Kinerja Pustakawan Layanan Sirkulasi Dalam Memanfaatkan Senayan Library Management System (SLiMS)
Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja pustakawan dilihat dari aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan hambatan yang dihadapi pustakawan dalam memanfaatkan SLiMS di UPT Perpustakaan Universitas Pasundan Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif . Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah dua orang yang merupakan pustakawan bagian layanan sirkulasi. Tekink Analisa data menggunakan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan . Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pertama, pengetahuan dan pemahaman pustakawan dalam memanfaatkan SLiMS dapat dikatakan baik. Meskipun pustakawan hanya mengetahui peran SLiMS dalam menyelesaikan pekerjaan mereka. Padahal SLiMS bisa digunakan dalam merencanakan pekerjaan yang akan dikerjakan oleh pustakawan. Kedua, Keterampilan pustakawan layanan sirkulasi dalam memanfaatkan SLiMS dapat dikatakan terampil. Hal ini terlihat dari mampunya pustakawan dalam menggunakan berbagai fitur yang ada pada SLiMS untuk kegiatan peminjaman, pengembalian, perpanjangan, denda dan lain sebagainya yang berkaitan dengan kegiatan pada layanan sirkulasi perpustakaan. Ketiga, sikap pustakawan layanan sirkulasi dalam memanfaatkan SLiMS dapat dikatakan baik. Hal ini terlihat adanya kemudahan dalam menyelesaikan pekerjaan dan kepuasan akan pekerjaan yang sudah diselesaikan oleh pustakawan. Keempat, hambatan yang dialami oleh pustakawan layanan sirkulasi dalam memanfaatkan SLiMS adalah kesulitan dalam menginstal dan melakukan migrasi data ke SLiMS dikarenakan software yang sebelumnya digunakan berbeda.
Abstract
This study aims to determine the performance of librarians in terms of knowledge, skills, attitudes, and obstacles faced by librarians in utilizing SLiMS at UPT Pasundan University Library, Bandung. The method used in this research is qualitative method. Data collection techniques through observation, interviews, and documentation studies. Informants in this study amounted to two people who are librarians of circulation services. The data analysis technique uses data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that first, the knowledge and understanding of librarians in utilizing SLiMS can be said to be good. Although librarians only know the role of SLiMS in completing their work. Whereas SLiMS can be used in planning the work to be done by the librarian. Second, the skills of circulation service librarians in utilizing SLiMS can be said to be skilled. This can be seen from the ability of librarians to use various features available in SLiMS for borrowing, returning, extending, fines and other activities related to activities in library circulation services. Third, the attitude of the circulation service librarian in utilizing SLiMS can be said to be good. This can be seen from the ease of completing work and satisfaction with the work that has been completed by the librarian. Fourth, the obstacles experienced by circulation service librarians in utilizing SLiMS are difficulties in installing and migrating data to SLiMS because the software previously used was different.
Keywords:
performance
· librarian
· senayan library management system
Introduction
Perguruan tinggi merupakan salah satu sub sistem dalam sistem pendidikan nasional, yang dapat diartikan sebagai pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dalam strata pendidikan formal. Pendidikan tinggi merupakan lembaga yang diharapkan akan mendalami ilmu pengetahuan, pengembangan ilmu melalui penelitian dan menerapkan ilmu dalam pengabdian masyarakat, dan pembangunan bangsa. Belajar di pendidikan tinggi merupakan kesempatan, sekaligus suatu tantangan. Meskipun Perguruan tinggi sudah menyediakan kesempatan dan peluang bagi semua mahasiswa, namun semuanya akan terpulang pada mahasiswa tersebut. Oleh karena itu, mahasiswa harus dapat menyusun rencana belajarnya sendiri sesuai dengan situasi dan kondisinya, seperti rencana waktu, materi, sumber belajar, dan semua peluang belajar yang dimilikinya. Untuk menunjang semua kegiatan tersebut, dibutuhkan sarana dan prasana pembelajaran. Salah satu sarana penunjang belajar mandiri bagi mahasiswa adalah perpustakaan, karena dalam Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007 Tentang Perpustakaan Pasal 2, menyebutkan bahwa, “Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan”. Secara fungsional, pendidikan dan perpustakaan merupakan satu kesatuan yang integral, oleh karena itu perpustakaan harus dapat menunjang keberhasilan program pendidikan. Agar perpustakaan dapat berperan, ada dua kegiatan yang harus dilakukan yakni: kegiatan keakraban mahasiswa terhadap bahan bacaan dan termasuk menimbulkan minat baca dengan segala kegiatannya. Untuk itu, perlu adanya suatu organisasi pembinaan perpustakaan yang dapat diandalkan serta disesuaikan dengan tingkat dimana perpustakaan itu didirikan. Sutarno (2006) menyatakan bahwa: “Perpustakaan pada prinsipnya mempunyai tiga kegiatan pokok, yaitu pertama, mengumpulkan ( to collect ) semua informasi yang sesuai dengan bidang kegiatan dan misi organisasi dan masyarakat yang dilayaninya. Kedua, melestarikan, memelihara, dan merawat seluruh koleksi perpustakaan, agar tetap dalam keadaan baik, utuh, layak pakai, dan tidak lekas rusak baik karena pemakaian maupun usianya ( to preserve ). Ketiga, menyediakan dan menyajikan informasi untuk siap dipergunakan dan diberdayakan ( to make available ) seluruh koleksi yang dihimpun di perpustakaan untuk digunakan pemakainya”. Perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesat memberikan dampak besar terhadap hampir semua bidang kehidupan tak terkecuali perpustakaan. Perpustakaan menerapkan teknologi informasi untuk memberikan pelayanan lebih baik kepada pemustakanya. Supriyanto (2008), menyebutkan bahwa, “kemajuan perpustakaan banyak diukur dari tingkat atau intensitas dan kualitas penggunaan teknologi informasi di perpustakaan.” Perkembangan teknologi informasi ini dibutuhkan agar informasi dapat diperoleh dengan lebih cepat, tepat dan mudah. Sistem manual yang diterapkan di perpustakaan dirasakan tidak lagi memadai dan menyulitkan pustakawan dalam pengelolaan sistem perpustakaan. Oleh karena itu perpustakaan membutuhkan penerapan teknologi informasi untuk meningkatkan kinerja pustakawan agar lebih efektif dan efisien. Menurut Sulistyo - Basuki (2010), menyatakan , bahwa, “teknologi informasi merupakan teknologi yang berbasis computer yang digunakan untuk bekerja secara efisien dengan memanfaatkan media internet. Perkembangan teknologi telah banyak memberikan dampak ke seluruh lembaga atau instansi, seperti perpustakaan.” Peranan perpustakaan dalam menunjang kebutuhan informasi begitu penting bagi perpustakaan perguruan tinggi yang berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi. Bukan cuma mengacu pada keindahan bangunan atau kenyamanan ruangan perpustakaannya saja, akan tetapi juga pada ketersediaan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan para pemustaka. Selain itu, pustakawan juga mempunyai peran penting dalam memiliki kemampuan literasi informasi untuk meningkatkan keterampilan yang mendukung profesi pustkawan di antaranya memberdayakan diri dengan berbagai fasilitas yang tersedia baik di perpustakaan atau di organisasi profesi kepustakawanan dan mengadakan sharing atau temu - bicara untuk saling berbagi tentang kebutuhan, layanan, dan kemajuan yang dicapai di perpustakaan masing - masing. Supriyanto (2008), menyatakan bahwa: “Dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi di perpustakaan di kenal istilah otomasi perpustakaan. Istilah ini dapat menggambarkan suatu peralatan yang terdiri dari kombinasi komponen elektronik dan elektromekanikal (sebagai elektronik dan sebagai mekanik). Dengan demikian, otomasi perpustakaan menggunakan beragam perangkat keras ( hardware ) maupun kelengkapan perangkat lunak ( software ). Hardware yang digunakan secara umum sama yaitu seperangkat komputer yang tersambung jaringan, yang membedakannya adalah software khusus yang digunakan dalam otomasi perpustakaan.” Sejak tahun 2015 sistem otomasi yang digunakan di Perpustakaan Universitas Pasundan Bandung adalah aplikasi Senayan Library Management System (SliMS) dalam pengelolaan perpustakaannya. Selain itu SLiMS juga merupakan software perpustakaan yang gratis yang memiliki feature yang lengkap antara lain manajemen pengadaan bahan pustaka, layanan penelusuran koleksi yang dikenal dengan istilah Online Public Access Catalogue (OPAC) , manajemen data bibliografi, manajemen sirkulasi, manajemen keanggotaan, manajemen inventarisasi koleksi, manajemen pelaporan, dan manajemen kendali terbitan berseri. SLiMS merupakan program aplikasi berbasis web yang dapat digunakan dibanyak lingkungan jaringan, baik itu jaringan lokal maupun jaringan internet. Penerapan sistem automasi perpustakaan di Perpustakaan Universitas Pasundan berupa Senayan Library Management System (SliMS) tidak terlepas dari peran pustakawan dan staf perpustakaan dalam mengoperasikan baik perangkat keras (hardware ) maupun perangkat lunaknya ( software) . Pustakawan sangat berpengaruh dalam keberhasilan program yang dicanangkan oleh perpustakaan. Seorang pustakawan memiliki tanggung jawab dalam hal mengedukasi penggunanya untuk terus belajar. Pustakawan di tingkat perguruan tinggi harus mampu memahami kebutuhan belajar bagi penggunanya. Untuk itu pustakawan diharapkan mampu menerapkan pengetahuan dan memiliki keahlian bidang teknologi informasi dalam meningkatkan kualitas layanan kepada seluruh sivitas akademik. Berdasarkan uraian di atas diketahui bahwa keberadaan teknologi informasi pada Perpustakaan Universitas Pasundan sangatlah penting. Teknologi informasi pada sistem perpustakaan perguruan tinggi memiliki peranan untuk membantu pustakawan dalam menjalankan peranan dan fungsinya. Dengan demikian, penulis tertarik untuk meneliti mengenai kinerja pustakawan pada bagian layanan sirkulasi dalam memanfaatkan Senayan Library Management System (SLiMS) di Perpustakaan Universitas Pasundan. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan Sumaryati, Cepi , dan Miyarso (2014) yang berjudul Implementasi Software Senayan Library Management Systems (SLiMS) Pada Perpustakaan Sekolah : Studi Deskriptif pada Perpustakaan SMA Negeri 2 Kota Bandung. Hasil dari penelitian ini ini menunjukkan bahwa dalam perencanaan implementasi Software Senayan membentuk perencanaan tertulis dengan melakukan konsultasi pada ahli software, melakukan analisis SWOT, serta menetapkan sasaran dan target. Proses instalasi Software Senayan dilakukan oleh tenaga pengelola perpustakaan, sedangkan pemeliharaan dilakukan hanya ketika software ataupun hardware rusak tidak ada tindakan pencegahan. Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Lestari (2014) yang berjudul Pemanfaatan Senayan Library Management System Pada Sistem Katalogisasi, Membership Dan Sirkulasi Perpustakaan SMK Di DIY . Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pemanfaatan SLiMS perpustakaan SMK di DIY berdasarkan persepsi pengguna maupun pustakawan masuk pada kategori baik dengan persentase rata - rata 80,28% dan 81,88%. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumya adalah pada penelitian ini peneliti ingin meneliti mengenai pemanfaatan SliMS dilihat dari sudut pandang pustakawan, sehingga diketahui peran SliMS ini terhadap kinerja pustakawan. Pustakawan yang akan peneliti teliti adalah pustakawan dibagian layanan sirkulasi karena pustakawan pada bagian ini yang setiap hari berinteraksi dengan pemustaka yang akan menggunakan berbagai koleksi yang ada di perpustakaan. Pengertian pustakawan menurut Undang - undang Nomor 43 Tahun 2007 adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Keberadaan pustakawan ini sangatlah penting karena pustakawan adalah penghubung antara koleksi yang ada dengan pengguna perpustakaan. Hal ini menjadikan pustakawan sebagai tenaga kependidikan harus mampu berkomunikasi baik lisan maupun tulisan ; dan juga dapat beradaptasi sebagai pencari atau pemberi informasi yang bersumber pada berbagai sumber informasi. Selain itu menurut The Special Library Association dalam Harmawan (2016) kompetensi pustakawan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu , pertama, kompetensi profesional yang seharusnya dimiliki oleh pustakawan . Pada kompetensi profesional pustakawan harus mampu memiliki kemampuan, yaitu (1) pengetahuan keahlian tentang isi sumber - sumber informasi, termasuk kemampuan untuk mengevaluasi dan menyaring sumber - sumber tersebut secara kritis ; (2) memiliki pengetahuan tentang subjek khusus yang sesuai dengan kegiatan organisasi pelanggannya ; (3) mengembangkan dan mengelola layanan informasi dengan baik, accessable (dapat diakses dengan mudah) dan cost - effective (efektif dalam pembiayaan) yang sejalan dengan aturan strategis organisasi ; (4) menyediakan bimbingan dan bantuan terhadap pengguna layanan informasi dan perpustakaan ; (5) memperkirakan jenis dan kebutuhan informasi, nilai jual layanan informasi dan produk - produk yang sesuai kebutuhan yang diketahui ; (6) mengetahui dan mampu menggunakan teknologi informasi untuk pengadaan, pengorganisasian, dan penyebaran informasi ; (7) mengetahui dan mampu menggunakan pendekatan bisnis dan manajemen untuk mengkomunikasikan perlunya layanan informasi kepada manajemen senior ; (8) mengembangkan produk - produk informasi khusus untuk digunakan di dalam atau di luar lembaga atau oleh pelanggan secara individu ; (9) mengevaluasi hasil penggunaan informasi dan menyelenggarakan penelitian yang berhubungan dengan pemecahan masalah - masalah manajemen informasi ; (10) secara berkelanjutan memperbaiki layanan informasi untuk merespon perubahan kebutuhan ; (11) menjadi anggota tim manajemen senior secara efektif dan menjadi konsultan organisasi di bidang informasi. Kompetensi kedua adalah kompetensi personal atau individu bagi pustakawan . Kompetensi personal atau individu , yaitu (1) memiliki komitmen untuk memberikan layanan terbaik ; (2) mampu mencari peluang dan melihat kesempatan baru baik di dalam maupun di luar perpustakaan ; (3) berpandangan luas ; (4) mampu mencari partner kerja ; (5) mampu menciptakan lingkungan kerja yang dihargai dan dipercaya ; (6) memiliki keterampilan bagaimana berkomunikasi yang efektif; (7) dapat bekerjasama secara baik dalam suatu tim kerja ; (8) memiliki sifat kepemimpinan ; (9) mampu merencanakan, memprioritaskan dan memusatkan pada suatu yang kritis ; (10) memiliki komitmen untuk selalu belajar dan merencanakan pengembangan kariernya ; (11) mampu mengenali nilai dari kerjasama secara profesional dan solidaritas ; dan (12) memiliki sifat positif dan fleksibel dalam menghadapi perubahan. Berbagai kompetensi yang dimiliki pustakawan nantinya yang akan mendukung kinerjanya. Pengertian kinerja menurut Sulaiman dan Suprapto (2019), yaitu kinerja merupakan gambaran tentang tingkat kemampuan pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam periode waktu tertentu berdasarkan tujuan dan sasaran yang telah ditentukan guna mewujudkan visi dan misi organisasi. Apabila kinerja pustakawan bagus maka kualitas pustakawan juga akan semakin meningkat. Meningkatnya kualitas pustakawan ini dilihat dari adanya perkembangan aspek pengetahuan, perkembangan aspek keterampilan dan perkembangan sikap pustakawan (Nawawi, 2005). Pada aspek pengetahuan mengharuskan peningkatan kemampuan intelektual, terutama dalam mencari informasi, mengolah dan menganalisis informasi secara proaktif dan menggunakannya untuk merespon kondisi lingkungan dimasa yang akan datang melalui kemampuan menyusun perencanaan dan manajemen perpustakaan sejak dari dini. Pada aspek keterampilan seorang pustakawan diharuskan cakap dan terampil dan tidak gagap dengan perkembangan zaman, pengembangan keterampilan pustakawan dilakukan dengan diadakannya pelatihan. Pada perkembangan sikap pustakawan maka seorang pustakawan akan senantiasa bertanggung jawab akan tugas yang diembannya. Kinerja pustakawan yang baik sangat diperlukan oleh pustakawan bagian sirkulasi. Hal ini dikarenakan pada pelayanan sirkulasi memperhitungkan cara yang paling praktis agar pelayanan dapat tercapai dengan waktu, tenaga, dan biaya yang efisien. Pengertian pelayanan sirkulasi menurut Lasa (2005), yaitu, “pelayanan sirkulasi sebenarnya mencakup semua bentuk kegiatan pencatatan yang berkaitan dengan pemanfaatan, penggunaan koleksi perpustakaan dengan tepat guna dan tepat waktu untuk kepentingan pengguna jasa perpustakaan”. Berdasarkan pengertian tersebut diketahui bahwa melalui pelayanan sirkulasi ini pustakawan berperan sebagai jembatan antara koleksi yang ada di perpustakaan dengan penggunanya. Pada pelayanan sirkulasi perpustakaan saat ini banyak yang sudah menggunakan Senayan Library Management System (SLiMS). SlimS menurut Purnomo (2016), yaitu: SLiMS adalah perangkat lunak sistem manajemen perpustakaan ( Library Management System ) sumber terbukayang dilisensikan di bawah GPLv3. Aplikasi web yang dikembangkan oleh tim dari Pusat Informasi dan Humas Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia ini dibangun dengan menggunakan PHP, basis data MySQL , dan pengontrol versi Git . Pada tahun 2009, Senayan memenangi INAICTA 2009 untuk kategori open source .
Method
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Menurut Yusuf (2013) menyatakan penelitian kualitatif merupakan suatu strategi inquiri yang menekankan pencarian makna, pengertian, konsep, karakteristik, gejala, simbol maupun deskripsi tentang suatu fenomena; fokus dan multimetoda, bersifat alami dan holistik; mengutamakan kualitas, menggunakan beberapa cara, serta disajikan secara naratif. Penelitian ini dilaksanakan di UPT Perpustakaan Universitas Pasundan Bandung. Penelitian ini dilaksanakan bulan April sampai Juli 2020. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan observasi, wawancara dan kajian dokumen. Informan dalam penelitian ini berjumlah dua orang pustakawan bagian layanan sirkulasi. Analisis dalam penelitian kualitatif terdiri dari 4 alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Result & Discussion
Salah satu jenis layanan di UPT Perpustakaan Universitas Pasundan Bandung adalah pelayanan peminjaman atau pelayanan sirkulasi. Pelayanan peminjaman atau sirkulasi adalah suatu kegiatan pencatatan sebagai bukti bahwa pemakai meminjam pustaka. Layanan sirkulasi merupakan denyut dari semua kegiatan layanan perpustakaan karena pada bagian sirkulasi merupakan jasa yang bisa dirasakan langsung oleh pengguna perpustakaan. Tujuannya agar pemakai dapat menggunakan pustaka dengan tepat guna dan tepat waktu. Agar tujuan tersebut dapat dicapai, hendaknya pekerjaan dilakukan dengan cepat dan tepat, prosedur harus mudah dan sederhana, keamanan pustaka terjamin, pelanggaran dapat diketahui, dan pencatatan kegiatan dilakukan secara teratur. Layanan peminjaman atau pengembalian koleksi merupakan layanan yang umum ada di semua jenis perpustakaan yang juga disebut layanan sirkulasi. Layanan peminjaman koleksi merupakan layanan yang memungkinkan pengguna perpustakaan untuk meminjam koleksi yang tersedia di perpustakaan untuk dibaca di tempat, difotokopi, dan dibawa pulang dalam waktu beberapa lama (Istiana, 2014). Pada penerapan pelayanan sirkulasi di UPT Perpustakaan Universitas Pasundan Bandung sudah dilaksanakan dengan terotomasi dengan bantuan Senayan Library Management System (SLiMS) . Hal ini perlu dilakukan analisis kinerja pustakawan yang ada pada layanan sirkulasi semenjak diterapkannya SLiMS . Dalam mengukur kinerja dapat dilihat dari aspek pengetahuan, perkembangan aspek keterampilan dan perkembangan sikap pustakawan (Nawawi, 2005). Berdasarkan hasil wawancara dengan para informan pada aspek pengetahuan diketahui bahwa para pustakawan mengetahui fungsi SLiMS dan berbafai fitur yang ada pada yang dapat menunjang tugas mereka di layanan sirkulasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan berikut: “Layanan sirkulasi adalah layanan pengguna yang berkaitan dengan peminjaman, pengembalian dan perpanjangan koleksi. Kegiatan pada sirkulasi yang dapat dilakukan pada software SLiMS antara lain memproses peminjaman dan pengembalian secara efisien, efektif dan aman, mendukung fitur reservasi, mendukung fitur manajemen denda, dan mendukung history peminjaman anggota. Karena saya bekerja pada bagian sirkulasi, maka setiap hari akan berhubungan langsung dengan SLiMS , karena jika tidak menggunakan SLiMS makan tidak akan dapat melakukan sirkulasi diperpustakaan . Saya belajar SLiMS waktu mengikuti Diklat di Dispusipda Jawa Barat . ” ( Enduy Sutaryan , Wawancara, Juni 16 , 202 0 ) Berdasarkan pernyataan diatas juga diketahui bahwa dalam memperoleh pengetahuan mengenai SLiMS para informan memperoleh dari mengikuti diklat dari Perpustakaan Provinsi Jawa Barat. Hal ini menunjukkan jika informan memperoleh peningkatan pengetahuan mengenai SLiMS melalui pendidikan jangka pendek yang diperoleh dari mengikuti diklat. Pendidikan menurut Budiman & Riyanto (2013) memang salah satu faktor yang dapat meningkatkan pengetahuan seseorang. Aspek pengetahuan menurut Nawawi ( 2005) , adalah aspek yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan intelektual, terutama dalam mencari informasi, mengolah dan menganalisis informasi secara proaktif dan menggunakannya untuk merespon kondisi lingkungan dimasa yang akan datang melalui kemampuan menyusun perencanaan dan manajemen perpustakaan sejak dari dini . Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa seharusnya dengan adanya SLiMS informan juga mampu membuat rencana - rencana kerja yang akan dilaksanakan selanjutnya. Namun, informan sejauh ini hanya mengetahui bahwa SLiMS hanya digunakan untuk kegiatan yang harus dikerjaan agar lebih efisien. Padahal menurut Sudarsono dalam Indah (2019), sorang pustawakan harus memiliki kompetensi personal yang selalu semangat dalam mengembangkan kariernya. Pada aspek keterampilan diperoleh hasil dari wawancara dengan informan, diketahui bahwa para pustakawan dibagian layanan sirkulasi sudah menguasi penggunaan aplikasi SLiMS . Informan juga mengetahui runtutan penggunaan SLiMS dalam menunjang pekerjaan informan . Hal ini sesuai dengan pernyataan informan berikut: “Sebelum melakukan transaksi peminjaman, pengembalian dan perpanjangan pertama yang saya lakukan masuk ke layanan sirkulasi, kedua memasukan id anggota perpustakaan yang ada pada kantong kartu atau pada kartu anggota perpustakaan, dan ketiga klik mulai transaksi. Apabila anggota ingin meminjam, mengembalikan atau memperpanjang peminjaman buku, maka saya klik peminjaman, pengembalian atau perpanjangan, lalu memasukan kode eksemplar atau barcode buku. Sedangkan untuk kegiatan keterlambatan atau denda, reservasi dan sejarah peminjaman langkah - langkahnya sama saja dengan proses peminjaman dan pengembalian buku hanya saja yang kita klik fitur - fitur layanan sirkulasi sesuai dengan yang diinginkan”. ( Bahruroji , Wawancara, Juni 16 , 202 0 ) Berdasarkan penjelasan informan diatas juga diketahui bahwa para informan mampu menggunakan berbagai fitur yang ada pada SLiMS untuk kegiatan peminjaman, pengembalian, perpanjangan, denda dan lain sebagainya yang berkaitan dengan kegiatan pada layanan sirkulasi perpustakaan. Hal ini menunjukkan jika informan sudah mampu beradaptasi dengan perkembangan layanan perpustakaan saat ini yang semuanya serba terotomasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nawawi ( 2005) yang menyatakan bahwa, keterampilan seorang pustakawan diharuskan cakap dan terampil dan tidak gagap dengan perkembangan zaman . Adanya keterampilan ini nantinya dapat menunjang informan dalam mengembangan inovasi yang ada. Hal ini dikarenakan di era sirupsi informasi seperti saat ini diperlukan adanya inovasi - inovasi layanan perpustakaan yang tentunya berkolaborasi dengan perkembangan teknologi (Indah, Farah, & Rifqi, 2019). Pada aspek sikap berdasarkan hasil wawancara dengan informan diketahui bahwa dengan adanya SLiMS informan merasa pekerjaan menjadi terasa mudah karena sudah terintegrasi pada berbagai bagian layanan. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan berikut: “Adanya SLiMS semua pekerjaan akan terasa ringan karena semua sudah secara otomatis saling terintegrasi pada setiap bagian, Selain itu SLiMS memberikan kenyamanan pada saya karena saya tidak lagi mekukan kegiatan layanan sirkulasi secara manual dan semua sudah terintegrasi pada setiap sub bagian. Sehingga memudahkan dalam mengelola data perpustakaan. SLiMS sangat membantu meringankan tugas saya dalam melakukan kegiatan sirkulasi, dan saya merasa puas dengan bekerja menggunakan SliMS”. ( Bahruroji , Wawancara, Juni 16 , 2020) Berdasarkan penjelasan diatas juga dapat diketahui merasa puas atas pekerjaan yang sudah dikerjakan. Hal ini menunjukkan jika informan sudah mampu bersikap sebagai pustakawan harus mampu bersikap dengan cara senantiasa bertanggung jawab akan tugas yang diembannya Nawawi ( 2005) . Munculnya rasa puas atas pekerjaan yang sudah dilaksanakan karena ada peningkatan keefektivisan dalam pekerjaan (Greene dalam Rosiana , Rifqi , & Uul , 2021). Adapun hambatan yang dialami para informan ketika menggunakan SLiMS adalah ketika awal menginstal SLiMS dan melakukan migrasi data karena adanya perbedaan akibat struktur database aplikasi sebelum SLiMS yang digunakan. Tidak adanya keterampilan dalam pemrograman informan yang menjadikan informan merasa kebingunan dalam melakukan migrasi data dari aplikasi sebelum SLiMS ke aplikasi SLiMS. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan berikut: “Keahlian pemrograman yang tidak kami miliki membuat kami harus belajar dasar pemrograman. Namun , jika sudah mengalami kesulitan biasanya saya bertanya pada grup komunitas SLiMS yang ada di facebook ” . ( Enduy Sutaryan , Wawancara, Juni 16 , 2020) Berdasarkan pernyataan diatas dapat diketahui bahwa informan memanfaatkan media sosial untuk mencari solusi permasalahan yang dihadapi . Penggunaan media sosial sebagai sumber dalam menemukan berbagai informasi dikarenakan Albarran dalam Hajar dan Margareta (2020) , media sosial merupakan teknologi atau aplikasi yang dapat digunakan seseorang dalam mencari hingga membagikan informasi baik berupa teks, gambar, audio, video, maupun lokasi dalam sebuah situs jejaring sosial . Meskipun sebetulnya media sosial juga memungkinkan adanya ketidakpastian dan kesalahan akan informasi yang tersedia.
Conclusion
Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan, dapat ditarik kesimpulan bahwa , pertama, pengetahuan dan pemahaman pustakawan dalam memanfaatkan SLiMS dapat dikatakan baik. Meskipun pustakawan hanya mengetahui peran SLiMS dalam menyelesaikan pekerjaan mereka. Padahal SLiMS bisa digunakan dalam merencanakan pekerjaan yang akan dikerjakan oleh pustakawan. Kedua, Keterampilan pustakawan layanan sirkulasi dalam memanfaatkan SLiMS dapat dikatakan terampil. Hal ini terlihat dari mampunya pustakawan dalam menggunakan berbagai fitur yang ada pada SLiMS untuk kegiatan peminjaman, pengembalian , perpanjangan, denda dan lain sebagainya yang berkaitan dengan kegiatan pada layanan sirkulasi perpustakaan . Ketiga, sikap pustakawan layanan sirkulasi dalam memanfaatkan SLiMS dapat dikatakan baik. Hal ini terlihat adanya kemudahan dalam menyelesaikan pekerjaan dan kepuasan akan pekerjaan yang sudah diselesaikan oleh pustakawan. Keempat, hambatan yang dialami oleh pustakawan layanan sirkulasi dalam memanfaatkan SLiMS adalah kesulitan dalam menginstal dan melakukan migrasi data ke SLiMS dikarenakan software yang sebelumnya digunakan berbeda. Adapun saran yang dapat disampaikan agar pustakawan mengikuti pendidikan formal dan non formal, membuat ciri khas dari perpustakaan tersebut, dalam perpustakaan mengadakan pelatihan untuk menggunakan SLiMS agar semua staf dapat menggunakan SLiMS secara baik dan benar, serta pustakawan belajar pemrograman dan bahasa pemrograman kepada ahlinya agar mampu mengembangkan SLiMS sesuai dengan kebutuhan perpustakaan.