Kembali
16
1
2022 Visi Pustaka: Buletin Jaringan Informasi Antar Perpustakaan Vol 24 · 3 ISSN 2685-7138

PENGARUH ORGANISASI INFORMASI TERHADAP PELESTARIAN BAHAN PUSTAKA DALAM RUANG LINGKUP PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

Universitas Padjadjaran

Abstrak

Perpustakaan merupakan tempat dimana peristiwa dari transaksi informasi terjadi. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, perpustakaan terus-menerus melakukan penyesuaian agar dapat memuaskan pengguna dengan layanan informasinya. Informasi yang ada di perpustakaan diolah melalui kegiatan organisasi informasi, bahan pustaka merupakan salah satu bentuk dari informasi. Bahan pustaka di perpustakaan perguruan tinggi sudah seharusnya dilestarikan keberadaannya, tetapi kenyataannya banyak bahan pustaka yang tidak dilestarikan dengan baik karena tidak didukung oleh kegiatan organisasi informasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh organisasi informasi terhadap pelestarian dari bahan pustaka dalam ruang lingkup perpustakaan perguruan tinggi dan mengetahui organisasi informasi sebagai pelestarian bahan pustaka di perpustakaan perguruan tinggi. Teknik pengumpulan data yang dipakai pada penelitian ini yakni observasi, wawancara, dan literature review. Hasil dari penelitian ini adalah kegiatan organisasi informasi di perpustakaan perguruan tinggi berpengaruh terhadap pelestarian dari bahan pustaka dan kegiatan organisasi informasi di ruang lingkup perpustakaan perguruan tinggi sebagai usaha pelestarian bahan pustaka perlu dilakukan secepatnya, diantaranya adalah sebagai pendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan pendukung Tri Dharma perguruan tinggi.

Abstract

The library is a place where events from information transactions occur. Along withthedevelopment of information technology, the library is constantly making adjustments in order tosatisfy users with its information services. Information in the library is processed throughinformation organization activities, library materials are a form of information. Library materialsincollege libraries are supposed to be preserved, but in fact many library materials are not well preserved because they are not supported by the activities of information organizations. Thepurpose of this study is to determine the influence of information organizations on the preservationof library materials within the scope of college libraries and to know information organizationsaspreservation of library materials in college libraries. The data collection techniques used inthisstudy were observation, interviews, and literature review. The result of this research is that information organization activities in higher education libraries affect the preservation of librarymaterials and information organization activities in the scope of higher education libraries as aneffort to preserve library materials need to be carried out as soon as possible, including asasupporter of the development of science and a supporter of the Tri Dharma of higher education.
Keywords: Perpustakaan Perguruan Tinggi · Organisasi Informasi · Pelestarian Bahan Pustaka · Pelestarian

Introduction

Telah menjadi pemahaman umum bahwasanya perpustakaan merupakan salah satu tempat dimana peristiwa transaksi informasi terjadi. Perpustakaan yang hadir bersamaan dengan seiring lajunya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi abad ke 21, Perpustakaan terus-menerus melakukan berbagai inovasi baru di berbagai layanan yang disediakannya tidak terkecuali dengan layanan pelestarian bahan pustaka. Layanan pelestarian bahan pustaka merupakan salah satu layanan yang memiliki peran yang krusial dalam sebuah perpustakaan. Hal ini karena koleksi bahan pustaka yang beragam bentuk dan format tidak akan terhindar dari kerusakan. Lalu apakah kegiatan pelestarian bahan pustaka yang dilakukan pustakawan sudah terbukti efisien? Apakah kegiatan pelestarian bahan pustaka dapat ditunjang oleh sistem pengelompokan bahan pustaka? Keberadaan bahan pustaka di sebuah perpustakaan tentunya diatur oleh suatu sistem informasi, yang di dalamnya mengatur bagaimana agar bahan pustaka yang ada di perpustakaan bisa digunakan oleh pengguna dengan baik dan terjamin ketersediaannya saat akan digunakan. Bahan pustaka sejatinya dilakukan pengelolaan sedemikian rupa sebelum diletakan di rak dan siap digunakan pemustaka. Kelola informasi atau organisasi informasi menurut Suwarno (2016) didefinisikan menjadi sebuah kegiatan dalam menyusun,mengolah, mengelola, dan menata sebuah ilmu pengetahuan, data, dan informasi lainnya dengan sedemikian rupa agar mudah untuk ditemukan kembali, serta dapat untuk dimengerti dan bermanfaat untuk pengguna sebagai salah satu usaha pengembangan dalam ilmu pengetahuan. Organisasi informasi merupakan salah satu tiang pondasi penting dari suksesnya sebuah perpustakaan. Kegiatan organisasi informasi ini berlangsung dari mulai data dikelola hingga dipublikasikan kepada pengguna. Bahan pustaka yang tersedia di perpustakaan perlu dilestarikan, salah satunya adalah dengan cara mengorganisasi informasi yang beredar. Oleh karena itu, bahan pustaka yang tersedia di perpustakaan perlu dilestarikansebagai salah satu upaya pengembanganilmu pengetahuan di ruang lingkupperpustakaan. Penelitian ini dijadikan sebuah topik pembahasan penulis, dikarenakan kurangnya penelitian terdahulu mengenai bahasan topik yang akan penulis bahasyaitu organisasi informasi dalam artikel ilmiah ini. Maka dari itu penulis mengadakan penelitian yang serupa dengan menyesuaikan subjek pada perpustakaan perguruan tinggi dengan menggunakan subjek mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia, dikarenakan mahasiswa merupakan salah satu bagian dari civitas akademika perguruan tinggi yang seringkali datang perpustakaan perguruan tinggi sebagai pemustaka untuk mencari informasi dari berbagai bahan pustaka. Penulis Mengambil topik “Pengaruh Organisasi Informasi Terhadap Pelestarian Bahan Pustaka dalam Ruang Lingkup Perpustakaan Perguruan Tinggi” setelah melihat bahan pustaka melimpah dalam perpustakaan perguruan tinggi tidak dilestarikan secara baik, sehingga penulis menghubungkan urgensi pelestarian bahan pustaka dengan organisasi informasi di perpustakaan perguruan tinggi dengan menggunakan subjek mahasiswa. Dengan demikian permasalahan penelitian yang diajukan adalah Pengaruh Organisasi informasi terhadap pelestarian bahan pustaka dalam ruang lingkup perpustakaan perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh organisasi informasi terhadap pelestarian bahan pustaka dalam perpustakaan perguruan tinggi.

Method

Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini merupakan pendekatan kualitatif yaitu sebuah penelitian yang ditujukan utukmembuka sebuah fakta empiris dengan cara objektif ilmiah yang bertumpu pada logika keilmuan (Mukhtar, 2013). Pada penelitian ini sumber data yang dipakai adalah data primer. Mukhtar (2013) menginterpretasikan data primer merupakan data yang dikumpulkan secara langsung oleh seorang peneliti yang secara umum adalah hasil observasi akan sebuah situasi ataupun diterima dari informan dengan melewati proses wawancara. Selain itu pada penelitian ini jenis data yang dipakai yakni jenis data kualitatif. Menurut Nawawi (2013) data kualitatif yakni data yang diinterpretasikan menjadi wujud kalimat ataupun berupa uraian. Teknik pengumpulan data yang dipakai pada penelitian ini yakni observasi, wawancara, dan literature review. Wawancara dilakukan pada tanggal 12 Januari 2022. Sedangkan informan dalam penelitian ini ditentukan menggunakan teknik purposive yaitu penentuan contoh yang dilakukan oleh peneliti atas dasar kriteria tertentu. Kriteria informan pada penelitian ini adalah: 1. Informan merupakan pemustaka yang mengetahui kegiatan organisasi informasi dan pelestarian bahan pustaka di Perpustakaan Perguruan Tinggi. 2. Informan merupakan pemustaka Perpustakaan Perguruan Tinggi. Berdasarkan kriteria tersebut, informan penelitian ini adalah: a) Nama/Inisial: LSR Subjek: Pemustaka Perpustakaan Perguruan Tinggi di daerah Kabupaten Sumedang b) Nama/Inisial: APT Subjek: Pemustaka Perpustakaan Perguruan Tinggi di daerah Kabupaten Sumedang yang mengetahui organisasi informasi dan pelestarian bahan pustaka. c) Nama/Inisial: NJ Subjek: Pemustaka Perpustakaan Perguruan Tinggi di daerah Kabupaten Sumedang yang mengetahui organisasi informasi dan pelestarian bahan pustaka. Pada penelitian ini digunakan triangulasi dalam pengujian keabsahan data hasil penelitian. Triangulasi yang dipakai merupakan triangulasi sumber. Sedangkan metode analisis data pada penelitian ini memakai model interaktif Miles &Hubermandalam Mukhtar (2013) yakni: 1. Reduksi Reduksi mengacu kepada prosespenyeleksian, pemfokusan, penyederhanaan, pengabstraksian, dan transformasi datamentah yang hadir pada penulisan catatan- catatan lapangan. Reduksi ini memungkinkanpeneliti untuk menghapus serta menginput data yang dirasa penting. 2. Display Data Display data yakni merupakan upayaperangkaian informasi yang tersusunpadausaha penggambaran penyimpulan sertapengambilan tindakan. Dengan cara penyajiandata tersebut, lalu data akan terorganisir ataupun tersusun pada pola hubungan, hinggaakan makin mudah untuk dimengerti. 3. Verifikasi serta Penarikan KesimpulanVerifikasi & penarikan kesimpulanyakni aktivitas analisis dimana dalamawal penghimpunan data, pemutusan apakahsesuatu hal tersebut memiliki maknaatautidak memiliki keteraturan, pola, penjelasan, kemungkinan konfigurasi, hubungan sebabakibat, dan preposisi. Pada tahap verifikasi ini, peneliti melakukan pengecekan hasil simpulan-simpulan tersebut untuk dijadikansebuah kesimpulan pasti pada hasil penelitiannya. TINJAUAN PUSTAKATelah dilakukan sebuah penelitianterdahulu oleh Lestari, Komariah, danRizal (2016) mengenai pengelolaan informasi sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhaninformasi masyarakat. Penelitian tersebut memakai metode kualitatif dan pendekatanyang deskriptif. Pada penelitian ini didapatkanhasil bahwa pengelolaan dari informasi di Diskominfo Kabupaten Garut telah memenuhi kebutuhan dalam informasi dari masyarakat, data yang dikumpulkan disesuaikanberdasarkan keperluan dan disajikannyainformasi ke dalam bentuk foto pada brosur dan tabel, teks, dan situs yang akan disebar luaskan via brosur, media tradisional, MCAP, papan informasi, website serta radio. Selainitu, perbedaan penelitian yang dilakukanolehLestari, Komariah, dan Rizal (2016) membahas tentang mengelola informasi sebagai upaya dalam memenuhi kebutuhan informasi sedangkan penulis membahas mengenai pengaruh organisasi informasi terhadap pelestarian bahan pustaka. Perbedaan lainnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Lestari, Komariah, dan Rizal (2016) sebatas pada pengelolaan informasi sedangkan penulis membahas pengaruh organisasi informasi hingga pelestarian bahan Pustaka dalam ruang lingkup perpustakaan perguruan tinggi. Penelitian terdahulu selanjutnya oleh Ibrahim (2013) mengenai perawatan dan pelestarian bahan pustaka. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Didapatkan hasil perawatan dan pelestarian bahan pustaka penting untuk dilakukan sebagai pendukung fungsi perpustakaan sebagai layanan kepustakaan dengan melestarikan bahan pustaka dalam kondisi terpelihara dan siap untuk digunakan oleh pengguna. Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Ibrahim (2013) adalah memakai metode penelitian literatur atau studi kepustakaan sedangkan penulis memakai metode studi kepustakaan dan wawancara. Kontribusi dari tiap-tiap penelitian terdahulu yang telah dijabarkan merupakan dalam rangka sebagai bahan dasar bagi penyusunan state of the art yang mana berkaitan dengan kumpulan teori, serta referensi baik yang mendukung maupun tidak mendukung penelitian dari penulis. 1. Perpustakaan a) Pengertian Perpustakaan Menurut isi pengertian perpustakaan yang berdasarkan dari Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, Perpustakaan merupakan institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku agar dapat memenuhi berbagai kebutuhan dalam pendidikan, pelestarian, informasi, penelitian, dan rekreasi bagi para pemustaka. Sedangkan perpustakaan yakni unit kerja yang merupakan tempat untuk menyediakan berbagai koleksi dari bahan pustaka yang disusun dengan sistematis menggunakan metode khusus agar dipakai dengan berkelanjutan oleh pemustaka sebagai sumber informasi (Milburga, 1991). Sebuah perpustakaan berdasarkanSutarno (2003), memiliki prasyarat danciri-ciri diantaranya seperti berikut (1) terdapat ruangan atau gedunguntukdigunakan sebagai perpustakaan, (2) mengoleksi bahan pustaka atau seperti buku sebagai sumber informasi, (3) terdapat petugas untuk melayani pemustaka, (4) ada masyarakat pengguna atau pembaca, (5) tersaji sarana serta prasarana yang adadi dalam perpustakaan. Sebuah ruangan atau gedungdapat dikatakan sebagai sebuah perpustakaanjika memiliki identitas di antaranyasebagai berikut: (1) perpustakaansebagai sebuah unit kerja, (2) mengelolaberbagai macam bahan pustaka, (3) sebagai sebuah tempat dari sumber informasi, (4) terdapat pemustakaataupengguna sebagai pemakai layananperpustakaan (Bafadal, 2011: 2-3). Sedangkan jenis perpustakaanmenurut Sutarno (2003) antaralainmerupakan perpustakaan internasional, perpustakaan nasional, perpustakaanumum, perpustakaan kantor perwakilannegara-negara asing, badanperpustakaan daerah, perpustakaanperguruan tinggi, perpustakaan lembagakeagamaan, perpustakaan sekolah, perpustakaan khusus dan perpustakaanpribadi. b) Pengertian PerpustakaanPerguruan Tinggi Sutarno (2003) dalambukunyamenginterpretasikan perpustakaan perguruantinggi sebagai perpustakaan yang terdapat di dalam sebuah perguruan tinggi sertayangsederajat serta berfungsi untuk menggapai Tri Dharma Perguruan Tinggi, dan pemustakanyamerupakan keseluruhan dari civitasakademika. Selain itu Qalyubi (2007) adalahsebuah unit pelaksana teknis perguruantinggi yang berdampingan bersama denganunit lainnya untuk bersama-sama melaksanakanTri Dharma Perguruan Tinggi dengancaramemilih, mengolah, menghimpun, merawat, dan memberikan layanan sumber informasi pada lembaga induknya khususnyadanmasyarakat akademis secara umum. Noerhayati (1987) menyatakan bahwasanya perpustakaan perguruan tinggi sebagai unit kerja bagian integral suatu lembaga induk yang bersama dengan unit lainnya namun memiliki peran yang tidak sama, dan mempunyai tugas untuk menyokong perguruan tinggi terkait dalam pelaksanaan Tri Dharmanya. 1) Tugas Perpustakaan Perguruan Tinggi Menurut Wiji Suwarno sebagaimana dikutip oleh (Suwarno, 2009) bahwasanya secara jelas perpustakaan memiliki 3 tugas, yakni: a) Tugas penghimpun informasi Melibatkan keseluruhan tindakan menyeleksi, mencari, mengisikan perpustakaan memakai sumber informasi dari yang utuh/mencukupi dalam artian jenis, kuantitas, serta mutu yang dicocokkan bersamaan ketersediaan dana, kebijakan dalam organisasi, serta keinginan pemakai dan baru. b) Tugas pengelola Mencakup mulai dari proses kegiatan penyimpanan, pengolahan, penyusunan, mudah untuk ditelusuri kembali serta diakses oleh pemustaka, pengemasan agar dapat tersusun dengan rapi, serta perawatan bahan pustaka perpustakaan. Tugas dari pengelola meliputi berbagai perawatan dan pemeliharaan supaya semua koleksi dalam perpustakaan senantiasa terus terjaga dalam status yang utuh, bersih, serta baik untuk digunakan oleh pengguna. c) Tugas untuk memberdayakan serta memasok layanan secara maksimal. Perpustakaan selaku salah satu pusat lembaga informasi yang mengoleksi beragam ilmu pengetahuan, menyediakan berbagai layanan informasi yang tersedia untuk dimanfaatkan pada masyarakat pengguna informasi, sehingga menjadi tim dari berkembangnya ilmu pengetahuan & informasi, teknologi serta kebudayaan masyarakat. Tugasnya juga meliputi usaha untuk publikasi, promosi, dan sosialisasi dalamrangka agar warga pemustakadapat tahu secara jelas apa sajayangtersedia di perpustakaan &bisadigunakan dari adanyaperpustakaan. 2. Organisasi Informasi a) Pengertian Organisasi Informasi Organisasi informasi dapat didefinisikan sebagai sebuahkegiatan dalam mengelola, menata, mengolah, menyusun, sebuahilmupengetahuan, data, serta informasi lain dalam sedemikian rupa agar dapat dengan mudah saat ditemukankembali oleh pemustaka, bisadipahami serta berguna bagi pengguna dalam pengembangandari ilmu pengetahuan (Suwarno, 2016). Organisasi informasi dapat dikatakanpengelolaan informasi. b) Ruang Lingkup Organisasi Informasi 1. Klasifikasi Hamakonda dan Tairas(1999) menyatakan bahwaklasifikasi ialahpengelompokkan yangterstruktur terhadap beberapagagasan, buku, objek, ataupunbenda-benda yang lainnyamenjadi golongan/kelas khususatas dasar dari ciri-ciri yangserupa. Sedangkan klasifikasi menurut Gate, Jean, danKey(1998) merupakan sebuahsistem untuk menyeleksi sertamengelompokkan bahanpustaka berdasarkan dasar khusus dan ditempatkan dengancara bersama-sama di sebuahtempat. Klasifikasi yang seringdigunakan pada berbagai jenisperpustakaan adalah denganaturan Universal DeweyClassification (UDC), Libraryof Congress Classification (LCC), dan Dewey Decimal Classification (DDC). Sedangkan menurut Rachmawati dan Winoto (2019) Tujuan dari mengklasifikasi bahan pustaka: (1) Dalam memudahkan mahasiswa atau pengguna lain pada saat pencarian koleksi pustaka yang dibutuhkan. (2) Dalam memudahkan pustakawan pada saat mencari koleksi yang dipesan pemustaka. (3) Dalam memudahkan guru pustakawan untuk tahu pertimbangan bahan dari pustakawan. (4) Memudahkan pemustaka saat menyusun sebuah daftar koleksi pustaka yang disusun dengan sistem klasifikasi. 2. Katalogisasi Menurut Soeatminah (1998) katalog yakni sebuah daftar pustaka sebuah perpustakaan yang dilakukan penyusunan dengan cara yang sistematis agar pengguna dapat menggunakannya untuk mencari & menemukan lokasi koleksi secara mudah serta singkat. Katalogisasi dapat diinterpretasikan sebagai pembuatan daftar pustaka sebuah perpustakaan secara sistematis yang digunakan sebagai alat temu kembali bahan pustaka. Katalog perpustakaan yang digunakan biasanya berupa katalog berwujud fisik, katalog buku, katalog mikro, katalog kartu, dan katalog online. Menurut Rachmawati dan Winoto (2019) ada 3 tujuan dari dilakukannya katalog untuk salah satu alat untuk melakukan penelusuran dalam sebuah perpustakaan. Adapun tujuan yang pertama memprioritaskan bahwasanya katalog sebuah perpustakaan bekerja terus tetap menjadi daftar temuan untuk dokumen khusus. Tujuan yang kedua, memprioritaskan bahwasanya katalogperpustakaan perlu bekerjamenjadi sebuah daftar temuanuntuk sekelompok dari dokumen. Tujuan yang ketiga berurusanbersama deskripsi dari bukuyang ada di dalamkatalog, agar pemustaka dapat menyeleksi berbagai buku dari edisi satudengan edisi lainnya. 3. Bahan Pustaka 1) Pengertian Bahan Pustaka Bafadal dalam bukunya (2001) menginterpretasikan bahan pustakasebagai koleksi pustaka dalamwujudkarya tercetak dalamberbentuk bukufisik, buku teks, serta buku referensi yang dihimpun, diolah & disimpanagar disediakan pada pemustakasebagai pemenuh berbagai kebutuhan dari informasi. 2) Jenis Bahan Pustaka Adap pun Yulia (1993) membagi jenis dari bahan pustaka ke dalamberbagai jenis yang termasuk koleksi dari perpustakaan diantaranya: a. Karya cetak Karya cetak diinterpretasikanproduk dari akal penulis yangdicurahkan ke dalamwujuddiantaranya: Buku Buku Ialah bahan pustakaberupa sebuah kesatuan utuhserta sering ditemukan untukdiperoleh di dalamkepustakaan. Unesco memberikan standar tebal dari buku terbanyak 49halaman, tanpa meliputi cover dari sebuah buku cetak. Di antaranya adalah buku teks, buku fisik, serta buku referensi. Terbitan berseri Merupakan bahan pustakayangdiprogram akan diterbitkandengan menerus pada tempoterbitan khusus. Contohnyakoran harian, majalah bulanan, laporan tahunan, dan laporan triwulan. b. Karya noncetak Merupakan produk dari pemikiran yang dicurahkan tak melalui bentuk cetak, namun menjadi wujud lain semisal foto, video, dan rekaman suara. Sedangkan kata lainnya yang digunakan pada bahan pustaka karya noncetak ini merupakan bahan pandang dengar, nonbuku, yang masuk jenis dari bahan pustaka noncetak antara lain: Rekaman suara Adalah jenis bahan pustaka berbentuk piringan hitam dan pita kaset. Contohnya bagi koleksi dari perpustakaan ini ialah modul pelajaran Sejarah Indonesia yang digabungkan bersama pita kaset. Gambar hidup & rekaman video Contoh wujud ini diantaranya film & video kaset. Manfaatnya setelah hiburan juga digunakan dalam bidang kependidikan. Contohnya untuk kependidikan pemustaka, pada konteks ini cara untuk mencari koleksi mempergunakan layanan dari perpustakaan. Bahan grafika Terdapat 2 jenis bahan ini yakni bahan bisa dilihat dengan mata telanjang (lukisan, gambar teknik, bagan, foto, dan lain-lain) serta yang menggunakan bantuan alat jika ingin melihatnya (transparasi, selid, & filmstrip). Bahan kartografi Bahan berjenis ini di antaranya globe, atlas, peta, foto udara, serta lainnya. c. Bentuk mikro Ialah seluruh bahan pustaka yang memakai media film & harus menggunakan alat khusus seperti micro-reader jika ingin membacanya. Ada pun bahanpustaka ini telah dikelompokkansecara khusus. Bentuk mikrotidak dikelompokkan ke jenisbahan non cetak, dikarenakaninformasi yang dikandungmencakup bahan yang tercetaksemacam surat kabar, majalah, dan lainnya. Adapun 3 jeniskoleksi perpustakaan wujud, yakni: Mikrofilm Wujud contoh mikro yang padagulungan film, terdapat berbagai ukuran dari filmyakni 16 &35mm. Mikrofis Adalah wujud dari mikro padasebuah lembaran filmberukuran105, 148 mm & 75 x 125 mm. Micropaque Adalah bentuk mikro denganinformasi yang terkandungdicetak ke dalamkertas yangmengkilap dan tidak tembusakan cahaya. Ukurannya sekecil mikrofis. Karya dalamberbentukelektronik Semakin terus berkembangnyateknologi informasi, berbagai informasi bisa dicurahkankedalam berbagai media elektroniksemisal disc atau pita magnetiscakram. Dalamcaramembacanya tentunyadiperlukan cara khusus, denganmenggunakan perangkat kerassemisal komputer, CD-ROM, player dan sebagainya.

Result & Discussion

Menurut informan berinisial APT ada beberapa instrumen mengapa organisasi informasi perlu dilakukan secepatnya: (1) perlu dilakukan secepatnya agar pertukaran informasi di perpustakaan tidak terganggu dan dapat berjalan dengan semestinya. (2) adanya ledakan informasi yang beredar di masyarakat yang lama kelamaan akan sulit untuk dikendalikan, dengan adanya organisasi informasi maka informasi dalam format buku dan koleksi lainnya dapat lebih terkontrol peredarannya di masyarakat. (3) perubahan masyarakat sekitar, dikarenakan masyarakat sekitar perpustakaan adalah pengguna perpustakaan maka perpustakaan senantiasa harus menyesuaikan layanan dan koleksi sesuai dengan kebutuhan dan minat pemustaka di sekitar. Seiring dengan adanya perubahan minat dan kebutuhan masyarakat akan informasi waktu ke waktu, maka perpustakaan harus melakukan pengorganisasian informasi koleksi pustaka- nya dalam konteks ini adalah kegiatan pengklasifikasian dan pengkatalogisasian bahan pustaka. Perpustakaan perlu beranjak dari paradigma lama sebagai gudang penyimpanan buku dengan bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang memberikan manfaat yang luas kepada masyarakat (Utami, 2020). Organisasi informasi pada bahan pustaka di perpustakaan akan memaksimalkan manfaat sebuah perpustakaan sebagai alat temu informasi. Menurut informan berinisial NJ kegiatan klasifikasi dan katalogisasi sebagai alat pengorganisasi informasi bahan pustaka dapat membantu dalam kegiatan pelestarian sebuah bahan pustaka. Karena dengan diorganisasikannya bahan pustaka, saat dilakukan pelestarian bahan pustaka pustakawan tidak akan kebingungan menentukan letak dari bahan pustaka yang akan dilakukan pelestarian. Pustakawan dapat langsung mencari judul di OPAC lalu pergi membawa call number serta menyusuri rak sesuai dengan call number buku tersebut. Organisasi informasi dengan pelestarian bahan pustaka saling berhubungan karena dengan bahan pustaka yang dilakukan pengorganisasian informasi makan bahan pustaka yang dilestarikan dapat digunakan oleh pemustaka lainnya tanpa mengurangi nilai informasi yang terkandung dan tersedia. Hal ini sesuai dengan tujuan pokok dilakukannya pelestarian bahan pustaka (Ibrahim, 2003) yakni agar koleksi bahan pustaka perpustakaan selalu tersedia dan siap untuk digunakan. Kesiapan bahan pustaka untuk digunakan dapat pustakawan dan pemustaka telaah melalui Katalogisasi online (OPAC) perpustakaan tersebut, kesiapan ini artinya adalah apakah kondisi bahan pustaka layak digunakan dan apakah jumlah eksemplar bahan pustaka masih tersedia di koleksi-nya. Perpustakaan perguruan tinggi harus melakukan kegiatan organisasi informasi sesuai dengan berdasarkan teori Suwarno(2016) mengenai Organisasi informasi yang didefinisikan menjadi sebuah kegiatan dalam menyusun, mengolah, mengelola, dan menata sebuah ilmu pengetahuan, data, dan informasi lainnya dengan sedemikian rupa agar mudah untuk ditemukan kembali, serta dapat untuk dimengerti dan bermanfaat untuk pengguna sebagai salah satu usahapengembangan dalam ilmu pengetahuan, maka perpustakaan perguruan tinggi harus melakukan organisasi informasi agar informasi atau bahan pustaka yang berada di perpustakaan perguruan tinggi dapat terkelola dengan baik dan dapat ditemukan kembali dengan mudah oleh penggunasertadapat bermanfaat sebagai pengembanganilmu pengetahuan. Menurut informan berinisial LSR, pengaruh dari kegiatan organisasi informasi terhadap pelestarian bahan pustaka di antaranya adalah: (1) dapat lebih mengefisienkan kriteria bahan pustaka yang akan dilestarikan, kegiatan organisasi informasi sebuah bahan pustaka dapat menjadi sebuah alat pengelompok kriteria bahan pustaka akan dilestarikan. (2) dapat memilih bahan pustaka yang layak untuk dilestarikan, (3) dapat mempermudah pustakawan dalam memberikan layanan preservasi dan perawatan bahan pustaka. Mempermudah karena data dari bahan pustaka dapat diakses dan ditemukan secara langsung melalui call number danPAC, maka pustakawan bagian preservasi sudah mendapatkan data dari bahan pustaka manakah yang rusak sehingga dilakukan pelestarian. (4) mempersingkat penggunaan waktu dalam kegiatan pelestarian bahan pustaka yang dilakukan pustakawan. Informan berinisial NJ menyatakan bahwa kegiatan pelestarian bahan pustaka membutuhkan organisasi informasi dalam pelaksanaannya, karena dalam proses pemilihan bahan pustaka mana yang akan dilestarikan itu diperlukan kegiatan organisasi informasi seperti klasifikasi dan katalogisasi. Proses klasifikasi sendiri mencakup pemilihan bahan pustaka yang harus dilestarikan, bahan pustaka mana yang sudah tidak relevan bagi pemustaka, dan juga bahan pustaka mana yang masih diperlukan oleh pemustaka dalam pemenuhan kebutuhan informasinya. Organisasi informasi di dalamnya mencakup kegiatan pengklasifikasian dan pengkatalogisasian bahan pustaka. Dalam tujuan organisasi informasi diantaranya adalah agar bahan pustaka dapat mudah ditemukan dan selalu tersedia saat digunakan. Karena dengan pengorganisasian bahan pustaka yang diolah secara sistematis oleh pustakawan akan mempermudah dalam proses pelestarian bahan pustaka. Organisasi informasi ini sesuai dengan interpretasi Ibrahim (2013) di bukunya bahwa tujuan pokok dari dilakukannya pelestarian bahan pustaka yaitu mengupayakan agar koleksi bahan pustaka tetap selalu tersedia serta siap untuk digunakan. Tentunya kendala dalam proses pengorganisasian informasi selalu ada dalam pelaksanaanya, yang berakibat pada organisasi informasi bahan pustaka yang kurang akurat. Menurut informan berinisial LSR kendala pelaksanaan organisasi informasi menjadi 4 (1) Klasifikasi, dalam DDC kita diharuskan melakukan pembelian bukunya agar dapat melakukan pengklasifikasian, namun tidak semua pustakawan memiliki anggaran untuk membeli buku klafikasi DDC yang harganya lumayan mahal, terlebih edisinya yang berubah dalam jangka waktu tahunan. Pembelian buku DDC secara tidak resmi bukanlah sebuah pembenaran, terlebih akan tersandung hak cipta. Jika menggunakan pengklasifikasian lain seperti UDC/LCC tentunya dapat dilakukan, namun mayoritas pemustaka dan pustakawan lebih mengenali nomor klasifikasi DDC dibandingkan pengklasifikasian lain. (2) Katalogisasi, pengkatalogisasian dapat dilakukan secara manual namun tentunya sebuah perpustakaan ingin terus relevan dengan kebutuhan pemustaka yang semakin hari semakin canggih dengan perkembangan teknologi informasinya. Oleh karena itu perpustakaan melakukan katalogisasi online seperti SLiMS, namun kendalanya adalah terkadang data yang sudah dientri tidak tertampilkan. (3) Keahlian pustakawan, pustakawan seharusnya sudah diajarkanbagaimana cara pengklasifikasian danpengkatalogisasian bahan pustaka padasaat mengenyam pendidikan sarjana. Namun dengan perkembangan teknologi informasi yang berkembang, pustakawan diharapkan mampu untuk mengoperasikan berbagai teknologi yang menunjang perpustakaan dalam pelayanan, tetapi tidak semua pustakawan memiliki keahlian dalampengoperasian teknologi informasi. Oleh Karena itu pustakawan harus mempelajari keahlian baru dalam IT juga dibutuhkan ahli IT dalam hal pengoperasian web katalog perpustakaan. (4) Kepedulian lembaga penunjang perpustakaan, seperti perpustakaan perguruan tinggi. Jika Universitas memberikan anggaran yang cukup untuk pengembangan perpustakaan, maka tidak akan ada kendala seperti komputer yang sedikit ketinggalan zaman sehingga pada saat digunakan terjadi lagging, wi-fi yang kurang stabil, hingga bahan pustaka yang kurang beragam. Komputer yang jadul tentunya mempengaruhi proses katalogisasi online karena penginputan buku tentunya menggunakan perangkat komputer perpustakaan, jaringan seluler wifi yang kurang stabil juga akan berdampak sangat besar pada proses katalogisasi online berhubungan dengan penggunaan waktu yang digunakan saat mengkatalog. Menurut informan berinisial NJ organisasi informasi diperlukan dalam pengelolaan informasi, agar bahan pustaka dan sumber daya data yang ada di perpustakaan dapat dikelola, disusun, dan diolah oleh pustakawan dengan baik agar pengguna dapat lebih mudah dan nyaman untuk mencari informasi yang dibutuhkannya tanpa harus menambah waktu yang digunakannya informasi karena informasi yang ada di perpustakaan tersebut diorganisasikan informasi yang di dalamnya dengan baik. Pengaruh organisasi informasi menurut informan berinisial LSR berpendapat bahwa pengaruh organisasi informasi dapat dikelompokkan menjadi 4 pengaruh berdasarkan pihak di sekitar lingkungan perpustakaan perguruan tinggi, (1) Pemustaka, organisasi informasi berpengaruh pada pemustaka dalam keefisienan waktu yang digunakan pada saat mencari bahan pustaka yang dicari. Jika bahan pustaka yang ada di perpustakaan menggunakan organisasi informasi dalam pengolahannya, maka pemustaka tidak perlu terlalu mengerahkan banyak tenaga jika bahan pustaka di perpustakaan itu sendiri sudah terorganisir secara sistematis. Pemustaka hanya perlu menggunakan layanan Online Public Acess Catalog atau pemustaka juga bisa langsung bertanya ke pustakawan yang ada. Setelah itu pemustaka akan mendapatkan call number dari bahan pustaka yang dicari di Online Public Acess Catalog, pada peristiwa inilah hasil dari kegiatan organisasi informasi dapat kita lihat. Pemustaka yang mendapat call number, dapat langsung pergi ke rak nomor klasifikasi tersebut dan mencari bahan pustaka di rak sesuai dengan call number dari bahan pustaka yang didapatkan. (2) Pustakawan, pengaruh organisasi informasi pada pustakawan diantaranya adalah memudahkan pustakawan dalam melakukan kegiatan layanan back office seperti pada saat shelving. Jika bahan pustaka diorganisasikan dengan secara sistematis, maka akan memudahkan pustakawan dalam menyususn kembali bahan pustaka yang telah digunakan oleh pemustaka. Dengan adanya call number di punggung buku, maka pustakawan tidak perlu susah untuk mengembalikannya ke rak semula buku itu ditampilkan. Pustakawan langsung dapat pergi ke rak dengan nomor yang sesuai dengan call number bahan pustaka tersebut. (3) Perpustakaan, pengaruh organisasi informasi bagi perpustakaan itu sendiri adalah semakin bertambahnya pemustaka yang datang untuk menggunakan layanan yang tersedia di perpustakaan tersebut. Dengan dilakukannya organisasi informasi pada pengolahan bahan pustaka, perpustakaan niscaya akan terlihat tersusun rapi dibandingkan dengan tidak melakukan organisasi informasi. Kegiatan klasifikasi dan katalogisasi bahan pustaka akan menarik minat pemustaka untuk membaca, karena pemustaka akan dipermudah dalam mencari bahan pustaka yang serupa/setopik atau yang memiliki kemiripan. Call number yang ada pada buku mewakili subjek isi buku, makajikakedua buku memiliki call number yang sama dapat dipastikan isi buku membahas hal yang sama. (4) Universitas, pengaruh organisasi di perpustakaan bagi universitas adalah perpustakaan mencerminkan citra universitas. Jika perpustakaan di universitas tersebut terurus dan memiliki banyak koleksi serta pelayanan, maka masyarakat akan menganggap bahwasanya universitas tersebut peduli terhadap keberlangsungan pembelajaran. Hasil dari kegiatan organisasi informasi akan membuat bahan pustaka yang ada di perpustakaan menjadi rapih dan mudah saat dipakai oleh pemustaka, tentunya akan memberikan kesan universitas peduli terhadap perpustakaan dan membuat pendapat masyarakat terhadap universitas tersebut menjadi lebih baik. Respon dari informan berinisial LS mengenai pengaruh organisasi informasi memiliki keterikatan dengan pendapat Wiji Suwarno mengenai tugas perpustakaan sebagaimana dikutip oleh (Suwarno, 2009) tugas perpustakaan sebagai pengelolamencakup mulai dari proses kegiatan penyimpanan, pengolahan, penyusunan, mudah untuk ditelusuri kembali serta diakses oleh pemustaka, pengemasan agar dapat tersusun dengan rapi, serta perawatan bahan pustaka perpustakaan. Tugas dari pengelola meliputi berbagai perawatan dan pemeliharaan supaya semua koleksi dalam perpustakaan senantiasa terus terjaga dalam status yang utuh, bersih, serta baik untuk digunakan oleh pengguna. Pendapat Wiji Suwarno mengenai tugas perpustakaan sebagai pengelola memiliki kemiripan dengan pengertian organisasi informasi yangpa dasarnya merupakan proses pengolahan informasi. Sebuah ruangan atau gedung dapat dikatakan sebagai sebuah perpustakaan jika memiliki ciri-ciri diantaranya mengelola berbagai macam bahan pustaka (Bafadal, 2011). Pernyataan Bafadal sesuai dengan gagasan dari organisasi informasi, yakni pengelolaan bahan pustaka. Kegiatan klasifikasi mencakup pemilihan subjek buku dengan nomor notasi klasifikasi yang dicantumkan dalam call number di punggung buku, kegiatan ini merupakan salah satu proses pengelolaan bahan pustaka yang dilakukan sebuah perpustakaan. Adapun kegiatan katalogisasi seperti penggunaan SLiMS dan penginputan profil buku seperti judul, pengarang, ISBN/ISSN, cover buku, deskripsi buku, hingga call number buku tersebut juga merupakan proses pengelolaan bahan pustaka. Tentunya organisasi informasi yang dilakukan mencakup kedua proses tersebut agar bahan pustaka yang ada di perpustakaan perguruan tinggi tetap tersusun secara rapih dan dengan mudah untuk dilakukan penelusuran oleh pemustaka.

Conclusion

Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah: Organisasi informasi yang meliputi kegiatan pengelolaan, penataan, penyusunan informasi berpengaruh terhadap kelancaran dan keberhasilan kegiatan pelestarian bahan pustaka yang di antaranya: dapat lebih mengefisienkan kriteria bahan pustaka yang akan dilestarikan, dapat memilah bahan pustaka yang layak untuk dilestarikan, dan dapat mempermudah pustakawan dalam memberikan layanan preservasi dan perawatan bahan pustaka. Organisasi informasi dalam pelestarian bahan pustaka dibutuhkan dalam pemilihan bahan pustaka mana yang akan dilestarikan dan bahan pustaka mana yang belum terlalu relevan untuk dilakukan pelestarian bahan pustaka. Menurut informan organisasi informasi berpengaruh pada perpustakaan perguruan tinggi pada 4 pihak, yaitu pemustaka, pustakawan, perpustakaan dan perguruan tinggi. Keseluruhan aspek yang berpengaruh adalah kegiatan klasifikasi bahan pustaka dan katalogisasi bahan pustaka yang memudahkan pemustaka dan pustakawan. Bagi perguruan tinggi sendiri akan memperbaiki citranya terhadap upaya kepedulian akan proses belajar dan mengajar yang terjadi, karena bagaimanapun perpustakaan merupakan ciri kepedulian dari sebuah perguruan tinggi terhadap perkembangan edukasi. Ada pengaruh organisasi informasi dalam pelestarian bahan pustaka dalam ruang lingkup perpustakaan perguruan tinggi. Karena bahan pustaka yang tidak terlestarikan dapat menghambat perkembangan ilmu pengetahuan, maka dengan adanya organisasi informasi sebagai penopang kegiatan pelestarian bahan pustaka akan lebih memaksimalkan pelestarian bahan pustaka di perpustakaan. Selain itu saran untuk kegiatan organisasi informasi sebagai usaha pelestarian bahan pustaka dalam ruang lingkup perpustakaan perguruan tinggi diantaranya: kegiatan organisasi informasi seharusnya lebih diberikan perhatian yang lebih karena organisasi informasi tidak hanya meliputi pengelolaan informasi saja namun juga bagaimana penyusunan bahan pustaka seperti klasifikasi dan juga katalogisasi bahan pustaka yang merupakan salah satu pondasi penting perpustakaan karena menyangkut bagaimana informasi diolah. Saran lainnya adalah fasilitas yangkurang mendukung dalamkegiatanpengorganisasian informasi seharusnyainstansi dapat lebih memberikan kepedulianyang lebih karena pelestarian bahan pustakamerupakan upaya untuk mengembangkanilmu pengetahun yang juga akan menunjangTri Dharma perguruan tinggi.