Perilaku Pencarian Informasi sebagai Sumber Gagasan Penulisan Berita di Era Pandemi Covid-19: Studi Kasus “Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk” Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro
Abstrak
Dalam penulisan berita selama pandemi covid-19, anggota LPM Hayamwuruk harus melakukan pencarian informasi untuk memenuhi kebutuhan informasinya dalam penulisan berita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pencarian informasi sebagai sumber gagasan dalam penulisan berita di era pandemi covid-19 oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Hayamwuruk Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, menggunakan metode pengambilan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku pencarian informasi anggota LPM Hayamwuruk bermula dari penemuan informasi secara tidak di sengaja melalui obrolan dengan teman atau orang lain, media sosial, pemimpin redaksi, browshing, dan chatting. Informasi atau topik yang telah didapatkan oleh anggota LPM Hayamwuruk akan ditampung oleh pihak redaksi dan dilanjutkan mengadakan rapat redaksi untuk mendiskusikan informasi yang didapatkan oleh anggota LPM Hayamwuruk. Selanjutnya, anggota LPM Hayamwuruk akan melakukan pencarian informasi secara aktif dan pencarian informasi pendukung melalui wawancara dengan narasumber. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, anggota LPM Hayamwuruk akan melanjutkan menulis informasi yang telah didapatkan menjadi berita. Apabila terdapat kesalahan atau kelanjutan informasi dari berita yang telah dibuat, anggota LPM Hayamwuruk akan melakukan cross check dan pencarian berlanjut.
Abstract
In order to receive news regarding the covid-19 pandemic, members of LPM Hayamwuruk must collect information to meet their information needs and write news. This study aims to determine the behavior of seeking information as a source of ideas in news writing in the era of the covid-19 pandemic by the Hayamwuruk Student Press Institute (LPM), Faculty of Humanities, Diponegoro University. The research method used is a qualitative method with a case study approach, using data collection methods, namely observation, interviews, and documentation. Panliten blamed the information seeking behavior of LPM members Hayamwuruk diwiwiti saka finding information on Kanthi or not intentionally through chat with Karo Kanca Utawa wong liya, social media, editor-in-chief, browsing, and chatting. Information on the topic of Sing Wis being interviewed by members of LPM Hayamwuruk will be accommodated by the editors and followed up by an editorial meeting with Kanggo ndiskusika to share information with members of LPM Hayamwuruk. Even Salajengi, members of LPM Hayamwuruk will take part in the search for active kanthi information and supporting information through interviews with informants. Sawise, for information that is needed, members of LPM Hayamwuruk will damage the writing of information that can be retrieved. If there is an error, so that the continuation of the information on the story of Sing Wis, the member of LPM Hayamwuruk will carry out cross checks and follow-up searches.
Keywords:
information seeking behavior
· journalist
· student press
· news
Introduction
Di era pandemi covid-19 ini, informasi tetap menjadi hal utama yang dibutuhkan oleh semua masyarakat. Informasi menjadi kebutuhan yang mendasar untuk setiap individu dalam menunjang kegiatan sehari-harinya. Kebutuhan terhadap informasi dari setiap individu akan muncul disebabkan oleh adanya rasa keingintahuan setiap individu yang sangat tinggi bertujuan membantu dalam memajukan tingkat kehidupannya yang lebih baik. Kebutuhan informasi dari setiap individu tidak terbatas oleh waktu, karena setiap waktunya membutuhkan informasi untuk membantu aktivitas sehari-harinya termasuk dalam menyelesaikan pekerjaan dan mampu mengatasi masalah yang sedang dihadapinya. Informasi dapat membantu individu sebelum membuat keputusan atau melakukan suatu tindakan. Kebutuhan informasi diawali dengan adanya ketidakseimbangan terhadap informasi yang telah dimiliki dengan pengetahuan yang dibutuhkan oleh individu atau kelompok yang menginginkan informasi untuk kegiatan sehari-hari, tidak hanya itu saja melainkan juga untuk mengetahui perkembangan di lingkungan, dan menambah pengetahuan mengenai suatu hal yang dibutuhkan. Munculnya kebutuhan informasi disebabkan oleh adanya pemikiran setiap individu yang merasakan harus mendapatkan beberapa petunjuk untuk mempertimbangkan solusi dari masalah yang sedang dihadapi dengan mencari dari beberapa sumber yang ada (Rahmah & Rahmah, 2019). Setiap individu memiliki kebutuhan informasi yang berbeda dan beragam menyesuaikan dari aktivitasnya dan terjadinya kegiatan pencarian informasi yang tepat dengan kondisi lingkungan sekitarnya (Nurkomara, 2020). Dalam memenuhi kebutuhan informasinya, setiap individu akan melakukan kegiatan pencarian informasi. Adanya kegiatan pencarian informasi di saat pandemi ini semakin sering dilakukan oleh seluruh masyarakat guna memenuhi kebutuhannya. Pencarian informasi yang dilakukan akan menimbulkan suatu pola tingkah laku yang termasuk dalam tingkatan ruang lingkup kecil dengan adanya interaksi yang dilakukan oleh setiap individu dengan seluruh bentuk jaringan informasi. Perilaku pencarian informasi adalah tingkah laku pencarian di level mikro yang menampakkan setiap individu pada waktu melakukan interaksi dengan sistem informasi yang bertujuan dalam pemenuhan kebutuhannya. Menurut Riady dalam Wahyudin (2022) perilaku pencarian informasi merupakan tingkah laku individu dalam melakukan pencarian informasi guna memecahkan masalah, memahami permasalahan, menentukan fakta, menjawab tantangan yang dihadapi, dan menjawab dari suatu pertanyaan yang ada. Kegiatan pencarian informasi yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasi yang dibutuhkan. Hal ini, tidak terkecuali ketika individu memiliki tugas atau pekerjaan dalam menulis berita setiap harinya, salah satunya adalah lembaga pers mahasiswa (LPM) yang bergerak dalam bidang jurnalistik. Berawal dari adanya lembaga yang dapat menjadi tempat untuk menampung aspirasi mahasiswa yang disebut dengan lembaga pers mahasiswa (LPM) memiliki tujuan untuk menyebarkan informasi yang kredibel dan layak dijadikan sebagai berita karena berisikan informasi yang sesuai dengan fakta. Salah satu bentuk lembaga pers mahasiswa adalah Hayamwuruk yang merupakan lembaga pers yang berada di bawah naungan Fakultas Ilmu Budaya. LPM Hayamwuruk mengangkat topik berita secara meluas, tidak hanya mengangkat berita mengenai bidang keilmuan tertentu sesuai dengan fakultas tempat LPM Hayamwuruk tersebut berada sehingga tidak kalah dengan pers mahasiswa lainnya. LPM Hayamwuruk lebih menggerakkan dan menginspirasi mahasiswamahasiswa yang ada di fakultas-fakultas lain serta mahasiswa-mahasiswa yang ada di Semarang, karena para anggota LPM Hayamwuruk juga ikut dalam gerakan-gerakan sosial lainnya sehingga dapat membantu para mahasiswa untuk berpikir kritis. Mahasiswa yang tergabung di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Hayamwuruk dapat disebut sebagai jurnalis yang memiliki tugas dalam kegiatan mencari berita, pengumpulan data-data atau informasi, penulisan berita, hingga menerbitkan berita. LPM Hayamwuruk memiliki kebutuhan informasi yang harus dipenuhi setiap harinya untuk mendapatkan gagasan dalam penulisan berita. Saat memenuhi kebutuhannya tersebut, mereka akan melakukan pencarian informasi. Usaha pencarian informasi ini dilakukan oleh semua anggota LPM Hayamwuruk untuk mendukung dalam penulisan berita yang akan dibuat sehingga berita yang dibuat dan disebarkan ke masyarakat memiliki kualitas yang baik. Mereka membutuhkan informasi guna membantu menumbuhkan ide atau mendapatkan gagasan mengenai suatu objek yang nantinya akan dibuat menjadi berita. Lembaga pers mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menulis berita yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat di masa pandemi covid-19. Perilaku pencarian informasi yang dilakukan oleh LPM Hayamwuruk ini mengalami perbedaan ketika sebelum dan sesudah pandemi covid-19. Hal ini, dibuktikan dari adanya anggota LPM Hayamwuruk yang mengatakan bahwa perilaku pencarian informasi sebelum dan sesudah pandemi covid19 ini terdapat perbedaan. Sebelum pandemi covid-19, anggota LPM Hayamwuruk dengan mudah mencari dan mendapatkan informasi yang dibutuhkan dengan melihat lingkungan sekitar dan dapat langsung mendiskusikan kepada anggota yang lain. Namun, di saat pandemi muncul, ruang gerak dari anggota LPM Hayamwuruk menjadi terbatas, karena tidak dapat menggali informasi secara mendalam. Selain itu, LPM Hayamwuruk secara aktif masih menuliskan berita yang akan disebarluaskan ke mediamedia yang dimilikinya, salah satunya adalah website milik LPM Hayamwuruk. Salah satu contoh berita yang dibuat oleh LPM Hayamwuruk di website miliknya adalah “Kasus Haris-Fitria: Bukti Lemahnya Gerakan Masyarakat Sipil dan Kuatnya Dominasi Oligarki”. Adanya hal tersebut, dapat menjadi suatu landasan penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui perilaku pencarian informasi dalam penulisan berita di era pandemi covid-19 (studi kasus Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro). 2. Landasan Teori 2.1 Kebutuhan Informasi Adanya dorongan setiap individu menyebabkan munculnya kebutuhan informasi karena adanya rasa ingin tahu atau munculnya dari kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh individu tersebut. Kebutuhan informasi merupakan suatu keadaan yang terjadi dalam kesadaran individu yang merasakan kurangnya terhadap suatu informasi atau pengetahuan karena tugas, pekerjaan, atau hanya rasa penasaran yang tinggi terhadap suatu informasi. Menurut Yusup & Subekti (2010) menyatakan bahwa kebutuhan informasi tidak terbatas hanya pengertian informasi, namun juga dari pengetahuan. Kebutuhan informasi yang muncul karena adanya kesenjangan yang juga dapat diartikan bahwa adanya kesenjangan yang terjadi antara kebutuhan informasi yang dibutuhkan dengan pengetahuan yang dimilikinya. Menurut Fadhilah & Nelisa (2014) menyatakan bahwa kebutuhan informasi muncul karena adanya dorongan dari individu dan didukung oleh posisinya dalam lingkungan sekitar. Kebutuhan informasi setiap individu dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk salah satunya adalah kondisi yang ada disekitarnya maupun setiap individu yang membutuhkan informasi untuk kegiatan sehari-harinya. Pada dasarnya, kebutuhan informasi lahir dari situasi dan dapat berkembang selama proses mencapai persyaratan situasi tersebut. Kebutuhan informasi dapat berubah-ubah dan berkembang dari waktu ke waktu untuk memenuhi situasi dari masalah pengguna (Borlund, 2014). 2.2 Perilaku Pencarian Informasi Sederhana nya perilaku adalah aktivitas yang dilakukan oleh setiap individu maupun kelompok (Yusup & Subekti, 2010). Perilaku ialah suatu aktivitas organisme atau makhluk hidup yang bersangkutan sehingga dari sudut pandang biologis, semua makhluk hidup yang berupa binatang, tumbuh-tumbuhan, dan manusia memiliki perilaku karena mereka memiliki aktivitas masing-masing untuk menjalankan kehidupannya. Selain itu, menurut Robert Kwick (dalam Rohmah, 2014) yang menyebutkan bahwa perilaku merupakan suatu tindakan dari organisme (makhluk hidup) yang bisa diperhatikan dan dipelajari. Dari adanya pengertian tersebut, dapat diketahui apabila perilaku merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh makhluk hidup dengan lingkungannya yang menjadi wujud respon terhadap rangsangan yang diberikan kepada nya dan suatu hal yang dapat diperhatikan dan dipelajari. Perilaku pencarian informasi ialah tindakan pencarian informasi memiliki tujuan untuk mencari informasi yang dibutuhkan oleh individu atau kelompok. Ketika mencari informasi, setiap individu akan melakukan interaksi atau menggunakan sistem pencarian secara manual atau pun menggunakan media yang berbasis komputer (Zakiyah et al., 2020). Menurut Nurfadillah & Ardiansah (2021) perilaku pencarian informasi ialah tindakan di tingkat rendah dari individu melakukan interaksi dengan sistem informasi dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi yang dibutuhkannya. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat diketahui bahwa perilaku pencarian informasi merupakan suatu aktivitas dari setiap individu dalam melakukan pencarian informasi yang sesuai dengan kebutuhannya dengan tujuan tertentu. Menurut Wilson (1999) perilaku pencarian informasi terdiri dari 4 tahapan-tahapan dalam mencari informasi yang sesuai dengan kebutuhan, yaitu: 1. Perhatian Pasif (Passive Attention) Tahapan ini merupakan tahapan terjadinya perolehan informasi yang terjadi di mana pun tempat dan sumbernya, seperti melalui radio, menonton televisi, browshing, dan lain-lain. Namun, di tahapan ini belum terdapat niatan seseorang atau individu untuk mencari informasi. Dengan kata lain, tahapan ini terjadi di saat individu tidak bermaksud mencari informasi, namun mendapatkan informasi. 2. Pencarian Pasif (Passive Search) Tahapan ini merupakan tahapan yang sudah berlangsung perilaku pencarian informasi individu apabila suatu informasi yang diketahuinya sesuai atau relevan dengan kebutuhan informasinya. 3. Pencarian Aktif (Active Search) Tahapan ini merupakan tahapan dari individu mulai melakukan kegiatan pencarian informasi secara aktif yaitu dengan mencari dari sumber informasi yang telah tersedia. 4. Pencarian Berlanjut (On Going Search) Setelah individu melakukan pencarian secara aktif sehingga akan Menyusun kerangka dasar dari ide, nilai, rasa percaya, dan lain-lain. Lalu, kegiatan pencarian informasi dapat dilanjutkan dengan melakukan pembaharuan atau melakukan perluasan kerangka tersebut. 2.3 Jurnalis dan Pers Mahasiswa Jurnalis dan pers mahasiswa merupakan profesi untuk pengumpul informasi yang akan dibuat menjadi berita. Menurut Ambarwati (2019) menyatakan bahwa mahasiswa yang terlibat di dalam lembaga pers mahasiswa dapat disebut dengan jurnalis kampus sehingga bentuk kegiatan pers mahasiswa dalam pencarian berita sama dengan jurnalis pada umumnya. Jurnalis membutuhkan informasi untuk meneliti fakta, meningkatkan kesadaran akan berita yang up to date, penelitian, mendapatkan kerangka kerja, dan merangsang pemikiran mereka untuk mendapatkan ide-ide dalam penulisan berita (Kumar & Mahajan, 2017). Saat melakukan kegiatan pencarian informasi, jurnalis harus mendapatkan informasi yang relevan melalui narasumber yang berkompeten dan tentunya memiliki wewenang, karena jurnalis dituntut harus menulis berita yang paling objektif dan akurat. Sebelum melakukan penulisan berita, jurnalis harus memiliki bahan atau sumber gagasan untuk mencari informasi lebih lanjut dan diolah menjadi berita. Jurnalis akan menggunakan berbagai macam sumber informasi untuk menemukan informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Jurnalis akan memanfaatkan informasi secara lengkap dan mendalam dengan cara wawancara, observasi, sharing ke rekan sejawat, dan liputan investigasi dengan penyelidikan secara mendalam (Rahman, 2013). Jurnalis atau anggota lembaga pers mahasiswa akan mencari informasi untuk bahan penulisan berita dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Jurnalis merupakan seseorang yang melakukan kegiatan jurnalistik dan secara terstruktur menulis berita kemudian melakukan publikasi melalui media massa, seperti majalah, koran, internet, dan lain-lain. Profesi ini menggabungkan pengetahuan dengan kemampuan menulisnya. Jurnalis termasuk suatu profesi seseorang yang pekerjaannya berkaitan dengan isi dari media massa. Menurut Damayanti, Azwar, & Priliantini (2018) menyebutkan bahwa jurnalistik merupakan suatu bentuk kegiatan menyusun berita dan mempublikasikan kepada masyarakat, terdiri dari mulainya tahapan pencarian data di lapangan, mengolah data menjadi tulisan atau informasi, dan mempublikasikan ke media massa. Dalam penulisan berita tidak hanya jurnalis saja yang melakukannya melainkan pers mahasiswa juga termasuk kategori jurnalis karena di dalam pers mahasiswa melaksanakan kegiatan jurnalistik sama hal nya dengan jurnalis (Ambarwati, 2019). Pers mahasiswa merupakan salah satu dari jenis pers yang bergerak secara aktif di dunia jurnalistik namun dalam lingkup yang lebih kecil. Pers mahasiswa ini aktif pada ruang lingkup di luar maupun dalam perguruan tinggi yang diurus oleh kumpulan mahasiswamahasiswa yang tergabung di dalamnya (Seran, 2018). Menurut Siregar (dalam Kusumo, 2011) pers mahasiswa terdiri dari dua jenis, yaitu: 1. Pers kampus merupakan pers yang dibuat oleh universitas dan pengelolaannya dilakukan oleh civitas akademika. 2. Pers mahasiswa merupakan pers yang pengelolaannya dilakukan oleh pihak mahasiswa.
Method
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif merupakan penelitian yang memiliki tujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian dalam hal sosial secara alamiah dengan mengedepankan proses menjalin hubungan komunikasi secara mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti, seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain sebagainya. Metode kualitatif digunakan untuk menggali dan memahami makna oleh sejumlah individu atau kelompok yang dianggap berasal dari masalah sosial (Moleong, 2016). Pada penelitian menggunakan metode kualitatif ini, peneliti akan memasuki kondisi sosial tertentu dengan melakukan pendekatan yang lebih mendalam kepada individu-individu yang dianggap mengetahui dengan jelas kondisi sosial tersebut. Dengan demikian metode kualitatif merupakan metode penelitian yang paling tepat untuk mengeksplorasi secara mendalam fenomena yang akan diteliti dengan lebih detail dan terperinci, yaitu perilaku pencarian informasi sebagai sumber gagasan penulisan berita oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Hayamwuruk di era pandemi. Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan studi kasus yang merupakan salah satu jenis pendekatan yang ada di dalam metode kualitatif. Jenis penelitian studi kasus merupakan suatu kajian atau proses penelitian yang dilakukan lebih mendalam dan menyeluruh terkait lingkungan, fenomena, isu, dan permasalahan yang diteliti yang bertujuan untuk mengungkapkan dan memahami suatu hal dari manusia tertentu (Sulistyo-Basuki, 2006: 113). Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan studi kasus karena dirasa tepat untuk menjabarkan proses dari pencarian informasi sebagai sumber gagasan penulisan berita Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Hayamwuruk di era pandemi covid-19 dan pendekatan studi kasus merupakan jenis penelitian yang menguraikan suatu proses yang dapat terjadi kemudian mengarah pada pemahaman makna dalam fenomena atau peristiwa yang sedang dikaji yaitu di era pandemi covid-19. Pada penelitian ini, informan ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu yang dipilih dengan menggunakan pertimbangan dan tujuan tertentu. Informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah anggota LPM Hayamwuruk. Metode pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi yang dilakukan peneliti adalah melakukan observasi terlebih dahulu di website milik LPM Hayamwuruk dengan melihat hasil karyanya berupa berita yang telah dipublikasikan melalui website yang dimilikinya untuk mengetahui gambaran dan suatu objek yang akan diteliti. Wawancara yang digunakan pada penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur. Dokumentasi pada penelitian ini adalah peneliti dapat menggunakan dokumentasi dalam bentuk tulisan, gambar, dokumen, buku, dan sumber lainnya yang dapat mendukung penelitian. Teknik pengambilan data ini dapat membantu melengkapi data yang telah diperoleh melalui observasi maupun wawancara.
Result & Discussion
Pada bab ini, peneliti akan menjabarkan hasil penelitian yang telah dilakukan melalui wawancara dengan empat informan, supaya dapat tercapai tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui perilaku pencarian informasi sebagai sumber gagasan penulisan berita di era pandemi lembaga pers mahasiswa Hayamwuruk. Data yang disajikan pada bab ini didapatkan dari hasil wawancara dengan informan. Berikut penjabaran dari hasil analisis penelitian: 4.1 Perhatian Pasif dalam Menemukan Sumber Gagasan Topik Informasi di Era Pandemi oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Hayamwuruk Adanya Covid-19 yang melanda seluruh bagian dunia mulai Desember 2019 sampai sekarang ini telah membuat perubahan baru dalam kehidupan masyarakat, khususnya perihal melakukan interaksi dan komunikasi. Di saat pandemi covid-19 ini terdapat banyak berita palsu yang terus menyebar semakin cepat (Faizha, 2022). Setiap orang termasuk mahasiswa yang merupakan anggota lembaga pers mahasiswa (LPM) Hayamwuruk Universitas Diponegoro yang memiliki kebutuhan informasi untuk melakukan penulisan berita akan melakukan pencarian informasi. Setiap orang akan selalu hidup berdampingan dengan informasi karena setiap waktu akan selalu mendapatkan berbagai macam informasi dari segala sumber. Di era digital ini, informasi dapat menyebar dengan sangat pesat sehingga dapat membantu memudahkan setiap individu untuk mendapatkan informasi. Setiap waktu, anggota LPM Hayamwuruk akan selalu mendapatkan informasi dari berbagai sumber yang ada. Hal ini, dapat dicontohkan ketika anggota LPM Hayamwuruk tidak ada niatan untuk melakukan pencarian informasi, namun secara tidak di sengaja menemukan informasi dari berbagai sumber, yaitu di saat anggota LPM Hayamwuruk sedang melakukan aktivitas menonton televisi, chatting, berselancar di sosial media, grup komunitas-komunitas, dan saat melakukan obrolan dengan individu lain. Pada saat sedang melakukan kegiatan sehari-hari dan bersinggungan dengan teknologi informasi seperti media sosial, anggota LPM Hayamwuruk secara tidak di sengaja telah menemukan informasi yang dianggap penting untuk diangkat menjadi topik dalam penulisan berita. Hal itu terjadi secara spontan yang didapat dari teman saat sedang melakukan kegiatan berkumpul bersama teman-temannya sehingga informasi yang didapatkan tersebut dapat menjadi bahan isu atau topik dalam penulisan berita. Pada saat itu, anggota LPM Hayamwuruk secara tidak di sengaja menemukan informasi yang dirasa dapat untuk diangkat menjadi topik dalam penulisan berita. Selain menemukan informasi dari berbagai relasi atau sumber seperti yang disebutkan di atas, anggota LPM Hayamwuruk juga dapat menemukan informasi secara tidak terduga dari pemimpin redaksi. Anggota LPM Hayamwuruk mendapatkan informasi terkait isu-isu menarik di masyarakat dari pemimpin redaksi. Pemimpin redaksi yang memiliki peran dalam membagikan isu menarik yang dimilikinya kepada para anggota lainnya karena memiliki banyak relasi dan terjalin relasi yang kuat dari berbagai sumber. Pemimpin redaksi memiliki tanggung jawab dalam mengatur proses dan kegiatan dalam pencarian serta penulisan berita. Pemimpin redaksi dapat membagikan informasi lebih kepada para anggota agar dapat melaksanakan tugasnya dengan berusaha menyediakan saluran komunikasi guna melakukan sharing informasi untuk penulisan berita (Arliani, 2016). Pada tahap itu, anggota LPM Hayamwuruk mendapatkan informasi dari teman, komunitas-komunitas, instansi-instansi, dan media sosial. Anggota LPM Hayamwuruk harus menjalin banyak relasi atau hubungan pertemanan kepada teman-teman, rekan sejawat, instansi-instansi, dan komunitas-komunitas supaya dapat menemukan informasi secara efektif dan cepat dengan memanfaatkan teknologi informasi yang canggih salah satunya adalah handphone. Adanya menjalin relasi yang banyak sangat dibutuhkan oleh anggota LPM Hayamwuruk untuk memberikan kemudahan dalam mendapatkan berbagai informasi. Dalam tahapan ini, informasi yang telah didapatkan oleh anggota LPM Hayamwuruk untuk dapat diangkat menjadi sumber gagasan atau topik akan dituliskan di dalam list isu-isu yang telah dibuat oleh pihak redaksi untuk ditampung. 4.2 Pencarian Pasif dalam Rapat Penentuan Isu oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Hayamwuruk Pada saat anggota LPM Hayamwuruk telah menemukan informasi yang dapat dijadikan sebagai gagasan topik dalam penulisan berita, hal selanjutnya yang dilakukan oleh anggota LPM Hayamwuruk adalah menuliskan gagasan atau topik ke dalam list kumpulan isu-isu yang telah dibuat oleh pihak redaksi. Kumpulan isu-isu yang telah ditampung tersebut, selanjutnya akan dilakukan rapat redaksi untuk membahas penentuan isu yang akan diangkat dalam penulisan berita. Pada bagian bidang redaksi memiliki suatu tempat untuk mengumpulkan dan melakukan obrolan-obrolan terkait membahas isu-isu dan informasi-informasi yang telah didapatkan untuk memproduksi berita, tempat tersebut dapat disebut dengan newsroom (Rahmayanti, 2020). Kegiatan yang dilakukan di dalam newsroom tersebut adalah berbagi informasi-informasi serta membahasnya dengan seluruh anggota LPM Hayamwuruk, tidak hanya anggota bagian redaksi saja. Pada saat pihak redaksi telah menampung semua informasi atau isu yang diberikan oleh para anggota LPM Hayamwuruk, langkah selanjutnya yang dilakukan adalah mengadakan rapat redaksi. Hal ini, bertujuan untuk membahas semua informasi yang ada di dalam list isu-isu tersebut. Pada saat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Hyamwuruk menuliskan sebuah berita, akan dibutuhkannya kesepakatan terhadap isu yang nantinya akan ditulis menjadi berita sehingga menuntut anggota LPM Hayamwuruk melakukan diskusi dalam menentukan isu dan hal tersebut akan dilakukan dalam rapat redaksi. Rapat redaksi yang dibuat oleh diselenggarakan oleh pihak redaksi ini beranggotakan seluruh anggota LPM Hayamwuruk yang diadakan dua minggu sekali. Dalam rapat redaksi akan membahas dan merumuskan langkah selanjutnya dari informasi yang telah ditentukan untuk dilakukannya liputan. Setiap anggota yang telah menulis isu di dalam list isu-isu akan menceritakan informasi yang didapatkannya tersebut kepada para anggota lainnya sehingga akan memberikan kemudahan dalam penentuan isu yang akan dibuat menjadi berita. Setelah menentukan isu atau informasi untuk dijadikan berita, akan dilanjut membahas tentang angle, bentuk berita, dan membagikan tugas-tugas ke semua anggota LPM Hayamwuruk. Ketika rapat redaksi berlangsung, nanti akan diberikan suatu pengarahan dan diskusi terkait berita yang akan diliput, menentukan angle, dan hal lainnya yang harus diperhatikan (Febriani, 2010). Selain itu, dalam rapat redaksi juga membahas untuk menentukan informan atau narasumber yang relevan dengan informasi tersebut dan akan ditentukan juga outline liputan yang salah satunya adalah menentukan narasumber mana yang paling tepat dan relevan untuk menjadi narasumber yang valid. Dalam penulisan berita perlu adanya menuliskan berita yang sesuai dengan fakta yang terjadi sehingga perlu adanya untuk melakukan pengecekan terhadap kebenaran dari informasi tersebut. Melakukan kegiatan tersebut dikarenakan anggota LPM Hayamwuruk sangat membutuhkan informasi valid yang bukti kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. Cara anggota LPM Hayamwuruk untuk mengecek kebenaran dari topik informasi tersebut dengan melakukan prinsip jurnalistik yaitu verifikasi. Tidak hanya menerima informasi dari satu orang saja, melainkan harus melakukan verifikasi yang dilaksanakan dengan melihat sumber lainnya atau menanyakan kepada informan yang lebih jelas atau paham dengan topik informasi tersebut. Mengecek kebenaran dari informasi yang didapatkan melalui terjun langsung ke lapangan yang dimana menjadi tempat isu itu terjadi. 4.3 Pencarian Aktif Melalui Liputan yang Dilakukan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Hayamwuruk Setelah mengadakan rapat redaksi untuk melakukan penentuan isu dan telah terpilihnya isu yang akan diangkat menjadi berita, langkah selanjutnya adalah melakukan pencarian secara aktif terkait isu yang telah terpilih tersebut untuk mendapatkan informasi secara lengkap sesuai dengan yang terjadi atau sesuai fakta. Selama pandemi covid-19, anggota LPM Hayamwuruk tetap mencari informasi yang dilakukan secara online untuk menulis berita yang nantinya akan disebarkan ke media yang dimiliki oleh LPM Hayamwuruk agar dapat dibaca oleh masyarakat. Supaya mendapatkan informasi yang lengkap dan tepat, perlu adanya wawancara dengan narasumber yang kompeten dan relevan dengan informasi tersebut. Wawancara merupakan sekumpulan kegiatan yang dilakukan oleh wartawan atau jurnalis untuk melakukan tanya jawab dengan narasumber yang bertujuan untuk menggali informasi secara lengkap yang dibutuhkan oleh jurnalis atau wartawan untuk menyusun berita. Wawancara adalah cara untuk mengumpulkan data agar mendapatkan informasi secara langsung dari sumber (Kholik, 2022). Anggota LPM Hayamwuruk yang telah mendapatkan tugas untuk melakukan liputan akan melakukan pencarian secara aktif melalui wawancara dengan narasumber secara online melalui via WhatsApp baik secara chat maupun telepon. Apabila telah menentukan anggota LPM Hayamwuruk yang akan melakukan liputan dan ketika dalam tim berisi tiga orang akan dilakukan diskusi lebih lanjut untuk kegiatan liputan membahas pembagian tugas lebih lanjutnya atau memperdalam terkait analisis dan lain-lain. Apabila kegiatan liputan dilakukan secara individu sehingga akan langsung melakukan wawancara ataupun riset. Anggota LPM Hayamwuruk yang mendapatkan tugas untuk melakukan wawancara, sebagian besar akan dilakukan melalui wawancara online. Peliputan berita ini bisa dilakukan melalui wawancara. Kegiatan meliput berita harus wartawan laksanakan sesuai dengan kode etik jurnalistik. Setelah anggota LPM Hayamwuruk mendapatkan informasi dari berbagai narasumber, banyaknya informasi yang didapatkan tersebut akan dilakukan pencarian informasi pendukung yang dapat membantu dalam mendukung informasi yang telah didapatkan supaya informasi tersebut dapat dipastikan kebenarannya dari informasi yang telah didapatkan. Selain itu, dalam melakukan pencarian informasi yang bersumber dari narasumber lainnya memiliki tujuan agar dapat mencari tahu dari kejadian yang sebenarnya terjadi menurut berbagai macam sudut pandang yang dilihat sehingga berita yang akan dibuat dapat dilihat kebenarannya dari beberapa sudut pandang yang berbeda. Selain itu, informasi pendukung menjadi hal yang penting untuk dapat membantu dalam menguatkan isi berita yang dibuat oleh anggota LPM Hayamwuruk. Anggota LPM Hayamwuruk memerlukan adanya informasi tambahan atau informasi pendukung untuk memastikan bahwa informasi tersebut benar adanya. Karena, terdapat istilah cover both side untuk melihat berbagai sudut pandang. Informasi pendukung dapat diperoleh dari wawancara dengan korban ataupun pengamat. Pencarian informasi yang dilakukan oleh anggota LPM Hayamwuruk terdapat beberapa perbedaan ketika sebelum terjadi pandemi dan setelah adanya pandemi covid-19. Ketika pandemi covid-19 semua kegiatan dilakukan secara online dan sebelum pandemi covid-19 dari LPM Hayamwuruk dapat melakukan perjalanan atau jalan-jalan untuk mencari informasi dan hal-hal yang dapat ditelusuri sehingga dapat melaksanakan diskusi. Selama pandemi covid-19 semuanya dilakukan secara online, yang membatasi pergerakan dari anggota LPM Hayamwuruk dalam pencarian berita atau informasi. Anggota LPM Hayamwuruk harus beradaptasi dengan membiasakan diri dalam mencari informasi dan melakukan peliputan secara online dan dapat dilakukan melalui media sosial. Saat pandemi covid-19 jurnalis didorong untuk mengakrabkan diri dengan teknologi, harus bisa mencari informasi-informasi dan melakukan riset menggunakan media sosial dan platform online lain (Muqsith, 2020). 4.4 Pencarian Berlanjut yang Dilakukan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Hayamwuruk Setelah anggota LPM Hayamwuruk telah selesai melakukan kegiatan liputan melalui wawancara dengan narasumber dan mencari informasi pendukung sehingga langkah selanjutnya akan melakukan sistem jurnalistik berupa penulisan berita. Jurnalistik merupakan kegiatan dalam mengumpulkan berita, mencari suatu kebenaran yang terjadi, dan menyampaikan berita ke masyarakat. Anggota LPM Hayamwuruk dalam proses mencari berita hingga penulisan berita harus mematuhi kaidah-kaidah jurnalistik. Dalam menulis berita Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Hayamwuruk menggunakan kaidahkaidah penulisan jurnalistik sesuai dengan pedoman umum ejaan Bahasa Indonesia yang benar dan piramida terbalik karena termasuk bagian penting di kerangka berita untuk menggambarkan keseluruhan cerita. Hal yang penting dalam menulis berita terdiri dari berisi fakta yang telah terverifikasi dan harus menyampaikan berita sesuai dengan kebenarannya. LPM Hayamwuruk sama seperti pers kampus lainnya. Dalam menulis berita-berita hard news lebih menekankan menggunakan piramida terbalik dari hal yang paling penting ke hal yang kurang penting. Namun, beberapa kasus yang ada, jurnalis-jurnalis LPM Hayamwuruk yang telah berpengalaman diperbolehkan untuk menggunakan pendekatan sastrawi atau pendekatan berita yang lebih personal melalui feature ketika menulis berita. Dalam piramida terbalik, paragraf pertama harus mencakup semua informasi secara singkat, padat, dan jelas. Namun, dalam feature news tidak menggunakan piramida karena paragraf pertama digunakan untuk menarik perhatian pembaca supaya tetap terus membaca. Menulis berita menggunakan teknik piramida terbalik yang bertujuan supaya sejak awal dapat menarik perhatian, mementingkan informasi yang ringkas dan cepat, serta melengkapi adanya unsur 5W+1H. Paragraf pertama berisikan hal penting berupa fakta-fakta berita yang terjadi (Ardiyansah, 2021). Setelah adanya kegiatan menyusun atau menulis berita, anggota LPM Hayamwuruk akan melakukan cross check dari berita yang telah dibuat. Apabila berita termasuk dalam kategori berita populer sehingga akan dilakukan pencarian informasi secara berlanjut dengan terus menerus untuk melihat pembaharuan dari berita tersebut. Berita yang telah dibuat nantinya akan ada kemungkinan untuk dilakukannya cross check apabila berita tersebut ada suatu kesalahan atau terdapatnya informasi baru dari kelanjutan berita tersebut sehingga akan dibuatnya pembaharuan dalam berita yang sudah dibuat tersebut. Berita yang sangat populer dan sifatnya berkelanjutan sehingga keesokan harinya akan terdapat kelanjutan berita tersebut sehingga jurnalis akan melakukan pencarian berlanjut secara terus-menerus.
Conclusion
Perilaku pencarian informasi anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Hayamwuruk dalam penulisan berita selama pandemi covid-19 berawal dari penemuan informasi sebagai sumber gagasan yang didapat oleh anggota LPM Hayamwuruk yang dapat dijadikan sebagai topik penulisan berita secara tidak di sengaja, berawal dari tidak memiliki niatan untuk mencari informasi, namun menemukan informasi atau isu-isu dari obrolan-obrolan dengan teman atau orang lain, media sosial, relasi, dan berita. Anggota LPM Hayamwuruk juga mendapatkan informasi secara tidak terduga dari pemimpin redaksi. Setelah, menemukan topik atau isu informasi yang dapat dijadikan sebagai berita, anggota LPM Hayamwuruk akan menuliskan informasi atau isu tersebut ke dalam list isu-isu yang telah disediakan oleh pihak redaksi untuk ditampung. Setelah itu, akan diadakan rapat redaksi untuk membahas semua isu-isu yang telah tercatat dalam list isu-isu tersebut. Ketika telah menentukan suatu topik atau isu yang akan diangkat menjadi berita, langkah selanjutnya akan menentukan outline liputan, salah satunya adalah narasumber yang relevan dengan topik tersebut supaya dapat melakukan pengecekan kebenarannya melalui wawancara dengan narasumber, serta pembagian tugas-tugas untuk anggota LPM Hayamwuruk. Lalu, anggota LPM Hayamwuruk yang mendapatkan tugas melakukan liputan akan terjun ke lapangan untuk mulai mencari informasi secara aktif melalui wawancara dengan narasumber. Adanya pandemi covid-19, wawancara yang dilakukan oleh anggota LPM Hayamwuruk dilakukan secara online dan mencari informasi pendukung untuk memperkuat informasi yang telah didapatkan. Pencarian informasi selama pandemi covid-19 dilakukan secara online sehingga membatasi pergerakan dari anggota LPM Hayamwuruk dalam melakukan pencarian informasi atau berita. Setelah melakukan pencarian informasi pendukung, anggota LPM Hayamwuruk akan melakukan penulisan berita sesuai dengan kaidah jurnalistik. Berita yang telah disusun oleh anggota LPM Hayamwuruk, nantinya akan dilakukan cross check apabila berita tersebut ada suatu kesalahan atau terdapatnya informasi baru dari kelanjutan berita yang telah dibuat.