Kembali
16
1
2022 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 5 · 2 ISSN 2654-6469

Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Kebakaran di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat

Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara; Universitas Terbuka

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesiapsiagaan perpustakaan dalam menghadapi bencana kebakaran di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif . Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Subyek penelitian ini yaitu bagian umum kelistrikan, dan bagian pengelola perpustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana kebakaran sudah diterapkan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provin si Jawa Barat . Pada tahap pencegahan, perpustakaan melakukan pemeriksaan secara rutin terhadap bangunan tempat penyimpanan koleksi, kelistrikan, penyediaan peralatan yang digunakan untuk mengantisipasi bencana kebakaran, dan membuat peraturan. Pada tahap tanggapan, berupa kegiatan pelatihan tanggap bencana bagi pustakawan dan karyawan, pemeliharaan peralatan dan kelistrikan, serta mengidentifikasi koleksi dan surat penting agar disimpan pada lantai yang mudah terjangkau. Pada tahap reaksi, perpustakaan membuat berbagai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berkaitan dengan kesiapsiagaan bencana. Pada tahap pemulihan, berupa kegiatan analisis manajemen resiko yang rutin dilakukan. Adapun saran yang diberikan diharapkan perpustakaan dapat memaksimalkan pelak sanaan kesiapsiagaan bencana kebakaran dengan menjalankan SOP yang ada .

Abstract

The purpose of this study was to determine library preparedness in dealing with fire disasters at the Regional Library and Archives Service of West Java Province. This research is a qualitative research with a descriptive approach. Data collection techniques used are interviews, observation and documentation. The subjects of this research are the general section of el ectricity, and the part of the library manager. The results of this study indicate that preparedness in dealing with fire disasters has been implemented at the Regional Library and Archives Service of West Java Province. At the prevention stage, the librar y conducts routine inspections of buildings where collections are stored, electricity, supplies of equipment used to anticipate fire disasters, and makes regulations. At the response stage, in the form of disaster response training activities for librarians and employees, maintenance of equipment and electricity, as well as identifying important collections and letters so that they are stored on floors that are easily accessible. In the reaction stage, the library makes various Standard Operating Procedures (SOP) related to disaster preparedness. During the recovery phase, routine risk management analysis activities are carried out. As for the advice given, it is hoped that the library can maximize the implementation of fire disaster preparedness by implemen ting existing SOP.
Keywords: kesiapsiagaan bencana · kebakaran · perpustakaan umum

Introduction

Perpustakaan menurut Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 adalah institusi pengelola koleksi karya tulis karya cetak, dan/atau karya rekam secara professional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitihan, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemakai. Sedangkan Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial ekonomi. Koleksi perpustakaan merupakan salah satu faktor utama dalam kualitas suatu perpustakaan . Selain itu, koleksi perpustakaan merupakan salah satu kriteria dalam penilaian layanan perpustakaan yaitu melalui kualitas koleksinya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Lasa HS (2009), yang menyatakan bahwa, koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tullis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah dan dilayankan. Di perpustakaan ada koleksi atau materi yang mudah digantikan. Namun , ada pula koleksi perpustakaan yang sulit, bahkan tidak dapat tergantikan lagi. Persiapan menghadapi bencana perlu dilakukan, termasuk di perpustakaan. Disaster p lan merupakan suatu rencana tertulis tentang persiapan menghadapi kemungkinan timbulnya bencana. Persiapan ini bertujuan untuk meminimalkan kerugian materi atau jiwa yang mungkin timbul. Dalam pengelolaan di perpustakaan seringkali perpustakaan hanya terfokus pada kegiatan hal-hal yang bersifat rutin di perpustakaan . Hal tersebut seperti berfokus pada layanan peminjaman, penelusuran informasi serta manajemen informasi . Padahal selain aktivitas rutin tersebut, ada berbagai faktor bencana baik yang ditimbulkan oleh manusia maupun bencana alam yang mengancam keberadaan dan kelangsungan sumber-sumber informasi tersebut. (Musrifah, Sahidi & Alinda, 2019). Alegbeleye dalam Issa , Aliyu , Adedeji , & Rachel (2012) dalam artikelnya yang berjudul “ Disaster Preparedness at the State Public Library Ilorin Kware State ” , mendefinisikan bencana di perpustakaan sebagai suatu peristiwa yang menghasilkan penghapusan tiba-tiba catatan dan dokumen dari aksesibilitas dan penggunaannya. Bencana dapat dianggap sebagai suatu kejadian yang sementara atau permanen, sehingga membuat informasi yang terkandung dalam dokumen terganggu atau tidak dapat diakses. Menurut Krihanta dalam Musrifah, Sah idi, & Alinda (2019), sebagian orang atau masyarakat menganggap peristiwa bencana merupakan kehendak Tuhan atau taqdir yang tidak dapat ditolak maupun dihindari. Memperkirakan datangnya bencana alam bukanlah suatu pekerjaan mudah. Bencana alam bisa saja da tang dengan tiba-tiba tanpa diketahui sebelumnya ( unpredictable ). Bencana yang sewaktu – waktu dapat terjadi seperti kebakaran dapat terjadi di perpustakaan yang memungkinkan terkena bencana ketika kebakaran datang . Perpustakaan merupakan salah satu lembaga yang akan mengalami kerugian, karena hampir seluruh bahan pustaka tentu akan rusak dan habis terbakar. Kebakaran yang terjadi di perpustakaan da pat menyebabkan kerusakan pada koleksi maupun sarana di perpustakaan . Hal ini tentu akan mengakibatkan akses ter hadap informasi ikut terhambat. ( Budiwirawan, 2015). Bencana kebakaran adalah salah satu faktor yang dapat mengakibatkan kerusakan baik pada gedung perpustakaan maupun koleksi bahan pustaka. Kerusakan akibat bencana kebakaran cenderung sulit untuk dipredi ksi kapan terjadinya ataupun seberapa parah pengaruhnya terhadap bahan pustaka. Kerusakan pada bencana kebakaran juga sulit untuk diperbaiki. Hal ini dikarenakan dampak utama yang diakibatkan oleh kebakaran adalah bahan pustaka tersebut menjadi hangus terb akar. Untuk menghindari kerusakan akibat kebakaran , maka perlu dilakukan pengecekan secara berkala pada instalasi listrik di ruangan yang menyimpan bahan pustak atau gedung perpustakaan. (Sudirman dalam Yuliana, 20 21 ) . Penyebab kebakaran bisa juga terjadi akibat dari perilaku pemustaka. Biasanya pemustaka yang datang ke perpustakaan selain meminjam buku, mereka juga mengerjakan tugas dengan membawa laptop dan terminal yang dicolok di perpustakaan. Hal ini berarti semakin besar daya listrik yang digunakan , maka semakin besar juga terjadi korsleting listrik. (Musrifah, Sahidi & Alinda, 2019). Adanya bencana kebakaran ini tidak dapat diprediksi oleh siapapun. Hal ini menjadikan bencana kebakaran bisa terjadi kapanpun dan dimanapun tanpa terkecuali di Dinas Per pustakaan dan K earsipan Daerah Provinsi Jawabarat yang memilki banyak koleksi dan pemustaka. Koleksi yang terdapat di Dinas Perpustakaan dan K earsipan Daerah Provinsi Jawabarat berjumlah kurang lebih 25.000 eksemplar yang terdiri dari koleksi tercetak, kol eksi terekam dan koleksi langka (Dispusibda, 2021). Hal ini menjadikan perlu adanya kajian mengenai kesiapsiagaan bencana kebakaran di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawabarat . Dengan demikian, penelitian ini berjudul “ Kesiapsiagaan Meng hadapi Bencana Kebakaran di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat ”. B. TINJAUAN PUSTAKA Dalam sebuah penelitian tentunya dibutuhkkan dukungan dari berbagai hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang penulis teliti. Adapun beberapa penelitian terdahulu yakni pertama yang dikemukakan oleh Musrifah, Sahidi, & Alinda (2019) dengan judul “Upaya Perencanaan Penyelamatan Koleksi Dalam Rangka Menghadapi Bencana Alam Di Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Ma da ( UGM ) Yogyakarta”. Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan penelitian kualitatif . teknik-teknik yang peneliti gunakan dalam upaya pengumpulan data yaitu, observasi non partisipan, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelit ian yang dilakukan oleh Musrifah, Sahidi, & Alinda (2019), mengemukakan bahwasannya upaya yang direncanakan dalam menyelamatkan koleksi yang dilakukan oleh Perpustakaan Peternakan Univeritas Gadjah Mada yaitu ada empat tahap. yaitu tahap pencegahan, tahap tanggapan, tahap reaksi, dan tahap pemulihan. Untuk proses penyelamatan koleksi dalam rangka menghadapi bencana alam di perpustakaan tersebut yaitu sebelum terjadinya bencana, melakukan back-up untuk koleksi yang di anggap penting, sepert i repositori, back up data yang disimpan di tiga server yang berbeda yaitu, di luar kota Yogyakarta, di server perpustakaan pusat dan disimpan oleh kepala Perpustakaan Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Kedua penelitian yang dikemukaan ol eh Fatmawati (2017) dengan judul “Kesiapsiagaan Perpustakaan Dalam Menghadapi Bencana Banjir ”. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Fatmawati mengem ukakan bahwasannya perencanaan sebelum terjadinya bencana banjir dan penanganan seandainya terjadi bencana banjir. Untuk membangun dan menyempurnakan sistem kesiapsiagaan dan meningkatkan ketrampilan serta koordinasi dengan multipihak, maka membutuhkan sos ialisasi dan simulasi penanggulangan terhadap bencana banjir. Bahan perpustakaan yang terkena banjir harus dilestarikan, dikarenakan untuk menunjang fungsi perpustakaan dengan mengusahakan agar kondisi bahan perpustakaan terpelihara sebaik mungkin dan siap dilayankan kembali kepada pemustaka. Ketiga penelitian yang dikemukaan oleh Laksmiwati (2019) dengan judul “Kesiagaan Pustakawan Dalam Menghadapi Bencana (Disaster Planning) Di Perpustakaan Institut Seni Indonesia Surakarta” . Penelitian ini menggunakan pe ndekatan penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang menggambarkan mengenai fenomena, menggali data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui bagaimana kesiagaan pustakawan dalammenghadapi bencana ( Disaster Planning ) dari faktor biologis (rayap) dan bencana kebakaran di Perpustakaan Institut Seni Indonesia Surakarta. Berbagai hal ancaman koleksi atau asset perpustakaan dari kerusakan dapat berupa ancaman dari bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, b anjir, tsunami, kebakaran dan sebagainya. Ancaman kerusakan lainnya dapat disebabkan dari faktor hayati dan faktor kimia serta manusia, seperti pencurian, vandalisme dan sejenisnya. terdapat beberapa langkah atau tahapan dalamperencanaan bencana, meliputi pencegahan, tanggapan. Berdasarkan ketiga penelitian diatas, perbedaanya dengan penelitian ini adalah lebih membahas mengenai Kesiapsiagaan Perpustakaan dalam Menghadapi Bencana Kebakaran di Dinas Perpustakaan dan K earsipan Daerah Provinsi Jawabarat. Kesia psiagaan merupakan salah satu bagian dari proses manajemen bencana dan di dalam konsep pengelolaan bencana yang berkembang saat ini . Kesiapsiagaan menurut United Nation International Strategy fo Disaster Reductin (UN - ISDR) dalam Islamey & Larasati (2020), adalah kegiatan dan langkah-langkah yang diambil di awal untuk memastikan respon yan g efektif terhadap dampak bencana, termasuk pengeluaran peringatan dini yang tepat waktu dan efektif serta evakuasi sementara untuk orang dan harta benda dari loka si yang terancam . Bencana menurut Liga Palang Merah Internasional dalam Sulistyo - Basuki (2013) , adalah situasi bencana ( catastrophic situation ) yang menyebabkan pola hidup sehari-hari tiba-tiba terganggu dan masyarakat terbenam dalam ketidakberdayaan dan m enderita, akibatnya memerlukan perlindungan, pakaian, pemukiman, pengobatan medis, dan keperluan hidup lainnya. Definisi tersebut dapat disederhanakan menjadi sebuah peristiwa, waktunya tidak dapat ditentukan, dan mengakibatkan gangguan yang serius. Oleh k arena itu, bencana mengakibatkan rekod/bahan pustaka tidak dapat diakses dan digunakan oleh pengguna. Menurut Krihanta dalam Musrifah, Sahidi, & Alinda (2019), b encana dapat dibagi menjadi dua, yaitu bencana alam dan bencana akibat ulah manusia. Kedua jeni s bencana ini dapat mengakibatkan kerusakan arsip/koleksi dalam jumlah yang sangat besar dan dalam waktu yang sangat singkat. Dari dikotomi ini, dapat dibedakan peristiwa yang tidak dapat dikendalikan manusia karena manusia tidak mengendalikannya, tetapi k adang-kadang dapat meramalkannya. Bencana semacam itu adalah gempa bumi atau letusan gunung api. Selain itu, manusia dengan menggunakan sistem teknologi dapat mengendalikan , sehingga terkendalikan. Namun, biasanya tidak dapat diramalkan, misalnya kebocoran gas akibat kelalaian manusia. Kebakaran adalah satu bencana yang bisa diakibatkan karena alam dan manusia. Kebakaran adalah suatu nyala api, baik kecil atau besar pada tempat yang tidak kita hendaki, merugikan dan pada umumnya sukar dikendalikan. Api terjadi karena persenyawaan dari sumber panas, benda mudah terbakar, oksigen, dan sebagainya. Bencana kebakaran d apat dicegah dengan cara menyediakan alat-alat pemadam kebakaran, memberikan kesempatan atau jalan menyelamatkan diri bagi pekerja/buruh j ika terjadi kebakaran, dan memberikan alat perlindungan lainnya untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebakaran. Bencana kebakaran ini merupakan ancaman bagi perpustakaan . Hal ini dikarenakan bencana kebakaran merupakan bencana yan potensial dan mamp u menimbulkan kerusakan Perpustakaan terbesar dari zaman purba di Iskandaria pada tahun 373 (Sahidi & Alinda, 2019) . Peralatan p encegahan k ebakaran ini menurut Irzal ( 2016) , bisa berupa APAR/ Fire Exinguishers/Racun Api Apar/fire extinguishers /racun api, h ydrant , detektor kebakaran, dan f ire a larm . APAR/ Fire Exinguishers/Racun Api Apar/fire extinguishers /racun api merupakan peralatan reaksi cepat yang multiguna. Peralatan ini mempunyai berbagai ukuran beratnya, sehingga dapat di tempatkan sesuai dengan besar-kecilnya risiko kebakaran yang mungkin timbul dari daerah tersebut. Adapun h ydrant ada tiga jenis, yaitu hydrant gedung, hydrant halaman dan hydrant kota . S esuai dengan namanya hydrant gedung ditempatkan dalam gedung . U ntuk hydrant halaman dit empatkan di halaman, sedangkan hydrant kota biasanya ditempatkan pada beberapa titik yang memungkinkan Unit Pemadam Kebakaran suatu kota mengambil cadangan air. Adapun d etektor kebakaran (fire detector) , merupakan peralatan yang memungkinkan secara otomati s akan memberitahukan kepada setiap orang apabila ada gejala kebakaran pada suatu daerah, maka alat ini akan memberi sinyal kebakaran berupa bunyi sirene. Adapun f ire alarm , merupakan peralatan yang digunakan untuk memberitahukan kepada setiap orang akan a adanya bahaya kebakaran pada suatu tempat . A dapun tahapan-tahapan dari rencana untuk mengahadapi sebelum terjadinya bencana menurut Harvey (1993), yaitu pencegahan, tanggapan, reaksi dan pemulihan. Tahap p encegahan dibutuhkan kesiapan dari petugas perpustakaan akan adanya risiko bencana yang mungkin saja mengancam perpustakaan. Tujuan tahap pencegahan ini adalah untuk mengidentifikasi penyebab bencana dan untuk memperkecil risiko yang dihadapi oleh gedung perpustakaan itu sendiri, yaitu peralatan pe nyimpanan dan perabotannya. Tahapan tersebut meliputi berbagai kegiatan prosedur atau peralatan yang disiapkan untuk mencegah terjadinya bencana. Tahapan pencegahan ini, yaitu p emeriksaan bangunan (tempat penyimpanan, peralatannya) ; p emeriksaan perlindunga n terhadap kebakaran dan alat pendeteksi, juga alat pendeteksi pencurian ; p embuatan back - up atau salinan duplikat termasuk katalognya , dan m engasuransikan, gedung dan koleksi dan telah melakukan analisis risiko bencana kebakaran . Tahap t anggapan merupakan tahap kedua untuk menghadapi sebelum terjadinya bencana. Tanggapan ini mencakup berbagai kegiatan atau program dan sistem yang diterapkan sebelum keadaan darurat. Tahapan ini meliputi beberapa hal, yaitu p enetapan dan pelatihan staf ; i dentifikasi koleksi d an memberikan prioritas utama pada koleksi langka , p emeliharaan peralatan yang digunakan untuk penyelamatan koleksi , m endaftar nama dan lembaga penting yang harus dihubungi jika terjadi bencana ; dan m embuat prosedur rencana penanggulangan bencana. Tahap r e aksi , merupakan merupakan kegiatan yang dilakukan jika benar-benar sudah terjadi bencana. Tahap reaksi ini berhubungan langsung dengan arah penentuan kebijakan, yang meliputi, yaitu m enentukan langkah prosedur yang dilakukan ketika terjadi bencana , m emasti kan lokasi bencana aman dimasuki ; d an memindahkan materi yang rusak. Tahap p emulihan mencakup aktivitas atau bantuan jangka panjang untuk memulihkan kembali sistem yang lumpuh atau terganggu selama bencana. Tahap pemulihan ini meliputi beberapa hal, yaitu p enetapan dan pelaksanaan program memperbaiki lokasi bencana dan materi yang rusak , m engambil teknik penyelamatan terhadap koleksi , dan m enganalisi bencana dan perbaikan rencana bencana .

Method

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini ialah metode kualitatif dengan melalui pendekatan deskriptif. Sugiyono (2020) mengungkapkan bahwa metode penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yan naturalistik dimana penelitiannya dilakukan dengan kondisi alamiah (natural setting). Siyoto (2015) mengungkapkanbahwa penelitian deskriptif merupakan penelitian yang pengkajiannya lebih rinci dengan membedakan antar fenomena lain. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini ialah melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Teknis analisis a data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitinian ini dilaksanakan pada bulan Mei hingga Agustus 2022. Adapun informan dalam penelitian ini berjumlah 2 orang, diantaranya : Tabel 1. Data Informan Penelitian No. Inisial Informan Jabatan 1 I H Bagian Umum Kelistrikan 2 Y Pengelola Perpustakaan Sumber: Peneliti, 2022

Result & Discussion

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat (Dispusipda Jabar) merupakan perpustakaan Provinsi Jawa Barat yang berlokasi di Jalan Kawaluyaan II No.4 Soekarno Hatta . Awalnya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat bernama Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat (Bapusipda Jabar) yang kemudian berubah pada tahun 2017 . Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat, merupakan lembaga yang didirikan atas Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999. Pada tahun 2001 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat yang pada awalnya merupakan instansi vertikal Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang berada di ibu kota Provinsi dilimpahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Kemudian tanggal 12 April 2002, berdasarkan Peraturan Daerah nomor 6 dibentuk Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu Lembaga Teknis Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam bidang perpustakaan yang memiliki tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan daerah bidang perpustakaan dan kearsipan. Berdasa rkan hasil wawancara dengan informan diketahui bahwa di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawabarat sudah menerapkan kesiapsiagaan bencana kebakaran. Kesiapsiagaan ini terwujud dalam tahap pencegahan, tanggapan, reaksi dan pemulihan. Tahap p encegahan menurut Harvey (1993), yaitu tahap kesiapan dari petugas perpustakaan akan adanya risiko bencana yang mungkin saja mengancam perpustakaan . Dinas Perpustakaan dan kearsipan Daerah Provinsi Jawabarat telah melakukan tahap-tahap dari pencegahan deng an melakukan pemeriksaan secara rutin terhadap bangunan tempat penyimpanan koleksi, gedung perpustakaan telah dijamin kekuatannya dari getaran gempa bumi, dan melakukan pemeriksaan terhadap gedung dan listrik supaya terhindar dari kebakaran. Selain itu, ju ga terdapat beberapa peralatan yang digunakan untuk mengantisipasi bencana kebakaran , seperti fire hydrant, fire detector , APAR , fire alarm yang diletakkan pada setiap lantai perpustakaan. Gambar 1 . APAR dan Hydrant Sumber: Peneliti, 2022 Gambar 2 . Fire detector dan fire alarm Sumber: Peneliti, 2022 Berbagai peralatan yang digunakan dalam menanggapi bencana kebakaran ini juga disertai dengan petunjuk penggunaan yang diletakkan dekat dengan alat-alat tersebut. Hal ini bertujuan agar pustaka wan atau petugas bisa menggunakan alat dengan benar, sehingga alat bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Selain itu, perpustakaan juga membuat aturan yang ditunjukkan bagi pemustaka dan pustakawan agar tidak terjadi bencana kebakaran. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan berikut: “Untuk pencegahan, perputakaan juga membuat peraturan pencegahan seperti tidak boleh meroko, tidak boleh membawa korek api .” (Y, Wawancara, Juli, 2022) Adapun tahap tanggapan menurut Harvey (1993) mencakup berbagai kegiatan atau program dan sistem yang diterapkan sebelum keadaan darurat. Adapun kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dan kearsipan Daerah Provinsi Jawabarat yang termasuk pada tahap tanggapan, yaitu dengan melakukan pelatihan bagi pustakawan . P elatihan ini tidak hanya diikuti pustakawan saja tetapi juga semua karyawan atau staf Dinas Perpustakaan dan K earsipan Daerah Provinsi Jawa B arat . Hal ini menjadikan tidak ada pustakawan yang ditunjuk khusus untuk penyelamatan koleksi ketika bencana terjad i. Pada kegiatan pelatihan penanggulangan ini juga diberikan informasi dan ditunjukkan jalur evakuasi dan pintu darurat yang hanya dibuka ketika terjadi kebakaran, gempa bumi dan bencana lainnya. Pelatihan ini juga bersama dengan BNPB (Badan Nasional Penan ggulangan Bencana). Selain itu, perpustakaan juga rutin melakukan perawatan terhadap peralatan yang digunakan untuk mendeteksi bencana kebakaran dan kelistrikan perpustakaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan berikut: “ Kalo perawatan sih kita serin g . M isalkan ada kerusakan langsung ganti . K al au kelistrikan ada maintenance setiap minggu, bisa setiap panel . T erus cadangan listrik kita juga tersedia jenset itu di awas setiap minggu sebanyak dua kali.” (IH, Wawancara, Juli, 2022) Selain pelatihan pustakawan dan pemeliharaan, perpustakaan juga melakuk an identifikasi koleksi dan berbagai surat penting. Hal ini menjadikan berbagai koleksi dan surat penting di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat diletakkan di lantai sa tu agar memudahkan dalam mengevakuasi bila terjadi bencana. Adapun tahap reaksi menurut Harvey (1993) ini berhubungan langsung dengan arah penentuan kebijakan, yang meliputi, yaitu m enentukan langkah prosedur yang dilakukan ketika terjadi bencana , m emasti kan lokasi bencana aman dimasuki ; d an memindahkan materi yang rusak . Adapun kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dan K earsipan Daerah Provinsi Jawa B arat yang termasuk pada tahap reaksi , yaitu dengan membuat Standar Operasional Prosedur ( SOP ) R e spon bencana penyelamatan bahan perpustakaan nomor 64.117.2020 ; Perencanaan penyelamatan bahan perpustakaan akibat bencana nomor 64.116.2020 ; dan Pemulihan pasca bencana penyelamatan bahan perpustakaan nomor 64.115.2020 . Berbagai SOP tersebut disahkan dalam Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor: 399/OT.02/Kep_Dispusipda/2020 Tentang Perubahan Atas Keputusan Gubernur Jawa Barat Tentang Standar Operasional Prosedur Administrasi Pemerintahan Pada Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat Gubernur Jawa Barat . Adapun tahap pemulihan menurut Harvey (1993), yaitu penetapan dan pelaksanaan program memperbaiki lokasi bencana dan materi yang rusak, mengambil teknik penyelamatan terhadap koleksi, dan menganalisi bencana dan perbaikan renca na bencana. Adapun kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dan K earsipan Daerah Provinsi Jawa B arat yang termasuk pada tahap pemulihan, yaitu dengan melakukan analisis menejemen resiko. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan berikut: “ Manajemen resiko kita lakukan dalam menganalisis perkiraan bencana yang sudah atau mungkin terjadi. Hal ini biasanya berkaitan dengan struktur bangunan gedung kami . Hal ini yang membuat adanya tangga darurat yang ada di setiap ruangan dan ada pintu khusus untuk menyelamatkan koleksi dan arsip.” (Y, Wawancara, Juli, 2022) Adanya manajemen resiko sebagai upaya kesiapsiagaan bencana kebarakaran pada perpustakaan ini sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan m anajemen risiko perpustakaan erat kaitannya dengan ide ntifikasi risiko, evaluasi dan pengukuran risiko serta cara pengelolaan risiko (Sungadi, 2020) . Hal ini menunjukkan adanya manajemen resiko yang diterapkan dapat mengantisipasi kerugian perpustakaan terutama berkaitan dengan rusak parahnya koleksi perpusta kaan, sehingga koleksi perpustakaan dapat terjaga. Apabila koleksi perpustakaan terjaga maka ini sama dengan menyelamatkan kandungan informasi yang ada di perpustakaan ( Martoatmodjo dalam Dewi, Syam, & Indah, 2020). Hal ini menjadikan perpustakaan bisa men jadikan perpustakaan sebagai mitra pengguna dalam menyediakan informasi dapat terwujud (Indah, 2019).

Conclusion

Bencana kebakaran merupakan bencana yang memungkinkan terjadi pada sebuah perpustakaan. Hal ini yang menjadikan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat menerapkan k esiapsiagaan bencana kebakaran. Penerapan ini didasarkan pada tahap pencegahan, tanggapan, reaksi dan pemulihan. Pada tahap pencegahan, perpustakaan melakukan pemeriksaan secara rutin terhad ap bangunan tempat penyimpanan koleksi, kelistrikan, penyediaan peralatan yang digunakan untuk mengantisipasi bencana kebakaran, dan membuat peraturan. Pada tahap tanggapan, berupa kegiatan pelatihan tanggap bencana bagi pustakawan dan karyawan, pemelihara an peralatan dan kelistrikan, serta mengidentifikasi koleksi dan surat penting agar disimpan pada lantai yang mudah terjangkau. Pada tahap reaksi, perpustakaan membuat berbagai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berkaitan dengan kesiapsiagaan bencana. Pada tahap pemulihan, berupa kegiatan analisis manajemen resiko yang rutin dilakukan. Adapun saran yang diberikan diharapkan perpustakaan dapat memaksimalkan pelaksanaan kesiapsiagaan bencana kebakaran dengan menjalankan SOP yang ada.