Kembali
16
1
2019 Unilib: Jurnal Perpustakaan Vol 10 · 2 ISSN 2715-274X

Kegiatan Inklusi Sosial di Perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis Bantul

Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Jetis Bantul

Abstrak

Perpustakaan Ganesha telah terkareditasi A yang merupakan perpustakaan sekolah SMA N 1 Jetis Bantul yang beralamat di Jln Imogiri Barat KM 11 Kertan Sumberagung Jetis Bantul Yogyakarta 55781. Kegiatan inklusi sosial merupakan suatu layanan yang ada diperpustakaan Ganesha. Adanya kegiatan inklusi sosial diharapkan dapat memberi dampak positif pada masyarakat sekitar, serta mendekatkan koleksi pada masyarakat. Adanya program yang diadakan secara berkala dan berkesinambungan akan mengoptimalkan pengertahuan masyarakat tentang ilmu-ilmu yang dibutuhkan. Tujuan penelitian yang dilaksanakan adalah untuk mengetahui manfaat kegiatan inklusi sosial di perpustakaan Ganesha. Kegiatan inklusi sosial yang terdapat di perpustakaan Ganesah SMA N 1 Jetis antara lain; Olah Aloe, Pelatihan Membatik, Pendampingan Belajar Yaketunis, Literasi Religi, serta Gerobak Literasi. Sasaran kegiatan inklusi sosial Perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis adalah warga sekitar sekolah, hingga warga se-kabupaten Bantul. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode observasi langsung dengan melihat data statistik pengunjung dan data koleksi dipinjam dan wawancara dengan pustakawan perpustakaan Ganesha. Segala kegiatan Perpustakaan Ganesha dapat dilihat di akun sosial media Instagram @perpus_ganesha atau mengakses informasi koleksi di web http://lib.sman1jetis.sch.id. Dari hasil riset membuktikan bahwa dengan adanya kegiatan inklusi sosial dapat meningkatkan pengunjung perpustakaan dan jumlah koleksi yang dipinjam secara signifikan</p>
Keywords: Inklusi sosial layanan Perpustakaan Ganesha

Introduction

Kebutuhan informasi yang saat ini menjadi bagian pokok dari kehidupan manusia telah mengalami perkembangan. Informasi yang dibutuhkan siswa maupun masyakarat, sebagai salah satu anggota perpustakaan sekolah. Mayarakat yang belum mendapatkan ruang untuk belajar akan merasa kekurangan dalam hal informasi. Perpustakaan sekolah saat ini juga mulai mencanangkan program Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tentang progam inklusi sosial. Program yang melibatkan masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas serta layanan sehingga mencapai kemajuan dalam bidang segala.Sekolah sebagai sebuah institusi pendidikan merupakan tempat pembelajaran yang memberi pengajaran dan fasilitas sumber-sumber informasi. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu fasilitas sekaligus sarana penunjang siswa, menyediakan beragam informasi yang sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Menyimpan berbagai koleksi cetak maupun non cetak yang dapat menunjang siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Koleksi yang yang terdapat dalam perpustakaan sekolah bukan hanya berupa koleksi pelajaran, akan tetapi juga ditunjang dengan koleksi non pelajaran. Hal ini untuk menunjang proses kreatif siswa dalam bidang non akademik.Pemanfaatan fasilitas serta layanan perpustakaan sekolah tentunya berkaitan dengan waktu layanan yang disediakan masing-masing perpustakaan. Dalam hal ini perpustakaan sekolah dianjurkan untuk menyediakan waktu yang cukup untuk melayani pemustaka agar pemustaka dapat dengan leluasa memanfaatkan fasilitas serta layanan yang tersedia. Pemustaka dalam perpustakaan sekolah antara lain peserta didik, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, maupun anggota lain. Anggota lain adalah msyarakat di luar civitas sekolah seperti, alumni, peserta didik kesetaraan, pengurus komite sekolah, orang tua/wali peserta didik, serta masyarakat umum. Pemustaka anggota lain dapat memanfaatkan sumber-sumber koleksi perpustakaan sekolah didasarkan pada prinsip umum pemanfaatan informasi.Fasilitas dan layanan yang tersedia dalam perpustakaan sekolah tentunya akan kurang maskimal tanpa adanya kegiatan promosi. Pengelola harus aktif dan secara terus menerus melakukan promosi perpustakaannya agar pemustaka termasuk anggota lain dapat mengetahui dan memafaatkan fasilitas serta layanan yang dimiliki perpustakaan sekolah. Promosi perpustakaan adalah upaya untuk mengenalkan seluruh aktivitas yang ada dalam perpustakaan sekolah dalam beberapa aspek seperti, layanan, koleksi, kegiatan, fasilistas dan sebagainya. Promosi perpustakaan sekolah tentunya memiliki perbedaan antara satu dan yang lainnya, hal ini terkait dengan karakteristik sekolah dan kesesuaian dengan program yang telah disusun. Dengan adanya kegiatan promosi perpsutakaan, diharapakan peran perpustakaan sekolah tidak hanya dapat mencerdasakan civitas sekolah akan tetapi dapat memberi manfaat untuk warga sekitar.Promosi perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis Bantul adalah dengan adanya layanan berbasis masyarakat. Layanan yang dihadirkan Perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetia Bantul merupakan kegiatan inklusi sosial untuk masyarakat sekitar. Layanan ini bertujuan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat melalui literasi. Selain melalui layanan kunjungan, perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis Bantul juga melaksanakan kegiatan pelatihan, agar literasi yang telah didapatkan melalui membaca buku dapat dipraktikkan dalam kehidupan nyata sehingga masyarakat dapat meningkatkan taraf kehidupannya. Tujuan dalam penelitian ini adalah : (1) Untuk mengetahui pentingnya kegiatan inklusi sosial di Perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis Bantul. (2) Untuk mengetahui kegiatan inklusi sosial yang terdapat di Perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis Bantul.Berdasarkan latar belakang di atas, penulis dapat menyimpulkan rumusan masalah sebagai berikut:1. Mengapa perlu diadakan kegiatan inklusi sosial di Perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis Bantul?2. Kegiatan inklusi sosial apa saja yang terdapat di Perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis Bantul</p>

Method

Metode penelitian adalah cara bagaimana suatu penelitian akan dilaksanakan. Hal ini dilakukan peneliti untuk mempermudah dalam mengumpulakan data, mengolah data, hingga menyajikan data dalam suatu hasil penelitian. Peneliti harus menentukan metode penelitiaanya sebelum melakukan penelitian agar mempermudah dalam langkah selanjutnya. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, karena sesuai dengan objek yang akan dikaji. Menurut Andi Prastowo (2016) metode penelitain kualitatif adalah metode (jalan) penelitian yang sistematik yang digunakan untuk mengkaji atau meneliti suatu objek pada latar alamiah tanpa ada manipulasi di dalamnya dan tanpa ada pengujian hipotesis, dengan metode-metode yang alamiah ketika hasil penelitian yang diharapkan bukanlah generalisasi berdasarkan ukuran-ukuran kuantitas, namun makna (segi kualitas) dari fenomena yang diamati.Teknik pengumpulan data adalah suatu metode yang dilakukan oleh peneliti atau tata cara yang peneliti gunakan dalam pengumpulan data penelitian agar mendapatkan hasil data yang relevan. Menurut Sugiono (2009) wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu dan dengan wawancara, peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterprestasikan situasi dan fenomena yang terjadi yang tidak mungkin bisa ditemukan melalui observasi. Supardi (2006) menyatakan bahwa metode observasi merupakan metode pengumpul data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki. Pendapat dari Suharsimi Arikunto (2010), menyatakan bahwa instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Dalam hal ini penulis menggunakan metode pengumpulan data dengan cara observasi dan juga wawancara. Observasi dilakukan langsung dengan mengikuti serta membuat program perpustakaan berbasis inklusi sosial yang ada di perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis Bantul. Sedangkan metode wawancara dilakukan dengan tanya jawab menggali informasi kepada pengelola serta kepala perpustakaa</p>

Result & Discussion

Pentingnya Kegiatan Inklusi Sosial di Perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis BantulPerpustakaan Ganesha merupakan perpustakaan sekolah SMA N 1 Jetis yang berada di Jalan Imogiri Barat, KM 11, Kertan, Sumberagung Jetis, Bantul. Perpustakaan ini sudah terakreditasi A sejak tahun 2018. Memiliki luas gedung sebesar 883.06 m2 dengan luas tanah sebesar 1396 m2. Dengan adanya fasilitas serta layanan yang melayani tidak hanya warga sekolah, adanya beberapa program kegiatan yang diperuntukkan untuk masyarakat juga menjadi unggulan perpustakaan Ganesha. Letak sekolah yang berdekatan dengan lingkungan masyarakat juga mendorong diadakannya program inklusi ocial. Hal ini diharapkan dapat membantu serta mendekatkan perpustakaan dengan masyarakat sehingga literasi tidak hanya di kalangan sekolah.Guna mendukung program perpustakaan nasional tentang program inklusi ocial yang terintegrasi dengan perpustakaan, maka Perpustakaan Ganesha mencoba hal tersebut. Hal ini didukung dengan juga dengan adanya fasilitas serta layanan khusus program inklusi ocial. Dengan didukung oleh komitemen pimpinan serta semua aspek, perpustakaan Ganesha berharap dapat memberi manfaat untuk warga sekitar.Beragam masyarakat dari berbagai lapisan, usia, serta profesi juga menjadi obyek kami untuk melaksanakan program tersebut. Beberapa organisasi seperti karangtaruna, PKK dusun, serta kaum difabel juga menjadi mitra perpustakaan Ganesha. Keterbatasan waktu dan biaya, adalah salah satu ocial masyarakat mengkuti kegiatan ini. Oleh karena itu, dengan diadakannya program inklusi ocial dapat memberi kemudahan akses dalam memanfaatkan perpustakaan Ganesha.</p> <p>Aplikasi dari kegiatan iknlusi ocial adalah setelah masyarakat selesai membaca kemudian diadakan program pelatihan. Sehingga ilmu yang didapat dari membaca dapat diaplikasikan dikehidupan nyata. Harapannya adalah dapat meningkatnya kehidupan masyarakat setelah membaca serta belajar di perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis.Kegiatan Inklusi Sosial di Perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis BantulAda beberapa kegiatan inklusi sosial di Perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis yang telah terlaksana dengan baik. Kegiatan inklusi sosial diawali dengan membentuk sebuah program yang disesuaikan dengan karakteristik masyarakat. Secara lebih rinci kegiatan inklusi sosial yang terdapat di Perpustakaan Ganesha adalah sebagai berikut:a. Olah AloeKegiatan Olah Aloe dilaksakan bersama ibu-ibu PKK Dusun Ponggok. Sebagai salah satu bentuk layanan yang diberikan pada masyarakat terkait dengan pendayagunaan koleksi perpustakaan Ganesha. Kegiatan ini dimulai dari adanya pengarahan dari narasumber, hingga pelatihan membuat olahan dari Aloe Vera. Kegiatan ini dilakukan di green library Perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis. Gambar 1. Kegiatan Olah Aloe bersama karang taruna PKK Dusun Ponggok, Bantulb.Pelatihan MembatikGambar 2. Kegiatan pelatihan membatik dengan Ibu-ibu PKK Dusun Ponggok, BantulPelatihan membatik untuk Karangtaruna Dusun Ponggok dilakukan di oase batik, pelatihan membatik diawali dengan membaca koleksi di perpustakaan, lalu membuat pola batik dan proses membatik.Yaketunis, Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam yang berlamat di Jl. Parangtritis No.46, Danunegaran, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55143 adalah mitra Perpustakaan Ganesha, pendampingan belajar yang dilakukan oleh KOMPUSTA (Komunitas Pustakawan Taruna) adalah salah satu bentuk kegiatan inklusi sosial. Kegiatan ini dilakukan dengan cara membawa koleksi yang terdapat di perpustakaan Ganesha, kemudian dibacakan di Yaketunis. Koleksi yang dibawa adalah koleksi yang diinginkan siswa Yaketunis.</p> <p>c. Pendampingan Belajar dengan YaketunisGambar 3. Kegiatan pendampingan belajar antara KOMPUSTA dengan siswa YaketunisGambar 4. Kunjungan siswa Yaketunis ke Perpustakaan Ganesha dalam rangka kegiatan bioskop berbisikd.Literasi ReligiKegiatan Literasi Religi diadakan pada saat momentum ramadhan, ketika anak- anak serta masyarakat menanti waktu buka bersama, maka perpustakaan Ganesha mengadakan kegiatan literasi religi. Ada beberapa siswa yang bertugas untuk membuka area baca terbuka. Beberapa koleksi yang dibawa antara lain, koleksi anak, koleksi-koleksi agama serta koleksi yang lain. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan layanan pada masyarakat sekaligus mendekatkan koleksi pada masyarakat. Masyarakat secara gratis membaca buku di kegiatan tersebut, akan tetapi buku hanya bisa dibaca di tempat.Gambar 5. Literasi religi perpustakaan Ganesha di Lapangan Paseban Bantule. Gerobak LiterasiGerobak Literasi diadakan setiap hari Minggu satu kali dalam sebulan, dilaksanakan di Lapangan Sultan Agung Bantul. Kegiatan Gerobak Literasi juga hampir sama dengan Literasi Religi. Gerobak Literasi menggunakan alat transportasi tradisional gerobak sapi untuk membawa buku, sehingga hal ini dapat menjadi daya tarik mayarakat. Selain dapat membaca buku, masyakarat juga dapat bermain di gerobak sapi secara gratis.Gambar 6.Gerobak literasi perpustakaan Ganesha di Stadion Sultan Agung BantulSumber : Dokumen pribadi Perpustakaan Ganesha 2019Pada penelitian yang dilakukan oleh Yoga Yanuar Prasetyawan dan Patut Suharto (2015) yang dilakukan di masyarakat Taruna Bhakti Banjarbaru menyatakan bahwa literasi inklusi yang dilaksanakan meningkatkan minat baca masyarakat, hal ini terbukti dengan adanya peningkatan jumlah pengunjung di perpustakaan desa setempat. Dalam penelitian ini, peneliti mencoba meneliti tentang kegiatan inklusi sosial di perpustakaan sekolah. Peningkatan minat baca pada perpustakaan Ganesha terkait dengan adanya kegiatan inklusi sosial dapat dilihat dari jumlah kunjungan masyarakat dan jumlah buku yang dibaca oleh masyakarat. Hal ini dapat dibuktikan dengan data jumlah pengunjung dan jumlah pembaca/peminjam dalam tiga bulan terakhir. Tabel 1 Data Jumlah pengunjung Perpustakaan Ganesha tiga bulan terakhirNoBulanJumlah PengunjungAnggota%Non Anggota%1Februari 20191253-54-2Maret 20192.14641,6110347,573April 20194.07047,2715232,24Jumlah7.469-264-Sumber: Data Perpustakaan Ganesha 2019Pada Tabel 1 tampak bahwa, dengan adanya program inklusi sosial terbukti ada dampak positif terjadinya peningkatan jumlah pengunjung. Peningkatan pengunjung tertinggi terdapat pada pengunjung dari kelompok non anggota sebesar 47,57% pada bulan Maret 2019. Sementara pengunjung dari kelompok anggota terjadi peningkatan pada bulan April 2019 sebesar 47,27%. Pada Tabel 2 tampak bahwa, dengan adanya program inklusi sosial terbukti ada dampak positif dan negatif yakni terjadinya penurunan jumlah koleksi dipinjam oleh kelompok anggota, terdapat penurunan antara 10,54% - 18,64% berdasarkan judul dan angka 6,79% - 17,75% berdasarkan eksemplar. Disisi lain bagi pembaca dari kelompok non anggota terdapat peningkatan jumlah koleksi dibaca yaitu antara 23,08% - 50,00% berdasarkan judul dan 32,26% - 66,67% berdasarkan eksemplar. Dari hasil wawancara dengan pustakawan Perpustakaan Ganesha, terjadinya penurunan koleksi yang dipinjam oleh siswa terjadi pada bulan Maret dan April, disebabkan pada bulan itu para siswa disibukkan dengan persiapan ujian sekolah/ujian akhir sekolah. Apabila dihubungkan dengan tingkat kunjungan siswa ke perpustakaan, hal ini ada korelasi adanya tingkat kunjungan yang meningkat pada bulan Maret-April 2019 tersebut, dimana pada bulan itu para siswa berkunjung ke perpustakaan dalam rangka untuk belajar dalam mempersiapkan ujian akhir sekolah.Tabel 2 Data Jumlah peminjam dan pembaca Perpustakaan Ganesha tiga bulan terakhirNoBulanJumlah Peminjam/pembacaAnggotaNon AnggotaJudul%Eksemplar%Judul%Eksemplar%1Februari 2019560-677-5-7-2Maret 201950110,546316,791050,002166,673April 201941018,6451917,751323,083132,26Jumlah1.471-1.827-28-59-Sumber: Data Perpustakaan Ganesha 2019Hasil studi ini selaras dengan hasil kajian Amanda Harrison dkk (2017) yang menyatakan perpustakaan akademis semakin terlibat dalam media sosial untuk terhubung dengan berbagai kelompok masyarakat dan bergerak melampaui batas-batas tradisional perpustakaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis dan Teori Kelembagaan untuk mengeksplorasi posting media sosial di enam perpustakaan universitas negeri dan swasta di dua negara bagian Midwest. Penelitian ini membahas tema apa yang muncul di antara halaman media sosial perpustakaan universitas dan apa, jika ada, perbedaan tema yang muncul berdasarkan status perpustakaan tersebut. Posting media sosial mencakup sepuluh kode berbeda: arsip; koleksi; acara; pameran; fasilitas; komunitas perpustakaan; sentimen; jasa; manajemen situs; dan komunitas universitas. Kode-kode ini terikat pada tiga tema berbeda: perpustakaan menciptakan rasa penjangkauan dan advokasi dengan tujuan membangun koneksi komunitas, menyediakan lingkungan yang mengundang, dan akses ke konten sesuai kebutuhan atau keinginan. Pada akhirnya, sementara perpustakaan di universitas dengan perpustakaan ARL atau program gelar MLS menunjukkan kerusakan yang sama antara ketiga tema ini, perpustakaan di lembaga gelar master lainnya menghabiskan lebih sedikit waktu untuk membuat koneksi komunitas sebagai pengganti posting konten dan informasi tentang lingkungan perpustakaan. Sementara Safirotu Khoir dkk (2017) menjelaskan modal sosial dapat dilihat sebagai kontributor penting bagi pemukiman imigran dalam masyarakat multikultural. Untuk imigran Asia di Australia, yang sebagian besar datang dengan modal manusia tingkat tinggi, penggunaan layanan perpustakaan dapat membantu menghasilkan bentuk modal sosial baru yang memfasilitasi proses penyelesaian dan membantu mereka mengatasi tantangan yang terkait dengan penyelesaian. Tercatat bahwa hubungan sebab akibat antara penggunaan perpustakaan umum oleh imigran dan modal sosial tidak ditetapkan. Namun demikian, faktor-faktor yang berkontribusi dalam generasi modal sosial diidentifikasi. Perpustakaan umum diharapkan untuk menciptakan layanan perpustakaan yang lebih baik untuk populasi imigran baik di tingkat linguistik dan budaya, memastikan mereka memenuhi mandat mereka untuk mendorong pembentukan modal sosial. Mengingat tidak adanya studi sebelumnya yang memeriksa imigran dengan sumber daya manusia yang ada, studi ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang nilai layanan perpustakaan umum untuk imigran dalam mendukung penyelesaian mereka. Hasilnya juga memberikan bukti kontekstual dengan menggambarkan hubungan timbal balik antara perpustakaan umum dan imigran dalam pembentukan aset sosial yang dapat diandalkan. Penelitian berbasis bukti ini menawarkan wawasan berharga dan memicu kesadaran akan perlunya perpustakaan umum dan layanan sosial untuk menyediakan imigran dengan layanan yang dirancang khusus untuk masyarakat. Penelitian di masa depan harus mengeksplorasi karakteristik imigran Asia secara lebih mendalam untuk menentukan apakah negara asal, usia, jenis kelamin, dan pendidikan memengaruhi penggunaan perpustakaan dalam mendukung proses penyelesaian. Menjangkau imigran yang tidak menggunakan layanan perpustakaan juga penting dan investigasi di masa depan dapat mengeksplorasi orang-orang yang tidak terjangkau, dan mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang perilaku mereka sehingga merancang program penjangkauan yang lebih tepa</p>

Conclusion

Perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis Bantul sudah menerapkan beberapa kegiatan yang berbasis inklusi sosial. Kegiatan inklusi sosial perpustakaan Ganesha antara lain; olah aloe, pelatihan membatik, pendampingan belajar Yaketinis, literasi religi, dan gerobak literasi. Hal ini bertujuan mendekatkan peran serta fungsi perpustakaan untuk mendukung budaya baca dan literasi masyarakat, serta kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan koleksi ke masyarakat. Dengan adanya kegiatan inklusi sosial, diharapkan dapat memberi pengaruh serta dampak yang baik untuk kehidupan selanjutnya. Kegiatan inklusi sosial yang ada di perpustakaan Ganesha SMA N 1 Jetis dilakukan secara berkelanjutan, sehingga masyarakat dapat mengikuti kegiatan dengan optimal.</p>