Literasi Digital Moderasi Beragama Mahasiswa Universitas Islam Negeri Prof. UIN K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto; Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto; Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Abstrak
Perkembangan teknologi dan informasi di era sekarang telah membawa banyak pengaruh dalam kehidupan manusia. Seringkali dijumpai di media sosial konflik antar masyarakat memperdebatkan mengenai keragaman agama di Indonesia. Peneliti ingin mengetahui mengenai bagaimana literasi digital moderasi beragama mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah mahasiswa strata satu, sedangkan sampel penelitian sebanyak 266 mahasiswa. Berdasarkan olah data pada angket yang disebarkan, diketahui bahwa kemampuan literasi digital mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yaitu cukup baik dalam berbagai aspek literasi digital, masih ada ruang untuk peningkatan, terutama dalam hal kreativitas dalam mengkomposisikan pesan, partisipasi aktif dalam aksi sosial, dan kemampuan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan strategi pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan literasi digital moderasi beragama melalui kurikulum perkuliahan dan Pusat Kajian Moderasi Beragama dan Pancasila di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto sehingga lebih giat dalam melakukan sosialisasi kepada mahasiswa dalam bentuk literasi digital moderasi beragama.
Abstract
The development of technology and information in the current era has brought many influences on human life. Often found on social media, conflicts between communities debate religious diversity in Indonesia. Researchers want to know about the Digital Literacy of Religious Moderation of UIN Students Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. The research method used is quantitative descriptive. The research population was undergraduate students, while the research sample was 266. Based on the data processed in the questionnaire distributed, it is known that the digital literacy ability of UIN students Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto is quite good in various aspects of digital literacy, there is still room for improvement, especially in terms of creativity in composing messages, active participation in social actions, and the ability to collaborate with various parties. This research is expected to be an input for the development of effective learning strategies in improving the digital literacy of religious moderation through the lecture curriculum and the Center for the Study of Religious Moderation and Pancasila at UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto can be more active in socializing to students in the form of digital literacy of religious moderation.
Keywords:
digital literacy
· religious moderation
· media content
· digital media
Introduction
Keberagaman merupakan sebuah kenyataan yang perlu diterima, namun seringkali keragaman yang acapkali menimbulkan konflik di Indonesia. Salah satunya ialah keragaman Agama1. Seringkali dijumpai di media sosial, bahwa konflik antar masyarakat memperdebatkan mengenai keragaman agama di Indonesia. Bahkan lebih parah, konflik yang terjadi ini berujung pada konflik yang bersifat kekerasan dan persekusi. Konflik di masyarakat yang terjadi secara sporadis di berbagai wilayah Indonesia merepresentasikan rentannya rasa kebersamaan2. Padahal apabila ditinjau lebih jauh, Indonesia dengan pelbagai keragaman agama dapat dijadikan sebagai penguat rasa kebersamaan, kerukunan, dan persatuan. Dari akar masalahnya, konflik mengenai keagaman tersebut, sudah dipaparkan sebelumnya bahwa Kementerian Agama Republik Indonesia yaitu dengan memberikan solusi berupa konsep Moderasi Beragama. Menurut hemat penulis, moderasi beragama di Indonesia ini dapat dijadikan instrumen yang tepat untuk mengakomodir keberagaman tersebut. Kementerian Agama RI merupakan Kementerian yang memiliki otoritas untuk menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia. Moderasi beragama merupakan salah satu program yang saat ini gencar digaungkan melalui media sosial, seminar, lokakarya, dan lain-lain. Bahkan moderasi beragama ini masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Secara sederhana, moderasi beragama dapat disamakan dengan moderat yang artinya berada ditengah-tengah dalam menyikapi sebuah perbedaan3. Melalui moderasi beragama ini, masyarakat diharapkan mampu menjaga dan melestarikan kerukunan umat di Indonesia. Era keterbukaan dalam menyampaikan pendapat dan kemudahan akses yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi informasi memicu perubahan mendasar tentang cara masyarakat memperoleh pengetahuan agama4. Literasi digital dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan dan mengevaluasi sumber daya, alat, dan layanan digital dengan benar, dan menerapkannya pada proses pembelajaran sepanjang hayat5. Sehingga, penulis memiliki asumsi bahwa konsep moderasi beragama dan literasi digital memiliki keterkaitan satu sama lain. Asumsi tersebut didasarkan bahwa perkembangan teknologi informasi wajib diiringi dengan pemahaman mengenai moderasi beragama yang bagus. Hal tersebut bertujuan agar dalam beraktifitas dan berinteraksi di dunia digital, masyarakat memiliki rasa toleransi yang tinggi. Sehingga pada akhirnya, dapat tercipta iklim yang sehat dan damai di dunia virtual. Apabila kemampuan penggunaan perangkat digital tidak diiringi dengan pemahaman mengenai moderasi beragama, maka dapat berimplikasi menjadikan masyarakat terpengaruh sampai pada ancaman radikalisme, penurunan integritas bangsa, terorisme sampai dengan ekstremisme agama6. Maka dari itu, pemahaman kemampuan literasi digital dan moderasi beragama mutlak perlu dimiliki semua kalangan yang akrab dengan dunia digital. Adapun beberapa penelitian terdahulu dengan topik yang relevan dengan kajian ini, diantaranya yaitu pertama, penelitian dengan judul “Aktualisasi Pendidikan Moderasi Beragama di Madrasah” oleh Alim dan Munib (2021), penelitian tersebut berupaya untuk menggali potret dan pengembangan pendidikan moderasi beragama di lingkup madrasah. Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa moderasi beragama dipandang sebagai sebuah keseimbangan antara keyakinan yang kokoh dengan semangat toleransi yang terdapat nilai Islam dengan dibangun pola pikir lurus dan tidak berlebihan. Lebih jauh, untuk memantapkan prinsip moderasi beragama di madrasah dapat dilakukan melalui perumusan visi misi dan kurikulum berorientasi moderasi beragama serta menguatkan program-program yang berlandaskan moderasi beragama7. Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Kosasih (2019), dengan judul “Literasi Media Sosial dalam Pemasyarakatan Sikap Moderasi Beragama”. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu mendorong masyarakat pengguna media sosial untuk berfikir dan bersikap moderat terhadap isu-isu yang ada di media sosial. Selain itu, masyarakat pengguna media sosial juga perlu memilah dan memilih apa yang perlu diterima dan tidak terima8. Ketiga, penelitian dengan judul “Implementasi Budaya Literasi Digital untuk Menguatkan Moderasi Beragama bagi Santri (Studi Kasus di Ma’had UIN Maulana Malik Ibrahim Malang” oleh Prastyo dan Inayati (2022). Penelitian studi kasus tersebut berusaha membahas mengenai budaya literasi digital pada tataran implementasinya oleh santri. Temuan pada penelitian tersebut yaitu merubah mindset santri secara positif supaya memahami Islam secara moderat. Selain itu pada penelitian tersebut merekomendasikan untuk mengadakan pelatihan dan membangun jaringan media sosial yang menumbuhkan semangat moderasi beragama dalam aktifitasnya di dunia digital. Dengan demikian, pada akhirnya santri akan memiliki sikap yang moderat khususnya dalam bermedia sosial9. Selanjutnya pada penelitian ini akan membahas mengenai bagaimana Literasi Digital Moderasi Beragama Mahasiswa UIN Profesor K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Saat ini UIN Profesor K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto telah memiliki Pusat Kajian Moderasi Beragama dan Pancasila sebagai perpanjangan tangan program dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Mahasiswa dipilih sebagai subjek penelitian karena pada dasarnya mahasiswa saat ini sangat akrab dengan dunia digital yang diwujudkan dengan intensitas kebiasaan penggunaan internet, gadget, dan media sosial.
Result & Discussion
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yaitu peneliti menggunakan prosedur statistik untuk menganalisis kemampuan literasi digital moderasi beragama mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa strata satu. Berdasarkan data yang diambil dari website PDDIKTI “Pangkalan Data Pendidikan Tinggi,” Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (blog), 2024, https://pddikti.kemdikbud.go.id/., jumlah mahasiswa strata satu UIN K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto adalah 14.988 orang yang kemudian digenapkan menjadi 15.000 orang. Penentuan jumlah sampel berdasarkan Tabel penetuan sampel yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael10, yaitu sebagai berikut: Tabel 1. Penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu dengan taraf kesalahan 1%, 5%, dan 10 % N s 1% 5% 10% 7000 606 332 261 8000 613 335 263 9000 618 335 263 10000 622 336 263 15000 635 340 266 Sumber: Isaac dan Michael11 Berdasarakan tabel di atas, peneliti mengambil sampel dengan taraf kesalahan 10%, sehingga sampel yang diambil adalah 266 mahasiswa. Keputusan tersebut diambil berdasarkan pertimbangan aspek tenaga dan waktu peneliti. Pengumpulan data menggunakan metode survei yaitu menggunakan angket yang telah disusun menggunakan teori yang dicetuskan oleh Hobbs, terdiri dari 5 kompetensi dasar literasi digital dan media. Skor penilaian angket pada penelitian ini menggunakan skala likert 1-5. Skala Likert adalah pernyataan yang menunjukkan tingkat kesetujuan atau ketidaksetujuan responden12 . Adapun rincian dari skala likert yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 1 (Sangat Tidak setuju), 2 (Tidak setuju), 3 (Nertral), 4 (Setuju), dan 5 (Sangat Setuju). Tabel 2. Kisi-kisi Angket Literasi Digital Moderasi Beragama Variabel Indikator Butir Pernyataan Literasi Digital Moderasi Beragama Kemampuan menggunakan teks, alat, dan teknologi untuk mengakses informasi. A1, A2, A3, A4 Kecakapan dalam berpikir kritis, menganalisis, dan mengevaluasi informasi. B1, B2, B3, B4, B5 Kemampuan mengkomposisikan pesan dalam praktik yang kreatif. C1, C2, C3, C4 Kemampuan untuk berefleksi dan berpikir etis. D1, D2, D3, D4 Berpartisipasi aktif dalam aksi sosial baik secara individual ataupun melalui usaha E1, E2, E3, E4 kolaborasi dengan berbagai pihak. Sumber: Hasil olahan peneliti, 2024 Uji validitas dalam penelitian ini dilakukan untuk memastikan bahwa instrumen yang digunakan benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur. Proses uji validitas melibatkan perbandingan antara nilai r hitung (koefisien korelasi hasil pengujian) dengan r tabel pada tingkat signifikansi 5% dengan derajat kebebasan (df) sebesar 264 (266-2). Jika nilai r hitung lebih besar dari r tabel, maka item tersebut dianggap valid. Sebaliknya, jika nilai r hitung lebih kecil dari r tabel, item tersebut dianggap tidak valid. Dengan demikian, uji validitas ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap item dalam instrumen penelitian memiliki korelasi yang signifikan dan dapat diandalkan untuk mengukur literasi digital moderasi beragama pada mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Tabel 3. Validitas Angket Variabel Indikator R Hitung R Tabel Sig 5% (df=266-2) Keterangan Literasi Digital Moderasi Beragama A1 0.621 0.120 Valid A2 0.628 0.120 Valid A3 0.626 0.120 Valid A4 0.667 0.120 Valid B1 0.676 0.120 Valid B2 0.699 0.120 Valid B3 0.713 0.120 Valid B4 0.687 0.120 Valid B5 0.686 0.120 Valid C1 0.659 0.120 Valid C2 0.699 0.120 Valid C3 0.719 0.120 Valid C4 0.721 0.120 Valid D1 0.695 0.120 Valid D2 0.712 0.120 Valid D3 0.712 0.120 Valid D4 0.695 0.120 Valid E1 0.531 0.120 Valid E2 0.567 0.120 Valid E3 0.647 0.120 Valid E4 0.654 0.120 Valid Sumber: Data Olahan SPSS, 2024 Berdasarkan hasil uji validitas yang ditampilkan dalam Tabel 3. Uji validitas di atas, dapat diketahui bahwa semua indikator variabel memiliki nilai r hitung yang lebih besar dari r tabel pada tingkat signifikansi 5% dengan derajat kebebasan (df) sebesar 264, yaitu 0.12. Sebagai contoh, indikator A1 memiliki nilai r hitung sebesar 0.621, yang jauh lebih besar dari r tabel 0.12, sehingga indikator ini dinyatakan valid. Dengan demikian, semua item dalam instrumen penelitian ini telah memenuhi kriteria validitas yang ditetapkan. Uji reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan untuk memastikan konsistensi internal dari instrumen yang digunakan, yaitu sejauh mana item-item dalam instrumen tersebut menghasilkan konsistensi ketika diulang pada kondisi yang sama. Nilai Alpha Cronbach berkisar antara 0 hingga 1, dengan nilai yang lebih tinggi menunjukkan reliabilitas yang lebih baik. Secara umum, nilai Alpha Cronbach di atas 0.70 dianggap memadai untuk menunjukkan bahwa instrumen tersebut reliabel. Dengan demikian, uji reliabilitas ini bertujuan untuk memastikan bahwa instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur literasi digital moderasi beragama pada mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto memiliki konsistensi internal yang tinggi dan dapat diandalkan. Tabel 4. Uji Reliabilitas Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .937 21 Sumber: Data Olahan SPSS, 2024 Berdasarkan hasil uji reliabilitas yang ditampilkan dalam Tabel 4., nilai Alpha Cronbach untuk instrumen literasi digital moderasi beragama adalah 0.937 dengan jumlah item sebanyak 21. Nilai ini jauh di atas ambang batas yang umum digunakan, yaitu 0.70, yang menunjukkan bahwa instrumen ini memiliki tingkat reliabilitas yang sangat tinggi. Interpretasi ini menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian ini sangat reliabel, hal tersebut menandakan bahwa data yang dikumpulkan dari mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto mengenai literasi digital moderasi beragama dapat dipercaya dan konsisten. Penelitian ini hanya memiliki satu variabel, sehingga untuk menentukan pencapaian jawaban responden menggunakan rumus berikut: TCR = x 100 Sudjana dalam Ririen & Daryanes (2022)13, mengemukakan bahwa Kriteria Tingkat Capaian Responden (TCR) menggunakan kriteria berikut: Tabel 5. Tingkat Capaian Responden Tingkat Capaian Responden (TCR) Kriteria 90-100% Sangat Baik 80-89% Baik 65-79% Cukup 55-65% Kurang 0-54% Kurang Sekali Sumber: Ririen & Daryanes (2022) HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Hasil penelitian didapat dari pengolahan data 266 responden. Karakteristik responden pada penelitian literasi digital moderasi beragama mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto dapat dipaparkan pada tabel berikut: Tabel 6. Karakteristik Responden Karakteristik Frekuensi Persentase Fakultas FAKDA 32 12% FASYA 62 23.3% FEBI 118 44.4% FTIK 10 3.8% FUAH 44 16.5% Jurusan S1 – Arsitektur 1 0.4% S1 - Hukum Keluarga Islam 61 22.9% S1 - Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir 14 5.3% S1 - Manajemen Dakwah 32 12% S1 - Manajemen Zakat dan Wakaf 47 17.7% S1 - Pendidikan Agama Islam 1 0.4% S1 - Pendidikan Bahasa Arab 2 0.8% S1 - Perbandingan Madzhab 1 0.4% S1 - Perbankan Syariah S1 - Perpustakaan dan Sains Informasi S1 - Sejarah Peradaban Islam S1 - Studi Agama Agama S1 - Tadris Bahasa Inggris 70 18 11 1 7 26.3% 6.8% 4.1% 0.4% 2.6% Semester 2 4 6 8 27 219 15 5 10.2% 82.3% 5.6% 1.9% Sumber: Data Olahan Angket, 2024 Berdasarkan Tabel 6. karakteristik responden, dapat dilihat bahwa mayoritas responden berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dengan frekuensi 118 responden atau 44.4% dari total responden. Fakultas Syariah (FASYA) menempati posisi kedua dengan 62 responden atau 23.3%, diikuti oleh Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH) dengan 44 responden atau 16.5%. Fakultas Dakwah (FAKDA) memiliki 32 responden atau 12%, sementara Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) memiliki jumlah responden paling sedikit, yaitu 10 responden atau 3.8%. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian ini melibatkan berbagai fakultas dengan proporsi terbesar dari FEBI. Dari segi jurusan, mayoritas responden berasal dari jurusan S1 Perbankan Syariah dengan 70 responden atau 26.3%, diikuti oleh S1 Hukum Keluarga Islam dengan 61 responden atau 22.9%, dan S1 Manajemen Zakat dan Wakaf dengan 47 responden atau 17.7%. Jurusan lainnya memiliki jumlah responden yang lebih sedikit, seperti S1 Manajemen Dakwah dengan 32 responden atau 12%, dan S1 Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir dengan 14 responden atau 5.3%. Dari segi semester, mayoritas responden berada di semester 4 dengan 219 responden atau 82.3%, diikuti oleh semester 2 dengan 27 responden atau 10.2%, semester 6 dengan 15 responden atau 5.6%, dan semester 8 dengan 5 responden atau 1.9%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada tahap tengah studi mereka, yang mungkin memiliki pemahaman yang lebih baik tentang literasi digital moderasi beragama, karena telah mendapatkan mata kuliah literasi media dan literasi digital sebagai mata kuliah fakultas. Hasil olah data statistik deskriptif menunjukkan tingkat literasi digital moderasi beragama mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwoketo sebagai berikut: Tabel 7. Tabel Tingkat Literasi Digital Moderasi Beragama No Pernyataan Mean TCR Keterangan 1 2 3 4 5 Kemampuan menggunakan teks, alat, dan teknologi untuk mengakses informasi Kecakapan dalam berpikir kritis, menganalisis, dan mengevaluasi informasi moderasi beragama. Kemampuan mengkomposisikan pesan dalam praktik yang kreatif. Kemampuan untuk berefleksi dan berpikir etis. Berpartisipasi aktif dalam aksi sosial baik secara individual ataupun melalui usaha kolaborasi dengan berbagai pihak. 3.82 3.93 3.82 3.82 3.82 76% 79% 65% 76% 66% Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Mean 3.84 72% Cukup Sumber: Data Olahan Angket, 2024 Berdasarkan Tabel 7. tingkat literasi digital moderasi beragama dapat dilihat bahwa rata-rata nilai mean dari semua pernyataan adalah 3.84 dengan Tingkat Capaian Responden (TCR) sebesar 72%, yang dikategorikan sebagai "Cukup". Pernyataan pertama tentang kemampuan menggunakan teks, alat, dan teknologi untuk mengakses informasi memiliki nilai mean 3,82 dengan TCR 76% dapat dikategorikan “Cukup”. Pernyataan kedua mengenai kemampuan menggunakan teks, alat, dan teknologi untuk mengakses informasi memiliki nilai mean 3.82 dan TCR 76%, kecakapan dalam berpikir kritis, menganalisis, dan mengevaluasi informasi moderasi beragama memiliki nilai mean tertinggi yaitu 3.93 dengan TCR 79%, yang juga dikategorikan sebagai "Cukup". Pernyataan ketiga hingga kelima, mencakup kemampuan mengkomposisikan pesan dalam praktik yang kreatif, kemampuan untuk berefleksi dan berpikir etis, serta partisipasi aktif dalam aksi sosial, semuanya memiliki nilai mean 3.82 dengan TCR masing masing 65%, 76%, dan 66%, yang juga dikategorikan sebagai "Cukup". Tabel 8. Pernyataan Kemampuan menggunakan teks, alat, dan teknologi untuk mengakses informasi No Pernyataan Mean Persentase Keterangan 1 Kemampuan menggunakan perangkat elektronik (seperti smartphone, laptop, atau tablet) untuk akses informasi "moderasi beragama". 3.83 77% Cukup 2 Kemampuan menemukan informasi “moderasi beragama” di internet dengan mudah. 4.10 82% Baik 3 Kemampuan akses konten video tentang ”moderasi beragama” melalui perangkat digital. 3.60 72% Cukup 4 Kemampuan mencari informasi “moderasi beragama” dengan kata kunci yang saya input di platform digital. 3.73 75% Cukup Rata-rata 3.82 76% Cukup Sumber: Data Olahan Angket, 2024 Pada Table 8. pernyataan mengenai kemampuan menggunakan teks, alat, dan teknologi untuk mengakses informasi, dapat dilihat bahwa rata rata nilai mean dari semua pernyataan adalah 3.82 dengan persentase 76%, yang dikategorikan sebagai "Cukup". Tabel 9. Pernyataan Kecakapan dalam berpikir kritis, menganalisis, dan mengevaluasi informasi moderasi beragama No Pernyataan Mean Persentase Keterangan 1 Kemampuan mengidentifikasi dan membedakan antara konten yang berimbang (bermanfaat dan mendidik) dan konten yang bias (menyimpang). 4.09 82% Baik 2 Kemampuan menyikapi dengan bijak konten yang memicu emosi negatif saat menjelajahi internet. 4.04 81% Baik 3 Kemampuan memahami perspektif yang berbeda dalam suatu kontroversi atau isu “moderasi beragama” yang ada di internet. 3.75 75% Cukup 4 Kemampuan mendapatkan 4.04 81% Baik pengetahuan baru pada media digital tentang “moderasi beragama” 5 Kemampuan menganalisis konten “moderasi beragama” dari berbagai sudut pandang. 3.71 74% Cukup Rata-rata 3.93 79% Cukup Sumber: Data Olahan Angket, 2024 Hasil olah data pada Tabel 9. mengenai kecakapan dalam berpikir kritis, menganalisis, dan mengevaluasi informasi moderasi beragama, dapat dilihat bahwa rata-rata nilai mean dari semua pernnyataan adalah 3.93 dengan persentase 79%, yang dikategorikan sebagai "Cukup". Tabel 10. Pernyataan Kemampuan mengkomposisikan pesan dalam praktik yang kreatif No Pernyataan Mean Persentase Keterangan 1 Kemampuan membuat konten “moderasi beragama” yang menarik dan mudah dipahami. 3.06 61% Kurang 2 Kemampuan memiliki pengetahuan yang cukup tentang penggunaan efek visual (seperti warna, layout, dan font) untuk memperkuat pesan konten “moderasi beragama” yang saya bagikan. 3.21 64% Kurang 3 Kemampuan memiliki percaya diri dalam menghadirkan pesan “moderasi beragama” di lingkungan digital. 3.30 66% Cukup 4 Memiliki kemampuan rencana atau ide untuk mengembangkan konten-konten kreatif tentang moderasi beragama yang dapat menarik perhatian dan memberikan dampak positif di dunia digital. 3.37 67% Cukup Rata-rata 3.82 65% Cukup Pada Tabel 10. pernyataan mengenai kemampuan mengkomposisikan pesan dalam praktik yang kreatif, dapat dilihat bahwa rata-rata nilai mean dari semua pernyataan adalah 3.82 dengan persentase 65%, yang dikategorikan sebagai "Cukup". Tabel 11. Pernyataan kemampuan untuk berefleksi dan berpikir etis No Pernyataan Mean Persentase Keterangan 1 2 3 4 Memiliki kemampuan mencari informasi yang akurat, kredibiltas sumber, dan potensi dampaknya pada berbagai kelompok agama sebelum membagikan artikel atau video terkait agama di media sosial. Kemampuan evaluasi jejak digital, termasuk komentar dan posting yang saya buat terkait isu-isu agama, sehingga lebih berhati-hati dalam komunikasi digital di masa depan. Kemampuan dalam menghadapi situasi yang membutuhkan keputusan etis terkait isu-isu keagamaan di dunia digital. Kemampuan menghadapi dengan bijak komentar yang provokatif atau diskriminatif terhadap kelompok agama tertentu di platform digital. 3.89 3.92 3.58 3.79 78% 78% 72% 76% Cukup Cukup Cukup Cukup Rata-rata 3.82 76% Cukup Sumber: Data Olahan Angket, 2024 Pada Tabel 11. dapat diketahui bahwa pernyataan mengenai kemampuan untuk berefleksi dan berpikir etis, dapat dilihat bahwa rata-rata nilai mean dari semua pernyataan adalah 3.82 dengan persentase 76%, yang dikategorikan sebagai "Cukup abel 12. Pernyataan berpartisipasi aktif dalam aksi sosial baik secara individual ataupun melalui usaha kolaborasi dengan berbagai pihak No Pernyataan Mean Persentase Keterangan Keterlibatan kegiatan atau aksi sosial yang 1 bertujuan untuk mempromosikan moderasi dan dialog antaragama melalui konten media. 2 3 4 Kemampuan untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk organisasi agama, lembaga pemerintah, dan masyarakat sipil, dalam upaya moderasi beragama. Kemampuan memperkuat memanfaatkan platform digital atau media sosial untuk menyebarkan informasi, pendapat, atau pesan yang mendukung nilai-nilai moderasi beragama. Memiliki ide atau rencana untuk meningkatkan efektivitas aksi sosial dalam mempromosikan moderasi beragama di masa depan. Rata-rata 2.97 3.21 3.52 3.44 59% 64% 70% 69% Kurang Kurang Cukup Cukup 3.82 66% Cukup Sumber: Data Olahan Angket, 2024 Tabel 12. menunjukkan bahwa pernyataan mengenai partisipasi aktif dalam aksi sosial baik secara individual maupun melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, dapat dilihat bahwa rata-rata nilai mean dari semua pernyataan adalah 3.82 dengan persentase 66%, yang dikategorikan sebagai "Cukup". B. Pembahasan Penelitian Tingkat Literasi Digital Moderasi Beragama Berdasarkan Tabel 7. Pernyataan pertama menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kemampuan yang cukup baik dalam menggunakan teknologi untuk mengakses informasi terkait moderasi beragama. Hal ini penting karena akses informasi yang tepat merupakan dasar dari literasi digital yang efektif. Literasi tersebut bukan hanya untuk keperluan mereka selama mengikuti perkuliahan, tetapi untuk diaplikasikan pada saat mereka bertugas di lapangan14. Pernyataan kedua mengenai. ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kemampuan yang cukup dalam berpikir kritis dan mengevaluasi informasi yang mereka terima, yang merupakan komponen penting dalam literasi digital. Kemampuan ini memungkinkan mereka untuk menyaring informasi yang valid dan relevan, serta menghindari informasi yang menyesatkan atau tidak akurat. Hal ini sejalan dengan pedapat Mudjianto & Dunan, bahwa sumber informasi dari media harus terverifikasi kevalidannya sebelum informasi itu dijadikan berita dan dikonsumsi publik luas15. Pernyataan ketiga hingga kelima, ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kemampuan yang cukup dalam mengkomunikasikan ide-ide mereka secara kreatif, berpikir etis, dan berpartisipasi dalam aksi sosial. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa literasi digital mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto dalam konteks moderasi beragama berada pada tingkat yang cukup, namun masih ada ruang untuk peningkatan, terutama dalam strategi yang efektif dalam mengkomposisikan pesan sehingga dapat diterima dengan jelas oleh khalayak16. Berikut pembahasan lima indikator tingkat literasi digital moderasi beragama mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto: a. Kemampuan menggunakan teks, alat, dan teknologi untuk mengakses informasi Berdasarkan Tabel 8. Pernyataan pertama terkait frekuensi penggunaan perangkat elektronik untuk mengakses informasi "moderasi beragama" memiliki nilai mean 3.83 dan persentase 77%, yang menunjukkan bahwa mahasiswa cukup sering menggunakan perangkat elektronik seperti smartphone, laptop, atau tablet untuk mengakses informasi terkait moderasi beragama. Ini menunjukkan bahwa perangkat elektronik merupakan alat yang cukup sering digunakan oleh mahasiswa untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Bahkan gadget paling banyak digunakan masyarakat untuk mengakses media sosial17. Pernyataan kedua terkait kemudahan menemukan informasi "moderasi beragama" di internet memiliki nilai mean tertinggi yaitu 4.10 dengan persentase 82%, yang dikategorikan sebagai "Baik". Ini menunjukkan bahwa mahasiswa merasa cukup mudah untuk menemukan informasi terkait moderasi beragama di internet. Era globalisasi informasi sekarang, tidak bisa dipungkiri bahwa akses terhadap berbagi sumber informasi menjadi begitu luas dan mudah18. Sehingga memungkinkan mahasiswa untuk mendapatkan informasi yang relevan dan akurat. Pernyataan ketiga dan keempat, yang mencakup frekuensi mengakses konten video tentang moderasi beragama dan kemampuan mencari informasi dengan kata kunci di platform digital, memiliki nilai mean masing-masing 3.60 dan 3.73 dengan persentase 72% dan 75%, yang dikategorikan sebagai "Cukup". Ini menunjukkan bahwa mahasiswa cukup sering mengakses konten video terkait moderasi beragama dan memiliki kemampuan yang cukup dalam mencari informasi dengan kata kunci di platform digital. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto memiliki kemampuan yang cukup dalam menggunakan teks, alat, dan teknologi untuk mengakses informasi terkait moderasi beragama. Literasi dapat menjadi senjata yang penting dalam menghindari dan mengkritisi isu-isu yang mengadung radikalisme dalam platform digital19. b. Kecakapan dalam berpikir kritis, menganalisis, dan mengevaluasi informasi moderasi beragama. Berdasarkan Tabel 9. pernyataan pertama mengenai kemampuan mengidentifikasi dan membedakan antara konten yang berimbang dan konten yang bias memiliki nilai mean 4.09 dan persentase 82%, yang dikategorikan sebagai "Baik". Ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kemampuan yang baik dalam mengenali konten yang bermanfaat dan mendidik dibandingkan dengan konten yang menyimpang atau bias, yang merupakan aspek penting dalam literasi digital20. Pernyataan kedua dan keempat, yang mencakup kemampuan menyikapi konten yang memicu emosi negatif dan pengetahuan baru yang diperoleh dari konten digital tentang moderasi beragama, masing masing memiliki nilai mean 4.04 dengan persentase 81%, yang juga dikategorikan sebagai "Baik". Ini menunjukkan bahwa mahasiswa mampu menyikapi konten yang memicu emosi negatif dengan bijak dan mendapatkan pengetahuan baru dari konten digital tentang moderasi beragama. Moderasi dalam beragama memiliki dua prinsip dasar, yaitu keseimbangan (balance) dan berlaku adil (justice) 21 . Pernyataan ketiga dan kelima, yang mencakup pemahaman perspektif yang berbeda dalam suatu kontroversi atau isu moderasi beragama dan kemampuan menganalisis konten dari berbagai sudut pandang, memiliki nilai mean masing-masing 3.75 dan 3.71 dengan persentase 75% dan 74%, yang dikategorikan sebagai "Cukup". Menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kemampuan yang cukup dalam memahami perspektif yang berbeda. Memiliki sikap positif terhadap perbedaan sehingga mampu membawa individu-individu ke dalam komunitas dan membawa komunitas ke dalam masyarakat dunia yang lebih luas22. Masih ada ruang untuk peningkatan literasi digital dalam hal pemahaman perspektif yang berbeda, hal tersebut dikarenakan banyak pemberitaan di media yang dapat mempengaruhi persepsi dan pemahaman masyarakat, serta memperkuat sudut pandang tertentu yang dapat memicu polarisasi dan ketegangan c. Kemampuan mengkomposisikan pesan dalam praktik yang kreatif Berdasarkan Tabel 10. Pernyataan pertama mengenai kemampuan membuat konten "moderasi beragama" yang menarik dan mudah dipahami memiliki nilai mean 3.06 dan persentase 61%, yang dikategorikan sebagai "Kurang". Ini menunjukkan bahwa mahasiswa merasa kurang mampu dalam membuat konten yang menarik dan mudah dipahami terkait moderasi beragama. Kemampuan ini penting untuk menyampaikan pesan secara efektif dan menarik minat audiens. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dinata (2021), bahwa mahasiswa masih kesulitan menyajikan konten yang menarik menggunakan beberapa aplikasi24. Pernyataan kedua mengenai pengetahuan tentang penggunaan efek visual untuk memperkuat pesan konten "moderasi beragama" memiliki nilai mean 3.21 dengan persentase 64%, yang juga dikategorikan sebagai "Kurang". Ini menunjukkan bahwa mahasiswa merasa kurang memiliki pengetahuan tentang penggunaan efek visual yang dapat memperkuat pesan konten yang mereka bagikan. Hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Suhardiman dan Muhammad Kamaluddin, bahwa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon membuat konten di aplikasi TikTok dengan tema keagamaan dengan penggabuangan foto dan musik sehingga konten tersebut dapat bermanfaat dan menarik khalayak untuk mengaksesnya25. Pernyataan ketiga dan keempat, yang mencakup rasa percaya diri dalam menghadirkan pesan "moderasi beragama" di lingkungan digital dan rencana atau ide untuk mengembangkan konten-konten kreatif, memiliki nilai mean masing-masing 3.30 dan 3.37 dengan persentase 66% dan 67%, yang dikategorikan sebagai "Cukup". Ini menunjukkan bahwa mahasiswa cukup percaya diri dalam menyampaikan pesan moderasi beragama di lingkungan digital dan memiliki rencana atau ide untuk mengembangkan konten-konten kreatif yang dapat menarik perhatian dan memberikan dampak positif26. Karakteristik media sosial ini memungkinkan pengguna internet menjadi produser pesan sehingga membuka kemungkinan kemunculan beragam pesan yang memuat beragam ideologi dan nilai-nilai, Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto memiliki kemampuan yang cukup dalam mengkomposisikan pesan dalam praktik yang kreatif, meskipun masih ada ruang untuk peningkatan, terutama dalam hal membuat konten yang menarik dan mudah dipahami serta pengetahuan tentang penggunaan efek visual. d. Berpartisipasi aktif dalam aksi sosial baik secara individual ataupun melalui usaha kolaborasi dengan berbagai pihak Berdasarkan Tabel 11. Pernyataan pertama mengenai mempertimbangkan keakuratan informasi, kredibilitas sumber, dan potensi dampaknya pada berbagai kelompok agama sebelum membagikan artikel atau video terkait agama di media sosial memiliki nilai mean 3.89 dan persentase 78%, yang dikategorikan sebagai "Cukup". Ini menunjukkan bahwa mahasiswa cukup mempertimbangkan aspek-aspek tersebut sebelum membagikan informasi terkait agama di media sosial, yang penting untuk menjaga keakuratan dan kredibilitas informasi. Seorang kreator juga memiliki komitmen memproduksi konten berkualitas dengan narasi sehat bagi khalayak27. Pernyataan kedua mengenai mengevaluasi jejak digital, termasuk komentar dan posting yang dibuat terkait isu-isu agama, memiliki nilai mean 3.92 dengan persentase 78%, yang juga dikategorikan sebagai "Cukup". Ini menunjukkan bahwa mahasiswa cukup memperhatikan jejak digital mereka dan mengevaluasi dampaknya pada komunikasi digital di masa depan. Kemampuan ini penting untuk menjaga reputasi dan integritas diri di dunia digital. Karena manusia dituntut tidak hanya mahir dalam menggunakan internet, melainkan memiliki tanggung jawab Pernyataan ketiga dan keempat, yang mencakup kemampuan menghadapi situasi yang membutuhkan keputusan etis terkait isu-isu keagamaan di dunia digital dan menghadapi komentar yang provokatif atau diskriminatif terhadap kelompok agama tertentu di platform digital, memiliki nilai mean masing-masing 3.58 dan 3.79 dengan persentase 72% dan 76%, yang dikategorikan sebagai "Cukup". Ini menunjukkan bahwa mahasiswa cukup mampu menghadapi situasi yang membutuhkan keputusan etis dan menghadapi komentar yang provokatif atau diskriminatif dengan bijak. Berdakwah dengan media sosial harus memperhatikan etika dan norma-norma ber-medsos29. e. Berpartisipasi aktif dalam aksi sosial baik secara individual ataupun melalui usaha kolaborasi dengan berbagai pihak Berdasarkan Tabel 12. pernyataan pertama mengenai keterlibatan dalam kegiatan atau aksi sosial yang bertujuan untuk mempromosikan moderasi dan dialog antaragama melalui konten media memiliki nilai mean 2.97 dan persentase 59%, yang dikategorikan sebagai "Kurang". Ini menunjukkan bahwa mahasiswa merasa kurang terlibat dalam kegiatan atau aksi sosial semacam ini. Partisipasi aktif dalam aksi sosial penting untuk mempromosikan moderasi beragama secara nyata. Hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zikra (2023), bahwa organisasi di UIN Ar-Raniry sangat kompak dalam melakukan kolaborasi dalam kegiatan sosialisasi moderasi beragama30. Pernyataan kedua mengenai kemampuan berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam upaya memperkuat moderasi beragama memiliki nilai mean 3.21 dengan persentase 64%, yang juga dikategorikan sebagai "Kurang". Ini menunjukkan bahwa mahasiswa merasa kurang mampu dalam berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait. Kemampuan berkolaborasi penting untuk menciptakan dampak yang lebih besar dalam mempromosikan moderasi beragama. Hal tersebut tidak sejalan dengan Kemeterian Agama yang akhir-akhir ini aktif mempromosikan pengarusutamaan moderasi beragama31. Pernyataan ketiga dan keempat, yang mencakup pemanfaatan platform digital atau media sosial untuk menyebarkan informasi, pendapat, atau pesan yang mendukung nilai-nilai moderasi beragama dan memiliki ide atau rencana untuk meningkatkan efektivitas aksi sosial di masa depan, memiliki nilai mean masing-masing 3.52 dan 3.44 dengan persentase 70% dan 69%, yang dikategorikan sebagai "Cukup". Ini menunjukkan bahwa mahasiswa cukup sering memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan pesan moderasi beragama dan memiliki ide atau rencana untuk meningkatkan efektivitas aksi sosial di masa depan. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto memiliki partisipasi yang cukup aktif dalam aksi sosial, meskipun masih ada ruang untuk peningkatan, terutama dalam hal keterlibatan langsung dalam kegiatan atau aksi sosial dan kemampuan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghindari sifat inkludif. Shihab berpendapat bahwa konsep islam inklusif adalah tidak sebatas pengakuan namun harus diaktualisasikan dalam bentuk keterlibatan aktif dengan memberikan ruang keragaman pemikiran, pemahaman dan persepsi keislaman
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa literasi digital moderasi beragama pada mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menunjukkan mahasiswa memiliki kemampuan yang cukup dalam berbagai aspek literasi digital, masih ada ruang untuk peningkatan, terutama dalam hal kreativitas dalam mengkomposisikan pesan, partisipasi aktif dalam aksi sosial, dan kemampuan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan strategi pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan literasi digital moderasi beragama melalui kurikulum perkuliahan dan Pusat Kajian Moderasi Beragama dan Pancasila di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto dapat lebih giat dalam melakukan sosialisasi kepada mahasiswa dalam bentuk literasi digital moderasi beragama.