Kembali
16
1
2022 Nusantara Journal of Information and Library Studies (N-JILS) Vol 5 · 2 ISSN 2654-6469

Upaya Kesiapsiagaan Bencana di Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika

Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya perpustakan dalam menyelamatkan koleksi ketika menghadapi suatu bencana, terutama bencana yang disebabkan oleh ulah manusia. Bencana berupa ulah manusia yang dapat membahayakan di perpustakaan ini seperti pencurian, kurangnya pengamanan yang ada dalam institusi, kebakaran dan lain sebagainya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara serta studi dokumentasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah dua orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika sudah memilihi upaya kesiapsiagaan bencana yang dilihat dari empat tahap yaitu, tahap pencegahan, tahap tanggapan, tahap reaksi, dan tahap pemulihan. Tahap pencegahan dengan melakukan pemeriksaan lingkungan perpustakaan oleh pustakawan serta memasang kamera CCTV. Tahap tanggapan yaitu dengan memberi pelatihan kesiapsiagaan bencana pustakawan dan menjalin kerjasama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam kegiatan preservasi koleksi perpustakaan. Tahap reaksi, dengan menggunakan rambu-rambu jalur evakuasi, APAR (Alat Pemadam Api Ringan), dan deposit box apabila terjadi bencana. Tahap pemulihan dengan melakukan pendataan kerusakan, dan meminta bantuan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Abstract

This study aims to determine the library's efforts to save collections when facing a disaster, especially disasters caused by human activities. Disasters in the form of human activities that can harm the library, such as theft, lack of security in institutions, fires and so on. The method used in this research is descriptive research method with a qualitative approach. Data collection techniques by means of observation, interviews and documentation studies. Informants in this study amounted to two people. The results of the study show that the Museum Library of the Asian-African Conference has chosen disaster preparedness efforts which are seen from four stages, namely, the prevention stage, the response stage, the reaction stage, and the recovery stage. The prevention stage is by carrying out an inspection of the library environment by the librarian and installing CCTV cameras. The response phase is by providing librarian disaster preparedness training and collaborating with the National Library of Indonesia in library collection preservation activities. The reaction stage, using evacuation route signs, APAR (Light Fire Extinguisher), and deposit boxes in the event of a disaster. The recovery phase is by collecting damage data and asking the National Library of Indonesia for help.
Keywords: kesiapsigaan bencana · penyelamatan koleksi · Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika

Introduction

Perpustakaan menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan/atau karya rekam secara professional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi pemustaka (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2007). Perpustakaan ini bentuknya beragam jenis, hal ini tercantum juga dalam Undang-Undang RI Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pasal 20, di mana perpustakaan terdiri atas Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah/Madrasah, Perpustakaan Perguruan Tinggi dan Perpustakaan Khusus. Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang berada pada suatu instansi atau lembaga tertentu, baik instansi pemerintah maupun instansi swasta. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, pada bab 1 pasal 1 ayat 7 menyatakan bahwa: “Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diperuntukkan secara terbatas bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintah, lembaga masyarakat, lembaga pendidikan keagamaan, rumah ibadah, atau organisasi lain.” Tujuan didirikannya perpustakaan khusus ini biasanya untuk mendukung instansinya dengan cara menyediakan informasi bagi pegawai di lingkungan instansi tersebut guna memelihara dan meningkatkan pengetahuan pegawai yang bersangkutan (Saleh & Komalasari, 2014). Lalu, menurut Enwerem, Envuluanza, dan Usuka (2020), sebuah perpustakaan khusus didirikan dan didanai untuk memberikan informasi khusus dan disesuaikan pelayanan berdasarkan maksud, tujuan, pelayanan, fungsi, dan kepentingan badan induknya. Fungsi perpustakaan khusus adalah untuk memilih, memperoleh, mengatur, menyimpan, dan melestarikan informasi dan sumber informasi dalam format manual dan elektronik sesuai dengan tujuan, minat, sasaran, produk, dan layanan dari badan induk yang menaunginya. Demikian pula dengan Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika. Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika merupakan sebuah perpustakaan khusus yang awal munculnya bermula dari ide Abdullah Kamil (Duta Besar Indonesia di London) untuk mendukung kegiatan Museum Konferensi Asia Afrika pada tahun 1985. Perpustakaan ini menyediakan banyak buku tentang sejarah, sosial, politik, budaya Negara-negara Asia Afrika dan lainnya; dokumen-dokumen Konferensi Asia-Afrika dan konferensi-konferensi pendahuluannya; serta majalah dan surat kabar yang disumbangkan dari lembaga lain atau diperoleh dengan pembelian (Museum Konperensi Asia Afrika, n.d.) Bagian terpenting dari perpustakaan salah satunya adalah dengan adanya koleksi perpustakaan. Koleksi perpustakaan merupakan bagian terpenting dikarenakan koleksi perpustakaan menjadi tolak ukur penilaian suatu perpustakaan. Koleksi perpustakaan merupakan sekumpulan karya berisi informasi yang memiliki nilai pendidikan, dan dilakukan pengumpulan, pengolahan dan dilayankan kepada pengguna atau pemustaka. Di sebuah perpustakaan tentunya terdapat koleksi dan komponen yang mudah tergantikan. Namun, terdapat juga koleksi yang tidak bisa tergantikan, seperti naskah kuno dan koleksi langka yang sulit didapatkan kembali. Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika sendiri memiliki koleksi bersejarah yang langka dan sangat penting sebagai bukti sejarah bagi masyarakat Indonesia khususnya untuk politik luar negeri Indonesia terkait dengan acara Konferensi Asia Afrika. Koleksinya diharapkan menjadi bukti sejarah bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Oleh karena itu, perpustakaan perlu memiliki persiapan menghadapi bencana atau Disaster Plan untuk melindungi kondisi fisik dan informasi yang terkandung dalam koleksi agar tetap terjaga dan tidak hilang. Disaster plan yaitu pedoman persiapan dalam mencegah bencana yang mungkin dapat terjadi. Perencanaan kesiapan menghadapi bencana sangat diperlukan untuk membentuk suatu prosedur sebagai tahap pencegahan. Persiapan ini berguna untuk meminimalisir kerugian finansial dan korban jiwa yang dapat terjadi. Ada dua jenis bencana yaitu bencana dari alam dan bencana karena ulah manusia yang dapat mengancam keberadaan, kerusakan dan keberlangsungan koleksi. Perpustakaan merupakan sentral informasi dan pendidikan yang kemungkinan saja tertimpa risiko bencana, sehingga sangat memerlukan perencanaan kesiapan dalam menghadapi suatu bencana. Mengantisipasi datangnya bencana ialah cara terbaik untuk meminimalisir kerusakan walaupun bencana sulit di hindari. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti perencanaan perpustakan dalam menyelamatkan koleksi ketika menghadapi suatu bencana, terutama bencana yang disebabkan oleh ulah manusia. Bencana berupa ulah manusia yang dapat membahayakan di perpustakaan ini seperti pencurian, kurangnya pengamanan yang ada dalam institusi, kebakaran dan lain sebagainya. Untuk itu, judul penelitian ini adalah “Perencanaan Penyelamatan Koleksi Dalam Menghadapi Bencana di Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika”. B. TINJAUAN PUSTAKA Dalam suatu penelitian diperlukan dukungan dari hasil-hasil penelitian yang telah ada sebelumnya, tentunya berkaitan dengan penelitian yang penulis teliti di antaranya: Pertama, penelitian oleh Musrifah, Sahidi dan Alinda (2019) dengan judul Upaya Perencanaan Penyelamatan Koleksi Dalam Rangka Menghadapi Bencana Alam di Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM). Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana upaya perencanaan penyelamatan koleksi dalam rangka menghadapi bencana alam di Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu, observasi non partisipan, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa upaya yang direncanakan dalam menyelamatkan koleksi di Perpustakaan Peternakan Univeritas Gadjah Mada yaitu ada empat (4) tahap, yaitu tahap pencegahan, tahap tanggapan, tahap reaksi, dan tahap pemulihan. Untuk proses penyelamatan koleksi dalam rangka menghadapi bencana alam di perpustakaan tersebut yaitu sebelum terjadinya bencana, melakukan back-up untuk koleksi yang di anggap penting, seperti repositori, back up data yang disimpan di tiga server yang berbeda yaitu, di luar kota Yogyakarta, di server perpustakaan pusat dan disimpan oleh kepala Perpustakaan Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Adapun alat yang sudah tersedia untuk menyelamatkan koleksi dalam rangka menghadapi bencana alam hingga saat ini baru tersedia alat pemadam kebakaran yaitu dua unit alat pemadam kebakaran, satu unit pipa penyalur air, dan satu hydran yang digunakan untuk menyalurkan air ketika terjadinya kebakaran. Kedua, penelitian oleh Haryanto (2016) dengan judul Kesiagaan Perpustakaan dalam Menghadapi Bencana di Perpustakaan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapsiagaan perpustakaan dalam menghadapi bencana baik yang diakibatkan oleh manusia maupun faktor alam. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Data diperoleh melalui pengamatan dan pencatatan, serta partisipasi dalam kegiatan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kegiatan kesiapsiagaan bencana di Perpustakaan Universitas Sebelas Maret Surakarta dilakukan secara berjenjang, pencegahan, penanggulangan, reaksi dan pemulihan. Kegiatan tersebut antara lain pengisian buku kunjungan, kamera CCTV, ketersediaan portable fire pemadam dan SOP (standard operating procedure) yang mengutamakan pengamanan pengumpulan, perbaikan, pembuatan backup dan pemulihan data, transfer media, pengadaan koleksi dan ekstensif simulasi penanganan kebakaran dan kondisi darurat lainnya. Ketiga, penelitian oleh Pitri (2019) dengan judul Kesiapsiagaan Perpustakaan Dalam Menghadapi Bencana Kebakaran di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapsiagaan perpustakaan dalam menghadapi bencana kebakaran di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jambi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu, wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana kebakaran di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jambi yaitu pada tahap pencegahan adalah pemeriksaan rutin gedung, inspeksi rutin peralatan pemadam kebakaran, menandai dan mengamankan koleksi yang sangat penting. Pada tahap perencanaan yang sudah dilaksanakan yaitu, mengidentifikasi dan mengutamakan koleksi yang paling penting dan langka. Lalu, faktor penghambat kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana kebakaran yang dihadapi Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi yaitu tidak ada anggaran khusus bencana kebakaran, kurangnya sumber daya manusia dan peralatan yang tidak memadai dengan standar ruangan gedung perpustakaan serta faktor pendukung kesiapsiagaan perpustakaan dalam menghadapi bencana kebakaran yaitu dengan memanfaatkan anggaran yang ada, seperti anggaran yang dianggarkan setiap tahun untuk melaksanakan kegiatan perpustakaan ataupun anggaran pengadaan bahan pustaka. Berdasarkan ketiga penelitian di atas perbedaan dengan penelitian ini adalah pada penelitian ini lebih membahas bagaimana upaya perpustakaan dalam menyelamatkan koleksi ketika menghadapi bencana di Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika yang tergolong perpustakaan khusus dengan memperhatikan elemen-elemen rencana tanggap bencana menurut Harvey (1993) yaitu meliputi, pencegahan, tanggapan, reaksi dan pemulihan. Pertama, yaitu tahap pencegahan. Tahap ini dilakukan untuk meminimalkan terjadinya hal-hal yang menyebabkan terjadinya bencana serta untuk meminimalkan kerusakan yang disebabkan oleh bencana tersebut. Dalam hal ini, pencegahan mencakup kegiatan yang berfungsi meminimalisir kemungkinan terjadinya bencana terhadap koleksi perpustakaan yang disebabkan oleh manusia. Kedua, yaitu tahap tanggapan. Tahap ini dilakukan dengan membentuk tim respons terhadap bencana yang anggota-anggotanya memungkinkan untuk selalu ada di tempat pada saat bencana terjadi, melatih personel-personel dan menyusun prosedur-prosedur reaksi terhadap bencana yang diikuti. Ketiga, yaitu tahap reaksi. Tahap ini dilakukan dengan menitikberatkan bagaimana kita bereaksi jika bencana benar-benar terjadi. Tahap ini berhubungan langsung dengan arah penentuan kebijakan, yang meliputi: menentukan langkah prosedur yang dilakukan ketika terjadi bencana, memastikan lokasi bencana aman dimasuki, dan memindahkan materi yang rusak. Tahap terakhir, yaitu tahap pemulihan. Tahap ini mencakup kegiatan jangka panjang untuk memulihkan kembali sistem yang lumpuh atau terganggu selama bencana. Tahap ini meliputi penetapan dan pelaksanaan program memperbaiki lokasi bencana dan materi yang rusak, mengambil teknik penyelamatan terhadap koleksi, serta menganalisis bencana dan perbaikan rencana bencana. Bencana merupakan sesuatu hal yang tidak dapat dihindari, tetapi dapat diprediksi, diantisipasi dan diminimalisir resikonya oleh manusia. Bencana yang ditimbulkan oleh alam dan dapat mengancam koleksi perpustakaan diantaranya adalah gempa bumi, banjir, gunung meletus, kebakaran, serangga, hewan pengerat, dan jamur. Sedangkan bencana yang ditimbulkan oleh manusia dan mengancam koleksi perpustakaan yaitu kebakaran, pencurian dan berbagai tindak vandalisme (Musrifah, 2019). Perpustakaan sangat perlu untuk memiliki perencanaan atau melakukan upaya dalam menyelamatkan koleksi ketika menghadapi bencana, karena bencana dapat merusak materi cetak, dokumen catatan, sistem komputer, dan informasi tak ternilai yang disimpan di berbagai media penyimpanan.

Method

Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan, melukiskan, menerangkan, menjelaskan dan menjawab secara lebih rinci permasalahan yang akan diteliti. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mengetahui sebuah fenomena sebagaimana adanya yang dijelaskan ke dalam bentuk kata-kata dan kalimat pada suatu konteks yang alamiah melalui penggunaan berbagai pendekatan yang terkandung di dalamnya (Tobing, Herdiyanto, & Astiti, 2016). Pada penelitian ini, sumber data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, kajian dokumen dan wawancara. Data primer adalah sumber data langsung yang diberikan pada pengumpul data. Sedangkan data sekunder adalah data tidak langsung yang diberikan kepada pengumpul data (Sugiyono, 2017). Pada penelitian ini data primer diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan studi dokumentasi terhadap pengurus Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika. Sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber lain yang tidak ada kaitannya langsung dengan Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika, akan tetapi ada kaitannya dengan pembahasan dalam penelitian. Seperti buku, jurnal, catatan dan dokumen. Peneliti menggunakan wawancara semi terstruktur (indept interview) dengan menggunakan pedoman wawancara. Proses wawancara dilakukan kepada subjek-subjek penelitian untuk mendapatkan informasi terkait dengan upaya perencanaan penyelamatan koleksi ketika menghadapi bencana di Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika dengan menggunakan pedoman wawancara yang dibuat oleh peneliti berdasarkan kebutuhan informasi yang akan ditanyakan. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 2 informan. Satu informan merupakan pustakawan di Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika, berinisial YW, dan berjenis kelamin perempuan. Adapun informan lainnya adalah edukator Museum Konferensi Asia Afrika berinisial D, dan berjenis kelamin laki-laki. Teknik analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi atau penarikan kesimpulan (Miles and Huberman dalam Sugiyono, 2017). Penelitian ini dilaksanakan di Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika yang berada di Jalan Asia Afrika Nomor 65, Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat. Adapun penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juli 2022.

Result & Discussion

Profil Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika merupakan sebuah perpustakaan khusus yang letaknya berada di sisi timur Gedung Konferensi Asia Afrika atau biasa dikenal dengan Gedung Merdeka. Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika ini muncul bermula dari ide Abdullah Kamil (Duta Besar Indonesia di London) untuk mendukung kegiatan Museum Konferensi Asia Afrika pada tahun 1985. Informasi ini di dapat dari informan ketika wawancara, yang dikutip sebagai berikut: “Museum ini berdiri pada tahun 1980. Dua tahun setelah berdirinya museum, berdirilah pusat studi Asia Afrika. Lalu, dalam berdirinya hal tersebut harus lah ada penopangnya, yaitu Perpustakaan. Kemudian, pada tahun 1985 lahirlah Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika, yang diinisiasi oleh duta besar Indonesia di London, Inggris yakni Pak Abdullah Kamil.” (D, Wawancara, Juni 2022). Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika ini merupakan fasilitas penunjang yang dimiliki oleh Museum Konferensi Asia Afrika, dimana perpustakaan ini bertujuan salah satunya sebagai penunjang sumber informasi bagi pengunjung yang ingin memperoleh sebuah informasi tertulis mengenai Konferensi Asia Afrika. Lokasi perpustakaan yang menyatu dengan museum ini bisa dikatakan strategis karena berada di pusat kota yang sudah tertata serta dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat baik menggunakan tranportasi umum maupun pribadi. Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika ini memiliki 17.000 eksemplar koleksi buku yang terdiri dari buku tentang sejarah, sosial, politik, budaya negara-negara Asia Afrika dan lainnya; dokumen-dokumen Konferensi Asia-Afrika dan konferensi-konferensi pendahuluannya; serta majalah dan surat kabar yang disumbangkan dari lembaga lain atau diperoleh dengan pembelian. Selain itu, di Perpustakaan ini juga terdapat beberapa corner. Informasi ini di dapat dari informan ketika wawancara yang dikutip sebagai berikut: “Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika memiliki 17.000 eksemplar koleksi buku, terdiri dari berbagai macam kategori yaitu buku sosial politik sejarah dan budaya negara negara Asia Afrika. Disini juga banyak buku dari kedutaan-kedutaan besar. Ada juga beberapa corner, yakni kids corner, ensiklopedia, braile corner yang kita bekerja sama dengan Abiyoso, Chinese corner lalu ada beberapa hasil penelitian para mahasiswa yang pernah melakukan penelitian disini, serta majalah, surat kabar, dan dokumen lainnya terkait dengan konferensi Asia Afrika dan konferensi pendahuluannya.” (YW, Wawancara, Juni 2022). Koleksi pertama yang berada di Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika ini merupakan koleksi yang berasal dari Kementerian Luar Negeri. Lalu, pemenuhan koleksi dilakukan dengan membeli buku menggunakan dana APBN, serta sumbangan dari negara-negara sahabat. Informasi ini di dapat dari informan ketika wawancara yang dikutip sebagai berikut: “Buku yang pertama di perpustakaan ini berasal dari Kementerian Luar Negeri. Jika dilihat, hampir sebagian besar buku koleksi pada tahun 1985 tulisannya adalah Kementerian Luar Negeri, eh dulu namanya Departemen Luar Negeri. Setelah itu, banyak masuk gelombang kedua dari negara-negara anggota Gerakan Non Blok, salah satunya disini ada buku yang ditandatangani oleh presiden Irak yaitu Saddam Hussein. Disini hampir ada 1000 buku yang ditandatangani oleh Perdana Menteri, Presiden, macam macam pokoknya orang-orang yang penting di dunia. Lalu sisanya adalah pembelian buku menggunakan dana APBN yang isi koleksi bukunya harus tidak jauh jauh dari geoopolitik. Jadi banyak yang datang kesini peneliti asing terutama mencari buku buku sumber geopolitik yang tidak ditemukan di negara lain serta sumbangan dari negara-negara sahabat. Makannya hampir sebagian besar buku disini tidak tersedia dalam bahasa Indonesia, sebagian besar dalam bahasa Inggris, Prancis, Arab, dan bahasa bahasa negara yang hidup di Asia Afrika.” (D, Wawancara, Juni 2022). Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika ini berlokasi di Jalan Asia Afrika Nomor 65, Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat. Perpustakaan ini menggunakan sistem layanan tertutup dengan jam buka berkunjung ke perpustakaan ini yaitu, hari Selasa, Kamis, Sabtu, Minggu mulai dari pukul 09.00 WIB sampai 16.00 WIB. Namun untuk hari Senin, Rabu, Jumat serta hari libur nasional, perpustakaan ini tutup. Tanggap Bencana di Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, rencana tanggap bencana di Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika menggunakan teori yang dikemukakan oleh Ros Harvey (1993) terdapat empat tahapan, yaitu pencegahan, tanggapan, reaksi, dan pemulihan. Berikut merupakan hasil interpretasi yang peneliti lakukan: Tahap Pencegahan Tahap pencegahan dilakukan untuk meminimalkan terjadinya hal-hal yang menyebabkan terjadinya bencana serta untuk meminimalkan kerusakan yang disebabkan oleh bencana tersebut. Dalam hal ini, pencegahan mencakup kegiatan yang berfungsi meminimalisir kemungkinan terjadinya bencana terhadap koleksi perpustakaan yang disebabkan oleh manusia. Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika melakukan tindakan pencegahan dengan memasang kamera CCTV. Kamera CCTV ini dipasang di ruang perpustakaan untuk mendokumentasikan setiap pengunjung yang datang ke perpustakaan, dengan hal ini diharapkan menimbulkan rasa takut kepada pengunjung serta menyadari agar tidak berbuat hal yang merugikan terhadap berbagai koleksi yang ada di perpustakaan dan orang di sekitar. Selain adanya kamera CCTV, tahap pencegahan juga dilakukan dengan melakukan pemeriksaan lingkungan perpustakaan oleh pustakawan. Informasi ini di dapat dari informan ketika wawancara yang dikutip sebagai berikut: “Tindakan pencegahan yang dilakukan untuk melindungi koleksi perpustakaan dari bencana, terutama bencana karena ulah manusia adalah dengan pemeriksaan lingkungan oleh pustakawan. Jadi disini pustakawan memantau apa yang dilakukan oleh para pengunjung, lalu bisa dilihat disana terdapat kamera CCTV juga.” (YW, Wawancara, Juni 2022). “Kami menyediakan alat pemadam kebakaran yakni APAR dan memasang rambu-rambu jalur evakuasi di setiap sudut. Lalu, perpustakaan juga memiliki deposit box untuk melindungi koleksi perpustakaan dari api. Serta perpustakaan pun menjalin Kerjasama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk kegiatan preservasi.” (D, Wawancara, Juni 2022) Berdasarkan penyataan informan D diatas juga diketahui bahwa perpustakaan menyediakan APAR dan jalur evaluasi bagi pengunjung perpustakaan apabila terjadi bencana. Selain itu, juga terdapat deposit box yang berfungsi untuk menyimpan koleksi-koleksi termasuk koleksi langka sehingga koleksi terlindungi. Tahap Tanggapan Tahap tanggapan merupakan berbagai kegiatan atau program dan sistem yang diterapkan sebelum keadaan darurat terjadi. Adapun kegiatan yang dilakukan oleh Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika dalam tahap tanggapan ini, yaitu dengan memiliki rencana kesiapsiagaan bencana atau disaster preparedness plan. Informasi ini di dapat dari informan ketika wawancara yang dikutip sebagai berikut: “Pustakawan diberi pelatihan tanggap bencana. Jadi tahu tindakan yang harus dilakukan termasuk jalur evaluasi. Kita juga punya SOP mengenai kebencanaan, termasuk aturan penyimpanan koleksi pada deposit box. Untuk koleksi yang rusak kami bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk perbaikannya karena mayoritas koleksi yang ada merupakan koleksi langka menurut UNESCO.” (D, Wawancara, Juni 2022). Berdasarkan pernyataan D diatas, dapat diketahui bahwa upaya persiapan jika terjadi bencana di Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika yaitu dengan memiliki disaster preparedness plan, lalu menjalin kerjasama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam kegiatan preservasi koleksi perpustakaan. Tahap Reaksi Tahap reaksi merupakan aktivitas yang dilakukan jika benar-benar sudah terjadi bencana. Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika melakukan tahap reaksi dengan membunyikan alarm kebakaran, keluar ruangan mengikuti rambu-rambu jalur evakuasi yang berada setiap sudut. Lalu gunakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) serta melindungi koleksi penting dengan memasukkannya ke deposit box. Jika bencana yang terjadi seperti koleksi robek, basah, berjamur dan sebagainya maka reaksi yang dilakukan adalah dengan mengambil tindakan langsung untuk memperbaiki koleksi. Jika kerusakan terhadap koleksi ini parah, maka perpustakaan meminta bantuan kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Hal ini dikarenakan warisan Dunia atau Memory of The World yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2015, sehingga dalam penanganan koleksinya perlu adanya kerjasama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Hal ini seperti yang tertuang dalam analisis tugas dan fungsi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang harus melaksanakan Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka dan Naskah Kuno yang ada di Indonesia (2014). Tahap Pemulihan Tahap pemulihan ini mencakup kegiatan jangka panjang untuk memulihkan kembali koleksi yang rusak serta sistem yang lumpuh selama bencana. Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika melakukan kegiatan pemulihan berupa pendataan kerusakan, jika kerusakannya parah maka akan meminta bantuan kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia secara berkala. Hal ini dilakukan karena hampir sebagian besar koleksi buku yang ada tidak tersedia dalam bahasa Indonesia dan tidak diterbitkan lagi karena tergolong koleksi langka. Informasi ini di dapat dari informan ketika wawancara yang dikutip sebagai berikut: “Hampir sebagian besar buku disini tidak tersedia dalam bahasa Indonesia, sebagian besar dalam bahasa Inggris, Prancis, Arab, dan bahasa bahasa negara yang hidup di Asia Afrika. Akibatnya untuk perawatan dan pemulihan koleksi yang rusak, seperti lembarannya lepas kita gangerti artinya. Makannya harus dibawa ke yang ahlinya, yaitu ke Perpusnas, karena kalo asal-asalan kan itu fatal akibatnya.” (D, Wawancara, Juni 2022). Bedasarkan pendapat informan di atas juga diketahui tahap pemulihan ini bertujuan sebagai upaya pelestarian koleksi yang rusak. Tahap pemulihan ini sangat diperlukan untuk dilakukan karena mayoritas koleksi yang ada di perpustakaan adalah koleksi langka atau kuno. Adanya tahap pemulihan sebagai upaya pelestarian ini menurut Dewi, Syam & Indah (2020) juga bertujuan untuk mempertahankan sumber daya kultural dan intelektual khususnya koleksi naskah-naskah kuno sehingga informasi yang ada pada koleksi tidak hilang.

Conclusion

Upaya yang direncanakan untuk menyelamatkan koleksi ketika menghadapi bencana di Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika yaitu ada empat tahap. Pertama, tahap pencegahan dengan melakukan pemeriksaan lingkungan perpustakaan oleh pustakawan serta memasang kamera CCTV. Kedua, tahap tanggapan yaitu dengan memberi pelatihan kesiapsiagaan bencana pustakawan serta menjalin kerjasama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam kegiatan preservasi koleksi perpustakaan. Ketiga, tahap reaksi dengan mengikuti rambu-rambu jalur evakuasi yang berada setiap sudut. Lalu gunakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) serta melindungi koleksi penting dengan memasukkannya ke deposit box. Jika bencana yang terjadi seperti koleksi robek, basah, berjamur dan sebagainya maka reaksi yang dilakukan adalah dengan mengambil tindakan langsung untuk memperbaiki koleksi. Keempat, tahap pemulihan dengan melakukan pendataan kerusakan, jika kerusakannya parah maka akan meminta bantuan kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia secara berkala. Adapun saran yang diberikan berdasarkan penelitian, maka pustakawan Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika perlu diberikan workshop atau pelatihan mengenai preservasi koleksi perpustakaan yang rusak sehingga bisa memberikan penanganan awal agar koleksi tidak rusak terlalu parah sembari menunggu jawaban permohonan bantuan preservasi koleksi ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.