Kembali
16
1
2022 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 5 · 2 ISSN 2654-6469

Studi tentang Knowledge sharing Pada Pengrajin di Home Industry Boneka Jasmine

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Penelitian ini membahas mengenai pelaksanaan berbagi pengetahuan di Home Industry Boneka Jasmine terkait proses produksi. Dibuatnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses knowledge sharing yang terjadi antara pelaku internal. Metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus digunakan dalam penelitian ini dengan proses pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi literatur dari Oktober 2021 hingga Januari 2022. Subjek pada penelitian ini pemilik industri rumah tangga dan 5 pengrajin. Dari hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa ditemukan kegiatan berbagi pengetahuan pada Home Industry Boneka Jasmine dengan karakteristik knowledge management yang meliputi penemuan pengetahuan yang berasal dari pengamatan serta hasil berbagi pengetahuan, penangkapan pengetahuan dengan mempelajari dan mempraktikkan pengetahuan baru, penerapan pengetahuan untuk memperbaiki proses, produk, dan meningkatkan mitigasi kesehatan pengrajin, serta berbagi pengetahuan. Kegiatan knowledge sharing telah dijalani oleh pengrajin secara informal yakni pada saat terjadinya proses produksi hingga pada sela-sela waktu kosong. Penerapan berbagi pengetahuan pada industri rumah tangga ini tidak terencana dan terstruktur, namun pengrajin tetap termotivasi untuk terus melakukannya karena didasari dengan rasa tanggung jawab untuk saling berbagi. © 2022 NJILS. All rights reserved.

Abstract

This study discusses the implementation of knowledge sharing in the Home Industry of Jasmine Dolls related to the production process. This research aims to determine the knowledge sharing process that occurs between internal actors. A qualitative method with a case study approach was used in this research with the data collection process using observations, interviews, and literature studies from October 2021 to January 2022. The subjects in this study were Home Industry owners and 5 craftsmen. Research results obtained indicate that knowledge sharing activities are found in the Jasmine Doll Home Industry with knowledge management characteristics which include knowledge discovery derived from observations and knowledge sharing results, knowledge capture by learning and practicing new knowledge, knowledge applying to improve processes, products, and health mitigation, as well as knowledge sharing. Knowledge sharing activities have been carried out by craftsmen informally, namely during the production process to the sidelines of their free time. The application of knowledge sharing in the Home Industry is not planned and structured, but craftsmen are still motivated to continue to do it because it is based on a sense of responsibility to share.
Keywords: Doll · Home Industry · knowledge management · knowledge sharing

Introduction

Pengrajin merupakan salah satu profesi yang membutuhkan keahlian khusus dalam menghasilkan berbagai kerajinan. Banyak jenis kerajinan yang dapat dihasilkan oleh pengrajin seperti batik, sepatu, anyaman, boneka, dan sebagainya. Salah satu kampung yang berada di Kota Karawang, dikenal sebagai Sentra Boneka Kampung Baru menghasilkan berbagai kerajinan boneka hingga kebutuhan rumah tangga seperti kasur dan sofa. Produk yang dihasilkan oleh pengrajin di kampung ini diproduksi pada rumah-rumah pengrajin dengan tenaga kerja terbatas yang berasal dari keluarga, tetangga, maupun kerabat dari pengrajin bersangkutan. Home Industry Boneka Jasmine merupakan salah satu UMKM yang terfokus pada sektor industri dan berdiri sejak tahun 2016 di Cikampek, Kabupaten Karawang. Awal mendirikan usahanya, pemilik home industry ini hanya memiliki 1 orang karyawan. Namun seiring berjalannya waktu home industry ini memiliki 14 orang karyawan dengan 12 orang sebagai pengrajin, 1 orang sebagai penjaga toko, dan 1 orang lainnya sebagai admin marketplace. Dari hasil wawancara yang telah dilakukan, diketahui bahwa pemilik home industry memahami dengan baik bahwa pekerjaan sebagai pengrajin memiliki berbagai risiko kesehatan yang dapat mengganggu karyawannya. Untuk itu, pengetahuan dalam menghindari berbagai risiko kesehatan sangat dibutuhkan oleh para pengrajin demi keberlangsungan usahanya. Menjaga keberlangsungan usaha ini tentu tidak mudah dan menjadi sebuah tanggung jawab bagi pelaku internal UMKM. Apabila melihat perbedaan latar belakang yang ada pada pelaku internal UMKM, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga keberlangsungan usaha ialah berbagi pengetahuan antara yang satu dengan yang lain. Dengan berbagi pengetahuan, maka akan lahir sebuah inovasi produk baru, meningkatkan kualitas layanan, memperluas jangkauan pasar, memperbaiki sistem organisasi, hingga mitigasi kesehatan bagi pelaku internal UMKM. Dalam organisasi seperti UMKM, pengetahuan merupakan kekayaan yang paling berharga karena dapat bermanfaat bagi siapapun baik individu maupun organisasi itu sendiri. Dengan pengetahuan, tujuan organisasi akan lebih mudah dicapai. Sebuah pengetahuan apabila dikombinasikan dengan berbagai pembelajaran dari pengalaman yang telah dilalui maka akan menjadi pengetahuan yang lebih dinamis, kreatif, serta lebih fleksibel atau mudah diaplikasikan dalam berbagai kondisi. Pengetahuan dalam sebuah organisasi dapat berasal dari individu yang ada didalamnya, serta akan meningkatkan motivasi untuk terus berinovasi dan berkembang agar memiliki keunggulan tersendiri dan dapat berhasil dalam berkompetisi. Apabila melihat peran pengetahuan yang menjadi aset sebuah organisasi, maka salah satu usaha yang dapat dilakukan UMKM dalam mempertahankan dan meningkatkan kualitas pengetahuan pelaku internalnya yakni melalui penerapan manajemen pengetahuan (knowledge management). Penelitian sejenis telah banyak dilakukan pada berbagai UMKM, hal tersebut menunjukkan tingginya minat dalam menganalisis budaya knowledge sharing pada pekerja. Dari banyaknya penelitian mengenai knowledge sharing pada UMKM, salah satu penelitian dilakukan oleh Gustina (2021) mengenai keterkaitan knowledge sharing terhadap inovasi pada UMKM di Yogyakarta. Kemudian, Sari (2016) juga melakukan penelitian mengenai knowledge sharing untuk meningkatkan tingkat kompetisi pada UMKM. Pada penelitian ini penulis lebih menekankan terkait kegiatan knowledge sharing yang dilakukan pengrajin pada salah satu home industry boneka di Kota Karawang. Manajemen pengetahuan memiliki makna sebagai sebuah paradigma dalam manajemen yang menemukan, menyimpan, menyebarkan, serta memanfaatkan pengetahuan untuk menciptakan inovasi baru serta produktivitas dalam organisasi agar dapat terus berkembang dan bersaing secara berkelanjutan pada era disrupsi (Andhara, Umaro, and Lubis 2018). Selain itu, dengan melakukan manajemen pengetahuan, maka komunikasi akan terus terjadi pada seluruh pihak internal organisasi. Adanya komunikasi yang merata antar pihak internal dapat menyebabkan pengetahuan yang berada di pikiran masing-masing individu organisasi terbagi antara satu ke yang lainnya sehingga akan menghasilkan proses berbagi pengetahuan (knowledge sharing) antar pihak internal organisasi. Sari (2016) menjelaskan bahwa penerapan knowledge management dalam suatu UMKM dapat memberikan kepuasan pada pelanggan sehingga meningkatkan keuntungan kompetitif, hal tersebut dapat saling terkait karena apabila pengetahuan dapat dipelihara dengan baik maka organisasi akan terjaga sehingga terjadi peningkatan efisiensi, produktivitas dan kompetisi (Sari 2016). Dalam sebuah organisasi, knowledge sharing ini menjadi salah satu strategi yang dapat dilakukan dan memiliki peran penting. Dengan berbagi pengetahuan (knowledge sharing) oleh individu satu dengan yang lainnya, maka akan terjadi pertukaran informasi yang akan membuat pengetahuan unik dari berbagai pengalaman yang ada di dalam diri individu menjadi lebih bermakna sehingga menghadirkan inovasi baru. Pengetahuan yang berada pada sebuah organisasi selayaknya mampu membawa perkembangan atau kemajuan dalam organisasi itu sendiri sehingga penting untuk diterapkan pada setiap organisasi tanpa terkecuali Home Industry Boneka Jasmine. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Gustina (2021) yang menjelaskan bahwa knowledge sharing memberikan pengaruh positif terhadap hadirnya inovasi baru dan kualitas knowledge sharing tentunya akan mempengaruhi inovasi pada suatu organisasi (Gustina 2021). Apabila knowledge sharing yang dilakukan baik, maka akan meningkatkan inovasi dalam organisasi. Dalam Aristanto (2017) pun dijelaskan bahwa meningkatnya inovasi akan memberikan pengaruh pada individu dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ada dalam pekerjaan sehingga bisa memperbaiki kualitas dan kuantitas dalam bekerja serta menghasilkan berbagai metode kerja yang lebih efektif dan efisien (Aristanto, 2017). Berbagi pengetahuan dapat dikatakan sebagai salah satu metode dalam knowledge management dengan cara memberikan kesempatan yang sama kepada anggota organisasi, kelompok, maupun instansi untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, teknik, maupun ide yang dimiliki oleh satu anggota kepada anggota yang lainnya (Hendrawan et al. 2020). Berbagi pengetahuan (knowledge sharing) ini hanya akan berjalan apabila anggota organisasi bersedia dalam membagikannya serta tersedianya kesempatan dalam menyampaikan pengalaman, ide, maupun kritiknya kepada individu yang lainnya. Kristinae (2021) menjelaskan bahwa aktivitas berbagi pengetahuan dapat terjadi berdasarkan asas timbal balik, apabila salah satu individu melakukan aktivitas berbagi pengetahuan maka akan memicu aktivitas yang serupa dari rekan lainnya (Kristinae 2021). Hal ini tentunya akan mempengaruhi habit atau kebiasaan dalam suatu organisasi, semakin banyak individu yang melakukan aktivitas knowledge sharing maka akan semakin tinggi peluang respons aktivitas tersebut dan jika dilakukan secara berulang maka seiring berjalannya waktu hal tersebut dapat menjadi budaya dalam organisasi tersebut. Dalam sebuah organisasi, berbagi pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yakni dialog antar anggota organisasi, komunikasi, interaksi kelompok atau individual yang mendorong peningkatan kinerja baik secara langsung maupun melalui teknologi terkini seperti e-mail, konferensi video, maupun sosial media (WhatsApp, Instagram, Facebook, dan lain-lain). Berbagi pengetahuan ini juga dapat dilakukan melalui hubungan atau pertemuan yang formal maupun informal seperti program pelatihan, rapat, maupun pertemuan antar anggota organisasi di sela-sela waktu kosong. Dalam kehidupan sehari-hari, proses berbagi pengetahuan (knowledge sharing) memiliki banyak tantangan dan kendala dalam penerapannya karena tidak semua individu akan bersedia untuk membagikan pengetahuan, pengalaman, maupun ide yang dimiliki kepada orang lain sehingga akan mempengaruhi kinerja anggota atau karyawan dalam suatu organisasi. Pencapaian knowledge sharing ini sulit untuk diterapkan karena bergantung pada ketersediaan individu membagikannya. Shanshan (2013) dalam (Yustina, 2016) menjelaskan bahwa yang mempengaruhi keinginan dalam berbagi pengetahuan oleh anggota organisasi terdiri dari beberapa faktor, diantaranya ialah iklim organisasi, sikap, kualitas sistem informasi, dan self-efficacy (Yustina 2016). Hasil penelitian yang dilakukan Chalifa & Nugrohoseno (2014) juga menjelaskan bahwa knowledge sharing memiliki hubungan yang besar dalam meningkatnya kerja tim yang akan berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Kinerja karyawan merupakan hasil yang dicapai oleh seorang individu dalam melakukan tugas serta perannya dalam sebuah organisasi. Kinerja ini dapat pula dikatakan tingkat keefektifitasan dalam penyelesaian tugas oleh individu sebagai ilustrasi tingkat pencapaian tugas yang dilaksanakan karyawan dalam suatu organisasi yang dapat digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan organisasi. (Chalifa and Nugrohoseno 2014) Selain itu, pada penelitian yang dilakukan oleh Siswanto, Herlina & Mulyatini (2019) dijelaskan bahwa knowledge sharing dapat diterapkan untuk meningkatkan penguasaan pengetahuan dalam Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) karena karena memiliki struktur sederhana yang akan memberikan fasilitas kepada internal organisasi untuk terintegrasi secara lebih mudah baik secara vertikal maupun horizontal (Siswanto, Herlina, and Mulyatini 2019). Selain itu, penerapan konsep knowledge sharing pada UMKM juga akan lebih mudah karena pengambilan keputusan yang cepat dan cenderung lebih cepat dalam menerima perubahan dan menerapkan knowledge sharing yang dilakukan.

Method

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian studi kasus ini merupakan metode yang dilaksanakan secara mendalam, terperinci, serta konstan atau terus menerus pada suatu fenomena, organisasi, atau lembaga tertentu (Fitrah and Luthfiyah 2017). Dalam penelitian ini, tidak ada sebuah batasan permasalahan penelitian maupun fokus sehingga peneliti dapat memberikan gambaran terhadap penerapan berbagi pengetahuan atau knowledge sharing antar pengrajin di Home Industry Boneka Jasmine. Subjek pada penelitian ini ialah pihak internal Home Industry Boneka Jasmine yang meliputi pemilik industri rumah tangga dan 5 pengrajin. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ialah data primer dan sekunder. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini ialah hasil wawancara dan observasi secara langsung. Sedangkan data sekunder yang digunakan yakni studi kepustakaan. Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data menggunakan teknik observasi dan wawancara yang didukung dengan studi kepustakaan.

Result & Discussion

Tobing (2007) dalam Widuri (2018) menyebutkan bahwa berbagi pengetahuan atau knowledge sharing ialah suatu langkah dalam penyebaran dan pengadaan pengetahuan kepada karyawan pada saat yang tepat atau sedang membutuhkannya serta merupakan bagian dari knowledge management yang berupa sebuah upaya dalam meningkatkan kompetensi melalui kesempatan belajar dengan seluruh anggota organisasi. Tobing (2007) juga mendefinisikan knowledge sharing sebagai sebuah proses sistematis yang dilakukan dalam pengiriman, distribusi, serta diseminasi pengetahuan dan konteks multidimensi oleh seorang individu kepada individu lainnya atau dari organisasi kepada organisasi lain melalui berbagai macam metode dan media. (Widuri 2018) Kikoshi dalam Widuri (2018) menyampaikan bahwa pada abad ke-21, pengetahuan yang dimiliki serta cara pemanfaatan pengetahuan dalam organisasi sangat berpengaruh kepada keberhasilan sebuah organisasi. Nonaka dan Takeuchi (1995) membagi pengetahuan ke dalam 2 jenis, yakni pengetahuan tacit dan pengetahuan eksplisit (Widuri 2018). Tacit knowledge merupakan jenis pengetahuan yang berada di dalam diri, dalam benak individu dalam bentuk pemahaman, intuisi, skill, dan sebagainya yang sulit untuk diformulasikan. Sedangkan explicit knowledge merupakan pengetahuan yang dapat diformulasikan serta disebarkan kepada orang lain dalam bentuk data, dokumen, rumus, serta bentuk lainnya agar memudahkan proses dalam transfer pengetahuan antar individu. Menurut Nonaka et al. (2000) dalam Kese & Hidayat (2021), disebutkan bahwa apabila terjadi interaksi antara kedua pengetahuan ini maka akan saling melengkapi dalam pembentukan pengetahuan (Kese and Hidayat 2021). Hal tersebut menjelaskan bahwa kedua jenis pengetahuan tersebut tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lainnya karena salah satunya akan kehilangan makna apabila dipisahkan. Karakteristik Knowledge management pada Home Industry Boneka Jasmine Karakteristik knowledge management pada Home Industry Boneka Jasmine meliputi: Knowledge Discovering (Penemuan Pengetahuan) Penemuan pengetahuan yang dilakukan oleh pengrajin di Home Industry Boneka Jasmine berasal dari pengamatan serta hasil berbagi pengetahuan dengan pengrajin dari home industry lainnya. Pemilik Home Industry ini pada awalnya melakukan penemuan dengan melakukan pengamatan kepada pengrajin boneka yang berada di satu kawasan dengan Home Industry Boneka Jasmine. Sedangkan, pengrajin pada home industry ini melakukan penemuan melalui pengamatan dari pengalaman yang dilewati serta pengalaman pengrajin lain yang masih berprofesi yang sama yakni sebagai pengrajin boneka. Knowledge discovering pada Home Industry Boneka Jasmine ini memiliki peluang untuk terus bertambah selama usaha masih berdiri karena pengetahuan baru akan terus menerus berkembang jika pemilik usaha maupun pengrajin mendapatkan pengetahuan baru baik dari faktor internal maupun eksternal home industry nya. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh salah satu pengrajin yang berada pada bagian penjahitan (sewing) bahwa pengetahuan dalam produk yang dibuat oleh home industry dapat diperoleh dari berbagai cara dan yang utama yakni dari pengalaman yang pengrajin jalani selama proses produksi. Knowledge Capturing (Penangkapan Pengetahuan) Setelah melalui penemuan pengetahuan, selanjutnya yakni proses penangkapan pengetahuan. Pada proses ini, pemilik maupun pengrajin Home Industry Boneka Jasmine terus mempelajari dan melakukan atau mempraktekkan pengetahuan baru yang mereka ketahui. Berdasarkan wawancara yang dilakukan, sebagian pengrajin Home Industry Boneka Jasmine pada bagian jahit (sewing) menangkap pengetahuan mengenai tata cara menjahit adalah dari orang tua sejak kecil. Sedangkan pengrajin lainnya seperti pada bagian pola dan cutting, bordir, pengisian, dan finishing menangkap pengetahuan dari pengamatan saat melakukan pelatihan yang diberikan pengrajin lama kepada pengrajin baru. Selebihnya para pengrajin mengembangkan sendiri kemampuan lainnya selama bekerja sebagai pengrajin. Dari wawancara yang dilakukan tersebut dapat diketahui bahwa tacit knowledge terdapat pada sumber pengetahuan yang didapat dari pengalaman sejak kecil saat melihat orang tua. Sedangkan explicit knowledge terdapat pada pelatihan yang diberikan oleh pengrajin yang sudah memiliki pengetahuan lebih. Knowledge Applying (Penerapan Pengetahuan) Proses penerapan pengetahuan ini merupakan aktivitas dalam menerapkan pengetahuan yang didapat dengan tujuan untuk memperbaiki proses, produk, manajemen, maupun pelayanan yang ada pada sebuah organisasi agar dapat lebih efektif dan efisien serta meminimalisir segala kerugian baik dalam bidang finansial maupun kesehatan. Proses penerapan pengetahuan ini terjadi pada Home Industry Boneka Jasmine baik pemilik maupun pengrajinnya yang mengimplementasikan pengetahuan yang telah ditemukan dan ditangkap sebelumnya. Berdasarkan hasil wawancara, pengrajin Home Industry Boneka Jasmine ini langsung mempraktekkan pengetahuan baru dari apa yang telah dipelajari walaupun beberapa pengrajin terkadang mengalami kesulitan karena belum terbiasa. Tetapi para pengrajin tetap mencoba agar tetap bisa bekerja secara efektif dan efisien tanpa mengabaikan berbagai risiko kesehatan yang dapat menimpa pengrajin. Dari observasi juga menunjukkan bahwa pemilik Home Industry Boneka Jasmine melakukan perannya sebagai penggerak dan contoh dalam proses produksi serta memberikan arahan untuk meminimalisir segala bentuk kerugian kesehatan para pengrajin. Knowledge sharing (Berbagi Pengetahuan) Proses berbagi pengetahuan merupakan sebuah proses kunci keberlangsungan usaha yang dimiliki Home Industry Boneka Jasmine. Tanpa proses berbagi pengetahuan yang baik, pengetahuan yang ada tidak akan berkembang dan akan merugikan pihak internal dalam home industry. Dalam proses berbagi pengetahuan pada Home Industry Boneka Jasmine, pemilik usaha menjadi kunci utama untuk menciptakan suasana menyenangkan agar proses berbagi pengetahuan dapat terus berjalan. Sedangkan pengrajin yang sudah lebih dulu bekerja pada bidang industri dan memiliki pengetahuan lebih akan menyebarkan pengetahuan yang dimilikinya pada pengrajin baru. Kegiatan Berbagi Pengetahuan di Home Industry Boneka Jasmine Berbagi pengetahuan atau knowledge sharing dapat dilakukan dengan baik pada Home Industry Boneka Jasmine secara internal maupun eksternal. Berdasarkan wawancara yang dilakukan, pengrajin pada home industry ini memanfaatkan setiap waktu yang mereka miliki selama berada di lingkungan produksi untuk melakukan kegiatan berbagi pengetahuan. Para pengrajin biasanya menggunakan waktu istirahat untuk saling berbagi pengetahuan, beberapa pengrajin juga melakukan kegiatan berbagi pengetahuan pada saat proses produksi maupun di sela-sela waktu kosong. Selain secara internal, pengrajin home industry ini juga melakukan kegiatan berbagi pengetahuan dengan pihak eksternal seperti pengrajin dari home industry lainnya. Hal ini cukup mudah dilakukan mengingat lokasi Home Industry Boneka Jasmine merupakan kawasan industri boneka yang terpusat di Karawang. Kegiatan berbagi pengetahuan pada home industry ini memang tidak dirancang menjadi program khusus untuk menangkap pengetahuan tacit yang dimiliki masing-masing pihak, namun para pengrajin dapat memanfaatkan setiap waktu yang ada dengan baik sehingga proses berbagi pengetahuan dapat dengan mudah terlaksana. Hal ini tentunya tidak terlepas dari peran pemilik Home Industry yang berhasil menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan bagi pengrajin sehingga mereka bersedia untuk membagikan pengetahuan, pengalaman, maupun ide yang dimiliki kepada pengrajin lainnya. Proses berbagi pengetahuan pada Home Industry Boneka Jasmine hanyalah berjalan secara informal, pemilik home industry memberikan kebebasan pengrajinnya untuk berekspresi dan mengungkapkan setiap pendapat, ide, maupun pengalamannya. Dengan lingkungan kerja yang nyaman seperti ini, tentunya memberikan dampak yang positif terhadap Home Industry Boneka Jasmine maupun para pengrajinnya itu sendiri. Salah satu dampak yang dirasakan ialah produk yang dihasilkan oleh industri rumah tangga ini terus mencapai target tepat waktu karena pengrajin terus melakukan upgrade diri melalui berbagi pengetahuan yang telah dilakukan. Beberapa pengetahuan tacit yang dibagikan dari pengrajin satu kepada pengrajin yang lainnya ialah mengenai proses produksi, pengrajin pada bagian penjahitan (sewing) saling berbagi trik menjahit dari mulai posisi tangan, trik agar jahitan terlihat lebih rapi, hingga beberapa informasi mengenai lowongan sebagai penjahit pada home industry yang lain. Kemudian, pengrajin pada bagian finishing saling berbagi pengalaman dan idenya dalam proses merias boneka dari mulai posisi mata, pengalaman terkena jarum dan lem, hingga trik agar tangan tidak terkena jarum. Dari wawancara yang dilakukan, terlihat bahwa para pengrajin merasa bertanggung jawab untuk saling berbagi pengetahuan karena mereka merasa bahwa pengetahuan yang dimiliki akan membuat pekerjaan semakin mudah dan terhindar dari berbagai risiko kesehatan. Berbagi pengetahuan pada home industry ini terjadi secara beragam, ada yang dilakukan secara rutin maupun sesekali. Walaupun kegiatan berbagi pengetahuan dilakukan secara santai, namun para pengrajin biasanya hanya melakukan pada pengrajin lain yang memiliki kedekatan emosional dengan dirinya ataupun pengrajin yang berada pada bagian yang sama dengan dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi kelompok maupun individual yang terjadi secara langsung pada industri rumah tangga ini dapat menghasilkan kegiatan berbagi pengetahuan dan menimbulkan adanya peningkatan kinerja dan peningkatan mitigasi kesehatan para pengrajin.

Conclusion

Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa ditemukan proses knowledge management pada Home Industry Boneka Jasmine dengan empat karakteristik, yakni kegiatan penemuan pengetahuan yang berasal dari pengamatan dan hasil berbagi pengetahuan, penangkapan pengetahuan dengan mempelajari dan mempraktikkan pengetahuan baru, penerapan pengetahuan untuk memperbaiki proses, produk, dan meningkatkan mitigasi kesehatan pengrajin, serta berbagi pengetahuan. Kegiatan knowledge sharing pada Home Industry Boneka Jasmine berlangsung cukup baik. Walaupun tidak adanya wadah khusus untuk kegiatan ini, namun para pengrajin memiliki rasa keterikatan sebagai sesama pengrajin dan merasa bertanggung jawab untuk membagikan informasi-informasi seputar proses produksi. Pelaksanaan berbagai pengetahuan pada industri rumah tangga satu ini dilakukan secara informal melalui diskusi ringan antar pengrajin selama proses produksi dilakukan maupun di sela-sela waktu kosong. Proses berbagi pengetahuan terjadi secara rutin pada beberapa pengrajin dan secara sesekali pada pengrajin lainnya. Hal ini didasari oleh ikatan emosional yang dimiliki antar pengrajin dan kesesuaian minat ataupun bidang yang dikuasai pengrajin. Meskipun tidak dilakukan secara berkala dan terstruktur, namun kegiatan berbagi pengetahuan ini telah memberikan dampak terhadap peningkatan kinerja dan peningkatan mitigasi kesehatan para pengrajin. Adapun saran yang diberikan kepada pemilik dan pengrajin pada Home Industry Boneka Jasmine ialah diharapkan dapat membuat wadah khusus untuk kegiatan knowledge sharing agar pengetahuan yang dibagikan lebih luas dan merata.