Strategi Pemasaran Perpustakaan Menggunakan Model AIDA
Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar
Abstrak
Artikel ini ingin menjelaskan salah satu strategi yang dapat digunakan oleh perpus-takaan dalam memasarkan produk serta jasa yang ada kepada pemustaka secara efektif dengan mengggunakan model AIDA (Awareness, Interest, Desire, Action). Melalui model ini diharapkan tingkat kunjungan dan pemanfaatan perpustakaan akan semakin tinggi dikemudian hari.Dalam mendapatkan data, peneliti menggunakan sejumlah instrumen seperti pedoman wawancara, observasi. Adapun partisipan dalam penelitian ini adalah pustakawan pada beberapa perpustakaan yang berada di wilayah Sumatera Barat.Hasil studi menemukan hasil bahwa sebagai tahapan pertama dalam pengambilan keputusan untuk memanfaatkan perpustakaan adalah faktor perhatian. Sebagian besar perhatian diperoleh dari aktifitas yang dilakukan oleh perpustakaan baik secara langsung atau yang ditayangkan melalui media sosial. Aktiftas tersebut berupa kegiatan seminar, workshop, pameran dan juga tayang atas koleksi, layanan dan sarana dan prasarana perpustakaan. Selanjutnya setelah mendapatkan perhatian maka kemudia timbul minat. Setidaknya ada 3 faktor yang mendasari minat seorang pemustaka yaitu, faktor personal, yaitu berkaitan dengan kognisi, faktor sosial dan ekonomi dan faktor sosial budaya. Berikut setelah minat dalam keputusan pemanfaatan adalah keinginan. Merupakan faktor yang mendasari seseorang tertarik adalah lokasi, tata ruang, minat baca. Terakhir adalah aksi atau keputusan yang sebagian besar masih dipengaruhi oleh faktor luar, seperti dorongan dari orang tua dan guru, ajakan teman, influencer, jarang sekali ditemukan pemustaka yang datang berkunjung atas motivasi dari diri sendiri dikarenakan akses, dan semakin banyaknya alternatif atau saluran komunikasi yang dapat dimanfaatkan oleh pemustaka untuk mendapatkan informasi.Berdasarkan hasil temuan penelitian tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa kesulitan perpustakaan dalam meningkatkan jumlah kunjungan dan pemanfaatan terletak pada perhatian dan aksi. Perhatian pemustaka masih mereka dapatkan melalui cara-cara konvensional seperti pameran, user orientation, standing banner pada beberapa acara. Kemudian pada keputusan atau aksi sebagian besar didasarkan atas faktor dari luar, yaitu dorongan orang tua, guru dan ajakan teman
Keywords:
Pemasaran jasa informasi perpustakaan
· Model AIDA
Introduction
Ledakan informasi yang kita semua rasakan saat ini sebagai akibat dari perkembangan teknologi, media, dan aktifitas manusia yang semakin dinamis. Dalam era yang serba dinamis yang ditopang oleh kemajuan teknologi saat ini tentu perpus-takaan harus memiliki peran dalam menghimpun, mengelola, menyimpan, mendistribusikan serta melestarikan informasi baik menggunakan metode konvensional maupun yang terbarukan dengan memanfaatkan fasilitas teknologi informasi, sehingga kebutuhan informasi pemustaka dalam menopang aktifitas nya sehari-hari akan tercukupi.Walaupun perkembangan teknologi, informasi semakin pesat lantas tidak menyebabkan pemustaka semakin menyadari betapa pentingnya keberadaan perpustakaan. Hal ini tentu sangat lumrah kita rasakan di era saat ini mengingat semua hal yang kita butuhkan dapat kita telusuri melalui suatu perangkat teknologi seperti handphone yang semakin terjangkau dari sisi harganya oleh masyarakat.Oleh karena itu sebagai upaya dalam mengenalkan keberadaan perpustakaan di tengah-tengah masyarakat diperlukan suatu strategi efektif sehingga keberadaan suatu perpustakaan tidak lagi dianggap hanya sebagai fasilitas yang hanya menyimpan karya cetak dan digital saja melainkan lebih dari itu diharapkan dengan keberadaan perpustakaan masyarakat mampu untuk mengem-bangkan potensi yang mereka miliki dari koleksi dan sarana yang dimiliki oleh perpustakaan. Namun demikian menurut literatur artikel yang ditulis oleh (Kutu & Olabode, 2018) dalam kenyataannya banyak dari perpustakaan kesulitan memuaskan kebutuhan masyarakat atas sejumlah kekurangan yang dimiliki oleh perpustakaan dan salah satu faktor utamanya adalah faktor biaya. Biaya sendiri merupakan salah satu bentuk dedikasi atas sumber daya yang dapat di ukur dalam satuan mata uang guna mencapai tujuan yang diinginkan yang dari beberapa hasil studi sangat mempengaruhi secara signifikan terhadap jumlah transaksi, (Yuliana, 2018), (Nuhung, 2011). Karena perpustakaan merupakan salah satu organisasi nirlaba yang artinya seluruh aktifitas tidak bertujuan untuk mendapat profit ekonomi maka lazimnya perpustakaan memperoleh biaya atas kegiatan promosi nya melalui sumbangan, donasi, dan dari sejumlah pungutan denda atas keterlambatan peminjaman koleksi serta, fotocopy dan berbagai jasa ekstra yang diberikan kepada pemustaka. Pada akhirnya (Yuliana, 2018) berpendapat perlunya fleksibilitas pengeolaan biaya pada organisasi nir laba jika dibandingkan dengan organisasi laba, sehingga seluruh kegiatan dapat berjalan dengan sukses termasuk pada kegiatan pemasaran.Melalui strategi pemasaran yang efektif diharapkan perpustakaan mampu untuk mengenalkan dan menyediakan layanan serta koleksi yang tepat bagi masyarakat luas.Adapun sebagian besar teori dan praktek marketing pada perpustakaan masih mengambil teori serta praktek marketing secara umum, seperti Kotler, Fou, Flanigan, Cohen, Dawson dan Miller, (Kumparan, 2022). Seiring dengan berjalannya waktu muncul tokoh serta studi dari kalangan pustakawan yang menjelaskan teori pemasaran pada bidang perpustakaan seperti, Bava, Solanki, Gupta, Olorunfemi, Jose, Bhat, Abiola, (Hazra, 2017). Oleh karena itu diperlukan kejelian seorang pustakawan atau perpustakaan dalam memilih strategi pemasaran yang tepat bagi institusi nya karena konsep pemasaran pada organisasi profit dan non profit memiliki perbedaan dari segi tujuan dan proses pencapaian tujuannya, (Patil & Pradhan, 2014).Pemasaran perpustakaan sendiri dapat diartikan sebagai suatu strategi dalam mengiden-tifikasi, menarik melayani dan mendapatkan keuntungan dari kelompok pemustaka tertentu sehingga tujuan perpustakaan dapat tercapai, (Weiner, 2009). Salah satu konsep pemasaran pada perpus-takaan lahir dari pidato Green pada konferensi ALA tahun 1876 yang mengatakan perpustakaan sebagai pusat informasi terlepas dari seberapa besar perpustakaan tersebut perlu melakukan pemasaran dan pustakawan yang profesional harus belajar bagaimana memasarkan perpustakaannya secara efektif, (Kumbar, 2004), namun pernyataan yang berbeda disampaikan oleh (Patange, 2013) dari risetnya yang mengatakan bahwa sebagian besar pustakawan memandang bahwa kegiatan pemasaran bukan bagian dari profesi mereka, namun kemudian dibantah oleh Kotler yang dikutip oleh (Patange, 2013) bahwa kegiatan pemasaran tidak terbatas pada organisasi profit namun juga pada organisasi non-profit termasuk perpustakaan. Melalui kegiatan pemasaran perpustakaan dapat memastikan pemustaka tetap mendapatkan akses kepada informasi dan seluruh sumber daya pada perpustakaan sesuai dengan kebutuhan dan minatnya, (Canzoneri, 2015) dan juga sebagai strategi untuk meningkatkan citra perpustakaan, (Patil & Pradhan, 2014).Agar tujuan tersebut tercapai maka diper-lukan penerapan strategi dan salah satunya adalah menggunakan model pemasaran AIDA (Awareness, Interest, Desire, Action) karena lebih mudah, sederhana, efektif untuk mecari tahu respon masyarakat terhadap suatu kegiatan promosi, (Putri, 2022). Melalui model ini pula diharapkan mampu menjelaskan bahwa keputusan pembelian berkaitan dengan aspek psikologis dari seseorang yang dilakukan tahap demi tahap, (Sampoerna University, 2022).
Method
Dalam proses mendapatkan data yang dibutuhkan peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif yang pengumpulan datanya melalui kegiatan wawancara dan observasi. Informan yang digunakan selama proses penelitian adalah pustakawan dari beberapa perpustakaan umum yang ada di wilayah Sumatera Barat, serta pemustaka untuk melihat perilaku mereka ketika memustuskan akan menggunakan produk-produk di perpustakaan, seperti koleksi dan layanan perpustakaan.
Discussion
Dalam mendapatkan data peneliti menggu-nakan sejumlah pertanyaan berdasarkan model AIDA dan kemudian dikaitkan dengan kegiatan pemasaran pada perpustakaan yaitu:1. Awareness/perhatianMenurut (Kotler & Amstrong, 2001) untuk dapat menarik perhatian pemustaka setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dari produk yang dimiliki oleh perpustakaan seperti, harus bermakna, bermanfaat dan pesan yang digunakan harus mampu meyakini pemustaka untuk mau memanfaatkan produk dan layanan di perpustakaan. Berdasarkan hasil kegiatan wawancara diketahui bahwa mayoritas dari perpustakaan umum yang berada di wilayah Sumatera Barat telah menggu-nakan media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter Youtube, e-campus serta dari beberapa perpustakaan tersebut ada yang mengembangkan perpustakaan keliling dalam memasarkan produk, layanan serta kegiatan-kegiatan yang telah dan akan dilakukan semenarik mungkin sehingga tentu akan menarik perhatian bagi para pemustaka. Tentu untuk dapat menarik perhatian pemustaka lebih banyak lagi, perpustakaan melakukan pemberian merchandising seperti memberikan hadiah-hadiah berupa buku, bookmark, pin dan lain sebagainya.Selain memanfaatkan sarana media sosial, beberapa perpustakaan umum daerah juga menjadikan beberapa event seperti lomba menulis artikel, novel dan cerpen, seminar, bedah buku serta kegiatan pendidikan pemustaka yang juga dijadikan sebagai kesempatan untuk mendapatkan perhatian serta dengan membuat standingbanner, brosur dan media-media visual lainnya yang beraneka warna dan bentuk. 2. Interest/minatUntuk menimbulkan minat atau ketertarikan pemustaka tentu perpustakaan harus memper-hatikan kebutuhan informasi atau informasi apa yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan oleh masyarakat. Melalui pertimbangan tersebut akhirnya perpustakaan dapat menyediakan koleksi yang relevan dengan melalukan kegiatan pengem-bangan/seleksi koleksi yang tidak hanya dalam bentuk cetak namun juga dalam bentuk digital, serial dan koleksi local content.Selain dari aspek koleksi beberapa perpustakan juga memperhatikan sarana dan prasarana seperti, menyediakan ruangan yang nyaman dengan adanya pendingin ruangan, sofa, penerangan yang cukup dan sirkulasi udara yang aktif sehingga hal tersebut semakin meningkatkan minat/ketertarikan untuk ingin memanfaatkan koleksi serta layanan lebih sering dan lama lagi. Hal yang lebih utama lagi adalah sejumlah perpustakaan telah melengkapi layanan yang dibutuhkan seperti, layanan anak remaja, dewasa, pojok baca untuk koleksi-koleksi khusus, ruang diskusi, layanan referensi beserta sarana teknologi informasi nya.Beberapa faktor yang turut menimbulkan minat pemustaka dari beberapa hal seperti:1. Faktor personal, pemustaka dari kalangan akademisi lebih menyukai berkunjung ke perpustakaan untuk kebutuhan pendidikan mereka, sedangkan pemustaka yang tertarik dengan bahan bacaan lebih menyukai ke perpustakaan untuk kebutuhan bahan bacaan yang menarik dan variatif2. Faktor sosial dan ekonomi, pemustaka yang berlatar belakang ekonomi menengah hingga bawah menyukai datang ke perpus-takaan untuk mendapatkan akses informasi yang gratis baik itu dari koleksi cetak atau dari elektronik, sedangkan pemustaka dari menengah ke atas memanfaatkan perpus-takaan untuk kebutuhan yang spesifik, contoh pendidikan, penelitian atau sebagai ruang publik 3. Sosial dan budaya, beberapa pemustaka berkunjung beralasan karena tren dari beberapa kelompok pemustaka dan untuk mencari ketenangan. 3. Desire/keinginanSecara umum minat dapat diartikan sebagai segara macam dorongan, keinginan atau kecend-erungan perhatian serta tindakan seseorang terhadap suatu objek (orang, aktifitas, benda) (Shaleh & Wahab, 2004) yang dapat didasari oleh keadaan kognitif, afektif dan psikomotorik seseorang, (Ahmadi et al., 2011) serta faktor emosional, sosial, (Crow & Crow, 1958). Dalam konteks ilmu perpustakan minat atau keinginan dapat diartikan sebagai suatu sikap ingin memiliki atau memanfaatkan koleksi yang menarik yang dapat ditandai dengan selalu terbarukan, bervariasi tidak hanya fiksi namun juga non fiksi, terpelihara, dilengkapi dengan sarana teknologi informasi serta kandungan informasi nya yang relevan dengan kebutuhan informasi pemustaka. Kemudian jika berbicara mengenai produk berupa layanan, tentu pemustaka menginginkan layanan yang ramah, adil, tepat waktu dan selalu memperhatikan apa yang dibutuhkan oleh pemustaka. Dalam ruang lingkup perpustakaan ada dua macam minat pemustaka, minat kunjung dan minat baca. Faktor-faktor yang mendasari kunjungan dan pemanfaatan seperti, motivasi, inovasi perpustakaan, lokasi, dan tata ruang, (Tara & Trihantoyo, 2020). Sedangkan faktor yang mendasari minat baca yaitu rasa senang membaca, kebutuhan bacaan, keinginan membaca dan keinginan untuk mencari bahan bacaan, (Nurjanah, 2018) melalui koleksi atau fasilitas internet yang dimiliki oleh perpustakaan. Oleh sebagian besar perpustakaan umum yang berada di wilayah Sumatera Barat hal-hal tersebut telah dilakukan sebagai cara untuk menimbulkan keinginan dari pemustaka untuk berkunjung dan memanfaatkan, karena pada intinya pemasaran tidak akan efektif jika tidak ditopang oleh kenyataan atau tindakan.4. Action/aksiDefinisi action/aksi dalam konsep AIDA adalah seluruh tindakan yang dapat menyebabkan seseorang khususnya pada hal ini adalah bagaimana seorang pemustaka sesegera mungkin untuk mau mengunjungi dan memanfaatkan produk yang dimiliki oleh perpustakaan. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan terdapat beberapa upaya yang telah dilakukan oleh sejumlah perpustakaan umum seperti, melakukan kegiatan pameran, seminar dan workshop yang diadakan langsung di perpustakaan, kemudian melakukan pendidikan pemakai kepada sejumlah pemustaka yang berada di beberapa sekolah, universitas dan kelas kelas serta dengan rutin melakukan promosi pada sejumlah media konvensional dan digital
Conclusion
Berdasarkan studi literatur dan temuan penelitian dapat disimpulkan bahwa kegiatan pemasaran bukan hanya dilakukan oleh insitusi organisasi profit yang berfokus pada mencari keuntungan materi namun juga dapat digunakan dan sangat berperan penting oleh organisasi non profit khususnya perpustakaan. Melalui model pemasaran AIDA setidaknya perpustakaan sebagai suatu organisasi dapat membantu untuk mengidentifikasi keputusan pemustaka dalam memanfaatkan perpustakaan. Berdasarkan temuan selama penelitian dan beberapa studi literatur, kesulitan perpustakaan dalam meningkatkan kunjungan dan peman-faatan terletak pada aspek perhatian sebagai jalan pembuka bagi seseorang untuk mengenal perpus-takaan. Selama ini yang dilakukan oleh perpustakaan masih menggunakan cara-cara yang lama dalam mengenalkan keberadaanya pada pemustaka dan bersifat pasif atau hanya menunggu kedatangan pemustaka untuk berkunjung. Melalui kecanggihan teknologi yang salah satunya adalah media sosial Youtube, perpustakaan dapat mengembangkan konten-konten menarik baik yang sifatnya ilmiah atau non ilmiah, karena bagaimana pun juga perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai pusat informasi tapi juga sebagai pusat rekreasi atau hiburan. Berdasarkan hasil wawancara dan juga observasi bahwa sebagaian besar minat pemustaka untuk berkunjung ke perpustakaan adalah untuk mencari akses internal nirkabel atau wifi dalam rangka untuk mengerjakan tugas dan hiburan. Adapun kendala yang kedua adalah pada action. Berdasarkan hasil kegiatan wawancara kepada sejumlah pemustaka yang sedang berkunjung di perpustakaan, mayoritas dari pemustaka mengatakan bahwa motivasi atau dorongan mereka berkunjung ke perpustakaan sebagian besar berasal dari faktor luar, seperti ajakan teman, penyelesaian tugas sekolah, jarang sekali yang mengatakan motivasi mereka berkunjung ke perpustakaan berasal dari faktor internal seperti keinginan untuk membaca, keinginan untuk mendapatkan informasi, keinginan untuk mendapatkan hiburan dan lain sebagainya yang berasal dari dalam diri pemustaka itu sendiri dan banyaknya alternatif atau saluran komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi selain datang berkunjung ke perpustakaan.Untuk menjadikan kegiatan pemasaran lebih efektif maka diperlukan perencanaan dan penerapan suatu model pemasaran tertentu seperti model pemasaran AIDA sehingga perpustakaan dapat menentukan langkah yang akan diambil dan dijalankan sebagai upaya untuk menarik lebih banyak lagi pemustaka yang memanfaatkan produk yang dimiliki oleh suatu perpustakaan.