Kembali
16
1
2024 Visi Pustaka: Buletin Jaringan Informasi Antar Perpustakaan Vol 26 · 1 ISSN 2685-7138

PERAN PUSTAKAWAN TERKINI: SEBUAH TINJAUANLITERATUR

Perpustakaan Nasional RI

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran pustakawan dalam kerangka sosial era informasi saat ini. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian melakukan tinjauan literatur dari database Scopus dari tahun 2014 hingga 2024. Sebanyak 137 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis untuk mengeksplorasi peran pustakawan dalam berbagai konteks perpustakaan. Mengingat keterbatasan sumber daya, analisis hanya berfokus pada judul dan abstrak dari artikel. Hasil analisis menunjukkan bahwa perpustakaan akademik merupakan jenis perpustakaan yang paling sering dibahas terkait peran pustakawan saat ini. Empat tema utama yang diidentifikasi adalah:(1) peran dalam manajemen informasi dan sumber daya digital yang meliputi peran manajemen data, penyediaan informasi berdasarkan subjek tertentu, akuisisi dan pengembangan koleksi digital, perencanaan penerapan teknologi, pengelolaan serial ilmiah terbuka, (2) keterlibatan dan edukasi komunitas, yang terdiri dari peran edukasi terutama pada aspek literas informasi dan menjangkau komunitas yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, (3) layanan perpustakaan yang menggambarkan peran pustakawan di layanan referensi online, bagian dari siklus penelitian, dan adaptasi teknologi terbaru untuk meningkatkan layanan, serta (4) preservasi, yang mencakup digitalisasi kearifan lokal dengan memperhatikan protokol budaya.Secara keseluruhan, peran pustakawan dapat mendukung budaya riset dan inovasi di institusi secara efektif. Pustakawan Juga Perlu terus beradaptasi terhadap teknologi baru dan mengembangkan keterampilan yang relevan.

Abstract

This research aims to identify the role of librarians in the social framework of the current informationera. To achieve this aim, the research conducted a literature review of the Scopus databasefrom2014 to 2024. A total of 137 articles that met the inclusion criteria were analyzed to explore theroleof librarians in various library contexts. Given the limited resources, the analysis focused only onthetitles and abstracts of the articles. The results of the analysis show that academic libraries arethetype of library most often discussed regarding the role of librarians today. The four main themesidentified are: (1) role in digital information and resource management which includes the role of datamanagement, providing information based on specific subjects, acquisition and development of digital collections, planning technology implementation, management of open scientific series, (2) involvement and community education, which consists of educational roles, especially in aspectsof information literacy and reaching the wider community to improve their quality of life, (3) libraryservices which describe the role of librarians in online reference services, part of the researchcycle, and adaptation of the latest technology to improve services, as well as (4) preservation, whichincludes the digitization of local wisdom by paying attention to cultural protocols. Overall, theroleof librarians can effectively support the culture of research and innovation in institutions. Librariansalsoneed to continually adapt to new technology and develop relevant skills.
Keywords: peran pustakawan · manajemen data perpustakaan · literasi informasi · perluasan layanan perpustakaan · embedded librarian

Introduction

Perpustakaan muncul pada era kelangkaan informasi, di mana peran utama perpustakaan dan pustakawan adalah preservasi pengetahuan dan sebagai pusat informasi bagi para pencari ilmu. Namun, kemajuan teknologi dan revolusi digital telah mengubah kerangka sosial yang berhubungan dengan ketersediaan informasi dan menciptakan tantangan baru bagi profesi pustakawan (Galluzzi, 2014) . Revolusi digital dan disrupsi teknologi memunculkan berbagai analisis yang meramalkan kematian profesi pustakawan. Kasali (2017) meramalkan bahwa profesi pustakawan akan punah, mengikuti jejak profesi lain yang digantikan oleh teknologi canggih. Pustakawan cenderung bersifat defensif terhadap prediksi ini. Pustakawan mungkin akan mengatakan, “Berdasarkan pengalaman saya sebagai pustakawan, situasinya tidak seperti itu,” atau “Penggambaran tersebut tidak sesuai dengan pengalaman kerja di tempat saya,” adalah contoh kalimat analogi yang sering digunakan dari perspektif pustakawan dalam mempertahankan gagasan atau kepercayaan bahwa profesinya masih relevan (Marquez, 2023). Harus diakui, teknologi menggerus peran tradisional pustakawan. Berdasarkan survei di Zambia, pustakawan khawatir bahwa teknologi baru seperti artificial intelligence (AI) berpotensi menggantikan pekerjaan mereka tetapi di saat yang sama juga mereka memiliki pandangan yang positif dan melihat potensinya dalam implementasi inovasi layanan perpustakaan (Suba Veerapandian dkk., 2023). Faktanya, relevansi peran tradisional perpustakaan dan pustakawan masih berpengaruh pada negara berkembang. Sejarah membuktikan bahwa pustakawan dapat mengurangi kesenjangan budaya membaca di masyarakat (Robbins, 2005), dengan cara menciptakan dan menjalankan program perpustakaan secara optimal (Kleijnen dkk., 2017). Sementara itu, AI justru berpotensi meningkatkan kustomisasi layanan, optimalisasi koleksi, dan efisiensi biaya (Yang dkk., 2024). Disrupsi era digital mempengaruhi tingkat daya saing, baik pada level sosial maupun institusional (Kraus dkk., 2021). Analisis ilmiah menunjukkan bahwa daya saing perpustakaan melalui peran tradisional pustakawan, yang berperan dalam siklus pengetahuan dengan tanggung jawab menyimpan, mengindeks, mendistribusikan, dan mempromosikan hasil penerbitan, dapat diperkuat melalui seleksi dan evaluasi konten. Langkah ini membantu meningkatkan kepekaan kritis warga pengguna internet serta menciptakankondisi yang mendukung pengembanganinovasi dan gagasan baru (Galluzzi, 2014). Banjir informasi juga memberikan peluang bagi pustakawan untuk berperan dalam mengevaluasi dan menyeleksi informasi yang relevan bagi pengguna. Pustakawan dapat melakukannya melalui berbagai strategi, seperti penyajian informasi, pengajaran perpustakaan, pengembangan strategi bagi pengguna, peran aktif pustakawan, serta pemanfaatan teknologi perangkat lunak (Blumer & Kenton, 2014). Prediksi bahwa peran perpustakaan akan hilang di era kecerdasan buatan, realitas virtual, dan kemajuan data sains, di mana robotika akan menggantikan peran pustakawan, menurut Kisel & Fodor (2021) merupakan prediksi stereotip yang tidak cukup hanya dibantah, tetapi harus dilawan. Salah satu caranya adalah dengan memperkenalkan empat atribut Ilmu Perpustakaan dan Informasi yang tahan terhadap masa depan: (1) kreativitas manusia tetap penting; (2) penggunaan media sosial secara profesional sangat penting untuk mengakses pengetahuan masyarakat; (3) kompetensi kolaborasi memiliki nilai abadi; dan (4) sikap berorientasi penelitian semakin penting dalam profesi pustakawan. Oleh karena itu, relevansi peran pustakawan harus dibuktikan secara empiris dan tidak hanya dibantah dengan secara konseptual. Untuk mendapatkan bukti tersebut, diperlukan tinjauan terkait praktik nyata pustakawan melalui tinjauan literatur dari riset yang membahas peran pustakawan saat ini. Penelitian literatur semacam ini sebelumnya pernah dilakukanoleh Vassilakaki & Moniarou-Papaconstantinou (2015), yang mengkaji peran-peran baru dalam profesi pustakawan dan profesional informasi. Tinjauan ini dilakukan pada database penelitian LIS antara tahun 2000-2014, menghasilkan total 600 artikel, dan setelah kriteria inklusi diterapkan, 114 artikel diteliti. Hasil penelitian ini mengidentifikasi peran menonjol seperti pengajar, spesialis teknologi, embedded librarian/pustakawan terintegrasi, konsultan informasi, manajer pengetahuan, dan pustakawan spesialis subjek. Penelitian ini berupaya melakukan riset serupa pada waktu yang berbeda, untuk mendapatkan gambaran yang lebih mutakhir dari perkembangan teknologi terbaru. Caranya adalah dengan menganalisis artikel yang terindeks di Scopus dan mengkategorikan peran pustakawan berdasarkan proses bisnis yang berlangsung dalam organisasi informasi. Tinjauan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: 1. Peran apa yang dimainkan oleh pustakawan di era informasi saat ini berdasarkan penelitian dari database Scopus antara tahun 2014-2024? 2. Jenis perpustakaan apa yang membahas peran pustakawan dalam artikel-artikel penelitian dari database Scopus antara tahun 2014-2024? Proses analisis konten akan dilakukan untuk memperkaya analisis deskriptif, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran pustakawan di berbagai konteks berdasarkan penelitian yang telah ada.

Method

Protokol yang digunakan dalam melakukan tinjauan literatur mengikuti panduan Kitchenham dan Charters (2007). Protokol ini mencakup tiga fase dalam proses tinjauan literatur, yaitu fase perencanaan, fase pelaksanaan, dan fase pelaporan. Gambar 1. Fase Proses Tinjauan Literatur a. Fase Perencanaan Fase perencanaan adalah tahapan untuk menetapkan protokol review yang perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian (Kitchenham&Charters, 2007). Membuat kerangkaPICOC juga disarankan untuk menggambarkan pertanyaan penelitian yang terfokus dan spesifik. Tabel 1. Protokol PICOC P (Population) Librarians or libraries I (Intervention) Roles, impacts, and effects of librarians C (Comparison) - O (Outcome) Service given by librarianC (Context) Studies conducted in the present information era at all places (from 2014 onwards). Salah satu langkah penting dalam menyusun protokol adalah membuat kueri yang tepat untuk menjawab pertanyaan penelitian. Penulis memecah kueri berdasarkan pertanyaan penelitian yang luas dan sederhana, yaitu terkait peran pustakawan. Oleh karena itu, kueri disusun dengan memastikan semua sinonim dari kata ‘peran’ telah terakomodasi. Pendekatan Ini menghasilkan kueri sebagai berikut: ("librarian* role*" OR "librarian* impact*"OR "librarian effect*"). Kueri tersebut kemudian digunakan dalam fitur pencarian di database Scopus pada 22 Juni 2024. b. Fase Pelaksanaan Kueri kemudian diterapkan pada fitur pencarian di web Scopus. Hasilnya, sebanyak 163 data diperoleh, dengan 1 data terduplikasi, sehingga tersisa 162 data yang perlu diseleksi lebih lanjut dengan menerapkan kriteria eksklusi. Kriteria eksklusi yang digunakan adalah: Artikel yang tidak menggunakan bahasa Inggris Artikel merupakan artikel tinjauan (review) Studi yang fokus pada peran pustakawan di masa lalu Tidak ada informasi tentang peran pustakawan dalam abstrak Ekslusi ini kemudian menyingkirkan 25 artikel, sehingga tersisa 137 data yang perlu diekstraksi. Artikel yang diterima kemudian dianalisis untuk mendapatkan data anotasi terstruktur. Analisis dilakukan menggunakan Large Language Models (LLMs) Gemini Advanced dengan pengawasan dari peneliti. Uji perbandingan kemampuan LLMs dengan ahli anotasi menunjukkan bahwa LLMs menunjukkan performa yang baik (Bail, 2024). Karena keterbetasan sumber daya, teks yang dianalisis adalah judul abstrak dari penelitian. Analisis dilakukan dengan melakukan ekstraksi data berupa informasi tentang (1) peran pustakawan yang ada pada judul dan abstrak, (2) tema, (3) tantangan, (4) jenis perpustakaan, dan (5) kesimpulan dari penelitian. Pembacaan secara induktif dilakukan untuk menemukan tema-tema yang muncul dari judul dan abstrak penelitian. Metode induktif ini membantu mengeksplorasi kategori-kategori baru dalam teks dan mengidentifikasi berbagai spektrum yang muncul dari kumpulan teks ((Lindekilde, 2014; Van Gorp, 2010). Analisis isi kemudian dilakukan untuk menentukan suatu penelitian secara dominan masuk ke kategori apa.

Discussion

Analisis data dilakukan terhadap artikel yang disaring menggunakan kueri yang sudah disusun. Dan dibatasi antara tahun 2014 hingga Juni 2024. Penarikan Data Dilakukan pada tanggal 22 Juni 2024, dengan total 163 data yang berhasil diambil. Setelah menghapus 1 data yang terduplikasi dan menerapkan kriteria eksklusi, tersisa 137 artikel. Meskipun Penelitian ini tidak bertujuan untuk melakukan analisis bibliometrik, beberapa informasi tetap disajikan karena menarik. Gambar 2. Proses seleksi artikel Artikel yang paling banyak dikutip di antaranya: 1. Federer (2018) dengan judul "Defining data librarianship: A survey of competencies, skills, and training", dikutip sebanyak 46 kali 2. Wheeler & McKinney (2015) dengan judul "Are librarians teachers? Investigating academic librarians’ perceptions of their own teaching roles", dikutip sebanyak 42 kali 3. Tait dkk (2016) dengan judul "Libraries For the future: The role of utilities in transformation of academic libraries", dikutip sebanyak 38 kali. Terdapat 69 Jurnal yang menerbitkan isu peran pustakawan. Penelusuran frekuensi kata yang muncul dari nama jurnal menunjukkan bahwa kata Library/librarianship/libraries paling sering muncul sebanyak 83 kali, disusul kata information 29 kali, medical 24 kali, dan services 20 kali. jurnal yang paling aktif menerbitkan artikel dengan tema ini adalah sebagai berikut: Tabel 2. Jurnal yang aktif menerbitkan artikel peran pustakawan No Jurnal Jumlah Artikel 1 Journal of the Medical Library Association 11 2 Medical Reference Services Quarterly 9 3 Library Management 7 4 Library Philosophy and Practice 6 1. Jenis Perpustakaan yang Membahas Peran Pustakawan Analisis konten judul dan abstrak dilakukan untuk mengidentifikasi jenis perpustakaan yang dibahas dalam artikel mengenai peran pustakawan. Hasil analisis menunjukkan bahwa perpustakaan perguruan tinggi atau perpustakaan akademik secara dominan merupakan jenis perpustakaan yang paling sering dibahas terkait peran pustakawan. Selain itu, perpustakaan khusus, terutama dalam bidang kesehatan, juga sering menjadi fokus dalam artikel-artikel tersebut. Tidak ada perpustakaan nasional yang membahas peran pustakawan. Tabel 3. Jenis perpustakaan yang membahas peran pustakawan No Jenis Perpustakaan Total 1 Perpustakaan Perguruan Tinggi 68 2 Perpustakaan Khusus 31 3 Perpustakaan Sekolah 12 4 Perpustakaan Umum 6 5 Semua Jenis Perpustakaan/Tidak diinformasikan 20 Total 137 2. Peran Pustakawan yang Dibahas Dalam Artikel Pengkategorian tema peran yang dibahas dilakukan secara induktif dengan membaca judul dan abstrak penelitian yang memenuhi kriteria untuk dianalisis atau ekstraksi informasi di dalamnya. Penggunaan kategori secara deduktif sebenarnya memungkinkan, karenaVassilakaki & Moniarou-Papaconstantinou(2015) pernah melakukan tinjauanliteratur sistematis yang kemudian menghasilkan kategori pekerjaan pengajar, spesialis teknologi, pustakawan terintegrasi, konsultan informasi, manajer pengetahuan, dan pustakawan spesial subjek. Namun, untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kategori baru terkait peran pustakawan 10 tahun terakhir, maka pengkategorian dilakukan secara induktif. Pembacaan induktif terhadap artikel- artikel yang membahas peran pustakawan menghasilkan empat tema utama yang terkait dengan proses bisnis di perpustakaan. Tema-tema tersebut adalah: 1. Manajemen Informasi dan Sumber Daya Digital (Information and Digital Resource Management): Temani mencakup aktivitas seperti akuisisi, pengorganisasian, manajemen, dan penyediaan akses ke koleksi digital dan fisik. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses di balik layar yang dilakukan sebelum koleksi disajikan kepada pengguna. 2. Keterlibatan Komunitas dan Edukasi (Community Engagement and Education): Tema ini berfokus diupaya perpustakaan dalam melibatkan komunitas, mengembangkan program penjangkauan, serta meningkatkan literasi dan partisipasi komunitas melalui berbagai layanan perpustakaan, termasuk dukungan edukasi bagi pengguna. 3. Layanan Perpustakaan (Library Services): Tema ini mencakup penyediaan berbagai layanan yang dirancang untuk meningkatkan pengalaman pengunjung perpustakaan dan memenuhi kebutuhan informasi mereka. 4. Preservasi (Preservation): Tema ini berhubungan dengan upaya pelestarian dan pemeliharaan koleksi perpustakaan, terutama untuk barang- barang yang langka dan rapuh. Alih media juga termasuk dalam aktivitas preservasi. Salah satu tujuan dari ekstraksi data judul dan abstrak adalah untuk mengidentifikasi tema dominan dari penelitian. Menentukan tema secara mutual eksklusif memang tidak mudah, karena penelitian sering kali tidak hanya membahas satu tema secara spesifik, tetapi juga mencakup proses yang holistik dan berkesinambungan terkait peran pustakawan. Oleh karena itu, penghitungan tema secara kuantitatif hanya memberikan gambaran umum mengenai tema-tema dominan dalam kumpulan penelitian yang telah dilakukan. Bagian ini lebih difokuskan untuk mensintesis topik-topik yang dibahas dalam penelitian yang diterbitkan antara tahun 2014 hingga Juni 2024. Tabel 4. Tema penelitian yang dibahas dalam artikel No Tema Total 1 Information and Digital Resource Management 18 2 Community Engagement and Education 54 3 Library Services 57 4 Preservation 1 5 Others 7 Total 137 Tahun 2021 merupakan tahun dengan jumlah artikel tentang peran pustakawan paling banyak. Di tahun tersebut, tema peran terkait layanan perpustakaan adalah peran yang paling dominan, disusul dengan tema keterlibatan komunitas dan edukasi. Kedua teks tersebut cenderung merupakan tema yang paling dominan setiap tahunnya. Tema 2 dominan pada tahun 2015, 2016, 2023, dan 2024. Sementara itu, tema 3 dominan pada tahun 2014, 2019, 2020, 2021, dan 2022. 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 s.d Juni 2024 9 14 11 11 13 14 9 24 9 11 12 Gambar 3. Jumlah Artikel Tahunan Berdasarkan Tema a) Manajemen Informasi dan Sumber Daya Digital (Information and Digital Resource Management) Ilmu pengetahuan terus berkembang, dan riset harus bergantung pada hasil- hasil sebelumnya. Pengelolaan data penelitian terbuka mempermudah akses terhadap penelitian yangtelahdilakukan dan memperluas peranpustakawan dalamsikluspengembangan ilmu pengetahuan. Dengan fokus yang semakin besar pada manajemen data penelitian atau Research Data Management (RDM), pustakawan perlu keluar dari zona nyaman mereka. Pustakawan tidak hanya dituntut untuk mengorganisir, melestarikan, dan menyediakan akses ke sumber informasi, tetapi juga untuk menerima peran baru yang sesuai dengan nilai-nilai dan keahlian mereka. Jika peluang ini diabaikan, profesi pustakawan berisiko kehilangan relevansi dalam siklus riset ilmiah (Nitecki & Davis, 2019). Guna tetap relevan, pustakawan perlu memperkuat keterampilan di bidang ilmu informasi dan mempromosikan diri mereka sebagai ilmuwan informasi (Frederick, 2021). Kepustakawanan berbasis data, yang merupakan kombinasi ilmu informasi, ilmu data, dan bidang e- sains, semakin penting dalam profesi perpustakaan dan ilmu informasi. Jenis kepustakawanan ini perlahan-lahan menjadi semakin esensial bagi para pustakawan (Ashiq & Warraich, 2024). Peran pustakawan data ini memainkan peran penting dalam mendukung kegiatan pembelajaran mahasiswa atau pengguna lainnya, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap pemberdayaan lingkungan kerja (Deja dkk., 2021). Kemajuan teknologi memberikan berbagai kemudahan sekaligus meningkatkan kompleksitas dalam manajemen organisasi informasi oleh pustakawan. Sumber digital, misalnya, memperluas peran pustakawan pembuat katalog karena selain harus menangani bahan tercetak, mereka juga harus membuat metadata untuk sumber elektronik. Hal ini menuntut pustakawan untuk mengembangkan keterampilan baru di masa depan, tidak hanya dalam aspek katalogisasi, tetapi juga dengan mendorong data riset yang terbuka, atau dengan menyediakan peralatan manajemen bibliometrik untuk mendukung penelitian yang lebih efektif (Boydston & Leysen, 2014). Dalam konteks ini, istilah "pustakawan data" sering digunakan sebagai label bagi pustakawan yang menguasai keterampilan yang dibutuhkan di era informasi saat ini. Oleh karena itu, kemampuan manajemen data menjadi keterampilan yang harus diajarkan kepada mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi (Robinson & Bawden, 2017). Berikut beberapa subtema yang lebih spesifik tentang peran pustakawan di tema ini: 1. Manajemen Data Sebagai bagian dari sistem yang lebih besar, perpustakaan mendukung tujuan organisasi melalui pengumpulan data, input data, dan alur kerja pemrosesan data penelitian guna memastikan kualitas data dan efisiensi riset (Read Dkk., 2017). Manajemen pengetahuan yang terintegrasi menjadi perhatian banyak riset. Di Ghana, misalnya, repositori terpusat dari fakultas yang sama di berbagai universitas menjadi upaya untuk pengelolaan data penelitian teknis guna mempromosikan penemuan, inovasi, dan komersialisasi (Barfi Sackey, 2021). Akses terbuka dan pengarsipan karya penulis merupakan tugas baru yang dihadapi pustakawan, di mana teknologi memungkinkan pengarsipan mandiri oleh penulis dengan peran besar dari pustakawan (Otto & Mullen, 2019). Secara keseluruhan, repositori institusi telah menjadi tugas baru yang harus diemban oleh pustakawan, menandakan perluasan peran mereka dalam pengolahan data penelitian (Tapfuma &Hoskins, 2019). Penyediaan databasedanmanajemen sistempentingdi erainternet saat ini, karenamemungkinkan dibuat sistemopensource yang memungkinkaninteroperabilitas antara koleksi. Misalnya antara perpustakaan, arsip, dan koleksi museum yang dapat diakses pengguna dengan lancar melalui satu pintu. Dalam Mencapai tujuan tersebut, pustakawan harus berkolaborasi dengan pengembang database (Brawley-Barker, 2016). Peran pustakawan dalam pengembangan pusat informasi ini adalah dalam kurasi, pengembangan koleksi, dan integrasi ke dalam sistem yang lebih besar (Lake, 2018). Data digital mendorong perubahan model layanan di bidang kesehatan. Chan (2021) menggambarkan bahwa pustakawan dalam kondisi ini dapat berperan membantu penyedia layanan dan konsumen untuk mengatasi hambatan dalam lanskap layanan kesehatan digital melalui inisiatif pengelolaan data, instruksi literasi teknologi dan kesehatan, serta menemukan dan mengevaluasi informasi kesehatan dan teknologi kesehatan digital. Sistem pendidikan juga berkembang. Data digital mendorong pustakawan untuk berperan dalam penyediaan sumber daya pendidikan yang lebih terbuka. Perannya tidak terbatas pada tugas tradisional seperti penelusuran dan penyediaan metadata , tetapi juga mencakup pengembangan dan kepemimpinan inisiatif Open Educational Resources (OER) (Braddlee & Vanscoy, 2019; Katz, 2021). Pendekatan ini memberikan posisi baru bagi pustakawan sebagai penyedia bahan belajar yang lebih terjangkau (King dkk., 2024). Sayangnya, di India, meskipun konsep OER dikenal oleh pustakawan, 70% dari responden menyatakan bahwa lembaga induk mereka tidak memiliki pedoman kebijakan desain dan pengembangan OER. Ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kesadaran institusi mengenai manfaat OER di era informasi saat ini (Upneja, 2020). 2. Penyediaan Informasi Berdasarkan Subjek Tertentu Kualitas dan kurasi data adalah keunggulan pustakawan di era informasi saat ini (Galuzzi, 2014). Sheffield dkk (2017) menunjukkan bagaimana pustakawan dapat berperan sebagai arsitek informasi dengan meningkatkan akses ke data penting subjek tertentu, misalnya tentang penyakit Alzheimer. Ini berguna untuk mempromosikan ketelitian dan reprodusibilitas dalam penelitian subjek tersebut. Dalam Kondisi bencana tertentu, misalnya wabah virus Ebola. Informasi spesifik dari subjek isu ini menjadi bagian dari tahapan manajemen pengendalian Ebola di Nigeria (Ihek Abad., 2021). 3. Akuisisi dan PengembanganKoleksi Adanya buku dalamformat digital (e-book) membuat kebijakan akuisisi perlu mengadaptasi cara baru. Kebijakan pengembangan koleksi e- book harus berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. Untuk Mencapai hal tersebut, kebijakan pengadaan e-book perlu diformalkan dengan menyederhanakan alur kerja dan meningkatkan komunikasi serta kolaborasi antar personal perpustakaan (Lukes dkk., 2016). Penilaian koleksi dan layanan perpustakaan biasanya mengandalkan data statistik seperti recall dan presisi. Penilaian Dan Manajemen perpustakaan seharusnya berfungsi sebagai sistem retrieval informasi yang efektif (Walters, 2016). 4. Perencanaan Penerapan Teknologi Proses perencanaan teknologi adalah salah satu peran yang bisa dilakukan pustakawan sekolah. Namun, survei menunjukkan bahwa sebagian besar pustakawan belum melakukannya, misalnya dengan mengidentifikasi kebutuhan teknologi dari guru dan siswa (D. Smith Dkk., 2018). 5. Pengelolaan Jurnal Ilmiah Pengelolaan serial ilmiah menggunakan Open Journal Systems (OJS) adalah peran penting yang diambil oleh pustakawan untuk mendukung aksesibilitas dan keberlanjutan penelitian (Bernhardt, 2016). b) Keterlibatan dan Edukasi Komunitas (Community Engagement and Education) Dalam kerangka sosial yang berkembang saat ini, peran perpustakaan mengalami pergeseran dari fokus utama pada organisasi informasi menuju perhatian yang lebih besar pada pengguna (Mi, 2015). Salah satu tema yang banyak dibahas dalam riset peran pustakawan adalah perannya dalam merangkul dan melibatkan pengguna di luar ruang lingkup tradisional perpustakaan (Ganaie, 2014). Istilah embedded librarianship kemudian muncul sebagai konsep yang mendefinisikan ulang peran pustakawan, tidak hanya terbatas pada tugas di dalam perpustakaan, tetapi juga berfungsi secara proaktif di luar perpustakaan. Pustakawan kini menciptakan lingkungan operasional baru yang mendorong kolaborasi yang lebih kuat antara pustakawan dengan peneliti dan pengajar yang memerlukan dukungan dari penyedia informasi ahli. Konsep ini kompleks dan beragam, melibatkan peningkatan interaksi, kolaborasi, dan integrasi dengan komunitas sasaran, sehingga memperkuat peran strategis pustakawan dalam lembaga akademik (Leonard dkk., 2023). Sub tema yang muncul pada kategori ini berhubungan dengan fungsi perluasan yang bersifat memberikan edukasi terhadap masyarakat dalam memanfaatkan informasi yang dapat memberikan manfaat terhadap kehidupan mereka. Berikut beberapa subtema yang lebih spesifik tentang peran pustakawan untuk menjangkau pengguna di luar peran tradisionalnya: 1. Peran Edukasi Terdapat tiga tema besar terkait peran pendidikan yang dilakukan pustakawan. Pertama terkait dengan bagaimana pengajaran yang dilakukan pustakawan utamanya terkait literasi informasi masuk ke dalam kurikulum pendidikan yang lebih luas. Kedua, adalah proses pengajaran di kelas yang dilakukan pustakawan, dan ketiga adalah peran pustakawan dalam membuat konten edukasi yang bisa diakses secara luas. a. Menjadi Bagian dari Penyusun Kurikulum Pendidikan Akademik Pustakawan, khususnya di lingkungan akademik, perlu terintegrasi dalam kurikulum pengajaran subjek tertentu, seperti kedokteran (Mi, 2015) dan keperawatan (Kolstad, 2015). Salah Satu hasil penting dari integrasi ini adalah pengembangan kurikulum kedokteran berbasis bukti atau evidence-based medicine (EBM). Kurikulum EBM berpotensi meningkatkan peran pustakawan dalam literasi informasi, mulai dari pencarian, evaluasi, hingga pemanfaatan informasi yang melimpah (Muellenbach dkk., 2020). Wawancara dengan pustakawan di institusi pendidikan medis di Kanada Dan Amerika menunjukkanantusiasme mereka untukmengembangkan kurikulumini, meskipun mereka membutuhkan pelatihan lebih lanjut dari asosiasi perpustakaan medis (Conway, 2016; Maggio dkk., 2015). Mullins &Boyd- Byrnes (2024) juga menggarisbawahi pentingnya pengajaran literasi informasi sejak semester awal, dengan pustakawan sebagai pengajar utama berkat kualifikasi unik mereka. Melalui wawancara dengan pustakawan di institusi pendidikan medis di Kanada dan Amerika, Conway (2016) menunjukkanantusiasme pustakawan untukterlibat dalampengembangankurikulum ini. Selain itu, pustakawan merasa mereka perlu mengikuti lokakarya yang diselenggarakan oleh asosiasi perpustakaan medis guna meningkatkan kompetensi dalam memenuhi peran ini. Maggio dkk. (2015) juga menekankan pentingnya workshop bagi pustakawan untuk memperkuat kemampuan mereka sebagai pengajar. Penelitian Mullins & Boyd-Byrnes (2024) menemukan bahwa pengajaran literasi informasi bagi mahasiswa sangat penting untuk dimasukkan ke dalam kurikulum pada semester awal perkuliahan. Survei mereka menunjukkan bahwa pustakawan memiliki kualifikasi unik yang membuat mereka lebih efektif dalam menyampaikan pengajaran literasi informasi dibandingkan dengan staf pengajar lainnya di kampus. Potensi peran besar pustakawan dalam pengembangan kurikulum di aspek komunikasi ilmiah tidak diimbangi dengan pemberian otoritas formal terhadap pustakawan di dalam organisasi (Hackstadt, 2020). Padahal tanggung jawabnya termasuk memimpin atau mengembangkan program dan inisiatif komunikasi ilmiah. Kovar- Gough (2017) bahkan peran pustakawan yang lebih luas dalam keterlibatan akademik. . Selain membantu penyusunan kurikulum, pustakawan juga perlu memberikan edukasi tentang hak cipta, amandemen kesepakatan lisensi, dan pembangunan taksonomi dalam pemetaan kurikulum. 2. Peran Pengajar Secara historis, misinformasi dan disinformasi telah menjadi bagian abadi dalam sejarah umat manusia. Pustakawan memiliki peran krusial dalam memitigasi masalah ini. Selain melalui kerja langsung untuk membatasi penyebaran informasi palsu dan mempromosikan informasi yang benar (Kraft, 2024), salah satu caranya adalah, pustakawan berperan sebagai pengajar literasi yang dapat meningkatkan kemampuan evaluasi informasi(Wheeler & McKinney, 2015). Struktur organisasi perpustakaan akademik tidak secara jelas mengakui peran pustakawan akademik dalam pengajaran perpustakaan. Meskipun Sebagian besar perpustakaan akademik memiliki kebijakan pengajaran formal, sebagian besar perpustakaan belummenunjuk koordinator pengajaran(Wickramanayake, 2014). Padahal, Pengajaran literasi informasi memberikan dampak positif dan kemampuan penulisan ilmiah mahasiswa, seperti konsistensi dan kemampuan sitasi (Kilmer dkk., 2023; Koler-Povh & Turk, 2020). Selain Itu, keterampilan literasi berbasisdataterbukti secara statistik meningkatkan pemberdayaan psikologis dan efikasi diri lulusan universitas di tempat kerja(Deja dkk., 2021). Untuk memaksimalkan manfaat pengajaran literasi informasi, pustakawan sepakat bahwa standar kualitas perlu diterapkan. Beberapa Contoh standar adalah American Association of School Librarians (AASL)dan International Society for Technology in Education (ISTE) pada tingkat sekolah (Dotson & Dotson- Blake, 2015). Model pengajaranyangterbukti efektif dengan cara memberikan waktu lebih banyak bagi pustakawan untuk berinteraksi langsung dengan siswa, seperti model Big6, adalah model yang perlu diterapkan (Baji dkk., 2018; Yearwooddkk., 2015). Pendekatan pengajaran tidak harus bersifat satu arah. Metode Seperti bermain peran (roleplay) memungkinkan mahasiswa membayangkan diri mereka sebagai pustakawan dan menunjukkan kemampuan mereka dalam mencari dan mengevaluasi informasi (Riehdkk., 2022). Peran pustakawan sebagai pengajar literasi informasi dapat dilakukan pada berbagai tingkatan pendidikan. Pengajaran ini menjadi penting karena dalam kondisi masyarakat yang dipenuhi media, kebanyakan orang masih memiliki kemampuan yang buruk dalam memilih dan mengevaluasi konten (Beck, 2015). Di level sekolah, Dawkins & Gavigan (2017) menjelaskan peran pustakawan dalam pengajaran menulis pada siswa di bawah 12 tahun. Pustakawan sekolah juga berperan penting dalam menumbuhkan literasi dan keterlibatan membaca. Cakupan peran pustakawan sekolah meliputi pemilihan literatur, wawasan sastra, menanamkan membaca untuk kesenangan, bekerja sama dengan siswa untuk mengembangkan keterampilan membaca, serta menerapkan dan mendukung program membaca (Merga, 2021). Di perpustakaan umum, pustakawan mengelola ruang kreatif atau makerspace, berperan sebagai spesialis informasi dan pendidik yang membantu pengunjung mengakses pengetahuan dan keterampilan baru. . Dengan peran ini, pustakawan tidak hanya mendukung literasi informasi, tetapi juga memfasilitasi pembelajaran kreatif dan kolaboratif bagi masyarakat (Williams & Willett, 2019). Kecerdasan buatan generatif dapat dimanfaatkan oleh pustakawan untuk mengintegrasikan teknologi ini dalam metode pengajaran dan membantu siswa menjadi pengguna yang kritis dan etis dalam menciptakan dan menggunakan informasi (Oddone dkk., 2024). Keterbukaan akses informasi dan etika penggunaannya juga penting, dengan etika siber dan kewarganegaraan digital harus menjadi bagian dari instruksional literasi informasi untuk mempromosikan perilaku online yang bertanggung jawab (Dunmade & Tella, 2023; Phillips & Lee, 2019; Saputra, 2022). a) Membuat Konten Edukasi Seringkali, masyarakat merasa telah memiliki kemampuan literasi yang cukup, namun kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam konteks literasi kesehatan, misalnya, survei menunjukkan bahwa banyak orang percaya mereka sudah melek literasi kesehatan, padahal sebenarnya masih banyak yang perlu ditingkatkan. Salah satu cara efektif untuk mencapai peningkatan ini adalah melalui kolaborasi antara perpustakaan dan layanan kesehatan. Di sinilah peran pustakawan menjadi krusial, dengan menyediakan informasi yang tepat dan mendidik masyarakat untuk meningkatkan literasi kesehatan mereka (Butler, 2019). Pustakawan memiliki tanggung jawab penting untuk menciptakan konten informasi yang edukatif dan relevan bagi komunitas yang merekalayani. Kavanaugh dkk. (2016) menunjukkan bagaimana pustakawan dapat meningkatkan literasi kesehatan dengan merancang konten yang secara khusus ditujukan untuk mendidik komunitas. Tantangan dalam hal ini termasuk meningkatkan kompetensi kesehatan pustakawan dan memastikan bahwa konten yang dibuat sesuai dan mudah dipahami oleh audiens. Contoh laindatang dari Grabeel & Tester (2018) yang menyoroti pentingnya pustakawan bekerja sama dengan komite pendidikan rumah sakit untuk membuat dan meninjau konten yang mendidik pasien. Pentingnya peran pustakawan dalam menyebarkan konten edukasi menjadi sangat nyata dalam situasi tak terduga seperti pandemi Covid- 19. Di masa krisis seperti itu, pustakawan berperan aktif dalam mencegah penyebaran media informasi dengan menyediakan informasi yang akurat dan mudah diakses (Joel Campbell, 2023). Namun, tantangan tetapada, terutama di negara berkembangseperti India, di mana pustakawanmasih memiliki peran yangterbatasdalam sistem layanan kesehatan, termasuk dalam menyebarkan informasi kesehatan kepada berbagai komunitas. Hal ini seringkali disebabkan oleh kurangnya responsivitas otoritas dalam menyediakan informasi yang merata (Narang, 2020). b) Meningkatkan Kualitas Hidup Komunitas yang Lebih Luas Pustakawan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui layanan informasi yang melampaui bentuk konservatif. Di perpustakaan desa, misalnya, pustakawan dapat memenuhi kebutuhan yang tidak tersedia di layanan publik setempat. Benson (2016) memberikan contoh bahwa pustakawan dapat menyediakan bantuan khusus bagi korban kekerasan dalam rumah tangga di daerah pedesaan, di mana akses ke tempat penampungan dan layanan hukum seringkali terbatas. Peran pustakawan juga menjadi krusial dalam situasi pasca bencana. Di Florida, setelah badai Michael, perpustakaan umum tetap beroperasi meski dalam keterbatasan, mendukung proses pemulihan masyarakat (Mardis dkk., 2021). Di tengah krisis ekonomi di Yunani, pustakawan perpustakaan umum menunjukkan adaptasi yang luar biasa dengan menciptakan program- program yang relevan, seperti volunterisme, donasi, dan kerja sama dengan aktor lokal, yang memberikan manfaat signifikan dalam kondisi krisis (Mouza & Taousanis, 2018). Selain itu, pustakawan juga dapat berkontribusi pada pengembangan kewirausahaan dengan berperan lebih aktif dalam ekosistem kewirausahaan. Mereka dapat mendukung dunia usaha dengan menciptakan lingkungan informasi yang mendukung berbagai fase perjalanan kewirausahaan (Chaudhari, 2018; Gupta & Gupta, 2024). c) Layanan Perpustakaan Nakitare dkk. (2020) memberikan ilustrasi bagaimana pustakawan dan perpustakaan masih relevan. Dalam Kondisi di mana melimpahnya platform digital, masih banyak penggunayang meminjam dan memanfaatkan layanan peminjaman perpustakaan. Kondisi tersebut mengungkapkan penggunatetap menggunakan perpustakaan karena pustakawan berperan memberdayakan penggunanya, dan tidak sekedar memberikan informasi. Dalam bentuk layanan yanglebihkomperehensif, memberikan layananinformasi terintegrasi dengancaramembangun perpustakaan di tengahkompleks riset memperkuat kemitraanyang lebih kuat dan efektif memenuhi berbagai kebutuhan informasi komunitas riset (J. E. Smith dkk., 2014). Pekanbaru Tersebut memerlukan keterampilan khusus baik dari aspek profesional maupun dari aspek kemampuan komunikasi. Pejabat dan pembuat kebijakan harus menyadari kebutuhan ini dan mengembangkan program pendidikan untuk membekali pustakawan dengan peran ini (Zerg Hani dkk., 2021). Berikut merupakan beberapa peranyang lebih spesifik dari pustakawan dalam memberikan layanan perpustakaan di era digital saat ini: 1. Layanan Referensi layanan referensi online adalah bentuk dari layanan yang dapat mendukung komunitas akademik dan penelitian(Chakraborty dkk., 2020). Salah Satu Bentuk layanan referensi onlineyangbanyak digunakan adalah melalui online chat. Menurut Meert-Williston&Sandieson (2019), mayoritas pertanyaan yang diajukan dalam layanan ini bukanlah pertanyaan referensi mendalam, melainkan pertanyaan referensi cepat atau umum. Hal ini memberikan petunjuk untuk staf perpustakaan agar memiliki kombinasi keahlian dalam sirkulasi dan referensi umum akan lebih optimal dalam menjalankan layanan ini. 2. Layanan Penelitian Di beberapa jenis perpustakaan, seperti perpustakaan akademik dan perpustakaan khusus, peran perpustakaan banyak berfokus pada siklus penelitian yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penyebaran, dan penilaian dampak penelitian. Lebih spesifik lagi, perpustakaan membantu dalam pengelolaan referensi, pengarsipan data penelitian, analisis kutipan, pelatihan Altmetrics, tinjauan sistematis, dan tinjauan literatur (Janke dkk., 2022). Permintaan terhadap tinjauan sistematis yang dilakukan pustakawan pun meningkat. Pustakawan kini dituntut mengembangkan model layanan yang fleksibel, baik sebagai konsultasi maupun kolaborasi penuh, guna meningkatkan kualitas penelitian dengan memenuhi standar protokol pencarian dan pelaporan (Healy dkk., 2020; McKeown & Ross-White, 2019), dan dibantu dengan otomasi yang dapat mempercepat proses tinjauan sistematis yang membuat peran pustakawan penting untuk menjaga kualitas tinjauan literatur (Laynor, 2022). Peran pendukung penelitian ini meluas di berbagai bidang, termasuk dalam pengobatan berbasis bukti di bidang medis (Maggio dkk., 2015), riset musik pertunjukan (Scott, 2014), dan bidang veteriner (Toews, 2019). Khususnya di lingkungan akademik STEM, layanan terkait data lebih diminati dibandingkan layanan perpustakaan tradisional seperti pengembangan koleksi dan referensi (Bishop dkk., 2023). Meskipun potensinya besar, keterlibatan pustakawan dalam riset, khususnya di bidang kedokteran gigi, masih tergolong rendah, dengan peran mereka sering kali terbatas sebagai konsultan (Lehmkuhl dkk., 2023). Untuk meningkatkan kontribusi ini, perubahan dalam sistem manajemen yang disesuaikan dengan kerangka sosial dan teknologi terbaru terbukti memberikan dampak positif terhadap output riset, seperti yang terlihat dari penerapan program Manajemen Perubahan berdasarkan kerangka kerja Todd Jick, yang menghasilkan peningkatan stabil dalam keluaran ilmiah pustakawan, mendorong budaya yang berorientasi pada penelitian (Soehner dkk., 2021). Pustakawan data adalah pengelola data riset dengan menggunakan data sebagai sumber daya untuk mendukung aktivitaspenelitian, baik sebagai seorang spesialis subjek, atau generalis data (Federer, 2018). 3. Penggunaan Teknologi Terbaru Untuk Layanan Teknologi baru dan inovasi sepatutnya memperluas peran dan keahlian pustakawan. Cakupan ini mencakup ruang pembelajaran virtual, layanan referensi lewat chat, panduan penelitian online, ruang kreatif, realitas virtual, dan lainnya (Soehner dkk., 2021). Semua inovasi tersebut ditujukan untuk memperbaiki kualitas dan kemudahan di berbagai aspek, termasuk bagi pengguna perpustakaan berkebutuhan khusus. Pada pemustaka dengan gangguan penglihatan, pustakawan mungkin dapat langsung membantu mereka dalam menggunakan bahan informasi. Beberapa pengguna menyatakan kepuasannya bekerja dengan pustakawan secara langsung. Namun, lebih banyak pengguna yang lebih menyukai kemandirian dengan menggunakan screen reader. Oleh Karena itu, website perpustakaan dan sumber elektronik perlu lebihmudahdiakses untuk memastikan akses yangsetara bagi pengguna tunanetra (Mulliken, 2017). d) Preservasi Di era inovasi digital, pelestarian kearifan lokal berada pada persimpangan menarik antara warisan budaya danteknologi. Pustakawan memainkan peran penting dalam menavigasi kompleksitas teknologi sambil tetap menghormati protokol budaya. Peran ini mencakup pelestarian kearifan lokal dalam bentuk puisi, cerita rakyat, drama, artefak, memperagakan tarian tradisional, serta merekam sesi langsung dan mengelola koleksi khusus. Tantangan yang dihadapi meliputi masalah etika dalam mendokumentasikan pengetahuan masyarakat adat serta upaya membangun kepercayaan dan hubungan kolaboratif dengan komunitas adat (Chigwada & Ngulube, 2023).

Conclusion

Tinjauan terhadap artikel terindeks Scopus tahun 2014–2024 menunjukkan bahwa secara umum ada tiga peran dominan pustakawan dalam proses organisasi informasi yang muncul pada berbagai penelitian peran pustakawan. Peran pertama adalah dalam proses manajemen informasi dan sumber daya digital. Dalam proses ini, pustakawan dapat berperan dalam (1) manajemen data, (2) penyediaan informasi berdasarkan subjek tertentu, (3) pengembangan koleksi digital, (4) perencanaan penerapan teknologi di institusi, dan (5) pengelolaan serial ilmiah terbuka. Peran kedua terkait dengan keterlibatan dan edukasi komunitas. Terdapat dua peran menonjol yang digambarkan dalam artikel ini, yaitu (1) peran edukasi, terutama pada aspek literasi informasi, dan (2) peran untuk menjangkau komunitas yang lebih luas guna meningkatkan kualitas hidup mereka. Sementara itu, peran ketiga pustakawan adalah dalam memberikan layanan perpustakaan. Teknologi menuntut pustakawan untuk beradaptasi dalam peran layanan ini, seperti (1) peran pustakawan dalam layanan referensi online, (2) menjadi bagian penting dari siklus penelitian institusi, dan (3) terus beradaptasi dengan teknologi terbaru yang dapat meningkatkan layanan. Jenis perpustakaan yang paling banyak dibahas pada isu peran pustakawan di era digital saat ini adalah pustakawan akademik dan pustakawan institusi terutama di bidang medis. Temuan Ini sejalan dengan analisis Myers (2020) yang mengidentifikasi pustakawan akademik sebagai lebih produktif dalam kegiatan ilmiah dibandingkan dengan pustakawan medis, dengan fokus pada tema-tema seperti peristiwa, sumber daya elektronik, praktik berbasis bukti, koleksi, instruksi akademik, dan dukungan penelitian. Gambaran ini menunjukkan bahwa pustakawan harus terus mamputerus beradaptasi terhadap perubahan (Das & Banerjee, 2021). Tantangan dari adaptasi terhadap peran baru ini termasuk peningkatan pelatihan (Toews, 2019; Zarghani dkk., 2021), terutama dalam hal teknologi informasi (Ramzan dkk., 2021) dan kepustakawanan data (Winterman&Asher, 2021). Pengembangan keterampilan ini harus berkelanjutan karena teknologi berubah sangat cepat (Tait dkk., 2016), ditambah dengan keterbatasan waktu dalam menyediakan dukungan komprehensif (McKeown & Ross-White, 2019). Kesimpulan yang diperoleh dari tinjauan ini memiliki beberapa keterbatasan. Misalnya, database yang digunakan hanya terbatas pada artikel yang terindeks di Scopus, sehingga perlu diperluas. Selain Itu, diperlukan tinjauan literatur sistematis yang lebih spesifik, seperti pada peran pustakawan dalam manajemen data dan peran pustakawan sebagai edukator literasi informasi. Pembacaan secara menyeluruh terhadap setiap artikel juga merupakan proses ideal yang dapat memberikan ekstraksi informasi yang lebih mendalam, meskipun hal ini akan memerlukan waktu tinjauan yang lebih panjang.