiannya Penelitian selanjutnya Topik penelitian tetap tentang persepsi klasifikasi koleksi perpustakaan SD tetapi lokus penelitian diperluas di SD se Kecapatan Semarang Barat atau di SD se Kota Semarang