Kembali
16
1
2019 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 2 · 2 ISSN 2654-6469

Hubungan Persepsi Pemustaka Terhadap Sistem Klasifikasi Dewey Decimal Classification (DDC) Dengan Pemanfaatan Sistem Temu Kembali Menggunakan OPAC (Online Public Access Catalog) di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang

Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang; Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Abstrak

Artikel ini membahas tentang persepsi pemustaka terhadap sistem klasifikasi Dewey Decimal Classification (DDC) dengan pemanfaatan sistem temu kembali menggunakan OPAC (Online Public Access Catalog) di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang. Penelitian ini merupakan penelitain korelasional dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, kuesioner dan dokumentasi. Sampel dalam penelitian sebanyak 96 pemustaka dngan teknik simpel random sampeling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara Persepsi Pemustaka Terhadap Sistem Klasifikasi Dewey Decimal Classification (DDC) Dengan Pemanfaatan Sistem Temu kembali menggunakan OPAC (Online Public Access Catalog) Di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang

Abstract

This article iscusses the perceptions of users to Dewey Decimal Classification (DDC) classification system by utilizing the retrieval system using OPAC (Online Public Access Catalog) in the UPT Palembang Sriwijaya Polytechnic State Library. This study is a correlational research with a quantitative descriptive approach. Data collection is done by observation, interviews, questionnaires and documentation. Samples in the study were 96 users with simple random sampling technique. The results showed that there was a significant relationship between the Perception of Users to the Dewey Decimal Classification (DDC) Classification System and the Utilization of the Retrieval System using OPAC (Online Public Access Catalog) in the UPT Palembang Sriwijaya Polytechnic Library.
Keywords: Persepsi pemustka · OPAC (Online Public Access Catalog) · Perpustakaan perguruan tinggi

Introduction

Perpustakaan perguruan tinggi dalam melaksanakan tugas dan fungsi perpustakaan harus menyediakan koleksi perpustakaan yang sesuai dengan jenis perpustakaan dan kebutuhan pemustakanya. Koleksi perpustakaan yang tersedia pada umumnya sangat beragam mencakup koleksi cetak dan koleksi non cetak (Sulistyo-Basuki, 1993). Oleh karena itu, untuk memudahkan pemustaka dalam temu kembali informasi di perpustakaan berupa koleksi. Koleksi perpustakaan harus tersusun secara rapi dan sistematis. Penyusunan koleksi perpustakaan secara rapi dan sistematis di rak. Koleksi perpustakaan harus melalui tahapan pengolahan sebelum dapat dimanfaatkan oleh pemustakanya, yang bertujuan untuk mempermudah pemustakaanya menemukan kembali informasi. Pemustaka di perpustakaan perguruan tinggi dapat dengan mudah menemukan informasi yang dibutuhkannya di perpustakaan karena adanya sistem penggolongan koleksi perpustakaan yaitu klasifikasi. Sistem klasifikasi persepuluhan Dewey Decimal Classification (DDC) yang dikembangkan oleh Melvil Dewey pada tahun 1873 dan 1876. Edisi pertama diterbitkan secara anonim dengan judul A classification and subjek index for cataloging and arranging the books and pamphlets of a library (Mary, 2007). Sistem klasifikasi DDC merupakan pengklasifikasian atau pengelompokkan bahan perpustakaan berdasarkan subjeknya yang disusun secara sistematis agar mudah ditemukan oleh pemustaka (Hastari, 2015). Setelah peroses pengelolahan bahan pustaka selesai ada hal lain yang harus diperhatikan oleh perpustakaan yang menjadi tugas pustakawan. Hal tersebuat ialah cara menemukan kembali informasi dalam hal ini berupa koleksi perpustakaan baik dengan notasi klasifikasi DDC, katalog (manual maupun elektronik), petunjuk arah dan strategi yang tepat digunakan dalam pencarian hingga memperoleh koleksi perpustakaan. Salah satu hal yang mendasari kepuasan pemustaka yaitu terletak pada sistem temu kembali informasi di perpustakaan. Tanpa sistem temu kembali pemustaka akan mengalami kesulitan dalam menemukan sumber-sember informasi di perpustakaan. Begitupun sebaliknya, jika perpustakaan tidak memiliki sistem temu kembali maka perpustakan tersebut akan mengalami kesulitan dalam mengkomunikasikan koleksi yang tersedia di perpustakaan kepada pemustakanya. Untuk mempermudah proses temu kembali perpustakaan juga memfasilitasi pemustakanya dengan satu unit komputer OPAC sebagai saranatemu kembali. Tujuannya agar memudahkan pemustakadalam mencari dan menemukan koleksi perpustakaan. OPAC merupakan katalog dalam bentuk online yang dimanfaatkan dengan menggunakan komputer atau gadget dimana sajadan kapan pun selagi masih terhubung dengan jaringan internet dengan melakukan pencarian pada OPAC pemustaka akan dengan mudah menemukan lokasi/letak koleksi yang dicari di rak dengan menelusuri notasi anggka yang keluar dari hasil pencarian dengan kata kunci yang dimasukan di OPAC. Oleh karena itu pemustaka diharapkan dalam memenuhi kebutuhan informasinya harus dapat memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh perpustakaan. Namun kenyataannya,banyak pemustaka yang tidak mengoptimalkan OPAC dalam penelusuran informasi, hal ini disebabkan karena beberapa faktor seperti tidak memahami akan penomoran klasifikasi dengan sistem klasifikasi DDC dan belum terlaksananyauser education (pendidikan pemakai)yang dilakukan oleh pustakawan dan pihak pengelola perpustakaan secara berkala pada pemustaka mengenai pembacaan notasi DDC dan cara penelusuran menggunakan OPAC, sehingga pemustaka tidak mengetahui bagaimana melakukan penelusuran informasi yang tepat dengan memanfaatkan OPAC. Namun ada diatara mereka yang biasanya langsung mencari dan mendapatkan koleksi bahan pustaka yang dibutuhkannya ke rak-rak koleksi dengan menelusur langsung notasi DDC yang terpasang di rak dan ada juga mahasiswa yang menanyakan langsung kepada pustakawan/staf perpustakaan mengenai keberadaan koleksi yang mereka butuhkan. Namun beberapa mahasiswa lainnya memanfaatkan OPAC untuk menelusur keberadaan koleksi yang dibutuhkan dengan mencari data bibliografi terlebih dahulu di OPAC SLiMS setelah itu barulah ke rak, kurangnya tenaga pengelola perpustakaan yang memiliki kualifikasi juruan ilmu perpustakaan, user education yang belum dilaksanakan secara maksimal. Sehubungan dengan penulisan artikel tentang “Hubungan Persepsi Pemustaka Terhadap Sistem Klasifikasi Dewey Decimal Classification ( DDC ) Dengan Pemanfaatan Sistem Temu Kembali Menggunakan OPAC ( Online Public Access Catalog ) Di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang.” Perlu adanya tinjauan pustaka dari penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian ini. Ada beberapa penelitian sejenis yang penulis temukan dari hasil penelusuran dan jadikan sebagai tinjauan pustaka. Penelitian pertama yaitu penelitian yang dilakukan oleh Hastari (2007), yang berjudul, Hubungan Persepsi Pemustaka tentang Sistem Klasifikasi Dewey Decimal Classification (DDC) dengan Pemanfaatan Sistem telusur Elektronik pada Perpustakaan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung .Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan persepsi pemustaka tentang sistem klasifikasi DDC dengan pemanfaatan sistem telusur elektronik di perpustakaan perguruan tinggi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dan sampel dari penelitian ini adalah anggota Perpustakaan STPB. Sampel menggunakan teknik sampling incidental . Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara persepsi pemustaka tentang sistem klasifikasi DDC dengan pemanfaatan sistem telusur elektronik pada Perpustakaan STPB. Penelitian kedua yaitu penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2007) yang berjudul Penerapan Sistem Klasifikasi Persepuluhan Dewey Di Perpustakaan SMA Negeri 2 Babat Toman Musi Banyuasin .Tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui penerapan klasifikasi di SMA Negeri 2 Babat Toman Musi Banyuansin. 2) Untuk mengetahui kendala- kendala penerapan sistem Klasifikasi Persepuluhan Dewey di SMA Negeri 2 Babat Toman Musi Banyuasin. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Sumber informasi penelitian adalah kepala perpustakaan dan staf perpustakaan sebagai informan, observasi penulis dan dokumentasi yang berhubungan dengan penelitian penulis. Penelitian ketiga, yaitu penelitian yang dilakukan olehAdumawati(2018) yang berjudul Hubungan Persepsi Pemustaka Tentang Sistem Layanan Tertutup (Closed Access) Dengan Pemanfaatan Layanan Perpustakaan (Studi Deskriptif Pada Layanan Laporan Akhir, Skripsi Dan Tesis Perpustakaan IPDN) . Metode penelitian menggunakan metode deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif. hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara persepsi pemustaka tentang sistem layanan tertutup dengan pemanfaatan layanan perpustakaan dengan tingkat korelasi berada pada kategori sangat kuat dan signifikan, secara garis besar persepsi pemustaka tentang sistem layanan tertutup termasuk pada kategori sangat baik, pemanfaatan layanan perpustakaan termasuk pada kategori baik, besarnya persepsi pemustaka tentang sistem layanan tertutup dapat menggambarkan pemanfaatan layanan perpustakaan berada pada kategori besar. Penelitian kelima yaitu penelitian yang dilakukan oleh Rahayu (2015) yang berjudul Persepsi Pemustaka Terhadap Sistem Klasifikasi Di Perpustakaan Lembanga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Persepsi Pemustaka Terhadap Sistem Klasifikasi Di Perpustakaan Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta. Jenis penelitian merupakan penelitian deskriftip kuantitatif. Hasil dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa nilai rata-rata total Persepsi Pemustaka Terhadap Sistem Klasifikasi Di Perpustakaan Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta adalah sebesar 3.01 dan dikatakan baik. Penulis menggunakan kelima penelitian di atas sebagai tinjauan pustaka yang didasarkan atas kesamaan objek maupun variabel penelitian yaitu persepsi pemustaka terhadap sistem klasifikasi dan pemanfaatan OPAC . Selain persamaan, terdapat pula perbedaan dari masing-masing penelitian dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu baik dari jenis penelitian, subjek penelitian, lokasi atau tempat penelitian serta teori yang digunakan. 1. Persepsi Persepsi adalah proses yang digunakan individu mengelola dan menafsirkan kesan indera mereka dalam rangka memberikan makna kepada lingkungan mereka. Meski demikian apa yang dipersepsikan seseorang dapat berbeda dari kenyataan obyektif (Robins, 2003). Persepsi seseorang tidak timbul dengan sendirinya, tetapi melalui proses dan faktor- faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang. Hal ini lah yang menyebabkan setiap orang memiliki interprestasi berbeda, walaupun apa yang dilihatnya sama. Menurut Robins (2003), terdapat 3 faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang. Yaitu : a) individu yang bersangkutan (pemersepsi); b) sasaran dari persepsi; c) situasi. Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi di atas, jika dikaitkan bahwa persepsi pemustaka terhadap sistem pengklasifikasian DDC ketiga faktor tesebut dapat mempengaruhi persepsi pemustaka memahami pengkodean atau notasi DDC berdasarkan pemberian makna dari persepsi yang ditangkapnya dari petunjuk-petunjuk notasi DDC yang di tempel pada rak koleksi. 2. Prilaku pemcarian Informasi Menurut Wilson pada tahun 1981, ia menyatakan bahwa information searching behavior , yaitu perilaku pencarian informasi merupakan perilaku di tingkat mikro, berupa perilaku mencari yang ditunjukkan seseorang ketika berinteraksi dengan sistem informasi. Perilaku ini terdiri atas berbagai bentuk interaksi dengan sistem, baik di tingkat interaksi dengan komputer (misalnya penggunaan mouse atau tindakan mengklik sebuah link ) maupun di tingkat intelektual dan mental (misalnya penggunaan strategi Boleen atau keputusan memilih buku yang paling relevan di antara sederetan buku di rak perpustakaan).Kemudian pada akhirnya terdapat empat perilaku yang diusulkan oleh Wilson dalam teorinya yaitu mulai dari perhatian pasif sampai kepada pencarian berlanjut. Setelah itu informasi yang telah didapat dikelola dan dimanfaatkan. Hal ini merupakan tahap akhir dari bentuk perilaku pencarian informasi menurut Wilson. 3. Sistem Temu Kembali Informasi Sistem temukembali informasi ( information retrieval ) adalah “p roses pencarian kembali inforamsi yang disimpan suatu perpustakaan, pusat inormasi dengan menggunakan petunjuk, simbol tertentu. Alat penemuan kembali informasi akan mempermudah pustakawan maupun pengguna dalam menelusuri data, judu, subyek tertentu” (Lasa , 1990). 4. Katalog Sebagai Sarana Temu Kembali Informasi Katalog merupakan wakil dokumen yang disusun berdasarkan susunan tertentu, mempunyai fungsi dasar yaitu untuk membantu menemukan koleksi yang ada di perpustakaan. Katalog perpustakaan merupakan suatu daftar buku dalam sebuah sebuah koleksi. Tujuan utama katalog perpustakaan adalah membantu pemakai perpustakaan mendapat dokumen seefisien mungkin (Zulaika, 2000). 5. Online Pubcli Access Catalogue ( OPAC) Katalog komputer terpasang ( online computer catalog ) sering disebut dengan online public access catalogue (OPAC), adalah bentuk katalog terbaru yang telah digunakan pada sejumlah perpustakaan tertentu (Hartono, 2017). 6. Sistem Klasifikasi Persepuluhan Dewey Sistem klasifikasi persepuluhan Dewey Decimal Classification (DDC) yang dikembangkan oleh Melvil Dewey pada tahun 1873 dan 1876. Edisi pertama diterbitkan secara anonim dengan judul A classification and subjek index for cataloging and arranging the books and pamphlets of a library (Mary, 2007).Sistem klasifikasi ciptaan Melvil Dewey (1851-1931) telah mengalami penyempurnaan sebanyak 23 kali hingga saat ini. Versi terbaru dari sistem DDC adalah DDC edisi 23 yang telah terbit pada tahun 2011.

Method

Metodologi penelitian adalah pembahasan mengenai konsep teoritik dan konseptual berupa buku teks yang membahas secara detail tentang berbagai metode ilmiah, kelebihan dan kelemahannya atau pengkajian terhadap langkah-langkah metode penelitian dalam penulisan karya ilmiah. Hal ini akan dilanjutkan pada bagian pemilihan metode yang digunakan (2014). Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi korelasional. Studi ini mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, yakni sejauh mana variasi dalam satu variabel berhubungan dengan variasi dalam variabel lain (Noor, 2011).Dalam penelitian ini peneliti ingin menguji hipotesis tentang hubungan antarvariabel atau untuk menyatakan besar kecilnya hubungan antara kedua variabel yaitu “persepsi pemustaka terhadap sistem klasifikasi Dewey decimal classification ( DDC ) dengan pemanfaatan sistem temu kembali menggunakan OPAC ( Online Public Access Catalog )”. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, yaitu metode yang berpangkal dari peristiwa- peristiwa yang dapat diukur secara kuantitatif atau dinyatakan dengan angka-angka (skala, indeks, rumus,dan sebagainya) (Subiyantoro, 2007). Populasi Menurut Kamus Riset karangan Drs. Komaruddin, yang dimaksudkan dengan populasi adalah semua individu yang menjadi sumber pengambilan sampel (Mardalis, 2007). Populasi 2018 adalah sebanyak 2.102 pemustaka. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling yaitu teknik pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada di dalam populasi (Teguh, 2005).dengan menggunakan rumus Slovin yang dikemukakan oleh Husein Umar, dengan tingkat kesalahan 10% (0,10) sebanyak 96 pemustaka.

Result & Discussion

Berdasarkan hasil perhitungan uji korelasi antara Persepsi Pemustaka Terhadap Sistem Klasifikasi Dewey Decimal Classification ( DDC ) Dengan Pemanfaatan Sistem Temu kembali menggunakan OPAC ( Online Public Access Catalog ) Di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang menggunakan rumus korelasi Product Moment , diketahui hasil uji korelasi sebesar 0,231. Dari hasil uji korelasi tersebut, dapat diketahui kuat lemahnya hubungan antara variabel X dan variabel Y sesuai dengan pedoman interpretasi koefisien korelasi berikut: Tabel 1. Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi No Interval Koefisien Tingkat Hubungan 1. 0,00 – 0,199 Sangat Rendah 2. 0,20 – 0,399 Rendah 3. 0,40 – 0,599 Sedang 4. 0,60 – 0,799 Kuat 5. 0,80 – 1,000 Sangat Kuat Dari perhitungan di atas diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,231, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat atau lemah lemah antara persepsi pemustaka terhadap sistem klasifikasi DDC dengan pemanfaatan sistem temu kembali menggunakan OPAC di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang. Dari hasil uji korelasi dapat diketahui nilai koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y sebesar 0,231, maka untuk pengujian hipotesis penulis menggunakan cara membandingkan nilai r hitung dengan r tabel yaitu membandingkan signifikansi korelasi pada tingkat kepercayaan 90% atau taraf signifikansi 10% (0,1) sebesar 0,1689. Dengan begitu diketahui r hitung > r tabel, maka ditetapkan hipotesis dari H 0 ditolak dan hipotesis H a diterima. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat atau ada hubungan yang signifikan antara Persepsi Pemustaka Terhadap Sistem Klasifikasi Dewey Decimal Classification ( DDC ) Dengan Pemanfaatan Sistem Temu kembali menggunakan OPAC ( Online Public Access Catalog ) Di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang Berdasarkan definisi persepsi yang dikemukakan Staphen P. Robins Persepsi masing-masing individu akan berbeda sesuai dengan faktor yang mempengaruhinya. Persepsi akan muncul ketika adanya stimulus yang diberikan kepada seseorang yang nantinya akan muncul respon dari orang tersebut. Persepsi pemustaka tentang sistem klasifikasi DDC muncul ketika adanya pengalaman individu ketika mengunjungi perpustakaan dan melakukan pencarian bahan perpustakaan yang dibutuhkannya. Dalam penelitian ini peroses pencarian informasi dikaitkan dengan pemanfaatan sistem temu kembali menggunakan OPAC. Dalam melakukan pencarian koleksi menggunakan OPAC maka data yang keluar akan berupa angka-angka notasi DDC sebagai petunjuk dimana lokasi koleksi berada dengan menelusuri rak yang telah tertera nomor notasi DDC sesuai dengan subjek yang dicarinya. Jika pemustaka tidak memahami bagaimana cara kerja sistem klasifikasi DDC maka akan sulit dalam melakukan penelusuran walaupun menggunakan OPAC . Pernyataan ini sesuai dengan teori atau model perilaku pencarian informasi menurut Wilson yang mana tahapan menemukan informasi terbagai menjadi beberapa tahapan sampai menemkan kembali informasi perpustakaan yang dicari. Berdasarkan hasil analisi diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa hubungan persepsi pemustaka tentang sistem klasifikasi DDC dengan pemanfaatan sistem temu kembali menggunakan OPAC akan berjalan secara optimal jika pemustaka memahami maksud dari notasi DDC berupa angka-angka yang di gunakan oleh perpustakaan pada punggung buku dan notasi DDC yang di tempel pada rak-rak koleksi dengan begitu pemanfatan OPAC di perpustakaan akan meningkat karena hasil pencarian yang keluar pada OPAC juga berupa anka-anka dari notasi DDC yang menunjukan kelas dan letak koleksi yang dicari sesuai subjeknya.

Conclusion

1. Kesimpulan Berdasarkan perolehan data yang sudah diolah, maka dirumuskan kesimpulan untuk yang menjawab rumusan masalah yang telah dibuat mengenai hubungan persepsi pemustaka terhadap sistem klasifikasi Dewey decimal classification ( DDC ) dengan pemanfaatan sistem temu kembali menggunakan OPAC ( Online Public Access Catalog ) Di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang. Berdasarkan hasil analisis korelasi data diatas, mengenai hubungan antara persepsi pemustaka tentang sistem klasifikasi DDC dengan pemanfaatan sistem temu kemabali menggunakan OPAC pada Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang.Dari hasil uji korelasi diketahui nilai koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y rendah yakni sebesar 0,231,untuk pengujian hipotesis membandingkan nilai r hitung dengan r tabel yaitu membandingkan signifikansi korelasi pada tingkat kepercayaan 90% atau taraf signifikansi 10% (0,1) sebesar 0,1689. Dengan begitu diketahui r hitung > r tabel, maka ditetapkan hipotesis dari H 0 ditolak dan hipotesis H a diterima. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara Persepsi Pemustaka Terhadap Sistem Klasifikasi Dewey Decimal Classification ( DDC ) Dengan Pemanfaatan Sistem Temu kembali menggunakan OPAC ( Online Public Access Catalog ) Di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang. 2. Saran Berdasarkan hasil, pembahasan, dan kesimpulan dalam penelitian ini, peneliti dapat mengajukan beberapa saran : a) Bagi UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang. Dalam penelitian ini meski terdapat hubungan antara Persepsi Pemustaka Terhadap Sistem Klasifikasi Dewey Decimal Classification ( DDC ) Dengan Pemanfaatan Sistem Temu kembali menggunakan OPAC ( Online Public Access Catalog ). Namun, koefien korelasinya rendah. Disarankan bagi perpustakaan agar melakukan pendidikan pemakai atau sosialisasi menegani sistem temu kembali yang digunakan di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang serta memberikan sosialisasi bagainan cara menelusuri sistem temu kembali yang ada seperti DDC dan OPAC hal ini, bertujuan agar sistem temu kembali yang ada dapat dimanfaatkan dengan maksimal. b) Bagi pemustaka Diharapkan penelitian dapat memberikan masukan bagi pemustaka yang berkunjng ke perpustakaan Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang. Agar dapat memanfaatkan fasilitas perpustakaaan seperti OPAC sebagai sarana temu kembali dan memperhatian petunjuk kaslifikasi DDC yang di tempel pada rak – rak koleksi agar pemustaka dapat memahi maksud dan cara menelusuri notasi-notasi tesebut.