Persepsi pustakawan terhadap efektivitas implementasi INLISLite versi 3.1 di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin
Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang; Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang; Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang
Abstrak
Tujuan Penelitian ini adalah untuk menganalisis penggunaan sistem INLISLite Versi 3.1 di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan studi kasus yang melibatkan partisipan berupa pustakawan dan staf perpustakaan yang menggunakan sistem INLISLite Versi 3.1 . Penelitian ini menggunakan tiga cara utama untuk mengumpulkan data, yaitu dengan mengamati langsung, melakukan wawancara, dan dokumentasi. Setelah data terkumpul, data tersebut akan diolah melalui beberapa tahap menggunakan teknik analisis data, yaitu reduksi data, penyajian data, verifikasi. Untuk memastikan hasil penelitian dapat dipercaya, dilakukan uji keabsahan data dengan menggunakan empat kriteria, yaitu kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa INLISLite Versi 3.1 telah membantu dalam pengelolaan bahan pustaka, khususnya dalam proses entri data buku, layanan sirkulasi, layanan keanggotaan, pelaporan data perpustakaan, dan sebagainya. Meskipun demikian, ditemukan beberapa kendala seperti INLISLite masih sangat bergantung pada koneksi Wi-Fi yang seringkali tidak stabil, yang menyebabkan sistem tidak dapat berfungsi optimal. Masalah teknis yang muncul seringkali harus dilaporkan ke Perpustakaan Nasional, yang kemudian memerlukan pembaruan sistem yang memakan waktu dan mengganggu pelayanan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa INLISLite Versi 3.1 memberikan manfaat signifikan dalam meningkatkan efisiensi layanan perpustakaan, namun untuk mencapai hasil optimal, diperlukan peningkatan dalam pelatihan staf dan perbaikan teknis sistem.
Abstract
The purpose of this study was to analyse the use of the INLISLite Version 3.1 system at the Banyuasin Regency Library and Archives Office. The method used was a descriptive qualitative approach with a case study involving participants in the form of librarians and library staff who use the INLISLite Version 3.1 system. This research uses three main ways to collect data, namely by direct observation, conducting interviews, and documentation. After the data is collected, it will be processed through several stages using data analysis techniques, namely data reduction, data presentation, verification. To ensure the results of the research can be trusted, data validity testing is carried out using four criteria, namely credibility, transferability, dependability, and confirmability. The results showed that INLISLite Version 3.1 has helped in the management of library materials, especially in the process of book data entry, circulation services, membership services, library data reporting, and so on. Nevertheless, there are some obstacles such as INLISLite is still very dependent on Wi-Fi connections that are often unstable, which causes the system to not function optimally. Technical problems that arise often have to be reported to the National Library, which then requires timeconsuming system updates and disrupts services. The conclusion of this study is that INLISLite Version 3.1 provides significant benefits in improving the efficiency of library services, but to achieve optimal results, improvements in staff training and technical improvements to the system are needed.
Keywords:
INLISLite
· Library Automation
· Library Services
Introduction
Perpustakaan umum di Indonesia memiliki peran penting dalam menyediakan akses informasi dan mendukung upaya pendidikan sepanjang hayat. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, perpustakaan dapat diakses oleh siapa saja diselenggarakan oleh berbagai level pemerintahan maupun masyarakat, dengan tujuan melestarikan budaya daerah dan membangun budaya masyarakat belajar seumur hidup. Undang-Undang ini juga mengamanatkan pengembangan sistem yang memfasilitasi akses dan pengelolaan koleksi perpustakaan secara digital untuk meningkatkan efisiensi serta aksesibilitas layanan perpustakaan (Moruk 2019). Menurut (Suharso, Arifiyana, dan Wasdiana 2020), perpustakaan berperan sebagai pusat pengetahuan dan menyediakan beragam sumber informasi untuk memenuhi kebutuhan akademis, penelitian, atau sekadar mencari hiburan bagi para pemustakanya. Komitmen perpustakaan adalah memastikan setiap pengunjung mendapatkan layanan informasi yang relevan dan sesuai dengan yang pemustaka butuhkan. Sebagai pusat sumber informasi, perpustakaan diidentifikasi dengan layanannya, yang menjadi inti dari kegiatan perpustakaan yang secara langsung terhubung dengan pemustakanya. Dalam konteks perkembangan teknologi saat ini, perpustakaan mengadopsi sistem informasi yang dapat memudahkan pengunjung dan petugas perpustakaan untuk mencari koleksi buku. Peran sistem informasi dalam perpustakaan dianggap sangat penting untuk menunjang operasional yang efisien. Dengan adanya sistem informasi saat ini selain memberikan dampak positif pada perpustakaan,tetapi juga bermanfaat bagi petugas perpustakaan dan masyarakat pengguna (Rahmanto dkk. 2022). Secara keseluruhan, penggunaan teknologi informasi dalam pengelolaan perpustakaan merupakan langkah strategis yang signifikan dalam rangka mencapai operasional yang lebih efektif dan efisien. Ini juga berkontribusi pada peningkatan kualitas layanan, yang pada akhirnya mendukung pencapaian tujuan perpustakaan sebagai pusat sumber informasi dan pendidikan masyarakat. Teknologi informasi, dalam hal ini, selain berfungsi sebagai alat bantu, melainkan juga berfungsi sebagai komponen kunci dalam modernisasi dan pengembangan perpustakaan untuk memenuhi tuntutan dan ekspektasi pemustaka di era digital. Menurut MacKellar dalam (Putri dkk. 2023), dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi di perpustakaan terdapat berbagai macam manfaat, antara lain mempermudah pengguna dalam melakukan proses temu balik informasi yang mereka butuhkan, memungkinkan dalam menelusur koleksi buku tanpa batasan ruang dan jarak, meningkatkan layanan informasi, mempermudah pembaharuan informasi bibliografi koleksi buku, dan meningkatkan citra perpustakaan oleh karena itu jumlah kunjungan dan manfaat bahan pustaka meningkat. Pengelolaan perpustakaan berbasis sistem otomatisasi bertujuan untuk mengembangkan hasil penelitian sebelumnya, membahas tidak hanya tampilan sistem otomatisasi, terutama pada bagian OPAC, tetapi juga menjelaskan perangkat pendukung, organisasi/pengelolaan sistem otomatisasi, pengawasan, serta kendala dan peluang yang muncul dalam konteks perpustakaan. Integrated Library System (INLISLite) menjadi salah satu aplikasi perangkat lunak pengelolaan perpustakaan yang terintegrasi serta berbasis open source yang dikembangkan oleh Perpustakaan Nasional RI (Sudrajat 2019). Secara keseluruhan, penerapan teknologi informasi dan sistem otomatisasi dalam perpustakaan berperan penting dalam mengoptimalkan operasional perpustakaan dan meningkatkan layanan kepada pemustaka. Teknologi ini memungkinkan perpustakaan perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman sekaligus menyajikan layanan yang lebih efektif, efisien, dan responsif terhadap kebutuhan pengguna. INLISLite, sebagai salah satu contoh pemanfaatan teknologi digital di perpustakaan, membuktikan kemampuannya dalam mendukung pengelolaan perpustakaan yang lebih baik dan lebih terintegrasi. Mengenai hal ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin memilih menggunakan INLISLite untuk memenuhi kebutuhan perpustakaannya. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin adalah perpustakaan umum di bawah lembaga pemerintah yang memberikan layanan informasi dan kearsipan Kabupaten Banyuasin. Berdasarkan hasil wawancara, pustakawan mengungkapkan bahwa penerapan INLISLite dimulai sejak tahun 2018, sebelumnya mereka menggunakan DigitalPusi yang dibuat oleh Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Selatan dalam mengolah bahan pustaka hingga saat ini masih menggunakan INLISLite versi 3.1. Masalah penelitian ini difokuskan pada pertanyaan mendasar “Bagaimana persepsi pustakawan terhadap implementasi INLISLite versi 3.1 di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin?” Pertanyaan ini bakal membimbing seluruh penelitian untuk merinci dan mengevaluasi setiap aspek kinerja sistem informasi perpustakaan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan harapan pustakawan. Dalam menghadapi tuntutan pengguna dan perkembangan teknologi, diharapkan penelitian ini dapat menjadi manfaat berupa wawasan yang menyeluruh tentang efektivitas sistem otomasi perpustakaan INLISLite versi 3.1. Temuan dari analisis ini diharapkan agar dijadikan landasan untuk melakukan pengembangan lebih lanjut dalam upaya meningkatkan kinerja sistem informasi perpustakaan, sehingga dapat memenuhi harapan pengguna, terutama pustakawan, dalam menyediakan layanan perpustakaan yang optimal. B. TINJAUAN PUSTAKA Definisi Otomasi Perpustakaan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), otomasi atau pengotomasian berarti menggantikan tenaga manusia dengan teknologi atau mesin yang dapat bekerja dan mengatur proses secara otomatis, sehingga pengawasan manusia tidak lagi diperlukan. Dalam konteks perpustakaan, menurut Sulistyo Basuki, otomasi adalah penggunaan teknologi informasi yang menunjang seluruh aktivitas perpustakaan, mulai dari pengadaan koleksi hingga pelayanan informasi (Habiburrahman dan Nabila 2022). Menurut Peter, otomasi adalah teknik atau sistem yang menggunakan alat elektronik untuk mengoperasikan atau mengendalikan proses secara otomatis, sehingga mengurangi penggunaan tenaga manusia (Rusdiana dan Zaqiyah 2022). Sedangkan menurut Azwar dalam (Anindya dan Wicaksono 2021), otomasi perpustakaan adalah penggunaan komputer dan perangkat pendukung lainnya untuk membantu mengelola data perpustakaan secara lebih efisien. Dari pendapat beberapa ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa otomasi adalah proses penggunaan teknologi atau mesin untuk menggantikan tenaga manusia dalam berbagai tugas, sehingga mengurangi keterlibatan manusia. Di perpustakaan, otomasi mencakup penggunaan teknologi informasi, seperti komputer, untuk mengelola dan menjalankan berbagai aktivitas perpustakaan, mulai dari penambahan koleksi hingga layanan informasi, dengan tujuan meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional. Beberapa software freeware yang dapat digunakan untuk otomasi perpustakaan antara lain SliMS (Senayan Library Management System), KOHA, Freelib, Athenaum Light, Open Biblio, OtomigenX, Igloo, dan INLISLite (Integrated Library System). Komponen Otomasi Perpustakaan Menurut Hartono dalam (Anindya dan Wicaksono 2021), komponen otomasi perpustakaan terdiri dari: a. Pengguna (User) Mencakup semua orang yang akan menggunakan sistem otomasi perpustakaan, termasuk pustakawan yang mengelola koleksi, pemustaka yang mencari informasi, serta staf lainnya yang terlibat dalam operasi perpustakaan. Pengguna ini merupakan pihak-pihak yang memanfaatkan aplikasi otomasi untuk berbagai keperluan perpustakaan. b. Perangkat Keras (Hardware) Alat-alat fisik yang mendukung sistem otomasi, seperti komputer yang digunakan untuk menjalankan perangkat lunak, pemindai kode batang (barcode scanner) untuk melacak buku, printer untuk mencetak laporan atau label, dan peralatan lain yang diperlukan untuk operasional perpustakaan. c. Perangkat Lunak (Software) Program aplikasi yang diinstal pada komputer untuk mengelola dan memproses data perpustakaan. Perangkat lunak ini mencakup berbagai aplikasi yang membantu dalam pengelolaan katalog, sirkulasi buku, pelaporan, dan fungsi lainnya yang mendukung operasional perpustakaan. d. Jaringan (Network) Sistem komunikasi yang menghubungkan beberapa komputer dan perangkat dalam perpustakaan. Jaringan ini memungkinkan pertukaran data dan informasi antara komputer yang berbeda, memastikan bahwa semua komponen otomasi dapat berfungsi secara terintegrasi. e. Data Kumpulan informasi yang menyimpan fakta-fakta penting yang berkaitan dengan koleksi perpustakaan, seperti detail buku, anggota, transaksi sirkulasi, dan statistik lainnya. Data ini digunakan untuk memberikan informasi yang diperlukan untuk pengelolaan dan layanan perpustakaan. Tujuan dan Fungsi Otomasi Perpustakaan Menurut Mulyadi, tujuan dari sistem otomasi perpustakaan adalah untuk mengurangi beban kerja yang bersifat rutin dan berulang, sehingga staf perpustakaan dapat fokus pada pekerjaan yang lebih kompleks dan meningkatkan efisiensi kerja, serta melakukan tugastugas yang memerlukan akurasi tinggi dan kecepatan yang tidak dapat dicapai oleh manusia. Otomasi juga bertujuan untuk memberikan hasil yang akurat dan konsisten, meningkatkan kualitas layanan kepada pengguna, meningkatkan citra positif perpustakaan, memperkuat daya saing, dan memperbaiki kerja sama antar perpustakaan (Mulyadi 2021). Fungsi otomasi perpustakaan menurut supriyanto & Muhsin dalam (Habiburrahman dan Nabila 2022), dapat digunakan beraneka ragam, diantaranya: 1. Sebagai Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan, di mana berbagai kegiatan perpustakaan seperti pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, layanan sirkulasi, keanggotaan, dan statistik perpustakaan dapat diintegrasikan ke dalam sistem informasi. 2. Sebagai teknologi digital yang digunakan untuk menyimpan, mengakses, dan menyebarkan informasi pengetahuan dalam format digital. Fungsi ini dikenal sebagai perpustakaan digital. Dari keseluruhan pendapat para ahli diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa otomasi perpustakaan bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan tingkat kepuasan pengguna serta melengkapi berbagai keinginan perpustakaan yang tidak bisa dicapai secara manual, sementara fungsinya mencakup integrasi kegiatan perpustakaan, penyimpanan informasi digital, dan pengolahan data untuk mempermudah dan mengoptimalkan operasional perpustakaan. INLISLite (Integrated Library System) INLISLite (Integrated Library System) dikembangkan oleh Perpustakaan Nasional RI merupakan perangkat lunak otomasi perpustakaan dan telah melalui berbagai tahap pengembangan sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 2011. Aplikasi ini memiliki peran penting sebagai sarana pengelolaan perpustakaan, memfasilitasi sejumlah fungsi administratif dan operasional untuk meningkatkan efisiensi serta kualitas layanan perpustakaan (Fatmawati 2020). Pengembangan INLISLite mencakup beberapa versi, dimulai dari versi 2.1.2 hingga versi terbaru versi 3.1. Perubahan dan peningkatan signifikan dilakukan melalui setiap versi, mencerminkan komitmen untuk terus meningkatkan fungsionalitas dan performa aplikasi. Versi terbaru INLISLite 3.1 merupakan hasil peningkatan atau pembaharuan dari versi sebelumnya, yakni 3.1 yang diluncurkan pada tahun 2021 (Anindya dan Wicaksono 2021). Pembaruan ini mungkin melibatkan peningkatan keamanan, perbaikan bug, penambahan fitur-fitur baru, atau peningkatan performa secara umum. Dengan merilis versi terbaru, pengembang berusaha menjawab kebutuhan dinamis perpustakaan modern dan menyesuaikan aplikasi dengan perkembangan teknologi terkini. INLISLite, sebagai perangkat lunak otomasi perpustakaan, memiliki peran strategis dalam mendukung transformasi perpustakaan menjadi entitas yang lebih efisien, terukur, dan terhubung secara digital (Rahayu dan Asmendri 2023). Dengan terus mengembangkan aplikasi ini, Perpustakaan Nasional RI memastikan bahwa perpustakaan di seluruh Indonesia dapat memanfaatkan teknologi informasi secara optimal untuk memberikan pelayanan yang lebih efektif dan efisien kepada masyarakat. Karakteristik INLISLite (Integrated Library System) Terdapat karakteristik aplikasi otomasi perpustakaan INLISLite, sebagaimana dijelaskan oleh (Sudrajat 2019) yang mencakup beberapa aspek penting yang menunjukkan keunggulan dan kehandalan aplikasi tersebut, antara lain: 1. Standar Metadata MARC: Mengadopsi standar MARC untuk memastikan konsistensi dan kemudahan pertukaran data bibliografis dengan sistem lain. 2. Berbasis Web: Aplikasi ini dapat diakses melalui browser internet, memberikan fleksibilitas pengelolaan perpustakaan dari mana saja dengan koneksi internet. 3. Instalasi di Server: Diinstal pada satu komputer sebagai server untuk pengelolaan data terpusat yang dapat diakses oleh pengguna lain. 4. Multi-User: Dapat digunakan secara bersamaan oleh banyak pengguna, mendukung operasional perpustakaan yang melayani banyak orang tanpa mengurangi kinerja. 5. Gratis dan Open Source: Perangkat lunak ini bebas biaya lisensi dan terbuka untuk pengembangan lebih lanjut sesuai kebutuhan perpustakaan. 6. Dukungan Multi Lokasi: Memungkinkan pengelolaan koleksi dan layanan di berbagai lokasi secara online, memudahkan koordinasi antar unit perpustakaan. Karakteristik ini memberikan gambaran tentang INLISLite dirancang untuk mendukung fungsionalitas perpustakaan modern dengan fitur seperti standar metadata, akses web, dan instalasi server, yang berfokus pada efisiensi, aksesibilitas, dan manajemen efektif. Sebagai freeware dan open-source, INLISLite menawarkan keterbukaan dan fleksibilitas, memungkinkan perpustakaan untuk mengadopsi sistem ini tanpa biaya yang tinggi. Penelitian Terdahulu Sejauh data yang dikumpulkan penulis mengenai dengan tema analisis ini, terdapat beberapa kajian terdahulu yang dapat menjadi rujukan dan referensi dalam keberhasilan penelitian ini. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Azwar (Azwar 2015) yang membahas tentang penerapan sistem otomasi SLiMS di Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar. Penelitian ini lebih menyoroti tantangan dan kendala dalam penerapan sistem otomasi perpustakaan di Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar. Fokus utama adalah pada bagaimana perpustakaan ini telah mengimplementasikan sistem otomasi untuk pengolahan bahan pustaka, namun belum sepenuhnya menggunakan otomasi dalam seluruh layanan perpustakaan. Kemudian analisis yang dilakukan oleh Zulhalim, Agus Sulistyanto dan Anton Zulkarnain Sianipar (Zulhalim, Sulistyanto, dan Sianipar 2019) lebih menyoroti implementasi dan evaluasi penggunaan sistem otomasi perpustakaan INLISLite versi 3 di Perpustakaan STMIK Jayakarta, termasuk proses penerapannya, pelatihan petugas, dan dukungan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Fokus utama adalah pada bagaimana aplikasi INLISLite versi 3 digunakan dalam operasional perpustakaan, khususnya dalam meningkatkan efisiensi layanan, seperti pelaporan data sirkulasi, penginputan buku, dan pencetakan katalog. Selanjutnya analisis yang dilakukan oleh Ema Fatmawati Anindya dan Moch. Fikriansyah Wicaksono ini lebih menyoroti kearah manfaat fitur-fitur INLISLite oleh pustakawan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Trenggalek, serta kendala yang dihadapi dan cara mengatasi kendala yang dihadapi. Fokus utama analisis adalah bagaimana pustakawan memanfaatkan berbagai fitur INLISLite versi 3.1 untuk pengelolaan perpustakaan, termasuk pengelolaan bahan pustaka, layanan sirkulasi, manajemen keanggotaan, OPAC, pembuatan laporan, dan pencatatan buku tamu. Dari beberapa penelitian yang telah penulis paparkan tersebut, dapat terlihat bahwa penelitian tentang strategi promosi dalam pengembangan perpustakaan Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang belum ada dilakukan (Anindya dan Wicaksono 2021). Meskipun telah ada penelitian sebelumnya yang mengevaluasi sistem otomasi perpustakaan, terdapat kekurangan dalam literatur yang merinci efektivitas implementasi INLISLite versi 3.1, terutama dalam konteks persepsi pustakawan. Maka dari itu, penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut dengan memberikan kontribusi pada pemahaman tentang implementasi INLISLite versi 3.1 secara holistik, khususnya dalam memahami pandangan pustakawan sebagai pengguna utama.
Method
Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis studi kasus, yang melibatkan partisipan berupa pustakawan dan staf perpustakaan pengguna sistem INLISLite versi 3.1. Menurut (Suwendra 2018) penelitian kualitatif adalah penyelidikan mendalam yang mengikuti prosedur ilmiah untuk menghasilkan kesimpulan dalam bentuk narasi, baik tertulis maupun lisan, berdasarkan analisis data yang ada. Dalam penelitian ini, tidak hanya mengamati apa yang terjadi, tetapi juga berusaha memahami makna di balik setiap temuan. Proses pengumpulan data dilakukan melalui observasi di Perpustakaan Umum Kabupaten Banyuasin, wawancara dengan pustakawan dan staf perpustakaan, serta dokumentasi. Partisipan penelitian terdiri dari pustakawan dan staf perpustakaan yang secara langsung menggunakan INLISLite versi 3.1. Tabel 1. Partisipan yang diwawancarai No. Nama Posisi Profesi 1. Bilqis Anisah, A.Md Pengatur (III/C) Pustakawan Pelaksana 2. Lina Widyanti, A.Md Pengatur (II/C) Pengelola Pustaka Elektronik 3. Farid Hambali Prihantoro, A.Md Pengatur (II/C) Pustakawan Pelaksana 4. Winda Damayanti, A.Md Pengatur (II/C) Pustakawan Pelaksana 5. Dody Firmansyah, S.Hum Honorer Pengelola Pustaka Elektronik Setelah data terkumpul, analisis dilakukan dengan pendekatan deskriptif analisis untuk menginterpretasikan hasil temuan dalam kajian ini. Data dalam penelitian ini dikategorikan menjadi dua sumber data, yaitu data primer yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta data sekunder yang mencakup berbagai literatur pendukung yang relevan dengan penelitian ini. Data-data tersebut diolah dan diinterpretasikan untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang implementasi sistem INLISLite Versi 3.1 di perpustakaan.
Result & Discussion
Gambaran Umum Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin berlokasi di Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten Banyuasin No. 26 Sekojo, Provinsi Sumatera Selatan, dengan kode pos 30911. Saat ini, gedung baru Perpustakaan Umum Kabupaten Banyuasin terletak di Jl. Palembang-Betung KM 50, Desa Mulya Agung, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Gedung baru ini selesai dibangun pada akhir tahun 2023, namun operasionalnya belum sepenuhnya optimal karena beberapa ruangan, seperti ruang multimedia dan podcast, masih belum dilengkapi fasilitas. Perpustakaan ini menerapkan sistem layanan terbuka, di mana pemustaka dapat langsung memilih bahan bacaan dari rak koleksi. Gambar 1. Gedung Perpustakaan Umum Kabupaten Banyuasin Sejarah perpustakaan di Kabupaten Banyuasin dimulai dengan pembentukan Kantor Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Awalnya, lembaga ini diatur oleh Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Banyuasin Nomor 6 Tahun 2004 dengan nama Kantor Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah. Pada tahun 2008, terjadi perubahan nama menjadi Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Banyuasin melalui Perda Nomor 15 Tahun 2008. Seiring perkembangan, instansi ini akhirnya diresmikan sebagai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin berdasarkan Perda Nomor 18 Tahun 2016. Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Banyuasin telah melayani masyarakat sejak tahun 2003 dan mengalami berbagai perubahan status dalam lima tahun pertamanya. Transformasi ini bertujuan untuk meningkatkan literasi dan membudayakan minat baca di masyarakat, dengan fokus utama pada pengembangan perpustakaan sebagai pusat informasi yang menyediakan beragam bahan pustaka dalam bentuk karya tulis, cetak, dan rekam. Visi dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin, yaitu “Terwujudnya Banyuasin Yang Maju Dengan Masyarakat Yang Sejahtera Dalam Tatanan Bumi Sedulang Setudung.” Sedangkan, misi yang dimiliki Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin sebagai landasan menuju perpustakaan yang lebih baik, antara lain: 1. Mewujudkan kapasitas pemerintahan yang adil, jujur, bersih dan berwibawa 2. Mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas 3. Mewujudkan masyarakat banyuasin yang damai dan demokratis 4. Mewujudkan perekonomian daerah yang maju dan mandiri 5. Memantapkan sektor pertanian yang berorientasi agribisnis mengembangkan sarana dan prasarana perpustakaan yang merata dan berkualitas. Visi dan Misi ini dijadikan pedoman bagi para pegawai, staf perpustakaan, dan pustakawan dalam bekerja di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin. Jenis-jenis layanan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin Jenis-jenis layanan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin, antara lain: 1. Layanan Internet dan Wi-Fi Gratis Perpustakaan menyediakan layanan internet dan Wi-Fi gratis yang dapat diakses oleh pengunjung. Pengunjung cukup mengisi data diri di buku tamu atau melalui komputer, dan kartu anggota yang digunakan sudah terintegrasi dengan sistem otomasi perpustakaan. 2. Layanan Terbitan Berkala Pengunjung dapat membaca berbagai terbitan berkala, seperti majalah dan surat kabar. Untuk mengaksesnya, pengunjung harus mencatatkan diri di buku tamu atau komputer yang disediakan. 3. Layanan Fotokopi Perpustakaan menyediakan layanan fotokopi gratis hingga 5 lembar. Jika pengunjung membutuhkan lebih dari 5 lembar, maka akan dikenakan biaya tambahan sesuai ketentuan. 4. Layanan Perpustakaan Keliling Perpustakaan keliling menyediakan akses buku bagi siswa dari tingkat sekolah dasar hingga menengah atas serta masyarakat di desa atau kelurahan. Layanan ini hadir langsung di tempat untuk mendukung kegiatan membaca. 5. Layanan Silang Layan Buku-buku didistribusikan ke sekolah-sekolah dan instansi terkait di daerah, dan akan ditukar setiap bulan untuk memastikan koleksi tetap beragam dan terbarukan. 6. Layanan Referensi Layanan referensi membantu pengunjung mencari buku khusus, seperti ensiklopedia, kamus, dan publikasi ilmiah lainnya yang digunakan untuk tujuan penelitian atau informasi mendalam. 7. Layanan Sirkulasi Mencakup peminjaman dan pengembalian buku, pembuatan kartu anggota, serta pengelolaan koleksi buku perpustakaan yang dipinjamkan kepada pengunjung. Sedangkan fasilitas di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin, terdiri dari wifi gratis, ruang baca, ruang referensi, ruang multimedia, ruang diskusi, ruang bermain anak-anak, mushola, ruang podcast, ruang teater, toilet, dan lain-lain. Alasan Pemilihan INLISLite sebagai Sistem Otomasi Perpustakaan Sejak diterbitkannya keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI pada tahun 2017, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan di seluruh Indonesia dihimbau untuk mengganti sistem otomasi perpustakaannya dengan INLISLite (Integrated Library System). Berdasarkan wawancara dengan pustakawan, penerapan INLISLite di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dimulai sekitar tahun 2017-2018. Sebelumnya, mereka menggunakan DigitalPusi, sebuah sistem yang dikembangkan oleh Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Selatan untuk mengolah bahan pustaka. Hingga saat ini, perpustakaan menggunakan INLISLite versi 3.1 yang dikembangkan oleh Perpustakaan Nasional RI. Selain itu, INLISLite adalah perangkat lunak otomasi perpustakaan yang disediakan secara gratis (freeware) dengan fitur yang lengkap dan sesuai dengan kebutuhan perpustakaan, sehingga memudahkan pengelolaan koleksi dan layanan perpustakaan. Pengoperasiannya juga relatif mudah, karena menggunakan bahasa Indonesia. Jika terjadi kesalahan atau gangguan sistem, Perpustakaan Nasional RI bertanggung jawab untuk melakukan perbaikan dan pembaruan berdasarkan masukan dari berbagai provinsi, memastikan sistem tetap berfungsi optimal dan memenuhi kebutuhan pengguna di seluruh Indonesia. Penggunaan INLISLite (Integrated Library System) Versi 3.1 Gambar 2. Tampilan modul-modul INLISLite Versi 3.1 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin INLISLite versi 3.1 kini menjadi sistem otomasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin yang menyediakan berbagai modul seperti Back Office, Baca di Tempat, Buku Tamu, Keanggotaan Online, Layanan Koleksi Digital, OPAC, Artikel, Pendaftaran Anggota, Statistik, Survei, Pengembalian Mandiri, dan Peminjaman Mandiri, sistem ini memberikan dukungan signifikan kepada pustakawan dalam pengelolaan perpustakaan dengan efisien dan efektif. Gambar 3. Dashboard Back Office INLISLite terdiri dari rangkaian modul yang terbagi menjadi dua bagian utama: modul untuk user dan modul administrasi. Modul user digunakan oleh petugas perpustakaan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan data perpustakaan sehari-hari. sedangkan modul administrasi ditujukan untuk petugas yang mengelola aspek administrasi sistem, termasuk melakukan pendaftaran pengguna baru, mengatur konfigurasi aplikasi, serta tugas lain yang mendukung operasional dan pemeliharaan sistem. Modul-modul INLISLite terbagi menjadi dua kategori, yaitu modul untuk USER dan ADMINISTRASI. Modul untuk USER meliputi: (1) Modul Akuisisi, digunakan untuk pengadaan koleksi seperti pembelian, hibah, atau sumbangan; (2) Modul Katalog, untuk katalogisasi bahan pustaka; (3) Modul Keanggotaan, yang mengelola pendaftaran dan data anggota; (4) Modul Sirkulasi, memfasilitasi peminjaman dan pengembalian koleksi; (5) Modul Locker, untuk peminjaman loker oleh anggota; (6) Modul Buku Tamu, mencatat pengunjung perpustakaan; (7) Modul OPAC, untuk pencarian koleksi secara online; (8) Modul Baca di Tempat, mencatat anggota yang membaca di perpustakaan; dan (9) Modul Laporan, untuk mengelola berbagai laporan perpustakaan. Sementara itu, modul untuk ADMINISTRASI mencakup pengaturan spesifik terkait: Katalog, Akuisisi, Keanggotaan, Sirkulasi, Locker, OPAC, dan Pengaturan Umum sistem. Semua modul ini mendukung pengelolaan perpustakaan yang lebih efisien, terintegrasi, dan meningkatkan kualitas layanan kepada pengguna. Implementasi INLISLite (Integrated Library System) Versi 3.1 di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang penulis lakukan mengenai implementasi INLISLite versi 3.1 di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin, meliputi: a. Pengelolaan Bahan Pustaka Pada tahap awal pengelolaan bahan pustaka, pustakawan menentukan nomor klasifikasi buku sebelum melakukan penginputan data. Proses penginputan data dilakukan melalui menu katalog pada INLISLite, di mana pustakawan memilih opsi “entri katalog”. Data yang dimasukkan meliputi informasi seperti jenis bahan pustaka, judul, pengarang, penerbit, hingga nomor panggil dan ISBN. Setelah data tersimpan, label dan barcode untuk buku dapat dicetak secara otomatis. Pustakawan kemudian menempelkan label dan barcode ini pada buku, dan buku ditempatkan di rak koleksi dengan nomor panggil yang sesuai untuk memudahkan pemustaka dalam pencarian. b. Layanan Sirkulasi Layanan sirkulasi di perpustakaan ini memanfaatkan fitur INLISLite untuk memproses peminjaman dan pengembalian buku secara efisien. Pustakawan hanya perlu memasukkan nomor anggota dan memindai barcode buku untuk mencatat transaksi secara otomatis. Menu "sirkulasi" juga digunakan untuk pendataan ulang koleksi atau stock opname. Proses peminjaman dan pengembalian buku dilakukan dengan bantuan komputer, di mana pustakawan memeriksa kondisi buku dan mengelola catatan peminjaman melalui sistem. c. Keanggotaan Manajemen keanggotaan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin dilakukan dengan menggunakan INLISLite. Kartu anggota perpustakaan dicetak secara langsung setelah data pemustaka diinput ke dalam sistem. Kartu ini dilengkapi dengan barcode yang memudahkan proses peminjaman dan pengembalian buku. Sistem ini juga memungkinkan pustakawan untuk memantau keterlambatan pengembalian buku dan menghubungi anggota yang bersangkutan dengan informasi kontak yang tersimpan dalam database. d. OPAC (Online Public Access Catalogue) Fitur OPAC digunakan sebagai alat pencarian koleksi oleh pemustaka dan pustakawan. Dengan memasukkan kata kunci seperti judul, pengarang, atau nomor panggil, pengguna dapat menemukan koleksi yang diinginkan dengan cepat. Fitur ini juga membantu dalam mengetahui koleksi terbaru dan buku yang sering dipinjam. Bagi pemustaka yang belum familiar dengan OPAC, pustakawan siap memberikan panduan. e. Buku Tamu INLISLite juga dimanfaatkan untuk mencatat kunjungan pemustaka melalui fitur buku tamu elektronik. Pemustaka cukup memasukkan nomor anggota atau data diri bagi yang non-anggota, dan data tersebut akan direkam oleh sistem. Fitur ini membantu pustakawan dalam memantau kunjungan ke perpustakaan berdasarkan kategori seperti anggota, non-anggota, atau kunjungan rombongan. f. Pembuatan Laporan Proses pembuatan laporan di perpustakaan menjadi lebih efisien dengan bantuan fitur laporan pada INLISLite. Pustakawan dapat dengan mudah membuat rekapitulasi peminjaman, pengembalian, keanggotaan, kunjungan, dan pertumbuhan koleksi. Data dapat difilter berdasarkan periode tertentu, seperti harian, bulanan, atau tahunan, dan laporan yang diinginkan akan muncul secara otomatis. g. Survey Fitur survei pada INLISLite digunakan untuk menyusun kuesioner online yang mengumpulkan kritik dan saran dari pemustaka. Informasi yang didapatkan dari survei ini digunakan untuk meningkatkan layanan dan fasilitas perpustakaan, serta mendukung kemajuan perpustakaan secara keseluruhan. Melalui implementasi fitur-fitur INLISLite ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin berhasil meningkatkan efisiensi pengelolaan perpustakaan dan pelayanan kepada pemustaka. Kendala dan Strategi dalam Implementasi INLISLite Versi 3.1 Dalam implementasi INLISLite versi 3.1 di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin, kendala yang dihadapi serupa dengan versi lainnya. Kelebihan INLISLite versi 3.1 termasuk mempermudah pelaporan sirkulasi, mempercepat penginputan buku, dan memfasilitasi pencetakan katalog secara otomatis. Namun, versi ini masih sangat bergantung pada koneksi Wi-Fi yang seringkali tidak stabil, yang menyebabkan sistem tidak dapat berfungsi optimal. Masalah teknis yang muncul seringkali harus dilaporkan ke Perpustakaan Nasional, yang kemudian memerlukan pembaruan sistem yang memakan waktu dan mengganggu pelayanan. Strategi untuk mengatasi kendala pada INLISLite versi 3.1 mencakup peningkatan kualitas jaringan dengan memasang Wi-Fi yang lebih handal dan menyediakan koneksi cadangan seperti data seluler. Selain itu, melatih pustakawan dalam teknik troubleshooting dasar dapat membantu mereka menangani masalah kecil tanpa harus menunggu bantuan eksternal. Penting juga untuk meningkatkan komunikasi dengan pengembang aplikasi untuk memastikan bimbingan teknis lebih rutin dan solusi masalah lebih cepat diberikan. Dengan strategi ini, diharapkan kendala teknis pada INLISLite versi 3.1 dapat diatasi, sehingga perpustakaan dapat memberikan layanan yang lebih efisien dan responsif kepada pengguna.
Conclusion
Implementasi INLISLite versi 3.1 di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan efisiensi pengelolaan perpustakaan dan kualitas layanan kepada pemustaka. Melalui penerapan berbagai modul yang tersedia, seperti modul sirkulasi, keanggotaan, dan OPAC, sistem ini berhasil mempermudah proses peminjaman dan pengembalian buku, manajemen keanggotaan, dan pencarian koleksi. Keberadaan fitur buku tamu elektronik, pembuatan laporan, dan survei juga membantu pustakawan dalam memantau aktivitas perpustakaan secara lebih sistematis dan mendapatkan umpan balik dari pemustaka. Meskipun masih terdapat beberapa kendala teknis,seperti ketergantungan pada koneksi Wi-Fi yang sering tidak stabil dan keterlambatan dalam penanganan gangguan sistem, strategi perbaikan seperti peningkatan jaringan dan pelatihan teknis pustakawan telah diupayakan untuk mengatasi masalah tersebut. Secara keseluruhan, penggunaan INLISLite versi 3.1 menunjukkan potensi besar dalam memodernisasi manajemen perpustakaan dan mendukung tercapainya visi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuasin dalam mewujudkan perpustakaan yang ideal dengan tata kelola yang efisien.