Pentingnya Desain Interior terhadap Kenyamanan Pengunjung Perpustakaan
Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar; Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar; Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar; Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar; Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar; Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar; Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar
Abstrak
Desain interior sangat penting dan perlu diperhatikan pada saat membangun perpustakaan. Upaya menghadirkan desain interior perpustakaan yang memenuhi kebutuhan dan kenyamanan pengunjung perpustakaan membutuhkan pemahaman dan perencanaan yang baik. Interior perpustakaan yang memadukan nilai estetika akan mempengaruhi penggunaan layanan perpustakaan bagi pengguna. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur atau kajian pustaka melalui konsep keilmuan yang membahas tentang ilmu perpustakaan dari beberapa jurnal perpustakaan dan desain interior. Penelitian mengembangkan pokok permasalahan pada bagaimana desain interior dapat berpengaruh pada kenyamanan pengunjung perpustakaan dan bagaimana mengembangkan desain interior perpustakaan yang baik.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana desain interior mempengaruhi kenyamanan pengunjung perpustakaan. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan perpustakaan dan memudahkan perencanaan di perpustakaan.
Abstract
Interior design is very important and needs to be considered when building a library. Efforts to present a library interior design that meets the needs and comfort of library visitors requires good understanding and planning. Library interiors that combine aesthetic values will affect the use of library services for users. This study uses the method of literature study or literature review through scientific concepts that discuss library science from several library journals and interior design. The research develops the main issues on how interior design can affect the comfort of library visitors and how to develop a good library interior design. The aim of the research is to find out how interior design affects the comfort of library visitors. This research is expected to be useful for library development and facilitate planning in the library.
Keywords:
interior design
· library
· user convenience
· spatial
Introduction
Seiring perkembangan zaman, pemerintah juga semakin gencar dalam menggemakan pentingnya pendidikan dan meningkatkan kualitas pendidikan. Pendidikan itu sebenarnya bisa didapatkan dimana saja dan kapan saja. Namun, pemerintah sudah mewajibkan setiap warga negara untuk bersekolah selama sembilan tahun, sebagaimana yang tertera pada UndangUndang Dasar Republik Indonesia 1945 pasal 31. Setiap warga Negara baik Warga Negara Indonesia (WNI) maupun Warga Negara Asing (WNA) wajib mengenyam pendidikan dasar. Negara berkewajiban membiayai pendidikan warga negaranya. Jadi, pemerintah yang akan menanggung biaya selama sembilan tahun menempuh pendidikan, menyelenggarakan sistem pendidikan nasional dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan tentu saja terdapat undang-undang yang telah mengatur hal tersebut. Kewajiban untuk bersekolah selama 9 tahun ini ditegaskan dalam.Pemerintah RI (2006) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), yang mewajibkan setiap warga negara yang berusia antara 7 sampai 15 tahun mengikuti pendidikan dasar. Membaca di perpustakaan menjadi salah satu alternatif untuk memperlancar pendidikan. Keberadaan perpustakaan sebagai salah satu instansi/lembaga, yang mana instansi/lembaga tersebut berperan sebagai tempat mencari informasi atau dikenal juga dengan information resources/knowledge resources diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mengedukasi masyarakat (Masriastri, 2018). Perpustakaan menjadi suatu tempat yang berguna untuk mendapatkan suatu informasi, tentu dapat berperan basar pada peningkatan kualitas pendidikan. Ketersediaan informasi disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung perpustakaan. Melihat perkembangan perpustakaan di Indonesia dalam waktu dekat ini dapat dikatakan masih memiliki banyak hambatannya. Menurut Resti Noviani dkk. (2014) masalah paling utama yaitu kurangnya jumlah pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan dan melakukan kegiatan lain di perpustakaan baik itu membaca buku, mengerjakan tugas dan menjadikan perpustakaan sebagai tempat wisata. Timbulnya permasalahan ini tentu berhubungan dengan fasilitas fisik yang ada di perpustakaan seperti, gedung perpustakaan dan interior di dalam perpustakaan. Persoalan pengembangan fisik perpustakaan tidak hanya menyangkut gedung saja, tapi juga nilai estetika dan kegunaan perpustakaan itu sendiri. Nilai estetika dan aspek fungsional sebuah desain interior adalah dua poin besar yang sangat penting ketika akan membangun gedung perpustakaan. Minat kunjung pemustaka dan kondisi ruang perpustakaan memiliki hubungan timbal balik. Minat kunjung pemustaka akan semakin tinggi jika perpustakaan memiliki kondisi ruang yang baik, dan akan semakin meningkatnya rasa ingin pemustaka menggunakan layanan perpustakaan. Sebaliknya, minat pemustaka menggunakan jasa layanan perpustakaan akan semakin rendah jika kondisi ruang perpustakaan semakin buruk. Desain interior perpustakaan yang menyatukan nilai-nilai estetik desain interior mempengaruhi cara pengguna berinteraksi dengan layanan perpustakaan (Fahmi, 2013). Dari berbagai kebutuhan akan fasilitas dari sebuah gedung perpustakaan suatu aspek yang menunjukkan akan pentingnya desain interior sebuah gedung perpustakaan. Dimana di dalam perpustakaan itulah segala aktifitas dan program perpustakaan dirancang dan diselenggarakan untuk melayani pemustaka dan memberikan rasa nyaman ketika berada di perpustakaan. Desain gedung dan interior perpustakaan dilakukan secara arsitektual artinya mempunyai segi estetika yang tinggi tetapi harus memperhatikan faktor kenyamanan, keamanan dan fungsional ruang dari bangunan tersebut bagi pemustaka. Perpustakaan dapat dikatakan baik jika perpustakaan tersebut dapat memenuhi segala kebutuhan informasi penggunanya. Pengunjung perpustakaan dapat merasakan kenyamanan, keamanan, senang, betah dan berkeinginan untuk berlama-lama saat di perpustakaan. Pengunjung perpustakaan hendaknya dapat melakukan aktivitas di perpustakaan dengan baik sehingga timbul rasa ingin berkunjung kembali ke perpustakaan tersebut. Upaya untuk mewujudkan hal tersebut adalah perpustakaan harus dibuat dengan desain serta perencanaan yang baik.
Method
Penelitian ini menggunakan metode studi literatur atau kajian pustaka melalui konsep keilmuan yang membahas mengenai ilmu perpustakaan dengan mengkaji beberapa jurnal tentang perpustakaan dan desain interior tentang perpustakaan. Penelitian ini didukung dengan data yang diperoleh dari karya ilmiah yang membahas tentang kenyamanan ruang perpustakaan sebagai tempat beraktivitas pustakawan, pemustaka, dan semua yang beraktivitas di perpustakaan. Data-data tersebut diolah untuk mendukung penelitian ini dan disajikan dalam bentuk deskriptif.
Result & Discussion
Seperti yang sama-sama dapat kita rasakan pada era globalisasi yang semakin pesat masa ini, perpustakaan tidak lagi sekadar ruangan yang berisi buku-buku atau sekumpulan buku di suatu ruangan, tetapi juga ada yang berbentuk digital. Semakin pesatnya perkembangan zaman, semakin maju juga teknologi digital yang dapat merambat ke segala aspek, termasuk perpustakaan. Tentunya dengan adanya perpustakaan elektronik dapat mempermudah informasi perpustakaan bagi pengguna. Bersamaan dengan ini tentu pengunjung perpustakaan akan menurun, karena akses informasi ke perpustakaan semakin mudah dan beragam. Upaya ntuk menarik minat pengunjung perpustakaan tentu perlu strategi agar perpustakaan dapat memberikan pelayanan kepada pengunjung perpustakaan dengan lebih baik. Salah satu upaya yaitu dengan menyediakan desain interior yang menarik untuk dikunjungi. Desain interior perpustakaan yang menarik sebagai upaya dalam mencapai tujuan pengembangan perpustakaan dan peningkatan pemanfaatan perpustakaan untuk pemustaka. Dengan desain interior perpustakaan yang nyaman, tenang, dan indah diharapkan pemustaka yang memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat belajar dan mengkaji ilmu juga dapat mengefektifkan komunikasi di antara para pustakawan dan pemustaka sehingga diperoleh ide-ide yang sesuai dengan keinginan pemustaka. Machsun Rifauddin dan Arfin Nurma Halida (2018) berpendapat bahwa perpustakaan yang gagal menciptakan interior yang menarik harus bersiap akan ditinggalkan oleh penggunanya karena tata ruang merupakan salah satu hal yang dilihat oleh pengunjung perpustakaan. Desain interior merupakan salah satu daya tarik pemustaka untuk datang ke perpustakaan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan sedikitnya minat kunjung ke perpustakaan, terutama di Indonesia. Menurut Nurahyati dalam Rachmat Arsyad (2014), desain berasal dari bahasa Inggris design. Dalam bahasa Indonesia kata yang sering digunakan untuk desain yaitu rancangan, pola atau cipta. Desain adalah suatu proses pengorganisasian unsur garis bentuk, ukuran, warna, tekstur, bunyi, cahaya, aroma dan unsur desain lainnya, sehingga tercipta suatu hasil karya tertentu. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), desain artinya bentuk kerangka, rancangan, perencanaan pola, motif, corak susunan. Jadi, desain ruangan dapat diartikan sebagai gambaran sebelum membangun ruangan yang akan dibuat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), interior yaitu bagian dari gedung baik itu ruangan atau lainnya, bisa juga diartikan dengan tatanan perabot berupa hiasan di dalam ruangan yang ada di dalam gedung dan lainnya, tatanan perabot. Desain interior sebagai ide awal yang berfungsi pada suatu ruangan atau suatu perencanaan dari bagian dalam suatu bangunan hingga ruangan tersebut dapat menimbulkan kesan hidup (estetika). Desain interior dapat menjadi jaringan untuk menciptakan suasana mendukung dan nyaman dalam perencanaan pada tata ruang sehingga ruangan tersebut bisa digunakan dengan efektif dan efisien. Secara tidak langsung suasana yang ada pada ruangan akan mempengaruhi suasana orang yang berada di ruangan tersebut (Nurhayati, 2004). Desain interior juga mengandung pandangan menyeluruh yang dapat dimanfaatkan seseorang ketika menggunakan suatu ruangan, desainer interior profesional bisa memberikan dimensi baru untuk keindahan ruangan. Desain interior bersangkutan dengan perencanaan pembangunan gedung perpustakaan yang baru atau pun perpustakaan yang diperluas dan merenovasi ruangnya. Pengembangan desain interior perlu dilakukan dengan mengatur, merencanakan dan merancang ruangan yang akan digunakan berdasarkan nilai estetika, kemudian bisa menghadirkan kenyamanan bagi seseorang (Rifauddin & Halida, 2018). Menurut Wiji Suwarno (2009), ruang perpustakaan bukanlah sekadar sekat-sekat yang memisahkan satu ruangan dengan ruangan lain. Perlu keahlian juga dalam penataan ruang perpustakaan, dengan mempertimbangkan berbagai aspeknya. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan menciptakan ruang menarik dan bernilai fungsional yang membuat pengunjung perpustakaan merasa betah dan ingin berlama-lama berada dalam perpustakaan. Pengoperasian perpustakaan berorientasi pada layanan sesuai dengan layanan dan orang-orang yang menggunakannya. Gedung perpustakaan yang baik menurut Daryanto (1986) menampilkan karakteristik yang efisien, ramah pemustaka dan memberikan kenyamanan di lingkungan sekitar, serta tempat yang menyenangkan dan menarik orang-orang untuk menjadikannya sebagai tempat mencari informasi. Saat membangun perpustakaan, desain interior sangat penting dalam perancangannya. Fungsi tiap ruang, unsur-unsur keserasian dan keindahan sangat penting diperhatikan untuk mewujudkan perpustakaan yang baik dalam perencanaan bangunan, khususnya ruang perpustakaan. Hal ini berarti bahwa perpustakaan dapat memberikan kemudahan kepada penggunanya, apalagi perpustakaan umum kebanyakan penggunanya adalah mahasiswa dan masyarakat sekitar perpustakaan. Saat berada di suatu tempat, faktor perasaan nyaman memiliki efek yang kuat pada jiwa seseorang sehingga jiwa orang yang menggunakan ruangan akan memperoleh kesenangan dan keindahan yang bisa dirasakan saat sedang berada didalamnya (Sumadi, 2016). Perpustakaan perlu memperhatikan bagaimana konsep yang akan digunakan dan tiap-tiap tempat yang ada di dalamnya juga harus diperhatikan secara terperinci sebelum mendesain perpustakaan tersebut. Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika mendesain terdiri dari desain tata letak, material yang akan digunakan, perabotan yang dipilih, peralatan dan perlengkapan pendukung yang sesuai dengan tema desain. Desain interior bangunan memiliki dampak yang penting pada kelanjutan dari desain keseluruhan bangunan (Rifauddin & Halida, 2018). Salah satu hal yang penting untuk membangun dan mendesain perpustakaan selain aspek estetika yaitu aspek fungsionalnya. Namun hal yang lebih diperhatikan lagi, ada beberapa aspek yang perlu pertimbangan untuk perencanaan sebuah bangunan (Rifauddin & Halida, 2018). Aspek fungsional perlu dipertimbangkan untuk penataan interior perpustakaan yang optimal, selain itu juga perlu pertimbangan psikologi pemustaka, estetika dan keamanan koleksi perpustakaan. Perbedaan desain interior perpustakaan menunjukkan karakteristik yang berbeda dari perpustakaan tersebut. Perpustakaan umum dan perpustakaan khusus akan berbeda desain interiornya. Perpustakaan umum akan memiliki fasilitas yang lebih banyak dari pada perpustakaan khusus karena pengunjung perpustakaan umum lebih beragam. Perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan sekolah dibuat menyesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik penggunanya. Kepuasan merupakan komponen penting di bidang jasa dan informasi, serta digunakan sebagai tujuan yang ingin dicapai pada sebuah instansi, termasuk perpustakaan. Pada desain interior dan konsep yang perpustakaan gunakan dibutuhkan pembaruan-pembaruan sehingga sesuai dengan kepentingan masyarakat modern. Salah satu pembaruan tersebut yang dapat ditingkatkan adalah dari desain interior perpustakaan yang nyaman dan sebagus mungkin demi tercapainya kepuasan pengguna perpustakaan (Ariyanti et al., 2015). Terdapat beberapa hal yang menyebabkan pengguna perpustakaan ingin datang ke perpustakaan, salah satunya adalah mengenai desain interior perpustakaannya. Pemustaka akan datang dengan senang hati saat perpustakaan tersebut memiliki desain interior sehingga memberikan aman dan nyaman bagi segala kalangan (Mansyur, 2017). Mulai dari pengunjung anak-anak, remaja, dewasa bahkan lansia, baik laki-laki mau pun perempuan, pengunjung normal dan disabilitas. Semua hal perlu diperhatikan menyesuaikan dengan jenis perpustakaan tersebut. Dalam perancangan pembangunan perpustakaan, khususnya pada desain interior, terdapat aspek-aspek penting untuk diperhatikan. Aspek-aspek tersebut antara lain yaitu: 1. Geometri atau ukuran Sebagai instansi yang memberikan layanan jasa, perpustakaan hendaknya memiliki area yang cukup dan permanen sehingga dapat memuat semua elemen-elemen yang ada di perpustakaan dengan baik dan maksimal, seperti fasilitas, semua bahan pustaka, karyawan dan pemustaka yang beraktivitas setiap harinya (Rifauddin & Halida, 2018). Geometri perpustakaan harus sangat diperhatikan, gedung perpustakaan hendaknya ditempatkan di lokasi yang strategis, sehingga perpustakaan dapat dengan mudah dicari dan diakses oleh pengunjung perpustakaan (Fahmi, 2013). Geografi dan ukuran bangunan akan berpengaruh kepada rancangan interior yang akan dibuat. 2. Material Material berperan besar terhadap rancangan interior, material yang digunakan sangat mempengaruhi tampilan visual ruang. Hal-hal yang mengandung pengaturan material yaitu: bahan,tekstur yang dapat dirasakan oleh kulit,warna untuk tampilan visual tidak langsung serta dapat memberikan dampak psikologi dan mencerminkan karakter atau emosi dan memberikan dari ruang (Riadi, 2020). 3. Cahaya Selain warna, pencahayaan juga dapat mempengaruhi karakteristik suatu ruangan. Kegiatan yang dilakukan pada suatu ruangan akan mempengaruhi kebutuhan intensitas cahaya yang digunakan. Pencahayaan alami mungkin akan lebih baik untuk ruangan. Namun, ada kalanya pada suatu kondisi tertentu cahaya alami saja tidak cukup untuk diandalkan pada pencahayaan yang ada pada perpustakaan (La’aliyyah, 2019). Oleh karena itu, untuk menunjang kenyamanan seluruh kagitan di perpustakaan perlu dilengkapi dengan cahaya buatan. 4. Suhu Udara Meskipun suhu udara di Indonesia dapat dikatakan konsisten pada umumnya, perlu dilakukan kontrol area untuk menentukan zona level kenyamanan untuk bangunan perpustakaan. Suhu yang normal bagi manusia adalah berkisar kurang lebih 24 derajat Celcius. Suhu ruangan hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan suhu tubuh agar dapat memberikan dampak positif bagi pustakawan dan pemustaka yang beraktivitas di perpustakaan. Suhu ruangan yang pas juga berfungsi untuk perawatan bahan pustaka (Masrurah & Muad’dzatul, 2022). 5. Dana/Anggaran Dana sangat berhubungan erat dengan anggaran. Dana yang tersedia sangat menentukan apakah pengembangan desain interior dapat dijalankan atau tidak. Alokasi dana yang belum berjalan dengan baik bisa menjadi sebab desain interior perpustakaan yang tidak baik. Dana juga bisa menjadi kendala dalam proses pelaksanaan pengembangan desain interior perpustakaan (Nasrullah, 2022; Rifauddin & Halida, 2018; Sumadi, 2016). Kerjasama yang seimbang antara pengelola gedung atau pustakawan itu sendiri, arsitek, dan pengambil kebijakan bertanggung-jawab terhadap perpustakaan untuk mendesain sebuah perpustakaan. Perhitungan anggaran yang tersedia untuk pembangunan (Fahmi, 2013) agar dapat menyajikan sebuah desain interior yang berkesan sehingga menimbulkan keharmonisan dan kenyamanan perlu penggabungan elemenelemen perencanaan interior. Berdasarkan pendapat Andie A. Wicaksono dalam jurnal Rahmatul Ikhsan, (2020) ada beberapa elemen tersebut diantaranya yaitu: 1. Garis Garis di sini maksudnya yaitu unsur dari seni, dibuat pada sebuah permukaan mengacu pada tanda menerus. Dua titik berbeda, berada di tempat yang beda jika dihubungkan akan membuat garis (Ikhsan, 2020). Garis-garis dapat membuat sebuah pola, dari pola ini lah dapat membuat suatu bentuk dan estetika pada ruang perpustakaan. 2. Bentuk Bentuk merupakan suatu sosok geometris yang terdiri atas dua dimensi dan tiga dimensi (Viviana, 2019). Ada tiga bentuk bentuk primer yaitu segitiga, bujur sangkar dan lingkaran. Bentuk juga bisa dikategorikan lagi, diantaranya yaitu: bentuk terpusat, bentuk linier, bentuk radial, bentuk cluster, bentuk grid. Berdasarkan bentuk-bentuk tersebut dapat menjadi referensi dan patokan saat mendesain interior pada sebuah perpustakaan. Bentuk interior ruangan juga hendaknya memperhatikan segala hal yang berkaitan dengan kegunaan dari ruangan tersebut, baik itu fungsi ruangan, pengguana ruangan dan lain sebagainya. 3. Bidang Bidang juga merupakan salah satu bagian dari unsur seni. Bidang adalah sebuah luasan yang tertutup dengan batas-batas yang ditentukan oleh unsur-unsur seni lainnya, yaitu garis, warna, nilai, tekstur, dan lain-lain (Ikhsan, 2020). Sebuah bidang dapat dihasilkan dari dua garis sejajar yang dihubungkan kedua sisinya. Bidang hanya memiliki panjang dan lebar, tidak memiliki tinggi, hanya terbatas pada dua dimensi. Bobot visual dan stabilitas suatu bidang dipengaruhi oleh ciri-ciri permukaan suatu bidang,yaitu warna dan tekstur. Fungsi suatu bidang diantaranya adalah untuk menunjukkan batasan pada sebuah ruangan. Berdasarkan jenisnya, sebuah bidang terdiri diri tiga bagian, yaitu: bagian atas yang sering disebut sebagai atap, bidang dinding yang akan menentukan dan membatasi ruang tersebut, bidang dasar yang menjadi dasar bentuk-bentuk bangunan secara visual dan memberikan pendukung secara fisik (Zakia, 2006). 4. Ruang Ruang menjadi unsur utama pada desain interior. Dilihat dari volume ruang, manusia tidak hanya bergerak atau berkegiatan, tapi juga melihat bentuk-bentuk yang ada di ruangan, mencium aroma-aroma, merasakan tekstur hembusan angin dan hangatnya sinar matahari serta mendengarkan berbagai suara. Semua panca indra berperan aktif bekerja sesuai tugas dan perannya masing-masing (Sari, 2005). Maka dari itu perpustakaan memberikan ruang yang sesuai, nyaman dan dapat menghadirkan rasa betah untuk berlama-lama di ruangan tersebut. Zaman sekarang hampir semua orang suka berfoto dan menyebarkannya di berbagai sosial media mereka. Hal ini juga bisa sekaligus sebagai sarana promosi atau publisitas perpustakaan agar lebih dikenal masyarakat luas dan banyak yang ingin berkunjung ke perpustakaan. 5. Cahaya Cahaya pada bagian dalam perpustakaan, apalagi ruang baca pada umumnya cenderung akan lebih terang dari pada ruangan lainnya. Pencahayaan pada suatu perpustakaan dapat juga menentukan kualitas pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan yang bersangkutan. Penentuan jumlah pencahayaan, khususnya cahaya buatan yaitu lampu juga memberikan efek yang hebat bagi kenyamanan dari tampilan ruang bagi pustakawan (Zebua, 2019). Luas ruanga juga mempengaruhi berapa lampu yang digunakan dan seberapa watt lampu yang akan digunakan untuk ruangan tersebut. Terlepas dari cahaya alami dan cahaya buatan, warna yang digunakan pada ruangan juga akan berpengaruh kepada pencahayaan di ruangan tersebut. Warna bisa mencakup pada keseluruhan ruangan, mulai dari dinding, lantai, loteng, aksesoris dan lain sebagainya yang ada di ruangan tersebut (Ashadi & Anisa, 2016; Widiyantoro & Vidiyanti, 2017). 6. Warna Warna adalah komponen yang berpengaruh sehingga tidak dapat dipisahkan dari pembentukan konsep ruang. Agar bisa meningkatkan kenyamanan aktivitas di dalam ruangan, perlu penggunaan warna yang sesuai dengan bangunan perpustakaan. Penggunaan tema warna yang digunakan yaitu tema warna yang dapat menghadirkan psikologi baik dan identitas dari ruangan itu sendiri (Zebua, 2019). Warna dapat mempengaruhi interior perpustakaan. Berdasarkan penelitian Mohammad Abdu Azis, Bambang Supriadi, dan Albertus Lesmono, (2016) dengan menggunakan lampu dan ukuran ruangan yang sama, kemudian dibandingkan intensitas cahayanya pada dinding ruangan berwarna cerah dengan ruangan berwarna gelap. Kesimpulan bahwa warna dapat mempengaruhi seberapa besar intensitas cahaya pada ruangan tersebut. Pencahayaan ruangan akan semakin besar seiring dengan semakin cerah warna ruangannya. Begitu pula sebaliknya, intensitas pencahayaan pada ruangan akan semakin kecil jika warna yang digunakan gelap. 7. Pola Pola merupakan seni ornamen yang berbentuk desain dilakukan secara berulangulang. Biasanya pola dapat juga diartikan sebagai susunan dari sebuah desain yang sering ditemukan pada sebuah objek (Ikhsan, 2020). Pola bidang merupakan salah satu unsur yang akan mempengaruhi bobot dari dimensi, proporsi dan visual pada suatu ruangan. Pola penataan ruang bisa menjadi tema utama dalam pembentukan suatu bangunan dan desain interiornya. Hal ini nantinya tentu saja akan disesuaikan nilai guna ruangan dari perpustakaan itu sendiri (Permatasari & Nugraha, 2020; Waheni, 2019) 8. Tekstur Menurut Ching dalam Ayhwien Chressetianto (2013), tekstur merupakan kualitas khusus pada suatu permulaan yang dihasilkan oleh tekstur tiga dimensi. Tekstur dapat berupa titik-titi halus atau pun kasar pada suatu permukaan yang tersusun secara teratur dan tidak teratur. Namun, pada ruangan tekstur bukanlah sekedar tingkat halus dan kasarnya suatu permukaan. Tekstur pada ruang juga meliputi dekorasi dan pahatan. Kesan ruangan juga dapat dipengaruhi oleh tekstur yang digunakan pada desain interiornya, Kesan ruangan akan menjadi lebih sempit jika menggunakan tekstur yang berat, tekstur kasar dapat didapat dengan penggunaan material seperti: tenun kasar, permukaan susunan batu, serta kayu jati doreng. Kesan ruangan akan terasa lebih luas dan besar jika menggunakan tekstur yang ringan, tipis dan halus, tekstur halus bisa didapatkan dengan menggunakan material seperti: kaca, satin, kayu berpolitur, serta penggunaan cat dengan finishing cat yang halus (Arindra & Suryasari, 2015). Semua elemen yang berperan untuk menciptakan ruangan perpustakaan yang baik harus diperhatikan. Konsep desain interior perpustakaan saat ini seharusnya bisa memberikan sebuah konsep serta inovasi-inovasi baru menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Sebelumnya perpustakaan dianggap membosankan, kaku dan dipandang sebagai tempat orang kutu buku yang susah bergaul (Rifauddin & Halida, 2018). Elemenelemen yang berbau digital perlu ditambahkan pada aspek-aspek yang menjadi pertimbangan saat mendesain interior perpustakaan. Derasnya pertumbuhan IT (Informaton and Technology) melahirkan perubahan dan memunculkan istilahistilah baru, seperti: sumber daya elektronik, perpustakaan digital, perpustakaan elektronik atau e-library, masyarakat tanpa kertas (Nursetyaningsih, 2019). Agar bisa memenuhi keinginan pengguna berkaitan dengan koleksi digital, menurut Veterinary Medicine Library, Mississippi State University, salah satu perpustakaan perguruan tinggi di Amerika, ada dua usaha yang perlu dilakukan. Pertama, mengembangkan preferensi untuk materi yang berbentuk elektronik dari teman-teman penyedia koleksi tercetak, jika tersedia juga dalam bentuk digital. Kedua, jika format elektronik tersedia, pihak perpustakaan membeli daftar bacaan wajib sesuai yang direkomendasikan pemustaka secara keseluruhan (Nursetyaningsih, 2019). Aspek yang menjadikan pengunjung perpustakaan berlama-lama di perpustakaan adalah tersedianya jaringan internet secara gratis dan lancar. Jika perpustakaan sudah mampu memberikan pelayanan secara digital, biasanya layanan internet gratis di dalam maupun di sekitar perpustakaan bukan lagi menjadi hal yang sulit. Apalagi bagi perpustakaan perguruan tinggi dengan mayoritas pengunjung adalah mahasiswa. Mahasiswa ke perpustakaan untuk mengakses informasi terkait tugasnya. Mahasiswa akan lebih mudah mengakses informasi yang mereka butuhkan dengan cepat dan nyaman dari perkembangan internet sehingga dapat memuat banyak informasi dengan cepat (Pendong et al, 2020).
Conclusion
Kenyamanan pemustaka saat berada di perpustakaan penting dan perlu ditingkatkan demi tercapainya tujuan dan tingkat profesional perpustakaan. Desain interior menjadi hal pertama yang akan dilihat pemustaka saat mengunjungi perpustakaan. Desain interior berperan sangat penting untuk kenyamanan pengunjung perpustakaan. Selain nilai estetika perlu juga diperhatikan nilai guna ruangannya. Desain interior yang baik tentu dapat digunakan sesuai kebutuhan dan peran ruangan tersebut. Perpustakaan hendaknya sudah memulai untuk mengembangkan desain interiornya. Banyak faktor yang dapat menjadikan perpustakaan sepi pengunjung. Meningkatkan desain interior diharapkan bisa membangkitkan kembali minat kunjung pemustaka ke perpustakaan.