ANALISIS TEORI RESEPSI TENTANG REPRESENTASI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI PADA VIDEO PERESMIAN GEDUNG PUSAT INFORMASI DAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI PADANG
Universitas Gadjah Mada; Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Perkembangan teknologi dan digitalisasi telah mendorong berbagai lembaga, termasuk perpustakaan perguruan tinggi, untuk memanfaatkan platform digital seperti YouTube sebagai sarana promosi. Penelitian ini menganalisis representasi perpustakaan Universitas Negeri Padang (UNP) dalam video promosi "Peresmian Gedung Pusat Informasi dan Perpustakaan Universitas Negeri Padang" yang diunggah di kanal YouTube UNP TV. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi berdasarkan teori encoding-decoding Stuart Hall. Hasil analisis menunjukkan bahwa video tersebut merepresentasikan perpustakaan sebagai ruang belajar dan diskusi, tempat yang sepi, profesi pustakawan yang stereotipikal, koleksi yang terbatas pada buku, serta memperlihatkan kecurigaan kepada pemustaka. Peneliti menilai bahwa representasi dalam video tersebut kurang menggambarkan fungsi perpustakaan modern yang seharusnya juga mencakup ruang sosial, koleksi digital, dan hubungan yang ramah dengan pemustaka. Perspektif peneliti berada pada posisi negotiated dan oppositional terhadap beberapa elemen video, terutama terkait pemaknaan pustakawan, suasana perpustakaan, dan koleksi yang ditampilkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa video promosi perpustakaan perlu mencerminkan nilai inklusivitas, kepercayaan, dan modernitas untuk memberikan citra positif bagi institusi dan menarik lebih banyak pemustaka.
Abstract
The development of technology and digitalization has encouraged various institutions, including university libraries, to utilize digital platforms such as YouTube as promotional tools. This study analyzes the representation of the Universitas Negeri Padang (UNP) library in the promotional video titled "Peresmian Gedung Pusat Informasi dan Perpustakaan Universitas Negeri Padang" (Inauguration of the Information and Library Center Building of Universitas Negeri Padang) uploaded on the UNP TV YouTube channel. Using a qualitative approach, the research applies reception analysis based on Stuart Hall's encoding-decoding theory. The findings indicate that the video represents the library as a place for studying and discussion, a quiet space, with stereotypical depictions of librarians, a collection limited to books, and a sense of suspicion toward library users. The researcher concludes that this representation fails to reflect the functions of a modern library, which should also encompass social spaces, digital collections, and a friendly relationship with users. The researcher adopts a negotiated and oppositional stance on certain elements of the video, particularly regarding the portrayal of librarians, the library atmosphere, and the featured collection. The study concludes that promotional videos for libraries should reflect inclusivity, trust, and modernity to project a positive institutional image and attract more library users.
Keywords:
university library
· reception analysis
· representation
· UNP
Introduction
Perkembangan teknologi mendorong kebutuhan digitalisasi yang sangat masif, sehingga mendorong segala informasi dibentuk secara berulang melalui digitalisasi, baik itu berupa teks, foto maupun video. Pengguna internet di Indonesia melalui survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2024 mencapai 221,56 juta orang atau 78,19% dari populasi Indonesia yang banyaknya 275,77 juta jiwa. Pertumbuhan pengguna yang semakin banyak ini juga mengakibatkan semakin banyaknya media yang hadir untuk bersaing dalam memenuhi kebutuhan pengguna internet. Kemudahan mengakses informasi melalui internet mendorong perkembangan media sosial yang selalu menyuguhkan konten berupa audio-visual sehingga masyarakat dapat mengakses informasi yang berjenis audio visual untuk dapat melihat dan mendegar informasi yang ingin didapatkan. Pada era modern seperti sekarang ini, penyampaian informasi melalui media sosial sudah sangat mudah karena hampir semua orang di dunia dapat menggunakan internet yang merupakan pengaruh dari kemajuan teknologi yang semakin pesat. Di antara beragamnya jenis media sosial, platform YouTube menjadi platform yang menyajikan konten-konten berupa video yang bersifat hiburan hingga edukatif. YouTube menjadi media yang dapat memberikan kemudahan seseorang dalam mencari informasi, terutama orang-orang yang lebih mudah memahami informasi melalui video (Yan et al, 2015). Menurut Mohr (2014) promosi melalui video dapat lebih mendorong penerima untuk menyebarkan informasi tersebut kepada khalayak yang lebih banyak. Hal ini jugalah yang membuat semua lembaga atau organisasi mulai memanfaatkan peluang penggunaan media sosial sebagai sarana promosi sesuai target pasar mereka (Hanke, 2015). Perpustakaan memiliki orientasi pada kebutuhan dan kepuasan pengguna sehingga perpustakaan perguruan tinggi harus menyesuaikan diri terhadap munculnya banyak media tersebut. Alias et al. (2013) menjelaskan bahwa perguruan tinggi sudah mulai membangun saluran institusional mereka pada platform YouTube dengan menampilkan segala bentuk kegiatan yang mereka lakukan, baik berupa pengenalan institusi hingga fasilitas yang dimiliki. Setiap institusi atau lembaga menjadi berlomba-lomba dalam menyampaikan pesan melalui YouTube, hal ini mereka lakukan untuk dapat mempromosikan dan memberikan resepsi positif dari lembaga mereka dengan pesan dalam video yang mereka buat, sehingga hal tersebut dapat memberikan citra positif institusi atau lembaga ke penontonnya. Video adalah salah satu teks yang dapat merepresentasikan atau menggambarkan sesuatu melalui proses resepsi. Menurut perspektif konstruksionis, representasi adalah proses menghasilkan makna melalui bahasa. Dalam representasi, manusia biasanya memanfaatkan simbol-simbol yang terorganisasi dalam bahasa untuk berinteraksi secara mendalam dengan orang lain. Simbol-simbol ini dapat menggambarkan atau merujuk pada objek, individu, dan peristiwa di dunia "nyata," sekaligus mencakup hal-hal imajiner, dunia fantasi, atau konsep-konsep abstrak (Hall et al, 2013). Namun di sisi lain, pesan yang terkandung di video tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. Hal ini disebabkan karena pesan yang disampaikan dalam video terlalu berfokus kepada kemegahan gedung atau ruang, tidak kepada aspek pelayanan dan repositori perpustakaan. Perpustakaan Universitas Negeri Padang (UNP) baru didirikan pada tahun 2022 dan baru rampung pengerjaannya pada bulan Juni 2024 dengan menghabiskan anggaran sebesar 82,7 miliyar dan dengan diberi nama Gedung Pusat Informasi dan Perpustakaan. Dilansir pada halaman (Ganto.Co, 2024) gedung perpustakaan UNP diklaim sebagai digital library serta tempat yang nyaman dalam memperoleh informasi serta perpustakaan terbesar di Sumatera Barat. Promosi yang dilakukan oleh pengelola perpustakaan UNP ini dilakukan di saluran YouTube UNP TV. Konten yang disuguhkan dalam saluran YouTube ini merupakan segala hal mengenai UNP, baik dari segi prestasi, kemajuan, kegiatan dan pembangunan yang ada di UNP. Saat ini subscriber atau pengikut saluran ini sebanyak 7,57 ribu pengikut di YouTube. Saluran ini menjadi sarana promosi digital yang dilakukan oleh tim humas UNP untuk mempromosikan dan menunjukkan kepada pengguna internet terkait segala hal yang terjadi di UNP. Salah satu konten yang ada di UNP TV yaitu terdapat sebuah video yang mempromosikan perpustakaan UNP setelah dibangun dan diresmikan. Dalam video tersebut terdapat pesan untuk memperkenalkan perpustakaan. Namun dalam video tersebut mereka merepresentasikan perpustakaan yang sepi dan masih berfokus kepada koleksi buku, ditambah juga dengan peran pemustaka yang lebih menonjol daripada peran pustakawannya. Tentunya hal ini dapat mempengaruhi para penonton ketika melihat bagaimana gambaran perpustakaan UNP dalam video, ditambah lagi dalam video yang hanya berfokus kepada kemegahan ruang. Atas dasar inilah peneliti ingin mengkaji bagaimana tanggapan khalayak sebagai seseorang encoder atau penerima pesan yang memiliki latar belakang ilmu perpustakaan mengenai representasi perpustakaan dalam video yang diunggah di saluran YouTube UNP TV dengan judul “Peresmian Gedung Pusat Informasi dan Perpustakaan Universitas Negeri Padang”. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi untuk kemajuan penayangan konten terkait perpustakaan kepada pustakawan maupun pemangku kebijakan, sehingga pustakawan dapat lebih selektif dan lebih informatif dalam membuat konten perpustakaan agar pesan perpustakaan yang ditampilkan dapat lebih informatif dan memicu keinginan pemustaka untuk datang dan menghabiskan waktunya di perpustakaan. Selain hal tersebut, penelitian ini juga diharapkan dapat berguna sebagai referensi dalam penelitian-penelitian selanjutnya, khususnya terkait analisis resepsi pada teks perpustakaan. Lebih lanjut peneliti sangat berharap dari penelitian ini dapat memberikan masukan kepada perpustakaan perguruan tinggi terutama Perpustakaan UNP untuk dapat lebih informatif dalam pembuatan konten terkait perpustakaan.
Method
Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Focus Group Discussion (FGD) serta menggunakan analisis resepsi yang dapat mengidentifikasikan resepsi penerima pesan yang terdapat dalam video “Peresmian Gedung Pusat Informasi dan Perpustakaan Universitas Negeri Padang”. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang mendapatkan temuan yang tidak dapat diukur atau dicapai melalui prosedur statistik, atau dengan cara yang bersifat kuantifikasi (Ghony, 2012). Metode analisis resepsi menurut Stuart Hall adalah pendekatan yang mempelajari bagaimana khalayak memaknai, menghasilkan, dan mengalami interaksi dengan teks media (Hall, 1973). Hadi (2010) menjelaskan bahwa analisis resepsi melibatkan perbandingan antara analisis teks media dan wacana yang muncul dari khalayak. Dalam analisis resepsi, hasil interpretasi akan mempertimbangkan konteks seperti latar budaya dan hubungan dengan isi media lainnya. Pada akhirnya dalam metode analisis resepsi ini peneliti lebih menekankan bagaimana khalayak atau pembaca pesan dapat menghasilkan pemaknaan yang berbeda terhadap teks atau pesan yang diberikan media. Menurut Durham (2006) Teori pemaknaan (reception theory) membahas cara khalayak memproduksi, memaknai, dan mengalami interaksi dengan teks media. Dalam teori ini, khalayak dianggap memiliki peran aktif dalam memahami dan menginterpretasikan pesan yang disampaikan melalui media. Pendekatan ini dapat dijelaskan melalui model encoding-decoding yang dikembangkan oleh Stuart Hall. Menurut Hall, suatu peristiwa atau pesan tidak memiliki makna tunggal yang tetap; sebaliknya, pesan tersebut dapat disampaikan, diterjemahkan, dan dipahami melalui berbagai cara yang berbeda. Ia menegaskan bahwa setiap teks media memiliki potensi untuk menghasilkan beragam interpretasi tergantung pada perspektif pembacanya. Model ini menunjukkan bahwa makna dalam komunikasi tidak hanya ditentukan oleh pengirim pesan, tetapi juga dipengaruhi oleh proses decoding yang dilakukan oleh audiens. Dengan demikian, audiens bukan hanya penerima pasif melainkan juga pelaku aktif dalam pembentukan makna. Pemikiran ini menjadi landasan penting dalam analisis resepsi dan kajian terkait interaksi antara media dan khalayaknya. Metode FGD digunakan dalam penelitian ini karena kemampuannya untuk mengungkap perspektif secara mendalam melalui diskusi yang interaktif. FGD memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi dinamika kelompok serta memahami interaksi sosial yang terjadi saat peserta membahas film dokumenter (Mubangizi et al., 2022; Nushur & Astutie, 2021). Melalui proses diskusi, peneliti dapat melihat bagaimana jalannya diskusi dan menangkap pemaknaan yang lebih kaya dan beragam, karena peserta saling bertukar ide, mempertanyakan, hingga mampu untuk merumuskan makna bersama (Warr, 2005). Pendekatan ini tetap relevan dalam analisis resepsi, karena pemaknaan tidak hanya terjadi secara individu, tetapi juga dipengaruhi oleh interaksi sosial dan konteks budaya di sekitar individu. Oleh karena itu, FGD memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang cara audiens menafsirkan dan merespons film dokumenter. Penelitian ini melibatkan informan yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu, yakni mereka yang telah menyaksikan video "Peresmian Gedung Pusat Informasi dan Perpustakaan Universitas Negeri Padang" serta memiliki latar belakang di bidang ilmu perpustakaan. Hal ini dilakukan agar peserta FGD dapat lebih kritis membaca makna atau teks yang ditampilkan.
Result & Discussion
Hall (2004) menjelaskan mengenai proses encoding dan decoding dalam proses penyampaian pesan. Encoding yaitu proses memproduksi teks atau pesan dan decoding yaitu proses penerimaan teks atau pesan. Hubungan antara encoding dan decoding merupakan hal yang menjadi perantara antara produsen makna dan pemahaman penerima pesan. Secara lebih jelas Durham dan Douglas menjelaskan pemikiran encoding-decoding pada gambar berikut: Proses penerimaan pesan oleh penonton tidak dapat dijelaskan melalui perilaku yang sederhana. Proses ini memerlukan kajian khusus yang mempertimbangkan struktur pemahaman, hubungan sosial, dan dinamika kelompok dalam membentuk realitas atas pesan yang disampaikan. Dalam konteks ini, terdapat kemungkinan bahwa pesan yang dikirimkan pada struktur pertama dan yang diterima pada struktur kedua tidak sepenuhnya selaras. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh perbedaan tingkat pemahaman dalam proses komunikasi antara produsen makna (encoder) dan penerima pesan (decoder). Hall kemudian menjelaskan bahwa terdapat tiga interpretasi selama proses negosiasi dalam makna praktik resepsi. Interpretasi tersebut digunakan individu untuk merespon apa yang dilihatnya dalam media: Dominant-Hegemonic Position: Dalam posisi ini, audiens memahami dan menafsirkan makna tayangan sesuai dengan pesan yang diinginkan oleh media (preferred reading). Dengan cara ini, audiens men-decode pesan sesuai dengan maksud yang disampaikan, sehingga pandangan antara komunikator dan komunikan menjadi selaras. Negotiated Position: Posisi ini mencerminkan kombinasi sikap terhadap pesan media. Di satu sisi, audiens mampu memahami kode dominan yang ada dalam teks, tetapi di sisi lain, mereka juga menolaknya. Mereka secara selektif memilih elemen-elemen yang dianggap relevan untuk diadaptasi. Audiens dalam posisi ini tidak sepenuhnya menerima pesan yang disampaikan. Oppositional Position: Posisi ini memiliki kemiripan dengan posisi negosiasi, tetapi dengan perbedaan yang lebih tegas. Audiens memahami makna denotatif dan konotatif yang terkandung dalam pesan, namun mereka secara aktif menolaknya. Mereka menunjukkan sikap yang berlawanan dengan isi pesan karena merujuk pada alternatif pemahaman yang dianggap lebih relevan atau sesuai. Video pada media YouTube dapat memberikan bantuan kepada para penggunanya untuk mendapatkan informasi mengenai sesuatu atau sebuah pengalaman baru (Li et al, 2013). Hal ini juga mendorong lembaga atau organisasi mulai mengiklankan video mereka melalui YouTube. Seperti yang dilakukan oleh UNP melalui saluran YouTube-nya yaitu UNP TV dan meng-upload video promosi dan pengenalan perpustakaan UNP yang baru saja diresmikan. Berdasarkan pengamatan peneliti selama proses FGD, penerima pesan melalui proses observasi video yang berdurasi 3 menit 8 detik tersebut terdapat beberapa poin terkait bagaimana perpustakaan direpresentasikan: Pertama, perpustakaan digambarkan sebagai ruang untuk belajar dan berdiskusi. Kedua, perpustakaan diidentifikasi sebagai tempat yang hening. Ketiga, profesi pustakawan direpresentasikan hanya sebagai perempuan yang bekerja di balik meja. Keempat, koleksi perpustakaan dipersepsikan terbatas pada buku saja. Kelima, perpustakaan digambarkan sebagai tempat yang mencurigai pengunjung. 1. Representasi Perpustakaan Sebagai Ruang Yang Digunakan Untuk Belajar Dan Berdiskusi Pada video promosi perpustakaan tersebut diperlihatkan bahwa perpustakaan menyediakaan fasilitas untuk berdiskusi dengan terdapatnya meja dan kursi yang dibentuk sedemikian rupa untuk dapat berdiskusi dan belajar. Jika pemustaka tidak ingin diganggu, maka bisa mengambil meja yang bersifat personal (private) untuk kenyamanan belajarnya. Dalam tayangan yang berdurasi 3 menit 8 detik tersebut, 1 menit 1 detiknya menampilkan terkait dengan fasilitas belajar dan berdiskusi ini. Namun sayangnya pada video tersebut tidak menampilkan siapapun yang belajar dalam ruangan yang ditampilkan. . Pada bagian ini peserta FGD berada pada negotiated position yang artinya setuju dengan makna yang terdapat dalam video tersebut namun makna yang ditampikan seharusnya tidak hanya sebatas itu. Perpustakaan bisa menjadi sebagai tempat perlombaan, pengadaan event dan pertunjukan, tidak selalu tentang pendidikan. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam Undang-Undang RI Nomor 43 tahun 2007 tentang tujuan perpustakaan yaitu untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi pemustaka. Jadi seharusnya perpustakaan tidak hanya digambarkan sebagai tempat untuk belajar dan berdiskusi, namun juga sebagai tempat rekreasi di samping tempat belajar yang kondusif. Carpenter (2011) menjelaskan Perpustakaan saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat belajar yang tenang, tetapi telah berkembang menjadi "ruang sosial" yang mendukung penggunanya untuk berdiskusi, membahas berbagai isu bersama, atau belajar dalam kelompok. Oleh karena itu perpustakaan tidak selalu harus direpresentasikan sebagai tempat belajar dan mencari buku. Perpustakaan seharusnya juga dapat direpresentasikan sebagai tempat untuk berbagai macam kegiatan yang bersifat kolaboratif. Seperti yang banyak dilakukan sekarang ini dengan konsep library as a social space. 2. Representasi Perpustakaan Sebagai Tempat Yang Sepi Pada video promosi tersebut, perpustakaan yang ditampilkan hanya terdapat dua orang tokoh utama, dua orang pustakawan dan satu orang petugas security. Hal ini menunjukkan perpustakaan tidak diminati pengunjung atau pemustaka. Suasana perpustakaan yang sepi seperti yang terdapat pada video dapat membuat penonton menjadi tidak tertarik datang ke perpustakaan. Oleh karena itu posisi peserta FGD di sini berada pada oppositional position, karena menurut mereka seharusnya makna yang ditampilkan pada video bisa menunjukkan ketertarikan pemustaka yang beraktifitas di dalam perpustakaan. Berkaca pada perpustakaan yang lama selalu memperlihatkan ketertinggalan dan kesepian pemustaka, seharusnya dengan perpustakaan yang baru ini dapat direpresentasikan lebih baik mengingat jumlah mahasiswa UNP sebanyak 50.000 lebih mahasiswa. Jika perpustakaan di representasikan ramai dikunjungi hal ini akan membuat pemustaka dari kalangan mahasiswa dapat tertarik datang karena perpustakaan menjadi tempat yang diminati banyak orang. . Sudah saatnya video yang bertujuan untuk menampilkan ruang-ruang perpustakaan dapat lebih memuat keseruan aktifitas di dalam perpustakaan itu sendiri, sehingga mampu menampilkan citra positif perpustakaan. Dengan sedikitnya pemustaka yang merupakan mahasiswa, membuat pesan yang disampaikan dalam video menjadi negatif, karena terkesan tidak menarik untuk didatangi. Oleh karena itu, penting sekali untuk menampilkan wajah perpustakaan yang terbuka dan ramah bagi mahasiswa dengan cara menampilkan perpustakaan yang ramai dan ramah untuk kegiatan mahasiswa. 3. Representasi Profesi Pustakawan Hanya Wanita Dan Hanya Bertugas Di Belakang Meja Pada video promosi yang ditampilkan, hanya terdapat satu scene pustakawan yang bertugas menerima pengembalian buku, dan hanya ditempatkan di meja pengembalian buku. Hal ini memperlihatkan profesi pustakawan hanya sebagai tenaga administrasi semata. Padahal pada hakikatnya pustakawan tidak hanya sebatas itu. Makna yang ditampilkan pada video tersebut merepresentasikan profesi pustakawan merupakan profesi yang tidak menarik dan merendahkan profesi pustakawan. Ditambah lagi pada video tersebut, yang memperkenalkan ruangan, layanan, dan koleksi perpustakaan adalah pemustaka yang seharusnya menjadi tamu di perpustakaan. . Pada hal ini peserta FGD sepakat berada pada oppositional position. Karena mereka menilai perpustakaan bertugas tidak hanya menerima pengembalian buku. Pustakawan yang menjadi tenaga kunci dalam kemajuan sebuah perpustakaan harus dapat direpresentasikan lebih baik dengan menunjukkan relasi kuasa antara perpustakaan dan pustakawan yang menunjukkan pustakawan harus lebih dominan daripada pemustaka. Hal ini akan memberikan kesan bahwa pustakawanlah yang menjadi acuan dalam pelayanan dan mampu memberikan edukasi terkait perpustakaan kepada pemustaka. Dengan begitu, profesi pustakawan tidak dianggap sebelah mata dengan usaha untuk menampilkan pustakawan dengan tanggung jawab dan perannya di perpustakaan. Dalam pesan yang ditampilkan juga terlihat bahwa pustakawan itu identik dengan perempuan. Perempuan yang identik dengan simbol kerapian dan mudah diatur menjadi stereotip pada profesi pustakawan. Sebuah literatur menyebutkan bahwa pada masa lampau, profesi pustakawan sering kali dikaitkan dengan profesi yang identik dengan perempuan. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Carmichael (1992) Perempuan sering dianggap lebih cocok untuk profesi yang dianggap tidak terlalu berat, sehingga mereka cenderung mendapatkan status dan prestise yang rendah dalam profesi tersebut. Profesi pustakawan, misalnya, didominasi oleh perempuan dan kerap kali digambarkan secara stereotip dalam bentuk tradisional. Penggambaran seperti ini masih banyak dijumpai dalam berbagai budaya populer (Bartlett, 2014). Oleh karena itu, menurut mereka pandangan ini tidaklah benar. Profesi seorang pustakawan tidak hanya perempuan. Hal ini akan menjadi bias gender karena mengkotakkan profesi pustakawan kepada perempuan. Oleh karena itu, sebagai seorang yang memiliki latar belakang perpustakaan, peneliti melihat profesi pustakawan tidak terbatas pada perempuan saja dan akan lebih bijak rasanya profesi ini juga dapat disimbolkan dengan pustakawan laki-laki dan memberikan kesan profesi ini tidak terbatas pada satu gender saja. 4. Representasi Koleksi Perpustakaan Hanya Sebatas Koleksi Buku Pada video yang ditampilkan oleh UNP TV, beberapa layanan yang ada telah menunjukkan bahwa perpustakaan telah mulai bertransformasi menuju perpustakaan digital. Dengan presensi pemustaka hanya menggunakan barcode di kartu tanda mahasiswa (KTM), layanan OPAC hingga scan barcode peminjaman koleksi buku. Namun, dalam video tersebut hanya menampilkan koleksi berupa buku. Resources atau koleksi yang terdapat pada perpustakaan diperlihatkan hanya koleksi yang tercetak, padahal perpustakaan perguruan tinggi harus memiliki repositori yang tersedia jurnal-jurnal yang dilanggan guna membutuhi kebutuhan informasi mahasiswa dari penelitian terbaru. . Dari video tersebut, tidak satu detik-pun terlihat sumber koleksi lain selain buku. Oleh karena itu di sini hasil dari FGD pada pembahasan ini berada pada negotiated position. Karena tidak percaya bahwasanya koleksi perpustakaan sekelas perguruan tinggi tidak hanya berupa buku, namun juga artikel ilmiah sehingga keilmuan mahasiswa dapat selalu ter-update dengan adanya koleksi ini. Koleksi perpustakaan seharusnya dapat beraneka ragam. Pada era digital pada saat ini bahkan sudah terdapat beberapa perpustakaan beralih kepada digital library yang tidak memiliki koleksi tercetak lagi, semua koleksinya telah beralih menjadi e-book dan jurnal. Perpustakaan perguruan tinggi mesti dapat menyesuaikan koleksinya dengan kebutuhan pemustakanya yang mana adalah mahasiswa. Kebutuhan mahasiswa tidak hanya buku, namun yang tidak kalah penting adalah jurnal-jurnal ilmiah yang dapat menyegarkan cakrawala berpikir mahasiswa dengan hasil penelitian terbaru. Gedung informasi dan perpustakaan yang menjadi nama dari perpustakaan UNP harus dapat memberikan informasi ilmiah ini dengan dapat melanggan jurnal-jurnal nasional dan internasional sehingga pengetahuan mahasiswanya dapat berakar kepada hasil penelitian. Pentingnya jurnal ilmiah ini harus didorong oleh perpustakaan sebagai unit knowledge management di perguruan tinggi. 5. Representasi perpustakaan menaruh kecurigaan kepada pemustaka Dalam video terlihat jelas bagaimana pemustaka ditampilkan sebagai pencuri. Dari video awal diperlihatkan kedatangan perpustakaan harus menaruh tas dan barangnya di loker yang telah disediakan. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpercayaan decoder kepada pemustaka. Di akhir video juga terdapat scene di mana pemustaka yang membawa buku keluar gedung perpustakaan tanpa melakukan scan peminjaman buku sehingga sensor perpustakaan berbunyi ketika pemustaka tersebut keluar dari perpustakaan. Hal ini dengan jelas memperlihatkan kehati-hatian decoder terhadap koleksi buku yang tersedia. Seharusnya scene ini tidak ditampilkan karena menimbulkan persepsi negatif dari pihak perpustakaan kepada pemustaka. Oleh karena itu di sini peserta FGD berada pada oppositional position, karena tidak setuju dengan video tersebut terkait bagaimana pemustaka diperlakukan. Sudah saatnya perpustakaan memberikan kepercayaan kepada pemustaka sehingga pemustaka tidak merasa dituduh dan tidak dicurigai sebagai pengunjung perpustakaan. Hal ini akan memberikan rasa aman dan kenyamanan kepada pemustaka untuk berkunjung ke perpustakaan.
Conclusion
Hasil kajian terhadap representasi perpustakaan Universitas Negeri Padang (UNP) dalam video promosi yang diunggah pada saluran YouTube UNP TV menunjukkan bahwa representasi yang ditampilkan masih memiliki kekurangan dalam menggambarkan perpustakaan secara utuh dan sesuai dengan potensi yang ada. Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari analisis ini adalah: Perpustakaan ditampilkan sebagai tempat untuk belajar dan berdiskusi, namun video gagal menampilkan keberagaman kegiatan yang seharusnya dapat dilakukan di perpustakaan. Perpustakaan modern tidak hanya sebagai ruang belajar, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi dan rekreasi yang dapat menarik lebih banyak pemustaka. Video menunjukkan perpustakaan sebagai tempat yang sepi tanpa pengunjung aktif. Representasi ini memberikan kesan bahwa perpustakaan kurang diminati, padahal perpustakaan UNP memiliki potensi besar dengan fasilitas baru dan jumlah mahasiswa yang besar. Representasi pustakawan dalam video memperkuat stereotip pustakawan hanya sebagai perempuan yang bekerja di meja layanan. Hal ini tidak mencerminkan peran pustakawan yang sesungguhnya sebagai kunci pengelolaan informasi dan pelayanan pendidikan. Video terlalu menonjolkan koleksi buku fisik, tanpa memperlihatkan keberadaan koleksi digital dan jurnal ilmiah yang penting bagi kebutuhan akademik mahasiswa. Hal ini tidak sejalan dengan konsep perpustakaan digital yang ingin diusung. Beberapa adegan menampilkan perpustakaan sebagai institusi yang mencurigai pemustaka sebagai pelaku pencurian. Hal ini menciptakan kesan negatif terhadap hubungan antara perpustakaan dan pengguna, yang seharusnya dilandasi rasa percaya dan kenyamanan. Secara keseluruhan, video promosi ini perlu memperbaiki narasi dan representasi perpustakaan agar lebih relevan dengan konsep perpustakaan modern. Perpustakaan harus ditampilkan sebagai ruang yang inklusif, dinamis, dan ramah pengguna, dengan memanfaatkan teknologi digital untuk memberikan layanan terbaik bagi pemustaka. Representasi pustakawan juga perlu diperbaiki untuk mencerminkan peran strategis mereka sebagai pengelola pengetahuan. Dengan demikian, perpustakaan dapat memberikan citra positif yang sesuai dengan visi atau tujuan yang jelas ketika perpustakaan direpresentasikan dalam bentuk video di platform YouTube.