Kembali
16
1
2023 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 7 · 4 ISSN 2598-3040

Model Manajemen Pengetahuan di Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk merancang model knowledge management di Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik analisis data dilakukan dengan mengumpulkan data, menampilkan data dan menarik kesimpulan serta verifikasi data. Hasil yang diperoleh berupa model proses knowledge management yang didasarkan atas penciptaan pengetahuan, pengorganisasian pengetahuan, penyimpanan atau pelestarian pengetahuan, berbagi dan menyebarkan pengetahuan serta menggunakan atau memanfaatkan pengetahuan. Manajemen pengetahuan di BPS Provinsi Sulawesi Tengah merupakan suatu teknik dalam menciptakan lingkungan belajar yang bertujuan untuk memotivasi pegawai agar terus berinovasi, belajar dan terus meningkatkan pemahaman atas pengetahuan baru yang diperoleh sehingga akan menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki produktivitas dan berkinerja tinggi serta dapat mencapai keunggulan kompetitif organisasi.

Abstract

The main objective of this research is to design a model of knowledge management in BPS-Statistics of Sulawesi Tengah Province. This study used a descriptive qualitative method with a case study approaches. Data analysis were conducted by collecting data, displaying data and drawing conclusions and verification. The findings showed that a model of knowledge management process that is based on knowledge creation, knowledge organization, knowledge storage or preservation, knowledge sharing and dissemination and using or utilizing knowledge. Knowledge management in BPS-Statistics of Sulawesi Tengah Province is a technique in creating a learning environment that aims to motivate employees to continue to innovate, learn and continue to improve understanding of the new knowledge gained, so that it will produce human resources who have high productivity and performance and can achieve excellence competitive organization.
Keywords: bps-statistics · knowledge management · knowledge management models

Introduction

Pengetahuan berperan sangat penting untuk mempercepat pengembangan dan peningkatan kualitas organisasi. Informasi dan pengetahuan perlu didokumentasikan dan dikelola melalui Manajemen Pengetahuan. Dengan adanya manajemen pengetahuan dapat membantu organisasi dalam mempersiapkan sebuah lingkungan di mana setiap anggotanya dapat menciptakan, berbagi, dan menggunakan pengetahuan baik dalam bentuk explicit maupun tacit (Anggorowati, 2019). Saat ini, manajemen pengetahuan dikenal sebagai tool yang digunakan untuk mencapai tujuan organisasi yang didalamnya memuat proses pengelolaan pengetahuan yang dimiliki oleh setiap anggotanya sehingga pengetahuan tersebut akan lebih mudah untuk diakses dan dijadikan sebagai modal utama dalam peningkatan performa organisasi (Widyatmika et al., 2019). Hal ini didukung pula dengan pernyataan dari Peter Drucker yang mengatakan bahwa pentingnya meningkatkan produktivitas pengetahuan pekerja sebagai tantangan manajerial terbesar di abad ke-21 (Spanellis et al., 2021). Oleh sebab itu, pengetahuan sangat berkaitan erat dengan pengelolaan aset intelektual yang dimiliki oleh organisasi. Beberapa negara tentunya memiliki badan pemerintah tertentu yang fungsi utamanya adalah melaksanakan kegiatan statistik nasional. Di Indonesia, kegiatan ini menjadi tanggung jawab dari instansi Badan Pusat Statistik (BPS). BPS dikenal sebagai instansi yang bekerja dalam bidang pelayanan publik yakni sebagai penyedia data statistik yang telah diatur secara resmi oleh undang-undang. BPS merupakan instansi pemerintah yang mendayagunakan SDM bertipe knowledge worker (Anggorowati, 2019). Tipe ini diharapkan dapat menciptakan, membagikan dan memanfaatkan pengetahuan baik tacit maupun explicit nya. Secara kelembagaan, BPS memiliki kantor perwakilan yang tersebar di seluruh provinsi hingga kabupaten/kota yang ada di Indonesia. BPS Provinsi Sulawesi Tengah merupakan salah satu instansi vertikal BPS yang bekerja sebagai penyelenggara kegiatan statistik khususnya di wilayah sulawesi tengah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala BPS Pusat. Sebagai bagian integral dari BPS Pusat, tugas dan fungsi BPS Provinsi Sulawesi Tengah juga erat kaitannya dengan ketersediaan data statistik yang dapat digunakan dalam kegiatan pelayanan publik. Meningkatnya trend akan kebutuhan data menyebabkan tugas dan tanggungjawab BPS semakin berat. Hal ini dapat dilihat dari semakin bertambahnya volume kegiatan seperti survei, sensus, dan pendataan lainnya yang harus dilakukan oleh BPS Provinsi Sulawesi Tengah, sehingga jumlah pengetahuan yang dikelola pun semakin meningkat. Untuk itu diperlukan adanya manajemen pengetahuan yang baik dan juga efisien untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pengetahuan lahir dari pengalaman individu (Yusuf, 2012). Pengalaman yang ditularkan ke orang lain akan menambah pengetahuan orang yang menerimanya. Dalam lingkungan organisasi, pengetahuan yang tidak dibagikan ke anggota organisasi lainnya akan menghambat kinerja organisasi tersebut. Kondisi seperti ini juga terjadi di BPS Provinsi Sulawesi Tengah. Dengan adanya peraturan baru terkait proses mutasi atau perpindahan pegawai, memberikan dampak pada hilangnya pengetahuan atau keahlian yang dimiliki oleh organisasi. Di sisi lain, pegawai yang pensiun karena berakhirnya masa kerja juga turut memberikan andil berkurangnya pengetahuan. Untuk memperoleh kembali pengetahuan ini, BPS harus melatih kembali pegawai barunya yang tentunya kegiatan pelatihan akan sangat berkaitan dengan ketersediaan anggaran. Oleh karena itu, manajemen pengetahuan sangat diperlukan untuk menangani permasalahan ini sehingga pengetahuan tacit maupun explicit yang dimiliki setiap pegawai dapat dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. Dengan adanya manajemen pengetahuan, setiap anggota organisasi dapat saling berbagi pengetahuan serta meningkatkan kegiatan pelayanan maupun produktivitasnya sehingga akan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan demi tercapainya tujuan organisasi. Mengingat manajemen pengetahuan memainkan peran penting dalam sebuah organisasi temasuk BPS, maka fokus dari penelitian ini yakni untuk menggambarkan model manajemen pengetahuan di Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah. 2. Kajian Literatur 2.1 Manajemen Pengetahuan Davenport dan Prusak (1998) mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan kombinasi dari nilai, pengalaman dan juga informasi yang dijadikan sebagai kerangka dalam proses evaluasi (Davenport & Prusak, 1998). Pengetahuan selalu bersumber dari data yang telah diolah menjadi informasi yang digunakan sebagai bagian dalam proses pengambilan keputusan. Wujud dari pengetahuan tidak hanya berupa dokumen akan tetapi pengetahuan dapat digambarkan dalam bentuk keseharian, proses, aksi dan nilai-nilai dari suatu organisasi (Wijaya, 2015). Menurut (Nonaka & Takeuchi, 1995), pengetahuan terbagi dalam 2 jenis yaitu pengetahuan tacit dan explicit. Pengetahuan tacit ada dalam pikiran seseorang dan sulit untuk diungkapkan. Pengetahuan tacit pada dasarnya bersumber dari pengalaman seseorang yang sulit untuk digambarkan atau dikomunikasikan (Davenport & Prusak, 1998). Sebaliknya, pengetahuan explicit dapat diekspresikan dan dirumuskan secara fisik misalnya seperti laporan maupun publikasi (Dingsoyr & Conradi, 2002). Pengetahuan explicit juga dapat dikomunikasikan secara sistematis antar individu. Nonaka & Takeuchi juga memaparkan mengenai proses penciptaaan pengetahuan diperoleh melalui hubungan antara pengetahuan tacit dan explicit yang disebut dengan proses SECI (Sosilization, Externalization, Combination, Internalization) (Nonaka & Takeuchi, 1995). Pengetahuan dari tacit ke tacit disebut dengan proses socialization yakni proses berbagi pengetahuan secara langsung dari satu individu ke individu lainnya contohnya: brainstorming. Externalization merupakan perubahan pengetahuan dari tacit ke explicit misalnya pengetahuan tacit ditransformasikan ke dalam bentuk pengetahuan yang mudah untuk dipelajari contohnya penyusunan buku, artikel maupun jurnal. Combination merupakan bentuk pengetahuan dari explicit ke explicit. Proses ini mengacu pada kegiatan mengumpulkan pengetahuan explicit secara sistematis dengan menambahkan pengetahuan baru, kombinasi maupun klasifikasi pengetahuan misalnya dengan merangkum sebuah buku. Internalization merupakan perubahan pengetahuan dari explicit ke tacit, misalnya dengan adanya pengalaman dapat menambah pemahaman terkait dengan pengetahuan tacit seperti transfer pengetahuan dari narasumber ke audiens. Newman & Conrad (1999) dalam (Muklason et al., 2012) menjelaskan bahwa pengetahuan pada dasarnya memiliki model aliran yang dikenal dengan General Knowledge Model yang terdiri atas empat bidang aktivitas utama (lihat Gambar 1), antara lain: 1) Knowledge creation yaitu proses dalam menciptakan pengetahuan seperti melakukan sebuah penelitian yang menghasilkan penemuan baru. 2) Knowledge retention yakni proses menyimpan pengetahuan dengan maksud untuk melestarikan dan memelihara pengetahuan. 3) Knowledge transfer atau transfer pengetahuan mengarah pada kegiatan yang berkaitan dengan aliran pengetahuan dari satu pihak ke pihak lain 4) Knowledge Utilization yakni serangkaian proses yang berkaiitan dengan kegiatan dalam memanfaatkan pengetahuan seperti penerapan pengetahuan dalam bentuk proses bisnis. Gambar 1. General Knowledge Model Newman & Conrad, 1999 Manajemen pengetahuan didefinisikan sebagai pengelolaan secara sistematis dari aset pengetahuan yang dimiliki oleh organisasi dalam rangka penciptaan nilai sehingga melengkapi persyaratan taktis dan strategis (Hajric, 2018). Manajemen pengetahuan juga dapat didefinisikan sebagai proses mengidentifikasi, meningkatkan, dan mengelola aset intelektual secara efektif untuk menciptakan nilai, meningkatkan produktivitas, dan memperoleh serta mempertahankan keunggulan kompetitif (Carrillo et al., 2000). Selain itu manajemen pengetahuan didefinisikan juga sebagai seperangkat pilihan strategis untuk penciptaan pengetahuan dalam organisasi, dan organisasi memberikan panduan lini untuk menciptakan keunggulan kompetitif (Choi & Lee, 2001). Degan kata lain manajemen pengetahuan dapat diartikan sebagai proses menciptakan, mengkomunikasikan dan mengaplikasikan keseluruhan pengetahuan untuk mencapai keunggulan kompetitif suatu organisasi. 2.2 Elemen Management Pengetahuan Perwujudan manajemen pengetahuan dipengaruhi oleh 3 elemen penting yaitu manusia, proses, dan teknologi. 1) Manusia, merupakan sumber awal pengetahuan. Setiap manusia/individu/anggota organisasi harus memahami perannya dalam proses pengelolaan pengetahuan karena pada hakikatnya pengetahuan itu tersimpan dalam pikiran masing-masing individu. 2) Proses, dengan adanya proses akan lebih memudahkan dalam menciptakan dan membagikan pengetahuan. 3) Teknologi, dengan hadirnya perkembangan teknologi dapat dijadikan sebagai landasan utama dalam peningkatan Knowledge Management Tool serta sebagai sarana penunjung dalam melancarkan proses manajemen pengetahuan melalui kegiatan distribusi pengetahuan yang lebih optimal. 2.3 Knowledge Management Tool Dalam menerapkan proses manajemen pengetahuan secara keseluruhan dengan tujuan untuk memperoleh manfaat yang maksimal, maka organisasi perlu mengadopsi pendekatan yang seimbang dengan menggunakan dua elemen (Nazim & Mukherjee, 2016) : 1) infrastruktur teknologi yang terdiri dari komputer, jaringan, database dan aplikasi perangkat lunak yang diinstal di lingkungan terdistribusi dan (2) platform yang digunakan untuk interaksi secara langsung antara orang-orang dengan menghubungkan mereka satu sama lainnya. Namun, interaksi antar individu tidak hanya dilakukan secara face to face/tatap muka, tetapi juga dilakukan secara virtual yakni melalui telepon, melalui email, konferensi video, Internet atau intranet. Kedua elemen ini biasanya disebut sebagai knowledge management tool. Tujuan dari KM tool bukan hanya untuk mengelola pengetahuan itu sendiri, tetapi untuk memfasilitasi implementasi dari proses pengetahuan sehingga memudahkan proses manajemen pengetahuan.

Method

Dalam riset kali ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian berupa studi kasus, dimana jenis studi ini termasuk dalam studi yang bersifat khusus. Bagi John W. Creswell, studi kasus adalah bentuk dari skema penelitian yang mana di dalamnya seorang pengamat melakukan riset dengan teliti terhadap sesuatu kejadian, kegiatan, cara, atau organisasi (Creswell, 1998). Studi kasus dapat menjelaskan arti dibalik peristiwa dalam situasi yang alami, menguak sesuatu yang dianggap khusus dan spesial serta keadaan yang sangat terperinci yang tidak dapat dijelaskan oleh jenis riset lainnya. Subjek pada riset ini adalah pegawai yang bekerja di Instansi Badan Pusat Statistik provinsi Sulawesi Tengah. Objek studi adalah proses dalam system manajemen pengetahuan yang diterapkan oleh BPS Provinsi Sulawesi Tengah. Pengumpulan data dilakukan melalui metode observasi, wawancara secara mendalam serta studi dokumentasi. Observasi dilakukan dengan mengamati secara langsung proses manajemen pengetahuan yang terjadi di Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah. Wawancara mendalam dilakukan dengan informan yang memiliki peran aktif dalam proses manajemen pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan teknologi informasi dan diseminasi data. Sehingga pihak yang menjadi informan adalah pegawai yang ditempatkan dalam bidang Integrasi Pengolahan Data dan Diseminasi Statistik (IPDS) antara lain: 1) Penanggung jawab bagian Integrasi Pengolahan Data BPS Provinsi Sulawesi Tengah; 2) Penanggung jawan bagian Diseminasi dan Layanan Statistik Provinsi Sulawesi Tengah.

Result & Discussion

4.1 Model Manajemen Pengetahuan di Badan Pusat Statitik Provinsi Sulawesi Tengah BPS sebagai lembaga penyedia data statistik tentunya memiliki sumber pengetahuan yang memadai dimana pengetahuan tersebut diperoleh dan dapat dipergunakan oleh setiap pegawainya maupun pengguna data. Untuk itu BPS perlu menerapkan proses manajemen pengetahuan sebagai bentuk pengelolaan pengetahuan secara sistematis demi tercapainya keunggulan organisasi dan bertujuan pula untuk meningkatkan produktivitas kinerja pegawai. Apabila proses manajemen pengetahuan dapat dijalankan secara berkesinambungan maka setiap pengetahuan yang diperoleh dapat didokumentasikan kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan organisasi misalnya dalam hal pemecahan masalah, pengambilan kebijakan maupun perencanaan pelaksanaan kegiatan berikutnya. BPS juga dikenal sebagai lembaga yang aktif dalam kegiatan pelayanan publik dimana semakin banyaknya data yang dihasilkan dari kegiatan sensus, survei maupun kegiatan lainnya tentunya membutuhkan proses manajemen pengetahuan yang baik agar pengetahuan yang telah dikumpulkan tidak hilang karena di era digital saat ini data merupakan kebutuhan mendasar yang sangat dibutuhkan demi tercapainya tujuan pembangunan. BPS saat ini telah menerapkan manajemen pengetahuan yang dapat dilihat melalui sistem manajemen pengetahuan sebagai bentuk implementasi dari perubahan reformasi birokrasi BPS dalam pilar tata kelola kelembagaan (BPS, 2019). Sehingga setiap pegawai atau pihak yang membutuhkan dapat dengan mudah mengakses informasi maupun pengetahuan terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan di BPS. Menurut hasil wawancara mendalam, proses pengelolaan informasi yang terjadi di BPS Provinsi Sulawesi Tengah berorientasi pada bentuk pengetahuan secara explicit dan juga tacit. Hal ini diimplementasikan dalam bentuk kegiatan survei, sensus maupun kegiatan lainnya yang akan menghasilkan sekumpulan data yang kemudian didokumentasikan dalam bentuk sistem database, publikasi baik tercetak maupun digital, berita resmi statistik hingga dalam bentuk video grafis maupun infografis sehingga data yang disajikan lebih mudah untuk dipahami. Sementara untuk pengetahuan tacit yang bersumber dari pengalaman yang pernah dilalui, saat ini diupayakan untuk dikelola dengan maksimal, salah satu bentuk dari implementasinya dapat dilihat dari kegiatan sharing session yang rutin dilaksanakan di BPS Provinsi Sulawesi Tengah. Dilain sisi, untuk mendukung kegiatan manajemen pengetahuan, BPS Provinsi Sulawesi Tengah juga memperhatikan salah satu aspek penting yaitu keberadaan individu/manusia itu sendiri. Dengan memiliki sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dalam manajemen pengetahuan yang baik maka akan berdampak pada pengelolaan pengetahuan yang baik pula. Pelaksanaan manajemen pengetahuan tentunya didukung dengan ketersediaan knowledge management tool (KM tool) yang merupakan alat yang digunakan untuk mendukung kinerja aplikasi, aktivitas atau tindakan seperti penciptaan pengetahuan, kodifikasi atau transfer pengetahuan (Nazim & Mukherjee, 2016). Idealnya KM tool harus mencakup fitur seperti mobilitas yang memungkinkan penggunanya untuk berinteraksi dengan sistem kapanpun dan dimanapun berada. Saat ini penggunaan KM tool sangat berkaitan erat dengan pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) untuk menciptakan, mengkodifikasi, menyimpan, dan berbagi pengetahuan. Berdasar pada hasil wawancara mendalam, penggunaan KM tool telah terimplementasi dengan baik di instansi Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah. Beragam bentuk KM tool telah dikembangan oleh BPS untuk memfasilitasi pengelolaan pengetahuan. Beberapa alat khas yang digunakan meliputi: (i) Sistem manajemen dokumen, (ii) Learning Management System seperti pengembangan warung kompetensi (warkop) dan e-learning sebagai bentuk modern dari pembelajaran jarak jauh (iii) Portal TI (halosis) (iv) Forum diskusi Kaizala (v) Aplikasi chat serta (vi) Perangkat Video conference. Melalui penelitian ini, peneliti akan merancang model manajemen pengetahuan di Instansi Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah dengan mengadopsi lima dimensi dari manajemen pengetahuan (Sirorei & Fombad, 2019) antara lain : 1. Knowledge creation yang berkaitan dengan penciptaan pengetahuan. 2. Knowledge organization mengenai pengorganisasian pengetahuan. 3. Knowledge storage terkait dengan bagaiaman menyimpanan/melelestarikan pengetahuan. Penyimpanan pengetahuan dipandang sebagai gudangnya pengetahuan dalam suatu organisasi yang hasilnya merupakan akumulasi aset pengetahuan dari waktu ke waktu. 4. Knowledge sharing berhubungan kegiatan berbagi dan menyebarkan pengetahuan yang sudah ada dalam suatu organisasi. 5. Knowledge utilization/aplplication terkait dengan bagaimana menggunakan pengetahuan untuk mendukung keputusan, tindakan, kebijakan maupun pemecahan atas suatu masalah. Pemanfaatan pengetahuan dilakukan untuk memastikan bahwa pengetahuan yang ada akan diterapkan secara produktif. 4.1.1 Knowledge Creation Berdasar pada hasil observasi dan wawancara mendalam, mengungkapkan bahwa proses penciptaan/ produksi/pengumpulan pengetahuan yang berlangsung di BPS Provinsi Sulawesi Tengah dapat dilakukan dengan dua metode yaitu komunikasi secara face to face serta komunikasi secara virtual. Beberapa kegiatan yang termasuk dalam bentuk komunikasi face to face antara lain seperti kegiatan survei, sensus, pelatihan, seminar serta focus group discussion yang dilaksanakan secara langsung atau tatap muka. Sementara untuk kegiatan yang termasuk dalam bentuk komunikasi virtual diantaranya adalah sensus, survei, pelatihan, webinar maupun FGD yang dilaksanakan secara online. Selain itu, video conference dan forum diskusi online resmi melalui aplikasi internal BPS juga termasuk dalam bentuk komunikasi virtual. Data mentah yang diperoleh melalui kegiatan sensus, survei maupun bentuk kegiatan pengumpulan data lainnya akan diolah menjadi data baku yang kemudian dapat dijadikan informasi dan pada akhirnya menjadi pengetahuan yang dapat dimanfaatkan penggunanya. Sementara untuk pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan lainnya seperti video conference, forum diskusi online, pelatihan pengumpulan data, seminar/webinar, FGD, baik dalam bentuk daring maupun luring akan diolah menjadi sumber pengetahuan baru yang dikemas dalam digital maupun tercetak. Produk lain dari knowledge creation dapat dilihat dalam bentuk inovasi seperti pembuatan berbagai macam aplikasi yang dapat membantu pekerjaan setiap pegawai sehingga lebih terstruktur dan mudah untuk dilakukan. Gambar 2. Knowledge creation dalam bentuk pengumpulan data melalui kegiatan sensus 4.1.2 Knowledge Organization Knowledge organization bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana pengetahuan diorganisir. Peran dari Knowledge organization adalah untuk mengorganisasikan dokumen dan merepresentasikan dokumen. Knowledge organization merupakan pengetahuan megenai kegiatan seperti mendeskripsikan dokumen, mengindeks dan mengklasifikasi (Hjørland, 2008). Proses ini biasanya menghasilkan produk dan layanan yang ditargetkan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan pengguna. Dari temuan yang diperoleh di instansi BPS Provinsi Sulawesi Tengah dapat dijabarakan beberapa tahapan dalam proses pengorganisasian pengetahuan mulai dari tahap indexing (pengindeksan/pengarsipan dokumen), batching (pengelompokkan dokumen), processing (proses pengolahan dokumen : entri,editing-coding,validation), dan analyze (melakukan analisis dengan cara pemeriksaan konsistensi dan interpretasi output) sehingga keseluruhan dari tahapan Knowledge organization akan menghasilkan informasi yang dapat dijadikan pengetahuan. 4.1.3 Knowledge Storage Pada tahapan ini, proses knowledge storage yang diimplementasikan di BPS Provinsi Sulawesi Tengah dilakukan dengan cara membuat sistem repositori organisasi seperti database, penyusunan publikasi yang memuat data hasil kegiatan sensus/survei maupun kegiatan lainnya dalam bentuk publikasi tercetak dan juga digital, penyusunan berita resmi statistik yang memuat data indikator statistik, pembuatan video yang berisikan tentang tutorial penggunaan aplikasi tertentu atau terkait pembelajaran mengenai tata cara pelaksanaan kegiatan yang ada di BPS Provinsi Sulawesi Tengah. Gambar 1. Knowledge storage dalam bentuk publikasi tercetak maupun digital Gambar 2. Knowledge storage dalam bentuk aplikasi SIMDASI 4.1.4 Knowledge Sharing Pada tahap ini, peneliti mengidentifikasi bagaimana pengetahuan dibagikan atau disebarluaskan. Beberapa kegiatan yang termasuk dalam knowledge sharing di BPS Provinsi Sulawesi Tengah antara lain adalah dengan adanya sharing session sebagai wadah untuk saling berbagi pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki. Sharing session biasanya dilakukan dalam suatu forum dimana pegawai yang memiliki keahlian tertentu dengan sukarela membagikan pengetahuan yang dimilikinya kepada pegawai lainnya. Selain melalui kegiatan sharing session, knowledge sharing juga diimplementasikan dalam bentuk kegiatan pelatihan, seminar/webinar, dan pembinaan. Knowledge sharing tidak hanya dilakukan secara formal, akan tetapi kegiatan berbagi pengetahuan dapat dilakukan dalam situasi yang tidak formal seperti ngobrol santai pada saat makan siang, menjelang masuk kerja dan setelah jam kerja usai. Knowledge sharing dapat pula dilakukan melalui media sosial seperti grup whatsapp, sebagai sarana untuk berbagi informasi terkini atau terkait pencarian solusi atas masalah yang ditemui selama bekerja. Pengetahuan yang telah diperoleh dari proses knowledge sharing dapat diolah dan diorganisir kembali kemudian disimpan dalam repository. Keseluruhan hasil dari pengetahuan yang telah dikumpulkan mulai dari tahapan pertama selanjutnya disebarluaskan melalui beberapa sistem seperti website BPS Provinsi Sulawesi Tengah, aplikasi perpustakaan/pst online, aplikasi Allstat dan juga dengan memanfaatkan media sosial resmi milik BPS Provinsi Sulawesi Tengah. Penyebarluasan pengetahuan juga diimplementasikan dalam bentuk sosialisasi hasil kegiatan statistik serta press release yang rutin dilaksanakan setiap bulannya dengan menampilkan data-data terkait indikator strategis. Gambar 3. Implementasi Knowledge Sharing melalui kegiatan Sharing Session Gambar Error! No text of specified style in document.4. Implementasi Knowledge Sharing melalui kegiatan webinar 4.1.5 Knowledge utilization/aplplication Pada tahap pengaplikasian pengetahuan erat kaitannya dengan bagaimana memanfaatkan atau menggunakan pengetahuan secara optimal. Knowledge utilization di BPS Provinsi Sulawesi Tengah dilakukan dengan cara pengambilan keputusan, kebijakan serta pemecahan masalah yang diperoleh dari hasil analisis mendalam terkait hasil sensus/survei maupun kegiatan lainnya. Sebagai instansi yang dikenal dengan beragam ketersediaan datanya, BPS Provinsi Sulawesi Tengah diharapkan mampu mencetak individu yang memiliki kemampuan dan berkinerja tinggi, berdaya saing serta mampu menciptakan berbagai inovasi yang dapat dimanfaatkan oleh pihak internal maupun eksternal BPS Provinsi Sulawesi Tengah. Pemanfaatan pengetahuan di BPS Provinsi Sulawesi Tengah juga dapat dilihat dari kegiatan dalam mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh misalnya dengan turut berkontribusi dalam menyumbangkan opini/tulisan terkait dengan data-data yang dihasilkan oleh BPS yang dituangkan dalam media cetak maupun media digital. Gambar 7. Implementasi Knowledge Utilization melalui kegiatan penyusunan naskah jurnal Dari paparan mengenai lima dimensi manajemen pengetahuan yang terjadi BPS maka, penulis merancang model terkait proses knowledge management yang digambarkan dalam bentuk di bawah ini: Gambar 8. Model Manajemen Pengetahuan di Instansi Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah Gambar 9. Model Komunikasi Virtual di Istansi Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah

Conclusion

Manajemen Pengetahuan yang ada di BPS Provinsi Sulawesi Tengah merupakan teknik dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang bertujuan untuk memotivasi pegawainya agar terus berinovasi, belajar dan terus meningkatkan pemahaman atas pengetahuan baru yang diperoleh sehingga akan menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki produktivitas dan berkinerja tinggi serta dapat mencapai keunggulan kompetitif organisasi. Manajemen Pengetahuan di BPS Provinsi Sulawesi Tengah juga telah mengimplementasikan penggunaan teknologi informasi untuk menunjang proses manajemen pengetahuan dengan penggunaan KM tool. Model proses manajemen pengetahuan di BPS Provinsi Sulawesi Tengah memuat lima elemen yaitu penciptaan atau produksi pengetahuan, pengorganisasian pengetahuan, penyimpanan atau pelestarian pengetahuan, berbagi dan menyebarkan pengetahuan serta menggunakan atau memanfaatkan pengetahuan.