Kembali
16
1
2024 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 8 · 3 ISSN 2598-3040

Pengobatan Alternatif di Desa Suwawal: Analisis Persepsi dan Perilaku Informasi Masyarakat

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Penelitian ini membahas mengenai perilaku informasi masyarakat Desa Suwawal terkait penggunaan pengobatan alternatif dan bagaimana mereka memandang hal tersebut. Tujuan penelitian ini untuk memahami serta mengetahui perilaku informasi dan persepsi masyarakat Desa Suwawal terhadap penggunaan pengobatan alternatif, untuk mencapai tujuan tersebut metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah thematic analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku informasi masyarakat dalam melakukan pencarian informasi cenderung dilakukan secara pasif, informasi tersebut diperoleh melalui interaksi antar warga masyarakat di Desa Suwawal. Kemudian untuk memastikan kebenaran dan khasiat informasi pengobatan yang diterima masyarakat melakukan evaluasi informasi dengan cara mencoba secara langsung pengobatan yang disarankan serta melihat pengalaman orang-orang yang sudah menggunakannya. Setelah merasa yakin dengan kebenaran informasi tersebut kemudian mereka menggunakan pengobatan alternatif yang direkomendasikan. Setelah menggunakan dan juga merasakan kebenaran khasiat pengobatan tersebut, masyarakat kemudian membagikan kembali informasi pengobatan yang diterima kepada orang lain disekitarnya yang dirasa juga membutuhkan. Adanya interaksi dengan informasi tersebut memunculkan adanya persepsi dalam lingkungan masyarakat terkait pengobatan alternatif terdapat masyarakat yang menganggap pengobatan alternatif tidak memiliki efek samping serta dirasa lebih alami, namun disisi lain terdapat pula masyarakat yang juga menganggap beberapa pengobatan alternatif dianggap tidak memiliki dasar ilmiah dan berbahaya. Hal tersebut diperparah oleh informasi mengenai pengobatan alternatif yang diterima masyarakat Desa Suwawal yang kurang lengkap mengenai risiko efek samping yang mungkin ditimbulkan sehingga berpotensi menjadi misinformasi

Abstract

This research presents an investigation into the informational behavior of the Suwawal Village community with regard to the utilisation of alternative medicine and the associated perceptions. The objective of this study was to gain insight into the informational behavior and perceptions of the Suwawal Village community regarding the utilisation of alternative medicine. To achieve this, a qualitative research method with a phenomenological approach was applied, and data were collected through interviews. Thematic analysis was employed as the data analysis technique. The findings of this study indicate that the community's information-seeking behavior is predominantly passive. Information is obtained through interactions between community members in Suwawal Village. Subsequently, in order to ascertain the veracity and efficacy of the received treatment information, the community evaluates the information by directly trying the suggested treatment and observing the experiences of individuals who have utilised it. Once the veracity of the information had been established, the recommended alternative treatment was then employed. Once the efficacy of the treatment has been validated, the community disseminates the information to other individuals in need. The interaction with this information has resulted in the formation of perceptions regarding alternative medicine within the community. There is a dichotomy of opinion regarding alternative medicine. Some believe it to be free from side effects and to be more natural, whereas others consider some alternative treatments to lack scientific basis and to be dangerous. This is further compounded by the lack of clarity surrounding the potential risks of alternative medicine, particularly in the Suwawal Village community. This lack of clarity has the potential to disseminate misinformation.
Keywords: information behavior · perception · Suwawal village community · alternative medicine

Introduction

Informasi sudah menjadi bagian kebutuhan masyarakat, termasuk juga informasi tentang kesehatan. Informasi kesehatan diperlukan dengan berbagai alasan, seperti untuk membuat keputusan terkait kesehatan, mencari informasi tentang penyakit, atau hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu (MRL et al, 2019). Selain itu, Arstipendy & Pawito (2017) mengungkapkan bahwa seseorang mungkin mencari informasi kesehatan karena perlu menjaga kesehatan dan memiliki keinginan untuk menyembuhkan penyakit yang diderita. Kebutuhan informasi tentang kesehatan tersebut, mendorong adanya pencarian informasi. Seseorang mencari informasi karena adanya kebutuhan (Maulana, 2009). Penelitian yang dilakukan oleh Weaver (2010) menemukan bahwa masyarakat Washington Barat, Amerika melakukan pencarian informasi kesehatan kebanyakan mencari mengenai penyakit dan cara pengobatan nya. Begitu pula dengan masyarakat di Desa Suwawal yang melakukan pencarian informasi kesehatan kebanyakan tentang gejala penyakit dan pengobatan nya. Secara umum, sistem pengobatan sendiri dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: sistem pengobatan ilmiah (modern) yang merupakan hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan sistem pengobatan tradisional (Shofa, 2017). Di desa Suwawal penggunaan pengobatan alternatif telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-sehari masyarakat. Desa Suwawal sebagai daerah pedesaan yang masyarakatnya memiliki budaya, kebiasaan dan kepercayaan yang unik sehingga mereka sangat mudah untuk mempercayai suatu hal, apalagi jika hal tersebut sudah turun temurun diwariskan, berkaitan dengan norma dan nilai, serta kepercayaan yang dianut begitu pula dengan pengobatan alternatif. Biasanya informasi mengenai pengobatan alternatif didapatkan dari orang-orang di lingkungannya, seperti keluarga dan teman, adalah cara umum untuk memilih pengobatan alternatif untuk kondisi pasien (Andira & Pudjibudojo, 2020). Sama halnya dengan masyarakat Desa Suwawal yang banyak mendapatkan informasi mengenai pengobatan alternatif ini dari orang disekitarnya seperti keluarga. Dalam lingkup masyarakat Desa Suwawal adanya anggapan bahwa semua ramuan herbal atau praktik alternatif, dapat menyembuhkan segala jenis penyakit tanpa perlu perawatan medis modern sehingga lebih memilih menggunakan pengobatan alternatif dibandingkan pengobatan medis. Fenomena penggunaan pengobatan alternatif ini juga terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Masyarakat Desa Suwawal sendiri lebih dominan memilih pengobatan alternatif dikarenakan biaya yang relatif lebih murah serta faktor keberhasilan, sebagian masyarakat lebih memilih pengobatan alternatif melakukan berbagai macam cara pengobatan, seperti meracik ramuan herbal sendiri berdasar pada pengetahuan yang dimiliki, contohnya campuran daun salam dan daun alpukat sebagai obat darah tinggi. Selain itu, terdapat pula yang melakukan pijat ketika mengalami patah tulang yang diberikan oleh seseorang yang sudah dikenal dapat mengobati penyakit tersebut. Ketika melakukan kegiatan pencarian informasi tentang pengobatan, masyarakat Desa Suwawal lebih memperhatikan informasi tentang pengobatan alternatif, hal ini terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tradisi penggunaan pengobatan alternatif yang resep dan caranya sudah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Selain itu, adanya faktor ekonomi dan keterjangkauan yang menjadikan pengobatan alternatif sebagai pilihan karena dianggap lebih murah serta mudah didapatkan. Pencarian pengobatan alternatif ini merupakan salah satu upaya masyarakat dalam mencari penyelesain masalah kesehatan khususnya dalam penyembuhan penyakit. Upaya tersebut dilakukan karena masyarakat memiliki keterbatasan diantaranya sangat erat dengan kaitannya dengan unsur-unsur sosial yang ada di masyarakat termasuk pola pemikiran, sikap dan perilaku yang ada di masyarakat (Permana, 2012) Selain itu, alasan lainnya masyarakat pedesaan di Kabupaten Jepara termasuk Desa Suwawal tidak berobat jalan adalah tidak memiliki biaya berobat dengan persentase 3,92 %, mengobati sendiri dengan persentase 61,29% dan merasa tidak perlu berobat dengan persentase 29% (Kurniawan, 2020) Sebelum menentukan pengobatan mana yang digunakan masyarakat Desa Suwawal melakukan evaluasi informasi untuk memastikan kebenaran sebelum menggunakan pengobatan baik pengobatan alternatif maupun medis dalam hal ini kebanyakan informasi yang diterima adalah informasi pengobatan alternatif, kemudian menyebarkan informasi yang didapatkan. Seseorang membuat keputusan penting mengenai kesehatan berdasarkan informasi yang mereka ketahui terkait masalah kesehatan dan keamanan serta keefektifan tindakan yang direkomendasikan. Misalnya, seberapa serius masalah tersebut dan seberapa besar kemungkinan mereka akan terkena dampaknya serta keamanan dan efektifitas tindakan yang direkomendasikan (Nan et al., 2022). Kegiatan tersebut merupakan bentuk bagaimana perilaku informasi masyarakat Desa Suwawal. Dalam informasi tentang pengobatan terutama dalam hal ini pengobatan alternatif, secara tidak disadari muncul adanya potensi misinformasi yang terjadi karena Selain itu, terdapat pula kepercayaan di masyarakat bahwa semua orang dapat mengkonsumsi obat herbal atau tumbuhan herbal yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit tanpa berkonsultasi dengan profesional, padahal dalam beberapa kasus, penting untuk mendapatkan saran dari dokter atau ahli kesehatan sebelum menggunakan pengobatan tradisional, hal tersebut penting karena tubuh setiap manusia memiliki ketahanan yang berbeda serta kemungkinan adanya alergi. Kurangnya informasi yang diterima, pemahaman, dan kesadaran tentang cara mencapai kondisi sehat adalah masalah yang sering muncul. (Dede, 2022). Selain itu, World Health Organization (WHO) (2013) mengungkapkan bahwa di berbagai belahan dunia, para pembuat kebijakan, profesional kesehatan dan masyarakat bergulat dengan isu-isu terkait keamanan, efektivitas, kualitas, ketersediaan, pelestarian dan regulasi pengobatan tradisional dan komplementer. Pengobatan alternatif terus digunakan secara luas di sebagian besar negara, dan penggunaannya meningkat dengan cepat di negara-negara lain. Penelitian ini akan mengkaji perilaku informasi masyarakat Desa Suwawal dalam mencari, mengakses, dan menggunakan informasi terkait pengobatan alternatif. Selain itu, penelitian ini juga akan menganalisis persepsi masyarakat terhadap efektivitas, keamanan, dan alasan di balik preferensi mereka terhadap pengobatan alternatif dibandingkan dengan pengobatan konvensional 2. Landasan Teori 2.1 Perilaku Informasi Perilaku informasi (information behavior) secara umum adalah semua perilaku manusia yang berkaitan dengan sumber dan saluran informasi, perilaku ini mencakup melakukan pencarian dan menggunakan informasi secara aktif dan juga pasif, yang didalamnya termasuk komunikasi secara langsung dan tindakan pasif seperti menonton iklan dari televisi (Wilson, 2000). Notoatmodjo (2010) membagi faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang menjadi dua yaitu : 1) Faktor internal, yaitu sifat bawaan atau karakteristik seseorang. Seperti: tingkat kecerdasan,tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya, dan 2) Faktor eksternal, yaitu pengaruh dari lingkungan atau luar seseorang yang bersangkutan, baik lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor utama atau dominan yang mempengaruhi bagaimana seseorang berperilaku. 2.2 Persepsi Masyarakat Terkait Penggunaan Pengobatan Alternatif Berdasarkan teori sosiologi persepsi adalah proses kognitif yang dilakukan setiap orang ketika mereka memahami informasi tentang lingkungannya. Hal tersebut diperoleh melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan pengalaman mereka sendiri. Sudarsono & Suharsono (2016) mendefinisikan persepsi terhadap kesehatan sebagai proses pengolahan informasi tentang kesehatan dari lingkungan yang diterima melalui indra dan diteruskan ke otak untuk diorganisasikan dan ditafsirkan. Proses ini menghasilkan penilaian dari pengalaman sebelumnya tentang kesehatan diri. Pengobatan alternatif adalah pengobatan non medis dimana peralatan dan bahan yang digunakan tidak termasuk dalam standar pengobatan medis dan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional seperti dokter (Andira & Pudjibudojo, 2020). Perbedaan antara pengobatan alternatif dengan pengobatan modern konvensional terletak pada ruang lingkupnya. Pengobatan alternatif dinilai lebih menyeluruh dan bisa lebih memahami kondisi masyarakat karena cakupan pelayanannya terdiri dari kesehatan jiwa, raga dan sosial sedangkan pengobatan konvensional dinilai lebih memusatkan segala kegiatannya hanya bersifat fisik saja (Permana, 2012). Cakupan yang menyeluruh menjadikan pengobatan alternatif memiliki hubungan yang erat dengan budaya dan kebudayaan dari suatu daerah. Hal tersebut ditandai dengan beragamnya bentuk kegiatan yang berpusat pada komunitas, dimana kegiatan tersebut bersifat swadaya yang menekankan pada pertolongan dan perawatan diri sendiri. Menurut WHO (2013) produk pengobatan alternatif meliputi jamu, bahan jamu, sediaan jamu dan produk herbal jadi yang mengandung bagian tanaman, bahan tanaman lain atau kombinasinya sebagai bahan aktif. Praktik pengobatan alternatif meliputi terapi pengobatan dengan obat herbal, naturopati, akupunktur dan terapi manual seperti chiropraktik, osteopati serta lainnya teknik terkait lainnya termasuk qigong, tai chi, yoga, pengobatan termal, dan terapi fisik, mental, spiritual, dan pikiran-tubuh lainnya 2.3 Karakteristik Masyarakat Desa Definisi desa menurut Jamaludin (2015) adalah self community, yaitu sebuah komunitas yang mengatur dirinya sendiri. Masyarakat desa dapat digambarkan sebagai masyarakat dengan hubungan yang lebih erat dan sistem kehidupan yang biasanya berkelompok dengan dasar kekeluargaan. Masyarakat desa memiliki karakteristik atau ciri khas yang menjadikan masyarakat desa memiliki keunikan tersendiri. Pada lingkungan masyarakat desa mengandung sejumlah kearifan lokal (local wisdom), kearifan tersebut dapat dilihat melalui aturan, norma, tata krama, bahasa, kelembagaan, nama dan gelar serta teknologi yang digunakan (Jamaludin, 2015). Masyarakat desa ditandai dengan ikatan batin yang kuat antara setiap warga atau anggota masyarakat, yang pada dasarnya membuat setiap orang merasa dicintai dan menjadi bagian penting dari masyarakat di mana mereka hidup. Adanya perasaan merasa dekat karena pengaruh sistem kekerabatan yang ada dalam masyarakat desa. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat desa menggunakan prinsip gotong-royong dan musyawarah untuk mencapai kesepakatan. Prinsip tolong-menolong dan gotong royong menjadi bagian dari tradisi dan adat istiadat begitu juga dengan musyawarah. Musyawarah antar keluarga atau kelompok adalah bagian penting dari kehidupan mereka karena mereka hidup secara komunal, bukan individual, dan berpikir kurang rasional dan tidak bisa memecahkan masalah sendiri. Oleh karena itu, musyawarah merupakan sarana untuk memecahkan masalah. (Jamaludin, 2015)

Method

Pada penelitian ini metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam serta kaya akan konteks sosial, budaya, dan historis dimana perilaku informasi dan persepsi masyarakat Desa Suwawal mengenai penggunaan pengobatan alternatif terbentuk. Pemilihan pendekatan fenomenologi karena dapat membantu peneliti dalam memberikan gambaran yang lebih mendalam dan rinci tentang fenomena yang dialami oleh informan serta menemukan hakikat dari pengalaman manusia melalui fenomena yang dikaji dalam penelitian ini. Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara secara mendalam dengan masyarakat Desa Suwawal sebagai informan yang mengalami fenomena tersebut, pemilihan informan dilakukan dengan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan model analisis data dengan metode thematic analysis Thematic analysis merupakan salah satu cara untuk menganalisa data dengan tujuan untuk mengidentifikasi pola atau untuk menemukan tema melalui data yang telah dikumpulkan oleh peneliti (Braun & Clarke, 2006). Proses tematik analisis yang dilakukan terdiri dari 6 tahapan yang didasarkan pada teori dari Braun & Clarke (2012). Tahapan pertama yang dilakukan adalah dengan mengenal atau memahami data, pada langkah ini peneliti melibatkan transkrip wawancara, membaca ulang data yang sudah ditemukan tentang persepsi dan juga perilaku masyarakat Desa Suwawal tentang pengobatan alternatif, serta mencatat ide-ide awal. Tahap selanjutnya adalah membuat kode awal, pada tahap ini peneliti melakukan pemberian kode pada transkrip wawancara informan yang dirasa dapat menjawab rumusan masalah penelitian yaitu bagaimana perilaku informasi dan persepsi masyarakat Desa Suwawal terhadap penggunaan pengobatan alternatif serta jika temuan tentang perilaku informasi dan persepsi tentang pengobatan alternatif tersebut dirasa menarik. Tahap ketiga yang dilakukan peneliti adalah mencari tema, pada tahap ini peneliti membuat tema awal dan mengumpulkan kode-kode yang sama mengenai perilaku informasi dan juga persepsi tentang pengobatan alternatif ke dalam tema awal tersebut. Peneliti mengulang Siklus ini diulang beberapa kali untuk mempersempit jumlah kode dan mengelompokkannya ke dalam tema-tema yang dapat diidentifikasi serta nantinya dapat menjawab rumusan masalah penelitian yaitu bagaimana perilaku informasi dan persepsi masyarakat Desa Suwawal terhadap penggunaan pengobatan alternatif. Langkah empat meninjau tema-tema potensial, pada tahap ini peneliti melakukan pemeriksaan terhadap tema-tema awal yang dibuat apakah sudah sesuai dengan kutipan-kutipan wawancara yang telah dikodekan pada tahap pertama mengenai persepsi dan perilaku informasi tentang pengobatan alternatif. Langkah kelima menentukan dan memberi nama tema Pada tahap ini peneliti membuat nama tema yang sesuai dan dapat menjawab rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimana perilaku informasi dan persepsi masyarakat Desa Suwawal terhadap penggunaan pengobatan alternatif Langkah terakhir yang dilakukan peneliti adalah membuat laporan Pada tahap akhir ini peneliti menyusun laporan berupa tugas akhir atau skripsi dari data-data tentang persepsi dan perilaku informasi mengenai pengobatan alternatif di lingkungan masyarakat Desa Suwawal yang sudah diolah. Berdasarkan analisis data yang sudah dilakukan peneliti mengemukakan 3 tema yaitu: 1) Perilaku informasi kesehatan masyarakat Desa Suwawal, 2) Persepsi masyarakat Desa Suwawal terkait informasi kesehatan, 3) Laten terjadinya misinformasi kesehatan di tengah Masyarakat Desa Suwawal

Result & Discussion

Pada pembahasan penelitian ini menjelaskan 4 temuan penelitian yang didapatkan setelah proses analisis data. Temuan-temuan tersebut diantaranya adalah: 1) Perilaku informasi kesehatan masyarakat Desa Suwawal; 2) Persepsi masyarakat Desa Suwawal terkait informasi kesehatan; 3) Laten terjadinya misinformasi kesehatan di tengah masyarakat Desa Suwawal 4.1 Perilaku Informasi Kesehatan Masyarakat Desa Suwawal Pencarian informasi kesehatan masyarakat Desa Suwawal dilakukan secara pasif dan juga aktif. Kebanyakan informasi kesehatan mengenai pengobatan alternatif yang diterima masyarakat Desa Suwawal secara pasif yang berupa saran dari orang sekitar dan keluarga. Masyarakat Desa Suwawal yang senang bersosialisasi atau berinteraksi dengan sekitar yang kemudian memberikan kemudahan bagi mereka untuk mendapatkan berbagai informasi, salah satunya mengenai pengobatan alternatif. Seperti pernyataan dari informan empat yaitu Ibu Sri yang mendapatkan saran dari teman dan tetangganya dalam kutipan wawancara berikut “Yo saran konco-konco a, saran tonggo ngono” [Ya saran dari teman-teman, saran tetangga gitu] (Ibu Sri, 9 Februari 2024) Setelah mendapatkan informasi tentang pengobatan alternatif tersebut, masyarakat Desa Suwawal kemudian melakukan evaluasi informasi untuk memastikan kebenaran dari khasiat pengobatan tersebut. cara yang dilakukan meliputi mencoba secara langsung, melihat pengalaman keberhasilan orang lain. Hal tersebut dinyatakan oleh informan empat yaitu Ibu Sri dalam kutipan wawancara berikut “Heem, angger manut koncoku, wong do ngomong sih do godog ngono iku. Mergo dekne wes bajal dhisik terus waras rak dong aku garek anut” [Ya, hanya ikut temanku, pada ngomong sih ngerebus daun gitu. Karena dia sudah nyoba dulu terus sembuh jadinya ya aku tinggal ikuti] (Ibu Sri, 11 Februari 2024). Selain itu, temuan lain dalam penelitian ini menunjukkan terdapat pula masyarakat Desa Suwawal yang melakukan evaluasi informasi dengan melakukan pencarian melalui google Keputusan terkait penggunaan pengobatan alternatif dalam lingkungan masyarakat Desa Suwawal dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi, faktor tersebut terdiri dari faktor internal atau dalam diri mereka sendiri maupun faktor eksternal atau luar dirinya. Temuan penelitian menunjukkan faktor internal yang mempengaruhi keputusan terkait penggunaan pengobatan alternatif adalah memiliki harapan untuk sembuh setelah menggunakan pengobatan tersebut, kemudian merasakan kesembuhan setelah penggunaan sebelumnya Seperti yang diungkapkan oleh informan tiga Ibu Is dalam kutipan wawancara berikut yang menyatakan bahwa “ ...pernah ngerasakake manfaat e dadi dekne percoyo nganggo terus” [Pernah merasakan manfaat nya jadi percaya dan menggunakan terus] (Ibu Is, 9 Februari 2024). Kemudian yang faktor internal yang ketiga adalah preferensi rasa terhadap obat. Faktor eksternal yang ditemukan dalam penelitian ini terdiri dari pengaruh rasa hormat kepada orang yang lebih tua, pengaruh tradisi dan budaya, faktor jarak, faktor ekonomi dan edukasi kesehatan. Biasanya informasi pengobatan alternatif datang dari orang tua dan juga keluarga sehingga terdapat rasa segan karena adanya budaya di masyarakat untuk menghormati yang lebih tua sehingga mereka menerima saran tersebut untuk menunjukkan rasa hormat dan menghargai peran mereka terhadap keluarga dan komunitas. Hal tersebut disampaikan oleh informan dua yaitu Ibu Yan dalam kutipan wawancara berikut “Jenenge wong tua yo ngandani, yo teko dimasuke dalam pikir,yo dienut” [Jika orang tua memberitahu, ya harusnya dimasukkan dalam pikiran, ya di ikuti] (Ibu Yan, 21 Januari 2024). Praktik pengobatan alternatif telah diwariskan secara turun-temurun dan masih dipercaya serta digunakan hingga saat ini. Masyarakat Desa Suwawal seringkali lebih memilih menggunakan ramuan herbal, pijat tradisional dan metode alternatif lain yang sudah dikenal dan terbukti efektif berdasarkan pengalaman nenek moyang mereka. Faktor tradisi dan budaya masyarakat memiliki peranan besar dalam penggunaan pengobatan alternatif karena resep-resep pengobatan dan cara-caranya sudah diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang. Jarak tempuh ke pusat kesehatan juga menjadi salah satu faktor pemicu yang membuat masyarakat Desa Suwawal lebih memilih pengobatan alternatif. Keterjangkauan pelayanan kesehatan medis yang jauh dibandingkan dengan akses untuk pengobatan alternatif seperti penggunaan obat herbal yang lebih mudah ditemukan di sekitar rumah serta di kebun membuat masyarakat Desa Suwawal lebih memilih menggunakan nya. Hal tersebut diungkapkan oleh informan sembilan yaitu Ibu Sopi yang menyatakan bahwa “Coro sing garek metil nek gon latar kene ono pucukan godong ag. Yo mergo gampang digoleki lah terus cedak nek ngarep omah ono, lah selak weteng loro laren golek mloya-mlayu ag kesuen, golek sing simple sing gampang cedak.”[Caranya tinggal ngambil di depan rumah ada daun muda. Ya karena gampang dicari terus dekat di depan rumah ada, keburu perut sakit masa harus lari-lari nyari kelamaan, cari yang gampang dan dekat] (Ibu Sopi, 27 Februari 2024). Pertimbangan harga pengobatan medis atau konvensional menjadi salah satu faktor yang memengaruhi masyarakat Desa Suwawal dalam memilih pengobatan. Harga jamu yang dinilai lebih terjangkau dibandingkan dengan pengobatan medis atau ke dokter yang dinilai mahal menjadikan masyarakat Desa Suwawal akhirnya memilih pengobatan yang dapat mereka jangkau. Seperti keterangan yang disampaikan oleh informan satu yaitu Bapak Suto dalam kutipan wawancara berikut menyebutkan bahwa “... paling cocok, lek paling terjangkau harganya” [Paling cocok dan paling terjangkau harganya] (Bapak Suto, 17 Januari 2024). Pengobatan alternatif akhirnya menjadi solusi praktis dan juga ekonomis karena harganya yang murah dan mudah diakses oleh masyarakat Desa Suwawal. Selain itu, temuan lain dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa masyarakat Desa Suwawal belum pernah mendapatkan edukasi mengenai penggunaan pengobatan alternatif. Informasi tentang bagaimana menggunakan pengobatan alternatif hanya didapatkan melalui pendidikan informal dari keluarga dan orang sekitar secara turun-temurun. Masyarakat Desa Suwawal merupakan masyarakat pedesaan yang masih memiliki hubungan antar warga yang masih terjalin erat, seringkali mereka melakukan interaksi dan membagikan berbagai informasi yang diterima kepada satu sama lain. Tidak terkecuali informasi terkait pengobatan alternatif dan herbal, mereka membagikan informasi yang diketahui kepada orang lain baik keluarga, saudara bahkan hingga tetangga. Mereka melakukan hal tersebut sebagai bentuk rasa kekeluargaan yang menimbulkan keinginan untuk membantu sesama warga yang sedang sakit dan perlu pengobatan. 4.2 Persepsi Masyarakat Desa Suwawal Terkait Informasi Kesehatan Temuan dalam penelitian ini menunjukan masyarakat Desa Suwawal memiliki dua pandangan berbeda mengenai penggunaan pengobatan alternatif, adanya anggapan pengobatan alternatif sebagai pengobatan yang lebih baik dan dipilih karena dirasa lebih alami dan aman serta dirasa lebih cepat menyembuhkan. Masyarakat Desa Suwawal memiliki pandangan bahwa pengobatan alternatif tidak menimbulkan efek samping apapun pada mereka dan dirasa lebih alami dibandingkan pengobatan medis. Hal tersebut disampaikan oleh informan sembilan yaitu Ibu Sopi yang menyatakan bahwa herbal itu bagus dalam kutipan wawancara berikut “Jatahe herbal iku yo malah sing apik, jaman saiki nyatane dokter-dokter iku do gunakake herbal iku gawe campuran obat iku nyatane, iku kan mesthi diuji coba dhisik mesthine iki berbahaya tah orak kan ngono,...sak jane luweh apik herbal iku, kunyit sembarang iku” [Sebenarnya herbal itu ya malah yang bagus, jaman sekarang nyatanya dokter-dokter pada menggunakan herbal buat campuran obat, tentunya itu pasti diuji coba dulu ini berbahaya atau tidak..... Sebenernya ya lebih bagus obat herbal, kunyit dan lain sebagainya itu] (Ibu Sopi, 26 Februari 2024) Selain pandangan positif tentang pengobatan alternatif, terdapat pula masyarakat Desa Suwawal yang memandang pengobatan alternatif sebagai sesuatu yang berbahaya. Seperti disampaikan informan tiga yaitu Ibu Is dalam kutipan wawancara berikut menyebutkan bahwa “Yo bahaya, nek rumangsaku yo lebih berisiko malah ngono, ketimbang ngo ring puskesmas atau koyok dokter. Nek menurutku memang nek loro harus nek puskesmas utawa dokter dhisik disambi ngo ning alternatif tah utawa ning herbal ndak apa-apa. Tapi sebagai samben nek coro ning aku. Dadi utamane tetep obat sing soko dokter atau puskesmas” [Ya bahaya, kalau menurut Saya ya lebih berisiko, daripada pergi ke puskesmas atau ke dokter. Menurutku kalau sakit memang harus ke puskesmas ataupun dokter dulu bisa diselingi menggunakan alternatif atau herbal ya tidak apa-apa. Tapi hanya digunakan sebagai sampingan menurutku, jadi utamanya ya tetap obat dari dokter atau puskesmas] (Ibu Is, 9 Februari 2024) 4.3 Laten Terjadinya Misinformasi Kesehatan di Tengah Masyarakat Desa Suwawal Informasi yang beredar dan diterima masyarakat desa Suwawal tentang pengobatan alternatif yang memang faktanya memiliki manfaat yang baik akan tetapi banyak informasi yang kurang lengkap atau hanya setengah-setengah saja serta salah kaprah terkait penggunaan pengobatan alternatif. Informasi kurang tepat paling banyak ditemukan adalah tentang bagaimana penyajian serta takaran yang tepat dari pengobatan tersebut , efek samping yang mungkin akan ditimbulkan dan larangan konsumsi obat tersebut jika mengalami kondisi tubuh tertentu yang akan semakin parah jika mengkonsumsi obat tersebut. Informasi tersebut diterima masyarakat Desa Suwawal dari orang sekitar yang disebarkan dari mulut ke mulut, informasi tersebut diberikan berdasarkan pengalaman kesembuhan pemberi informasi. Seperti yang disampaikan oleh informan sepuluh yaitu Ibu Edah dalam kutipan wawancara berikut “Nek wong deso uwong masyarakat kita itu kan katanya-katanya jare kae loh waras, soal e kae waras karena kasusnya beda kan karo kasus kita nah iku sing do disamaratakan padahal kondisi tubuh e beda-beda...” [ Kalau orang desa orang di masyarakat kita itu kan katanya-katanya, katanya dia loh sembuh, soalnya dia sembuh karena kasusnya berbeda dengan kasus kita nah itu yang disamaratakan padahal kondisi tubuhnya berbeda-beda] (Ibu Edah, 27 Februari 2024). Penggunaan tanaman obat sebagai pengobatan alternatif tidak boleh dikonsumsi secara sembarangan, cara penggunaan atau konsumsinya seperti obat kimia yang diproduksi oleh industri farmasi yang tetap perlu takaran atau dosis yang dipatuhi. Hal ini bertolak belakang dengan pengetahuan masyarakat Desa Suwawal selama ini yang menganggap bahwa obat tradisional tidak memiliki efek samping. . Informasi mengenai takaran tidak pernah diberikan secara spesifik hanya berupa instruksi untuk daun yang digunakan berjumlah ganjil dan air untuk merebus menggunakan takaran air dengan gelas misalkan 2 gelas direbus hingga tinggal 1 gelas jadi pengolahan nya hanya menggunakan ilmu kira-kira. Padahal pada praktiknya pengetahuan mengenai takaran obat yang sesuai ini sangat penting untuk meningkatkan efektifitas obat tersebut dan meminimalisir efek yang tidak diinginkan. 4.4 Pembahasan Hasil Penelitian Perilaku informasi yang terbentuk dalam lingkup masyarakat Desa Suwawal terdiri dari empat tahapan, tahap pertama adalah bagaimana mereka melakukan pencarian informasi. Pencarian informasi masyarakat Desa Suwawa dilakukan secara aktif dan juga pasif. Secara pasif informasi tentang pengobatan alternatif mereka dapatkan melalui saran dari orang sekitar baik saran dari teman, keluarga, istri, anak, ibu, ibu mertua, nenek, tetangga sekitar. Informasi tersebut didapatkan ketika mereka sedang berinteraksi dan disebarkan melalui percakapan sehari-sehari ketika berkumpul, termasuk pencarian secara pasif karena mereka awalnya tidak memiliki tujuan untuk mencari informasi tentang hal tersebut akan tetapi tetap mendapatkan informasinya. Terdapat masyarakat Desa Suwawal yang melakukan pencarian informasi secara aktif dengan mencari melalui google, media sosial dan juga bertanya pada tenaga kesehatan. Lubis et al, (2023) menjelaskan bahwa setelah mendapatkan informasi dari berbagai sumber dan teknik pencarian informasi, pengguna selanjutnya akan memproses informasi tersebut dan melakukan pengolahan informasi kemudian menggunakan informasi. Tahap kedua adalah evaluasi informasi, untuk memastikan kebenaran informasi yang diterima dan memilah mana informasi yang akan digunakan. cara yang banyak dilakukan untuk memastikan khasiat pengobatan adalah dengan mencoba pengobatan tersebut secara langsung ke tubuh mereka. Selain itu, melihat keberhasilan teman atau keluarga menggunakan pengobatan alternatif menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk meyakinkan dan memastikan kebenaran tentang khasiat pengobatan alternatif tersebut. Temuan penelitian ini sesuai dan mendukung hasil penelitian Indrawati dan Retni (2021) yang menunjukkan bahwa pada umumnya penggunaan pengobatan alternatif terpengaruh dari keluarga yang telah menggunakan, orang tua yang telah lama menggunakan pengobatan alternatif, teman yang pernah sembuh dengan pengobatan alternatif, saran untuk menggunakan dari masyarakat sekitar tempat tinggal yang juga memanfaatkan pengobatan alternatif sehingga menimbulkan kecenderungan untuk mencoba dan memilih menggunakan pengobatan alternatif untuk menjaga kesehatan mereka. Tahap ketiga adalah penggunaan pengobatan alternatif, setelah melakukan evaluasi informasi tersebut masyarakat Desa Suwawal kemudian memutuskan menggunakan pengobatan tersebut atau tidak. Selain hasil dari evaluasi informasi yang dilakukan terdapat faktor lain yang akhirnya memengaruhi penggunaan pengobatan alternatif yaitu adanya harapan untuk sembuh dari penyakit yang diderita, Andira & Pudjibudojo (2020) menyebutkan bahwa pasien memilih pengobatan alternatif karena percaya bahwa pengobatan alternatif dapat menyembuhkan penyakit mereka, adanya faktor tradisi dan juga budaya yang diwariskan secara turun temurun, hasil penelitian Krsnik & Erjavec (2024) menunjukkan bahwa budaya yang diwariskan memainkan peranan penting dalam penggunaan herbal, penggunaan pengobatan alternatif yang tinggi di Arab Saudi dibanding negara lain berkaitan dengan faktor tradisi dan budaya yang kaya dan sudah dikenal selama berabad-abad oleh Arab Saudi, Selain itu, pengobatan alternatif banyak digunakan masyarakat Desa Suwawal karena biayanya lebih murah dari pengobatan medis atau konvensional. Keterjangkauan pengobatan juga menjadi alasan penggunaan pengobatan alternatif di lingkungan masyarakat Desa Suwawal, seperti dalam temuan penelitian Indrawati & Retni (2021) yang menemukan bahwa pengobatan alternatif disukai karena keterjangkauan lokasi serta terletak di sekitar tempat tinggal, sehingga biaya transportasi yang perlu dikeluarkan tidak besar Tahapan keempat atau terakhir yaitu membagikan informasi, informasi tentang pengobatan alternatif yang sudah didapatkan dan digunakan. Tahap ini terjadi ketika masyarakat berinteraksi satu sama lain yang memungkinkan terjadinya pertukaran informasi antar warga masyarakat terkait pengobatan alternatif. Temuan penelitian ini sesuai dan mendukung hasil penelitian Muharram et al (2019) yang mengungkapkan adanya fenomena sosial yang terlihat pada sebagian masyarakat yang mendorong seseorang untuk mencari serta memelihara kesehatan mereka melalui pengobatan alternatif yang sudah dibenarkan bahkan saling memberi saran kepada orang yang sakit untuk menggunakan pengobatan alternatif. Temuan penelitian ini juga mendukung hasil penelitian Indrawati & Retni (2021) yang mengungkapkan bahwa masyarakat desa yang suka berkelompok atau bersosialisasi memudahkan mereka untuk mendapatkan berbagai informasi mengenai tempat-tempat pengobatan alternatif serta berbagai jenis pengobatan alternatif. Berbagi informasi ini juga terjadi ketika masyarakat pengguna pengobatan merasakan manfaat dan puas dengan pengobatan alternatif yang digunakan sehingga cenderung membagikan informasi tersebut kepada orang lain yang juga memiliki masalah kesehatan yang sama dengan mereka. Persepsi yang terbentuk mengenai pengobatan alternatif pada masyarakat Desa Suwawal terbagi menjadi dua pandangan berbeda. Pandangan atau persepsi tentang pengobatan alternatif ini tercipta dari pengalaman orang terdahulu yang sudah membuktikan khasiat dari pengobatan tersebut. Pengalaman orang sekitar dan keluarga yang juga mengalami keberhasilan, kemudian pengetahuan mereka tentang pengobatan alternatif yang masih terbatas hanya pada pengetahuan turun temurun dari orang terdahulu. Cerita keberhasilan pengobatan alternatif menyembuhkan penyakit yang diderita membuat mereka memiliki pandangan bahwa pengobatan alternatif memang berkhasiat, yang kemudian membentuk persepsi mereka mengenai pengobatan alternatif. Terdapat masyarakat Desa Suwawal yang memandang pengobatan alternatif secara baik atau positif dan masyarakat yang memandang pengobatan secara negatif atau kurang baik. Masyarakat Desa Suwawal yang memandang positif pengobatan alternatif berpendapat bahwa menggunakan pengobatan alternatif merupakan pilihan yang paling baik karena tidak menimbulkan efek samping atau lebih aman , dirasa lebih alami serta mudah untuk diakses. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang masih percaya bahwa pengobatan alternatif termasuk didalamnya obat tradisional dan herbal lebih aman karena terbuat dari bahan-bahan alami serta tidak memiliki efek samping jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Temuan penelitian ini sesuai dan mendukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Abdelmola et al, (2021) yang mengungkapkan bahwa orang-orang mempercayai metode penyembuhan secara tradisional bersumber dari bahan alami bukan berasal dari bahan sintetis atau buatan. Hal tersebut juga sesuai dan mendukung penelitian yang dilakukan oleh Alnaz et al (2023) yang menyebutkan bahwa masyarakat meyakini bahwa obat-obatan herbal lebih aman jika dibandingkan dengan pengobatan konvensional Masyarakat yang memandang penggunaan pengobatan alternatif secara negatif atau dirasa kurang baik dan lebih berisiko ternyata hal ini terbentuk salah satunya dari melihat pengalaman orang disekitar yang mengalami kegagalan penggunaan pengobatan alternatif, yang membuat penyakit yang diderita semakin parah dan sampai perlu dibawa ke rumah sakit. Masyarakat dengan persepsi tersebut akhirnya lebih memilih menggunakan pengobatan medis yang lebih modern dan dirasa lebih aman menurut pandangannya. Informasi tentang pengobatan alternatif yang beredar dan diyakini masyarakat Desa Suwawal secara tidak disadari ternyata berpotensi terjadi misinformasi, dimana informasi tentang pengobatan alternatif tersebut memang secara fakta benar berkhasiat akan tetapi informasi yang diterima tidak lengkap mengenai pengolahan, jumlah takaran yang sesuai dan efek samping yang ditimbulkan. Selama ini masyarakat Desa Suwawal belum pernah mendapatkan bentuk edukasi secara khusus mengenai penggunaan pengobatan alternatif baik dari puskesmas maupun dinas terkait, mengenai risiko dan efek samping yang mungkin ditimbulkan dari pengobatan alternatif yang akan dilakukan. Selama ini informasi yang didapatkan hanya sebatas pada manfaat, bagaimana melakukan, dan dimana tempat untuk melakukan atau mendapatkan pengobatan tersebut. Temuan penelitian ini sesuai dan mendukung temuan penelitian dari Nursanti et al, (2023) yang mengungkapkan bahwa masyarakat di Kelurahan Mandati III belum pernah mendapatkan penyuluhan atau sosialisasi dari Dinas kesehatan maupun dari pihak puskesmas tentang bagaimana cara pengolahan dan penggunaan obat tradisional. Selama ini, mereka hanya menggunakan pengetahuan yang sudah diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Informasi takaran yang diterima masyarakat Desa Suwawal untuk penggunaan pengobatan alternatif berupa herbal hanya mengenai jumlah daun yang digunakan harus ganjil, lalu takaran untuk merebus air yang menggunakan takaran gelas, seperti direbus dengan dua gelas air hingga air menyusut menjadi satu gelas. Hal tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan kebingungan serta muncul efek negatif yang tidak diinginkan. Peracikan secara tradisional dengan takaran sejumput, segenggam maupun seruas sulit untuk ditentukan ketepatannya. Dengan menggunakan takaran yang lebih tepat seperti satuan gram dapat mengurangi kemungkinan adanya efek samping yang tidak diinginkan karena batas antara racun dan obat dalam bahan tradisional amatlah tipis. Temuan penelitian ini sesuai dan mendukung penelitian Nursanti et al (2023) juga mengungkapkan bahwa efek samping dari obat tradisional relatif lebih kecil jika digunakan secara tepat dilakukan secara tepat, hal tersebut meliputi kebenaran bahan yang digunakan, ketepatan dosis, ketepatan waktu penggunaan, ketepatan cara menggunakan dan ketepatan informasi serta tidak boleh disalahgunakan. Oleh karena itu, meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penggunaan pengobatan tradisional menjadi sangat penting karena ini berkaitan langsung dengan kesehatan dan kualitas hidup seseorang.

Conclusion

Perilaku informasi yang tercipta di lingkungan masyarakat Desa Suwawal terdiri dari perilaku pencarian informasi, dimana masyarakat desa tersebut mencari informasi mereka secara aktif melalui bertanya pada ahli dan mencari melalui google dan media sosial. Secara pasif mereka mereka mendapatkan informasi tentang pengobatan alternatif melalui orang sekitar baik keluarga, teman maupun tetangga. Kemudian evaluasi informasi pengobatan mereka lakukan dengan mencoba secara langsung untuk memverifikasi kebenaran khasiatnya dan melihat pengalaman keberhasilan orang lain. Setelah melakukan evaluasi kemudian mereka membuat keputusan untuk menggunakan atau tidak informasi pengobatan tersebut, yang terakhir adalah membagikan informasi pengobatan alternatif tadi kepada orang disekitar mereka baik ketika diminta maupun tidak. Persepsi yang terbentuk dalam lingkungan masyarakat Desa Suwawal terbagi menjadi dua yaitu persepsi positif atau menerima pengobatan alternatif, adanya pandangan atau persepsi bahwa pengobatan alternatif itu lebih baik dan dirasa lebih alami serta aman untuk dikonsumsi. Persepsi negatif atau menolak pengobatan alternatif tersebut, bentuk persepsi atau pandangan negatif bahwa masyarakat tidak menggunakan pengobatan alternatif karena dianggap tidak berdasar dan berbahaya jika digunakan serta takut akan efek samping yang mungkin ditimbulkan. Selain itu, muncul pula persepsi mereka tentang pengobatan secara medis yang juga terbagi menjadi dua yaitu positif yang menganggap pengobatan medis lebih berdasar dan aman. Bentuk persepsi negatif tentang pengobatan medis dianggap kurang baik karena mengandung bahan kimia. Laten atau potensi yang tidak disadari terkait terjadinya misinformasi tentang pengobatan alternatif muncul pada lingkungan masyarakat Desa Suwawal. Hal tersebut, terjadi karena informasi disebarkan secara lisan atau mulut ke mulut antar warga masyarakat, kemudian kurangnya informasi mengenai risiko dan efek samping tentang pengobatan dan juga keefektifan hanya didasarkan pada testimoni pribadi.