Proses Pengadaan Bahan Pustaka Perpustakaan Sekolah
Universitas Padjadjaran
Abstrak
Proses pengadaan bahan pustaka menjadi sebuah unsur dari proses manajemen suatu perpustakaan. Pengadaan bahan pustaka ini juga menjadi sebuah cara yang dapat dilakukan oleh pihak perpustakaan dalam usaha menyediakan kesesuaian kebutuhan informasi dari pemustaka. Proses ini biasanya dilakukan oleh pihak perpustakaan sekolah dan merupakan sebuah cara yang dilakukan pustakawan sekolah untuk menyediakan informasi dan minat yang sesuai dengan siswa serta siswi sekolah tersebut. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji proses pengadaan bahan pustaka di perpustakaan sekolah serta faktor-faktor yang dapat menghambat proses pengadaan koleksi tersebut. Metode penelitian yang digunakan ialah dengan studi literatur berdasarkan penelitian-penelitian lain yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwasanya dalam proses pengadaan bahan koleksi terdapat empat langkah yaitu melakukan inventarisasi terhadap bahan-bahan pustaka yang direncanakan untuk dimiliki oleh perpustakaan, menganalisis kebutuhan bahan pustaka dari pengguna perpustakaan, melakukan penentuan prioritas, melakukan penentuan cara yang digunakan dalam pengadaan bahan pustaka. Dan faktor yang mempengaruhi proses pengadaan bahan pustaka dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal.
Abstract
The process of procuring library materials becomes an element of the management process of a library. Procurement of library materials is also a way that can be done by the library in an effort to provide appropriate information needs of users. This process is also usually carried out by the school librarian and is a way for the school librarian to provide information and interests that are appropriate to the school's students. This study aims to examine the process of procuring library materials in the school library and the factors that can hinder the process of procuring the collection. The research method used is a literature study based on other studies that have been done previously. The results of this study found that in the process of procuring collection materials there are four steps, namely carrying out an inventory of library materials that are planned to be owned by the library, analyzing library material needs from library users, determining priorities, determining the methods used in procuring library materials. And the factors that influence the process of procuring library materials can be influenced by internal factors and external factors .
Keywords:
perpustakaan sekolah
· pengadaan bahan pustaka
Introduction
Perpustakaan sekolah merupakan salah satu lembaga informasi yang berada di lingkungan sekolah dan biasa digunakan oleh pemustaka yang berkegiatan di lingkungan sekolah tersebut. Perpustakaan sekolah juga merupakan sebuah lembaga informasi yang paling sering diakses oleh siswa ketika siswa membutuhkan informasi yang cepat dan tepat. Perpustakaan sekolah menjadi salah satu bagian dari program sekolah yang diorganisasikan secara sistematis dan bertujuan untuk memberi bantuan dalam menciptakan keberhasilan dari proses belajar mengajar di sekolah. (Rachmawati & Bachtiar, 2018). Tujuan perpustakaan sekolah ini haruslah didukung dengan adanya sarana prasarana yang memadai dan dapat menunjang kegiatan perpustakaan sekolah. Salah satunya ialah berdasarkan aspek dari bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan. Suatu bahan Pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan sekolah harus merupakan koleksi yang dapat mencapai tujuan dari terselenggaranya perpustakaan sekolah itu sendiri. Dan dalam proses pengadaan yang dilakukan di perpustakaan sekolah ini mestilah sesuai dengan penggunaan kurikulum yang digunakan oleh sekolah yang bersangkutan. Pengadaan bahan pustaka di perpustakaan sekolah menjadi sebuah aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian dari pustakawan. Pengadaan aspek koleksi ini juga dilakukan harus disesuaikan dan mencakup suatu proses yang harus dipertimbangkan saat akan dilakukan dalam pengembangan koleksi di perpustakaan sekolah. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh perpustakaan sekolah dalam melakukan suatu pengadaan koleksi di perpustakaan. Dalam artikel ini akan dilakukan pembahasan lebih lanjut mengenai proses pengadaan bahan pustaka yang dilakukan di perpustakaan sekolah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya berupa tugas akhir yang berjudul “Analisis Pengadaan Bahan pustaka di Perpustakaan SD Negeri 18 Kalosi Kabupaten Enrekang” yang ditulis oleh Ike Warninda. H pada tahun 2017, penelitian yang telah mereka lakukan menggunakan metodologi penelitian pendekatan deksriptif dengan metode kualitatif dimana peneliti melakukan observasi atau pengamatan serta wawancara untuk melengkapi data yang diperoleh. Berdasarkan hasil dari penelitian tersebut didapatkan bahwa pengadaan bahan pustaka di Perpustakaan SD Negeri 18 Kalosi Kabupaten Enrekang dalam pelaksanaannya telah dilakukan tahap penyeleksian terhadap bahan pustaka sebelum dilakukannya proses pengadaan bahan pustaka. Dan dalam pengadaan bahan pustakanya Perpustakaan SD Negeri 18 Kalosi Kabupaten Enrekang menggunakan metode pembelian secara langsung yaitu dengan cara datang secara langsung ke toko buku atau melakukan pemesanan ke penerbit, serta sumbangan buku diberikan oleh siswa/siswi yang telah menamatkan pendidikan di SD Negeri 18 Kalosi Kabupaten Enrekang dan dana anggaran khusus (DAK) dari pemerintah kabupaten Enrekang, dan Kerjasama dengan perpustakaan keliling. Kendala yang ditemukan dalam pelaksanaan proses pengadaan koleksi ialah mengenai dana/anggaran, dan keterlambatan yang sering terjadi saat melakukan pemesanan buku ke penerbit akibat kesalahan buku yang dipesan ataupun buku yang dipesan tidak terdapat di penerbit. Penelitian lain yang telah dilakukan ialah penelitian berupa tugas akhir yang berjudul “Manajemen Pengadaan Bahan pustaka di Perpustakaan SD Nasima Semarang” penelitian ini ditulis oleh Ahmad Ulul Azmi pada tahun 2019, penelitian yang telah dilakukan ialah dengan metode penelitian deksriptif dengan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi. Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil yaitu bahwa Pengadaan bahan pustaka yang dilakukan oleh perpustakaan SD Nasima Semarang menggunakan dua metode yaitu dengan cara pembelian dan sumbangan atau hadiah. Proses yang dilakukan diawali dengan proses pengajuan kepihak sekolah lalu pihak perpustakaan mulai menyeleksi kebutuhan pengguna perpustakaan, selanjutnya melakukan pembelian langsung ke penerbit atau toko buku atau sumbangan dapat diberikan oleh siswa/siswi pada saat peringatan hari buku. Berdasarkan kedua artikel dan artikel serta literatur lain yang telah ditemukan mengenai pengadaan koleksi di lembaga perpustakaan masih sedikit artikel yang mengangkat mengenai proses pengadaan koleksi perpustakaan sekolah dengan metode penelitian studi kasus. Kebanyakan penelitian yang ditemukan menggunakan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Dalam penelitian ini juga penulis akan memberikan penggambaran keseluruhan dalam proses pengadaan koleksi perpustakaan sekolah. Pada penelitian kali ini akan dilakukan pengkajian mengenai proses pengadaan koleksi di perpustakaan sekolah. Dengan cara meninjau beberapa aspek yang mempengaruhi proses terjadinya pengadaan koleksi di perpustakaan sekolah. Berdasarkan maksud dari penelitian yang akan dilakukan ini. Telah ditetapkan beberapa tujuan dari penelitian ini, diantaranya adalah untuk mengetahui proses pengadaan koleksi yang dilakukan oleh perpustakaan sekolah , untuk mengetahui aspek yang mempengaruhi pengadaan koleksi di perpustakaan sekolah , dan untuk mengetahui peran pustakawan dalam proses pengadaan koleksi di perpustakaan. TINJAUAN PUSTAKA Perpustakaan Sekolah Perpustakaan sekolah dapat didefinisikan sebagai perpustakaan yang dilaksanakan oleh pihak sekolah serta dikelola secara penuh oleh sekolah menaunginya. Perpustakaan sekolah ini merupakan segala jenis perpustakaan yang penyelenggaraannya dilakukan di sekolah, baik itu sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas. (Prihartanta, 2015). Pelaksanaan perpustakaan sekolah ini juga bertujuan untuk dapat mendukung terlaksana serta dapat mencapai tujuan dari sekolah serta tujuan pendidikan secara umum. Dapat ditarik kesimpulan bahwa perpustakaan sekolah ialah perpustakaan yang terdapat di lingkungan sekolah dan dinaungi oleh sekolah tersebut dan memiliki fungsi untuk menunjang segala proses pembelajaran di sekolah tersebut. Perpustakaan sekolah juga memiliki peranan penting dalam menyediakan informasi yang dapat digunakan oleh pengguna perpustakaan baik itu siswa, guru, staff, ataupun masyarakat yang berada disekitar sekolah tersebut. Selain itu, perpustakaan sekolah juga memiliki fungsi dalam membantu peningkatan mutu pendidikan di sekolah dengan cara menyediakan koleksi yang dapat disesuaikan dengan kurikulum yang berjalan di sekolah tersebut. Perpustakaan sekolah juga harus dapat membekali siswa agar dapat memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat (long life learning) dan mampu mengembangkan ide-ide kreatif. Dalam menjalankan suatu perpustakaan sekolah tentu saja harus terdapat suatu struktur organisasi yang jelas. Pada umumnya setiap perpustakaan akan memiliki seorang kepala perpustakaan untuk memastikan perpustakaan tersebut berjalan dengan baik. Selain itu, seorang kepala perpustakaan juga harus bisa melakukan pengambilan keputusan dan mengarahkan rekan kerja lainya. Salah satu pengambilan keputusan yang harus dilakukan oleh seorang kepala perpustakaan ialah pembuatan kebijakan menganai pengadaan bahan pustaka di perpustakaan sekolah. Bahan Pustaka Perpustakaan Dalam pelaksanaan tujuan dari perpustakaan sekolah, ada beberapa aspek yang perlu menjadi hal penting dalam terlaksananya suatu perpustakaan, salah satunya ialah aspek bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan. Bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan sekolah ini dapat berupa buku maupun non buku. Dan biasanya hal ini akan disesuaikan dengan kebutuhan pengajar, ukuran serta jumlahnya, serta bagaimana cara kita mendapatkan akses terhadap bahan pustaka tersebut. Bahan pustaka yang ada di perpustakaan sekolah haruslah menjadi motivasi bagi siswa untuk mendatangi perpustakaan. Maka dari itu jenis dari bahan pustaka perpustakaan ini harus beragam dan disesuaikan dengan kebutuhan pemustaka itu sendiri. Salah satu contoh dari perbedaan jenis bahan pustaka ialah perbedaan jenis dari bahan pustaka di perpustakaan sekolah dasar dan perpustakaan sekolah menengah atas. Bahan pustaka yang dimiliki sekolah dasar akan berfokus pada bahan pustaka yang diminati oleh anak-anak seperti komik, buku-buku bergambar ataupun dongeng. Sedangkan, bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan sekolah menengah atas biasanya akan berfokus pada bahan pustaka yang diminati oleh remaja contohnya novel fiksi maupun non fiksi. Namun, selain koleksi yang bersifat menghibur bagi pembaca, bahan pustaka di perpustakaan sekolah juga haruslah dapat digunakan untuk membantu berjalannya pembelajaran dan sesuai dengan kurikulum yang sedang digunakan. Perpustakaan sekolah hakikatnya disarankan untuk menyediakan 60% bahan pustaka berupa buku pembelajaran dan 40% lainnya merupakan bahan pustaka berupa buku lainnya, baik itu fiksi maupun non fiksi. Bahan pustaka perpustakaan sekolah ini menjadi prasyarat terlaksananya perpustakaan sekolah. Perpustakaan yang baik akan senantiasa berusaha untuk menyediakan bahan pustaka yang dapat mencukupi informasi penggunanya dan bahan pustaka tersebut dapat dengan mudah digunakan oleh penggunanya. Bahan pustaka di perpustakaan sekolah ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap gemar membaca siswa, karena saat suatu jenis bahan pustaka yang diminati hadir di perpustakaan hal tersebut akan memacu siswa untuk melakukan peminjaman di perpustakaan, dan semakin sering ia melakukan peminjaman di perpustakaan maka ia akan semakin gemar membaca dan tingkat minat baca siswa menjadi meningkat. Peningkatan tingkat minat baca ini tentu saja akan memengaruhi kemampuan siswa dalam memahami pembelajaran. Maka dari itu pustakawan memerlukan beberapa pertimbangan dalam menyediakan bahan pustaka di perpustakaan sekolah, seorang pustakawan yang bertugas di perpustakaan sekolah diharapkan dapat menyeleksi bahan pustaka secara selektif agar bahan pustaka di perpustakaan skeolah dapat menjadi sumber daya yang berguna bagi siswa. Untuk melakukan hal tersebut perpustakaan sekolah dapat melakukan kegiatan pemilihan bahan pustaka di perpustakaan sekolah. Proses Pengadaan Perpustakaan Proses pengadaan bahan pustaka di perpustakaan ialah serangkaian kebijakan yang dikeluarkan oleh perpustakaan menganai pengembangan koleksi. Dan saat dalam pelaksanaan kegiatan pengadaan bahan pustaka yang dilakukan di perpustakaan ini terdapat kebijakan yang menjadi suatu aturan dalam terlaksananya pengadaan bahan pustaka. Kegiatan ini memiliki tujuan agar dapat menghadirkan bahan pustaka yang belum terdapat pada perpustakaan ataupun dilakukan untuk melakukan penambahan bahan pustaka yang telah terdapat di perpustakaan, tetapi jumlah dari bahan pustaka tersebut masih kurang. (Hutaol, 2018). Selain itu, proses pengadaan bahan pustaka juga dapat didefinisikan sebagi sebuah proses berfikir dengan cara melakukan penentuan dalam pemilihan usaha yang akan digunakan selanjutnya guna mendapatkan suatu bahan-bahan pustaka dalam upaya penyelenggaraan perpustakaan dengan sebaik-baiknya (Gusminar & Delman, 2012). Saat melakukan proses pengadaan bahan pustaka perpustakaan perlu memperhatikan beberapa hal, salah satunya ialah kebutuhan dari pengguna perpustakaan. Perpustakaan perlu mengadakan proses pengadaan perpustakaan yang memiliki tujuan efesien dan tepat guna. Diharapkan pengadaan perpustakaan tersebut dapat sesuai dan tidak terdapat bahan pustaka yang kurang sesuai dengan kebutuhan yang dimiliki oleh pengguna. Proses pengadaan bahan pustaka juga dapat didefinisikan sebagai sebuah rangkaian yang terjadi dalam proses pengembangan koleksi yang hasilnya akan diperoleh juga diterimanya sebuah bahan pustaka baik itu berupa fisik ataupun akses ke sumber daya online. (Hutaol, 2018). Ada langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh seorang pustakawan ketika akan melakukan proses pengadaan koleksi diantaranya ialah inventarisasi bahan pustaka yang akan diadakan, menganalisis kebutuhan bahan pustaka, menentukan prioritas bahan pustaka, menentukan cara yang akan digunakan oleh perpustakaan dalam melakukan pengadaan bahan pustaka. Dalam pelaksanaannya, proses pengadaan perpustakaan, pihak perpustakaan dapat melakukannya dengan caranya masing-masing sesuai dengan lembaga yang menaunginya. Kebijakan yang akan diambil ini sesuai dengan masing-masing dan dikembalikan kepada keputusan dari kepala perpustakaan.
Method
Metode penelitian yang dinilai tepat dalam penelitian ini ialah dengan menggunakan metode penelitian studi literatur. Pendekatan penelitian dengan metode pendekatan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan terkait proses pengadaan koleksi di perpustakaan sekolah. Dimana metode penelitian studi literatur ini memiliki perbedaan yang jauh dengan metode penelitian kuantitatif, tetapi metode penelitian studi literatur ini memiliki kesamaan dengan metode penelitian kualitatif. Studi literatur atau kajian literatur ini dapat didefinisikan sebagai suatu rangkuman tertulis yang ditulis berdasarkan jurnal, buku, dan dokumen lainnya untuk mendeksripsikan teori maupun informasi yang berasal dari masa lalu ataupun saat ini dan selanjutnya di organisasikan peneliti ke dalam topik atau penelitian yang sedang dilakukan. (Creswell & John, 2014). Metode penelitian studi literatur ini. Dalam pengumpulan data dengan metode ini akan dilakukan pengumpulan data sekunder dengan cara melakukan pengumpulan, pengkajian, serta peninjauan hasil dari penelitian yang telah pernah dilakukan serta memiliki hubungan atau korelasi dengan judul penelitian ini. Sumber data tersebut dapat berasal dari jurnal (e-journal) yaitu google scholar, openacces, dan masih banyak sumber lainnya. Selanjutnya akan dilakukan analisis terhadap data yang telah diperoleh. Data yang berhasil diperoleh ini selanjutnya akan dianalisis menggunakan metode analisis deksriptif. Metode analisis deksriptif ini dilakukan dengan cara melakukan proses deksripsi terhadap fakta yang telah ditemukan kemudian dilanjutkan dengan proses analisis, dan terakhir penulis akan memberikan kesimpulan berdasarkan analisis yang telah dilakukan. Dalam proses tersebut penulis bukan hanya akan melakukan penguraian saja tetapi juga penulis akan berusaha memberikan pemahaman serta penjelasan secukupnya. Hal ini, menjadi salah satu pertimbangan pengambilan keputusan untuk memilih studi literatur dalam penelitian kali ini, penulis ingin dapat menggambarkan secara jelas fakta-fakta yang ditemukan dan memberikan penjelasan secara ringkas agar pembaca dapat dengan mudah menangkap isi dari artikel ini.
Result & Discussion
Berdasarkan tinjauan yang telah dilakukan dengan cara melakukan penelusuran terhadap beberapa rujukan baik itu berupa jurnal, prosiding, skripsi, tesis, maupun disertasi. Didapatkan bahwasanya proses pengadaan bahan pustaka di perpustakaan menjadi sebuah kegiatan yang sangat penting. Begitupun dalam perpustakaan sekolah, proses pengadaan dari bahan pustaka di perpustakaan sekolah ini haruslah menjadi perhatian dari perpustakaan sekolah maupun lembaga yang menaungi perpustakaan sekolah tersebut. Dalam prosesnya pihak perpustakaan haruslah bisa menimbang serta melakukan upaya untuk menyediakan bahan pustaka yang dapat memberi bantuan dalam pembelajaran. Selain itu proses pengadaan bahan pustaka ini juga haruslah disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, dimana pengguna dari perpustakaan sekolah itu sendiri kebanyakan adalah siswa dan siswi. Para siswa akan semakin tertarik untuk mengunjungi perpustakaan apabila pustakawan dapat mengoptimalkan proses pengadaan bahan pustaka dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan dari siswa itu sendiri. Dengan adanya proses pengadaan ini juga diharapkan perpustakaan dapat melakukan penyesuaian terhadap bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan sehingga tidak terdapat bahan pustaka yang kurang tepat di perpustakaan sekolah. Saat akan melakukan sebuah pengadaan bahan pustaka ada beberapa proses yang dapat dilakukan oleh pihak perpustakan menurut Hutagaol (2018). Yang pertama ialah melakukan inventarisasi terhadap bahan-bahan pustaka yang direncanakan untuk dimiliki oleh perpustakaan. Kegiatan inventarisasi bahan pustaka dapat didefinisikan sebagai sebuah kegiatan mencatat daftar bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan dan kegiatan ini merupakan tugas yang harus dilakukan oleh pustakawan ataupun petugas perpustakaan. Pelaksanakan kegiatan inventarisasi di perpustakaan ini dapat dilakukan apabila perpustakaan memiliki buku inventarisasi atau buku induk, cap atau stempel inventarisasi serta cap atau stempel perpustakaan. Tujuan dari diadakannya kegiatan inventarisasi adalah agar dapat memberikan kemudahan bagi perpustakaan dalam melakukan pengedalian kepemilikan bahan pustaka. Karena dengan dilakukannya kegiatan inventarisasi maka perpustakaan akan dengan mudah dalam pembuatan sebuah laporan, melakukan penyusunan statistik, melakukan pemeriksaan terhadap khasanah bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan serta ketersediaan bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan dapat diketahui dengan mudah. Selain melakukan inventarisasi, pihak perpustakaan juga dapat melakukan beberapa langkah lain yang akan memudahkan proses pengadaan bahan koleksi. Salah satunya ialah kegiatan katalogisasi, kegiatan katalogisasi ini dapat didefinisikan sebagai sebuah kegiatan yang dilakukan oleh pihak perpustakaan sebagai upaya dalam memberi tanda pada bahan pustaka. Kegiatan katalogisasi juga merupakan Suatu proses pembuatan katalog, dan didalam katalog tersebut akan tercantum data-data penting mengenai bahan pustaka, seperti halnya ciri fisik ataupun dapat berupa isi inteluktual berupa nama pengarang, judul buku, penerbit, maupun subjek. (Angraeni, 2015). Dalam melakukan katalogisasi pihak perpustakaan dapat memilih jenis dari katalog sesuai dari kebijakan masing-masing perpustakaan, jenis dari katalog ini dapat berupa katalog kartu maupun katalog berkas. Kegiatan lain yang dapat dilakukan oleh pihak perpustakaan ialah kegiatan klasifikasi. Kegiatan klasifikasi ini sendiri dapat diartikan sebagai suatu proses penggolongan atau pengelompokan suatu bahan pustaka yang diperoleh dari subjek serta berdasarkan isi dari bahan pustaka tersebut. Jenis sistem klasifikasi juga terdiri atas beberapa macam dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan dari perpustakaan itu sendiri diantaranya adalah , Dewey Decimal Classification (DDC), Universal Decimal Classification (UDC), Library of Congress Classification (LCC), Colon Classification (CC), dan masih banyak lagi. Tetapi, pada umumnya sistem klasifikasi yang digunakan oleh sebagian besar perpustakaan yang ada di Indonesia ialah sistem klasifikasi DDC atau Dewey Decimal Classification. Pihak perpustakaan juga harus bisa melakukan analisis kebutuhan bahan pustaka dari pengguna perpustakaan. Sudah seharusnya sebuah perpustakaan memberikan penyediaan bahan pustaka yang sesuai dengan kebutuhan pemustakanya. Agar pihak perpustakaan dapat melakukan penyediaan informasi yang sesuai dengan kebutuhan penggunanya, pihak perpustakaan dapat melakukan analisis kebutuhan bahan pustaka dari penggunan perpustakaan. Di perpustakaan sekolah, kebanyakan pengguna yang melakukan pencarian informasi adalah siswa/siswi dari sekolah tersebut. Sehingga pihak perpustakaan dapat menganalisis kebutuhan bahan pustaka yang sekiranya akan berguna serta dapat digunakan dengan baik oleh pengguna. Dalam melakukan analisis terhadap kebutuhan dari pemustaka ini, pustakawan dapat melakukan pembandingan terhadap inventarisasi bahan pustaka yang direncanakan akan dimiliki oleh perpustakaan dengan hasil dari inventarisasi bahan pustaka yang sudah terdapat di perpustakaan. Perpustakaan dapat melakukan pengambilan keputusan berdasarkan data klasifikasi mengenai informasi yang dibutuhan pengguna yang telah dikumpulkan setiap harinya berdasarkan tahapan wawancara secara langsung pada saat melakukan pelayanan sikulasi atau dengan melalui kotak saran yang disediakan agar pengguna dapat memberikan pendapatnya mengenai analisis bahan pustaka yang sekiranya dibutuhkan oleh mereka. (Yuliani, 2020). Dalam proses analisis terhadap bahan pustaka di perpustakaan sekolah, pihak perpustakaan haruslah memiliki kemampuan untuk menyelidiki kebutuhan bahan pustaka dari pengguna perpustakaan yang kebanyakan adalah siswa/siswi dari sekolah tersebut. Perpustakaan juga haruslah dapat melakukan penentuan prioritas dalam melakukan analisisi kebutuhan bahan-bahan pustaka ini, mungkin saja akan terjadi keadaan dimana kebutuhan bahan pustaka ternyata sangat banyak, tetapi dana yang dimiliki kurang dari total harga bahan pustaka tersebut. Maka dari itu, seorang pustakawan harus bisa melakukan penentuan prioritas terhadap bahan pustaka dan memilih bahan pustaka yang lebih dibutuhkan oleh perpustakaan. Selain melakukan pertimbangan terhadap kebutuhan dari pemustaka, perpustakaan juga harus dapat mempertimbangkan faktor lain dalam melakukan penentuan prioritas dalam pelaksanaan pengadaan bahan pustaka di perpustakaan. Salah satu faktor yang dapat diperhatikan dalam melakukan penentuan prioritas adalah faktor penyimpanan pada pelaksanaan pengadaan bahan pustaka di perpustakaan. Faktor ini harus ditinjau pihak perpustakaan mengenai kesanggupan dari perpustakaan dalam merawat ketersediaan bahan pustaka tersebut, perpustakaan haruslah bisa menyediakan tempat yang aman dan dapat melindungi bahan pustaka dari vandalisme terhadap bahan pustaka. Terlebih di perpustakaan sekolah kejadian vandalisme ini sangat sering terjadi baik itu secara sengaja maupun tak sengaja dilakukan oleh pemustaka. Selain itu, faktor estetika dari bahan pustaka juga harus menjadi pertimbangan. Saat perpustakaan memutuskan prioritas untuk mengembangkan suatu bahan pustaka yang bersifat khusus, pihak perpustakaan harus bertanggung jawab penuh terhadap hal tersebut. Dengan penentuan prioritas ini dapat lebih memudahkan pihak perpustakaan dalam melakukan proses pengadaan koleksi. Selain itu, penetuan prioritas ini juga dapat dilakukan karena dapat membantu sekolah dalam menetapkan kriteria terhadap dampak atau kemungkinan yang akan terjadi pada setiap kegiatan pengadaan koleksi. (Purwani, 2012). Langkah akhir yang dapat dilakukan dalam proses pengadaan bahan pustaka ialah dengan melakukan penentuan cara yang akan digunakan dalam melaksanakan prosesnya. Terdapat beberapa cara yang dapat digunakan oleh perpustakaan dalam melakukan pengadaan bahan pustaka, diantaranya ialah melalui pembelian , cara pertama ini adalah sebuah cara yang disinyalir merupakan salah satu cara paling efektif dalam melaksanakan pengadaan bahan pustaka. Pihak perpustakaan juga harus membuat daftar pembelian bahan pustaka sehingga dapat sesuai dengan dana yang ada dan bagi koleksi yang tidak lolos dalam proses penyeleksian akan dibuat sebuah daftar yang disebut daftar desiderata, dimana dalam daftar tersebut akan terdapat daftar bahan pustaka yang ditunda pembeliannya karena bahan pustaka tersebut belum tersedia atau karena dana perpustakaan yang belum mencukupi pembelian bahan pustaka tersebut. Pembelian juga dapat dilakukan melalui penerbit , toko buku, dan juga pemesanan . Pihak perpustakaan juga dapat melakukan pengadaan koleksi yang bersal dari hadiah/sumbangan. Dengan menggunakan cara ini pihak perpustakaan mungkin saja akan sangat diuntungkan karena tidak perlu mengeluarkan dana sedikitpun, tetapi terkadang hadiah/sumbangan yang diberikan juga tidak sesuai dengan kebutuhan dari pengguna perpustakaan. Sehingga, proses penggadaan bahan pustaka ini dinilai kurang efektif. Tetapi, dalam perolehannya penggadaan bahan pustaka melalui hadiah ini dapat diperoleh melalui du acara yang pertama yaitu dengan cara penerimaan langsung dari penyumbang atau pihak perpustakaan dapat mengajukan permintaan hadiah. Selanjutnya ialah melalui tukar menukar. Pengadaan bahan pustaka dengan cara pertukaran ini biasanya dilakukan antar lembaga-lembaga, dan tanggung jawab dari bahan pustakanya biasa dilimpahkan secara langsung pada bagian pengadaan. Kegiatan tukar menukar ini biasanya dilakukan ketika sebuah bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan tidak sesuai dengan kebutuhan dari pengguna perpustakaan atau jumlah ekslempar dari sebuah koleksi yang terdapat di perpustakaan sudah terlalu banyak. Kegiatan ini akan terlaksana apabila atas persetujuan kedua belah pihak. Bahan pustaka yang didapatkan dari kegiatan tukar menukar ini juga memiliki potensi saat akan dilakukan proses pengembangan koleksi bahan pustaka di perpustakaan, karena bahan pustaka yang didapatkan secara gratispun kadang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Lalu perpustakaan juga dapat mendapatkan koleksi yang berasal dari titipan atau pinjaman yang berasal dari perpustakaan lain. Dan yang terakhir perpustakaan dapat melakukan pengadaan koleksi yang berasal dari terbitan pribadi , dimana perpustakaan juga dapat menerbitkan karya sendiri untuk melakukan pengadaan koleksi. Salah satu koleksi yang dapat diterbitkan oleh perpustakaan adalah bibliografi, bulletin, manual, dan masih banyak lagi. Dalam melakukan proses pengadaan koleksi perpustakaan akan menghadapi beberapa permasalahan yang mungkin saja akan mengahambat proses pengadaan koleksi perpustakaan tersebut. Adapun beberapa faktor yang mungkin dapat menyebabkan terkendalanya proses pengadaan bahan pustaka adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM). Sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu faktor penting dalam melakukan proses pengadaan bahan pustaka. Saat sebuah perpustakaan dilengkapi oleh SDM yang mumpuni maka akan memudahkan pihak perpustakaan saat akan melaksanakan proses pengadaan bahan pustaka. Namun, jika SDM yang dimiliki tidak memiliki kemampuan untuk mengadakan proses pengadaan koleksi. Maka hasil pengadaan koleksi tersebut tidak akan begitu baik atau tidak efektif. Kendala lain yang mungkin terjadi dalam proses pengadaan koleksi adalah kendala dalam proses pembelian bahan pustaka. Pihak perpustakaan harus memiliki kemapuan untuk mencari informasi ke berbagai pihak baik itu distributor, penerbit, maupun toko buku karena setiap pihak tentu saja memiliki kebijakan yang berbeda. Apabila pihak perpustakaan tidak bisa mengetahui kebijakan tersebut kemungkinan besar akan terjadi kendala dalam proses pembelian bahan pustaka. Selin itu, bisa karena hadiah atau sumbangan yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Hadiah atau sumbangan merupakan salah satu cara dalam proses pengadaan koleksi. Karena pada umumnya hadiah atau sumbangan diberikan secara sukarela oleh pihak lain terkadang hadiah atau sumbangan yang diberikan ini tidak sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan membuat bahan pustaka di perpustakaan menjadi tidak efisien .
Conclusion
Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan penelitian dengan metode studi literatur yang telah dilakukan didapatkan bahwa sebelum melakukan proses pengadaan bahan pustaka di perpustakaan sekolah pihak perpustakaan sekolah dapat melakukan beberapa tahapan di antaranya ialah melakukan inventarisasi terhadap bahan-bahan pustaka yang direncanakan untuk dimiliki oleh perpustakaan, lalu melakukan analisis kebutuhan bahan pustaka dari pengguna perpustakaan, selanjutnya melakukan penentuan prioritas, dan yang terakhir melakukan penentuan cara yang digunakan saat akan melakukan kegiatan pengadaan bahan pustaka. Cara-cara ini dapat dilakukan pihak perpustakaan sekolah sesuai dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak perpustakaan sekolah. Cara yang dilakukan ini dapat berupa metode pembelian, hadiah/sumbangan, tukar menukar, titipan, serta penerbitan pribadi yang dilakukan oleh pihak perpustakaan. Dalam proses pengadaan bahan pustaka ini juga ada beberapa faktor yang dapat menjadi penghambat dalam pelaksanaannya, faktor-faktor ini dapat berupa faktor internal maupun faktor eksternal. Salah satu faktor internal adalah kurangnya sumber daya yang dimiliki oleh pihak perpustakaan dan faktor eksternal dapat berasal dari kendala dalam proses pembelian bahan pustaka dan hadiah/sumbangan yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Peran pustakawan juga menjadi salah satu hal yang akan sangat berpengaruh dalam proses pengadaan bahan pustaka di perpustakaan sekolah.