Kembali
16
1
2019 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 2 · 2 ISSN 2654-6469

Kesiapan Pustakawan dalam Memberikan Layanan Local content Berbasis Digital di Perguruan Tinggi Kota Bandung (Studi Kasus pada Perguruan Tinggi Swasta Terakreditasi C

Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara

Abstrak

Perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang berada pada lingkungan perguruan tinggi, sekolah tinggi, akademi atau sekolah tinggi lainnya yang pada hakikatnya merupakan bagian integral dari suatu perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi memilih, mengolah, mengoleksi, merawat, dan melayankan koleksi yang dimilikinya kepada para warga lembaga induknya pada khususnya dan masyarakat akademis pada umumnya. Pustakawan yang bekerja di perpustakaan yang ada di perguruan tinggi swasta di Kota Bandung pun berusaha agar perpustakaan yang dikelolanya selalu mengikuti perkembangan jaman dan teknologi adapun teknologi di perpustakaan yang sekarang ini sedang berkembang adalah hadirnya local content berbasis digital,namun belum semua perguruan tinggi siap akan hadirnya local content berbasis digital tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut, namun belum semua perguruan tinggi siap menerima/beradaptasi akan hadirnya local content berbasis digital . Kepada para pemustakanya dengan cara melakukan penelitian dan wawancara terhadap pustakawan/staf perpustakaan tersebut. Dengan diadakannya Kegiatan penelitian dan wawancara ini kami berharap bahwa perpustakaan di perguruan tinggi swasta khususnya yang masih terakreditsi C untuk mengubah sedikit demi sedikit keadaan dan sistem - sistemnya agar bisa setara dengan perpustakaan perguruan tinggi negeri lainnya. Tujuan jangka panjangnya yaitu kami ingin agar pustakawan di perguruan tinggi swasta dapat mempunyai skil dan kemapuan yang mumpuni dalam melayani para pemustaka yang mencari koleksi local content berbasis digital. © 2019 NJILS. All rights reserved.

Abstract

Higher education libraries are libraries located within the tertiary educational institutions, high schools, academies or other high schools which are essentially an integral part of a tertiary institution. The university library chooses, processes, collects, maintains, and serves its collections to the citizens of its parent institution in particular and the academic community in general. Librarians who work in libraries in private universities in the city of Bandung are also trying to keep the libraries that they manage to keep abreast of the times and technology. As for technology in the library that is currently developing, is the presence of digital-based local content, but not all universities are ready to be present digital based local content. To overcome this problem, but not all universities are ready to accept / adapt the presence of digital-based local content. To the librarians by conducting research and interviews with the librarian / library staff. By holding this research and interview activity, we hope that libraries in private universities, especially those that are still accredited by C, will change little by little the conditions and systems so that they can be equivalent to other public higher education libraries. The long-term goal is that we want librarians in private tertiary institutions to have the skills and ability to serve those who are looking for digital-based local content collections.
Keywords: Pustakawan · Local Content · Digital

Introduction

Pada era ini semua orang di dunia pasti membutuhkan sebuah informasi apapun pekerjaan, status, peran maupun jenis kelamin pasti memerlukan informasi dalam keberlangsungan hidupnya. Informasi yang ada akan terus dan semakin berkembang. Seiring dengan itu, pustakawan akan dihadapkan pada suatu tatanan masyarakat “baru” yakni masyarakat informasi. (dalam Rodin, 1995) masyarakat informasi adalah suatu masyarakat dimana kualitas hidup dan juga prospek untuk perubahan sosial serta perkembangan ekonomi, tergantung pada peningkatan informasi dan pemanfaatannya. Dalam masyarakat seperti ini, baik pola hidup dan segala segi kehidupan selalu bersentuhan dengan informasi dan pengetahuan. Hal ini telah dibuktikan dengan makin meningkat produksi informasi dan pelayanan komunikasi melalui media yang sebagian besar dengan media elektronik. Adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang merambah dunia perpustakaan telah mendorong para pustakawan untuk mentransformasikan sumber-sumber literatur kelabu (misalnya hasil penelitian) secara massive ke bentuk digital dengan maksud mengembangkan layanan institutional repository. Oleh karena itu, untuk mengimbangi adanya masyarakat informasi pustakawan dituntut untuk mempersiapkan dirinya, khususnya kemampuan pustakawan. Hal ini bertujuan untuk melayani pemustaka yang mencari dan membutuhkan informasi. Informasi tersebut dapat berbentuk karya cetak maupun karya rekam. Kesiapan itu salah satunya adalah kesiapan pustakawan dalam melayankan local content berbasis digital. Pustakawan yang bekerja di perpustakaan perguruan tinggi juga dituntut untuk memiliki kesiapan dalam melayankan local content berbasis digital untuk pemustakanya. Pemustaka pada perguruan tinggi merupakan pemustaka yang memiliki kebutuhan akan informasi yang besar. Bahkan menurut Laloo (2002) kebutuhan informasi adalah sesuatu yang sebaiknya dimiliki seseorang dalam melakukan pekeraan,penelitian,pendidikan, dan juga sebagai hiburan. Local content menurut Ubhudiyah (2006) adalah segala sesuatu yang bermuatan sumber pengetahuan/informasi yang asli dihasilkan oleh suatu institusi/lembaga, perusahaan atau daerah sampai dengan negara yang dapat dijadikan sumber pembelajaran dalam bentuk karya cetak maupun karya rekam. Local content ini dapat berupa koleksi lokal (local collection) dan literatur kelabu (grey literature). Adapun manfaat dari local content adalah sebagai referensi dalam pengerjaan laporan penelitian. Menurut Arianto (2014) sumber- sumber local content merupakan sumbersumber perpustakaan yang khas dan unik yang nilainya sangat tinggi bagi pengguna karena merefleksikan nilai sosial-ekonomi, politik, dan budaya yang dihasilkan masyarakat lokal. Koleksi local content pada perpustakaan perguruan tinggi berupa laporan penelitian dosen serta laporan akhir penelitian mahasiswa yang berupa tugas akhir, skripsi, tesis dan disertasi. Sulistyo Basuki (2001) mengatakan bahwa keberadaan local content diibaratkan sebagai harta karun yang tersembunyi hal ini juga menjelaskan bahwa local content merupakan suatu penemuan yang berharga dalam ilmu pengetahuan dan sebagai pelestarian khazanah. Budaya bangsa khususnya daerah tertentu. Pernyataan ini menunjukkan bahwa local content sangatlah penting untuk dilestarikan oleh pustakawan. Hal ini didasarkan pada tugas pustakawan menurut Sun (2003) menerangkan bahwa peran pustakawan dalam era teknologi adalah peran pustakawan sebagai pendidik dan mengeksplorasi cara-cara yang paling efektif dalam menerapkan perubahan teknologi informasi termasuk informasi pada local content, apabila informasi pada local content tidak dijaga, maka keberadaannya akan musnah karena semakin tergerus perubahan teknologi yang semakin maju. Dengan demikian mengapa peneliti memilih tema pene litian dengan judul “Kesiapan Pustakawan dalam Melayankan Local content Berbasis Digital pada Perguruan Tinggi Swasta di Bandung” ini adalah karena peneliti ingin mengetahui sudah sejauh manakah kesiapan mereka serta kesigapan mereka dalam menghadapi masyarakat era informasi. TINJAUAN PUSTAKA Dalam suatu penelitian diperlukan dukungan dari hasil hasil penelitian yang telah ada sebelumnya tentunya yang berkaitan dengan penelitian yang penulis teliti diantaranya: 1. Penelitian dari Jamfridafrizal (2017) dengan judul “Siapkah Pustakawan Menghadapi Era Digital”. Jadi tujuan dari penelitian ini adalah pustakawan perguruan tinggi di era digital ini harus bisa memahami tren masyarakat informasi agar bisa menyiapkan diri juga bisa merencanakan apa yang harus kita layani kepada masyarakat sehingga terbuka peluang kita untuk melakukan perubahan pada perpustakaan maupun pemustakannya di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. 2. Penelitian dari Sri Melani (2017) dengan judul Pemanfaatan local content suatu perguruan tinggi: suatu analisis terhadap repository Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan. Melalui jurnal tersebut dapat diketahui bahwa penelitian ini menggunakan metode studi kasus karena menyelidiki dan memahami sebuah kejadian atau masalah yang telah terjadi ini pun terlihat dari kemampuan pengguna dalam menelusuri local content sudah cukup baik, cepat dan tepat hal ini juga di dukung oleh sistem pelayanan yang memudahkan pemustaka untuk mengaksesnya contohnya bisa dilihat dari website yang mudah di akses untuk itu para pemustaka mengunakan local content juga sebagai referensi dalam pengerjaan laporan penelitian, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan Perguruan Tinggi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara memiliki local content yangn sudah berkualitas. 3. Penelitian dari Elok Nur Azizah, Siswidiyanto dan Agung Suprapto (2015) dengan judul Pemanfaatan Koleksi Electronic Local Content (Studi kasus di Perpustakaan Universitas Brawijaya Malang). Melalui jurnal tersebut dapat diketahui bahwa penelitian ini menggunakan metode studi kasus karena menyelidiki dan memahami sebuah kejadian atau masalah yang telah terjadi ini pun terlihat dari pemustaka dalam memanfaatkan local content masih tergolong jarang. Meskipun banyak pemustaka yang berkunjung pada ruang local content akan tetapi pemustaka lebih memilih menggunakan koleksi tercetak dikarenakan jumlah komputer pada ruang local content masih berjumlah 7, namun sebenarnya kemampuan pemustaka dalam menelusuri local content sudah baik karena didukung oleh sistem pelayanan yang mudah untuk diakses tujuan pemustaka menggunakan local content umumnya adalah sebagai rujukan dalam sebuah penelitian. Peran pustakawan dalam pemanfaatan koleksi local content yang sudah terlaksana dengan baik adalah mengidentifikasi bahan referensi baru sedangkan peran pustakawan yang belum terlaksana dengan baik adalah mempromosikan bahwa referensi baru bagi pemustaka. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa layanan local content berbasis digital di perpustakaan Universitas Brawijaya Malang sejauh ini sudah cukup baik bahkan pustakawannya bisa di nilai sudah sangat siap menghadapi masyarakat informasi dan sudah mengimplementasikan 4 kemampuan seorang pustakawan. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa dari ketiga jurnal tersebut salah satunya membahas mengenai 4 keterampilan yang harus dimiliki oleh pustakawan di era digital menurut Coghill, Jeffrey G, Roger G Rusell (2016) adalah : a. Adaptasi, pustakawan harus bisa cepat beradaptasi pada perubahan di perpustakaan maupun pada pemustakanya adapun adaptasi yang harus bisa dilakukan pustakawan di perpustakaan yaitu beradaptasi dari salah satu cara dalam melakukan sesuatu dan beralih ke cara lain untuk melakukan tugas yang sama. b. Fleksibilitas, pustakawan tidak lagi hanya duduk santai dan menunggu di meja referensi untuk melayani pemustaka yang datang,melainkan kebalikannya pustakawan harus bertemu dan langsung melayani pemustaka yang membutuhkan informasi. c. Multitasking , pustakawan harus mampu menguasi perangkat teknologi maupun informasi secara keseluruhan ini dikarenakan pustakawan harus mampu menjadi penyedia informasi bagi masyarakat informasi. d. Kreativitas, pustakawan harus memiliki kreativitas tinggi khusunya pada cara melayani pemustaka di perpustakaan agar semakin banyak pemustaka yang tertarik untuk datang ke perpustakaan tersebut.

Method

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Selanjutnya Sugiyono (2013) menambahkan bahwa metode kualitatif sering disebut metode naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting) dan data yang terkumpul serta analisisya lebih bersifat kualitatif. Peneliti melakukan penelitian dengan studi kasus karena sesuai dengan sifat dan tujuan peneliti yang ingin diperoleh dan bukan menguji hipotesis, tetapi berusaha untuk mendapatkan gambaran yang nyata tentang kesiapan pustakawan dalam memberikan layanan local content berbasis digital di perguruan tinggi di kota Bandung. Informan dalam penelitian ini adalah pustakawan atau petugas perpustakaan yang ada di perguruan tinggi swasta di kota Bandung yang Terakreditasi C. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan studi pustaka. Tahapan analisa data dalam penelitian ini berdasarkan model analisis Miles dan Huberman (1992), yaitu reduksi, penyajian data, serta penerikan kesimpulan dan verifikasi.

Result & Discussion

Banyaknya perguruan tinggi swasta diBandung membuat kami tertarik untuk meneliti perpustakaan serta kesiapan pustakawannya dalam memberikan layanan local content berbasis digital , namun yang lebih menarik perhatian kami adalah perpustakaan di perguruan tinggi swasta yang akreditasinya masih C, disana kami ingin melihat sepak terjang pustakawannya dalam membangun dan mengelola perpustakaanya khususnya dibidang teknologi terbaru yaitu munculnya local content berbasis digital , kami pun semakin penasaran bagaimana kesiapan pustakawannya dalam memberikan layanan local conten kepada pemustakanya baik itu mahasiswa, dosen dll. Adapun perguruan tinggi swasta yang kami teliti yakni : Tabel 1. Daftar Nama Perguruan Tinggi Swasta Di Kota Bandung yang Diteliti NO NAMA PERGURUAN TINGGI Alamat 1 Sekolah Tinggi Teknologi Mandala Jl. Soekarno Hatta No.597,Kb. Kangkung Kec. Kiaracondong, 2 Akademi Kebidanan Ar-Rahmah Bandung Jl. Pasteur No.21-A, Pasir Kaliki, Kec.Cicendo, Kota Bandung 3 Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan PPNI Jawa Barat Jl. Muhammad No.34, Pamoyanan, Kec Cicendo, Kota Bandung 4 Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Bandung Jl. Cihampelas No.8, Tamansari, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung 5 Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung Jl. Bojong Koneng Atas No. 9 Cibeunying , Kec. Cimenyan Kota Bandung 6 Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Jl. Soekarno Hatta No. 354,Batununggal, Kec. Bandung Kidul, Kota Bandung 7 Sekolah Tinggi Bahasa Asing Yapari Jl. Cihampelas No.194, Cipaganti, Kec. Coblong, Kota Bandung Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan, menunjukan bahwa kesiapan pustakawan dalam memberikan layanan local content berbasis digital di Perguruan Tinggi Swasta Kota Bandung dapat dinilai belum siap. Hal tersebut ditunjukkan dari hasil wawancara yang telah kami lakukan. Ada 4 Keterampilan yang pelu dikuasai pustakawan berdasarkan teori Coghill, Jeffrey G, Roger G Rusell diantaranya : 1. Adapatasi, pustakawan di Perpustakaan STT Mandala belum bisa beradaptasi pada perubahan teknologi informasi pada perpustakaan yang semakin berkembang, hal itu terlihat dari ketidaksiapan mereka dalam memberikan layanan local content berbasis digital pada pemustaknya,menurut narasumber ketidaksiapan mereka dikarenakan pustakawan disana tidak pernah diikut sertakan dalam seminar dan pelatihan mengenai perpustakaan, Kemudian pustakawan di Perpustakaan STIKOM Bandung belum bisa juga untuk beradaptasi pada perubahan teknologi informasi pada perpustakaan. Hal ini dikarenakan pustakawan disana tidak memiliki koleksi berbasis digital melainkan hanya koleksi konvensional, Lalu pustakawan di Perpustakaan STFI Bandung menyatakan sudah dapat beradaptasi dengan perubahan teknologi informasi pada perpustakaan hal ini terlihat dari kesiapan fasilitas digital yang disipkan pustakawan seperti scanner untuk scan barcode pada kartu anggota perpustakaan.Pustakawan di Perpustakaan STBA Yapari sudah dapat beradaptasi pada perubahan teknologi pada perpustakaan. Hal ini terlihat dari keikutsertaan salah satu pustakawan dalam forum Ikatan Pustakawan Jawa Barat. Pustakawan di Perpustakaan STH Bandung Menyatakan belum siap beradaptasi pada perubahan teknologi informasi pada perpustakaan hal ini terlihat dari pustakawan disana yang belum pernah mengikuti pelatihan/seminar meneganai perpustakaan. 2. Fleksibilitas, pustakawan di Perpustakaan STT Mandala dalam melayani kebutuhan pemustakanya sangat sigap dan cekatan dalam memberikan informasi mengenai koleksi buku yang dibutuhkan. Pustakawan di Perpustakaan STIKOM Bandung dalam melayani pemustakanya dapat dinilai kurang fleksibilitas karena setiap mahasiswa yang berkunjung ke perpustakaanya sudah mengetahui letak koleksi buku yang dibutuhkan tanpa harus bertanya pada pustakawan. Pustakawan di Perpustakaan STFI dalam melayani kebutuhan pemustakanya sudah memfasilitasi pemustakanya dengan katalog buku online yang dapat diakses diperpustakaan tersebut. Pustakawan di Perpustakaan STBA Yapari dalam melayani kebutuhan pemustakanya sudah sangat sigap hal ini terlihat dari kinerja pustakawan yang selalu berkeliling dan menanyakan kebutuhan informasi pemustanya. Pustakawan STH Bandung dalam melayani kebutuhan pemustakanya kurang sigap dikarenakan pustakawan yang jarang berada di perpustakaan. 3. Multitasking, Pustakawan di Perpustakaan STT Mandala belum mampu menguasai teknologi informasi hal ini terlihat dari web online yang tidak terkelola dengan baik. Pustakawan di Perpustakaan STIKOM Bandung belum mampu menguasai teknologi informasi karena lebih mengedepankan koleksi buku fisik dibandingkan berbasis digital. Pustakwan STFI sudah mampu menguasai teknologi informasi hal ini terlihat dari web perpustakaan online yang meyimpan banyak koleksi seperti jurnal,skripsi dll. Pustakawan di Perpustakan STBA Yapari sudah mampu menguasai teknologi informasi hal ini terlihat dari web perpustakaan online yang mereka kelola. Pustakawan STH Bandung belum mampu menguasai teknologi informasi hal ini terlihat dari ketidaktersediaan web berbasis digital pada perpustakaanya. 4. Kreativitas, Pustakawan di Perpustakaan STT Mandala kurang memiliki kreativitas yang dapat menarik pemustaka untuk datang kesana hal ini terlihat dari letak perpustakaan yang kurang strategis.Pustakawan di Perpustakaan STIKOM Bandung kurang memiliki kreativitas karena Sumber daya manusia yang kurang memadai dan ruangan perpustakaan yang kurang luas. Pustakawan di STFI mempunyai kreativitas yang cukup tinggi hal ini terlihat dari banner yang memuat tata tertib yang dibuat semenarik mungkin, dan diletakan di pintu masuk perpustakaan dan desain ruangan yang nyaman untuk pemustaka. Pustakawan di Perpustakaan STBA mempunyai kreativitas yang tinggi untuk membuat pemustakanya tertarik untuk berkunjung ke perpustakaan karena akses wifi yang cepat. Pustakawan di Perpustakaan STH Bandung kurang memiliki kreativitas karena letak dari perpustakaan yang bersebelahan dengan kantin dan berada di lantai bawah membuat pemustakanya lebih memilih berkunjung ke kantin.

Conclusion

Dapat kami simpulkan bahwa kesiapan pustakawan di 5 perguruan ,tinggi swasta di kota bandung dalam memberikan layanan local content berbasis digital sudah 60% siap dan 40% tidak siap. hal itu dikarenakan permasalahan digititalisasi perpustakaan yang terlambat dan sumber daya manusia (pustakawan) yang berlatar belakang bidang ilmu perpustakaan yang masih sangat kurang.sebanyak tiga pustakawan tiga PTS yakni Sekolah Tinggi Teknologi Mandala, Sekolah Tinggi Hukum Bandung, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung mengeluhkan kurangnya sumber daya manusia di bidang ilmu perpustakaan yang bekerja diperpustakaanya hal ini berdampak pada lambatnya proses digitalisasi perpustakaan tersebut, selain karna kurangnya sumber daya manusia yang muda dan berkompeten pustakawan di tiga PTS tersebut merupakan pustakawan senior dan kurang memahami mengenai digitalisasi, bahkan di salah satu PTS pustakawannya tidak pernah mengikuti seminar/pelatihan mengenai kepustakawanan dan teknologi informasi/ teknologi informasi di perpustakaan, alhasil ketika kami bertanya mengenai penelitian kami pustakawan tersebut menjawab seadanya. Salah satu PTS yakni Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia kami akui paling siap dalam memberikan layanan local content ini, karena digitalisasi perpustakaan dari mulai fasilitas,koleksi user sudah sangat maju di banding perpustakaan lain. Pustakawan di perpustakaan STFI ini sangat mengerti betul mengenai dunia perpustakaan dikarenakan kepala perpustakaan dan staff perpustakaannya yang berlatar belakang bidang ilmu perpustakaan dan informasi. Digitaliasi di PTS Sekolah Tinggi Bahasa Asing Yapari pun menurut kami sudah sangat baik terlihat dari sumber daya manusia yang begitu kompeten bahkan pustakawan disana sangat rajin mengikuti seminar/pelatihan mengenai teknologi informasi, bahkan salah satu pustakawannya tercatat sebagai anggota pengurus Forum Ikatan Pustakawan Jawa barat dan menjabat suatu jabatan. Selain itu pustakawan disini pun cukup berjumlah banyak yakni 5 orang dikarenkan perpustakaan STBA Yapari yang berlantai 2 maka sumber daya manusianya pun disesuaikan.