Kembali
16
1
2024 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 7 · 1 ISSN 2654-6469

Analisis Pelestarian Bahan Pustaka di Perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung

Universitas Islam Nusantara; Universitas Terbuka; Universitas Islam Nusantara

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pelestarian bahan pustaka yang terletak di perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung dilihat dari cara pelestarian bahan pustaka, faktor kerusakan, cara mengatasi, dan kendala yang dihadapi dalam melaksanakan pelestarian bahan pustaka. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah 2 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung telah melakukan pelestarian bahan pustaka namun belum maksimal dalam pelaksanaannya, dilakukan dengan cara sederhana yang faktor kerusakan perpustakaannya yaitu faktor manusia, faktor fisika, dan bencana alam dan cara mengatasinya dengan menambal atau menempelkan halaman yang rusak apabila masih layak digunakan dan memindahkan bahan pustaka ke tempat tinggi agar tidak terkena genangan air saat banjir. Adapun kendala yang dihadapi adalah kurang sumber daya manusia yang berpotensi dan berl inier perpustakaan atau pustakawan dan ruangan yang tidak terlalu besar dan tidak ada tempat penyimpanan bahan pustaka yang telah tidak digunakan lagi.

Abstract

This study aims to analyze how the preservation of library materials located in the library of SMA Negeri 25 Bandung is seen from the method of preserving library materials, damage factors, ways to overcome them, and the obstacles encountered in carrying out the preservation of library materials. The research method used is descriptive research method with a qualitative approach. Data collection techniques by way of observation, interviews and documentation. Informants in this study amounted to 2 people. The results showed that the library of SMA Negeri 25 Bandung had conserved library materials but had not been maximal in its implementation, done in a simple way where the library damage factors were human factors, physical factors, and natural disasters and how to overcome them by patching or pasting damaged pages if they are still damaged. suitable for use and move library materials to high places so that they are not exposed to standing water during floods. The obstacles faced are the lack of potential and line ar human resources for libraries or librarians and rooms that are not too large and there is no place to store library materials that are no longer used.
Keywords: pelestarian · bahan pustaka · perpustakaan SMAN 25 Bandung

Introduction

Sebagai sarana penyedia informasi, perpustakaan kini telah banyak bekerjasama dan memanfaatkan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang kian pesat, khususnya di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari fenomena yang terlihat di sekitar kita, penerapan teknologi sudah banyak ditemui di perpustakaan, seperti perpustakaan sekolah yang memanfaatkannya sebagai media pendukung siswa untuk lebih dekat dengan literasi. Perpustakaan adalah sebuah tempat yang didalamnya memuat segudang informasi, baik itu informasi yang disajikan secara tercetak atau non cetak. Perpustakaan adalah sekumpulan bahan pustaka, baik yang tercetak ataupun rekaman lainnya, yang terletak pada suatu tempat tertentu yang telah diatur untuk mempermudah pemustaka dalam mencari kebutuhan informasi masyarakat yang dilayaninya dan tidak untuk diperjual belikan (Trimo dalam Fahriansyah & Indah , 2022) . Menurut UU No. 43 Tahun 2007 Pasal 1 Tentang Perpustakaan, perpustakaan adalah sebuah institusi pengelola karya tulis, karya cetak, dan karya rekam secara professional dengan sistem yang baku untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan reaksi para pustaka. Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang terletak di lingkungan sekolah. Adanya perpustakaan sekolah adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat sekolah yang bersangkutan, khususnya para guru dan siswa ( Sulistyo - Basuki dalam Nugrahini, 2019 ). Di perpustakaan terdapat pengelola perpustakaan untuk meningkatkan kualitas perpustakaan itu sendiri yaitu sumber daya manusia sebagai pengelola. Terdapat sumber daya lain yang lebih penting di perpustakaan, tidak lain dan tidak bukan adalah bahan pustaka. Walaupun sudah era digital, dimana koleksi sudah banyak di alih mediakan dalam bentuk non cetak, namun koleksi dalam bentuk tercetak masih sangat diperlukan eksistensinya. Hal ini menjadi faktor yang melatarbelakangi pentingnya melakukan pelestarian bahan pustaka yang berbentuk cetak atau fisik ( Shintia, Apriyani, Ardila & Amran, 2019) . Pelestarian koleksi adalah pemeliharaan dan pengawetan koleksi perpustakaan agar bahan pustaka senantiasa pada kondisi yang yang baik dan siap dimanfaatkan oleh pemustaka (Martoatmodjo, 2015). Pelestarian bertujuan untuk merawat bahan pustaka agar tetap terjaga kualitasnya, terhindar dari kerusakan, dapat digunakan dalam waktu yang lama, dan mempertahankan kandungan informasi yang termuat didalamnya. Semua ini dilakukan agar ilmu pengetahuan yang ada dalam bahan pustaka bisa digunakan secara optimal dalam jangka waktu panjang dan bisa dijadikan warisan untuk generasi penerus yang akan datang (Fatmawati, 2017). Keadaan koleksi bahan pustaka di Perpustakaan SMAN 25 Bandung ini mencakup fasilitas ruangan dan kondisi bahan pustaka. Apabila kondisi bahan pustaka yang masih bagus dan informasi di dalamnya masih sangat actual maka akan menarik minat pemustaka untuk datang ke perpustakaan dan rajin membaca buku. Perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung ini belum melakukan kegiatan pelestarian secara maksimal, sehingga kerap kali ditemukan bahan pustaka yang telah rusak, tidak layak dipakai, sulit digunakan oleh pemustaka dan b ahan pustaka yang menguning. Di perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung tidak hanya terdapat buku saja, namun terdapat pula surat kabar, majalah, peta, globe, ensiklopedia dan kamus yang kurang terawat. K ond isi tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena apabila dibiarkan terus - menerus akan semakin bertambah kerusakannya. Perpustakaan SMAN 25 Bandung juga di jumpai penempatan buku - buku yang tidak ideal, sehingga mengakibatkan kerusakan buku terutama kertas buku yang robek. Idealnya, buku diletakkan dalam kondisi berdiri agar punggung buku terlihat dengan jelas di rak dan buku yang telah dilabeli juga mudah terbaca oleh pemustaka. Dengan demikian, peneliti mengambil judul penelitian “Analisis Pelestarian Bahan Pustaka di Perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung” yang bertujuan untuk menganalisis bagaimana pelestarian bahan pustaka yang terletak di perpustakaan SMAN 25 Bandung. T erdapat penelitian terdahulu yang mempunyai kaitan dengan penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan oleh Fatmawati ( 2017 ) yang berjudul Analisis Kebutuhan Pelestarian Bahan Perpustakaan Tercetak. Dalam penelitian ini ditegaskan bahwa pentingnya melakukan pelestarian bahan perpustakaan yang bertujuan untuk menyediakan bahan perpustakaan yang berkualitas dan mewujudkan perpustakaan sebagai sumber informasi bagi para pemustaka. Sehingga survei analisis kebutuhan pelestrarian bahan perpustakaan sangat penting untuk perencanaan pelestarian. Hasil dari penelitian ini adalah usulan perbaikan bahan pelestarian dan kebijakan pelestarian. Perencanaan terkait kebijakan dan prosedur kegiatan pelestarian ini perlu dilakukan untuk meminimalisir kerusakan bahan perpustakaan tercetak. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Hasyim (2017) dengan judul Sistem Pelestarian Bahan Pustaka di UPT Perpustakaan Universitas Negeri Makassar. Penelitian ini memuat penyebab kerusakan bahan pustaka yang dapat mempengaruhi banyak hal, baik secara langsung ataupun tidak langsung yang dapat menyebabkan kerusakan yang berdampak buruk bagi buku - buku tersebut. Pelaksanaan preservasi dan konservasi tidak sesuai dengan standar yang telah dilakukan karena setiap pendapat yang masuk berbeda - beda dan ada juga yang kurang sesuai dengan yang peneliti tanyakan. Berdasarkan dua penelitian di atas terdapat perbedaan dengan penelitian ini yaitu pada penelitian ini lebih membahas mengenai pelestarian bahan pustaka, faktor yang mempengaruhi kegiatan pelestarian dan cara mengatasinya, serta kendala yang dihadapi dalam pelestarian bahan pustaka. Pelestarian menurut International of Federation Library Association (IFLA ), bahwa , “Pelestarian adalah semua pengelolaan dan pertimbangan keuangan termasuk penyiapan akomodadi, susunan tingkat kepegawaian, kebijakan, teknik dan metode yang meliputi pemeliharaan perpustakaan, alat - alat serta informasi yang memuat hal tersebut” ( Budiwirawan & Krimayani, 2015) . Tujuan dari kegiatan pemeliharaan bahan pustaka, yaitu a) menyelamatkan nilai informasi yang terkandung dalam setiap bahan pustaka tau dokumen; b) menyelamatkan bentuk fisik bahan pustaka atau dokumen; c) mengatasi kendala kekurangan ruang ( space ); d) mempercepat proses temu balik atau penelusuran dan perolehan informasi; dan e) menjaga keindahan dan kerapian bahan pustaka (Martoatmodjo dalam Dewi, Syam and Indah, 2020). Oleh karena itu , pelestarian bahan pustaka sangatlah penting dilakukan dan diimplementasikan di perpustakaan untuk menjaga dan meminimalisir kerusakan bahan pustaka sehingga informasi yang termuat didalamnya dapat digunakan oleh generasi - generasi muda di masa mendatang.

Method

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif (Qualitative research) adalah suatu penelitian yang ditjukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang serta individual ataupun kelompok (Sukmadinata, 2020). Penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif yang lokasi penelitiannya di perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung. Sumber data yang diperoleh yaitu data primer yang berupa data perolehan dari tempat penelitian secara langsung. Metode pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti melalui observasi langsung, wawancara, kajian pustaka, dan dokumentas i . Tabel 1 . I n forman Penelitian di Perpustakaan SMAN 25 Bandung NO Inisial Informan Pekerjaan Usia 1 LS Kepala Perpustakaan 57 2 VN Layanan Pemustaka 22 Sumber: Peneliti, 2023

Result & Discussion

Profil Perpustakaan SMA N 25 Bandung Perpustakaan SMAN 25 Bandung adalah perpustakaan sekolah yang terletak di dalam lingkungan sekolah menyatu dengan bangunan SMAN 25 Bandung . Perpustakaan ini terletak di ujung bangunan sekolah, lebih tepatnya berada di belakang yang berhadapan langsung dengan gedung kelas 10. Perpustakaan SMAN 25 Bandung buka pada hari Senin – Jum’at pukul 06.30 – 15.00 WIB, adapun pada tanggal merah perpustakaan libur sesuai dengan jadwal sekolah di SMAN 25 Bandung ini. Perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung didirikan sejak tahun 1981, berkembang dan bertumbuh seriring berjalannya waktu mempunyai ukuran 88 m2. Koleksi kian bertambah, ruangan dan organisasi pun ditingkatkan hingga saat ini. Perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung juga mempunyai visi dan misi yang menjadi pedoman bagi keberlanjutan perpustakaan kedepannya. Visi Perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung adalah “Mencerdaskan kehidupan bangsa dengan gemar membaca”. Adapun Misi perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung adalah m eningkatkan minat baca di lingkungan sekolah , p erpustakaan dijadikan kegiatan belajar mengajar , p erpustakaan dijadikan sebagai pusat sumber belajar, kreasi dan rekreasi , m engembangkan bahan pustaka , m eningkatkan SDM perpustkaan , m eningkatkan promosi dan layanan perpustakaan dan b erusaha melakukan pengabdian kepada masyarakat. Fasilitas yang ada di perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung adalah ruangan yang luasnya 88 m2, rak koleksi buku, lemari buku, ruang baca yang terdiri dari meja Panjang, k omputer, printer, dan hotspot area (WiFi). Perpustakaan ini mengoleksi buku - buku bahan ajar, majalah, surat kabar, novel fiksi, karya - karya umum, globe, peta, kamus, ensiklopedia, antologi puisi, antologi cerpen dan carpon , kemudian terdapat juga DVD/CD . Perpustakaan SMAN 25 Bandung juga memberikan layanan dan menjadi tempat bagi para siswa dalam mengeksplor bakatnya dalam kesenian dan hal lain. Perpustakaan SMAN 25 Bandung menyajikan layanan terbuka bagi para pemustaka, dimana pemustaka dapat dengan bebas mencari bahan pustaka secara mandiri dengan menelusuri setiap rak dan lemari yang ada di perpustakaan. Layanan peminjaman dan pengembalian buku juga ditata sedemikian rupa agar nantinya koleksi terkordinir datanya. Selain itu juga disajikan juga form untuk mengisi kunjungan siswa ke perpustakaan. Pelestarian Bahan Pustaka di Perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung Pelestarian adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus, terarah dan terpadu guna mewujudkan tujuan tertentu yang mencerminkan adanya sesuatu yang tetap dan abadi, bersifat dinamis, luwes, dan selektif (Ranjabar dalam Mawaddah, 2022). Keberadaan bahan pustaka harus dilestarikan karena meruapakam salah satu unsur penting dalam sebuah sistem perpustakaan selain ruangan atau Gedung, peralatan, perabot, tenaga, dan anggaran. Unsur - unsur tersebut saling berkaitan dan mendukung terselenggaranya layanan perpustakaan yang baik dan efisien (Martoatmodjo dalam Rodin & Kurnia, 2021). Dalam wawancara yang dilakukan mengenai pelestarian di SMAN 25 Bandung didapatkan pernyataan dari informan sebagai berikut : “Belum rutin”. (LS, Wawancara, Mei, 2023) “Biasanya kita membersihkan bahan pustaka dari debu - debu, merapikan kembali di lemari dan raknya, menambal buku koleksi yang masih bisa digunakan dan dibaca”. (VN, Wawancara, Mei, 2023) Berdasarkan pernyataan di atas dapat diketahui bahwa pelaksanaan pelestarian perpustakaan dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan pemustaka dengan membersihkan dan merawat koleksi dengan baik. Seperti membereskan ruangan setiap harinya agar anak - anak nyaman berkunjung ke perpustakaan, dan menata buku sesuai mata pelajaran dan sesuai kategori agar memudahkan peserta didik untuk mencari buku, majalah, koran, dan lain - lain. Tujuan pelestarian koleksi perpustakaan yaitu untuk menyelamatkan nilai - nilai informasi yang terkandung di dalam sebuah dokumen, mempercepat penelusuran dan perolehan informasi, menjaga aspek keindahan dan kerapihan dokumen, memeliha bahan pustaka agar senantiasa digunakan dalam jangka waktu yang lama, dan mencegah koleksi dari berbagai faktor yang sifatnya merusak (Ramadhan, 2019). Faktor - faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka dan Cara Mengatasi Penyebabnya di Perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung Pada dasarnya terdapat dua jenis kegiatan dalam kegiatan pelestarian bahan pustaka, yaitu mencegah adanya kerusakan dan memperbaiki kerusakan tersebut (Budiwirawan & Krismayani, 2015). Faktor penyebab kerusakan bahan pustaka menurut Bafadal dalam Zelinan, Boham, & Lotulung, 2021) , terbagi menjadi dua , yaitu ulah manusia atau minuman dan faktor alamiah seperti jamur, udara, air, api, debu, sinar matahari, dan serangga. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti , faktor penyebab terjadinya kerusakan bahan pustaka adalah faktor fisika, manusia dan bencana alam. Faktor fisika terjadi karena intensitas cahaya yang masuk ke perpustakaan, suhu udara, kelembaban udara dan debu yang ada mengakibatkan buku - buku ysng ada di perpustakaan menguning, bau, timbul jamur dan lembab. Hal ini membuat buku kualitas buku agak berkurang karena kerusakan yang telah terjadi. Adapun faktor manusia terjadi karena kelalaian para siswa dalam meminjam buku, sehingga buku menjadi sobek karena tidak dijaga dengan baik. Menurut ibu VN dalam wawancara yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memperbaiki buku yang rusak yaitu dengan cara menambalnya, menyatukan lagi dengan solasi apabila masih layak untuk dipakai dan diperbaiki. Adapun f aktor bencana alam adalah faktor yang disebabkan oleh bencana alam yang sangat sulit untuk dihindari,. Bencana alam ini adalah kejadian yang diakibatkan oleh gejala alam dan mengakibatkan dampak besar bagi populasi manusia, seperti banjir. Banjir menjadi masalah tersendiri bagi perpustakaan, dampaknya sangatlah banyak yaitu koleksi menjadi basah, halaman per halaman buku menjadi terpisah, rak menjadi cepat lapuk, kotor, dan perpustakaan menjadi tidak nyaman. Seperti yang telah dijelaskan oleh ibu LS terkait cara mengatasi hal ini adalah dengan memindahkan buku ke tempat yang lebih tinggi, sehingga terhindar dari jangkauan banjir. Kendala Pelestarian Bahan Pustaka di Perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung Berdasarkan hasil observasi di perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung kendala yang dihadapi dalam melakukan pelestarian bahan pustaka di perpustakaan ini adalah sumber daya manusia dan ruangan. Berdasarkan hasil wawancara pada penelitian ini ditemukan bahwa tidak adanya sumber daya manusia di perpustakaan yang memiliki keahlian khusus di bidang perpustakaan, tidak ada pustakawan yang berpendidikan linier, melainkan seorang guru mata pelajaran biologi dan kurang terlalu paham terkait perpustakaan. Selain itu, r uangan menjadi masalah selanjutnya dalam kegiatan pelestarian . Hal ini dikarenakan ruangan perpustakaan yang tidak terlalu besar sehingga sulit menyediakan tempat untuk pelaksanaan pelestarian. Ruangan yang tersedia juga tidak cukup untuk menampung jumlah koleksi yang dimiliki sehingga banyak koleksi yang masih tertumpuk diatas meja dan diatas lemari.

Conclusion

Berdasarkan hasil observasi peneliti dapat menyimpulkan bahwa perpustakaan di SMA Negeri 25 Bandung dalam hal pelestarian bahan pustaka belum rutin dan belum dilakukan secara maksimal sesuai dengan kaidah pelestarian pada umumnya, sehingga kerap kali ditemukan bahan pustaka yang rusak seperti menguning, sobek, sampul yang terlepas dari tempatnya, terdapat jamur didalamnya, dan beraroma tidak sedap. Pihak perpustakaan tidak menindaklanjuti buku - buku yang sudah tidak terpakai lagi dikarenakan tidak ada bangunan tempat menyimpan buku - buku yang sudah tidak terpakai tersebut. Adapun faktor yang menyebabkan kerusakan itu sendiri adalah karena kelalaian manusia yang kurang menjaga bahan koleksi, faktor bencana alam karena terjadinya banjir, dan faktor alam lain seperti intensitas cahaya, suhu dan temperature yang ada di perpustakaan. Kemudian kendala yang dihadapi perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung yaitu kekurangan sumber daya manusia yang berpotensi dan ahli di perpustakaan dan gedung atau ruangan yang kurang besar untuk menempatkan koleksi perpustakaan dan tidak ada ruang simpan bagi koleksi yang tidak terpakai . Berdasarkan saran yang telah disampaikan, penulis mengemukakan beberapa saran untuk dijadikan bahan pemikiran atau pertimbangan baik bagi perpustakaan maupun pustakawan di Perpustakaan SMA Negeri 25 Bandung, yaitu kepala perpustakaan dan staf perpustakaan sebaiknya melakukan diklat dan pelatihan kepustakawanan dan mengembangkan potensi dalam diri khususnya di bidang kepustakawanan. Hendaknya SMAN 25 Bandung lebih memperhatikan lagi perpustakaannya, membuat perpustakaan nyaman dan dapat berorientasi pada masa depan , serta dapat menjadi poin tersendiri bagi sekolah maupun perpustakaan itu sendiri.