Praktik Dokumentasi Gendhing Gati oleh Keraton Yogyakarta
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Keraton Yogyakarta sebagai salah satu warisan budaya telah melakukan kegiatan dokumentasi dalam rangka melestarikan dan memperkenalkan gendhing gati. Melalui Kawedanan Kridhomardowo Keraton Yogyakarta melakukan proses dokumentasi dari mulai pencarian data hingga menghasilkan suatu bentuk dokumentasi budaya. Untuk melihat hal ini, maka penelitian dilakukan dalam rangka melihat proses dokumentasi budaya gendhing gati oleh Keraton Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus dengan pendekatan metode kualitatif pada abdi dalem yang terlibat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Keraton Yogyakarta melakukan dokumentasi gendhing gati melalui proses perekaman dan pengelolaan. Kegiatan perekaman dimulai dari proses pengumpulan informasi yang dilakukan oleh abdi dalemKawedanan Kridhomardowo sebelum kegiatan dokumentasi dilakukan. Kegiatan pengelolaan terdiri dari penghimpunan data, dilakukan oleh abdi dalemKawedanan Kridhomardowo dengan membagi tugas sebagai abdi dalem wiyaga, abdi dalem musikan, dan bekerja sama dengan Tepas Tondo Yekti selaku divisi yang bertanggung jawab dengan dokumentasi di Keraton Yogyakarta. Hasil dokumentasi yang dilakukan berupa audio, kemudian diunggah melalui kanal media sosial yang dimiliki Keraton Yogyakarta. Lalu dalam penyimpanan berupa menyimpan tulisan notasi gendhing gati yang dimiliki oleh masing-masing abdi dalem serta dokumen soft file yang diunggah pada websiteKeraton. Keraton Yogyakarta berperan sebagai pelestari budaya melalui program dokumentasi gendhing gati yang dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat
Abstract
The Yogyakarta Palace as one of the cultural heritages has carried out documentation activities in order to preserve and introduce it gendhing gati. Through Kawedanan Kridhomardowo, the Yogyakarta Palace carries out the documentation process starting from data search to produce a form of cultural documentation. To see this, research was conducted in order to see the process of cultural documentation gendhing gati by the Yogya-karta Palace. The research method used is a case study method with a qualitative method approach to abdi dalem which are involved. The results of this study indicate that the Yogya-karta Palace performs documentation gendhing gati through the process of recording and managing. Recording activities start from the information gathering process carried out by abdi dalem Kawedanan Kridhomardowo prior to documentation activities. Management activities consist of data collection, carried out by abdi dalem Kawedanan Kridhomardowo by dividing the tasks as abdi dalem wiyaga, abdi dalem musikan, and cooperate with Tepas Tondo Yekti as the division responsible for documentation at the Yogyakarta Palace. The results of the documentation carried out are in the form of audio, then uploaded through the social media channels owned by the Yogyakarta Palace. Then in storage in the form of storing notation writing gendhing gati owned by each abdi dalem and documents soft file uploaded on website Palace. The Yogyakarta Palace acts as a cultural preserver through a documentation program gendhing gati which can be easily accessed by the public.</p>
Keywords:
Dokumentasi budaya
· gendhing gati
· Keraton Yogyakarta
Introduction
Yogyakarta merupakan provinsi yang kaya dengan kebudayaan dan sampai saat ini masih terjaga kualitasnya. Menjaga sebuah kebudayaan, dapat dilakukan melalui proses dokumentasi. Menurut pendapat Purwono dalam bukunya yang berjudul “Dokumentasi”, dokumentasi pada dasarnya berupa dokumen tertulis atau tercetak dan dapat dipergunakan sebagai bukti suatu keterangan yang mana dapat berupa surat, akta piagam atau rekaman lainnya (Purwono, 2010, hal. 7). Kegiatan dokumentasi dengan tujuan melestarikan hasil budaya di kalangan masyarakat sangatlah penting untuk dilakukan supaya informasi di dalamnya tetap terjaga.Salah satu hasil budaya masyarakat yang masih dijaga kelestariannya sampai sekarang adalah gendhing. Gendhing sendiri adalah lantunan lagu yang berasal dari bunyi gamelan yang biasanya dipentaskan pada pagelaran seni dan juga pada upacara-up-acara sakral. Soetarno (2005, hal. 84) menjelaskan bahwa gendhing atau lagu merupakan nada-nada yang tersusun dalam karawitan Jawa berupa instru-mental yang menggunakan laras slendro dan pelogdi dalamnya. Sedangkan dalam pendapat ahli lain,gendhing merupakan istilah umum yang dipakai dalam menyebut komposisi musikal karawitan Jawa (Supanggah, 2002, hal. 11). Dari dua pendapat ahli di atas, hanya terlihat sedikit perbedaan di antara keduanya. Dewasa ini, gendhing masih terlihat eksis di kalangan masyarakat dibuktikan dengan banyaknya acara yang masih menampilkan gendhing sebagai iringan seperti orchestra, pernikahan, dan lain-lain. Gendhing sebagai warisan budaya bernilai sejarah tentunya kelestariannya masih terjaga, dan salah satu tempat yang menjaga dan melestarikan gendhing adalah Keraton Yogyakarta. Berdasarkan berita pada jogjaprov.go.id yang berjudul “Peran Kalurahan dan Kampung Wisata sebagai Pendukung Pariwisata DIY”, pada Kamis 27 Oktober 2022 di Bangsal Pagelaran, Keraton Yogyakarta, Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Rahardjo menam-bahkan bahwa Keraton Yogyakarta sebagai pusat budaya Jawa merupakan titik utama atas konsep sumbu filosofi. Dengan demikian, ini menjadi vital baik dalam kepentingan edukasi budaya maupun untuk pariwisata dengan adanya keraton. Keraton yang mana telah berdiri hampir tiga abad lamanya ini memiliki daya tarik tersendiri dalam menarik kunjungan wisatawan (Mahany, 2022). Hal tersebut membuktikan pentingnya peran Keraton Yogya-karta dalam mengedukasi budaya, salah satunya yaitu gendhinggati.Di Keraton Yogyakarta, selain alat musik untuk gendhing dijaga dan di museumkan, mereka juga menjaga kelestarian gendhing dengan adanya Kawedanan Hageng Punakawan (KHP)Kridhomardowo yang sekarang menjadi Kawedanan Kridhomardowo. Kawedanan Kridhomardowoyaitu divisi yang ditugaskan dalam bidang seni dan budaya dalam Keraton Yogyakarta. Mereka mempertunjukkan dan juga mendokumentasikan nya dalam bentuk audio maupun video yang hasilnya dapat dinikmati oleh semua kalangan melalui aplikasi Youtube,Spotify, dan iTunes secara mudah. Gendhing gati yang diunggah dalam Youtube, merupakan inisiatif dari Kawedanan Hageng Punokawan Kridhomadowo, yang sekarang dijabat oleh KPH Notonegoro. Beliau menginisiasi gendhing-gendhing gati yang kurang populer tersebut untuk bisa dinikmati masyarakat luas. Pada mulanya gendhing tersebut hanya difungsikan untuk mengiringi keluar masuknya penari Bedhayadan atau Srimpi di keraton. Namun, sekarang juga dapat disajikan dalam konser mandiri karawitan jadi tidak hanya menjadi pengiring saja. Inisiatif KPH Notonegoro untuk mendokumentasikan sekaligus keputusan untuk mempublikasikan kepada publik bertujuan supaya masyarakat dapat mengetahui seperti apa gendhing gati tersebut. Menurut MW Susilomadyo yang dikutip dalam kratonjogja.id, gendhinggati mencapai puncak perkembangannya pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939). Sekitar 48 gendhing telah diciptakan. Setelah era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, tidak ada penciptaan gendhing gati di lingkungan Keraton Yogyakarta. Hal ini kemudian membuat Sri Sultan Hamengku Buwono X memprakarsai gendhinggati Yasan Dalem yang baru (crew, n.d.). Sementara, GKR Hayu menyatakan dalam proses digitalisasi budaya keraton masih memiliki kendala karena waktu yang dibutuhkan untuk melakukan riset konten relatif lama dan beberapa keturunan yang ada di keraton masih merasa asing dan menganggap budaya yang dimiliki Keraton Yogyakarta harusnya terkesan misterius dan sakral. Maka dari itu dokumentasi gendhinggati dimulai dengan kegiatan merekam pengetahuan budaya lokal kemudian dikelola menjadi media audio visual (Ivan, 2017). Fakta-fakta tersebut yang menjadi dasar perlu dilakukannya dokumentasi terhadap gendhinggati yang apabila tidak dilakukan akan berdampak pada kurangnya eksistensi gendhinggati di kalangan masyarakat saat ini.Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini mengambil Keraton Yogyakarta sebagai objek penelitian karena Keraton Yogyakarta termasuk ke dalam lembaga yang melakukan kegiatan dokumentasi gendhing gati. Hal ini, menjadi fenomena menarik untuk diteliti dengan tujuan mengetahui proses dokumentasi gendhinggati di Keraton Yogyakarta serta kendala dan solusi yang didapati Keraton Yogyakarta dalam dokumentasi gendhing gati.Dalam suatu penelitian dibutuhkan hasil-hasil penelitian yang telah ada sebelumnya sehingga didapatkan keter-kaitan dengan penelitian ini. Pada artikel milik Wardiana et al. (2018) berjudul “Dokumentasi Budaya Ngaruat Lembur di radio RASI FM” memaparkan suatu budaya yang belum dilakukan proses dokumentasi oleh suatu instansi maupun organisasi. Dengan dilakukannya dokumentasi oleh Radio RASI FM melaui media audio-visual diharapkan informasi tentang budaya tersebut dapat menjadi sumber informasi bagi masyarakat sekitar. Dari kajian pustaka di atas dapat ditemukan titik persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang kami lakukan. Adapun persamaan yang dimiliki adalah upaya dilakukannya dokumentasi budaya untuk memperkenalkan nya pada masya-rakat luas sebagai sarana edukasi dan pelestarian budaya. Perbedaannya yaitu hasil produk yang didapatkan serta sarana yang melakukan proses dokumentasi.Pada penelitian ini, pihak keraton telah melakukan proses dokumentasi yang di unggah ke Youtube dan platform musik, yang mana masyarakat sering kali mengakses sosial media tersebut. Pengembangan kebudayaan dengan kolaborasi antara gamelan dan instrumen musik barat juga menjadi keunikan yang dapat menarik minat masyarakat. Promosi yang dilakukan pihak keraton dengan mengadakan pertunjukan bagi masyarakat umum di Mandalasana juga membantu memperke-nalkan gendhing gati
Method
Penelitian dokumentasi gendhing gati oleh keraton ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pendekatan kualitatif sendiri menurut Sugiyono (2013), adalah metode penelitian berdasarkan pada filsafat interpretive kegunaannya untuk meneliti objek ilmiah dan menggunakan analisis data kualitatif dengan hasil yang berfokus pada generalisasi. Sedangkan menurut Moelong (2011), penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holisticdan dengan cara menjelaskannya dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus alamiah dan menggunakan berbagai metode alamiah. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk membahas lebih dalam mengenai permas-alahan sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Hal ini tentu menjadi sebuah ketertarikan sendiri karena pembahasan mengenai permasalahan sosial yang ada di dalam masyarakat membahas mendetail mengenai setiap hal yang berkaitan dengannya. Selanjutnya untuk lebih mendalami perma-salahan sosial yang ada di dalam penelitian ini digunakan metode studi kasus. Berdasarkan metode penelitian studi kasus, pertanyaan menjadi sebuah kunci utama untuk membuktikan kasus yang sedang dalam penelitian. Tujuan dari digunakannya pendekatan studi kasus adalah untuk mendapatkan informasi secara mendetail dari lapangan melalui informan yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti. Penelitian ini dilakukan di Keraton Yogyakarta pada November 2022. Yang menjadi subjek pada penelitian kali ini adalah gendhinggati sedangkan objeknya adalah dokumentasi gendhinggati itu sendiri. Pada penelitian kali ini digunakan tiga teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi yang terbagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama adalah observasi, yang bertujuan untuk mendapatkan data konkret guna penelitian gendhing gati secara lebih lanjut. Observasi kali ini menggunakan metode naturalistik dan dilakukan secara luring pada tanggal 5 November 2022 di Museum Keraton Yogyakarta. Tahap kedua ialah wawancara. Pada tahap ini peneliti menggunakan metode wawancara semi terstruktur yang dilakukan secara daring bersama dengan narasumber dari abdidalem musikan Keraton Yogyakarta yang terlibat dalam proses dokumentasi gendhinggati. Transkrip wawancara yang dibuat berdasarkan referensi dari beberapa sumber kemudian bisa menjadi pelengkap penelitian. Tahap yang ketiga adalah dokumentasi. Peneliti tidak terjun langsung dalam menyaksikan proses dokumentasi gendhinggathi. Peneliti berfokus kepada pencarian proses dokumentasi melalui wawancara dan sumber lain. Dalam penelitian kali ini, ada satu teknik uji keabsahan data yang digunakan yaitu triangulasi. Menurut Sugiyono (2013), triangulasi adalah teknik yang dipakai untuk mencari garis besar data hasil penelitian yang telah terkumpul dan kemudian membandingkan dengan data yang telah ada sebelumnya. Triangulasi teknik pada penelitian ini digunakan untuk mengecek kembali data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumen. Jika ketiga data tadi setelah di cek tetap sama dan tidak ada perbedaan, maka data tersebut akan dinyatakan valid. Pada penelitian kali ini digunakan teknik analisis data dari Miles and Huberman (1984) yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data sama halnya dengan mengurangi data. Pada reduksi data ini, peneliti menggolongkan informasi menjadi penting dan tidak begitu penting kemudian dari golongan informasi tidak penting dikurangi kemudian di rangkum agar data yang diperoleh menjadi lebih mudah dipahami. Yang kedua adalah penyajian data. Pada penyajian data kali ini, dituliskan dalam bentuk uraian singkat. Terakhir adalah verifikasi data. Dalam verifikasi data ini dilakukan penarikan kesimpulan dari data penelitian yang telah berhasil dikumpulkan.
Discussion
Gendhing gati merupakan salah satu kesenian keraton yang memiliki keunikan pada musiknya. Kolaborasi antara musik karawitan dan alat musik modern menjadi ciri khas yang ditampilkan pada setiap pertunjukan nya. Secara garis besar, hasil temuan proses dokumentasi gendhing gati, kendala, dan solusi yang didapati oleh Keraton Yogyakarta tercantum dalam tabel 1. Tabel 1. Temuan Proses Dokumentasi Gendhing GatiTeoriTemuanKendala Solusi Merekam1. Melakukan kerja sama dengan Tepas Tondo Yektidan proses dokumentasi dilakukan atas inisiatif KPH Notonegoro.2. Melakukan aransemen untuk abdi dalem musikanlalu selama seminggu dilakukan Quality Controlyang kemudian gendhing bisa dibunyikan.3. Dokumentasi gendhing gati awalnya hanya menggunakan rekaman yang ditemukan pada lingkungan institusi (SMKI & ISI) dan RRI yang kemudian dilakukan proses mixing dan editing.4. Proses perekaman memakan waktu kurang lebih 2 bulan dengan waktu 2 sampai 3 hari setiap minggu.5. Perekaman dilakukan seperti proses pada umumnya. Pernah dilakukan secara bersama, abdi dalem musikan & abdi dalem wiyogo bermain berbarengan serta secara bergantian tapi masih dalam satu tempo. 1. Menyinkronisasikan antara dua abdi dalem. Karena notasi versi Jawa gamelan1. Melakukan latihan rutinMengelola1. Dokumen bentuk fisik disimpan oleh masing-masing abdi dalem yang bertugas sedangkan dokumen softfile disimpan di kantor Kridhomardowo untuk di unggah pada websiteKeraton.2. Lagu yang diunggah lewat sosial media semua dikelola langsung oleh pihak Keraton dan sudah terdaftar hak ciptanya.Berdasarkan tabel 1 di atas, dapat dilihat beberapa proses yang dilakukan pihak Keraton Yogyakarta dalam upaya melakukan dokumentasi gendhing gati. Seperti yang dinyatakan oleh Sudarsono dan Yudhawasthi (2016, p. 183) bahwa proses dokumentasi terdiri dari 2 kegiatan yakni merekam dan mengelola. Proses dokumentasi gendhing gati diawali dengan kegiatan merekam berupa kegiatan aransemen dan perekaman hingga kegiatan pengelolaan yaitu dokumen bentuk fisik dan dokumen digital yang dilakukan pihak Keraton Yogyakarta.Proses dokumentasi yang dilakukan keraton berawal dari sebuah rekaman yang sudah dilakukan dan ditemukan di RRI maupun lingkungan institusi seperti SMKI maupun ISI. Kemudian melewati proses mixing editing audio lalu di unggah melalui Youtube. Hal tersebut itu dilakukan setiap ulang tahun kelahiran raja. Selanjutnya, Kawedanan Kridhomardowo mulai mendokumentasikan secara langsung. Gendhing gati dimainkan dengan gamelan yang ada yang melibatkan abdi dalem wiyogo dan musikan.Alat musik yang digunakan untuk memainkan gendhing gati merupakan gabungan antara gamelan dan musik barat. Notasi Gendhing gati terdapat dalam literatur kuno yakni SeratWiled Berdonggoyang ditulis pada pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Akan tetapi, keberadaan gendhing gati secara pastinya belum ditemukan literatur yang begitu detail. Namun, akulturasi budaya antara musik jawa dalam hal ini gamelan dengan musik barat yang dominannya musik tiup sudah ada pasca perang Jawa pada pemerintahan HB V. Demikian ada beberapa perjalanan perkem-bangan seni budaya di keraton masa pemerintahan HB VI, VII, dan VIII barulah bukti tulis itu ditemukan dalam wujud notasi yang dinamakan notasi ondo. Notasi ondo cara membacanya turun seperti saat turun tangga kemudian naik lalu turun, berbeda dengan notasi gendhing gati yang sekarang. Saat ini gendhing gati diterjemahkan dalam bentuk notasi kepatihan (A. Rintaka, wawancara, November 21, 2022). Berdasarkan penjelasan di atas gendhing gati sudah ada sejak lama dan perkembangan yang terjadi adalah pada permainan musik barat. Menurut penuturan abdi dalem yang terlibat dalam proses dokumentasi gendhing gati, musik barat berdasarkan pada lagu balungan. Hal itu merupakan notasi yang ditulis pada wiled. Namun, untuk keperluan perekaman pada YouTube, musiknya sudah dikembangkan, dan dibuat lagu sendiri yang didasarkan pada notasi gamelan yang ada. (A. Rintaka, wawancara, November 21, 2022).Sebelumnya divisi bagian dokumentasi keraton, per tahun 2014 bernama Tepas Tondo Yekti. Tepas Tondo Yekti atau bisa juga disebut TTY merupakan suatu divisi dibawah KHP Panitrapurayang bertanggung jawab atas IT dan dokumentasi (DailySocial.id, n.d.). Dimana salah satun tugasnya membuat YouTube keraton, mengisi konten, dan lain sebagainya. Kawedanan Kridhomardowo bagian pemain musik bekerjasama dengan abdi dalemtondo yekti, dimana penghageng atau pimpinannya dipegang oleh GKR Hayu, beliau merupakan istri KPH Notonegoro. Hasil dokumentasi gendhing gati yang sudah direkam kemudian diunggah pada Youtube. Hal ini dilakukan atas inisiatif dari Kawedanan Kridhomardowo, yang sekarang dijabat oleh KPH Notonegoro, di mana divisi tersebut ditugaskan dalam bidang seni dan budaya dalam keraton. Pada awalnya, gendhing-gendhing gati dirasa kurang populer karena hanya difungsikan untuk mengi-ringi keluar masuknya penari Bedoyo dan Srimpi di keraton. Namun sekarang, mulai ditampilkan secara eksklusif sehingga gendhing gati ini, tidak dimainkan dalam rangka mengiringi tari saja, tetapi disajikan dalam acara-acara khusus seperti yang sifatnya konser mandiri. Kemudian muncullah inisiatif KPH Notonegoro untuk melakukan dokumentasi sekaligus dipublikasikan supaya masyarakat mengetahui seperti apa gendhing gati itu.Di sisi lain, keraton sendiri sekarang telah memberikan fasilitas karena memiliki dana istimewa yang dialokasikan untuk keperluan seni budaya. Sehingga keraton bisa melakukan pengadaan barang berupa alat-alat yang menunjang untuk perekaman, baik audio maupun video untuk menambah konten pada YouTube.Proses dokumentasi dilakukan dengan beberapa tahapan. Langkah per-tama adalah melakukan aransemen, seorang ahli mengatakan “The reworking of a musical composition usually a different medium from that of original” (Boyd, 1980, dalam Cahyoraharjo, 2015) yang memiliki arti proses pengolahan kembali suatu komposisi musik dari satu medium ke medium lain, sehingga pembuatan esensi musik yang asli tidak berubah. Pada proses aransemen gendhing gati hanya dilakukan pembuatan lagu untuk instrumen barat, namun abdi dalem musikan belum memahami lagu yang pantas atau lagu yang sesuai dengan idiomJawa. Pada awalnya, para wiyaga yang membuat aransemen musik barat kemudian diterjemahkan dalam notasi diatonis, walaupun sebenarnya penta-tonis. Supaya notasi diatonis itu bisa dibunyikan, maka dibutuhkan waktu kurang lebih satu minggu kemudian dilakukan proses Quality Control (QC). Proses ini dilakukan oleh pangarsa atau pimpinan dari abdi dalem wiyaga yang bernama Mas Wedono Susilo Madyo. Setelah mendapat persetujuan Beliau, aransemen tersebut diolah oleh abdi dalem musikanmelalui Bapak Joko Suprayitno untuk dibuatkan notasi barat yaitu notasi balok. Kemudian notasi itu diserahkan kepada abdi dalem musikan, lalu gendhing gati bisa dibunyikan.Berdasarkan penjelasan salah satu abdi dalem wiyaga yang terlibat menyatakan bahwa: “Gladi yang kita siapkan pada waktu itu untuk abdi dalem golongan wiyaga, pemain gamelan, itu tidak selama atau tidak begitu panjang diband-ingkan abdi dalem musikan, mengingat abdi dalem musikan semenjak pemerintahan HB IX sebelum Jepang datang itu sudah dibubarkan dan baru dihidupkan lagi 2019 kemarin oleh inisiatif HB X, sehingga anggota-anggotanya ini baru sebelum itu abdi dalem musikan itu hanya ada 3 orang. Pada 2019 kemarin keraton menghidupkan kembali golongan tersebut dan mengadakan rekrutmen jika dalamnya bertambah dan untuk meladeni atau melayani pengadaan perekaman itu memerlukan latihan yang cukup panjang waktunya” (A. Rintaka, wawancara, November 21, 2022).Untuk melayani proses perekaman memer-lukan latihan yang cukup panjang. Hampir 2 bulan, lebih tepatnya satu setengah bulan dan hanya dilakukan 2 sampai 3 kali dalam satu minggu. Bagi kanca musikan mereka membutuhkan adaptasi karena harus menyesuaikan diri dengan corak musikal dari karawitan. Abdi dalem musikanmempelajari nada-nada dalam gamelan yang harus disesuaikan dengan musik barat dan harus bisa berjalan dengan harmonis. Tetapi untuk teman golongan wiyaga tidak memakan waktu lama karena dalam satu minggu mereka menabuh gamelan sebanyak tiga kali di keraton.Sedangkan secara teknis, seperti halnya melakukan proses perekaman musik. Perekaman merupakan suatu proses, kegiatan, dan cara memindahkan atau mengabadikan suara dari alam, manusia, alat musik, dan lain-lain ke dalam pita kaset, piringan, atau media lainnya dengan menggunakan sebuah mikrofon atau alat perekam (Luqman, n.d.). Kegiatan perekaman dimulai dari perintah keraton. Abdi dalem bagian perekaman sudah menyiapkan alat, lalu melakukan proses rekaman. Selain itu, proses perekaman juga pernah dilakukan secara bersama-sama, baik gamelan maupun musik barat. Perekaman secara terpisah juga pernah dilakukan, gamelan dilakukan terlebih dahulu, kemudian musik barat dengan alat tertentu dimainkan secara bersama-sama tetapi masih dalam satu tempo. Kemudian masuk ke dalam proses mixing dan editing. Hasil rekaman kemudian disortir untuk memilih audio dengan kualitas yang baik. Rekaman dipotong hanya pada bagian gendhing gati saja. Selang beberapa waktu, sesudah koordinasi dengan bagian publikasi lalu dibuat pamflet, dan terakhir diunggah ke YouTube.Dokumen print out notasi sudah dimiliki oleh masing-masing abdi dalem yang bertugas. Notasi ini disimpan digunakan untuk setiap pertunjukan. Jika akan dilaksanakan suatu pertunjukkan, maka akan dibuat notasi baru, karena setiap pertunjukan repertoar atau daftar rencana musik berbeda-beda. Dokumen soft file berada di kantor harian Kawedanan Kridhomardowo, kemudian dilakukan pemilihan untuk dipublikasikan pada website keraton. Sedangkan, lagu-lagu di aplikasi spotify dan iTunes juga kelola oleh keraton. Dimana sebelum diunggah pihak keraton mendaftarkan hak cipta atau dipatenkan kekayaan intelektual karya-karyanya dalam rangka protektif supaya tidak disalahgunakan oleh pihak lain.A. Rintaka (wawancara, November 21, 2022) menyatakan bahwa kendala paling utama yang dialami adalah menyinkronisasikan antara dua abdi dalem. Karena abdi dalem musikan mengalami kesulitan untuk membaca notasi versi Jawa gamelan, sebaliknya abdi dalem wiyaga sudah terbiasa membaca notasi yang diatonis. Sinkro-nisasi itu cukup memakan waktu, namun seiring berjalannya waktu dan beberapa pertunjukan yang telah dilakukan para abdi dalem mengalami perkembangan, baik abdi dalem musikan maupun wiyaga cenderung mulai hafal dalam membaca terjemahan nada. Program kedepan tentu sudah direncanakan. Tanggal 18-20 November 2022 diadakan evaluasi untuk membahas proker di tahun 2023. Agenda yang direncanakan sebagian besar sama seperti tahun 2022. Contohnya hajatdalem atau ritualritual yang rutin dilakukan keraton, kemudian acara yang khusus adalah konser orkestra musik Manadalasana, pertunjukan wayang wong, dan wayang kulit. Selain itu juga membuat video-videotutorial seperti, tutorial macapat dan program-program yang serupa. Termasuk juga muhibah budaya, yaitu kegiatan mendatangi kabupaten-ka-bupaten yang dulunya merupakan wilayah teritorial Keraton Yogyakarta seperti Purworejo, Magelang, Temanggung, Wonosobo, kemudian Magetan, Trenggalek, dan sebagainya (A. Rintaka, wawancara, November 21, 2022)
Conclusion
Keraton Yogyakarta telah melakukan dokumentasi budaya gendhing gati. Dalam dokumentasi ini dilakukan dua tahap yaitu tahap merekam dan mengelola, yang dilakukan oleh para abdi dalemwiyaga maupun musikan. Proses perekaman dilakukan dimulai dari mengaransemen ulang gendhing tersebut, proses editing, hingga akhirnya melakukan perekaman secara berurutan. Untuk pengelolaannya, pihak Keraton menyimpan dokumentasi ini berupa video yang kemudian diunggah ke platformYoutube, sedangkan naskah notasi gamelan disimpan oleh masing-masing abdi dalem.Tentu pada setiap proses yang dilakukan akan menemukan kesulitan. Pada proses dokumentasi kali ini, terdapat sebuah kesulitan dalam cara sinkronisasi antara abdi dalem musikan dan abdi dalem wiyogo. Dimana abdi dalem musikanmengalami kesulitan untuk membaca notasi versi jawa gamelan, sebaliknya abdi dalem wiyogo sudah terbiasa membaca notasi yang diatonis. SaranSaat ini masih banyak masyarakat yang kurang mengenal gendhing gati dikarenakan perubahan zaman dimana perkembangan musik makin pesat, dari permasalahan ini gendhing gati harus dapat mengikuti perkembangan yang ada yaitu dengan melakukan perubahan tanpa menghilangkan inti dari gendhing gati itu sendiri. Oleh karena itu, diper-lukan inovasi-inovasi baru dalam mengembangkan gendhing gati ini agar lebih bervariasi. Selain itu, juga menarik semua kalangan masyarakat dan dapat menikmatinya. Adanya tulisan mengenai dokumentasi gendhing gati oleh Keraton Yogyakarta ini semoga dapat membantu pembaca dalam menemukan informasi terkait gendhing gati. Selain itu, juga menjadi media untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada khalayak umum