Kembali
16
1
2021 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 4 · 1 ISSN 2654-6469

Evaluasi Repositori UIN Raden Intan Lampung dengan Pendekatan Technology Acceptance Model (TAM)

Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendekatan Technology Acceptance Model (TAM) ini dapat digunakan untuk mengukur efektivitas sebuah Repositori serta untuk mengetahui efektivitas Repositori UIN Raden Intan Lampung. Model ini akan memberikan gambaran bahwa ada sejumlah faktor yang mempengaruhi keputusan pengguna dalam menggunakan sistem yang baru, yakni: perceived ease of use (kemudahan), perceived usefulness (kebermanfaatan), behavioral intention to use (kecenderungan), dan actual system use. Hasil pengujian setiap instrument pertanyaan di masing- masing aspek penyusun Technology Acceptance Model (TAM) dengan menggunakan metode Confirmatory Factor Analysis (CFA) menunjukkan bahwa setiap instrument pertanyaan dapat dimanfaatkan untuk mengukur keefisienan penggunaan Repositori UIN Raden Intan Lampung dan penggunaan Respository UIN Raden Intan Lampung sudah memenuhi keempat aspek penyusun TAM. © 2021 NJILS. All rights reserved.

Abstract

This study aims to determine whether the Technology Acceptance Model (TAM) can be used to measure and determine the effectiveness of the UIN Raden Intan Lampung repository. This model will illustrate that have some factors influenced to decide using a new system, namely perceived ease of use, perceived usefulness, behavioral intention to use, and actual system use . This test was applied to every instrument of questionnaires using Confirmatory Factor Analysis (CFA). This test results that every instrument of questionnaires can measure the efficiency of using the the UIN Raden Intan Lampung Repository and the use of respository in UIN RIL has fulfilled the four aspects of TAM.
Keywords: confirmator y factor ana lysis · repository evaluation · technology acceptance model

Introduction

Perkembangan teknologi informasi saat ini memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan seseorang. Teknologi informasi juga berperan penting dalam meningkatkan layanan sumber informasi. Perpustakaan sebagai salah sumber informasi memanfaatkan perkembangan teknologi ini untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan. Salah satu peran tekonolgi informasi dalam dunia perpustakaan yaitu dengan munculnya perpustakaan digital. Banyak perpustakaan yang saat ini menyediakan layanannya melalui perpustakaan digital. Hal tersebut bertujuan untuk mengatasi masalah mengenai kualitas layanan perpustakaan yang ada. Seperti yang disampaikan oleh Supriyanto dan Muhsin bahwa perpustakaan digital merupakan salah satu jawaban terhadap pelayanan sirkulasi dan pelayanan informasi yang selama ini dikeluhkan masyarakat pengguna jasa informasi (Supriyanto 2008). Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa perpustakaan digital ada untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan dan memenuhi kepuasaan pengguna. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut yaitu perlu diadakan nya evaluasi pada layanan digital. Layanan digital yang ada di perpustakaan salah satunya yaitu Repositori Institusi. Juniarti mengutip dari pendapat Lynch menyebutkan bahwa Repositori Institusi itu merupakan serangkaian layanan (a set of services) yang dikembangkan oleh suatu universitas (institusi) berupa pengelolaan (management) dan penyebarluasan (dissemination) berbagai hasil kegiatan ilmiah civitas akademi dalam bentuk digital material (Jurniarti 2019). Repositori Institusi perlu dievaluasi karena ada beberapa alasan. Seperti yang dikemukakan oleh Evidence Base dalam Chowdurry, Monica & Fobes (2006) bahwa evaluasi pada layanan informasi elektronik dilakukan karena lima alasan utama yaitu untuk perencanaan strategis yang berhubungan dengan jasa, untuk pengelolaan layanan, untuk menyelidiki penggunaan dan dampak layanan, untuk meningkatkan pelayanan, dan untuk memperbaiki layanan. Salah satu model evalusi pada sebuah system informasi yaitu Tecnologi Acceptance Model. Model ini akan memberikan gambaran bahwa ada sejumlah faktor yang mempengaruhi keputusan pengguna dalam menggunakan sistem yang baru, yakni: uselfulness (pengguna yakin dengan menggunakan sistem ini akan meningkat kinerjanya), ease of use (pengguna yakin bahwa dengan menggunakan sistem ini akan membebaskannya dari kesulitan, dalam artian sistem ini mudah dalam penggunaannya) (F. Davis, 1989). Technologi Acceptance Model (TAM) ini sudah sering digunakan untuk mengevaluasi system informasi di perpustakaan. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Musrifah dengan judul “Evaluasi Sistem Informasi Perpustakaan pada Online Public Access Catalogue (OPAC) Dengan Menggunakan Pendekatan Technology Acceptance Model (TAM) di Perpustakaan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta” (Musrifah 2016) dan penelitian yang dilakukan oleh Prasetyo dengan judul “Evaluasi Penerimaan e-Library sebagai Sistem Otomasi Perpustakaan Menggunakan Teori Technology Acceptance Model (TAM) Berdasarkan Persepsi Pustakawan di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta” (Prasetyo 2017). Kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan Technology Acceptance Model (TAM) digunakan untuk mengevaluasi sebuah sistem perpustakaan yaitu OPAC dan e-Library, yang bertujuan untuk mengetahui efektifitas dan penerimaan sebuah sistem perpustakaan. Sedangkan pada penelitian ini, sebelum melakukan evaluasi pada Repositori UIN Raden Intan Lampung, peneliti ingin mengetahui apakah pendekatan Technology Acceptance Model (TAM) dapat digunakan untuk mengevaluasi Repositori UIN Raden Intan Lampung selanjutnya diteliti apakah Repositori UIN Raden Intan Lampung telah memenuhi aspek dari Technology Acceptance Model (TAM). B. TINJAUAN PUSTAKA Repositori Institusi Repositori Institusi merupakan sebuah wadah yang digunakan untuk menyimpan karya ilmiah yang dihasilkan oleh civitas akademika. Seperti yang dikemukakan oleh Juniarti yang dikutip dari Jain, bahwa Repositori Institusi adalah seperangkat layanan yang ditawarkan oleh perguruan tinggi atau sekelompok perguruan tinggi untuk penggunanya dalam mengelola dan menyebarkan materi ilmiah dalam bentuk digital yang dibuat oleh perguruan tinggi maupun civitas akademika dari perguruan tinggi tersebut, seperti laporan teknis, tesis dan disertasi, dan bahan ajar (Jurniarti 2019). Selanjutnya Andike mengutip dari Jones menyebutkan bahwa repositori institusi merupakan bentuk online untuk mengumpulkan, melestarikan, dan menyebarluaskan, output intelektual sebuah institusi, khususnya lembaga penelitian dalam bentuk digital. Untuk perguruan tinggi mencakup materi seperti artikel jurnal penelitian, peer review, tesis, dan disertasi dalam versi digital, tetapi juga bisa menyertakan aset digital lainnya yang dihasilkan oleh lingkungan akademik, seperti dokumen administrasi, catatan mata kuliah, atau materi-materi pembelajaran (Andike dan Dewi 2017). Teredesai yang dikutip oleh Iqbal dan Bahruni menyebutkan bahwa, repositori merupakan sebuah perangkat lunak opensource yang dapat digunakan sebagai arsip serta dapat menyimpan gambar, data penelitian dan suara dalam bentuk digital (Iqbal dan Bahruni 2019). Selanjutnya ada beberapa opensource yang dapat digunakan untuk mengembangkan Repositori, seperti: Eprints, Dspace, Greenstone, GDL, dan sebagainya. Repositori yang dimiliki oleh UIN Raden Intan Lampung yaitu dikembangkan perangkat lunak open source Eprints. Rodliyah mengutip dari halaman eprints.org menyebutkan bahwa Eprints merupakah software opensource yang dikembangkan oleh School of Electronics and Computer Science, University of Southampton, England United Kingdom. Versi pertama dari Eprints di release ke publik pada tahun 2000. Eprints sudah terintegrasi dengan metadata, advanced search untuk penelusuran informasi lanjut, dan fitur-fitur lainnya. Eprints merupakan perangkat lunak perpustakaan digital berbasis opensource, yang dapat dimodifkasi dan disesuaikan dengan kebutuhan lokal (Rodliyah 2016). Technology Acceptance Model (TAM) Technology Acceptance Model (TAM) merupakan salah satu model untuk megevaluasi sebuah penerimaan sistem informasi. TAM merupakan salah satu model untuk mengevaluasi sistem informasi dengan melihat penerimaan dari pengguna. Dalam TAM ini dijelaskan beberapa faktor yang akan mempengaruhi keputusan pengguna dalam menggunakan sistem yang baru, yakni: uselfulness (pengguna yakin dengan menggunakan sistem ini akan meningkat kinerjanya), ease of use (pengguna yakin bahwa dengan menggunakan sistem ini akan membebaskannya dari kesulitan, dalam artian sistem ini mudah dalam penggunaannya) (F. Davis 1989). Dengan demikian dapat diketahui bahwa seseorang akan menggunakan sebuah Repositori jika mereka berpendapat bahwa Repositori tersebut mudah digunakan dan bermanfaat untuk meningkatkan kinerjanya. Technology Acceptance Model ini memberikan gambaran bahwa faktor kemudahan berpengaruh terhadap faktor kebermanfaatan, kemudian faktor kemudahan dan faktor kebermanfaatan secara bersamaan berpengaruh terhadap penggunaan sistem melalui faktor kecenderungan intensitas penggunaan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa dengan Technology Acceptance Model ini penerimaan sebuah sistem informasi terdiri dari empat komponen yaitu Perceived Ease of Use (Kemudahan), Perceived Usefulness (kebermanfaatan), Behavioral Intention to Use (kecenderungan), dan Actual System Use (penggunaan sistem nyata) (F. D. Davis 1989). Pertama, Perceived Ease of Use (Kemudahan). Kemudahan dapat dipahami bahwa tidak ada kesulitan yang ditemui saat menggunakan sebuah sistem informasi. Seperti yang dikemukaan Davis bahwa kemudahan adalah tingkat dimana seseorang percaya bahwa menggunakan sistem tertentu akan terbebas dari usaha. Selanjutnya mengenai persepsi terhadap kemudahan dalam menggunakan Repositori Institusi dapat diukur dari beberapa faktor yang telah diadopsi dari kemudahan sistem informasi yaitu, pertama Repositori Institusi mudah untuk dipelajari yang berarti sebuah repositori mudah untuk digunakan oleh penggunanya, baik oleh pengguna yang sudah terampil maupun pengguna. Kedua, Repositori Institusi memberikan informasi yang diinginkan oleh pemustaka, sehingga informasi yang disediakan oleh sebuah Repositori Institusi harus sesuai dan memenuhi kebutuhan penggunanya. Ketiga, Repositori Institusi jelas dan mudah dipahami, sehingga semua menu yang ada di Repositori Institusi harus jelas dan mudah dipahami. Biasanya hal ini berkaitan dengan bahasa yang digunakan. Keempat, fleksibel, sehingga Repositori Institusi harus fleksibel, mudah digunakan oleh siapapun, dan sesuai dengan berbagai karakteristik penggunanya. Kelima, terbebas dari kesulitan, sehingga pengguna tidak menemui kesulitan dalam menggunakan Repositori Institusi maupun dalam mengakses informasi yang tersedia dalam Repositori Institusi. Keenam, kemudahan dalam penggunaan Repositori Institusi, sehingga Repositori Institusi harus mudah digunakan, baik dari memahami menu-menu yang tersedia, maupun mengakses semua informasi yang ada (F. D. Davis 1989). Kedua, Perceived Usefulness (Kebermanfaatan). Konsep kebermanfaatan (perceived usefulness) menunjukkan keyakinan pengguna pada kontribusi sistem informasi terhadap kinerja pengguna sistem informasi. Repositori Institusi kebermanfaatannya dapat dilihat dari beberapa faktor dari kebermanfaatan sistem informasi yang telah disebutkan oleh Davis pada studi keduanya, yaitu, pertama, Work more quickly, sehingga dengan menggunakan Repositori Institusi maka pengguna dapat menyelesaiakan pekerjaannya lebih cepat. Kedua, Job perfomence, sehingga kebermanfaatan Repositori Institusi dapat dilihat dari seberapa besar peran perpustakaan digital dalam meningkatkan kinerja penggunanya. Ketiga, Increase productivity, sehingga kebermanfaatan Repositori Institusi dapat dilihat dari peningkatan produktivitas pengguna layanan tersebut. Keempat, Evcetiveness, sehingga Repositori Institusi sangat efektif dalam membantu penggunanya menyelesaikan tugas-tugasnya. Kelima, Makes job easer, sehingga dengan menggunakan Repositori Institusi maka akan mempermudah pekerjaan seseorang. Misalnya saja mudah dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Keenam, Useful, sehingga kebermanfaatan Repositori Institusil dalam keseluruhan baik dalam menunjang kinerja, produktivitas, penyelesaian tugas, dan memudahkan dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan (F. D. Davis 1989) Ketiga, Behavioral Intention to Use (Kecenderungan Penggunaan). Behavioral Intention to Use (Kecenderungan Penggunaan) merupakan kecenderungan perilaku untuk tetap menggunakan suatu teknologi (F. Davis 1989). Perilaku untuk tetap menggunakan sistem informasi dapat diukur menggunakan beberapa faktor, yaitu memotivasi diri untuk tetap menggunakan sistem informasi dan memotivasi pengguna lain untuk tetap menggunakan sistem informasi dan memotivasi pengguna lain untuk tetap menggunakan sistem informasi (Yunita 2013). Jadi kecenderungan penggunaan Repositori Institusi ini dapat dilihat dari keseringan pengguna dalam menggunakan Repositori Institusi tersebut, serta keinginan untuk mengajak orang lain dalam menggunakan Repositori Institusi. Keempat, Actual System Use (Penggunaan sistem nyata). Actual System Use (Penggunaan sistem nyata) adalah kondisi nyata penggunaan sistem (F. D. Davis 1989). Dikonsepkan dalam bentuk pengukuran terhadap frekuensi dan durasi waktu penggunaan teknologi. Seseorang akan merasa puas menggunakan sistem jika mereka meyakini bahwa sistem tersebut mudah digunakan dan akan meningkatkan produktivitas mereka, yang tercermin dari kondisi nyata penggunaan (Yunita 2013).

Method

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan model analisis menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA). Model analisis tersebut merupakan salah satu analisis multivariat yang digunakan untuk memastikan apakah model yang telah dibuat telah sesuai dengan hipotesis yang dibuat. CFA memiliki dua peubah, yaitu peubah laten dan indikator. Peubah laten merupakan peubah yang tidak dapat dibentuk dan dibangun secara langsung sedangkan peubah indikator merupakan peubah yang dapat diamati dan diukur secara langsung. Pada CFA dilakukan tiga tahap analisis, yaitu analisis pada setiap pertanyaan/indikator penyusun aspek, analisis pada setiap aspek, dan analisis kecocokan model. Adapun bentuk model CFA (I. Ghozali 2005), yaitu: Keterangan: x : vektor bagi peubah-peubah indikator ( : matriks bagi faktor loading : vektor bagi peubah-peubah laten : vektor bagi galat pengukuran Pada tahap analisis di setiap pertanyaan penyusun aspek maka akan melihat nilai Standardized Factor Loading (SFL) >0.5 dan t-value> 1.96. Hal ini menunjukkan bahwa setiap pertanyaan mampu mengukur masing-masing aspek. Kemudian, tahap analisis di setiap aspek, maka akan melihat nilai SFL>0.5 dan t-value >1.96 pada masing-masing aspek TAM. Selain nilai tersebut, maka akan dilakukan uji validitas dan reliabilitas aspek dari indikator pembentuk peubah laten (Latan, 2012). Suatu instrument kuesioner dikatakan validitas dan reliabilitas apabila nilai Variance Extracted (VE) dan nilai Contruct Reliability (CR) (Hair, J.F., Black, W.J., Babin, B.J., & Anderson 2010). Setelah dilakukan pengujian reliabilitas dan validitas, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian kecocokan keseluruhan model terhadap diagram alur yang telah dirancang pada CFA. Adapun kriteria suatu model dikatakan cocok (goodness of fit) memiliki nilai ; niali atau ; nilai ; nilai ; nilai ; nilai , nilai ; dan nilai . Responden dalam penelitian ini adalah civitas akademika Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode snowball sampling. Metode snowball sampling merupakan suatu metode untuk mengidentifikasi, memilih, dan mengambil sampel dalam suatu jaringan yang menerus. Pengambilan sampel dengan metode ini dilakukan melalui proses bergulir dari satu responden ke responden lainnya (Nurdiani 2014). Pada penelitian ini menggunakan metode survei kuesioner. Penyebaran kuesioner ini dilakukan secara daring melalui tautan http://bit.ly/evaluasiperpustakaandigital. Penyebaran kusioner daring ini dilakukan pada tanggal 22 s.d. 26 April 2021. Sehingga jumlah responden yang mengisi kuesioner adalah sebanyak 108 orang. Tabel 1. Aspek dan Pertanyaan/Indikator Kuesioner Aspek Pertanyaan /Indikator PEoU Repositori UIN Raden Intan Lampung mudah dipelajari Repositori UIN Raden Intan Lampung memberikan informasi yang saya inginkan Menu - menu pada Repositori UIN Raden Intan Lampung sangat jelas dan mudah di pahami Menggunakan Repositori UIN Raden Intan Lampung membuat Saya fleksibel Tidak mengalami kesulitan saat menggunakan Repositori UIN Raden Intan Lampung PU Dengan menggunakan Repositori UIN Raden Intan Lampung membantu saya lebih cepat dalam menyelesaikan tugas Dengan menggunakan Repositori UIN Raden Intan Lampung meningkatkan kinerja dan produktivitas tugas saya Dengan menggunakan Repositori UIN Raden Intan Lampung membantu saya lebih efektif dalam menyelesaikan tugas Repositori UIN Raden Intan Lampung membantu saya lebih mudah dalam mencari informasi Koleksi referensi yang ada di Repositori UIN Raden Intan Lampung dapat menambah pengetahuan Saya BItU Saya sering mengakses Repositori UIN Raden Intan Lampung Saya akan merekomendasikan kepada teman saya untuk mengakses Repositori UIN Raden Intan Lampung Saya berniat untuk meningkatkan penggunaan Repositori UIN Raden Intan Lampung Saya tidak keberatan untuk beralih ke media dan respository lain jika memiliki fungsionalitas yang lebih baik Saya ingin menggunakan Repositori UIN Raden Intan Lampung dalam mengerjakan tugas ASU Saya selalu mengakses Repositori UIN Raden Intan Lampung dalam menyelesaikan tugas Saya menggunakan Repositori UIN Raden Intan Lampung minimal sehari sekali Saya mengakses Repositori UIN Raden Intan Lampung selama hari perkuliahan maupun saat hari libur Saya mengakses Repositori UIN Raden Intan Lampung lebih dari 30 menit sekali akses Sumber: Peneliti, 2021 Penyebaran kuesioner ini bertujuan untuk melihat keefektifan penggunaan repositori UIN Raden Intan Lampung. Aspek yang di ukur dari kuesioner ini berdasarkan TAM, yaitu perceived ease of use ( PEoU ), perceived usefulness ( PU ), behavioral intention to use ( BItU ), dan actual system use ( ASU ). Adapun indikator pertanyaan dari setiap aspek disajikan pada tabel 1. Skala linkert yang digunakan adalah 1 s.d. 4, artinya semakin besar nilai yang diberikan maka semakin positif pendapat yang diberikan. Untuk menguji keefisienan dari empat aspek tersebut, maka digunakan confirmatory factor analysis (CFA ) sebagai metode analisis statistik dengan bantuan program lisrel 8.70.

Result & Discussion

Berdasarkan hasil pengolahan data kuesioner menggunakan analisis CFA dengan bantuan program lisrel 8.70 maka analisis dilakukan tiga tahap, yaitu tahap analisis untuk setiap indikator di masing-masing aspek TAM, analisis pada masing-masing aspek TAM, dan analisis kecocokan seluruh model CFA. Analisis untuk setiap indikator di masing-masing aspek TAM Berdasarkan hasil analisis CFA, maka diagram jalur yang digunakan pada penelitian ini disajikan pada Gambar 1. Gambar 1 Diagram Alur yang Digunakan Sumber: Peneliti, 2021 Berdasarkan Gambar 2 menunjukkan bahwa setiap indikator pertanyaan dari masing-masing aspek memiliki nilai Standardized Factor Loading (SFL) >0.5 dan t-value> 1.96. Hal ini menunjukkan bahwa setiap pertanyaan mampu mengukur masing-masing aspek. Sebagai contoh lima pertanyaan terkait aspek PEoU memiliki SFL>0.5 dan t-value>1.96, artinya lima pertanyaan tersebut sudah mampu menggambarkan aspek PEoU dan memiliki pengaruh antar setiap pertanyaan di masing-masing aspek. (a) Nilai Standardized Factor Loading dari CFA (b) t-value dari CFA Gambar 2. Nilai SFL dan T-Value dari CFA Sumber: Peneliti 2021 Analisis pada setiap aspek TAM Selain melakukan analisis pada masing-masing indikator penyusun aspek TAM, maka dilakukan analisis pada aspek penyusun TAM. Berdasarkan Gambar 2, setiap aspek memiliki nilai SFL>0.5 dan t-value >1.96, artinya keempat aspek pengukur TAM memiliki hubungan satu sama lain, saling mempengaruhi, dan mampu mengukur ke efesienan penggunaan respositori berdasarkan aspek TAM. Hal ini sesuai dengan tujuan TAM, yaitu aspek PEoU berpengaruh terhadap aspek PU, kemudian aspek PEoU dan PU secara bersamaan berpengaruh terhadap aspek ASU melalui aspek BItU. Suatu aspek memiliki reliabilitas yang baik, jika memiliki nilai Construct Reliability (CR) dan nilai Variance Extracted (VE) (Hair, dkk, 2010). Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai CR dan VE yang dihasilkan masing-masing aspek memiliki nilai dan. Hal ini menunjukkan bahwa pertanyaan yang digunakan pada masing-masing aspek telah memiliki kemampuan yang sangat baik untuk mengukur aspek dan reliabel. Tabel 2. Contruct Reliability dan Variance Extracted masing-masing Aspek Aspek Pertanyaan SFL Error CR VE Keterangan PEoU X11 0.85 0.15 0.95 0.78 Validitasi Baik X12 0.72 0.28 Validitasi Baik X13 0.83 0.17 Validitasi Baik X14 0.87 0.13 Validitasi Baik X15 0.78 0.22 Validitasi Baik PU X21 0.85 0.15 0.95 0.80 Validitasi Baik X22 0.91 0.09 Validitasi Baik X23 0.92 0.08 Validitasi Baik X24 0.66 0.34 Validitasi Baik X25 0.79 0.21 Validitasi Baik BItU X31 0.75 0.25 0.92 0.69 Validitasi Baik X32 0.76 0.24 Validitasi Baik X33 0.63 0.37 Validitasi Baik X34 0.83 0.17 Validitasi Baik X35 0.78 0.22 Validitasi Baik ASU X41 0.86 0.14 0.97 0.89 Validitasi Baik X42 0.89 0.11 Validitasi Baik X43 0.91 0.09 Validitasi Baik X44 0.94 0.06 Validitasi Baik Sumber: Peneliti, 2021 Analisis kecocokan model CFA Setelah dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas pada masing-masing pertanyaan, maka dilakukan pengujian model secara keseluruhan dengan melihat angka statistik dari analisis kecocokan keseluruhan model. Berdasarkan hasil analisis kecocokan keseluruhan model menunjukkan bahwa dari semua kriteria kecocokan hanya ukuran RMSEA yang tidak memenuhi standar kecocokan model (Tabel 3). Sehingga dapat disimpulkan bahwa model yang terbentuk telah dapat digunakan dengan baik. Bentuk model dan diagram jalur CFA yang digunakan pada penelitian ini disajikan pada Gambar 1. Tabel 3. Hasil Uji Kecocokan Keseluruhan Model Ukuran Kecocokan Keseluruhan Model Kriteria Kecocokan Hasil Perhitungan Tingkat Kecocokan RMR 0.022 Cocok RMSEA atau 0.11 Tidak Cocok NFI 0.97 Cocok NNFI 0.96 Cocok CFI 0.97 Cocok IFI 0.97 Cocok RFI 0.96 Cocok PGFI 0.55 Cocok Sumber: Peneliti, 2021 Sehingga dari ketiga tahap yang telah dilakukan dengan menggunakan CFA menunjukkan bahwa keempat aspek pengukur TAM memiliki hubungan satu sama lain, saling mempengaruhi dan dapat mengukur keefisienan penggunaan Repositori UIN Raden Intan Lampung. Hal ini sejalan dengan Gambar 3 mengenai tanggapan yang diberikan responden terhadap setiap instrument pertanyaan di masing-masing aspek, menunjukkan bahwa Repositori UIN Raden Intan Lampung sangat memberikan dampak positif dari semua aspek TAM, yaitu kemudahan, kebermanfaatan, kecenderungan menggunakan, dan penggunaan sistem dalam keseharian responden. Gambar 3 Tanggapan Responden Untuk Setiap Aspek TAM Sumber: Peneliti, 2021

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, pertama, instrument penyusun pertanyaan untuk keempat aspek penyusun TAM dapat dimanfaatkan untuk mengukur keefisienan penggunaan Repositori UIN Raden Intan Lampung. Kedua, Penggunaan Respository UIN Raden Intan Lampung sudah memenuhi keempat aspek penyusun TAM, yaitu Perceived Ease of Use (Kemudahan), Perceived Usefulness (kebermanfaatan), Behavioral Intention to Use (kecenderungan), dan Actual System Use (penggunaan sistem nyata). Adapun saran untuk penelitian selanjutnya sebaiknya melakukan modifikasi pada diagram alur yang digunakan untuk melihat keefisienan empat aspek TAM dalam mengevaluasi penggunaan perpustakaan TAM.