Kembali
16
1
2008 Unilib: Jurnal Perpustakaan Vol 1 · 1 ISSN 2715-274X

PERBAIKAN KINERJA PERPUSTAKAAN

Universitas Islam Indonesia

Abstrak

Paradigma masyarakat terhadap perpustakaan yang cenderung diasumsikan sebagai sumber informasi konvensional harus secepat mungkin dirubah. Anggapan perpustakaan yang ketinggalan zaman pada umumnya disebabkan oleh kinerja pustakawan yang masih rendah. Minimnya sumberdaya manusia pustaka wan dan penggunaan tehnologi informasi masih tetap menjadi faktor utama kemunduran perpustakaan. O/eh karenanya perbaikan dan peningkatan kedua ha/ tersebut menjadi satu ha/ yang mutlak untuk perbaikan kinerja perpustakaanpada masa yang akan datang. Kunci keberhasilan perpustakaan adalah: kinerja perpustakaan, sumberbaya manusia atau pustakawannya dan tehnologi informasi . sebagai a/at pelengkap dan komunikasi yang handal
Keywords: Perbaikan Kinerja SDM Perpustakaan · penggunaan teknologi informasi

Introduction

berhasilan perpustakaan tidak dapatPengelolaan perpustakaan menjadi semakin dipisahkan dari peradaban dan budaya kompleks, mulai berkembang ilmu dan umat manusia, tinggi rendahnya peradaban teknik mengelola perpustakaan. Disisi lain dan budaya suatu bangsa dapat dilihat dari pelaksanaan fu ngsi mendasar perpustakaan kondisi perpustakaan yang dimiliki tiap-tiap juga ditujukan demi mendukung Sistem Perguruan Tinggi. Hal itu karena, ketika Pendidikan Nasional sebagaimana diatur manusia zaman purba mulai menggoreskan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 dinding _digua tempat mereka tinggal, tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebenarnya mereka mulai merekam karena perpustakaan merupakan pusat pengetahuan untukdiingatdan disampaikan. sumber informasi 'ilmu perigetahuan, kepada·pihak lain, menggunakan tanda atau te knologi, kesenian dan kebudayaan. Selain gambar untuk mengekspresikan pikiran dan itu sebagai bagian dari masyarakat dunia, atau apa yang dirasakan wa!<tu itu, pelaksanaan fungsi perpustakaan secara menggunakan tanda dan gambar tersebut maksimal juga dimasudkan sebagai bagian untukmengkonsumsikannyakepadaorang dari upaya duni a untuk membangun lain. Waktu itulah eksistensi dan fungsi niasyarakat informasi berbasis TIK, perpustakaan mulai dis_emai. .Peneniuan sebagaimana dituangkan dalam Deklarasi . mes in cetak, pengembangan teknik Wold Summit of Information Society WSIS, rekaman vedeo dan pengembangan. ·12Desember2003 teknologi digital yang berbasis teknologi Dalam draft rancangan undang-undang informasi dan komunikasi mempercepat tentang Perpustakaan, perpustakaan turnbuh kembangnya perpustakaan. · didelinisikan sebagai institusi peneglola koleksi karya tulis, tercetak dan rekam 2. Berusaha meraih tanggung jawabsecara pr ofesional dengan sitem yang baku 3. Mengantisipasi dan tidak menungguguna memenuhi kebutuhan intelektualitas perintah dari yang memerintah, para penggunanya, untuk keperluan menunjukan inisiatif, dan kreatif pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi 4. Mengerjakan apa yang perlu dikerjakandan rekreasi, untuk mencerdaskan untukmerampungkan tugas kehidupan bangsa. 5.Melibatkan diri secara aktif dan tidakDalam RUU tersebut juga disebut sekedar bertahan pada peran yangbahwa ada tiga sumber daya yang terkait telah ditetapkan untuk merekadengan kinerja perpustakaan pada 6. Selalu mencari cara untuk membuatumumnya; yakni pustaka wan,berbagai hal yang menjadi lebih mudah pemerpustakaan dan pemustaka atau bagi pengguna atau yang dilayani bahan pustaka. 7.lngin belajar sebanyak inungkinPustakawan merupakan tenaga mengenai bisnis orang yang merekaprofesional yang melaksanakan tugas dan layanitanggung jawab, wewenang untuk .. 8. Benar-benar mengetahui kebutu-han melaksanakan kegiatan penyelenggaraan pengguna di perpustakaan perpustakaan yang ditujukan untuk 9. Belajar memahami dan berpikir sepertimemberikan layanan kepada mahasiswa orang yang mereka layani sehingga sesuai dengan tugasnya, berdasarkan ilmu bisa puas mereka yang dilayani perpustakaan, dokumenatasi dan informasi 10. Bisa dipercaya dan memegang rahasiayang dimiliki melalui pendidikan. pimpinan Pemerpustakaan adalah pengelola 11. Jujur, bisa dipercaya dan setia padaperpustakaan, sedang pemustaka adalah lembaga dan pimpinan konsumen atau pengguna perpustakaan 12. Terbuka terhadap kritik yang sifatnya(RUUtentangperpustakaan) membangun mengenahi cara Dengan demikian istilah profesional meningkatkan diri agar perpustakaan minimal harus mempertimbangkan dua hal, lebih maju seperti yang diharapkan yaitu; - dari sisi kemauan pelaku dan mutu Masih ada empat atribut profesional h_asil karya. kedua-duanya harus ada paaa m�ngenai pengertian tenaga profesional, yaitu: tmgkat yang cukup tinggi untuk dapat dikatakan sebagai profesional. Apabila dua 1 · hal tersebut berada pada tingkat yang tinggi, sudah selayaknya keduanya juga dihargai tinggi dengan kata lain harga seorang 2· profesional sebanding dengan mutu hasil kerjanya. Namun apakah hanya masalah Ketrampilan tinggi yang didasarkan pada pengetahuan teoritis dan sistimatis ·mutu dan harga saja karakier profesional ?Harefa menyebutnya sedikitnya ada tiga 3· belas hal yang menjadi karakter seseorang dapat disebut profesional, yaitu: 1.Bangga pada pekerjaan danmenunjukkan komitrneri pribadi pada4· kualitasPembe.rian jasa yang altruistis, artinya lebih berorientasi kepada kepentingan umum dibandingkan dengan kepentingan pribadi Adanya pengawasan yang ketat alas perilaku pekerj_a melalui etik yang di_hayati dalam proses sosialisasi pekerjaan di perpustakaan Suatu sistem balas jasa (berupa uang, promosi, jabatan dan kehormatan) yang merupakan lambang prestasikerja Dalam konteks lembaga pendidikan, perpustakaan memiliki sejarah panjang dalam perkembangan ilmu pengetahuan manusia, dan •hingga kini masih menjadi salah satu fasilitas terpenting dari setiap perguruan tinggi. Universttas yang berbasis rise! dan bertaraf internasional selalu menjadikan perpustakaannya sebagai sumber ilmu dan informasi. Sebagaimana yang diungkapkan Soedjatmoko (1985);dib.utuhkan struktur bersusun rangkap sebagai orientasi masalah efeklif didalam perguruari tinggi, yaitu: 1.Susunan peitama (bawah); terdiri daripendidikan S1 dengan waklu yangsingkat dan cepat2.Susunan kedua, terdiri dari berbagaim11cam lembaga pasca sarjana yangterbuka bagi mereka yang setelahmenyelesaikan tingkat sarjana sertaingin mencapai gelar doktor, agardikemudian hari dapat mengabdikanhidup mereka pada penelitian dai1pengajaran di Universitas. Ditangani ·oleh sejuml_ah tenaga ahli tetap,leriibaga-lembaga ini haruslah bersifatdisiplin serta aneka berorientasipembangunan, sehingga dapatmeliputi pembang_unan masyarakatdesa derigan teknologi yang sesuai,masalah-masalah kebudayaan sepertikepribadian dan motivasi sampaikepada bidang teknologi tinggi.Mencermati kondisi pustakawan dalammemberikan layanan perpustakaan dan informasi melaui pengamatan dan berbagai diskusi, ada dua faktorsebagai alasan untuk meng·atakan, bahwa citra pustakaiNan belumlah menggembirakan antara lain faklor internal dan faklor ekstemal. 56 Ditinjau dari faktor internal:1.Pustakawan masih berkutat padapelayanan konvensional denganmenggunakan sistem layanantradisional2.Masih rendahnya kualitas sumberdayamanusia/pustakawan, baik dari kualitasdan teknis maupun kualitas fungsional.dari segi kualitas neknis pustakawan banyak dijumpai' pustakawan yang belum memiliki kemampuan teknis berkomunikasi, manajerial, penguasaan teknologi informasi dan bahasa asing kecuali dari Universttas Islam Indonesia yang sudah menerapkan dengan sistem layanan informasi yang sangat memuaskan dari para penggunanya dari segi kualttas fungsional meliputi dimensi kontak dengan pemakai, sikap, perilaku, hubungan internal pustakawan 3. Terbatasnya sarana penelusuran yangtersedia dalam bentuk abstrak, isi·: buku, teks penuh (fullext) atau dalambentuk review.. Sedangkan masalah ekstemal antara_lain; 1. · Perpustakaan belum memilikikomitmen dalam mengembangkanpustakawan sehingga pemberdayaan perpustakaan diseluruh Indonesia mengalami kesulitan dengan alasan dana 2.Masih rendahnyajiwa kemandirian (en­trepreneurship)Mencermati perkembangan manajemenpustakawan dan ka itannya dengan kompetensi pustakawan menurut Hakrisyati Kamil (2005), · bahwa pustakawari Indonesia pada u·muriinya memiliki keterbatasan antara lain: b.pustakawan belum memilikikemampuan yang bergerak secarabersamaan dalam ruang lingkupinformasi, organisasi dan sasaranorganisasi dalam bidan teknologi daninformasic.kemampuan kerjasama sebagaikelompok dan juga kepemimpinannya- tidak memadai untuk posisi strategisd.kurangnya memiliki kemampuan ·manajerial Rumusan Masalah Berdasarkan · latar belakang diatas, maka pokok permasalahan yang menjadi perhatian penulisan ini dapat di simpulkan · sebagai berikut;1.Apa peningkatan sumberdaya manusiapustakawan bagi pengelolaanperpustakaan.2.Bagaimana penggunaan teknologiinformasi dapat membantu kinerjaperpustakaan dalam memberikanlayanan pada· mahasiswa ataupenggunaTujuan penulisan Oengan fokus permasalahan diatas semuanya ini dirumuskan, maka tujuannya adalah; pentingnya dilakukan peningkatan sumber daya manusia pustakawan sebagai seseorang yang menekuni . profesi kepustakaan untuk memperbaiki profesionalitas pengeloaan perpustakaan memberikan gambaran fungsi dan pengaruh dari penggunaan teknologi informasi terhadap pelayanan perpustakaan untuk kepuasan pengguna atau konsumen . Manfaat Penulisan Penulis mengharapkan dapat memberikan kontribusi positif .terhadap perkembangan dunia kepustakaan dan profesi pustakawan yang bisa disebut jarang mendapatkan pematian perkembangannya. Sedangkan secara praktis penulis mengaharapkari bisa menjadi masukan bagi para pengelola perpustakaan pada lembaga atau perguruan tinggi swasta maupun negeri dan mengambil kebijakan pada khususnya agar dapat lebih memperhatikan perkembangan perpu stakaan yang sebenarnya merupakan centre pengembangan keilmuwan dan mejadi tolok ukur maju tidaknya sebuah peradaban

Discussion

Peningkatan sumber daya manusia pustakawan Pentingnya peningkatan sumberdaya manusia, Menurut Nawawi (1997), perpustakaan perlu adanya pemikiran yang sungguh-sungguh dalarri hal mengelola SDM atau sumberdaya manusia., SOM adalah proses mendayagunakan manusia sebagai tenaga kerja secara manusiawi agar potensi fi sik dan psikis yang memilikinya berfungsi maksimal bagi pencapaian tujuan perpustakaan. Oalam hal ini pemanfaatan optimalisasi SOM berjalan dengan baik dan nampak pula banyak diterapkan di perpustakaan Perguruan Tinggi. Hal tersebut diatas perh.i mendapat respon dari pimpinan agar peningkatan SOM dapat membantu -pelaksaaan program Tridharrna Perguruan Tinggi. Hal yang patut dipertanyakan kemudian adalah: Sejauh rriana peningkatan sumberdaya manusia dan mutu perpustakaan, lebih lanjut dikatakan oleh Priyanto (1996:1), bahwa gambaran perpustakaan perguruan tinggi saat ini belum menjadi jantung Perguruan Tinggi. Saal ini yang menjadi jantung perguruan tinggi masih berkisar pada catatan-catatan kuliah temannya, bahkan fotocopy buku yang ditulis teman. Hal ini idak perlu disangkal, sebab banyak untuk mempertahankan jabatan dan lain­mahasiswa yang lulus pendadaran lainnya. Menurut Priyono (1995: 2-3), saat kemudian mencari surat bebas pinjam dari ini masih sering kita jumpai diklat program perpustakaan yang tidak pernah mereka diploma dan bahkan S1 dengan porsi kunjungi sebelumnya. Bahkan ada pula pengolahan dan pengadaan yang cukup yang lulus dengan indek prestasi tinggi, besar tertutama katalogisasi dan klasifikasi, namun tanpa memasuki dunia sementara bidang ilmu yang lain di perpustakaan. Oleh sebab itu perpustakaan perpustakaan seperti pelayanan pemakai, perguruan tinggi harus mampu memberikan hubungan masyarakat dan promosi masih kesempatan kepada sumberdaya manusia diberikan porsi yang cukup kecil. Ditinjau untuk meningkatkan ketrampilan dan daristrukturorganisasi perpustakaan dapat profesionalisme dalam bekerja melalui . kita lihat bahwa pada umumnya ada hirarki ·berbagai kegiatan.yang kurang seimbang. antara stat· Cara peningkatan ini antara lain dehgan pengadaan, pengolah, sirkulasi dan refrensi. memberikan izin a tau tug as belajar Stal perpustakaan dengankualifikasi tinggi kelembagaari pendidikan yang lebih tinggi menempati porsi yang tidak berhubungan atau menyelenggarakan pelatihan-pelatihan, langsung dengan pemakai atau sirkulasi, menurut Nitisemito (1992:86) pelatihan; dilain pihak stat yang tanpa ketrampilan adalah suatu kegiatan dari badan atau seringkali mendapatkan posisi dibagian lembaga yang bermaksud untuk dapat sirkulasi atau pelayanan, lial inilah yang memperbaiki dan memperkembangkan menjadikan adanya anggapan bahwa sikap ketrampilan dari stat perpustakaan , perpustakaan kurang menarik, karena sesuai dengan keinginan dari perpustakaan masyarakat pada umumnya melihat suatu yang bersangkutan. Dengan usaha tersebut badan atau lembaga dari pelayanan yang tingkat kemampuan bekerja secara efektif · dimiliki bukannya sistem pengolahan. Disisi dan efesien akan meningkat yang lain perpustakaan pada umumnya berdampak pula pada peningkatan -menganggap proporsiyang menempatkanproduktivitas. ,.-:pustakawan dengan kemampuan tinggi Perkembangan perpustakaan yang pada bagian pengadaan atau pengolahan sangat lambat itu banyak dipengaruhi oleh · sudah sesuaikah. sistem manajerial, suatu realita dalam Dalam fasilitas pelayanan masih jauh manajemen perpustakaan kita kurang dariharapan, kegiatan administrasiyang ada memeperhatikan the righ man on the righdibagian sirkulasi yang pada umumnya place. Tidak sedikit perpustakaan hanya berupa pencatatan peminjaman, perguruan tinggi ternama dinegeri ini memberikan stempel, tanggal kembali, dikendalikan oleh mereka yang tidak mengarsipkan, mengembalikan buku ke rak memiliki basic perpustakaan maupun dan lain sebagainya. Disisi-sisi inilah yang manajemen. · Perpustakaan sekolah atau . terutania sekali terlihat oleh para pemakaimadrasahmasihdidominasiolehguruyang perpustakaan, dan yang lebih punya kewajiban mengajar, akibatnya memperhatikan, stat yang bekerja pada perpustakaan sekolah banyak yang bagian ini umumnya memiliki latar belakang tutupnya dari pada bukariya, pola pikir ini pendidikan yang tinggi dan sedikit mungkin. didasarkan pada faktor politik, pengetahuan tentang public relation. · pemerataan sejawai, koncoisme, maupun Menurut Nawawi, 1997, adapun tujuan 1.peningkatan sumberdaya manusia perpustakaan sendiri bertujuan: 1. Agar tercapai kondisi para statperpustakaan dengan dukungan· kemampuan guna mewujudkanproduktivitas yang tinggi dalam bekerja,baik dari segi fisik m!l-upun psikis danmampu meningkatkan kesediaanbekerja keras dengan moral dan disiplin 2.yang tinggi. Kondisi yang hendak diwujudkan adalah perasaan aman dan puas bekerja karena berada dalam posisi yang menyenangkan sesuai dengan harkat dan martabat sebagai pustakawan. . 2..Menunjang pencapaian tujuan diperpustakaan agar stat dapat. memberikan hasil dan pelayanan yangberkualitas;3. _Memberikan dukungan bagi _terwujudnya proses pruduksi yangberkualitas agar menghasilkan · 3.keuntungan atau manfaat lainnya bagi perpustakaan Perpustakaan akan mampu mencapai visi, misi dan tujuan dengan baik, apabila memiliki struktur organisasi makri mupun mikro yang proposional. Peter Duckermenyatakan bahwa struktur adalah cara untuk mencapai tujuan dan susunan dari sebuah lembaga. Robbins, (1994: 135).disamping tujuan perpustakaan akan dapat direalisasi dengan baik apabila didukung oleh 4.sistem manajemen yang memadai, sebab dalam manajemen terdapat aktivitas­aktivitas, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Sementara kemampuan manajerial sendiri akan sangat bergantung tertiadap tinggi.rendahnya sumberday'a manusia yang dimilikinya. Cara peningkatan ·sumberdaya manusia perpustakaan antara lain dapat dicapai melalui berbagai jalan; Dengan meningkatkan kemam-puan kerja, baik secara individual, kelompok maupun sebagai badan atau lembaga secara keseluruhan; khususnya untuk pelatihan individual ditempuh dengan cara magang, baik dalam maupun luar lembaga atau instansi, mengikuti tugas belajar dengan biaya lembaga itu sendiri. Pendidikan non formal, yaitu pendidikan yang diadakan oleh lembaga perpustakaan itu sendiri, seperti pusdokinfo yang berkaitan dengan segala sesuatu yang menyangkut .pengeolahan. dan pemanfaatan perpustakaan, dokumentasi dan informasi. Mereka dituntut harus ahli dalam bidang dokumnetasi dan informasi, disamping ahli dalam kepustaka-wanan unutk menghadapi tantangan yang dihadapi diera global ini. Ketrampilan terhadap teknolcigi informasi; Keahlian yang berhubungan dengan pemahaman teknologi informasi terutama komputer, jaringan multi media serta multi media altematil, kemajuan dan perkembangan yang sangat .cepat dalam dunia teknologi informasi menjadikan ketrampilan atau keahlian dalam bidang ini sangatlah · penting bagi pustakawan Priyanto,(1995:8) Melakukan pelayanan pro-aktif; bukanlah hal yang mudah untuk mengenali pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan oleh pustakawan, walaupun demikian tentunya ada keahlian mendasar yang diperlukan. Salah satunya yaitu · komunikasi persuasif yang didalamnya. ,karena perpustakaan harus mampu menyediakan kebutuhan pemakai atau pengguna s·emaksimal mungkin, sedangkan promosi diperlukan karena perpustakaan harus menarik pengguna . sebanyak-banyaknya dan dari semua lapisan masyarakat yang akan dilayani. 5.· Ketrampilan menangani perpusta-kaansecara profesional yang berbasismanajemen; Ketrampilan yangdiperlukan pustakawan disini adalah,manajemen, terutama manajemen· sumberdaya manusia, manajemenkeuangan, dan perencanaanbagaimana supaya perpustakaan k�abisa menarik, banyak koleksi, banyak_yang memakai atau nyamanlingkungannya.6.Pendidikan formal; kini banyak lulusanD2,D3, S1, S2 yang disebut tenaga.profesional dan semi profesional dandia pernah mengikuti pendidikan ataupelatihan perpustakaan sertapengalaman kerja diperpustakaan.Masalah mendasar yang ada adalahkuran·gnya tenaga yang benar-benarsesuai, bukan secara kualitatif tapisecara kuantitatif. Sedangkanpelaksanaannya sendiri kurangmemahami dan menghayati konsepsipada perpustakaan. Disinilahpendidikan lanjutan bagi pustakawanyangada sangat dibutuhkan dan dapatmelalui program diklat dan kerjapraktek .karena skill, selalu dituntutberdasarkan kebutuhan dan perluditingkatkan kualitasnya. Bobetpendidikannya sendiri masih kurangmendapatkari pemikiran yangmendalam7. 60 Pengetahuan teknologi informasi;Masuknya_ ketrampilan bidangperpustakaan ini tentunya untukmeningkatkan kinerja .stat padaperpustakaan, namun · untukmeningkatkan kegiatan semacam inidiperlukan pengelolaan dan pelatihansecara sungguh-sungguh sehingga dapat menjadi aset penting dalam dunia perpustakaan Pada sebagian besar kepemimpinan perpustakaan . belum memiliki pendidikan perpustakaan yang memadai, hal ini tidak saja terjadi pada perpustakaan Sekolah, perpustakaan umum, akan tetapi juga terjadi pada perpustakaan perguruan tinggi negeri maupun swasta. Pada hal dalam memimpin suatu lembaga diperlukan keahlian, pendidikan dan kemampuan dalam bidang yang sesuai di perpustakaan., sebab dengan kemampuan ini pimpinan diharapkan mampu melaksanakan kepemimpinan dengan · baik dan sempurna, dapat diperkirakan bagaimaria jadinya apabila pimpinan tidak menguasai bidang yang dipimpinnya. Apakah pimpinan · akan mampu memberikan pengarahan yang tepat dan bisa memberikan tugas yang tepat kepada orang yang tepat pula, akibat lain kemungkinan terjadi adalah membuat kebingungan bawahan, karena bahwa sebenarnya lebih memahami bidangnya. Sabda Nabi Muhammad SAW.; "ldza wutsida.al-amru ila ghoiri ahlihi . fantadzir as-sa'ah: artinya: Apabi/a sesuatu urusan atau bidang diserahkan kepada mereka · yang bukan bidangnya, maka tunggusaja kehancurannya.Kemudahan Pelayanan Melalui Penggunaan Teknologi lnformasi Pelayanan melalui teknologi informasi, kehadiran teknologi informasi ini sangat mempengaruhi sistem kinerja perpustakaan dan pola pikir pustakawan untuk lebih efektif dan efesien, perkembangan teknologi informasi justru merupakan kesempatan untuk mengembangkan perpustakaan dalam mengantisipasi perkembangan tersebut perlu adanya pembenahan diri dari pustakawan baik internal maupun eksternal. Dalam hal ini pustakawan dituntut untuk memiliki kredibilitas tinggi (High credibility) dengan memiliki keahlian (expertise), kemampuan (ability), berkarya dalam profesinya, memiliki kewibawaan dan memiliki daya tarik tersendiri. Apabila perpustakaan tidak mampu mengantisipasi dan memanfaatkan teknologi informasi, maka lama kelamaan akan ditinggalkan oleh peminatnya, sistem, pedoman maupun teori yang kini berlaku kiranya perlu dikaji ulang relevansinya dengan perkembangan zaman . dan teknologi informasi mutakhir. Mengapa tidak kita rubah paradigma baru dengan sebuah bayangan, perpustakaan yang didalamnya terpasang berbagai sarana komputer dengan kemampuan alat yang serba super dan canggih, ruangan koleksinya di perpustakaan segala tersedia mulai dari bahan multimedia hingga yang konvensional seperti; kaset vidio, kaset suara, VCD ( Video Compact Disc) DVD (Digital Video Disc) LD (Laser Disk), loto­loto (baik dalam bentuk meta data atau tercetak) kliping, disket dan CD (Compact Disk) juga tersedia electronic book, hebatnya lagi hampir semua data koleksi tersebut seluruh ruang baca tersimpan rapi didalam komputer tersebut. Hebat lagi hampir semua data koleksi tersebut dapat ditelusuri dan dicari lewat melalui komputer yang tersedia dihampir seluruh ruang baca.tidak seperti rancangan perpustakaan konvensional biasanya, ruangannya lebih kecil dan pengunjungnya jug a terlihat sangat sedikit Soetardi: (2001 ). Indonesia kini tengah memasukf abad informasi untuk meriuju masyarakat informasi (information society), merupakan suatu realita bahwa masyarakat kita terdapat pola pikir yang agraris, industri, global, bahkan masih ada yang tahayul, oleh karena itu merupakan kesu Ii tan tersendiri dalam mendefinisikan masyarat informasi terutama dengan adanya perbedaan ukuran kuantitatif dan kualnatif Lasa HS: (2001),memang selama ini sebagaian besar or­ang melakukan pendekatan masyarakat informasi melalui pendekatan kualitatif dengan asumsi bahwa informasi akan berperan secara kritis dalam mengantisipasi masa yang akan datang. Harus diakui bahwa arus informasi dalam kehidupan modern tidak dapat dibatasi oleh siapapun, oleh karena itu semakin banyak organisasi maupun perusahaan yang mencurahkan perhatiannya pada pengelolaan informasi• dalam sistem manajemen mereka. Disamping itu banyak kaum profesional sekarang ini yang bekerja sebagai knowl­edge workers, mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menciptakan, mendistribusikan, dan memanfaatkan informasi Kumorotomodalam Lasa HS: (2001) Membanjimya arus informasi dari Baral ke Negara-negara yang sedang berkembang berakibat tidak adanya ·keseimbangan informasi, akibat lebih jauhtercabutnya akar-akar budaya yang selamaini dipertahankan lalu secara perlahan tapipasti diganti dengan budaya Baral. danterjadilah kejutan budaya ( culture shock)Perpustakaan memiliki faktor internalyang berupa kekuatan (strength) dankelemahan (weakeness) dan faktor yangberupa peluang (opportunitties) danancaman (theats). Kekuatan yang dimilikiperpustakaan antara _lain sumber dayamanusia, gedung, koleksi, dan teknologiinformasi dan lain-lainnya. Denganmengidentifikasikan kekuatan ini dapat ·diberdayakan secara optimal untuk mencapai tujuan perpustakaan, misalnya; memberikan layanan yang sebaik-baiknya dengan cara yang cepat , tepat dan harus benar. Perguruan tinggi sebagai institusi penjaga kestabilan IPTEK, ekononii, politik dan budaya bangsa, perlu memiliki proses pembelajaran yang berkualitas, untuk itu perlu langkah yang efesiensi melalui efektivitas penggunaan sumberdaya manusia yang sudah tersedia. Pengembangan sistem informasi dan perbaikan manajemen untuk meningkatkan · produktivitas Susanto dalam Lasa HS:(2001) Perpustakaan Perguruan Tinggimerupakan bagian integral lembagainduknya berfungsi untuk menunjangTridharma Perguruan Tinggi yang meliputi;pendidikan, pengajaran, penelitian danpengabdian pada masyarakat, untukmerealisir fungsi ini perlu adanyapeningkatan sumberdaya manusia,pengembangan sistem informasi,peningkatan pelayanan informasi danpeningkatan sistem informasi manajemen.Dalam era global seperti sekarang inimuncul berbagai perpustakaan yang·menerapkan teknologi informasi (Tl),istilahnya perpustakaan. maya,perpustakaan elektronik, perpustakaan digi­tal dan lain-lainnya., selalu menjadikan .sajian sehari-hari perpustakaan .. Sebagianbesar perpustakaan di Indonesia aplikasiteknologi informasi seperti di negara-negarayang sudah maju, merupakan tantangan. harus dilaksanakan untuk mendukung tuntutan sebagai pengguna jasa perpustakaan yang memerlukan informasi, agar menemukan informasi yang diperlukan dengan sangat mudah dan lebih sepat dan efesien. Perpustakaan ideal yang mampu memenuhi keinginan penggunanya adalah 62 perpustakaan yang menyediakan informasi­lengkap, dapat diakses kapan saja, dimana saja dan semuanya itu harus dipandu oleh pustakawan yang profesional, hal ini sebagai akibat dari dampak aplikasi teknologi informasi dalam kehidupan masyarakat secara luas.Komputerisasi perpustakaan sebenamya sudah dimulai dekade 1980 an telah membawa perubahan panting terhadap kegiatan perpustakaan, beberapa perubahan yang panting adalah penggantian kartu katalog ke kartu Online Public Acces Cata­. logs (OPACS), pengenalan layanan clan penelusuran melalui vendor komersial dan CD-ROM, kemudian di_susul denganpertumbuhan dan perluasan jaringan onlineyan·g luar biasa cepatnya sehingga makinbanyak pula perubahan yang terjadi.Hariyadi (1993) mengatakan bahwa padapertengahan dekade 1980-an, istilah end­user searching mulai populer diperpustakaan perguruan tinggi, penggunadimungkinkan melakukan penelusuransendiri ., namun sayangnya perkembangantersebut secara kualitas berjalan cukuplambat.Kemajuan teknologi informasi menyajikan kemudahan dalam manajemen · pengetahuan (knowledge management) terutama bagi lembaga dalam bidang pengelolaan informasi secara elektronik termasuk perpustakaan; Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi (in­formation provider) harus berjalan, seiring dengan pesatnya kemaajuan teknologi informasi dan kebutuhan informasi penggunaannya. Dahulu fungsi perpustakaan lebih berkonse·ntrasi pada penyediaan informasi dalam bentuk fisik seperti dokumentasi tercetak dengari dilengkapi sistem katalog kartu, maka kini dengan berkembangnya teknologi infoniiasi perpustakaan tersebut dituntut harus menyediakan sumber-sumber informasi dalam bentuk elektronikyang syarat dengan pengetahuan tak struktur. Menurut Jordon : 1995 ada tujuh bidang untuk memandu pengevaluasian layanan perpustakaan yaitu; prosedur standar untuk pemeliharaan koleksi, pemeliharaan sistem temu jumlah anggaran , a.jumlah koleksi,b.jumlah bangunan dan perlengkapan,c.keterjangkauan dan ketersediaan,d.pemeliharaan dan pelestarian,e.penggunaan sumber danaI.mutu pelayananPerpustakaan saat ini ·koleksinyadalam bentuk digital sangat diperlukan untuk meningkatkan peranan perpustakaan dalam proses pendidikan di organissi induknya diantaranya yaitu; l.Mengintegrasikan perpustakaan(koleksi, akses informasi, sumber dayalainnya) ke dalam kurikulum dansillabus dalam proses pendidikan2.Mengembangkan fakultas dan prodi(jurusan) dal.am pengembangankurikulum yang berdasarkan sumberinformasi yang tersedia dan atau dapatdiakses lewat perpustakaan·3. Meningkatkan ketersediaan danketerpakaian sumberdaya informasi yang ada di perpustakaan, organisasi induknya dan juga yang ada diluar perpustakaan. 4 .. Memiliki sarana komputer yang berhubungan dengan jaringan informasi kalau di Uiversitas Islam Indonesia sudah memiliki yang disebut SIMPUS (Sistim lnformasi Perpustakaan) pengguna dapat mencari informasi · sendiri, dipandu oleh pustakawan dalam melakukan penelusuran kerjasama tersebut dapat dilakukan dalam dua versi, yaitu: pertama . pustakawan mencari kan a tau mentelusuri dari simpus setelah ketemu dan ditentukan subyeknya buku bisa diambil dalam rak berberdasarkan subyek tersebut, dan mahasiswa mengambil buku tersebut · dan diserahkan ke pustakawan untuksegera diproses, bisa dipinjam dandibawa pulang kedua; pustakawandalam hal ini bertindak sebagaiinstruktur dengan demikian dapatdipahami tentang seberapa p,intingnyapenggunaan teknologi informasi dalampelayanan diperpustakaan.

Conclusion

Perpustakaan .sebagaimana · telah didiskripsikan diatas merupakan jantung ilmu pengetahuan, tidak terkecuali perpustakaan di kalangan perguruan tinggi, namun kondisi perpustakaan di indonesia sangat jauh dari yang diharapkan pembenahan dalam berbagai sektor masih harus terus dilakukan. Kualitas sumberdaya manusia dan penggunaan informasi harus terus menerus selalu dttingkatkan agar masa ke depan pepustakaan di tuntut untuk mengembangkan kultur baru dan meningkat seperti perpustakaan di negara berkembang atau maju.