Kembali
16
1
2023 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 6 · 1 ISSN 2654-6469

Penelitian sistem klasifikasi di perpustakaan melalui database Google Scholar: Narrative literature review

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Klasifikasi merupakan kegiatan pengelompokan atau pengumpulan objek yang sama serta memisahkan objek yang tidak sama, untuk ditata ke dalam urutan yang sistematis. Di dalam perpustakaan, penataan bahan pustaka di perpustakaan tidak pernah lepas dari penera pan sistem klasifikasi yang memiliki fungsi sebagai alat pemisahan dalam pengelompokan koleksi dirak, serta penataan yang sistematis akan memudahkan pustakawan dan pemustaka dalam pencarian temu Kembali koleksi di perpustakaan. Penelitian ini bertujuan unt uk mengetahui penelitian sistem klasifikasi di perpustakaan melauli database Google Scholar yang menganalisis pada tema/topik penelitian, metode penelitian, dan hasil penelitian yang digunakan. Penelitian ini menggunakan metode narrative literature review dari rujukan yang berkaitan dengan topik sistem klasifikasi perpustakaan dengan jumlah rujukan yang dianlisis pada sepuluh rujukan yang sudah terindeks oleh database Google Scholar dengan rentang terbit dari 2015 hingga 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem klasifikasi sangat penting bagi perpustakaan karena dengan adanya sistem kalsifikasi sudah sangat membantu para pustakawan dalam mengolah d ata koleksi dan juga memudahkan pustakawan dan pemustaka dalam pencarian temu Kembali. Sistem klasifikasi yang digunakan di berbagai perpustakaan atau lembaga informasi yaitu: Dewey Decimal Classification, Universal Decimal Classification, Colon Classifica tion, dan Library of Conggress Classification.

Abstract

Classification is the activity of grouping or collecting similar objects and separating objects that are not the same, to be arranged into a systematic sequence. In the library, the arrangement of library materials in the library is never separated from the implementation of a classification system that functions as a separator in grouping collections on shelves, as well as a systematic arrangement that will make it easier for librarians. and library users to search and retrieve collections in the library. This study aims to determine the research classification system in the library through the Google Scholar database which analyzes research themes/topics, research methods, and research results used. This study uses the narrative literature review method for references related to the topic of the library classification system with the number of references analyzed in ten references indexed by the Google Scholar database with publication ranges from 2015 to 2022. The results show that the classification system is very important for libraries because the existence of a classification system is very helpful for librarians in processing collection data and also makes it easier for librarians and users to find retrieval. The classification systems used in various libraries or information institutions are: Dewey Decimal Classification, Universal Decimal Classification, Colon Classification, and Library of Congress Classification.
Keywords: sistem klasifikasi · perpustakaan · temu kembali informasi

Introduction

Perpustakaan merupakan sebuah institusi yang menyediakan semua koleksi informasi dalam betuk cetak maupun terekam untuk memenuhi kebutuhan para pemustakanya. Pada setiap perpustakaan terdapat berbagai macam sumber koleksi, dokumen, dan sumber informasi lainnya, yang biasanya akan dipisahkan terlebih dahulu sebelum disimpan dirak lalu digunakan oleh pemustaka. Dalam proses pemisahan juga diperlukan semacam sistem untuk dapat mengelompokkan koleksi - koleksi yang ada. Sistem pengelompokkan koleksi dibuat dengan tujuan untuk mempermudah pustakawan dan pemustaka dalam melakukan proses pencarian pada temu k embali atas koleksi serta informasi yang dibutuhkan di dalam perpustakaan. Klasifikasi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari pengorganisasian bahan perpustakaan adalah temu kembali. Secara terminologis, sistem temu kembali adalah suatu sistem di mana s ebuah informasi disimpan dan ditemukan kembali (Saputro, 2017). Pengelompokan koleksi - koleksi di setiap perpustkaaan akan menggunakan sistem klasifikasi yang berbeda - beda, karena pada setiap perpustakaan masih ada yang menggunakan sistem klasifikasi secara manual. Pada penelitian sebelumnya dengan tulisan skripsi yang berjudul “Sistem Klasifikasi Bahan Perpustakaan Pada Perpustakaan SD Inpres 12/79 Pattuku Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone.” Yang diteliti oleh Syahwal pada tahun 2015 menjelaskan bahwa dari hasil pe nelitian menunjukkan bahwa sistem klasifikasi bahan pustaka di perpustakaan SD Inpres 12/79 Pattuku Kec. Bontocani Kab. Bone memakai sistem klasifikasi fundamental dengan cara merangcang sendiri atau tidak menggunakan sistem Dewey Decimal classification at au disingkat DDC dan dalam sistem pengembangan tidak pernah meningkat karena staff pengelolaan perpustakaan SD Inpres 12/79 pattuku Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone tidak memiliki skill tentang klasifikasi bahan pustaka, hal tersebut terjadi karena staff pengelola perpustakaan tersebut tidak memiliki latar belakang menjadi pustakawan maupun pelatihan non akademik sebagai pustakawan, maka pengelola perpustakaan tersebut tidak mengetahui dalam menerapkan sistem klasifikasi bahan Pustaka (Syahwal, 2015). Adapun penelitian sebelumnya yang berjudul “Penggunaan Sistem Klasifikasi Di Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung Sebagai Bentuk Peningkatan Pengelolaan Perpustakaan.” Menjelaskan bahwa penggunaan sistem klasifikasi di Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung menggunakan dua sistem klasifikasi yaitu dengan sistem manual dan dengan sistem digital menggunakan aplikasi e - DDC ( Electronic - Dewey Decimal Classification ). Walaupun menggunakan dua sistem klasifikasi, namun sistem manual yang masing sering digunakan oleh pustakawan Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung, meskipun begitu aplikasi e - DDC masih tetap digunakan tetapi jarang, karena terkadang mendapatkan kendala saat ingin menggunakannya ( Kesuma, Yunita & Putri, 2021). Sama dengan penelitian seelumnya, pada penelitian ini juga membahas tentang penggunaan aplikasi e - DDC yang dipakai oleh setiap perpustakaan. Tetapi penelitian ini akan membahas sistem klasifikasi secara meluas dan semua jenis klasifikasi yang biasa digunakan oleh setiap perpustakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penelitian sistem klasifik asi di perpustakaan melalui database Google Scholar , menggunakan narrative literature review . Melalui analisis sistem klasifikasi di perpustakaan, aplikasi sistem klasifikasi, dan jenis perpustakaan. B. TINJAUAN PUSTAKA Menurut Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, menjelaskan bahwa, perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi ke butuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun , diolah, dan dilayankan. Pada pengertian diatas bisa disimpulkan bahwa perpustakaan merupakan sebuah institusi yang menyediakan semua koleksi informasi dalam betuk cetak maupun terekam untuk memenuhi kebutuhan para pemustakanya. Dalam Unadang - Undang No 43 tahun 2007 tentang perpustakaan juga menyebutkan bahwa jenis Perpustakaan terdiri atas: Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah/Madrasah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Khusus. Kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari pengorganisasian bahan perpustakaan adalah temu kembali. Secara terminologis, sistem temu kembali adalah suatu sistem di mana sebuah informasi disimpan dan ditemukan kembali. Konsep dari sistem temu kembali mensyar atkan adanya beberapa koleksi atau dokumen yang mengandung informasi dan dikelompokkan menurut subyek dari koleksi atau dokumen tersebut ke dalam satu kelompok yang sama. Sistem temu kembali informasi haruslah memuat data bibliografis koleksi yang ada sehi ngga pemustaka dapat menelusur dengan cepat dan tepat. Oleh karena itu beberapa ahli temu kembali informasi menciptakan alat yang dapat mengelompokkan subyek koleksi sesuai dengan subyek yang sama. Untuk mempermudah pemustaka dalam melakukan temu kembali informasi, pustakawan harus memperhatikan dalam menerapkan sistem klasifikasi yang digunakan. Sistem klasifikasi memberikan kemudahan kepada pemustaka dalam memilih informasi yang dibutuhkan secara cepat dan tepat. Suatu sistem klasifikasi pada dasarnya menyediakan daftar notasi yang disertai subjeknya dan berbagai ketentuan yang menyangkut mekanisme pembentukan notasi dan penelusurannya (Saputro, 2017). Klasifikasi merupakan kegiatan pengelompokan subyek yang akan memudahkan dalam proses pencarian temu kembali. Klasifikasi sudah menjadi kegiatan manusia karena tanpa sadar manusia sudah melakukan klasifikasi dalam kehidupan sehari - harinya. Pada setiap perp ustakaan terdapat berbagai macam sumber koleksi, dokumen, dan sumber informasi yang biasanya dikemas terlebih dahulu sebelum disimpan dirak dan digunakan oleh pemustaka. Dalam proses pengemasannya juga diperlukan semacam sistem untuk dapat mengelompokkan k oleksi - koleksi yang ada tersebut. Sistem pengelompokkan koleksi dibuat dengan tujuan untuk mempermudah pustakawan dan pemustaka untuk melakukan proses pencarian dan penemuan kembali atas koleksi serta informasi yang dibutuhkan di dalam perpustakaan. Sistem pengelompokkan koleksi biasa disebut dengan sistem klasifikasi. Menurut Darwis, (2014) klasifikasi adalah suatu proses kerja pengelompokan yang bersifat sistematis dari pada sejumlah obyek, gagasan, buku atau benda - benda lainnya ke dalam kelas atau golong an tertentu berdasarkan ciri - ciri yang sama. Selain itu di dalam klasifikasi bahan pustaka dipergunakan penggolongan berdasarkan beberapa ciri - ciri tertentu. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa klasifikasimerupakan sebuah proses pengelompokkan koleksi bahan pustaka berdasarkan suatu kumpulan subjek, bentuk, objek, dan lainnya dengan menggunakan sistem yang telah ditentukan sebelumnya dengan tujuan mempermudah proses penelusuran, penemuan dan penempatan kembali koleksi perpustakaan ke jajaran rak. Sistem klasifikasi di perpustakaan bisa berdasarkan ciri - ciri buku, sehingga buku yang dicirikan sama, bisa dikelompokkan jadi satu. Adapun beberapa sistem klasifikasi buku di perpustakaan menurut Bafadal (2016) , yaitu, pertama, Sistem abjad untuk nama pengarang, dada buku - buku perpustakaan dikelompokkan berdasarkan abjad nama pengarangnya. Buku - buku dengan huruf atau abjad pertama dari pengarangnya sama dikelompokkan menjadi satu . Kedua, si stem abjad untuk judul buku . P ada buku - buku perpustakaan dikelompok kan berdasarkan abjad judul buku. Buku - buku yang huruf atau abjad pertama dari judul sama dikelompokkan jadi satu. Ketiga, s istem b erdasarkan kegunaan buku . P ada buku - buku di perpustakaan dikelompokkan menjadi beberapa kategori kegunaan. Buku - buku referensi dikelompokkan menjadi satu, buku - buku cerita dikelompokkan jadi satu, buku - buku ilmu pengetahuan dikelompokkan menjadi satu, dan sebagainya. Keempat, s istem berdasarkan penerbit, pada buku - buku perpustakaan dikelompokkan dengan kategori penerbit buku. Di Indonesia terdapat banyak penerbit, seperti Usaha Nasional, Balai Pustaka, Balai Aksara, Gramedia, dan sebagainya. Buku - buku yang penerbitnya sama dikel ompokkan menjadi satu dan ditempatkan pada satu tempat tertentu. Kelima, Sistem berdasarkan bentuk fisik . P pada buku - buku diperpustakaan di kategorikan dengan bentuk fisiknya. Ditinjau dari bentuk fisiknya, bahan pustaka ada yang berupa buku dan adapula yang berupa bukan buku seperti majalah, surat kabar, brosur dan sebagainya. Maka bahan pustaka yang berbentuk buku dikelompokkan menjadi satu, begitupun dengan yang lainnya. Buku – buku di perpustakaan bias juga dikelompokkan lebih spesifik lagi berdasarkan ukurannya, misalnya luasnya, ketebalanya, tipisnya, ringan beratnya. Keenam, s istem berdasarkan b ahasa b uku - buku diperpustakaan dikategorikan sesuai dengan penggunaan b ahasa yang digunakan. Buku perpustakaan yang berbahasa Indonesia dikelompokkan menjadi satu, buku perpustakaan yang berbahasa asing seperti Bahasa Jepang dikelompokkan menjadi satu, begitu pula dengan buku yang berbahasa daerah seperti Sunda dikelompokkan menjadi satu . Ketujuh, s istem berdasarkan subjek, pada buku - buku perpustakaan dikategorikan sesuai dengan subjek atau isi yang terkandung di dalam buku yang bersangkutan. Misalnya , buku yang membahas tentang Pendidikan dikelompokk an menjadi satu, buku yang membahas tentang kesehatan dikelompokkan menjadi satu, dan sebagainya (Bafadal, 2016). Dalam bidang ilmu perpustakaan, skema klasifikasi ini dikenal dengan istilah taksonomi. Proses mengkategorikan hal - hal ke dalam kelas atau kategori yang berbeda sesuai dengan karakteristik bersama dikenal sebagai klasifikasi. Metode yang paling populer unt uk mengklasifikasikan koleksi perpustakaan adalah melakukannya sesuai dengan subjek atau isi buku. Dengan kata lain, buku - buku tentang subjek yang sama akan dikumpulkan bersama. Pengkategorian item perpustakaan di rak melayani banyak fungsi, termasuk memba ntu pengguna dalam menemukan dokumen berdasarkan nomor referensi dan mengelompokkan semua publikasi terkait. Dalam pengelompokan buku atau dokumen lain sesuai skema klasifikasi, klasifikasi mengacu pada susunan logis dari disiplin ilmu pengetahuan dan seni (Alamsyah, 2017). Ada banyak klasifikasi untuk koleksi perpustakaan berdasarkan subjek atau substansi koleksi, seperti kategorisasi sintetis, klasifikasi utilitas, dan klasifikasi primer (Sembiring, 2014). sistem klasifikasi numerik, sistem klasifikasi be rtingkat, sistem klasifikasi faceted , atau analisis dan sintesis adalah contoh dari sistem klasifikasi perpustakaan yang berbeda ( Syahdan, Ridwan, Ismaya, Aminullah, & Elihami, 2021). Kualitas dan elemen dari sistem klasifikasi adalah elemen yang harus dimasukkan dalam sistem klasifikasi, dan ini mengembangkan dan memberikan prasyarat untuk sistem klasifikasi yang baik dan menyeluruh. Menurut Rifai (2013), terdapat skema atau jadwal, notasi, indeks, coding , atau number building .

Method

Penelitian ini menggunakan metode narrative literature review. Menurut Marxali (2017) metode Narrative review adalah suatu penelusuran dan penelitian terhadap sebuah topik atau isu tertentu dengan cara mengumpulkan data dari membaca berbagai buku, jurnal d an terbitan lainnya yang nantinya akan dikumpulkan untuk dibuat sebuah tulisan ilmiah baru oleh peneliti. Menurut Ford, (2020) menjelaskan bahwa narrative literature review adalah jenis penelitian kualitatif yang berfokus menceritakan kehidupan manusia, me lalui pengalaman, wawancara, fotografi, biografi, dan metode narrative pengalaman manusia lainnya. Selain itu, narrative literature review merupakan jenis penelitian yang meninjau publikasi dalam menunjang kajian Library and Information Science (LIS). Narrative literature review meninjau literatur yang relevan pada topik penelitian dengan menyajikan kasus logis untuk menggambarkan apa yang saat ini diketahui tentang subjek (Machi & McEvoy, 2022). Tabel 1. Data Penelitian Sistem Klasifikasi di Perpustakaan No Bibliografi Data Penelitian Sistem Klasifikasi di Perpustakaan 1 Syahwal. (2015). Sistem klasifikasi bahan perpustakaan pada perpustakaan sd inpres 12/79 Pattuku kec. Bontocani kab. Bone. Skripsi. Makasar: Universitas Islam Negeri Alauddin. 1, 30 - 69 2 Mezan el - Khaeri Kesuma. Irva Yunita, M. C. (2021). Penggunaan Sistem Klasifikasi Di Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung Sebagai Bentuk Peningkatan Pengelolaan Perpustakaan. Baitul ‘Ulum: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi. 3 Hastari, N., Rusmono, D., & Suhardini, D . (2015). Hubungan persepsi pemustaka tentang sistem klasifikasi Dewey Decimal Classification (DDC) dengan pemanfaatan sistem telusur elektronik di perpustakaan sekolah tinggi pariwisata Bandung. ejournal.upi.edu. 4 Fajar Alamsyah. (2017). Analisis sistem klasifikasi bahan pustaka di perpustakaan jurusan ortotik prostetik politeknik kesehatan kementrian kesehatan Jakarta I. Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. 5 Syahdan, S., Ridwan, M. M., Ismaya, I., Aminullah, A. M., & Elihami, E. (2021). Analisis penerapan sistem klasifikasi DDC dalam pengolahan pustaka. Jurnal edukasi nonformal, 2(1), 63 - 75. 6 Anggraeni, D. B., Widyastuti, Rahmawati, F. P., & Aditama, M. G. (2021) . Pengembangan Sistem Klasifikasi Kepustakaan dengan Dewey Decimal Classification (DDC). Journals.ums.ac.id. 7 Fadilla, N. (2020). Komparasi pemikiran berwick sayers dan mary mortimer tentang sistem klasifikasi perpustakaan. Jurnal.uns.ac.id. 8 Rotmianto, M. (2015). e - DDC (electronic - Dewey Decimal Classification) as a Freeware Classification Number Finder Based on DDC: History and development. Jurnal Media Pustakawan. 9 Saputro, B. I. (2017). Penerapan Sistem Klasifikasi Perpustakaan Arkeologi di Perpustakaan Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi. 107 - 111. 10 Hastari, N., Rusmono, D., & Suhardini, D. (2015) . Hubungan persepsi pemustaka tentang sistem klasifikasi Dewey Decimal Classification (DDC) dengan pemanfaatan sistem telusur elektronik di perpustakaan sekolah tinggi pariwisata Bandung. ejournal.upi.edu. Sumber: Google Scholar , 2023 Penelitian ini menganalisis penelitian yang meneliti sistem klasifikasi yang digunakan oleh setiap perpustakaan berbentuk jurnal ataupun skripsi . Teknik pengumpulan data menggunakan study literatur, yaitu menggunakan sumber primer yang terdapat pada database google scholar. Adapun publikasi jurnal yang diteliti dicari pada bulan Maret – April 202 3 pada database Google Scholar. Jurnal yang dicari memiliki rentang waktu terbit 201 3 hingga 202 3 . Strategi pencarian kata menggunakan kata kunci sistem klasifikasi perpustakaan. Dan juga t eknik pengumpulan data pada peneliti an ini menggunakan langkah - langkah pengerjaan penelitian narrative literature review dari Machi & McEvoy (2022) antara lain research interest, research topic, literature review , dan research thesis . Peneliti kemudian melakukan teknik analisis data dari sepuluh jurnal ataupun skripsi sesuai tema/topik penelitian, metode penelitian, dan hasil penelitian.

Result & Discussion

Di dalam setiap perpustakaan terdapat banyak sumber koleksi yang sangat beragam, mulai dari koleksi yang tercetak maupun terekam. Semua koleksi - koleksi tersebut akan diolah terlebih dahulu sebelum dipajang ke rak - rak buku yang akan digunakan oleh pemustaka . Dalam pengolahannya tersebut terdapat beberapa sistem yang digunakan oleh setiap perpustakaan. Mulai dari menggunakan sistem manual sampai menggunakan sistem digital. Pengorganisasian bahan pustaka di perpustakaan tidak akan terlepas dari penerapan siste m klasifikasi untuk penentuan kategori, kelas dalam penyusunan di rak buku perpustakaan sehingga memudahkan pustakawan dan pemustaka dalam temu kembali koleksi bahan pustaka di perpustakaan. Sistem Klasifikasi Perpustakaan Sistem klasifikasi merupakan kegiatan pengelompokan sejumlah objek, gagasan, buku atau benda - benda lain berdasarkan subyek atau ciri - ciri yang sama agar dalam penyusunannya dapat teratur sesuai dengan kesamaan subyeknya dan saling berdekatan letaknya, seda ngkan subyek yang berbeda akan ditempatkan terpisah atau berjauhan. Sistem klasifikasi perpustakaan terdiri dari tiga unsur, yaitu klasifikasi, katalog, dan indeks. Klasifikasi adalah proses pengelompokkan bahan pustaka berdasarkan topik atau subjek terten tu. Katalog adalah daftar bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan, sementara indeks adalah daftar kata kunci yang digunakan untuk mencari informasi di dalam katalog. Kegiatan pengelompokan ini akan memudahkan pemustaka dalam temu kembali informasi. S istem klasifikasi koleksi dapat berdasarkan pada jenis, ukuran (tinggi, pendek, besar, kecil, dan lainnya), warna, judul, pengarang dan penerbit. Namun sebagian besar perpustakaan menggunakan sistem pengelompokan koleksi berdasarkan subjek bahan Pustaka (S aputro, 2017). Perpustakaan mempunyai various macam bahan pustaka yang harus diorganisasikan dan disusun secara sistematis agar dapat ditemu kembali dengan cepat dan tepat. Sistem klasifikasi yang digunakan di berbagai perpustakaan atau lembaga informasi yaitu: Dewey Decimal Classification (DDC), Universal Decimal Classification (UDC), Colon Classification (CC), dan Library o f Conggress Classification (LCC). Dewey Decimal Classification (DDC) merupakan sistem klasifikasi yang bertujuan dalam mengelompokan dan Menyusun bahan perpustakaan berdasarkan subyek atau ilmu pengetahuannya. Sesuai dengan pernyataan dari Hastari, Rusmono & Suhardini (2015), menjelaskan bahwa sistem klasi fikasi DDC ( Dewey Decimal Classification atau Klasifikasi Persepuluhan Dewey) termasuk kedalam sistem klasifikasi fundamental karena sistem klasifikasi persepuluhan dewey ini menggunakan sistem pengklasifikasian dengan mengelompokkan koleksi perpustakaan menurut subjeknya. Sistem klasifikasi Dewey Decimal Classification (DDC) adalah sebuah sistem klasifikasi perpustakaan yang diciptakan oleh Melvil Louis Kossuth Dewey pada tahun 1873 dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1976, yaitu sebuah pamflet yang berjudul A Classification and Subject Index for Cataloging and Arrangging the Books and Pamphlets of a Library . Edisi pertama yang diterbitkan memuat kata pendahuluan, bagan untuk 10 kelas utama yang dibagi secara desimal menjadi 1000 kategori bernomor 000 - 900, serta indeks subjek berabjad, dan sejak saat itu telah banyak dimodifikasi dan terus dikembangkan hingga muncul e - DDC Edisi 23 (Saputro, 2017). Sistem klasifikasi Dewey Decimal Classification (DDC) membantu pustakawan dalam mengkategorikan bahan pustaka yang ada pada perpustakaan. Dengan menggunakan e - DDC ini sangat memudahkan pustakawan dalam menganalisis subyek terkhusus untuk pengembangan koleksi dan proyek penyiangan. perpustakaan saat ini memilih untuk menggukanan sistem Persepuluhan Dewey Decimal Classification (DDC). Dewey membagi seluruh ilmu pengetahuan manusia kedalam sepuluh golongan besar atau utama (Syahwal, 2015). Pada pembagian 10 kelas utama merupakan perbaikan dari sistem klasifikasi yang dikembangkan oleh W.T Harris pada tahun 1870. Kategori pengetahuan dibagi menjadi tiga kategori dasar yaitu sejarah, sastra ( poesy ), dan filsafat. Ketiga kategori ini sesuai dengan pembagian pikiran manusia yaitu memori, imaginasi dan nalar. Dalam Bagan klasifikasi barunya, Dewey memperkenalkan dua ciri baru yaitu, lokasi relative dan indeks relatif. Menurut Saputro (2017) menjelaska n bahwa DDC dibagi menjadi ke dalam 10 kelas utama ( The Ten Main Classes ) atau First Summary dengan menggunakan angka - angka persepuluhan. Sepuluh kelas utama diberi nomor urut 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Tetapi dalam prakteknya selalu dituliskan dalam bentuk notasi dengan tiga bilangan dan tidak boleh kurang. Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa DDC dibagi menjadi kedalam sepuluh utama yang diatur berdasarkan kelompok subyek bidang ilmunya, seperti pada tabel dibawah ini: Tabel 2. Nomor Klasifikasi DDC 000 Kategori untuk Karya Umum 100 Kategori untuk Filsafat dan Psikolog 200 Kategori untuk Agama 300 Kategori untuk Ilmu - ilmu sosial 400 Kategori untuk Bahasa 500 Kategori untuk Ilmu Alam dan Matematika 600 Kategori untuk Teknologi dan Ilmu Terapan 700 Kategori untuk Kesenian, Hiburan dan Olahraga 800 Kategori untuk Kesusastraan 900 Kategori untuk Geogrrafi dan Sejarah Sumber: e - DDC edisi 23 Tiap - tiap kategori di atas, dibagi ke dalam sembilan kategori atau divisi. Contohnya, pada kelas 000 adalah sebagai berikut: Tabel 3. Sembilan kategori atau divisi DDC 000 - 009 Kategori untuk Karya Umum dan Komputer 010 - 019 Katergori untuk Bibliografi 020 - 029 Kategori untuk Perpustakaan dan Ilmu Informasi 030 - 039 Kategori untuk Ensiklopedia Umum 040 - 049 Kategori untuk Belum Digunakan 050 - 059 Kategori untuk Terbitan Berseri, Berkala Umum 060 - 069 Kategori untuk Organisasi Umum dan Museum 070 - 079 Kategori untuk Jurnalisme, Media Berita, Penerbitan 080 - 089 Kategori untuk Kumpulan Karya Umum 090 - 099 Kategori untuk Manuskrip, Naskah - naskah dan Buku - buku Langka Sumber: e - DDC edisi 23 Untuk selanjutnya, pada setiap kategori atau divisi dapat dibagi lagi menjadi beberapa bagian. Contohnya pada kelas 020 perinciannya adalah sebagai berikut: Tabel 4. Contoh pembagian kategori DCC 020 Kategori untuk Perpustakaan dan Ilmu Informasi 020.1 Kategori untuk Filsafat dan Teori Ilmu Perpustakaan, 020.2 Kategori untuk Aneka Ragam tentang Ilmu Perpustakaan dan Ilmu Informasi 020.3 Kategori untuk Kamus Ilmu Perpustakaan dan Ilmu Informasi, 020.5 Kategori untuk Terbitan Berseri, Berkala Umum Ilmu Perpustakaan dan Ilmu Informasi 020.6 Kategori untuk Organisasi di Bidang Perpustakaan 020.7 Kategori untuk Pendidikan, Penelitian dan Topik Terkait tentang Perpustakaan 020.72 Kategori untuk Riset Perpustakaan 020.9 Kategori untuk Sejarah Perpustakaan 020.92 Kategori untuk Arsiparis 021 Kategori untuk Hubungan - hubungan Perpustakaan, Arsip dan Kearsipan, Pusat Informasi 021.2 Kategori untuk Hubungan Perpustakaan dengan Masyarakat 021.3 Kategori untuk Hubungan Perpustakaan dengan Lembaga Pendidikan 021.6 Kategori untuk Kerja Sama dan Jaringan Antar Perpustakaan 021.7 Kategori untuk Promosi Perpustakaan 021.8 Kategori untuk Kerja Sama Perpustakaan dengan Pemerintah 022 Kategori untuk Administrasi dan Fisik Perpustakaan 023 Kategori untuk Personalia Perpustakaan 023.2 Kategori untuk Pustakawan 025 Kategori untuk Operasional Perpustakaan, Arsip dan Pusat Informasi, 025.000285 Kategori untuk Automasi Perpustakaan 025.042 Kategori untuk Perpustakaan Digital 025.1 Kategori untuk Administrasi dan Manajemen Perpustakaan 025.2 Kategori untuk Akuisisi dan Pengembangan Koleksi Perpustakaan 025.3 Kategori untuk Bibliografi Analisis dan Kontrol Perpustakaan 025.31 Kategori untuk Katalog Perpustakaan 025.342 Kategori untuk Kliping, Selebaran, Pamflet 025.4 Kategori untuk Subjek Analisis dan Kontrol Perpustakaan 025.41 Kategori untuk Abstrak 025.428 Kategori untuk Shelfing 025.431 Kategori untuk Dewey Decimal Classification (DDC), Klasifikasi Persepuluhan Dewey 025.432 Kategori untuk Universal Decimal Classification (UDC), Klasifikasi Persepuluhan Universal 025.433 Kategori untuk Library of Congress Classification (LCC), Klasifikasi Library of Congress 025.434 Kategori untuk Bliss Bibliographic Classification (BBC), Klasifikasi Bibliografi Bliss 025.435 Kategori untuk Colon Classification (CC), Klasifikasi Colon Sumber: e - DDC edisi 23 Klasifikasi persepuluhan Dewey Decimal Classification (DDC), memiliki kelebihan yaitu DDC merupakan sistem yang praktis, efisien dan menjadi salah satu sistem klasifikasi yang paling banyak digunakan di Indonesia, dengan penomoran DDC tidak langsung merujuk pada lokasi buku, memudahkan untuk membagi untuk kategori - kategori dasar menja di bidang - bidang yang lebih mendetail, urutan numeric memudahkan penjajaran dan penempatan buku di rak dan sifat mnemonics notasi membantu pemakai mengingat dan mengetahui nomor kelompok/kelas. Universal Decimal Classification (UDC ) merupakan sistem klasifikasi internasional yang biasa digunakan untuk pengelompokkan buku atau dokumen menurut subjek bidang kajian informasi yang dimuatnya. Sistem klasifikasi ini banyak digunakan oleh perpustakaan di Eropa. Sistem Klasifikasi ini merupakan perbaruan dari DDC yang diubah dan diperbiki oleh Paul Otlet dan Henri La Fountaine pada tahun 1889. Edisi pertama lengkap dengan tujuan internasional pada tahun 1905, Edisi lengkap kedua terbit antara tahun 1927 dan 1933, Edisi ketiga terbit antara 1934 - 1952, Edisi len gkap dalam Bahasa inggris terbit tahun 1943. Selain edisi lengkap, terdapat juga edisi medium dan edisi ringkasan. Karena adaptasi dari DDC, pembagian kelas utama UDC tidak jauh berbeda dengan DDC. Sistem UDC juga menggunakan notasi angka dan dibagi menjad i 10 kelas utama yang setiap utama mendapat satu notasi yaitu: Tabel 5. Kelas utama UDC 0 Kategori untuk Karya Umum 1 Kategori untuk Filsafat, Psikolog 2 Kategori untuk Agama, Teologi 3 Kategori untuk Ilmu Pengetahuan Sosial 4 (sekarang kosong, awalnya untuk Linguistik dan Filologi) 5 Kategori untuk Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam 6 Kategori untuk Ilmu Terapan, Kedokteran, Teknologi 7 Kategori untuk Seni, Rekreasi, Hiburan, Olahraga 8 Kategori untuk Bahasa, Linguisti, Sastra 9 Kategori untuk Geografi, Biografi, Filsafat Sumber; udcsummary.info , 2023 Angka - angka ini ditingkatkan lagi untuk menunjukkan subyek umum ke subyek yang lebih terkhusus atau detail. Kelebihan untuk sistem klasifikasi UDC yang digunakan ini adalah sistem yang fleksibel dan dapat menampung koleksi yang sangat spesifik dan terbatas. Namun, kelemahannya adalah tidak sepopuler DDC atau LCC dan kurang terkenal di luar Eropa. Library of Congress Classification (LCC) merupakan sistem klasifikasi yang dikembangkan oleh Library of Congress di perpustakaan kongres Amerika Serikat. Perpustakaan ini merupakan perpustakaan nasional dari Amerika Serikat. Hal ini dijelaskan sesuai dengan pernyataan Syahwal (2015) yaitu Sistem kategori yang terbagi – bagi untuk semua pengetahuan kedalam dua puluh satu klasifikasi yang dimana masing - masing teridentifikasi dengan satu huruf alfabet atau abjad. Kemudian klasifikasi alfabet ini dibagi lagi kedalam kelas yang lebih spesifik dalam sub kelas yang teridentifikasi dengan kombinasi dua huruf hingga tiga huruf. Kelebihan pada sistem klasifikasi LCC adalah sistem klasifikasi ini sangat fleksibel dan dapat menampung koleksi yang sangat spesifik dan t erbatas. Namun kelemahan pada sistem klasifikasi ini adalah kompleks dan sulit digunakan bagi pengguna awam. Aplikasi sistem klasifikasi Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi saat ini, alat pencarian informasi juga semakin berkembang dan semakin modern , juga canggih, ditambah dengan sistem informasi yang memudahkan pengguna untuk mencari informasi menggunakan OPAC dan Aplikasi sistem klasifikasi lainnya. Aplikasi sistem klasifikasi perpustakaan merupakan perangkat lunak yang dirancang untuk membantu pengelola perpustakaan dalam mengatur dan mengelola koleksi buku. Sistem ini dapat digunakan untuk mengorganisir dan mengklasifikasikan bu ku berdasarkan kategori, genre, pengarang, dan lainnya. OPAC sendiri merupakan singkatan dari online public access catalog atau katalog akses publik online. OPAC sendiri merupakan bentuk katalog yang terpasang dengan akses informasi biografi terkait koleks i yang terdapat di perpustakaan maupun dalam jaringan informasi yang digunakan oleh pemustaka yang ingin mengakses informasi katalog dari sebuah buku yang berbentuk format elektronik atau digital. (Fani & Rukmana, 2022) Tujuan penyediaan OPAC diperpustakaan adalah untuk memberikepuasan kepada pengguna dan staf perpustakaan dan mempercepat pencarian informasi yang tersedia diperpustakaan (Dwiyantoro, 2017). Terdapat beberapa aplikasi sistem klafikasi yang di gunakan oleh para pustakawan di Indonesia. Seperti aplikasi SLiMS atau Senayan Library Management System merupakan salah satu perangkat lunak yang membantu dalam pengelolaan kerja perpustakaan yang awalnya konvensional, sehingga membantu pemustaka dalam melakukan penelusuran informasi yang dibutuhkan. Perangkat lunak ini dapat digunakan secara gratis atau free opensource software dan sudah terbukti membantu pustakawan dalam memberikan pelayanan peminjaman dan pengembalian buku (Wintolo & Farhati, 2020). Selain SLiMS terdapat juga INLISLite yang befungsi seb agai sarana pengelolaan data perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi, atau dengan kata lain INLISLite merupakan program aplikasi Otomasi Perpustakaan. Selain itu di era digital saat ini perpustakaan - perpustakaan juga sudah banyak yang menggunakan sistem klasifikasi digital atau dengan menggunakan aplikasi e - DDC ( Electronic - Dewey Decimal Classification ) atau aplikasi lain sebagai bentuk dari efisiensi waktu dalam menentukan nomor klasifikasi bahan pustaka nya. Untuk mencari nomor klasifikasi yang dicari menggunakan aplikasi e - DDC edisi 23 dengan cepat, penggunanya cukup dengan cara memilih atau mengklik pada search dan memasukkan kata kunci yang ingin dicari, atau b isa dengan cara langsung mengklik nomor dan subyek yang dicari. Gambar1. Tampilan DCC Sumber: e - DDC edisi 23 Selain itu pada sistem klasifikasi UDC bisa menggunakan web site udcsummary.info untuk menemukan nomor klasifikasi bahan Pustaka pada sistem kalsifikasi UDC. Caranya tidak terlalu beda dari penggunaan e - DDC, pada web site udcsummary juga penggunanya cukup dengan cara memilih atau mengklik pada nomor dan subyek yang dicari. Gambar 2. Tampilan UDC Sumber; udcsummary.info , 2023 Jenis Perpustakaan Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah/Madrasah, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Khusus semuanya dinyatakan hadir di perpustakaan sesuai dengan Undang - Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, Pasal 20. Menurut Pasal 1 Undang - Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, Perpustakaan Nasional, atau yang lebih sering dikenal dengan LPND, adalah lembaga pemerintah non departemen yang melayani negara di bidang perpustakaan dan berperan sebagai pengawas perpustakaan. Perpustakaan penyimpanan referensi, perpustakaan penelitian, perpustakaan konservasi, perpustakaan pusat, dan jaringan perpustakaan semuanya terletak di ibu kota negara. Perpustakaan umum dimaksudkan untuk dimanfaatkan oleh sebanyak mungkin orang sebagai cara belajar sepanjang hayat tanpa memandang usia, jenis kelamin, ras, agama, atau latar belakang sosial ekonomi, menurut pasal 1 Undang - Undang Nomor 43 Tahun 2007, yang berkaitan dengan perpustakaan. Perpustakaan sekolah, menurut Krismayani (2019), adalah lembaga perpustakaan yang dijalankan oleh masing - masing sekolah sebagai bentuk bantuan pendidikan dengan tujuan mengumpulkan, mengelola, menyimpan, dan memelihara sumber daya perpustakaan untuk menduk ung kegiatan pembelajaran. Menurut Alamsyah (2017), Perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang terletak di perguruan tinggi, sekolah menengah, lembaga pendidikan tinggi, atau lokasi lain yang serupa. P engaturan ini termasuk departemen universitas, perguruan tinggi, lembaga, dan pusat. Perpustakaan perguruan tinggi melayani empat tujuan: untuk menyimpan pengetahuan, untuk mempromosikan pembelajaran, untuk memfasilitasi pengajaran, dan untuk menyebarkan i nformasi. Jika perpustakaan dapat memenuhi tuntutan informasi pelanggannya melalui layanan yang ditawarkannya, keempat tujuan ini dapat berhasil dicapai. Sesuai dengan Pasal 1 Undang - Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, perpustakaan khusus atau perpustakaan pribadi adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi pelindung pada organisasi pemerintahan, organisasi masyarakat, lembaga pendidikan keagamaan, rumah ibadah, atau organisasi lainnya. Metode klasifikasi utama digunakan oleh lima jenis perpustakaan utama, untuk mengatur koleksi mereka sebelum disimpan dan diakses oleh pengguna. Perpustakaan mereka menggunakan sistem Library of Congress Classification (LCC), sama seperti perpustakaan nasional Republik Indonesia. Namun, seperti yang disebutkan dibab pendahuluan bahwa metode kategorisasi Dewey Decimal Classification (DDC) digunakan oleh perpustakaan daerah di Lampung. Sistem klasifikasi perpustakaan yang dikembangkan sebagai hasil analisis p eneliti terhadap sistem telah berkembang, dengan pengembangan sistem yang memudahkan pustakawan dan pengguna untuk mengolah data atau informasi koleksi dan juga membantu dalam pencarian informasi atau koleksi. Perpustakaan harus mempertimbangkan kebutuhan pengguna, keterampilan staf, dan fitur koleksi buku saat memutuskan skema klasifikasi.

Conclusion

Sistem klasifikasi merupakan kegiatan pengelompokan sejumlah objek, gagasan, buku atau benda - benda lain berdasarkan subyek atau ciri - ciri yang sama agar dalam penyusunannya dapat teratur sesuai dengan kesamaan subyeknya dan saling berdekatan letaknya, sedangkan s ubyek yang berbeda akan ditempatkan terpisah atau berjauhan. Sistem klasifikasi perpustakaan terdiri dari tiga unsur, yaitu klasifikasi, katalog, dan indeks. Penelitian sistem klasifikasi di perpustakaan melalui database google scholar narrative literature review menjelaskan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem klasifikasi sangat penting bagi perpustakaan karena dengan adanya sistem kalsifikasi sudah sangat membantu para pustakawan untuk mengolah data koleksi dan juga memudahkan pustakawan dan pemu staka dalam pencarian temu Kembali. Sistem klasifikasi yang digunakan di berbagai perpustakaan atau lembaga informasi yaitu: Dewey Decimal Classification (DDC), Universal Decimal Classification (UDC), Colon Classification (CC), dan Library Of Conggress Cla ssification (LCC). Aplikasi sistem klasifikasi dalam mengola atau mencari koleksi dapat menggunakan OPAC, SLiMS, INLISlite, e - DDC , dan udcsummary . Setiap perpustakaan memakai jenis sistem klasifikasi yang berbeda beda untuk pengorganisasian koleksi diperpustakaan sebelum disimpan dan digunakan oleh pemustaka. Penelitian ini sebagai dasar untuk dikembangkan pada penelitian selanjutnya dalam peneliti an sistem klasifikasi pada perpustakaan sekolah yang masih menggunakan sistem klasifikasi manual.