Kembali
16
1
2018 Al Maktabah: Jurnal Kajian Ilmu dan Perpustakaan Vol 3 · 2 ISSN 2657-2346

PERPUSTAKAAN DAN MASYARAKAT INFORMASI

IAHN Tampung Penyang

Abstrak

Perpustakaan sebagai salah satu lembaga/institusi yang merupakan salah satu wahana information resourch:knowledge resourch yang keberadaannya diharapkan mampu membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Semua kegiatan yang dilakukan selalu mengandung unsur/nilai pembelajaran, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya maupun penunjang pendidikan. Sebagai based of learning keberadaannya senantiasa diharapkan untuk dapat memenuhi harapan masyarakat dalam memperoleh informasi atau data yang dibutuhkan. Perpustakaan sebagai pusat Sumber Informasi menjadi tulang punggung gerak majunya suatu institusi terutama di bidang pendidikan, dimana tuntutan untuk adaptasi terhadap perkembangan informasi sangat tinggi. Hal ini dikarenakan pengguna dominan di kalangan akademisi yang mempunyai kebutuhan informasi sangat tinggi sehingga perpustakaan harus berupaya mengembangkan diri untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Perpustakaan sebagai lembaga yang berorientasi melayani masyarakat penggunannya harus tanggap dengan perubahan zaman jika tidak ingin ditinggalkan. Masyarakat informasi merupakan keadaan masyarakat ketika produksi, distribusi, dan manipulasi suatu informasi menjadi kegiatan utama. Jadi, dapat dikatakan bahwa pengolahan informasi adalah inti dari kegiatan. Pada intinya masyarakat informasi adalah suatu kondisi masyarakat yang menjadi focus utama ketika segala sesuatunya berhubungan dengan informasi. Melihat fenomena seperti tersebut maka pengelola perpustakaan harus tanggap dan mengembangkan perpustakaan ke arah perpustakaan digital agar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi dan tidak ditinggalkan oleh masyarakat.

Abstract

The library as one of the institutions / institutions which is one vehicle for information resourch: knowledge resourc whose existence is expected to be able to assist the government in educating the life of the nation. All activities carried out always contain elements / values of learning, development of science and technology, culture and education support. As a basis of learning, its existence is always expected to be able to meet the expectations of the community in obtaining the information or data needed. The library as the center of Information Resources is the backbone of the progress of an institution, especially in the field of education, where the demand for adaptation to the development of information is very high. This is because users are dominant among academics who have very high information needs so that libraries must strive to develop themselves to meet user needs. Libraries as institutions that are oriented to serving the community of users must be responsive to changing times if they do not want to be left behind. Information society is a state of society when production, distribution, and manipulation of information become the main activities. So, it can be said that information processing is the core of activity. In essence the information society is a condition of society which is the main focus when everything is related to information. Seeing such a phenomenon, library managers must be responsive and develop libraries towards digital libraries in order to meet the needs of the public for information and not be abandoned by society.
Keywords: Library · Society and Information

Introduction

Perpustakaan sebagai salah satu lembaga/ institusi yang merupakan salah satu wahana information resourch:knowledge resourch yang keberadaannya diharapkan mampu membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Semua kegiatan yang dilakukan selalu mengandung unsur/nilai pembelajaran, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya maupun penunjang pendidikan. Sebagai based of learning keberadaannya senantiasa diharapkan untuk dapat memenuhi harapan masyarakat dalam memperoleh informasi atau data yang dibutuhkan. Ketersediaan informasi semakin dituntut sejalan dengan keinginan masyarakat yang membutuhkannya. Kebutuhan masyarakat akan informasi yang cepat, akurat, tepat, mudah, murah dan spesifik inilah yang harus disikapi oleh pustakawan maupun pengelola perpustakaan. Perpustakaan sebagai pengelola informasi, dituntut agar memiliki standar kinerja tinggi, meningkatkan kualitas layanannya dan senantiasa menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi terkini dan kebutuhan masyarakat di era digitalisasi dan globalisasi informasi. Oleh sebab itu perpustakaan diarahkan untuk pembangunan perpustakaan digital (digital library). Jika tidak diimbangi dengan kemampuan membangun dan mengembangkan perpustakaan ke era perpustakaan digital (digital library) maka perpustakaan tidak memiliki daya saing dan tidak bisa optimal dalam memberikan informasi kepada pemustaka dan lambat laun akan ditinggalkan pemustaka. Aplikasi teknologi informasi dan komunikasi di perpustakaan digunakan untuk memenuhi kebutuhan berbagai pihak yaitu pustakawan, tenaga teknis perpustakaan, maupun pemustaka yang memerlukan informasi yang beragam dan kompleks serta menuntut kecepatan, ketepatan dan keakuratan dalam pelayanan informasi. Untuk memenuhi kebutuhan pemustaka tersebut, tenaga perpustakaan diharapkan memiliki kemampuan dalam hal menyediakan, mengolah dan memberikan layanan informasi yang dibutuhkan pemustaka dalam berbagai bentuk secara profesional. Oleh karena itu penerapan teknologi informasi dan komunikasi sangat diperlukan yang akan mampu mengoptimalkan pemanfaatan informasi semua bidang di perpustakaan seperti pengadaan bahan pustaka, pengolahan, temu kembali dan penyebaran informasi. Dalam pengaplikasiaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di perpustakaan diperlukan perencanaan strategis yang matang dan dukungan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi diperpustakaan diarahkan pada pembentukkan perpustakaan digital (digital library). Pengembangan teknologi informasi diperpustakaan dilaksanakan secara terintegrasi dalam pengembangan perpustakaan secara keseluruhan. Pesatnya kemajuan teknologi dan informasi dalam dunia perpustakaan sangat berpengaruh terhadap semua kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan. Penggunaan computer dalam setiap kegiatan perpustakaan seperti pengadaan, pengolahan, layanan, penyebaran informasi dan yang lainnya dianggap telah mampu menggantikan funsi tenaga manusia dalam melaksanakan berbagai kegiatan dan tugas-tugas yang biasa dikerjakan manusia tidak terkecuali pengelola perpustakaan, hanya saja komputer bisa mengerjakan dengan lebih cepat dibandingkan dikerjakan manusia. Pesatnya kemajuan teknologi dan informasi memungkinkan pencari informasi dekat dengan berbagai sumber informasi yang dibutuhkan kapanpun dan dimanapun. Melihat fenomena di atas, para pengelola perpustakaan mempunyai tanggung jawab untuk mempertahankan perpustakaan agar tidak ditinggalkan pemustaka. Banyak pertanyaan yang timbul dari fenomena perkembangan teknologi dan informasi seperti mungkinkah perpustakaan tidak dibutuhkan lagi karena sudah bisa didapatkan dimana dan kapan saja?. Akankah perpustakaan bisa bertahan di masa mendatang? Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab oleh perpustakaan sebagai pengelola informasi yang dari dulu sudah bersentuhan dengasn informasi, jauh sebelum berkembangannya teknologi dan informasi. Hal ini dibuktikan dengan adanya sejarah bahwa setiap bangsa mendirikan perpustakaan sebagai pondasi dari adat dan tradisi ilmiah yang melahirkan revolusi teknologi. Dalam dunia pendidikan perpustakaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang proses belajar mengajar. Dewasa ini, peran perpustakaan kadang tersingkirkan oleh perkembangan teknologi dan informasi dimana orang-orang lebuh ramai membicarakan era informasi dan masyarakat informasi. Istilah peran untuk sebuah perpustakaan adalah kedudukan, posisi dan tempat yang dimainkan, apakah penting, strategis, sangat menentukan, berpengaruh atau hanya sebagai pelengkap. Peran perpustakaan sangat erat kaitannya dengan kinerja pengelola perpustakaan, jika pengelola perpustakaan memiliki kinerja yang baik maka akan mengangkat citra perpustakaan dan perpustakaan mempunyai daya saing di era perkembangan teknologi dan informasi. Dampak perkembangan teknologi informasi dan perubahan yang terjadi di masyarakat sesungguhnya telah banyak dilakukan oleh para ahli. Menurut castell (1996) dalam Rahma Sugihartati (2014 : 39) menyatakan saat ini dunia vasive” dari apa yang dia sebut bentuk jejaring dari organisasi dalam setiap keadaan struktur social. Di masyarakat post-industrial, integrasi internet ke dalam berbagai dunia kehidupan telah menciptakan bentuk baru identitas dan ketidak setaraan. Dalam hal ini perpustakaan juga tidak bisa tutup mata dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, harus bisa memanfaatkan perkembangan yang ada sehingga fungsi dan tujuan untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa bisa terus tercapai kedepannya dan slogan perpustakaan dalam genggaman harus bisa terwujudkan agar perpustakaan dan masyarakat informasi selalu bisa sejalan dan beriringan satu sama lain.

Discussion

Pengertian Perpustakaan Jika disebut perpustakaan orang akan membayangkan adanya ruangan yang berisi buku-buku atau mungkin yang terbayang adanya sekumpulan buku di suatu ruangan. Dari pernyataan di atas, setidaknya ada dua unsur dalam perpustakaan yaitu ruangan dan sekumpulan buku. Anggapan demikian tidaklah salah, terutama anggapan lama yang menyatakan perpustakaan adalah gudang buku. Seseungguhnya di perpustakaan ada banyak unsur untuk menunjang dan mendukung sebuah perpustakaan. Sebagai suatu unit kerja, banyak factor yang berperan untuk tercapainya tujuan perpustakaan yaitu faktor manusia (man), bahan (material), cara kerja (methods), sarana (machine), anggaran (money), dan pemasaran (marketing), dan yang tidak kalah penting adanya pemustaka sebagai pengunjung dan pengguna perpustakaan. Berdasarkan urainan di atas muncullah berbagai pengertian perpustakaan: 1. Perpustakaan berasal dari kata dasar pustaka. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia – KBBI (1988), pustaka artinya kitab, buku 31. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan library. Istilah ini berasal dari kata librer atau libri, yang artinya buku (Sulistyo Basuki: 1991,3) dalam Wiji Suwarno, 2010: 31. Dari kata latin tersebut terbentuklah istilah libraries;tentang buku. Dalam bahasa asing lainya perpustakaan disebut bibliotheca (Belanda), yang juga berasal dari bahasa Yunani, biblia yang artinya tentang buku, kitab. 2. Dalam Encyclopedia Britannica, perpustakaan merupakan kumpulan buku atau akomodasi fisik tempat buku dikumpulkan. 3. IFLA (International Pederation of Library Association and Institutions) memberi batasan sebagai kumpulan materi tercetak dan media noncetak atau sumber informasi dalam computer yang disusun secara sistematis untuk dugunakan oleh pemakai. Dari beberapa devinisi di atas dapat disimpulkan bahwa pada umumnya para ahli menekankan pengertian perpustakaan pada materi atau bahan. Perbedaanya terkait pada perkembangan materinya itu sendiri. Seperti diketahui perkembangan buku pada saat ini bukan hanya berupa materi tercetak melainkan meliputi yang terekam dan elektronik. Yang kita tau istilah perpustakaan itu sendiri adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainya yang biasa disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual (Sulistyo Basuki:1991,3) dalam Wiji Suwarno, 2010: 31. Suatu unit kerja yang substansinya merupakan sumber informasi yang setiap saat dapat digunakan oleh pengguna jasa layannya. Selain buku, didalamnya juga terdapat bahan cetak lainya seperti majalah, laporan, pamphlet, prosiding, manuskrip atau naskah, lembaran music dan berbagai karya media audiovisual seperti film, slide, kaset, piringan hitam, serta bentuk micro seperti microfilm, microfis, dan microburam (microopque).Undang-Undang Republik Indonesia nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan (BAB I pasal 1 ayat 1) menyatakan : Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan bukan merupakan gudang tumpukan buku-buku yang berdebu dengan penjaga yang berkaca mata tebal dan tidak ramah namun perpustakaan merupakan institusi yang mempunyai peranan yang sangat penting didalam mengelolo koleksi karya tulis, karya cetak dan karya rekam yang dikelola dengan system yang profesional dan baku yang tujuan utama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pengguna (pemustaka) di bidang pendidikan, penelitian, informasi dan rekreasi. Pengertian Informasi Informasi merupakan suatu data, baik data numerik maupun verbal yang telah diolah semedikian rupa sehingga mempunyai arti. Namun demikian, pengertian informasi yang dikemukakan oleh beberapa pakar tidak memberikan suatu pengertian atau definisi yang pasti mengenai informasi seperti beberapa pengertian informasi di bawah ini: Informasi adalah data yang telah diproses kedalam suatu bentuk yang mempunyai arti bagi sipenerima dan mempunyai nilai nyata dan terasa bagi keputusan saat itu dan keputusan mendatang (Sutabri, 2005 : 12). Informasi dapat berisi data mentah, data tersusun, kapasitas sebuah saluran komunikasi dan sebagainya. Informasi ibarat air yang mengalir di dalam suatu organisasi sehingga keberadaan informasi menjadi sangat penting. Suatu organisasi yang kurang mendapatkan informasi akan menjadi luruh dan akhirnya mati.Menurut Kamus Besar Bahasa IndonesiaKBBI, 2008: 378 bahwa kata informasi berarti keterangan yang disampaikan oleh seseorang atau badan; keseluruhan makna yang menunjang pesan yang terlihat di bagian-bagian pesan. Informasi yang dimaksud disini adalah keterangan atau berita yang didapatkan oleh masyarakat (pemustaka) melalui media informasi baik berupa buku maupun media sosial lainnya. Eko Nugroho (2008 : 15) menyatakan informasi adalah suatu pengetahuan yang berguna untuk pengambilan keputusan . Jadi, segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan pada dasarnya dapat dikelompokkan sebagai informasi. Yang dimaksud disini yaitu informasi merupakan sesuatu hal yang dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan tertentu oleh masyarakat pengguna untuk kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu informasi mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat yang lebih baik, dari tidak tahu menjadi tahu, dari jauh menjadi dekat. Informasi dapat juga dikatakan sebagai sekumpulan data yang dikomunikasikan dalam bentuk yang dapat dipahami. Informasi merupakan konten dari berbagai format, misalnya informasi yang tertulis atau tercetak, tersimpan dalam database, atau terkumpul dalam suatu internet. Informasi juga dapat berupa pengetahuan pegawai dalam suatu organisasi (perekayasaan informasi, manajemen informasi, dan ilmu informasi). Instilah informasi mencakup berbagai aktivitas yang saling berkaitan menggunakan istilah kepustakawanan. Sudut pandang dunia kepustakaan dan perpustakaan informasi merupakan suatu rekaman fenomena yang diamati, atau bisa juga berupa putusan-putusan yang dibuat seseorang. Sebuah peristiwa yang menggemparkan terjadi di Nusa Tenggara Barat (Lombok) beberapa waktu yang lalu yaitu gempa berkekuatan tinggi yang menghancurkan dan meluluh lantahkan Lombok dan sekitarnya. Itu namanya sebuah fenomena dan menjadi informasi jika ada orang yang melihat atau menyaksikannya bahkan mungkin merekamnya. Hasil kesaksian atau rekaman dari orangorang yang melihat atau menyakssikan peristiwa di atas itulah yang dimaksut dengan informasi. Dalam hal ini informasi lebih bermakna berita. Berita adalah bentuk dari pesan-pesan komunikasi. Jika persitiwa gempa di atas tidak ada yang menyaksikan, merekam, atau memberitakannya kepada orang lain maka dari peristiwa tersebut tidak ada informasi yang dilahirkan. Berdasarkan besar dan banyaknya informasi yang ada di alam ini, hanya sebagaian kecil saja yang berhasil dirasakan, didengar, dilihat dan direkam oleh manusia dan ini akan menjurus kepada jenis informasi lisan. Informasi ini lebih banyak dikembangkan oleh studi komunikasi dengan jumlah yang sangat banyak dan tentu saja lebih banyak dari jumlah manusia yang ada. Informasi yang sempat direkam dalam berbagai bentuk alat perekaman inilah yang kelak bisa dikembangkan menjadi komoditasyang unggul dalam pola kehidupan manusia dan banyak dicari seta dimanfaatkan sesuai dengan kepentingannya. Sementara itu dalam pandangan Saracevic (dalam Pendit, 2003:13), informasi dikelompokkan dalam tiga pengertian: (1) secara sempit, inform (2) informasi dalam arti luas dikaitkan dengan proses komunitip dan kemampuan memahami pada diri manusia; (3) lebih luas informasi tidak hanya dikaitkan dengan pesan atau proses semata tetapi juga dengan konteks sosialnya, berupa situasi, persoalan, kajian tugas, dan sebagainya. Inforamasi dapat diartikan sebagai pengetahuan yang menjadi milik bersama karena dikomunikasikan dalam bentuk rekaman. Informasi yang dikelola oleh perpustakaan bersifat public atau social karena dapat dimanfaatkan secara bebas oleh semua masyarakat. Perpustakaan Sebagai Sumber Informasi Setelah ribuan tahun dengan teknologi cetak, ratusan tahun dengan teknologi analog kelahiran dan perkembangan teknologi digital menimbulkan revolusi mendasar dalam kehidupan manusia khususnya kepustakawanan. Kata perpustakaan atau library merunjuk ke satu medium penentu peradaban manusia, yaitu buku. Untuk waktu yang sangat lama buku dan produk cetak lainnya adalah satu-satunya sumber daya pengetahuan yang dihimpun oleh perpustakaan. Perpustakaan sebagai pusat Sumber Informasimenjadi tulang punggung gerak majunya suatu institusi terutama di bidang pendidikan, dimana tuntutan untuk adaptasi terhadap perkembangan informasi sangat tinggi. Hal ini dikarenakan pengguna dominan di kalangan akademisi yang mempunyai kebutuhan informasi sangat tinggi sehingga perpustakaan harus berupaya mengembangkan diri untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Perpustakaan sebagai lembaga yang berorientasi melayani masyarakat penggunannya harus tanggap dengan perubahan zaman jika tidak ingin ditinggalkan. Perpustakaan harus cepat beradapatasi dengan perkembangan yang terjadi, bukannya mengisolasi diri. Benar apa yang ditulis Pendit:2007; perpustakaan tidak perlu mengubah fungsi utama yang dijalaninya tetapi harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Untuk itu perpustakaan harus bekerja keras meningkatkan efesiensi dalam menjalankan fungsi sebagai pengelola informasi. Di Negara-negara maju, perpustakaan merupakan cermin kemjuan masyarakatnya karena bagi mereka perpustakaan adalah bagian dari kebutuhan hidup sehari-hari. Sementara, dinegara-negara berkembang keberadaan, eksistensi, dan perhatian masyarakat terhadap perpustakaan masih rendah hal ini disebabkan antara lain masyarakat masih mementingkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Perpustakaan masih merupakan keinginan (wants) daripada kebutuhan (needs). Artinya kesadaran dan pemahaman tentang perlunya perpustakaan sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan sudah ada, mulai menggejala dan berkembang tetapi belum merupakan prioritas utama. Pada sisi lain untuk membangun perpustakaan yang representatif masih menghadapi tantangan. Perkembangan perpustakaan tidak terlepas dari perkembangan masyarakat. Sekurang-kurangnya ada empat alasan yang mendorong keberadaan suatu perpustakaan yaitu: 1. Adanya keinginan masyarakat luas untuk meyelenggarakan perpustakaan 2. Adanya keinginan suatu organisasi, lembaga, atau penanggung jawab institusi untuk membangun perpustakaan bagi kepentingan organisasi. 3. Adanya kebutuhan yang dirasakan kelompok masyarakat tertentu tentang pentingnya perpustakaan. 4. Diperlukannya wadah atau tempat yang mampu menampung dan mengolah serta memberdayakan berbagai hasil karya umat manusia untuk dikembangkan lebih lanjut. Berdasarkan uraian di atas maka peranan perpustakaan sebagai sumber informasi dapat dirinci sebagai berikut: 1. Perpustakaan merupakan sumber informasi yang bermanfaat bagi pendidikan, penelitian, preservasi, dan pelestarian khazanah budaya bangsa, serta tempat rekreasi. 2. Petrpustakaan merupakan jembatan penghubung antara sumber-sumber informasi dengan pemustaka. 3. Perpustakaan merupakan sarana menjalin komunikasi antara perpustakaan dengan masyarakat. 4. Perpustakaan merupakan lembaga yang berperan dalam mengembangkan, minat dan budaya baca untuk terbentuknya masyarakat belajar (learning societies). 5. Perpustakaan merupakan agen perubahan karena berbagai sumber informasi yang ada dapat dipelajari dan dikembangkan bagi kemajuan masyarakat. 6. Perpustakaan merupakan sarana pendidikan formal dan lembaga pendidikan nonformal. 7. Perpustakaan dapat melakukan bimbingan dan kondultasi bagi pemustaka dan masyarakat tentang pendayagunaan sember-sumber informasi bagi kepentingan masyarakat. 8. Perpustakaan menjadi barometer kemajuan masyarakat dikaitkan dengan kunjungan dan pendayagunaan sumber-sumber informasi. 9. Perpustakaan dapat menghimpun dan melestarikan semua hasil karya umat manusia yang bermanfaat bagi generasi mendatang. 10. Perpustakaan dapat ikut berperan dalam mengurangi kenakalan remaja dan penyalahgunaan obat-obat terlarang. Seiring kehidupan masyarakat yang semakin maju maka kebutuhan masyarakat terhadap informasi semakain tinggi. Disamping kebutuhan terhadap informasi yang terbaru, masyarakatpun membutuhkan pelayan informasi yang cepat, tepat, dan akurat. Dalam hal inilah perpustakaan memanfaatkan teknologi informasi dalam mengembangkan perpustakaan kearah perpustakaan digital, dimana perpsutakaan digital kan mengelola koleksi data dalam bentuk multimedia dalam skala besar yang terorganisasi dengan perangkat manajemen informasi dan metode yang mampu menampilkan data sebagai informasi dan pengetahuan yang berguna bagi masyarakat. Perpustakaan digital bisa dianggap sebagai institusi informasi dalam bentuk baru atau perluasan dari pelayanan perpustakaan yang sudah ada. Namun demikian perpsutakaan digital sebagai koleksi informasi yang dikelola, yang memiliki pelayanan terkait, informasinya disimpan dalam format digital dan dapat diakses melalui jaringan. Masyarakat Informasi Di era masyarakat post-industrial, perubahan social yang terjadi tidak hanya menyentuh kelas elite politik dan reformasi penyelenggaraan pemerintahan yang lebih terdesentralisasi, melainkan perubahan gaya hidup dan perilaku sosial juga terjadi pada masyarakat luas. Dalam masyarakat seperti ini, standar hidup, pola-pola kerja dan kesenangan, sistem pendidikan, dan pemasaran berang-berang sangat dipengaruhi oleh akumulasi peningkatan informasi dan pengetahuan. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya intensitas produksi informasi dan pelayanan, komunikasi yang luas melalui media dan banyak diantaranya dilakukan secara elektronik. Wiji Suarno (2010) menyatakan bahwa masyarakat informasi adalah suatu keadaan masyarakat ketika produksi, distribusi, dan manipulasi suatu informasi menjadi kegiatan utama. Jadi, dapat dikatakan bahwa pengolahan informasi adalah inti dari kegiatan. Pada intinya konsep masyarakat informasi yang menjadi perdebatan adalah suatu kondisi masyarakat yang menjadi focus utama ketika segala sesuatunya berhubungan dengan informasi. Seberapa besar kebutuhan masyarakat akan informasi, bagaimana perilaku masyarakat dalam mencari informasi, itu semua merupakan bagian dari berkembangnya masyarakat informasi dewasa ini. Peradaban manusia sedikit banyak, langsung atau tidak langsung ditentukan oleh eksistensi informasi, dimana eksistensi ini dimulai dari masyarakat purba yang menggambar dinding gua, bahasa bunyi-bunyian atau isyarat yang semuanya menggunakan teknologi sederhana dari alam. Kemudian berkembang menjadi masyarakat tradisioanl, masyarakat industry dan kini menjadi masyarakat modern. Dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang canggih maka masyarakat disebut sebagai masyarakat informasi (informations society). Informasi yang merupakan hasil dari pengolahan data dan fakta menjadi komuditas, informasi yang lengkap, valid, cepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang mempunyai nilai tinggi dan jika dimanfaatkan akan menghasilkan analisis yang dapat dipakai sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dan kebijakan. Teknologi sebagai sarana penyebaran informasi mempunyai pengaruh yang besar terhadap kondidi masyarakat. Jika masyarakat di suatu daerah mengalami kemajuan teknolog yang besar maka akan mengalami perubahan dan perkembangan informasi yang besar juga. Dinegara-negara maju informasi bukan hanya sebagai kebutuhan tetapi sudah menjadi suatu komoditas atau wadah yang menghasilkan produksi barang dan jasa yang mempunyai nilai dan harga pasar yang tinggi yang berimbas kepada tingkat kesejahteraan masyarakat. Arus informasi dari Negara maju ke Negara berkembang sangat pesat. Pengaruh informasi dipercepat dengan berkembangnya teknologi informasi, teknologi sebagai saran komunikasi dan penyebaran informasi menjadikan perpindahan informasi ke masyarkata menjadi lebih udah dan cepat. Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi pasti membawa dampak positif dan negative bagi masyarakat terutama masyarakat dinegara-negara berkembang hal ini dikarenakan adanya perbedaan ekonomi, sosial, politik, budaya dan sebagainya. Menghadapi kondisi seperti ini, masyarakat Negara berkembang (termasuk Indonesia) terkadang tidak sanggup membendung arus informasi yang cepat dan besar. Supaya tidak tertinggal dan dikatakan gagap informasi, banyak masyarakat yang memaksakan diri untuk menggunakannya seperti penggunaan penggunaan android, tablet, computer dan yang lainnya. Padahal banyak masyarakat yang belum mengerti manfaat dari penggunaan alat-alat tersebut bahkan banyak yang menjadi korban ketidaktahuan. Wiji Suarno (2010) menyatakan istilah masyarkat mengandung pengertian tentang suatu kesatuan kelompok orang dengan beberapa persyaratan antara lain: 1. Mereka berhimpun, berkumpul atau bersatu ke dalam wadah, baik dalam organisasi formal maupun nonformal. 2. Menempati tempat tertentu. 3. Mempunyai ciri-ciri seperti ada ikatan. 4. Mempunyai kesamaan-kesamaan atas beberapa hal. Ikatan yang dapat membentuk suatu kelompok masyarakat itu ada yang lama, untuk jaka waktu lama dan bersifat sementara. Ditinjau dari segi kepentingan ada yang bersifat ekonomis (mencari keuntungan), ada yang bersifat nirlaba atau aktivitas social. Saat ini kelompok-kelompok masyarakat terus berkembang, makin beragam, termasuk dengan adanya ciri-ciri tertentu seperti keprofesionalan, keahlian, karakteristik, kekhususan dan tujuan yang makin komplek. Seperti halnya sebuah organisasi, kelompok masyarakat tersebut kehidupannya mengalami pasang surut, ada yang bertahan, makin berkembang, dan menjadi besar, namun ada juga yang menjadi kecil dan bahkan hilang karena tidak mampu bertahan dan bersaing dengan kelompok masyarakat lainya. Pemanfaatn Teknologi Informasi Di Perpustakaan Teknologi informasi diperpustakaan didorong oleh kebutuhan pengguna perpustakaan terhadap informasi yang semakin komplek dan berbasis elektronik/komputer. Tuntutan pengguna yang menginginkan layanan perpustakaan serba cepat, tepat, dan akurat serta kebutuhan pengguna tentang informasi yang semakin bergeser dari koleksi tercetak kearah elektronik seiring dengan perkembangan ke arah teknologi informasi, kea rah digital imaging, dan full motion video dan suara. Untuk memenuhi kebutuhan pemustaka, perpustakaan/pengelola perpustakaan dituntut memiliki kemampuan menyediakan, mengolah dan melayankan informasi berbasis teknologi informasi agar perpustakaan bisa bersaing dalam mamberikan layanan informasi dan sebagai pusat informasi bagi masyrakat di era globalosasi dan digital. Hal-hal yang harus dilakukan perpustakaan agar bisa tetap menjadi pusat informasi yaitu melalui penyediaan koleksi elektronik/digital seperti CD-ROM, multi media, file text yang dapat di upload di internet, dan koleksi hasil scan serta penyediaan akses informasi melalui jaringan computer/internet. Selain penyedian koleksi seperti tersebut di atas perpustakaan juga harus mampu menyelenggarakan sistem pengelolaan perpustakaan berbasis teknologi informasi sesuai dengan undang-undang nomor 43 tahun2007 tentang perpustakaan. Teknologi informasi di perpustakaan digunakan dalam empat bidang yaitu: 1. Bidang pengadaan bahan perpustakaan. Pengadaan bahan pustaka merupakan pekerjaan yang meliputu pemeriksaan ketersediaan koleksi melalui hunting ke penerbit atau toko buku memanfaatkan sumber media masa dan online, pembelian dengan cara pemesanan ke penerbit, lelang, membeli eceran serta memeriksa pengiriman pesanan, mencatat atau meregistrasi dan lain-lain. Selain itu pengadaan bahan pustaka juga dapat memanfaatkan jalur kerja sama dengan perpsutakaan lain, tukar-menukar koleksi, hibah dan hadiah. Pemanfaatan teknologi informasi dalam pengadaan perpustakaan khususnya pengadaan koleksi digital berupa e-book, e-journal mau pun e-newspaper terutama dalam proses pencarian koleksi, tranksaksi pemesanan maupun pembelian secara online. Dapat juga diterapkan pada pengemasan bahan perpustakaan dalam bentuk digital dengan cara memproduksi sendiri atau mengemas ulang informasi yang sudah tersedia dari berbagai sumber. Untuk memproduksi sendiri bahan perpustakaan digital dilakukan dengan membuat rekaman digital melalui komputer, kamera digital dan handycam. 2. Bidang pengolahan bahan perpustakaan Pengolahan bahan perpustakaan mencakup kegiatan inventarisasi, klasifikasi, katalogisasi, penyelesainaan fisik bahan perpsutakaan tercetak, terekam dan digital. Spesifikasi penggunaan dan fungsi di bidang pengolahan bahan perpsutakaan mencakup: a. Pengimventarisasian, berupa fasilitas untuk menginventaris bahan perpustakaan yang memuat data bibliografis koleksi secara lengkap sesuai standar perpustakaan. b. Pengatalogan, meliputi fasilitas untuk mengatalog bahan perpustakaan sesuai aturan dan standar perpsutakaan. c. Pemuatan cover dan content digital bahan perpustakaan, mencakup fasilitas untuk memuat cover digital dan file digital yang mewakili isi informasi bahan perpustakaan berupa file doc, excel, ppt, pdf maupun multimedia. d. Pembuatan anotasi atau sari buku dan bahan perpustakaan lainnya yang mewakili isi informasi koleksi perpsutakaan. e. Penyelesainaan fisik koleksi perpustakaan, mencakup fasilitas untuk pembuatan call number dan barcode baham perpustakaan. f. Data perpustakaan, mencakup data yang dibutuhkan dalam pengolahan bahan perpustakaan meliputi deskripsi bibliografis, authority file, item, nomor klasifikasi, cover dan content digital bahan perpustakaan serta bahan lain yang relevan. 3. Bidang pelestarian bahan perpustakaan Dalam bidang pelestarian perpustakaan, teknologi informasi digunakan diantaranya adalah untuk pengalihan informasi dalam bentuk tercetak ke bentyuk digital. Alih media ke format digital bertujuan untuk melestarikan isi informasi bahan perputakaan dan memudahkan akses untuk membacanya dengan menggunakan computer atau media baca lainnya. Alih media ke dalam bentuk digital menghasilkan materi informasi dalam bentuk digital dan merupakan dasar pembangunan perpsutakaan digital. Untuk melaksanakan alih media diperlukan perangkat yang merupakan bagian teknologi informasi. 4. Bidang layanan bahan perpustakaan Bidang layanan peerpustakaan berbasis teknologi informasi merupakan jasa perpustakaan dalam melayani pengguna/pemustaka yang bertujuan meingkatkan kualitas layanan perpustakaan seperti kecepatan, ketepatan dan keakuratan dalam memberikan layanan informasi. Penggunaan teknologi informasi dibidang layanan perpustakaan antara lain desain, manajemen system, informasi, penelusuran basis data, katalog, multimedia, layanan pemustaka, penelitian dan analisis kebutuhan informasi pemustaka, pembentukkan jaringan informasi dan kerja sama perpustakaan, jaringan telekomunikasi, dan penggunaan desain website perpsutakaan. Tujuan penerapan teknologi informasi disini adalah (a) untuk memenuhin kebutuhan pemustaka tentang informasi secara lebih cepat, tepat, dan akurat, (b) untuk memenuhi kebutuhan pengelola perpustakaan dalam mengolah dan menyajikan koleksi serta melayani pemustaka secara efektif dan efesien, (c) untuk memenuhi kebutuhan organisasi perpsutakaan agar dapat tetap eksis dan mampu berkembang serta bersaing dengan perpsutakaan lainnya. Keberadaan Masyarakat Informasi Dengan sarana teknologi dan komunikasi yang semakin canggih, informasi telah mengubah dunia dan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Begitu mudah dan gampangnnya akses informasi sehingga menghilangkan jarak dan mempersingkat waktu seseorang disatu belahan bumi untuk memperoleh informasi yang sedang terjadi di belahan bumi lainnya. Namun dikalangan masyarakat marjinal yaitu sekelompok orang yang rentan dan terpinggirkan oleh tatanan kemasyarakatan, tidak berpihak kepada mereka. Mereka yang tergolong dalam kelompok ini adalah kaum miskin, perempuan, anak-anak, masyarakat yang cacat miskin, dan kaum miskin perkotaan, laksmi (2006:44) dalam WijiSuwarno (2010). Mereka menyadari bahwa mereka membutuhkan informasi tetapi tidak tahu harus berbuat apa dan mencari kemana. Dan terjadilah kemiskinan informasi yang membawa dampak buruk pada kehidupan sehari-hari. Masyarakat informasi menghadapkan kita pada tantangan-tantangan baru dan kesempatan berkembangnya tatanan kehidupan masyarakat. Dampak dari teknologi informasi telah menjadi landasan yang kuat bagi sektor perekonomian dan sosial, dimana teknologi informasi membantu masyarakat untuk memperoleh berbagai macam informasi dari penjuru dunia untuk kemajuan dan kesejahteraan hidupnya. Peran Perpustakaan Dalam Masyarakat Informasi Istilah peran disini adalah kedudukan, posisi, dan tempat perpustakaan beroprasioanal. Apakah penting, strategis, sangat memnentukan, berpengaruh atau hanya sebagai plengkap saja dalam WijiSuwarno (2010). Jika memperhatikan konsep dasar perpustakaan sebagai pusat informasi maka perpustakaan mendapatkan peran yang cukup strategis di masyrakat. Dari kacamat yang lebih luas peran dapat dianggap sebagai agen perubahan, pembangunan, agen budaya dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan itu kekal dan pasti terjadi dari wkatu ke waktu sesuai zamannya, dan siring dengan sifat manusia yang selalu ingin tau, berkembang, dan selalu berubah. Maju tidaknya suatu perpustakaan tergantung bagaimana perpustakaan itu dikelola dan bagaiman kinerja pengelola perpustakaan maupun pustakawannya, apakah perpustakaan itu perofesional pengelolaannya loyan dalam pencapaian visi dan misinya dan apakah keberadaan perpustakaan sesuai dengan kondisi dan masyarakat sekitar sehingga perpustakaan bisa menjadi pusta informasi. Jika kinerja dan keberadaan perpustakaan baik maka secara berangsur-angsur perpsutakaan mempunyai citra yang baik karena bisa menjadi pusat informasi bagi masyarakat sekitar. Berkembangnya perpustakaan ditengah- tengah masyarakat merupakan indikator dan barometer berkembangnya masyrakat informasi yaitu masyarakat yang selalu memerlukan ketersediaan akses dan kemudahan informasi oleh karena itu, informasi menjadi salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi. Informasi itu seharusnya bisa diperoleh di perpsutakaan dengan cepat dan mudah jika peran dan fungsi perpustakaan bisa dijalankan dengan baik dan perpustakaan dikelola secara professional. Perpustakaan sebagai lembaga yang memberikan layanan jasa informasi harus bisa membangung citra yang baik dan itu dibuktikan dengan kinerja perpsutakaan dalam melayani dan sebagai pusat informasi bagi masyrakat. Perputakaan merupakan pusta informasi yang menghimpun, menglola, menyimpang, melestarikan, menyajikan dan memberdayakan informasi. Agar informasi yang dikelola mempunyai nilai manfaat yang produktif bagi masyarakat maka informasi harus memenuhi kriteria:benar, tepat, cepat, dan dikemas dengan menarik. Masyarakat yang dalam kehidupan sehari-hari mempunyai intensitas yang teratur, rutin, dan berkesinambungan menggunakan informasi maka dikatakan sebagai informasi dalam masyarakat informasi. Hal ini merupakan tantangan bagi perpustakaan untuk lebih maju lagi dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi sehingga perpustakaan akan selalu dicari dan dikunjungi oleh masyarakat dan juga akan meningkatkan jumlah pengunjung dan tingkat keterpakainan bahan pustaka lebih tinggi. Selama ini, sebagian besar perpsutakaan bergantung pada lembaga penaung sebagai sumber dana dalam melakukan pengembangan perpustakaan dari semua komponen. Ketergantungan ini tidak dapat dielakkan karena perpsutakaan memegang perinsip sebagai lembaga nirlaba, prinsip ini membuat perpsutakaan tidak bisa dituntut timbal balik secara finansial yang kemudian bnayak dinilai sebagai lembaga ynag tidak menguntungkan dan menjadi lembaga penghabis dana. Prinsip pemikiran diatas diperparah oleh seringnya perpustakaan berorientasi pada “kami” (perputakaan) dan bukan “anda” (pimpinan lembaga) atau “mereka” (pemustaka). Hal ini tampak pada saat perpustakaan mengajukan proposal permintaan dana. Kalimat yang digunakan, “kami” menjadi perpustakaan. Ini memunculkan kesan bahwa yang mendapat manfaat adalah perpustakaan bukan lembaga pemberi dana, apalagi pemustaka. Padahal secara umum setiapa pemberi dana selalu berharap adanya timbal balik dari yang diberi dana dan tuntutan timbal balik ini tidak sanggup dijanjikan oleh perpustakaan karena secara finansial perpsutakaan tidak memiliki kemampuan untuk dapat memberikan balas jasa atas bantuan dana yan diterimannya dan banyak yang beranggapan tidak ada manfaatnya memberikan bantuan dana keperpustakaan. Dalam masyarakat informasi, globalisasi ekonomi dan teknologi membawa perpustakaan tidak hanya bergelut dengan dunia pendidikan tetapi perpustakaan juga bergelut dengan system social. Peran perpustakaan dalam dunia sosial kemudian berada dalam ketegangan antara sistem sosial, disini banyak pertanyaan yang muncul, ketika sistem sosial berjalan dengan komunikasi sosial, adakah fungsi perpustakaan dalam masyarkat informasi? Menjawab pertanyaan tersebut maka pengelola perpustakaanharus berpikir dan merealisasikan gagasan untuk membangun perpustakaan yang mampu berperan sebagai agen dalam strategi kebudayaan dan reorganisasi sosial dimasyarakat. Agenda kerja yang harus dipikirkan pengelola perpustakaan adalah (a) membuka dan melekatkan kembali perpsutakaan dengan dinamika msyarakat. Perpustakaan dibangun ditempat yang mudah dijangkau dan ditengah-tengah masyarakat serta aktif mendokumentasikan dan mensosialisasikan problem-problem dan solusi sosial serta dikelola dengan manajemen yang baik sehingga perpustakaan tidak hanya berhubungan dengan peminjaman dan pengembalian buku, namun harus bisa menunjukkan sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih meningkatkan pengetahuan serta meningkatkan minat baca masyarakat untuk kehidupan yang lebih baik dan mengajak masyarakat memiliki kesadaran sejarah yang merupakan orientasi nilai dan tindakan dalam strategi kebudayaan. Aktivitas perpustakaan dengan demikian adalah menjadi tempat bagi masyarakat umum yang menawarkan refleksi masa lalu dan masa kini melalui informasi. Pameran buku, loka karya tentang pengarsipan dan penerbitan berkala informasi buku adalah beberapa contoh kegiatan perpustakaan. (b) agenda kerja kedua adalah perpustakaan harus mengambil bagian secara aktif dalam jaringan informasi. Perpustakaan tidak hanya terbatas pada kerja pelayanan untuk institusi pendidikan tetapi harus juga mengambil peran dalam penyediaan informasi melalui jaringan dan harus mengembangkan sebuah jaringan perpustakaan sehingga semua masyarakat yang memerlukan informasi bisa tercukupi kebutuhannya. Model jaringan memungkinkan semua masyarakat mengakses bahan pustaka keberbagai perpustakaan di seluruh penjuru dunia.

Conclusion

Perpustakaan sebagai pengelola informasi dituntut agar memiliki standard kinerja tinggi, meningkatkan kualitas layanannya dan selalu menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi terkini dan kebutuhan masyarakat di era digitalisasi dan globalisasi informasi, sehingga perpustakaan diarahkan pada pembangunan perpustakaan digital (digital library) jika tidak mampu untuk membangun dan mengembangkan perpustakaan mengikuti perkembangan zaman maka sudah dipastikan perpustakaan akan ditinggalkan oleh pemustakanya. Perpustakaan dan masyarakat informasi tidak bisa berdiri sendiri, selalu berhubungan satu sama lain. Masyarakat yang telah berkembang menjadi masyarakat informasi menjadikan informasi sebagai sesuatu hal yang sangat dibutuhkan dan tidak dapat ditinggalkan. Informasi merupakan asset dan sumber daya yang sangat membantu dalam kihidupan bermasyarakat yang mempunyai nilai sangat tinggi dan digunakan dalam berbagai hal antara lain: pengambilan keputusan, peningkatan produksi perusahaan dan juga dapat dijadikan untuk meningkatkan taraf hidup dan perekonomian masyrakat. Disinilah peran perpustakaan sebagai lembaga penyedia dan pengelola informasi agar selalu bisa meyediakan informasi yang dibutuhkan masyarakat dengan mengikuti perkembangan zaman serta ilmu pengetahuan dan teknologi.