ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KERUSAKAN BAHAN PUSTAKA DI UPT PERPUSTAKAAN IAIN CURUP
Institut Agama Islam Negeri Curup; Institut Agama Islam Negeri Curup; Institut Agama Islam Negeri Curup
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja penyebab dari kerusakan bahan pustaka di UPT perpustakaan IAIN Curup dan bagaimana cara mengatasi kerusakan bahan pustaka tersebut. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan tentang fakta dan data yang dikumpulkan dan disusun dalam kalimat. Data yang digunakan adalah data primer dan skunder. selain itu teknik pengumpulan data pada penelitian ini ada 3 yaitu: 1. obsevasi yaitu mengamati untuk mengumpulkan data dengan cara melihat secara langsung, 2. Wawancara dengan informan yang ditentukan 3. Dokumentasi. Analisis data dilakukan secara sistematis yaitu mereduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menunjukan penyebab dari kerusakan bahan pustaka di UPT Perpustakaan IAIN Curup yang pertama dari faktor internal yaitu dari kulalitas kertasnya tidak bagus. Yang kedua dari faktor eksternal yaitu kerusakan yang di sebabkan serangga, debu, suhu dan kelembaban udara, cahaya, kimia, manusia. Ada beberapa cara untuk mengatasi kerusakan bahan pustaka di UPT Perpustakaan IAIN Curup, yang pertama yaitu: kerusakan yang di sebabkan oleh faktor internal, mengambil buku cadangan, membuang halaman yang sudah rusak dan di potocopy buku tandon tersebut lalu di perbaiki dan dilayankan kembali. kedua faktor eksternal yaitu: serangga, pustakawan cukup memberi kapur barus di sela-sela buku dan rak buku. Debu, pustakawan memberkan keset di setiap pintu masuk dan membersihkan rak-rak buku dengan semprutan dan sampul. Suhu dan kelembaban kerusakan dari suhu dan kelembaban, pustakawan cukup memindahkan rak buku yang terlalu dekat ke tembok. Cahaya, pustakawan cukup memindahkan buku ke tempat yang tidak di pancarai sinar matahari. kimia dengan menyiapkan buku cadangan. manusia, pustakawan memberikan sangsi kepada pemustaka yang merusak buku, menegur, membuat banner tentang tata cara masuk perpustakaan.
Abstract
This study aims to find out what are the causes of damage to library materials at UPT IAIN Curup library and how to overcome the damage to library materials. This research is descriptive qualitative, which describes the facts and data collected and arranged in sentences. The data used are primary and secondary data. In addition, there are 3 data collection techniques in this study, namely: 1. observation, namely observing to collect data by looking directly at it, 2. Interviewing with specified informants 3. Documentation. Data analysis was carried out systematically, namely reducing data, presenting data and drawing conclusions. This study shows that the cause of damage to library materials at the UPT Library of IAIN Curup, the first from internal factors, namely the quality of the paper is not good. The second is from external factors, namely damage caused by insects, dust, air temperature and humidity, light, chemicals, humans. How to overcome damage to library materials at the UPT Library of IAIN Curup, One factor is caused by internal factors, taking backup books, discarding damaged pages and photocopies of the reservoir book and then repairing it and serving it again. the two external factors, namely: insects, the librarian simply gives camphor in between books and bookshelves. Dust, the librarian put a doormat at every entrance and dusted the bookshelves with sprays and covers. Temperature and humidity damage from temperature and humidity, librarians simply move bookshelves that are too close to the wall. Light, the librarian simply moves the book to a place that is not exposed to sunlight. chemistry by preparing a backup book. Human beings, librarians give sanctions to users who destroy books, reprimand, make banners about how to enter the library.
Keywords:
Bahan Pustaka
· Faktor Kerusakan
Introduction
Perpustakaan dewasa inisemakin berkembang baik itu darikonten informasi, sistem, maupungedungnya. Ditahap ini perpustakaansering kali menerima hambatan dalammenjalankan fungsinya. Perpustakaanyang berkembang pada saat ini, sangatdi pergunakan sekali oleh masyarakat disekitar sebagai salah satu pusatpenyedia informasi, ilmu pengetahuanilmiah, dan juga referensi penelitian.Setelah mendapat awalan per danakhiran an menjadi perpustakaan, yangberarti suatu gedung yang berisikansumber informasi yang berbentukkumpulan koleksi seperti buku-buku ,monograf, piringan rekaman, dan jugakoleksi, yang semuanya dikategorikansebagai bahan pustaka. Sebuahperpustakaan bukan cuma sekedarruangan atau gedung yang dipenuhimeja, rak, dan buku yang disusunsedemikian rupa dengan aturantertentu, tetapi perpustakaan harusmenemtapakn diri sumber informasiyang valid dan reliable yang diperlukanoleh pemustaka dalam menyelesaikanmasalah informasinya. Oleh karenanyaperpustakaan harus selalu adaptifdengan keadaan terutama dalampenyedaiaan dan kebijakan terkaitkoleksi perpustakaan.Perkembangan koleksiperpustakaan harus dibarengi dengankemampuan perpustakaan dalammengantisipasi terjadinya kerusakanbahan psutaka. Maka dalam hal inidibutuhkan kegiatan pelestarian. Padadasarnya kegiatan pelestarian bertujuan untuk menjaga danmelestarikan agar bahan pustaka. Danjika terjadi kerusakan, bahan pustakacepat ditanggulangi. Keberadaan bahanpustaka di perpustakaan sebagaisumber informasi bagi pemakaimempunyai pengaruh yang signifikanbagi keberlangsungan perpustakaan.Nyatanya keberadaan perpustakaanjuga sangat bergantung dari banyaknyajumlah, keberagaman, dan kualitaskoleksi bahan pustaka yangdikumpulkan dan dilestarikan olehperpustakaan (Murzilawati, 2017a).Namun tiga faktor tersebut tidak cukupuntuk menentukan kualitas bahanpustaka yang ada di perpustakaan.Dibutuhkan kebijakan yang baik danjuga kesiapan perpustakaan dalammenghadapi berbagai hal terkaitpengolahan bahan pustaka. Salah satufaktor utama pemsutaka datang keperpustakaan adalah adanya kualitasbahan pustaka yang baik. Kualitas bahanpustaka tersebut sangat tergantungpada bagaimana perpustakaanmengadakan bahan pustaka, mengolahbahan pustaka, menyajikan bahanpustaka, bahakn sampai dengabagaiman penanggulangan bahanpustaka yang rusak. Dengan adanyaproses pengolahan bahan psutaka yangbaik maka menjadikan perpustakaansebagai pusat informasi yangbermanfaat bagi pengunanya.Koleksi atau bahan pustaka diperpustakaan menjadi hal yang pentinguntuk diperhatikan mengingat karenakoleksi pustaka tersebut akan sangatsering digunakan oleh pengunjungperpustakaan (Suyono n.d.). Supayabahan pustaka mempunyai daya gunalebih alama dan bisa digunakan olehpemustaka, maka perpustakaan wajibmenjaga keutuhan bahan pustakatersebut baik itu informasi maupunfisiknya. Hal tersebut perlu dilakukanagar kandungan informasi ilmiah danilmu pengetahuan yang ada di dalamnyatidak rusak, hilang, dan dapat dibacadalam jangka waktu yang lama. Bahanpustaka tersebut harus dilestarikankarena memiliki nilai yang sangat tinggiserta mempunyai peran dalammelestarikan nilai budaya suatu bangsa.Atau dapat dikatakan bahwa bahanpustaka mengandung rekaman ataucatatan hasil dari pemikiran manusia. Oleh sebab itu perlu diketahui bahwabetapa pentingnya aspek pelestariandalam suatu kegiatan preservasi bahanperpustakaan. Kegiatan preservasi diperpustakaan sudah seharusnya untukdiperhatikan supaya para pemustakatidak mengalami kesulitan dalammencari informasi.Pelestarian bahan pustakamempunyai peran signifikan dalamkegiatan perpustakaan karenaperpustakaan tidak memberikanmanfaatnya secara optimal khususnyadalam menyediakan bahan pustakayang otentik. Tidak jarang bahanpustaka yang “jadul” mempunyaiinformasi yang otentik dan menjadirujukan utama dalam penelitian. Makadibutuhkan peran pustakawan dalammelestarikan nilai informasi aslitersebut kepada para pemustakabahkan pustakawan dalam mempelajaridan mengajari cara membaca bahanpustaka yang ditulis di berbagai bahasadan aksara. Perpustakaan diharapkanmengambil berperan penting dalampelestarian bahan pustaka tersebut,pustakawan secara regular harusmelakukan evaluasi dan kontrolterhadap kondisi bahan pustaka yangada di suatu rak koleksi dalamperpustakaan. Dan jika didapati adabahan pustaka yang rusak makapustakawan harus segera cepat tanggapmemperbaiki bahan pustaka yangterlihat sudah mengalami kerusakantersebut, supaya bisa di gunakan olehpemustaka. Penyimpan danpememeliharaan bahan pustaka harusdilakukan dalam kondisi yang baik,karena merupakan suatu yangterpenting untuk pencegahankerusakan bahan pustaka. Sebagianbesar koleksi di perpustakaanmerupakan bahan tercetak yang padaumumnya terbuat dari kertas. Bahankertas ini mudah sekali mengalamikerusakan, baik karena faktor internalmaupun faktor eksternal (Sumarno2019). Setiap perpustakaan pasti akanmengalami kerusakan karena, terbuatdari kertas akan mudah rusak bahanpustaka yang secara umum terbuat darikertas baik itu dengan kualitas baikmaupun kualitas buruk pasti akanmengalami penurunan kualitas. Peran perpustakaan sangat penting untuk mempromosikan keaksaraan dan kualitas pendidikan di semua tingkatan. Fakta ini menjadi dasar pendirian perpustakaan di lembaga akademik untuk memfasilitasi terealisasinya visi dan misi badan induknya. Perpustakaan akademik tidak hanya dibebani dengan tanggung jawab untuk membangun koleksi yang baik untuk mendukung thidarma secara baik. Tapi mereka harus memastikan bahan Pustaka digunakan dan dirawat secara efektif melalui kegiatan pelestarian dan konservasi supaya bahan Pustaka tersebut mempunyai umur panjang dan keberlanjutan. Untuk mengusahakan ketahanan bahan informasi terhadap kerusakan dan terhindar dari degradasi kualitas membutuhkan upaya pelestarian dan konservasi proaktif yang diarahkan untuk meminimalkan efek lingkungan baik secara fisik, biologis, teknologi serta faktor manusia yang mampu menyebabkan kerusakan yang tidak dapat dipulihkan kembali seperti sediakala. Pelestarian sumber daya perpustakaan memerlukan pengorganisasian sumber daya manusia yang sistematis dan terencana dan kegiatan yang dikerahkan untuk mencegah kerusakan fisik dan kimiawi bahan pustaka. Kegiatan pelestarian meliputi kebersihan lingkungan, enkapsulasi, dan ubah bentuk dari fisik ke digital. Dan juga pentingnya adanya kesadaran bersama antara pustakawan dan pemustaka bahwa informasi dan koleksi yang terkandung dalam bahan Pustaka harus dijaga secara bersama. Pustakawan menjaganya dengan kebijakan, skill, dan koordinasi dengan pemustaka di perpustakaan terkait bagaimana cara memperlakukan koleksi, sedangkan Pemustaka harus mempunyai kesadaran untuk mematuhi peraturan perpustakaan. Keduanya harus dilakukan mengingat semua yang terlibat harus mempunyai peran dalam mencegahan kerusakan bahan Pustaka sehingga bahan Pustaka dapat dinikmati dalam jangka waktu Panjang dan menjadi kekayaan bagi perpustakaan.Pelestarian adalah bahasan yang kompleks yang meliputi berbagai permasalahan yang timbul, baik dari aspek budaya, ekonomi, budaya, dan juga ekonomi. Istilah pelestarian koleksi sangat lekat dengan konteks perpustakaan. Proses kegiatan yang dilakukan sangat banyak dan membutuhkan ketekunan dalam penanganan.Gambar 1 tersebut memperlihatkan bahwa preservasi mempunyai jangkauan yang luas atau lebih umum. Dari koleksi buku yang dimiliki Perpustakaan IAIN Curup sebagian besar terbuat dari kertas seperti Buku, monolog, kamus, koran, majalah, novel, dan karya ilmiah. Ada beberapa koleksi dari berbagai jenis bahan pustaka tersebut mengalami kerusakan dan perlu mengalami proses konservasi. Adapun masalahnya adalah seperti mengalami kekuningan dan sampul buku banyak yang rusak. Bahkan dari tahun ke tahun koleksi bahan pustaka di perpustakaan IAIN Curup mengalami kehilangan atau kerusakan.Perpustakaan IAIN Curup mengalami kerusakan bahan pustaka dari tahun ke tahun. Seperti tahun 2019 perpustakaan IAIN Curup mengalami kerusakan sebanyak 155 buah koleksi buku. Pada tahun 2020 perpustakaan IAIN Curup juga mengalami kerusakan sebanyak 94 buah koleksi buku. Perpustakaan IAIN Curup juga mengalami kehilangan bahan pustaka dari tahun ke tahun. Pada tahun 2020 Perpustakaan IAIN Curup juga mengalami kehilangan sebanyak 322 koleksi buku. Yang selanjutnya, pada tahun 2021 Perpustakaan IAIN Curup juga mengalami kehilangan sebanyak 418 koleksi buku. Penyebab dari kehilangan bahan pustaka di sebabkan oleh pemustaka dan bisa dikatakan juga karena rusak berat, maka buku tersebut di anggap hilang. UPT Perpustakaan IAIN Curup juga melakukan pengadaan setiap tahun tergantung dengan persetujuan dari DIPA atau anggaran pusat.Perpustakaan perguruan tinggiharus melestarikan buku sebagaikegiatan pencegahan guna untukmelindungi bahan pustaka dariterjadinya degradasi umur ataupunkerusakan fisik. Supaya buku tersebutbisa digunakan oleh pemustaka.Pengingnya perlindungan terhadap bahan pustaka bukan hal baru bagiperpustakan, namun kegiatanpreservasi dan konservasi bahanpustaka tidaklah mudah dilakukandibutuhkan berbagai elemen baik itupustakawan, kemampuan, saranaprasarana, dan juga tenaga. Makakegiatan preservasi dan konservasimerupakan kegiatan esensial bagiperpustakaan perguruan tinggi yangmelayani sivitas akademika yangmempunyai kebutuhan informasi yang tinggi
Method
Penelitian ini bersifat deskriptifkualitatif yaitu menggambarkan tentangfakta dan data yang dikumpulkan dandisusun dalam kalimat. Data yangdigunakan adalah data primer danskunder. selain itu teknik pengumpulandata pada penelitian ini ada 3 yaitu: 1.obsevasi yaitu mengamati untukmengumpulkan data dengan caramelihat secara langsung, 2. Wawancaradengan informan yang ditentukan 3.Dokumentasi. Analisis data dilakukansecara sistematis yaitu mereduksi data,penyajian data dan penarikankesimpulan
Result & Discussion
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan dapat di ketahui bahwa Beberapa perpustakaan baik perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, perpustakaan daerah dan perpustakaan lainnya akan mengalami kerusakan. Hal tersebut tergantung dengan banyaknya orang yang menggunakan bahan pustaka tersebut, sehingga teradilah kerusakan bahan pustaka. Dibawah ini akan di uraikan Faktor-Faktor penyebab kerusakan bahan pustaka di UPT Perpustakaan IAIN Curup. Dari hasil dokumentasi bahwa perpustakaan IAIN Curup mengalami banyaknya kerusakan dan kehilangan bahan pustaka dari tahun ke tahun.Diagram Pie 4.1 Kehilangan Bahan Pustaka tahun 2020 Dari diagram di atas mengambarkan bahwa UPT Perpustakaan IAIN Curup mengalami kehilangan Pada tahun 2020 sebanyak 242 (70,5%) koleksi buku disebabkan pemustaka, 80 (2,5%) disebabkan rusak berat sehingga total jumlah kehilangan buku sebanyak 322.Diagram Pie 4.2 kehilangan bahan pustaka tahun 2021 Diagram di atas menggambarkan bahwa UPT Perpustakaan IAIN pada tahun 2021 mengalami kehilangan sebanyak 209 (50%) disebabkan pemustaka, 209 (50%) disebabkan rusak berat jadi jumlah total 418.Diagram Pie 4.3 kerusakan bahan pustaka tahun 2019 Dari diagram diatas menggambarkan bahwa UPT Perpustakaan IAIN Curup juga mengalami kerusakan bahan pustaka dari tahun ke tahun. Seperti tahun 2019 perpustakaan IAIN Curup mengalami kerusakan sebanyak 13 (7,5%) disebabkan oleh kualitas buku yang rendah seperti terdapat banyak zat-zat asam, 5 (3%) disebabkan oleh serangga seperti kutu buku, 4 (2%) disebabkan oleh debu, 8 (4%) disebabkan oleh suhu dan kelembaban karena perpustakaan berada ditempat suhu yang dingin jadi bahan pustaka mengalami kelembaban, 2 (1%) disebabkan oleh cahaya karena di sekeliling perpustakaan memiliki kaca dan belum di pasang gorden, 13 (7,5%) disebabkan oleh faktor kimia yaitu kualitas buku renda dan banyak zat asamnya. Faktor kimia ini sama dengan faktor internal yaitu kualitas buku sangat rendah, 110 (70,5%) disebabkan oleh faktor manusia yang tidak berhati-hati dalammenjaga buku. Faktor manusia ini lebih banyak di banding dengan faktor lainnya. Jadi jumlah keseluruhan buku yang rusak sebanyak 155 buku.Diagram Pie 4.4 kerusakan bahan pustaka tahun 2020 Diagram diatas mengambarkan bahwa Pada tahun 2020 perpustakaan IAIN Curup juga mengalami kerusakan sebanyak 8 (7,5%) disebabkan oleh kualitas kertas yang rendah, 3 (3%) disebabkan oleh serangga yang semacam kutu buku, 2 (2%) disebabkan oleh debu, 5 (4%) disebabkan oleh suhu dan kelembaban, 1 (1%) disebabkan oleh pancaran cahaya mata hari, 8 (7,5%) disebabkan oleh faktor kimia. Faktor ini sama dengan faktor internal yaitu kualitas buku yang rendah, 67 (70,5%) disebabkan oleh faktor manusia. Perpustakaan mengalami kerusakan bahan pustaka paling banyak disebabkan oleh faktor manusia. Jumlah total kerusakan yaitu sebanyak 94 buah koleksi buku. Faktor-faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka di UPT Perpustakaan IAIN Curup diataranya: Pertama, kerusakan yang disebabkan oleh faktor internal yaitu kualitas buku yang kurang bagus dan memiliki za-zat asam yang rendah sehingga bisa menyebabkan kerusakan bahan pustaka. Menurut Endang Fatmawati bahwa dari faktor Internal yang muncul di kertas biasanya dalam kategori faktor rapuh dan cepat hancur. Kandungan senyawa asam di dalam kertas akan mempercepat reaksi hidrilisis, sehingga semakin cepat hidrilisisnya maka semakin cepat pula terjadinya pelapukan pada kertas(Fatmawati, 2017). Tidak semua buku di UPT perpustakaan IAIN Curup itu di cetak dengan kualitas kertas yang baik dan di perpustakaan IAIN Curup banyak buku sumbangan yang kualitas bukunya rendah maka buku tersebut mudah mengalami kerusakan baik dari sampulnya lepas, mudah mengalami kekuningan dan mudah sobek. Hal tersbut dikarenakan kualitas buku tidak bagus dan zat-zat asamnya banyak. Kerusakan yang seperti ini belum bisa di diatasi karena cara memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh zat-zat ini harus menggunakan laboratorum khusus dan orang yang sudah ahli di bidang ini. Sedangkan di perpustakaan belum ada laboratorium khusus jadi kerusakan yang sejenis ini di perbaiki secara manual saja seperti pustakawan IAIN Curup menyimpan buku cadangan suapaya kalau bahan pustaka tersebut mengalami kerusakan berat maka perpustakaan akan mengambil buku cadangan dan di pito koppy kembali di beri nomor klasifiksai dan barkode yang sama dengan buku yang sudah mengalami rusak dan di layankan kembali. Kedua, kerusakan yang disebabkan oleh serangga seperti kutu buku. banyak sekali ditemukan di bukubuku yang ada di perustakaan dan pustakwan juga sering mengatakan mengatkan bahwa kutu buku itu bukan saja merusak buku tetapi juga membahayakan manusia karena pustakwan sering di gigit oleh kutu tersebut pas lagi mengadakan perbaikan bahan pustaka rusa di perpustakaan IAIN Curup. Kutu Buku merupakan jenis serangga yang sangat kecil. Bagian buku yang sering di serang ialah punggung buku dan pinggirnya. Serangga ini sangat raku terhadap kertas (Zelinan, 2021). Buku-buku yang di rusak oleh serangga yang berbentuk kutu buku di perpustakaan IAIN Curup ini termasuk buku yang tidak sering digunakan oleh pemustaka dan tidak pernah dibersihkan di dalam rak sehingga kutu buku tersebut menjadi beta di dalam buku. Kutu buku juga merusak bahan pustaka yang di lekatkan di gudang yang belum sempat diperbaiki sehingga buku tersebut mengalami rusak berat dan tidak bisa di selamatkan lagi. Adanya kutu buku tersebut di sebabkan oleh kertasnya tidak bagus,banyak zak-zat asamnya sehingga serangga ini berkembang di koleksi tersebut. Cara pustakawan IAIN Curup mengatasi kerusakan yang seperti ini dengan cara membersihkan koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan dan memberikan obat seperti kapur barus di sela-sela buku dan rak-rak buku. Menurut Mulida Djamarin mengatakan bahwah serangga dapat di tempuh dengan cara yaitu, menyemprot dengan menggunakan bahan insektisida (bahan pembasmi serangga), yaitu pada lantai, tembok, langit-langit dan rak buku yang dilakukan secara berkala. menggunakan gas beracun, yaitu melakukan pumigasi atau pengasapan. penggunaan sistem pengumpanan, yaitu campuran arsecic acid, barium carbonate atau sodium dengan tepung terigu, gula atau garam diletakkan di tempat terbuka, yang dapat membunuh berbagai macam serangga. menempatkan kapur barus dibelakang buku di rak. Kapur barus fungsinya untuk menghalau segala jenis serangga (Mulida Djamarin, 2015). Ketiga, kerusakan yang disebabkan oleh debu. Perpustaan IAIN Curup mengalami kerusakan yang disebkan oleh debu dikarenakan perpustakaan terletak di dataran tinggi. Menurut Garielia Maria Zelinan Debu yang melekat di kertas pada kertas akan menimbulkan reaksi kimia yang dapat meninggikan tingkat keasaman pada kertas (Zelinan, Boham, and Lotulung, 2019). Selain perpustakaan berada didataran tinggi debu tersebut bisa masuk ke perpustakaan bisa melalui pemustaka yang sepatunya kotor langsung masuk perpustakaan sehingga kotoran yang melekat di sepatu tersebut menyebar kemana-mana. Selain itu debu tersebut masuk melalui jendelajendela perpustakaan dan lubanglubang yang ada di perpustakaan karena perpustakaan belum memakai gordeng untuk menutupi debu-debu yang masuk ke perpustakaan. Cara perpustakaan mengatasi kerusakan seperti ini yaitu dengan cara membersihkan rak dan koleksi-koleksi memakai alat sperti sampul dan semprotan air suapaya debu tidak beterbaran kemana-mana. Keempat, kerusakan yang disebabkan oleh suhu dan kelembaban. Perpustakaan IAIN Curup berada di datran tinggi yang suhu nya dingian dan sering hujan maka bahan pustaka akan mengalami lembab karena rak koleksi di perustakaan IAIN Curup terlalu mepet ke dinding. Dinding di perpustakaan IAIN Curup terbuat dari beton yang suhu nya dingin, jika mengalami hujan terus menerus makan dinding perpustakaan akan menjadi lembab atau dingin sehingga bahan pustaka yang reketak di pinggir atau terlalu mepet ke dinding akan mengalami lembab. Jika tidak di atasi dengan cepat maka buku-buku tersebut akan tumbu jamur. Menurut Mulida Djamarin suhu yang tinggi dapat menyebabkan kertas rapuh, warna menjadi kuning. Kerusakan kertas yang diakibatkan oleh suhu yang dapat menyebabkan perekat pada jilidan buku menjadi rapuh dan cepat rusak (Mulida Djamarin, 2015). Cara pustakawan mengatasi jenis kerusakan yang seperti ini ialah dengan memihndahkan rak-rak buku yang terlalu berdekatan dengan dinding supaya tidak terjadi kerusakan yang berlanjut. Kelima, kerusakan yang disebabkan oleh cahaya. Perpustakaan IAIN Curup mengalami kerusakan yang di sebabkan oleh cahaya mata hari dan caya yang menerangi ruangan. Menurut Hanny Chairany suyoni mengatakan bahwa kertas yg terkena cahaya langsung akan mudah rusak, berubah warnanya menjadi kuning dan rapuh kerusakan yang terjadi karena pengaruh sinar ultra violet (sinar matahari) adalah memudarkan tulisan. Untuk menghindari kerusakan hendaknya perpustakaan menggunakan kain gorden sehingga panas atau sinar matahari yang masuk ke perpustakaan bisa di atur (Suyono n.d.). Kerusakan yang paling banyak yang di sebabkan oleh cahaya matahari. karena cahaya matahari sangat mudah menembus kaca perpustakaan selain perpustakaan berada di dataran tinggi juga ruangan yang di perpustakaan tersebut di penuhi dengan kaca. Maka sinar matahari semakin mudah masuk ke perpustakaan. Perpsutakaan IAIN Curup juga belum menggnakan gordeng di setian jendela-jendela perpustakaan. Cara perpustakaan mengatasi kerusakan ini dengan cara memindahkan rak-rak buku yang terkena pancara matahari. Keenam kerusakan bahan pustaka yaang diakibatkan oleh faktor kimia. Perpustaan IAIN Curup mengalami kerusakan yang di akibatkan oleh faktor kimia yaitu kualitas kertas yang kurang bagus, cepat rapuh dan cepat pudar. Kerusakan yang seperti ini sama dengan kerusakan yang disebabkan oleh faktor internal yaitu kualitas kertas kurang bagus dan banyak za-zat asam di dalam kertas tersebut. Menurut Darmono kertas akan dapat bersifat asam karena pengaruh asam yang berasal dari berbagai sumber antara lain, Asam yang telah ada sejak kertas itu di produksi (Darmono, 2013). Buku yang banyak kandungan asamnya bisa mengundang serangga yang berbentuk kutu buku. Cara pustakawan mengatasi kerusakan yang seperti ini di lakukan secara sederhana saja. Jika buku tersebut mengalami rusak berat maka perpustakaan akan mengambil buku dari dandon atau buku cadangan. Jika buku tersebut mengalami rusak ringan seperti sampul buku lepas atau hilangnya nomor klasifikasi maka pustakawan cukup mengelem dan memberi nomor punggung saja. Ketujuh, kerusakan yang disebabkan oleh manusia. Dari beberapa faktor kerusakan yang ada di perpustakaan itu paling banyak yang di akibatkan oleh pemustaka. Karena semakin banyak pengunjung di perpustakaan maka semakin banyak pula buku yang di gunakan. Sering kali terlihat pemustaka tidak berhati-hati dalam menggunkan atau memakai buku seperti mecoret di halaman buku, memberi lipatan di dalam buku, menghapus tulisan di dalam buku, buku dijadikan alat untuk duduk dan di jadikan pelindung kepala pas lagi kehujanan. Dari hal-hal tersebut dapat menyebabkan koleksi bahan pustaka menjadi rusak bahkan akan rusak berat dan tidak bisa di pakai lagi jika tidak diatasi dengan cepat. Jika pemustaka mempunyai pikiran bahwa koleksi buku tersebut masih banyak orang yang membutuhka maka tidak akan terjadi kerusakan. Menurut Hanny Chairany suyono bahwa usaha pencegahan kerusakan bahan pustaka yang dilakukan sejak dini merupakan tindakan yang lebih baik dan lebih tepat dari pada melakukan perbaikan bahan pustaka yang telah parah keadaannya(Suyono n.d.). Cara pustakawan mengatasi kerusakan bahan pustaka di UPT Perpustakaan IAIN Curup yaitu, menegur pemustaka suapaya mengambil buku di rak itu dengan pelan-pelan supaya tidak terjadi kerusakan pada sampulnya.Menerapkan sansi kepada pemustaka yang merusak bahan pustaka di perpustakaan dengan cara di suruh mengganti bahan pusataka yang telah ia rusak oleh pemustaka sesuai dengan bahan pustaka yang telah di rusak atau dengan cara membayar sesuai harga buku yang dirusak supaya pustakawan yang akan membeli dan menggantikan bahan pustaka yang telah di rusak oleh manusia atau pemustaka. Kebijakan ini di terapkan suapaya pemustaka tidak semena-mena menggunakan bahan pustaka secara tidak beretika. karena masih banyak manusia atau pemustaka lain yang membutuhkan informasiinformasi yang ada di dalam buku tersebut kata kepala UPT Perpustakaan IAIN Curup. Pustakawan UPT Perpustakaan IAIN Curup juga memasang benner suapaya pemustaka bisa melihat larangan apa saja yang tidak boleh di lakukan di perpustakaan supaya bahan pustaka menjadi aman dan bisa di pakai oleh pemustaka. Pustakawan juga menegur pemustaka yang menggunakan bahan pustaka secara tidak berhati-hati seperti pemustaka meletakan buku di atas kepala pada saat hujan dan melipat-lipat buku seacara tidak baik. gunanya suapaya tidak terjadinya kerusakan pada koleksi buku suapaya bisa digunakan dengan baik. Perpustakaan IAIN Curup juga mengadakan user education agar pemakai atau pengguna perpustakaan secara efektif dan efisien. Menurut Gabriela Maria Zelinan mengatakan bahwa Banyak kerusakan yang bisa dihindari, jika kita mengetahui cara pencegahannya (Zelinan et al. 2019). Pustakawan juga tidak menyuruh pemustaka membawa tas,air minum, makanan dan lain-lain kecuali pena, buku laptop, casan. Agar bisa menghindari terjadinya kerusakan bahan pustaka di perpustakaan IAIN Curup. Menurut Murzilawati manusia dalam hal ini pemakai perpustakaan dapat merupakan lawan atau juga kawan. Pemakai perpustakaan menjadi kawan bilamana dia membantu pengamanan buku dengan cara menggunakan bahan pustaka secara cermat dan hati-hati (Murzilawati, 2017b). Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan IAIN Curup mengalami kerusakan seperti faktor internal yaitu kualistas buku kurang bagus dan dan mengandung banyak zat asam yang selanjutnya itu kerusakan dari faktor eksternal antara lain serangga berbentuk kutu buku, debu, suhu dan kelembaban, cahaya, manusia. Diantara kerusakan tersebut paling banyak yang diakibatkan oleh manusia atau pengunjung perpustakaan. Karena semakin banyak yang menggunakan koleksi berebentuk buku tersebut semakin banyak pula kerusakan yang akan dialami. Cara perpustakaan mengatasi kerusakan tersebut yang pertama yaitu kerusakan yang di sebabkan oleh faktor internal ada 2 kerusakan berat dan kerusakan ringan. Yang pertama yaitu rusakan berat maka pustakawan akan mengambil dari tandon buku tersebut, membuang halam yang sudah rusak dan di fotocopy buku tandon tersebut lalu di perbaiki dan di layankan kembali. Yang kedua mengalami rusak ringan maka pustakawan cukup mengelem dan menjilid saja. Yang selanjutnya cara pustakawan mengatasi kerusakan yang di sebabkan oleh faktor eksternal yang pertama serangga, pustakawan cukup memberi kapur barus di sela-sela buku dan rak buku. kedua debu, pustakawan memberkaan keset di setiap pintu masuk perpustakaan dan membersihkan rak-rak buku dengan semprutan dan sampul, ketiga kerusakan dari suhu dan kelembaban, pustakawan cukup memindahkan rak buku yang terlalu mepet ke tembok, keempat cahaya, pustakawan cukup memindahkan buku ke tempat yang tidak di pancarai sinar mata hari, kelima manusia, pustakawan memberikan sansi kepada pemustaka yang merusak buku, menegur, membuat banner tentang tata cara masuk perpustakaan. Setiap perpustakaan mempunyai permasalahan tersendiri dan begitu juga mempunyai solusi sendiri. Kegiatan preservasi dan konservasi tidak dilakukan atau tidak terkoordinasi dengan baik, kerusakan bukan hanya tidak dapat dihindari tetapi juga akan segera terjadi. Oleh karena itu pustakawan berkewajiban untuk bersiap menghadapi ancaman atau bahaya yang dapat menyebabkan kerusakan pada sumber daya perpustakaan. Baik itu kerusakan yang disebabkan oleh suhu tinggi, kelembaban dan faktor biologis, atau bencana berupa kebakaran, banjir/badai hujan. Kerusakan apa pun yang berkaitan dengan perpustakaan dan koleksinya dapat disebut sebagai bencana (mengingat pentingnya bagi keilmuan). Untuk menjaga bahan-bahan mengandung informasi baik itu digital maupun fisik membutuhkan kemampuan teknologi yang mumpuni untuk melindungi sumber daya elektronik. Kerentanan sumber daya digital tidak sama dengan fisik. Kedua jenis tersebut mempunyai penanganannya masing-masing. Begitu juga dengan perlengkapan dan juga kemampuan, dibutuhkan keahlian yang berbeda-beda. Pelestarian digital memerlukan proses yang terlibat dalam pemeliharaan dan aksesibilitas konten digital yang didukung dengan sistem yang baik. Selain itu perlu juga diperhatikan terkait copyright atau keaslian konten digital telah disediakan. Kegiatan pemeliharaan untuk sumber daya digital berbeda secara signifikan dari kegiatan cetak karena sifatnya yang khas. Preservasi digital mencakup berbagai kegiatan yang membantu memastikan kesinambungan akses informasi yang ada dalam format digital. Sudah sewajarnya perpustakaan di berbagai tipe harus mempunyai kebijakan terkait alihbentuk dari fisik ke digital sehingga peran perpustakaan memang dirasakan oleh masyarakat informasi.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan dengan cara observasi, dokumentasi dan wawancawa kepada kepala Perpustakaan dan pustakawan/pegawai perpustakaan yakni 3 orang, tentang faktor penyebab kerusakan bahan pustaka di perpustakaan IAIN Curup dan cara mengatasi kerusakan bahan pustaka tersebut. Maka didapatkan kesimpulan bahwa: 1. Analisis Faktor-Faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka di Perpustakaan IAIN Curup (a) Faktor internal dan Faktor Eksternal. Faktor Internal, Perpustakaan IAIN Curup mengalami kerusakan yang disebabkan oleh kualitias kertas tidak bagus atau subtrat kertas dengan kualitas yang sangat rendah sehingga mudah mengalami kerusakan. biasanya jenis buku yang mengalami kerusakan ini yaitu dari sampulnya dan lem perekatnya tidak bagus. tidak semua buku di perpustakaan ini di cetak dengan kualitas yang bagus. Koleksi buku tersebut masih di cetak dengan kertas yang berwarna kuning dengan zat asam nya lebih banyak. zat asam tersebut cepat menimbulkan kerusakan karena lebih asam,jadi itu bisa mengundang binatang-binatang. (b) Faktor eksternal. Perpustaan IAIN Curup mengalami kerusakan oleh faktor eksternal seperti serangga (kutu buku) yang sering merusak di bagian punggung buku dan pinggirnya, debu yang menempel pada rak dan buku, suhu dan kelembaban udara yang tidak stabil kadang dingin dan kadang panas, cahaya matahari yang terlalu berelebihan, kerusakan dari faktor kimia dikarenakan zat asam pada buku tidak bagus seperti kualitas kertas yang rendah, yang terakhir yaitu manusia yang tidak benar menggunakan buku. Penyebab kerusakan yang paling banyak di alami perpustakaan IAIN Curup yaitu dari faktor manusia yang tidak berhati hati dalam menggunakan buku seperti merobek buku, melipat buku, mencoret-coret buku dan menajadikan buku sebagai alat pelindung kepala pas lagi kehujanan. Adapun Cara Mengatasi Kerusakan Bahan Pustaka di perpustakaan IAIN Curup adalah sebagai berikut: a. Faktor Internal. Cara pustakawan memperbaiki kerusakan dari faktor internal. jika mengalami kerusakan, seperti kertas sudah memudar, bolongbolong, warnanya hilang-hilang maka pustakawan mengambil dari tandon atau koleksi cadangan buku tersebut di buang halamannya di Poto kopy yang bagian rusak itu dan di pasang kembali dan kemudian di perbaiki. Begitupula cara mengatsi kerusakan yang di sebabkan oleh faktor kimia sama dengan faktor internal. b. Faktor Eksternal. Cara pustakawan memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh faktor eksternal, seperti manusia dikenankan sansi kepada manusia yang merusak buku tersebut. kerusakan di akibatkan oleh debu yaitu dengan membersihkan ruangan dan meja-meja dengan penyemprot air dan menggunakan sampul supaya debu tidak bertebaran ke bahan pustaka. Cara mengatasi kerusakan diakibatkan oleh serangga (kutu buku), dengan memberikan kapur Barus di sela-sela buku dan rak untuk mencegah kerusakan yang berlanjut. cara mengatasi kerusakan bahan pustaka yang di akibatkan oleh suhu dan kelembaban yaitu dengan menaruh bahan pustaka itu dengan baik seperti meletakan rak-rak koleksi tersebut jauh dengan dinding perpustakaan karena dinding tersebut terbuat dari beton. cara mengatasinya kerusakan disebabkan oleh cahaya yaitu dengan memindahkan koleksi bahan pustaka ke tempat yang tidak di pancari oleh cahaya yang terlalu berlebihan seperti cahaya matahari.