Kembali
16
1
2022 Al Maktabah: Jurnal Kajian Ilmu dan Perpustakaan Vol 7 · 2 ISSN 2657-2346

iterasi Moderasi Beragama (Urgensi dan Implementasi dalam Pendidikan Era 4.0 dan 5.0)

Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Abstrak

Fanatisme agama yang tinggi, menjadikan kekerasan sebagai alat radikalisasi dalam mengaktualisasikan ideologi agama. Radikalisme yang mengarah pada terorisme menjadi masalah penting bagi umat islam saat ini. Hal ini diakibatkan karena tidak adanya pondasi berpikir dan berperilaku dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Radikalisme semakin meluas di Indonesia menjadikan agama sebagai alat propaganda untuk perubahan sosial atau reformasi politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Sehingga Literasi moderasi beragama begitu urgen dalam mengcunter faham Radikalisme dan Fanatisme agama yang tinggi yang tidak hanya merebak ditengah masyarakat, tetapi sudah mulai masuk kedalam dunia pendidikan, yang menjadikan kekerasan sebagai alat dalam mengaktualisasikan fahamnya. Sedangkan era globalisasi cukup menjadi penghambat besar dalam mengoptimalisasikan implementasi moderasi dalam pendidikan karena pengaruh arus teknologi yang tidak mampu dikendalikan. Sehingga pendidikan berbasis moderasi beragama sangat urgen dalam diintegrasi revolusi industri 4.0 dan society 5.0

Abstract

High religious fanaticism, makes violence a radicalization tool in actualizing religious ideology. Radicalism that leads to terrorism is an important problem for Muslims today. This is due to the absence of a foundation for thinking and behaving in everyday life. Radicalism is increasingly widespread in Indonesia, making religion a propaganda tool for drastic social change or political reform by using violent means. So that religious moderation literacy is so urgent in countering the high ideology of radicalism and religious fanaticism which is not only spreading in society, but has begun to enter the world of education, which makes violence a tool in actualizing its ideas. Meanwhile, the era of globalization is quite a big obstacle in optimizing the implementation of moderation in education because of the influence of technological currents that cannot be controlled. So that education based on religious moderation is very urgent in the integration of the industrial revolution 4.0 and society 5.0
Keywords: Moderasi Beragama · Pendidikan era 4.0 dan 5.0

Introduction

Penyebaran paham radikalisme semakin meluas saat ini, tak terkecuali di ranah pendidikan. Berdasarkan penelitian, didapatkan bahwa 58.5% siswa memiliki paham radikal dan hanya 20.1% yang memiliki paham moderat. Moderat atau moderasi adalah permintaan realistis dan metode pencegahan untuk melindungi negara dari paham ekstrimisme yang bertujuan untuk menghindari intrevensi umat yang radikal.1 Dalam pendataan sikap intoleran pun didapatkan bahwa siswa cenderung inteloren terhadap kelompok muslim (51.1%) dibandingkan pemeluk agama lain (34,3%). Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan sikap intoleran berasal dari kelompok muslim itu sendiri Sehingga dibutuhkan literasi yang mampu membatasi dan meredam perilaku tercela tersebut yang bisa diterapkan sejak dini di ranah pendidikan. Pendidikan menjadi tonggak perubahan sikap, perubahan perilaku, dan perubahan kebiasaan dalam diri manusia. Upaya untuk mereduksi sikap ekstrem sebagai akibat dari radikalisasi ini adalah dengan literasi moderasi beragama. Literasi moderasi dalam beragama dipahami melalui prinsip tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (berimbang), dan i’tidal (adil). Moderat adalah mengutamakan sikap tasamuh dalam menyikapi keragaman dan perbedaan2 . Perbedaan tersebut tidak menyebabkan nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan dan kerja sama menjadi hilang. Sikap moderasi merupakan sikap menjauhkan diri dari dua sisi ekstrem, serta berupaya mencari titik temu antara keduanya sehingga diharapkan dapat memupuk kedamaian dan mengentas segala tindak kekerasan.3 Masalah tidak berhenti ditahap ini saja. Ternyata, era globalisasi cukup menjadi penghambat besar dalam mengoptimalisasikan implementasi moderasi dalam pendidikan karena pengaruh arus teknologi yang tidak mampu dikendalikan. Maka, muncul solusi lain untuk menyertakan pemahaman mengenai revolusi industri 4.0 dan society 5.0 dalam ranah pendidikan. Konsep dari society 5.0 itu sendiri adalah literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. Adapun, paradigma pembelajaran abad 21 menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerja sama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Untuk itulah pelaksanaan pendidikan berbasis moderasi beragama juga perlu diintegrasikan dengan perubahan zaman yang sudah memuat revolusi industri 4.0 dan society 5.0 berbasis teknologi mutakhir dan internet of things (IoT) yang dapat didistribusikan dalam srategi pembelajaran, model pembelajaran, dan penyisipan hidden curriculum moderasi beragama yang komplementer dalam semua bidang pembelajaran. TINJAUAN PUSTAKA A. Literasi Secara etimologis literasi berasal dari bahasa Latin “literatus” artinya adalah orang yang belajar. Sehingga Literasi bisa diartikan dengan belajar dan memahami sumber bacaan. Romdhoni menyatakan bahwa literasi merupakan sebuah peristiwa sosial yang melibatkan keterampilanketerampilan khusus tertentu, yang diperlukan untuk menyampaikan dan mendapatkan informasi dalam bentuk tulisan4 . Iriantara menjelaskan bahwa literasi tidak hanya berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis teks, karena sekarang “teks” sudah diperluas maknanya sehingga mencakup “teks” dalam bentuk visual, audiovisual dan dimensidimensi komputerisasi, sehingga di dalam“teks” tersebut secara bersama-sama muncul unsur-unsur kognitif, afektif, dan intuitif5 . Berdasarkan statemen di atas pada dasarnya dapat dijelaskan, literasi merupakan peristiwa sosial yang dilengkapi keterampilan-keterampilan untuk menciptakan dan menginterprestasikan makna tertentu melalui teks. Literasi memerlukan serangkaian kemampuan untuk menyampaikan dan mendapatkan informasi dalam bentuk tulisan. Dapat diartikan juga bahwa literasi merupakan suatu tahap perilaku sosial yaitu kemampuan individu untuk membaca, menginterpretasikan, dan menganalisa informasi dan pengetahuan. B. Moderasi Beragama Dalam kamus besar bahasa Indonesia edisi 2003, moderasi ditemukan dalam bentuk kata “moderat” yang memiliki arti selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem. Sedangkan kata “moderator” memiliki arti sebagai orang yang bertindak sebagai penengah6 Dalam bahasa arab, pakar-pakar bahasa arab menyebut moderasi sebagai wasathiyyah yang terambil dari kata wasatha yang memiliki berbagai arti. Dalam al-Mu’jam alWasith yang disusun oleh lembaga Bahasa Arab Mesir menyebutkan bahwa wasath adalah sesuatu apa yang terdapat di antara kedua ujungnya dan ia adalah bagian darinya juga berarti pertengahan dari segala sesuatu. Kata wasath juga berarti adil dan baik7 Moderasi dalam beragama dipahami melalui prinsip tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (berimbang), dan i’tidal (adil). Moderat adalah mengutamakan sikap tasamuh dalam menyikapi keragaman dan perbedaan. Perbedaan tersebut tidak menyebabkan nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan dan kerja sama menjadi hilang. Sikap moderasi merupakan sikap menjauhkan diri dari dua sisi ekstrem, serta berupaya mencari titik temu antara keduanya. Sikap tawazun bermakna tidak mementingkan diri sendiri secara absolut, dan tidak juga mementingkan orang lain secara absolut yang mengejar kesenangan dan keuntungan bersama. Sikap moderasi terlihat dari pengambilan jalan tengah secara seimbang

Method

Pada penelitian ini penulis menggunakan studi kepustakaan (library research, yakni dengan mengumpulkan bahan-bahan dari buku, jurnal, paper, majalah, dan bahan-bahan yang dianggap mempunyai keterkaitan dengan permasalahan yang sedang dibahas. 9 Selain itu, penulis dalam library research ini juga mengambil beberapa sumber pelengkap, baik literatur teknis maupun litertur nonteknis. Literatur teknis adalah literatur yang dihasilkan dari karya-karya disipliner dan karya tulis professional sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah. Sedangkan literatur non-teknis adalah literatur yang tidak memiliki standar ilmiah. 10 Dengan sumber data primer yang digunakan dalam penelitian ini berupa buku yang ditulis Lukman Hakim Saifuddin yang berjudul Religious Moderation dan M. Quraish Shihab yang berjudul Wasathiyyah: Wawasan Islam tentang Moderasi beragama dan data sekunder merupakan data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data documenter) yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan, serta yang memiliki relevansi dengan objek penelitian seperti data tentang sejarah tempat penelitian, visi dan misi, serta profil informan penelitian.11 Objek Penelitian dalam tulisan ini adalah Literasi Moderasi Beragama dengan menggunakan teori Gilster dalam membedah dan menguraikan dalam konsep Literasi Digital.

Result & Discussion

1. Moderasi Beragam dalam Pendidikan Membangun moderasi beragama melalui integrasi keilmuan perspektif pendidikan islam adalah mata rantai yang tidak terpisahkan. Manusia tidak dapat abai dari keragaman karena dia adalah makhluk sosial dan tidak lepas dari keragaman karena manusia hakekatnya adalah makhluk sosial dan tidak terlepas dari kegamaan karena manusia adalah makhluk spiritual. Agar mampu membangun masyarakat agar kembali memiliki kesadaran akan pentingnya moderasi beragama, maka hal mendasar yang lebih diperkuat adalah menanamkan kesadaran perilaku melalui dasar keilmuan dan pemahaman, dalam hal ini menyesuaikan dengan ajaran agama masing-masing. Mengintegrasikan ilmu dalam membangun moderasi beragama telah terimplementasi dalam lingkungan sekolah seperti mengisi materi dan buku pelajaran dengan ajaran agama serta dibutuhkan andil dari lingkungan keluarga dan masyarakat untuk menerjemahkan moderasi beragama sesuai ilmu dan latar agama yang dimilikinya. Perintah untuk menimba ilmu dalam hal menempuh pendidikan termaktub di dalam surah Al-Mujadalah (58): 11 sebagai berikut: Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orangorang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Dalam tafsir Al-Misbah dikatakan bahwa ayat tersebut tidak secara tegas menyebutkan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang muslim. Tetapi menegaskan mereka memiliki derajat-derajat yakni lebih tinggi dari yang sekedar beriman. Tidak disebutkan kata meninggikan itu sebagai isyarat bahwa sebenarnya ilmu yang dimilikinya itulah yang berperan besar dalam ketinggian derajat yang diperolehnya. Tentu saja yang akan ditinggikan derajatnya ialah orang-orang beriman yang senantiasa menghiasi dirinya dengan ilmu pengetahuan. Ilmu yang dimaksud dalam hal ini bukan saja ilmu agama, tapi ilmu apapun yang bermanfaat.12 Sejalan dengan tafsir Ibnu Katsir yang menyatakan bahwa “janganlah kalian berkeyakinan bahwa jika salah seorang di antara kalian memberikan kelapangan kepada saudaranya, baik yang datang maupun yang pergi lalu dia keluar, maka akan mengurangi haknya. Bahkan hal itu merupakan ketinggian dan perolehan martabat di sisi Allah, dan Allah tidak akan menyi-nyiakan hal tersebut, bahkan dia akan memberikan balasan kepadanya di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya orang yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya dan memasyurkan namanya”.13 Hal ini mengandung makna bahwa tidak akan merugi orang-orang yang mendedikasikan dirinya dalam memberikan dan menggali ilmu sebanyak-banyaknya. Allah akan memberikan balasan terhadap segala perbuatan baik yang dilakukan yang bukan hanya diukur dari ilmu yang disandangnya tetapi juga amal dan pengajarannya kepada pihak lain secara lisan dan tulisan disertai keteladanan. Namun, dalam menuntut ilmu di dunia pendidikan juga harus mengindahkan normanorma agama dan kehidupan. Karena ilmu tanpa pegangan agama akan dapat meruntuhkan eksistensi agama itu sendiri karena kemungkinan besar dapat disalahgunakan untuk kegiatan yang dapat merugikan umat seperti perilaku separatisme, terorisme, etnosentrime, dan radikalisme yang ujung-ujungannya juga dapat menyebabkan disintegrasi bangsa. Seperti dicontohkan oleh kisah perakitan bom atom di hiroshima dan nagasaki yaitu Albert Einsten dan Julius Oppenheimer, menjadi simbol ilmuan masa kini yang secara teknis unggul namun secara moral tidak pasti. Maka dapat kita simpulkan apabila ilmu pengetahuan dengan segala rumpunnya tidak terintegrasi dengan baik oleh agama, maka ilmu tersebut akan menjadi bumerang bagi diri sendiri. Oleh karena itu integrasi keilmuan bukan hanya alternatif, namun adalah jalan utama yang akan mengembalikan manfaat dari ilmu pengetahuan untuk mencapai peradaban manusia yang unggul dan terhindar dari sifat ekstrem dengan adanya integrasi moderasi beragama dalam semua cabang keilmuan. Maka, dalam kajian ini telah terlihat bahwa adanya urgensi diimplementasikannya moderasi beragama dalam bidang keilmuan. 2. Literasi Moderasi Beragama dalam Pendidikan Era 4.0 dan 5.0 Majelis ulama Indonesia (MUI) memformulasikan 10 karakter dari islam moderat yiatu Al-Tawassuth (mengambil jalan tengah), Al-tawazun (berkeseimbangan), Ali’tidal (lurus dan tegas), Al-Syura (musyawarah), Al-Ishlah (reformasi), AlAulawiyyah (mendahulukan yang prioritas), Al-tathawwur wa al-ibtikar (dinamis dan inovatif), dan Al-Tahadlddlar (berkeadaban). Dalam hal ini penulis akan mengkaji lebih lanjut pada karakter Al-Tathawwur wa alibtikar (dinamis dan inovatif), yaitu selalu terbuka untuk melakukan perubahanperubahan sesuai dengan perkembangan zaman serta menciptakan hal baru untuk kemaslahamatan dan kemajuan umat manusia.15 Membahas lebih jauh tentang perkembangan zaman, maka kita semua harus menyadari bahwa saat ini telah masuk dalam era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Abad ke-21 ditandai dengan era revolusi industri 4.0 sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi, artinya kehidupan manusia pada abad ke-21 mengalami perubahanperubahan yang berbeda dengan tatanan kehidupan di abad sebelumnya atau dengan kata lain abad ke-21 adalah abad yang meminta kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia. Dalam konteks pembelajaran abad ke-21, pembelajaran yang menerapkan kreativitas, berpikir kritis, kerja sama, keterampilan komunikasi, kemasyarakatan dan keterampilan karakter tetap harus dipertahankan. Pembelajaran kelas dengan lab virtual, bersifat interaktif, menantang, serta pembelajaran yang kaya isi bukan hanya pelengkap. Dalam hal ini Kemendikbud merumuskan bahwa paradigma pembelajaran abad 21 menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerja sama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Adapun framework pembelajaran abad ke-21 ialah sebagai berikut: (1) kemampuan berpikir kritis (Critical thinking dan problem solving skills), (2) kemampuan berkomunikasi dan berkerja sama (Communication and collaboration), (3) Kemampuan mencipta dan membaharui (Creativity and Innovation Skills), (4) Literasi teknologi (Information and Communication Technology Literacy), (5) Kemampuan belajar kontekstual (Contextual and learning skills), dan (6) Kemampuan Informasi dan Literasi Media. Maka berkaitan dengan literasi teknologi tersebut, pada era society 5.0 yang memiliki konsep teknologi big data yang dikumpulkan oleh internet of things (IoT) diubah oleh Artificial Intellegence (AI) menjadi sesuatu yang dapat membantu masyarakat sehingga mencapai kehidupan yang lebih baik.16 Pendidikan Indonesia menurut UU No 20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang sistem pendidikan nasional bertujuan mengembangkan segenap potensi yang dimiliki oleh peserta didik secara utuh meliputi aspek psikis, jasmani rohani, dan sosial (UU. No. 20 tahun 2003). Aktivitas kependidikan adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang dalam memberikan transformasi pengetahuan dan nilai-nilai tentang kehidupan kepada orang lain17 Maka hakekat menjalankan pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 dan society 5.0 adalah untuk menjadi manusia terbaik sebagaimana tertuang dalam surah Ali-Imran (3): 110 sebagai berikut: Artinya: Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. Ayat ini secara jelas menafsirkan perihal umat islam sebagai ummatan wasathan yang dengan tegas menyebutkan syarat untuk menjadi umat terbaik adalah amar makruf, nahi munkar, dan beriman kepada Allah SWT. Kalimat yad’una ilal khayr mengandung makna keimanan yang dibuktikan oleh pengamalan menyangkut nilai-nilai illahi. Walaupun masih terdapat berbagai istilah di dalam Al-Quran, tetapi tidak ada kata yang berbeda walau sama akarnya kecuali mengandung perbedaan makan. Perbedaan, perubahan, dan perkembangan nilai itu dapat diterima oleh islam selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai ushil ad-din.18 Sejalan dengan tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah SWT memberitahukan kepada umat nabi besar Muhammad SAW sebagai umat terbaik dan menyampaikan kabar gembira bahwa kemenangan dan keberuntungan ada pada kaum mukminin.19 Sejalan dengan penjelasan di dalam tafsir Al-Misbah dinyatakan bahwa seluruh umat nabi besar Muhammad SAW adalah umat terbaik dari generasi ke generasi karena sifatsifat yang menghiasi diri umatnya. Umat ini juga disebut sebagai umat yang sempurna dengan kata “kuntum” dan wujud dalam keadaan sebaik-baiknya umat dalam kata “kana tammah”. Ini karena umat tersebut terus menerus menyuruh kepada makruf, yakni apa yang dinilai baik oleh masyarakat selama sejalan dengan nilai-nilai luhur, pencegahan yang sampai batas menggunakan kekuatan, dan karena benar-benar beriman kepada Allah SWT.20 Maka dalam penjelasan ini sudah tertera jelas bahwa jika ingin menjadi umat terbaik maka harus mampu mengaplikasikan wasathiyyah dalam kehidupan pribadi sebagai umat yang amar makruf, nahi munkar, dan beriman kepada Allah SWT meliputi pengetahuan/pemahaman yang benar, emosi yang seimbang dan terkendali, serta kewaspadaan dan kehati-hatian kesinambungan yang dapat diintegrasikan dalam ilmu pengetahuan biopsikososialspiritual dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia berbasis moderasi beragama.21 Pendidikan berbasis moderasi beragama ini sesuai dengan prinsip dasar dalam society 5.0 adalah keseimbangan dalam perkembangan bisnis dan ekonomi dengan lingkungan sosial. Situasi yang terjadi di era society 5.0 dapat ditinjau dari terjadinya perubahan fungsi sosial menuju fungsi informasi dalam setiap aktivitas kehidupan di berbagai aspek termasuk pendidikan. Penggunaan mendia belajar berbasis online menjadi ciri khas pada pendidikan era society 5.0 (Usmaedi, 2021). Dalam era society 5.0 masyarakat dihadapkan dengan teknologi yang memungkinkan pengaksesan ruang maya tapi terasa fisik. Agar dapat melaksanakan pendidikan berbasis society 5.0 maka pemerintah harus nenpersiapkan infrastruktur berbasis internet dan komputerisasi, SDM pengajar yang memiliki keterampilan di bidang digital dan berfikir kreatif, serta pemerintah harus menyinkronkan antara pendidikan dan industri kerja, menerapkan teknologi sebagai kegiatan belajar dan mengajar. Maka, upaya implementasi moderasi beragama dalam pendidikan era revolusi industri4.0 dan society 5.0 sudah mulai dilaksanakan diberbagai ranah pendidikan karena konsep dari society 5.0 itu sendiri adalah literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. Sistem pembelajaran pada era 4.0 menerapkan kreativitas, kerja sama, berpikir krtitis, keterampilan berkomunikasi, kemasyarakatan dan keterampilan karakter.23 Sebagaimana dalam penelitian yang dilakukan oleh Syamsuar, bahwa solusi yang bisa dilakukan adalah kesesuaian kurikulum dan kebijakan dalam pendidikan, kesiapan SDM dalam memanfaatkan ICT, mengoptimalkan kemampuan peserta didik, mengembangkan nilai-nilai karakter peserta didik, serta kesiapan sarana dan prasarana pembelajaran berbasis digital. Hubungan antara strategi, tujuan, dan metode pembelajaran dapat digambarkan sebagai suatu kesatuan sistem yang bertitik tolak dari penentuan tujuan, yang kemudian diimplementasikan ke dalam berbagai metode yang relevan selama proses pembelajaran berlangsung24 Pembelajaran di era revolusi 4.0 dapat menerapkan hybryd/blended learning dan case based learning. Penelitian lain juga menyatakan bahwa sistem blended learning memiliki peluang dan tantangan dalam penerapannya yang berkaitan dengan fasilitas yang dimiliki siswa karena memerlukan sokongan alat elektronik sehingga dapat membentuk perilaku yang adaptif, komunikatif, berbasis teknologi, inovatif, dan fasilitatif.25 Peserta didik harus dibekali dengan kecakapan global abad 21 yaitu kemampuan berkomunikasi, kreatif, berfikir kritis, dan berkolaborasi yang dikenal dengan istilah 4C (communucation, creators, critical thinkers, and collaborations).26 Dalam rangka peningkatan kreativitas, pendidik dapat merancang media pembelajaran interaktif seperti software videoscript yang lebih menarik dan mudah dipahami sehingga dapat mewujudkan pembelajaran moderasi beragama yang lebih konkrit. Dalam hal kecakapan berpikir kritis, Lase27 menyatakan bahwa pengembangan kurikulum saat ini dan masa depan harus melengkapi kemampuan siswa dalam dimensi akademik, keterampilan hidup, kemampuan untuk hidup bersama dan berpikir secara kritis dan kreatif. Sekolah dan guru perlu mempertimbangkan pembelajaran terbuka dan daring dalam memutuskan bagaimana menyelenggrakan pendidikan dan pembelajaran. Operasionalisasi moderasi beragama sebagai hidden curriculum dapat dilakukan dalam tiga posisi sekaligus yaitu hidden curriculum menjadi intsrumen, moderasi beragam sebagai nilai yang dihidden dan moderasi beragam sebagai hidden curriculum direncanakan secara tersembunyi dengan menurunkan CPL menjadi CPMK yang lebih operasional dan dapat diukur.28 Sehingga dapat disimpulkan bahwa upaya menyelaraskan moderasi beragama dalam pendidikan di era revolusi industri 4.0 dan 5.0 adalah dengan meningkatkan literasi teknologi yang lebih baik yaitu berupa metode dan strategi pembelajaran berbasis teknologi (blended learning), literasi manusia (hidden curriculum dan case based learning), serta literasi data (pembelajaran berbasis software dan internet).

Conclusion

Urgensi moderasi beragama dalam pendidikan dimulai dari munculnya perilaku tercela yang dapat memicu desintegrasi bangsa yaitu radikalisme, terorisme, fanatisme, ekstrimisme, dll yang harus segera dicegah dengan mengintegrasikan Literasi moderasi beragama dalam semua bidang keilmuan sejak dini. Implementasi moderasi beragama dalam pendidikan era 4.0 dan 5.0 dapat dilakukan dengan menyusun strategi pembelajaran, model pembelajaran, dan integrasi moderasi beragama dalam hidden curriculum berbasis literasi teknologi, literasi manusia, dan literasi data sebagai upaya deradikalisasi dan pemanfaatan teknologi globalisasi secara positif. Penelitian yang fokus mengenai literasi moderasi beragama masih sangat minim, Jika dibanding dengan tema-tema lainnya. Penulis mengaharapkan banyak peneliti yang tertarik meneliti lebih dalam lagi mengenai tema literasi moderasi beragama ini di masa mendatang. Penulis sangat sadar dengan hasil penelitian yang disampaikan masih sangat jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan. Sehingga peneliti menyarankan agar para peneliti lainnya bisa melanjutkan penelitian berikutnya dengan kajian- kajian yang lebih mendalam mengenai literasi moderasi beragama.