ANALISIS SITIRAN MAKALAH KONFERENSI PERPUSTAKAAN DIGITAL INDONESIA (KPDI) 1-8
Universitas YARSI; Universitas YARSI
Abstrak
Makalah-makalah yang dipaparkan dalam pertemuan tahunan KPDI ke 1-8 adalah tulisan dengan topik seputar perpustakaan digital. Makalah tersebut dibuat oleh Pustakawan, Peneliti, Staf Pusat Informasi dan Dokumentasi yang ikut berpartisipasi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk melihat pola-pola hubungan antara tulisan selama konferensi dengan pendekatan analisis sitiran. Objek penelitian adalah artikel atau daftar pustaka yang disitir dalam makalah KPDI ke 1-8. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis literatur artikel adalah yang dominan disitir oleh penulis sebesar 38,35%. Bahasa yang paling banyak disitir adalah bahasa Inggris dengan jumlah 638 kali. Usia literatur yang disitir 0-10 tahun terakhir mendominasi dalam penulisan makalah KPDI dengan prosentase 70,27%. Kontribusi institusi tertinggi yaitu Lembaga Ilmu Pengetauan Indonesia (LIPI). Subjek terbanyak yang banyak ditulis pada makalah KPDI1-8 berkaitan dengan operasional perpustakaan. Peringkat pengarang tertinggi yang disitir atas nama orang adalah Putu Laxman Pendit, sedangkan untuk pengarang atas nama badan/institusi yang sering disitir adalah Perpustakaan Nasional RI. Tingkat kolaborasi penulis dalam makalah KPDI 1-8 terdiri atas sebagian besar pengarang tunggal
Keywords:
Analisis Sitiran
· Makalah KPDI
· Perpustakaan Digital
Introduction
Perkembangan teknologi informasi telah memberikan dampak positif yang sangat besar dalam semua aspek kehidupan manusia, termasuk dunia perpustakaan. Perubahan konsep perpustakaan konvensional menjadi perpustakaan digital, membuat akses informasi perpustakaan secara virtual merupakan salah satu contohnya. Perpustakaan digital merupakan sebuah sistem perpustakaan yang menggunakan teknologi elektronik dalam menyampaikan informasi dari sumber yang dimiliki dan menggabungkan koleksi-koleksi, layanan serta sumber daya manusia untuk mendukung penuh siklus penciptaan, diseminasi, pemanfaatan dan penyimpanan data informasi, serta pengetahuan dalam format digital yang telah dievaluasi, diatur, diarsip dan disimpan, melalui komputer stand alone, intranet, atau internet (Arms, 2001). Bibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 3 (1) 201824Perpustakaaan Nasional mengadakan Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) sebagai fasilitator jejaring perpustakaan digital di Indonesia. Tugas ini menjadi bagian dari salah satu tugas Perpustakaan Nasional sebagai Pembina dari seluruh perpustakaaan di Indonesia. KPDI diharapkan dapat menjadi wadah bagi para penyelenggara perpustakaan dan pustakawan Indonesia untuk saling bertukar pikiran dan pengalaman guna pengembangan jejaring perpustakaan berbasiskan teknologi informasi dan komunikasi. Konferensi ini memaparkan tentang berbagai aspek perpustakaan digital yang dituangkan dalam makalah.Disetiap penyelenggaraan KPDI, setiap tulisan diharapkan memiliki topik yang berhubungan dengan tema utama konferensi dengan penekanan pada perpustakaan digital namun tidak menutup kemungkinan topik-topik yang masih terkait dengan perpustakaan digital. Sebelum dipresentasikan, tulisan-tulisan ini telah melalui proses seleksi dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh panitia. Penulis makalah berasal dari kalangan Pustakawan, Peneliti, dan Staf Pusat Informasi dan Dokumentasi.Dalam menulis makalah, penulis mensitir sumber-sumber yang dianggap paling sesuai dengan tema tulisannya seperti yang ditulis Djiwandono(2015), sitiran adalah tindakan mengutip pendapat orang lain dari buku atau naskah lain sebagai dukungan terhadap ide yang sedang ditulis. Sitiran juga merupakan rujukan pada teks dan pengakuan informasi dari artikel (Fooladi, 2013). Sophia (2002) menyatakan bahwa sitasi menunjukkan asal-usul atau sumber suatu kutipan, mengutip pernyataan, atau menyalin/mengulang pernyataan seseorang dan mencantumkannya di dalam suatu karya tulis yang dibuat, namun tetap mengindikasikan bahwa kutipan tersebut adalah pernyataan orang lain. Selanjutnya Reitz (2004) menyatakan bahwa sitiran merupakan acuan tertulis pada suatu karya tertentu (buku, artikel, disertasi, laporan, komposisi musik dan lain-lain) yang dihasilkan oleh pengarang, editor, komposer dan lain-lain, yang secara jelas menunjukkan sesuatu dokumen, dimana karya itu diperoleh. Atau dengan kata lain dapat disimpulkan disimpulkan bahwa sitiran adalah informasi literatur yang dijadikan sebagai acuan tertulis dalam rangka membuat sebuah karya tulis.Analisis sitiran,salah satu kajian informasi terhadap daftar kepustakaan. telah dilakukan pada bagian jurnal karya ilmiah dan buku (Gundry, Senapatiratne & Trott,2015). Analisis sitiran menguji frekuensi (keseringan), pola dan grafik sitiran yang terdapat dalam artikel, makalah review, teknik komunikasi, tesis dan buku. Sitiran digunakan dalam berbagai karya ilmiah utuk membangun hubungan dengan peneliti dan karya-karya lainnya, yang membentuk Bibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 3 (1) 201825salah satu bagian utama dari komunikasi ilmiah dalam sebuah area geografi. Analisis sitiran juga digunakan sebagai sarana evaluasi penelitian yang paling sering digunakan dalam ilmu perpustakaan dan informasi (Sing, Sharma & Kaur,2011).Menurut Parlina, Afandi & Octavia (2012) analisis sitiran adalah kajian untuk mengetahui keterkaitan dokumen sitiran dengan dokumen yang menyitir. Analisis dapat meliputi berbagai aspek, baik aspek subyek, aspek bahasa, jenis, bentuk dan aspek apa pun yang terkait dengan sitiran. Hasugian (2005) menerangkan bahwa analisis sitiran adalah kajian bibliometrika yang secara khusus mengkaji tentang sitiran yaitu melakukan analisis terhadap daftar pustaka atau bibliografi yang tercantum dalam sebuah dokumen. Penggunaan dan pemanfaatan analisis sitiran terus berkembang sejak diperkenalkan pertama kali oleh Gross dan Gross pada tahun 1927. Tujuan penggunaan itu antara lain:1.Untuk menggambarkan pola sitiran dan karakteristik dari literatur yang digunakan dalam suatu kegiatan ilmiah pada bidang atau sub-bidang ilmu tertentu.2.Untuk mengukur penyebaran hasil penemuan yang dimuat dalam berbagai jenis literatur, seperti misalnya terbitan pemerintah, disertasi, atau terbitan lain yang sejenis.3.Untuk kajian terhadap pemakai perpustakaan. 4.Untuk menggambarkan pola komunikasi ilmiah.5.Untuk evaluasi bibliometrik.6.Sebagai sarana temu kembali informasi.7.Sebagai salah satu sarana untuk menentukan kebijakan pengembangan koleksi (Rupadha 2011)Lasa menyatakan (2005) adanya penyitiran karya tulis membawa beberapa manfaat, antara lain: (a) menjunjung etika keilmuan; (b) pengakuan terhadap prestasi seseorang; (c) mengenali metode maupun peralatan; (d) adanya penghormatan terhadap karya orang lain; (e) membantu pembaca dalam penemuan kembali akan sumber informasi; (f) memperoleh latar belakang bacaan; (g) mengoreksi karya karya sendiri atau karya orang lain; (h) memberikan kepuasan; (i) mendukung klaim suatu temuan; (j) membuktikan keaslian data; (k) menyangkal atau membenarkan pemikiran atau gagasan seseorang; dan (l) mendiskusikan gagasan dan penemuan orang lain.KPDI pertama diselenggarakan pada tanggal 2 Desember 2008dandiselenggarakan secara berkala setiap tahun (http://kpdi2.pnri.go.id/inex.html).Meski topik perpustakaan digital Bibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 3 (1) 201826banyak menjadi pembicaraan akhir-akhir ini, tidak banyak penelitian tentang analisis sitiran dari tulisan terkait dengan perpustakaan digital. Akibatnya karakteristik penggunaan literatur dalam penulisan makalah dengan topik perpustakaan digital tidak banyak ditemukan. Penelitan ini diharapkan dapat memberikan gambaran umum terhadap pola dan karekteristik literatur tentang topik perpustakaan digital di Indonesia, khususnya makalah-makalah KPDI 1-8. Penggunaan analisis sitiran diharapkan mampu memberikan masukan untuk melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan KPDI dimasa mendatang
Method
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Sehingga penelitian ini menekankan pada pengumpulan fakta dan identifikasi data. Populasi dalam penelitian ini adalah makalah KPDI ke 1–8. Untuk penarikan sampel, jumlah sampelnya diambil keseluruhan karena populasi dalam penelitian ini makalahnya berjumlah kurang dari 100. Jumlah makalah seluruhnya sebanyak 92 makalah.Metode pengumpulan data yang akan digunakan adalah metode dokumentasi, dengan memperoleh data dari daftar pustaka atau sitiran dalam makalah KPDI ke 1–8. Selanjutnya langkah-langkah yang akan dilakukan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :a.Mengumpulkan semua makalah dari acara KPDI ke 1–8b.Memeriksa dan memberi nomor makalah dari semua makalah yang telah dikumpulkanc.Selain mengumpulkan secara hardcopy juga dilakukan pengumpulan materi softcopy dengan merujuk situs http://perpusnas.go.id/konferensi-perpustakaan-digital/d.Download daftar pustaka dari setiap makalah KPDI ke 1–8e.Membuat lembar kerja dalam bentuk tabel dengan menggunakan Microsoft Excel.Untuk keperluan tersebut dibuat lembarkerja yang memuat 5 kolom meliputi : (1) kolom nomor urut, (2) kolom judul buku/artikel, (3) kolom Pengarang, (4) kolom tahun terbit, (5) kolom jenis literatur (6) bahasa literatur dan lembaga penulis makalah.Sebelum melakukan analisis, data -data yang telah dikumpulkan, disederhanakan dalam bentuk tabel sehingga mudah dibaca untuk kemudian diinterpretasi. Proses pengolahan data jaringan pengarang dilakukan dengan menggunakan program Pajek untuk menganalisis dan memvisualisasi jaringan. Agar data dapat diproses melalui program Pajek, maka data matriks nama penulis makalah dan literatur yang disitir di tulis dalam berkas berekstensi .net (dibaca Bibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 3 (1) 201827dot net). Rumusan penulisan program analisis network ini merujuk tulisan Mrvar (1998). Metode perhitungan yang digunakan untuk menghitung tingkat kolaborasi antar penulis makalah adalah dengan metode Subramanyam (1983) dengan rumus:C = nm / (nm + ns)Dimana:C = tingkat kolaborasi penulis salam suatu disiplin ilmu dengan nilai berada pada interval 0 sampai dengan 1,atau [0,1]Nm = total hasil penelitian dari peneliti suatu disiplin ilmu pada tahun tertentu yang dilakukan secara berkolaborasiNs = total hasil penelitian dari suatu disiplin ilmu pada tahun tertentu yang dilakukan secara individualUntuk menganalisa subyek yang sering bahas dalam makalah KPDI 1-8, dilakukan dengan cara analisis subyek dokumen dengan menggunakan Dewey Decimal Classification (DDC) edisi 23. Hasil analisis subyek dikelompokkan dalam tabel(digeneralisir sesuai kelas besar DDC) dan dihitungberdasakan masing-masing subyekbesarnya
Result & Discussion
Jumlah Literatur yang DisitirMakalah bertopik perpustakaan digital adalah makalah yang pernah dipaparkan dalam pertemuan tahunan KPDI ke 1 –8. Selama 8 kali KPDI dilaksanakan, jumlahmakalah KPDI tampak berbeda setiap tahunnya. Total makalah KPDI ke 1-8 sebanyak 92 judul makalah, dengan rata-rata jumlah makalah setiap KPDI adalah 11 makalah. Dari 92 makalah berhasil diidentifikasi jumlah sitiran adalah 1.056 sitiran.Ketika menulis karya ilmiah, seorang peneliti harus memahami dokumen yang akan dijadikan rujukan. Oleh karena itu, sebuah dokumen yang akan disitir oleh penulis atau peneliti sebisa mungkin harus relevan dengan topik yang sedang diteliti. Pengambilan keputusan untuk menyitir atau tidak suatu dokumen dilakukan dengan menerapkan beberapa kriteria. Merujuk kepadaWang dan Soergel dalam Dewi (2015), maka penulis bisa memilih kriteria-kriteria penyitiran dokumen:(i) Kesesuaian topik; (ii) Orientasiisi; (iii) Kesamaan disiplin ilmu; (iv) Novelty/kebaruan; (v)Expected Quality: menilai terlebih dahulu keunggulan dan kekurangan dari dokumen yang akan disitir; (vi) Kemutakhiran/Recentcydokumen (vii) Kendala waktuyang dimiliki penulis; (viii) Kemudahan dalam mendapatkan dokumen; (ix)Syarat khusus Bibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 3 (1) 201828untuk isi dari dokumen(misalnya bahasa); (x) Authority, dari penulis dokumen rujukan; (xi) Relation/Origin, terkait kedekatan hubungan penulis dengan pengarang/penerbit dokumen.3.2. Jenis Literatur yang DisitirBerdasarkan tabel 1 dapat diketahui peringkat teratas tentang jenis literatur yang sering disitir oleh penulis makalah KPDI 1-8 adalah artikel. Banyaknya sitiran terhadap artikel dapat saja disebabkan karena artikel merupakan literatur yang lebih update dibandingkan dengan sumber literatur-literatur lainnya. Dalam penyitiran artikel tersebut, penulis makalah menggunakan 2 jenis bentuk artikel yaitu artikel cetak dan artikel online, dimana dalam hal ini penulis mayoritas lebih cenderung menyitir artikel cetak daripada artikel online.Tabel 1Jenis Literatur yang DisitirPeringkat Jenis Literatur Frekuensi%1Artikel Tercetak 24623,30Online15915,062Buku Tercetak 26525,09Online161,523Materi Diklat 40,384Ensiklopedi 80,765Kamus 90,856Situs Internet 11510,897Koran online 40,388Makalah Tercetak 13312,59Online413,889Prosiding 40,3810Peraturan/UU, Kepmen, Kepres 353,3111Skripsi, Tesis, Disertasi 171,613.3. Bahasa Literatur yang Banyak DisitirBerdasarkan hasil penelitian ini, ada 4 (empat) bahasa literatur yang digunakan dalam makalah KPDI ke 1-8 yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Perancis dan bahasa Belanda, dapat dilihat pada Gambar1. Bibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 3 (1) 201829Gambar 1Bahasa Literatur yang banyak DisitirPenggunaan literatur berbahasa Inggris ini memperlihatkan bahwa mayoritas penulis makalah berkapabilitas dalam hal penggunaan bahasa asing, khususnya untuk bahasa Inggris sehingga memudahkan mereka untuk memahami literatur-literatur yang menggunakan bahasa Inggris, terutama jurnal ilmiah dalam dunia teknologi yang banyak diproduksi oleh peneliti-peneliti dari luar.3.4. Usia Literatur yang DisitirMenyitir suatu literatur memerlukan pertimbangan tentang usia atau tahun terbit. Dalam gambar 2 menunjukkan bahwa usia literatur yang disitir 0-10 tahun terakhir mendominasi dalam penulisan makalah KPDI. Berdasarkan data tersebut, kumulatif prosentase usia literatur yang disitir dalam makalah KPDI 1-8 berada pada usia dibawah 10 tahun dari usia penulisan. Dapat dinyatakan bahwa pada umumnya tahun terbit dari seluruh literatur yang disitir, usianya masih belum mencapai titik keusangan dan informasinya masih tergolong mutakhir.Gambar 2Prosentasi Usia Literatur39.2%60.42%0.09%0.28%0100200300400500600700IndonesiaInggrisPerancisBelanda45.36%24.91%11.55%3.31%2.56%0,76%0.38%0.38%0.09%0.09%0.19%10.42%01002003004005006000 –56 –1011 –1516 –2021 –2526 –3031 –3536 –4041 –4546 –50>50n.dUsia Literatur (tahun) Bibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 3 (1) 2018303.5. Lembaga Institusi PenulisInstitusi adalah tempat dimana penulis makalah bekerja. Berdasarkan tabel 2, kontribusi institusi terhadap makalah KPDI 1-8 sebagian besar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).Tabel 2 Tiga (3) Peringkat Teratas Lembaga Institusi PenulisPeringkat Institusi Jumlah Penulis Makalah1Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 262Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 103UPT. Perpustakaan Universitas Syiah kuala 73.6. Subyek Makalah KPDI 1-8Tabel 3 menunjukkan subyek yang dominan ditulis pada makalah KPDI 1-8 yaitu operasional perpustakaan. Jumlahnya cukup jauh dibandingkan dengan subyek lain yang ditemukan. Diskusi dalam KPDI bisa dinyatakan sebagian besar masih berkutat pada operasional perpustakaan digital. Pemanfaatan dalam bidang lainnya masih kecil nilainya. Pernyataan ini menarik untuk dijadikan topik penelitian lebih lanjut terkait topik pemanfaatan bidang lain dari perpustakaan digital yang masih sedikit.Tabel 3 Peringkat Subyek yang paling sering ditulisPeringkat Subyek Jumlah 1Operasional Perpustakaan 1242Program Komputer, program, data 273Ilmu Komputer 224Hubungan Perpustakaan, Arsip dan Informasi 223.7. Pola Kepengarangan dalam Makalah KPDI ke 1–8Analisis sitiran bisa digunakan untuk mengukur pengaruh intelektual keilmuan dari pengarang yang disitir, untuk mengetahui karakteristik komunikasi ilmu pengetahuan dan banyak aspek kualitatif dari penelitian dan publikasi (Junandi dan Zulaikha,2010). Dalam peringkat pengarangyang disitir, pengarang dibuat dua kelompok, yaitu pengarang atas nama orang dan pengarang atas nama badan atau institusi. Berdasarkan tabel 4 dan 5 menunjukan bahwa untuk bidang perpustakaan digital, penulis makalah KPDI 1-8 lebih merujuk pada karya Bibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 3 (1) 201831Putu Laxman Pendit. Sedangkan Perpustakaan Nasional RI dijadikan referensi tentang undang-undang tentang perpustakaan.Tabel 4 Pengarang atas nama orangi yang sering disitirNoPengarangJumlah1.Putu Laxman Pendit192Sulistyo Basuki113Lukman104Rizal Fathoni Aji10Tabel 5 Pengarang atas nama badan/institusi yang sering disitirNoPengarangJumlah1.Perpustakaan Nasional432National Information StandardsOrganization193Kementerian Hukum & HAM RI11Kolaborasi adalah kerjasama antar lebih dari satu orang pengarang, atau dengan kata lain dalam proses penulisan artikel memerlukan bantuan orang lain. Berdasarkan metode perhitungan Subramanyam (lihat tabel6) maka didapatkan nilai kolaborasi penulis makalah KPDI 1-8 rendah. Hal ini terbukti dengan melihat gambar 3yaitu jaringan pola kepengarangan yang merupakan visualiasi dari analisis data dengan aplikasi Pajek. Visualisasi pada gambar 3 secara umum, menunjukkan pola pengarangyang tersebar. Tingkat kolaborasi pengarang makalah yang paling tinggi dalam acara Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) 1-8 adalah Harini Yaniar dan Ekawati Marlina yang memiliki kekuatan 4 titik. Sedangkan untuk nama pengarang atas nama orang yang banyak disitir yaitu Putu Laxman Pendit yang memiliki kekuatan 19 titik dan untuk pengarang atas nama badan atau institusi yaitu Perpustakaan Nasional RI yang memiliki kekuatan 19 titik.Tabel 6 Tingkat Kolaborasi PengarangKPDIPenulis Tunggal (ns)Kolaborasi (nm)Tingkat Kolaborasi (nm/(ns+nm)13002900370041020,1675750,4166960,471340,235897 0,438TOTAL67240,264 Bibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 3 (1) 201832Gambar 3Pola jaringan pengarang pada makalah KPDI 1-84. KESIMPULANHasil penelitian sedikit banyak menunjukkan peta kondisi umum perpustakaan digital di Indonesia.Penulis makalah KPDI 1-8 lebih dominan menggunakan artikelsebagai sumber literature yang disitir.Hal ini sesuai dengan kecepatan perkembangan teknologi yang tergambarkan dalam artikel jurnal dibandingkan buku teks.Literatur berbahasa Inggris adalah literatur yang paling banyak dijadikan rujukan, yakni sebanyak 60,42%. Sedangkan usia literatur yang paling banyak dirujuk penulis makalahtergolong mutakhir dengan usia literatur 0-5tahun. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merupakan institusi tertinggi dalam menulis makalah KPDI 1-8.LIPI dalam hal ini dapat dianggap sebagai lembaga yang banyak melakukan kajian dan penelitian untuk topik perpustakaan digital. Subyek yang paling sering ditulis dalam makalah KPDI 1-8 masih berkutat pada topikoperasional perpustakaan. Setidaknya hal ini menggambarkan kondisi perpustakaan digital di Indoneisa yang masih berkutat dalam masalah operasional dibandingkan dengan pemanfaatan dan pelayanan maupun aspek teknologi perpustakaan digital yang berbasis TIK. Untuk bidang perpustakaan digital, penulis makalah KPDI 1-8 lebih merujuk pada karya Putu Laxman Pendit. Sedangkan Perpustakaan Nasional RI dijadikan referensi tentang Undang-Undang Perpustakaan. Bibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 3 (1) 201833Rendahnya tingkat kolaborasi antar penulis makalah KPDI 1-8 yang dihitung dengan metode Subramanyam juga terbukti dengan melihat visualisasi gambar jaringan pola kepengaranganyang menunjukkan kecenderungan untuk bekerja sendiri-sendiri.Hal inisebenarnya bertentangan dengan dengan konsep perpustakaan digital yang akan lebih bermanfaat dalam pola kerjasama antar perpustakaan dibandingkan perpustakaan digital yang mandiri.Pihak penyelenggara KPDIperlu melakukan selektif lebih ketat terhadap subyek-subyek makalah atau topik yang diterima dalam KPDIuntuk mampu mendorong perkembangan perpustakaan digital di Indonesia. KPDIdapat menjadi wadah kolaborasi dan sarana komunikasi para ahli perpustakaan digital ditingkatnasional, karena semakin sering penulis berkolaborasi maka kualitas dan kuantitas makalah yang dihasilkan juga akan semakin bermutu
Conclusion
Hasil penelitian sedikit banyak menunjukkan peta kondisi umum perpustakaan digital di Indonesia.Penulis makalah KPDI 1-8 lebih dominan menggunakan artikelsebagai sumber literature yang disitir.Hal ini sesuai dengan kecepatan perkembangan teknologi yang tergambarkan dalam artikel jurnal dibandingkan buku teks.Literatur berbahasa Inggris adalah literatur yang paling banyak dijadikan rujukan, yakni sebanyak 60,42%. Sedangkan usia literatur yang paling banyak dirujuk penulis makalahtergolong mutakhir dengan usia literatur 0-5tahun. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merupakan institusi tertinggi dalam menulis makalah KPDI 1-8.LIPI dalam hal ini dapat dianggap sebagai lembaga yang banyak melakukan kajian dan penelitian untuk topik perpustakaan digital. Subyek yang paling sering ditulis dalam makalah KPDI 1-8 masih berkutat pada topikoperasional perpustakaan. Setidaknya hal ini menggambarkan kondisi perpustakaan digital di Indoneisa yang masih berkutat dalam masalah operasional dibandingkan dengan pemanfaatan dan pelayanan maupun aspek teknologi perpustakaan digital yang berbasis TIK. Untuk bidang perpustakaan digital, penulis makalah KPDI 1-8 lebih merujuk pada karya Putu Laxman Pendit. Sedangkan Perpustakaan Nasional RI dijadikan referensi tentang Undang-Undang Perpustakaan. Bibliotech : Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 3 (1) 201833Rendahnya tingkat kolaborasi antar penulis makalah KPDI 1-8 yang dihitung dengan metode Subramanyam juga terbukti dengan melihat visualisasi gambar jaringan pola kepengaranganyang menunjukkan kecenderungan untuk bekerja sendiri-sendiri.Hal inisebenarnya bertentangan dengan dengan konsep perpustakaan digital yang akan lebih bermanfaat dalam pola kerjasama antar perpustakaan dibandingkan perpustakaan digital yang mandiri.Pihak penyelenggara KPDIperlu melakukan selektif lebih ketat terhadap subyek-subyek makalah atau topik yang diterima dalam KPDIuntuk mampu mendorong perkembangan perpustakaan digital di Indonesia. KPDIdapat menjadi wadah kolaborasi dan sarana komunikasi para ahli perpustakaan digital ditingkatnasional, karena semakin sering penulis berkolaborasi maka kualitas dan kuantitas makalah yang dihasilkan juga akan semakin bermutu