KONSTRUKSI PROGRAM STORYTELLING (Studi Kasus pada Komunitas Dongeng Bengkimut di Pustakalana Children's Library)
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Penelitian ini membahas mengenai program Storytelling di Pustakalana yang bekerjasama dengan Komunitas Dongeng Bengkimut. Storytelling di Pustakalana memiliki keunikan yang berbeda dari program pada umumnya, yaitu membuat kriya setelah storytelling berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana konstruksi program storytelling di Pustakalana Children’s Library. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus. Partisipan dalam penelitian Informan yang terdiri dari Storyteller, Koordinator Pustakalana, Orang Tua dan Ahli yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi telah dilakukan dengan baik disetiap tahapannya. Hal ini dibuktikan dengan adanya hubungan komunikasi yang baik antara Pustakalana dan Bengkimut sehingga storytelling berjalan sesuai proses storytelling. Para orang tua senang mengajak ke perpustakaan saat storytelling berlangsung, karena berbagai manfaat yang dirasakan yaitu anak mau meminjam dan membaca buku di perpustakaan, mengembangkan imajinasi, memperkenalkan ceritacerita pada anak, dan menjadi pelajaran untuk orang tua, bahwa storytelling dapat dilakukan sendiri dirumah.
Abstract
This research discusses about Storytelling in Pustakalana in cooperation with the Bengkimut Community Storyteller. Storytelling in Pustakalana have a uniqueness that is different from the program in general, that makes craft after storytelling takes place. This research aims to describe how the construction of Storytelling Program at the Pustakalana Children's Library. Approach used in this research was case study qualitative. Participants in the study Informants consisting of a Storyteller, Coordinator of Pustakalana, Parents and Experts who obtained through purposive sampling technique. The data were collected by observation, interview and study of documentation. The results showed that the stage of planning, implementation and evaluation has done well in every stages. This is evidenced by the existence of a good communication relationship between Pustakalana and Bengkimut so that the storytelling goes according to the process of storytelling. Parents love to invite to the library when the storytelling takes place, for a variety of perceived benefits i.e. the child want to borrow and read books in the library, develop imagination, introduces the stories on children, and be the lesson for parents, that storytelling can be done by yourself at home.
Keywords:
Children’s Library
· Storytelling
· Storyteller
· Pustakalana
Introduction
Pustakalana Children’s Library dan Ruang Terbuka merupakan sebuah perpustakaaan yang berada di kota Bandung dan diperuntukkan untuk anakanak, bergerak pada bidang organisasi not for profit yang menyediakan layanan berupa perpustakaan, warung buku anak dan dewasa serta kegiatan ruang terbuka untuk anak (khususnya 2-6 tahun) yang terbentuk pada tahun 2005. Keberadaan Pustakalana diharapkan dapat menjadi tempat untuk orangtua (atau pendamping anak lainnya) dapat meluangkan waktu bersama untuk membaca atau tempat alternatif bagi anak maupun orang tua supaya dapat bermain dan saling bertukar pikiran, hal yang paling utama adalah mereka mendapatkan akses mudah untuk dapat membaca buku-buku bermutu dengan harga yang terjangkau. Untuk mengetahui secara mendalam terkait program-program yang adai Pustakalana, sejauh analisis dari peneliti dari hasil studi pendahuluan yang dilaksanakan, terdapat salah salah satu program yang memiliki keunikan sehingga menjadi daya tarik untuk dilakukan penelitian. Program yang menjadi daya tarik peneliti yaitu Kinder Club. Kinder Club merupakan kegiatan storytelling yang telah diterapkan dengan rutin setiap sebulan 2 (dua) kali minggu ke-2 dan ke-4 di hari Selasa, sejak berdirinya Pustakalana. Program ini bekerjasama dengan 1 (satu) kelompok storyteller, yaitu Bengkimut yang merupakan akronim dari Bengkel Kriya Imut. Mereka adalah sekumpulan orangorang yang memiliki ketertarikan dan minat yang sama. Storytelling dilakukan guna meningkatkan perkembangan kecerdasan dan kreativitas anak dan meningkatkan minat anak untuk datang ke perpustakaan serta membaca buku. Kegiatan ini termasuk penting guna mengembalikan kebiasaan storytelling atau bercerita pada anak-anak terlebih untuk para orangtua ataupun pendamping anak-anak, “Menurut penelitian ternyata kurang lebih hanya 15% dari orangtua di Indonesia yang rutin mendongeng untuk anak-anaknya. Padahal mendongeng merupakan pekerjaan sederhana, tetapi banyak orang yang tidak mampu melakukannya” (Suherman, 2009, hlm.162). Pendapat lain yang diungkapkan Agustina (2016, hlm. 13) yang menyatakan bahwa, “Lewat metode berqisah inilah bunda akan mampu menularkan pengetahuan dan menanamkan nilai budi pekerti luhur secara efektif, dan anak-anak menerimanya dengan senang hati.” Dari fakta dan opini tersebut dapatlah kita sesuaikan untuk pustakawan perpustakaan anak atau perpustakaan yang diminati oleh anak-anak. Maka dapat diketahui secara jelas pentingnya keberadaan storytelling dan besarnya pengaruh storytelling terhadap anak. Dalam pekembangannya saat ini, perpustakaan komunitas ataupun taman baca menyelenggarakan beberapa program/kegiatan agar anak-anak tertarik untuk datang, membaca dan menggunakan fasilitas di perpustakaan. Tujuan dari kegiatan ini diyakini bahwa storytelling tidak hanya sebagai pelengkap program yang ada di perpustakaan. Tetapi, guna mengembangkan nilai-nilai positif yang terdapat di dalamnya dan sebagai upaya menarik anak-anak untuk mengunjungi perpustakaan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memperoleh gambaran dan mendeskripsikan mengenai konstruksi program storytelling di Pustakalana Children’s Library. Sedangkan, tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pada program storytelling di Pustakalana Children’s Library. 1. Perpustakaan Anak Pustakalana termasuk kedalam Perpustakaan Anak karena sebagian besar koleksi maupun kegiatannya diperuntukkan khusus anak-anak. Perpustakaan anak sangat penting di era saat ini sebagai akses pengetahuan, pembelajaran seumur hidup dan kemampuan melek huruf. Sebuah kualitas perpustakaan harus melengkapi dengan aspek-aspek tersebut, sehingga memungkinkan mereka berpartisipasi dan berkontribusi pada masyarakat. Merujuk pada IFLA (2003, hlm. 1) bahwa: “Library services of children have never been as important for children and their families all over the world, as they are today. Access to the knowledge and the multicultural riches of the world, as well as lifelong learning and literacy skills have become the priority of our society. A quality children’s library equips children with lifelong learning and literacy skills, enabling them to participate and contribute to the community. It should constantly respond to the increasing changes in the society and meet the information, cultural and entertainment needs of all children.” Keberadaan perpustakaan merupakan sebuah wadah untuk anak-anak mengembangkan kemampuan literasi mereka. 2. Storytelling Secara umum pengertian storytelling menurut Tooze (1959) bahwa “storytelling sebagai salah satu bentuk awal dalam komunikasi, yang merupakan media terbaik untuk berbagai pengalaman, untuk mendidik dan untuk mewarisi dari satu generasi ke generasi berikutnya, gagasangagasan, idealisme, nilai-nilai, dan normanorma kehidupan”. Dalam storytelling terdapat tahapan-tahapan yang perlu diperhatikan, merujuk pada 3 (tiga) proses storytelling yang dikemukakan oleh Bunanta (2005, hlm. 37) yaitu persiapan sebelum storytelling dimulai (perencanaan), saat proses berlangsung (pelaksanaan), hingga setelah kegiatan storytelling selesai (evaluasi). a. Persiapan Sebelum Storytelling (Perencanaan) Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memilih judul yang menarik dan mudah diingat. Dalam Lenox (2000, hlm. 98) “selecting the appropriate stories to tell to children is the first and most important dimension of storytelling”. Studi linguistik membuktikan bahwa judul memiliki kontribusi terhadap memori cerita. Judul merupakan elemen cerita yang pertama kali diingat daripada kalimat-kalimat dalam cerita. Dalam memilih cerita yang akan di storytelling kan menurut MacDonald (1995, hlm. 62) “storyteller dapat memulai dengan cerita yang telah diketahui”. Cerita dongeng yang pernah didengarkan waktu kecil yang masih diingat dapat dijadikan pilihan untuk mulai dibawakan kembali kepada anakanak. Hal berikutnya itu perhatikan durasi storytelling, menurut Agustina (2017, hlm.163) bahwa “storytelling sebaiknya tidak terlalu lama, karena daya konsentrasi anak juga tidak lama. Hanya saja jika storytelling dikemas menjadi pertunjukkan yang menyenangkan, bisa jadi anak-anak kuat menyimak walaupun lebih dari 30 menit. Sebaiknya, diikuti pertunjukkan yang interaktif dan melibatkan anak-anak”. Tahap selanjutnya yaitu mendalami karakter tokoh-tokoh dalam cerita, karena kekuatan dari sebuah cerita terletak pada bagaimana karakter tersebut dapat dicerna. Tahapan terakhir persiapan storytelling yaitu latihan, dengan latihan maka dapat mengevaluasi kekurangan-kekurangan saat storytelling, memperkirakan durasi yang dibutuhkan, mengingat kembali jalan cerita serta mempraktikkannya sehingga pada saat tampil dapat memberikan penampilan terbaiknya b. Saat Proses Berlangsung (Pelaksanaan) Proses terpenting dalam storytelling adalah tahap saat kegiatan berlangsung. Ketika memasuki sesi acara storytelling, storyteller harus menunggu kondisi hingga audience siap untuk menyimak dongeng yang akan disampaikan. Pada saat kegiatan berlangsung ada beberapa faktor yang dapat menunjang berlangsungnya proses storytelling supaya lebih menarik untuk disimak yaitu: a) Kontak Mata Saat storytelling, storyteller harus melakukan kontak mata dengan audience. Pandanglah audience dan diam sejenak. Dengan melakukan kontak mata audience akan merasa dirinya diperhatikan dan diajak untuk berinteraksi. Dalam Agustina (2016, hlm. 138) ), “hal yang paling penting dalam storytelling adalah gerakan mata”. b) Mimik Wajah Storyteller harus dapat mengekspresikan wajahnya sesuai dengan situasi yang didongengkan. Menurut kak Ami Ori dalam (Agustina, 2016, hlm. 124) “faktor mimik wajah ini ada banyak pendapat, ada yang bilang tidak perlu, dengan alasan anak belajar menghadirkan imajinasi dan emosinya sendiri tanpa ditunjukkan marah, senang, sedih itu harus seperti apa”. c) Gerak Tubuh Gerak tubuh storyteller waktu proses storytelling berjalan dapat turut mendukung menggambarkan alur cerita yang lebih menarik. Dalam Agustina (2016, hlm. 145), “storytelling juga mensyaratkan tampil dengan tenang berarti tahu gerakan apa yang harus dilakukan pada titik alur cerita tertentu.tenang. Tenang bukan berarti tanpa ekspresi”. d) Suara Tinggi rendahnya suara yang diperdengarkan dapat digunakan storyteller untuk membawa audience merasakan situasi dari cerita yang didongengkan. Dalam Agustina (2016, hlm. 139), “suara lantang memang butuh teknik. Teknik suara lantang dibutuhkan ketika masuk dikerumunan anak yang sedang bermain dan berguna untuk menarik perhatian anakanak”. Suara lantang berbeda dengan teriak, sehingga tetap gunakan suara lantang yang mempertahankan rasa ceria dengan ekspresi wajah seperti tertawa. e) Kecepatan Saat storytelling faktor kecepatan juga mempengaruhi menarik atau tidaknya cerita yang didongengkan. Storyteller harus mampu mengatur kecepatannya dalam menyampaikan dongeng, agar dongeng yang disampaikan tidak terlalu lama ataupun terlalu cepat. f) Alat Peraga Storytelling dengan menggunakan alat bantu peraga dapat membuat dongeng menjadi lebih hidup dan menarik, karena anak-anak dapat langsung melihat bentuk visual dari tokoh-tokoh. Dalam Agustina (2016, hlm. 223), menyatakan bahwa “alat peraga digunakan sebagai sarana dalam proses belajar yang efektif”. c. Setelah Kegiatan Storytelling (Evaluasi) Setelah selesai storytelling, storyteller dapat mengajak anak untuk mengingat kembali dongeng yang disampaikan. Bunanta (2005) menyebutkan, “setelah acara storytelling berakhir storyteller dapat melakukan sesi tanya jawab dengan audience seputar cerita yang dibawakan”. Storyteller dapat mengajak anak untuk berinteraksi dengan meminta anak memperagakan sedikit dari beagian cerita. Aktivitas ini dapat melatih rasa percaya dirinya untuk tampil di depan orang banyak. Selain itu, beberapa contoh kegiatan lain yang dapat dilakukan yaitu kegiatan yang dapat merangsang kreativitas anak misalnya dengan membuat ilustrasi gambar dari cerita yang tadi didongengkan, menuliskan kembali cerita, meminta anak menceritakan kembali dan sebagainya
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif metode studi kasus, metode ini digunakan oleh peneliti untuk mengetahui informasi mengenai penelitian ini dengan melakukan kegiatan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Dalam penelitian ini peneliti berupaya mengetahui, memahami dan mendeskripsikan mengenai objek yang diteliti yaitu program storytelling di Pustakalana Children’s Library. Permasalahan ini untuk menyajikan sebuah kasus yang unik yaitu menyusun konstruksi dari program tersebut. Pada penelitian ini, teknik pengambilan yang digunakan untuk pengambilan sumber data adalah informan dengan menggunakan teknik purposive sampling yang didasarkan kepada pertimbangan tertentu. Partisipan yang terlibat adalah Koordinator Pustakalana, Storyteller, serta Orangtua dari peserta storytelling. Terdapat key informant yang dalam hal ini memiliki peran sebagai sumber data primer. Dalam hal ini key informant merupakan seseorang yang tepat dan dapat memberikan informasi serta pengetahuan yang luas terkait objek yang diteliti. Jenis data yang mendukung dalam penelitian terdiri dari rekaman, berkas/arsip/dokumen, catatan lapangan dan juga foto. Tiga tahapan yang dilakukan peneliti untuk menganalisis data menggunakan model Miles & Huberman (dalam Gunawan, 2013, hlm. 211) yaitu: Reduksi data, digunakan untuk menyeleksi informasi yang terhimpun, sehingga sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini, reduksi data dilakukan dengan mengacu kepada pola instrumen penelitian. Setelah mereduksi data, disajikan data yang telah dipilih kedalam bentuk narasi atau uraian singkat, bagan dan pola hubungan. Display data dilakukan dengan tujuan untuk menampilkan data yang terorganisir, sehingga hasil data yang terhimpun dapat lebih mudah dipahami. Langkah ketiga dalam analisis data ini yaitu penarikan kesimpulan/ verifikasi. Verifikasi awal yang dikemukakan bersifat sementara, dan akan berubah ketika tidak ditemukan kembali bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Rumusan masalah penelitian yang dikemukakan oleh penulis dapat bersifat sementara dan akan berkembang selanjutnya ketika pelaksanaan penelitian di lapangan.
Result & Discussion
1. Perencanaan Perencanaan merupakan tahapan awal dari seluruh kegiatan storytelling yang harus dipersiapkan dari pihak Bengkimut maupun Pustakalana. Perencanaan berguna untuk memberikan arah pada setiap tahapan program serta membantu mempermudah hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum pelaksanaan. Dengan demikian perencanaan merupakan proses yang mendasar pada tahap awal seluruh aktivitas pada suatu program yang akan dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tahapan-tahapan yang dilakukan sebelum memasuki ke tahap pelaksanaan, tahap pertama yaitu memahami latar belakang dari masing-masing storyteller dengan pihak penyelenggara (Pustakalana) bahwa mereka memiliki visi dan misi yang sejalan, kemudian tahap kedua pemilihan cerita atau materi storytelling, yang ditentukan oleh Pustakalana atas pertimbangan dengan storyteller. Tahap ketiga menentukan durasi storytelling, tahap keempat mendalami peran/karakter dari tokoh yang akan dibawakan dan tahap kelima yaitu latihan yang dilakukan storyteller. 2. Pelaksanaan Sebelum memasuki tahap penyampaian cerita, storyteller harus dapat mengkondisikan para audience terlebih dahulu supaya mereka dapat menyimak cerita yang dibawakan. Di Pustakalana, sebelum memulai cerita storyteller melakukan gerakan-gerakan yang mengajak anak untuk membuat lingkaran atau yang biasa disebut dengan circle time. Menurut key informant, circle time yang dilakukan pada tahap ini itu sudah bagus dan dapat membuat anak semangat serta fokus. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Bunanta (2005) ketika memasuki sesi acara storytelling, storyteller harus menunggu kondisi hingga audience siap untuk menyimak dongeng yang akan disampaikan. Jangan memulai jika mereka masih belum siap. Acara storytelling dapat dimulai dengan menyapa audience terlebih dahulu. Di lapangan, storyteller pun menyapa para audience terlebih dahulu kemudian melakukan circle time. Ini menjadi salah satu cara untuk menarik fokus perhatian, kemudian perlahan memasuki tahap penyampaian cerita. Pada tahap penyampaian cerita terdapat enam hal yang perlu diperhatikan supaya storytelling lebih menarik untuk disimak, yaitu: a. Kontak Mata Hasil penelitian yang ada di lapangan yaitu storyteller memang melakukan kontak mata dengan audience untuk menarik perhatian anak-anak serta menjiwai karakter yang sedang dibawakan dalam cerita. b. Mimik Wajah Hasil penelitian yang di dapat bahwa mimik wajah merupakan faktor yang sangat membantu dalam penyampaian storytelling karena mereka memaksimalkan anak-anak untuk terfokuskan dan peka pada ilustrasi yang ada di buku. Sehingga kesimpulan yang dapat diambil, storytelling di Pustakalana menggunakan mimik wajah hanya untuk membantu tidak menjadi yang utama. c. Gerak Tubuh Hasil yang didapatkan pada faktor ini bahwa gerakan tubuh menjadi faktor yang penting, demi terwujudnya dongeng interaktif antara storyteller dengan audience. merefleksikan apa yang dilakukan tokoh-tokoh dalam cerita. Hal ini sejalan dengan yang dijumpai di lapangan ketika storyteller memeragakan sebuah kereta api yang didalamnya terdapat tokoh-tokoh binatang sedang melakukan liburan. Mereka juga berinteraksi langsung, seperti melontarkan pertanyaan “Siapa yang pernah naik kereta?” , “Kalau sebelum naik kereta kita harus punya apa dulu ya?”. Storyteller melontarkan pertanyaan sambil memeragakan cara-cara memegang tiket kereta sehingga audience lebih antusias dalam menyimak. d. Suara Adanya keterkaitan teori dengan hasil penelitian, yaitu memanfaatkan suara untuk membaca situasi sesuai dengan keadaan di lapangan, karena pada saat cerita dibawakan tidak jarang anak-anak banyak yang mulai terbawa suasana cerita sehingga mereka sangat antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan storyteller. Maka untuk mengatasi hal tersebut, storyteller pun menggunakan teknik meninggi rendahkan suara untuk membuat suasana kembali kondusif. Hal ini sejalan dengan memanfaatkan suara untuk menarik perhatian para audience di Pustakalana. e. Kecepatan Pada faktor ini storyteller di Pustakalana sudah menguasai karena jam terbang yang dimiliki selama storytelling sudah sering di lakukan, dan ketepatan waktu saat storytelling tidak sampai berlebihan. f. Alat Peraga Pustakalana memaksimalkan bukubuku yang ada sebagai alat peraga atau alat bantu dalam penyampaian storytelling, supaya memfokuskan anakanak dalam memahami ilustrasi atau bentuk visual yang ada dari dalam buku dibantu dengan gerakan tubuh, suara dan mimik wajah. Untuk mengakhiri storytelling yang telah berlangsung juga diperlukan tahapan-tahapan supaya memberikan kesan yang menarik untuk anak. Di Pustakalana, setelah cerita disampaikan, mereka menghindari menyampaikan moral of the story dari suatu cerita maka mereka melakukan persiapan untuk melakukan kegiatan kriya. Hasil penelitian yang memaparkan bahwa mereka menghindari menyampaikan moral of the story sesuai dengan tujuan teknik storytelling, dalam Bunanta (2005), penggunaan teknik storytelling memberikan ruang bagi storyteller untuk melakukan improvisasi dan berkreasi dalam cerita yang didongengkan serta memicu anak untuk berimajinasi serta berfantasi dengan pemikiran mereka. Selain itu, anak juga belajar berimajinasi dan mengekspresikan dirinya. 3. Evaluasi Evaluasi merupakan tahapan akhir dari seluruh kegiatan storytelling yang telah dilakukan dari pihak Pustakalana dengan Bengkimut. Tahap ini juga berguna untuk mengetahui apakah perencanaan dan pelaksanaan telah berjalan sesuai yang diharapkan. Tahap terakhir dari proses storytelling di Pustakalana yaitu Evaluasi, dalam evaluasi terdapat proses-proses yang sangat penting guna perkembangan program selanjutnya. Awal proses yang dilakukan saat evaluasi yaitu diskusi bersama audience, kemudian dapat menghasilkan manfaat dari diadakannya storytelling. Setelah itu memasuki sesi tanya jawab dengan audience, dan menghasil respon yang bermacam-macam selama audience mengikuti storytelling. Selain itu, evaluasi pada tahap ini mengetahui cerita favorit dari anak-anak yaitu dongeng fabel atau dongeng yang berisikan cerita tentang binatang. Proses terakhir adalah hasil dari storytelling itu sendiri, hasil yang didapat berupa nilai-nilai yang ditanamkan dalam storytelling. Lalu kendala yang dirasakan selama storytelling yang terdiri dari anak, orang tua serta tempatnya. Evaluasi yang didapatkan diakhir adalah harapan dari para orang-orang yang bersangkutan selama storytelling berlangsung memiliki harapan yang sudah tercapai maupun belum. Itu dapat menjadi evaluasi untuk diperbaiki pada kegiatan selanjutnya. Maka dari tiap-tiap tahapan penting diketahui supaya dapat menjadi bahan perbaikan untuk program storytelling dan menjadi lebih menarik serta kaya akan manfaatnya.
Conclusion
1).Simpulan umum Berdasarkan hasil penelitian, terdapat konstruksi program storytelling di Pustakalana Children’s Library. Hal ini dapat dibuktikan dengan kegiatan program storytelling yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Dalam hal ini, Pustakalana mengadakan storytelling dengan konsisten setiap bulannya selama 1.5 tahun. 2.Simpulan khusus a. Perencanaan Storytelling di Pustakalana bekerjasama dengan Komunitas Dongeng Bengkel Kriya dan Imut untuk mengisi salah satu program yaitu Kinder Club. Program ini menjadi bentuk pengenalan perpustakaan pada anak-anak serta mempertahankan budaya storytelling. Untuk mencapai tujuannya, pada pelaksanaannya diperlukan tahapantahapan yang dilakukan dengan menentukan sasaran, mendiskusikan perangkat yang digunakan saat storytelling, hingga latihan yang dilakukan oleh storyteller supaya semua dapat dipersiapkan dengan baik dan tetap saling berkoordinasi. b. Pelaksanaan Tahap awal saat pelaksanaan, Bengkimut menerapkan circle time untuk anak-anak sebelum memasuki tahap penyampaian cerita. Kemudian pada tahap penyampaian storytelling di Pustakalana terdapat storyteller dan fasilitator yang berguna mendampingi serta mengarahkan audience. Saat menyampaikan dongeng, storyteller harus memperhatikan enam faktor berikut, yaitu (1) Kontak Mata, (2) Mimik Wajah, (3) Gerak Tubuh, (4) Suara, (5) Kecepatan, (6) Alat Peraga. Tahapan akhir pada pelaksanaan yaitu melakukan pembuatan kriya. Bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan kriya dengan bahan-bahan ramah anak seperti kertas, karton, lem, origami dll. c. Evaluasi Pada tahap evaluasi, audience diajak untuk diskusi bersama yang akan memunculkan manfaat dari storytelling yang diikuti oleh mereka. Kemudian memasuki sesi tanya jawab yang memperhatikan respon dari audience serta cerita favorit anak-anak. Hasil yang didapatkan berupa nilai-nilai yang ditanamkan pada storytelling, kendala dilapangan dan harapan. Adapun harapan yang dimaksud bertujuan membangun kebiasaan anak untuk mengunjungi perpustakaan, mempertahankan budaya mendongeng, dan menjadikan dongeng sebagai hiburan tanpa mengurangi unsur edukasi serta meningkatkan kemampuan berkomunikasi juga bersosialisasi. 2). Rekomendasi a. Bagi Pustakalana Diharapkan program yang ada saat ini lebih baik terus dikembangkan, dan tetap melestarikan budaya storytelling itu sendiri. Serta tetap melakukan inovasi-inovasi lainnya supaya orang-orang tetap mau bekunjung ke perpustakaan. b. Bagi Peneliti Selanjutnya Diharapkan dapat melakukan penelitian serupa dengan lingkup dan cakupan yang lebih luas, karena dalam bangunan-bangunan konstruksi model di penelitian ini sifatnya belum dapat digeneralisir, sehingga perlu pengujian secara kuantitatif ke depannya.