PERAN PERPUSTAKAAN LINGKARAN DALAM MENINGKATKAN LITERASI BUDAYA MASYARAKAT DI DESA DENAI LAMA
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Abstrak
Literasi budaya merupakan hal yang penting untuk diketahui dan dipelajari oleh amsyarakat Indonesia. Era modern yang perlahan membawa masyarakat Indonesia pada kebudayaan asing menjadikan Perpustakaan Lingkaran mengambil langkah untuk menanamkan dan menyebarkan nilai-nilai budaya Indonesia kepada masyarakat luas agar masyarakat tidak melupakan budaya asli Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran yang diberikan oleh Perpustakaan Lingkaran terhadap peningkatan literasi budaya di desa Denai Lama serta dampak apa yang terjadi dari peningkatan literasi budaya tersebut. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang mana hal ini ditujukan agar data yang diperoleh dari lapangan dapat dijabarkan dengan sebaik mungkin. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu dengan teknik observasi, wawancara serta dokumentasi. Setelah data-data yang diperoleh dirasa sudah cukup maka peneliti melakukan analisis data dengan tahap reduksi data, penyajian data, serta verifikasi data. Data yang telah di verifikasi selanjutnya dilakukan pengecekan ulang agar diperoleh hasil yang lebih konkret dan valid. Hasil dari penelitian yang dilakukan di desa Denai Lama ini menyatakan bahwa Perpustakaan Lingkaran sangat berperan dalam peningkatan literasi budaya di desa Denai Lama dilihat dari antusias masyarakat pada berbagai kegiatan kebudayan yang dilakukan oleh Perpustakaan Lingkaran. Dengan berbagai kegiatan kebudayaan tersebut, tidak hanya menarik minat masyarakat desa Denai Lama saja, namun pula masyarakat dari berbagai daerah turut merasakan antusias akan kebudayaan tradisional tersebut. Melalui kegiatan kebudayaan ini pula dilihat bahwa Perpustakaan Lingkaran turut memberikan dampak yang nyata pada peningkatan literasi budaya serta peningkatan Peningkatan ilmu dan keterampilan masyarakat tidak lepas dari peran Perpustakaan Lingkaran yang selalu mengutamakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat desa Denai Lama.
Abstract
Cultural literacy is an important thing for Indonesian people to know and learn. The modern era which slowly brings Indonesian people to foreign cultures makes the Circle Library take steps to instill and spread Indonesian cultural values to the wider community so that people do not forget the original Indonesian culture. This study aims to find out how the role given by the Circle Library has in increasing cultural literacy in the village of Denai Lama and what impact has occurred from increasing cultural literacy. The research method used in this research is a qualitative research method with a descriptive approach, which is intended so that the data obtained from the field can be described as well as possible. Data collection techniques in this study were observation, interviews and documentation techniques. After the data obtained was deemed sufficient, the researcher conducted data analysis with the stages of data reduction, data presentation, and data verification. The data that has been verified is then re-checked in order to obtain more concrete and valid results. The results of research conducted in the village of Denai Lama stated that the Circle Library played a very important role in increasing cultural literacy in the Denai Lama village, seen from the enthusiasm of the community for various cultural activities carried out by the Circle Library. With these various cultural activities, it does not only attract the interest of the Denai Lama village community, but also people from various regions feel enthusiastic about this traditional culture. Through this cultural activity it is also seen that the Circle Library has contributed to a real impact on increasing cultural literacy and increasing community knowledge and skills development which cannot be separated from the role of the Circle Library which always prioritizes the interests and needs of the Denai Lama village community.
Keywords:
literasi budaya
· budaya tradisional
· masyarakat desa
· perpustakaan desa
Introduction
Perpustakaan merupakan lembaga penyedia bahan pustaka dengan berisikan kumpula karya tulis, karya cetak serta karya rekam demi pemenuhan kebutuhan pemustaka. Perpustakaan adalah wadah dimana masyarakat bisa memperoleh ilmu pengetahuan serta informasi. Informasi yang diperoleh di perpustakaan dapat membantu masyarakat dalam peningkatan kualitas hidup dan mengembangkan sumber daya manusia. Perpustakaan menyediakan informasi kepada siapa saja tanpa membanding-bandingkan seseorang berdasarkan suku, ras, agama, golongan dan sebagainya. Pada umumnya perpustakaan digunakan sebagai sumber bahan bacaan oleh masyarakat, namun perpustakaan dapat pula dijadikan sebagai tempat pembelajaran masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memanfaatkan perpustakaan untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia. Perpustakaan memiliki tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengaan isi dari pembukaan UUD 1945, hal ini yang menjadikan perpustakaan dapat dialih fungsikan menjadi tempat terlaksananya berbagai kegiatan positif yang meningkatkan kualitas msyarakat. Asnawi dalam (Prabowo, 2021) menyatakan bahwa keberadaan perpustakaan bertujuan untuk menunjuang program wajib belajar masyarakat; menunjang pembelajaran sepanjang hayat; penyedia bahan pustaka yang berkaaitan dengan keterampilan masyarakat; menggalakkan program minat baca; menyimpan serta mendayagunakan sumber informasi yang ada; membangun semangat dan menghibur masyarakat; serta mendidikan masyarkat untuk menggunakan dan memanfatkan koleksi bahan pustaka yang tersedia di perpustakaan. Berdasarkan tujuan awal perpustakaan tersebut, maka masyarakat sangat membutuhkan beberapa program yang dapat meningkatkan semangat dan kreativitas masyarakat. Masyarakat pula harus mampu untuk mengelola informasi yang diperolehnya agar dapat berdayaguna. Perpustakaan yang dijadikan sebagai sumber informasi serta media peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadikan keberadaannya sangat dibutuhkan untuk dekat dengan masyarakat. Kebutuhan masyarakat akan informasi yang semakin hari semakin bertambah mengharuskan untuk membangun perpustakaan dan media pembelajaran di berbagai daerah. Hal ini yang mendasari terciptanya perpustakaan dan lembaga pendidikan nonformal untuk hadir di desa demi tujuan menyebarkan informasi serta pemerataan pendidikan agar sampai kepada masyarakat desa. Perpustakaan yang hadir di desa dikelola dan dioperasikan oleh masyarakat desa itu sendiri. Perpustakaan dapat dijadikan sebagai wadah untuk pembelajaran budaya yang mana dengan adanya pembelajaran budaya ini, anak-anak akan melestarikan budaya lokal di era perkembangan teknologi. Indonesia yang merupakan negara kaya akan keberagaman budaya menjadikan anak-anak penerus bangsa harus mampu mempelajari dan melestarikan kebudayaan Indonesia. Seiring berkembangnya teknologi informasi yang kini sudah berada di era digitalisasi memberi dampak adanya perubahan budaya di Indonesia. Budaya asing yang semakin akrab dengan keseharian masyarakat Indonesia dengan dalih bahwa budaya asing tersebut mengikuti perkembangan zaman menjadikan budaya lokal perlahan mulai menghilang, dan hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Budaya lokal yang sudah ada sejak dahulu mengandung banyak pembelajaran positif di masyarakat, mulai dari cara bersikap , cara berpakaian serta budaya lokal lainnya. Maka dari itu Haleluddin dalam (Safitri & Ramadan, 2022) menyatakan bahwa pembelajaran literasi budya sangat penting bagi masyarakat terutama bagi anak-anak calon penerus bangsa yang mana hal ini sebagai salah satu upaya untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air serta toleransi terhadap sesama. Dengan diberikannya pendidikan berbasis kebudayaan di era digital ini memiliki harapan untuk mencapai dari tujuan pendidikan yaitu melawan dampak negatif dari perkembangan era digital. Peningkatan Literasi budaya yang dapat diberikan kepada anakanak sejak dini dapat membantu untuk mengenalkan milai-nilai pendidikan karakter yang tentunya bermanfaat untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan. Perpustakaan Lingkaran merupakan perpustakaan yang terbentuk untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat di desa Denai Lama. Perpustakaan Lingkaran merupakan bagian dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Lingkaran yang terletak di Jl. Balai Desa dusun II Desa Denai Lama Kecamatan Panti Labu, kabupaten Deli Serdang. Perpustakaan Lingkaran dijadikan sebagai wadah kreativitas untuk mengasah kemampuan dan bakat anakanak di desa Denai Lama. PKBM Lingkaran beserta Perpustakaan Lingkaran didirikan untuk mengajarkan anak-anak desa dengan konsep psikososial dan menyajikan pembelajaran berbasis pendidikan karakter dan literasi budaya guna melestarikan budaya dan meningkatkan daya kreativitas anak-anak di desa Denai Lama. Pengelola perpustakaan Lingkaran bersama para relawan berupaya untuk mengajak masyarakat terkhusus anak-anak di desa Denai Lama dalam mempelajari budaya Indonesia. Langkah awal yang dilakukan pengelola perpustakaan Lingkaran yaitu dengan menyediakan berbagai jenis alat musik dan permainan tradisional. Rasa ingin tahu anak-anak desa yang berhasil mengajak anak-anak untuk mempelajari berbagai hal tentang kebudayaan Indonesia. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih jauh mengenai peran yang dilakukan perpustakaan Lingkaran dalam meningkatkan literasi budaya masyarakat di Desa Denai Lama. B. KAJIAN TERDAHULU Penelitian yang dilakukan oleh (FADILA, 2019) dalam jurnal nya yang berjudul “Peranan Sanggar Seni Naurah Dalam Melestarikan Budaya Lokal Di Desa Belo Kecamatan Ganra Kabupaten Soppeng” Peran sanggar seni naurah dalam melestarikan budaya lokal. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran sanggar seni naurah sebagai pelestarian budaya lokal di Desa Belo Kecamatan Ganra Kabupaten Soppeng. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif. Sedangkan sumber data primer penelitian ini berasal dari hasil wawancara dengan informan, dan data sekunder didapatkan dri arsip serta dokumen yang diperoleh peneliti ketika observasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan pencatatan, yang kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran Sanggar Seni Naurah dalam melestarikan budaya lokal di Desa Belo Kecamatan Ganra Kabupaten Soppeng yaitu: 1) Memimpin proses sosialisasi, seperti yang dilakukan oleh Naurah Art Studio, mempunyai kemampuan untuk melibatkan remaja agar dapat melakukan hal-hal positif, seperti mengikuti kegiatan bersama Naurah Art Studio yang sering dilakukan setiap tahunnya, seperti bekerja sama dengan pemuda setempat. rakyat. di desa Belo untuk merayakan Hari Kemerdekaan. 2) Transmisi tradisi, kepercayaan, nilai dan norma serta pengetahuan, seperti transmisi tradisi budaya lokal yaitu tari tomalebbi, tari wali sumange. 3) Untuk mempersatukan kelompok atau komunitas, serta upaya sanggar seni Naurah dalam melestarikan budaya lokal antara lain melalui pengembangan, perlindungan dan pemanfaatan. Persamaan penelitian diatas dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah melihat pada upaya pelestarian budaya lokal dan menggunakan metode yang sama yaitu kualitatif dengan pendekatan deskriptif, sedangkan perbedaannya penelitian diatas fokus pada upaya sanggar untuk melestarikan . budaya lokal, sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti ada beberapa program yang fokus pada pelestarian budaya. Penelitian kedua merupakan penelitian oleh (Pusparini, 2018) yang berjudul “Program Pelestarian Budaya Edutourism Pada Taman Baca Masyarakat Eco Bambu Cipaku”. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengetahuan budaya yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu program wisata edukasi Taman Baca Masyarakat ECO Bambu yang berada satu atap dengan Art Culture Studio, salah satu wisata edukasi di kota Bandung. Program wisata edukasi yang sedang berlangsung di sini merupakan upaya untuk menampilkan seni dan budaya berdasarkan koleksinya, sehingga mesin bor di dalam terowongan ini memiliki bahan bacaan atau koleksi yang dapat menginspirasi setiap pecinta buku. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Informan penelitian ini adalah pengelola dan wisatawan. Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Proses pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumen. Teknik analisis data segitiga menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pelestarian budaya yang diselenggarakan oleh sanggar seni budaya ECO Bambu berupa program wisata edukasi memberikan pengetahuan kepada masyarakat dengan cara yang menghibur. Program wisata edukasi ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih mencintai seni dan budaya Jawa Barat. Oleh karena itu, program wisata edukasi dibuat sinkron dengan TBM melalui pembacaan dokumen. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah mengkaji program literasi budaya di sanggar tari yang berdekatan dengan taman baca masyarakat melalui kegiatan literasi budaya dan penggunaan metode penelitian yang sama yaitu kualitatif. Sedangkan perbedaannya terletak pada fokus dan pembahasan penelitian. Penelitian ketiga yaitu penelitian yang dilakukan oleh (Hidayah, 2018) yang berjudul “Upaya Perpustakaan Dalam Melestarikan Khazanah Budaya Lokal (Studi Kasus Perpustakaan “Hamka” Sd Muhammadiyah Condongcatur). Penelitian ini bertujuan untuk memahami upaya yang telah dilakukan perpustakaan SD Muhammadiyah Condongcatur “HAMKA” dalam melestarikan khasanah budaya lokal. penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif dan metode studi kasus. Informan penelitian ini adalah pustakawan perpustakaan SD Muhammadiyah Condongcatur “HAMKA” yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara, observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya perpustakaan “HAMKA” Perpustakaan SD Muhammadiyah Condongcatur dalam melestarikan budaya lokal adalah melalui pengetahuan budaya, yaitu perpustakaan fokus pada pengumpulan informasi tentang budaya lokal. . Upaya tersebut berupa: 1) membangun rumah bagi masyarakat yang memahami budaya pertanian, 2) pameran wayang dan batik sebagai media pembelajaran, (3) skala literasi wayang dan aksara jawa, 4) pembelajaran tentang budaya berbasis perpustakaan dan 5) penambahan koleksi budaya. Apa persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang melihat bagaimana upaya pelestarian budaya lokal dan metode penelitian yang digunakan berbeda secara kualitatif dengan jenis studi pemodelan lainnya? Bedanya, objek penelitian di atas adalah perpustakaan dan penelitian yang dilakukan peneliti merupakan platform yang memiliki beberapa subrutin dengan cakupan lebih kecil. Penelitian keempat dengan judul “Pentingnya Literasi Budaya di Desa Seni Jurang Blimbing” oleh (Triyono, 2019) Penelitian ini fokus pada pemahaman budaya di Desa Jurang Blimbing yang terletak di Kecamatan Tembalang Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah. Di desa ini terdapat beberapa kesenian seperti ketoprak, kuda dan kaligrafi. Seiring berjalannya waktu, karya seni tersebut harus dilestarikan agar tidak memudar seiring berjalannya waktu. Upaya pemerintah melalui Departemen Pendidikan Kebudayaan telah menghasilkan program literasi budaya yang mendukung tujuan konservasi tersebut, termasuk perencanaan program Gerakan Literasi surat nasional. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. pengumpulan data melalui observasi langsung desa dan wawancara tatap muka dengan tokoh masyarakat, seniman dan masyarakat. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak semua warga Desa Jurang Blimbing mengetahui program pemerintah. Namun sejumlah upaya konservasi telah dilakukan dan upaya tersebut dipandang sebagai bentuk pengawasan dalam pelestarian budaya. Masyarakat desa ini juga mempunyai cita-cita untuk melestarikan budayanya, namun upaya tersebut tampaknya belum optimal. Melihat temuan tersebut, maka kesadaran dan dukungan pemerintah dari para penggiat literasi atau pustakawan terhadap gerakan literasi ini sangat penting agar masyarakat mengetahui langkah apa yang harus dilakukan untuk lebih mengenal dan melestarikan seni budaya lokalnya. Persamaan penelitian ini dengan penelitian peneliti terkait pelestarian budaya lokal di desa dan metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Bedanya, penelitian di atas lebih fokus pada pengembangan dan pelaksanaan program pemerintah, sedangkan penelitian ini lebih fokus pada analisis kegiatan pemahaman budaya. Penelitian kelima yaitu penelitian oleh (Napilah, 2019) dengan judul “Pemanfaatan Sanggar Tari dalam Mengenal Budaya Lokal Sebagai Sumber Belajar Ips di Padepokan Surya Medal Putera Wirahma Gegerkalong Kecamatan Sukasari, Kota Bandung”. Penelitian ini fokus pada bagaimana memanfaatkan sanggar tari untuk belajar budaya lokal sebagai sumber belajar dengan pembelajaran IPS yang dilatarbelakangi oleh temuan penulis pada pembelajaran IPS. IPS dianggap mengabaikan perkembangan sumber pembelajaran berbasis budaya hanya museum dan internet, bukan dengan sanggar tari yang mana hal ini untuk menampilkan budaya yang digunakan sebagai sumber belajar IPS. Metode penelitian penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi langsung dan wawancara. Hasil penelitian yang ditemukan disini menunjukkan bahwa sanggar tari mempunyai peranan yang sangat penting sebagai tempat penanaman ilmu pengetahuan, penguatan dan juga tempat melestarikan budaya dan seni daerah. Kegiatan sanggar memuat nilai-nilai tari, tingkah laku dan sikap seperti kedisiplinan, wadah berkreasi dan berekspresi, serta wadah berkembangnya minat-minat berbakat, kreatifitas kolektif dan kecintaan terhadap budaya. kehidupan. Sanggar sebenarnya dijadikan sebagai sumber pembelajaran yang sangat relevan dalam bidang kebudayaan. Persamaan antara penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenai pengetahuan budaya dengan menggunakan sanggar sebagai tempat pembelajaran untuk melestarikan budaya lokal dan metodologi penelitian terapan sangat banyak. Walaupun perbedaannya terletak pada tujuan penelitian di atas, secara khusus sanggar tari hanya dijadikan sebagai tempat pembelajaran untuk menunjang penelitian dan sumber belajar IPS yang dilakukan oleh peneliti sebenarnya.Sekarang kita akan membahas tentang sanggar tari yang dijadikan sebagai cagar budaya lokal dan tempat wisata edukasi.
Method
Penyelesaian masalah pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hal ini dikarenakan penelitian kualitatif merupakan proses meneliti suatu keadaan secara alamiah serta menjadikan peneliti sebagai instrument kunci (Sugiyono, 2013). Pendekatan yag dilakukan yaitu dengan pendekatan deskriptif, yang mana menurut Sukardi dalam (Putri, 2019) pendekatan deskriptif dilakukan dengan cara menggambarkan objek yang ada di lapangan dengan apa adanya tanpa ada yang diubah. Pendekatan deskriptif dipilih karena penelitian ini adalah penelitian yang bersinggungan dengan pola tingkah laku masyarakat yang mana hal ini tidak dapat diukur menggunakan angka (Abd. Hadi, 2021). Penelitian ini dilakukan di Perpustakaan Lingkaran Desa Denai Lama Kabupaten Deli Serdang serta dilaksanakan pada bulan April hingga bulan Agustus 2022 agar informasi yang didapat akurat dan dapat ditarik kesimpulan. Data yang diperoleh pada penelitian ini bersumber dari data primer yang diperoleh secara langsung di lapangan serta data sekunder yang diperoleh dari ebook serta buku. Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu menggunakan studi lapangan yang terdiri dari observasi, wawancara dan dokumentasi (Sugiyono, 2013). Peneliti akan melakukan observasi terlebih dahulu untuk mengamati polah dan tingkah laku masyarakat desa Denai Lama. Setelah melakukan observasi, peneliti kemudian melakukan wawancara kepada informan yang telah dipilih dengan teknik purposive sampling. Pada saat melakukan wawancara, peneliti menggunakan instrument penelitian yang terdiri dari handphone untuk merekam, buku serta pena untuk mencatat hal-hal penting. Dokumentasi dilakukan untuk memperkuat hasil penelitian mengenai gambaran yang ada di lapangan. Setelah melakukan wawancara, selanjutnya peneliti akan menganalisis data yang telah diperoleh menjadi susunan sistematis. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu menggunakan teknik yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman dalam Hardani et al., (2020) yang menyatakan bahwa teknik analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan. Lokasi penelitian ini berada di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Lingkaran yang beralamat di Jalan Balai Desa, Desa Denai Lama, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu menggunakan teknik observasi, wawancara serta dokumentasi (Prof. Dr. Sugiyono, 2013). Observasi dilakukan dengan cara peneliti turun langsung ke lapangan serta melakukan pengamatan secara langsung mengenai apa yang terjadi di lapangan. Wawancara serta dokumentasi dilakukan peneliti kepada para informan yang sudah dipilih terlebih dahulu dengan menggunakan teknik sampling yang mana hal ini adalah pemilihan informan dengan beberapa pertimbangan terlebih dahulu (Emzir & Pd, 2012). Informan yang terpilih pada penelitian ini yaitu Pendiri sekaligus Pimpinan PKBM Lingkaran serta relawan aktif yng turut berperan penting dalam setiap program yang dijalankan. Teknik analisis data yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan teknik analisis model Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data dan verifikasi data (Abdussamad, 2021). Reduksi data dilakukan dengan cara menyeleksi data yang telah didapat dari hasil observasi dan wawancara, selanjutnya data tersebut disajikan kedalam tabel dan narasi sehingga peneliti akan lebih mudah mendapatkan kesimpulan dari penelitian tersebut. Selanjutnya kesimpulan yang didapat kembali dicek secara acak kepada para narasumber apakah hasil yang didapat sesuai dan relevan dengan yang terjadi di lapangan, dan hal ini disebut dengan triangulasi sumber (Sugiyono, 2010). Setelah pengecekan ulang dilakukan dan tidak ditemukan masalah maka data tersebut dapat dikatakan valid (Yusuf, n.d.).
Result & Discussion
Perpustakaan Lingkaran merupakan bagian dari Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Lingkaran yang merupakan sumber pendidikan non formal yang berada di desa Denai Lama. PKBM Lingkaran membangun perpustakaan guna mengembangkan sayapnya agar memberikan manfaat dan peran yang lebih besar bagi perkembangan desa Denai Lama. Keberadaan perpustakaan Lingkaran hadir sebagai tempat belajar dan bermain anak-anak desa Denai Lama. Perpustakaan Lingkaran sama dengan PKBM Lingkaran yang merupakan wadah pembelajaran non formal masyarakat, namun perpustakaan Lingkaran ditujukan untuk anakanak desa karena memiliki konsep bermain sambil belajar. Konsep bermain sambil belajar ini dilakukan agar anak-anak desa tidak merasa jenuh dan tidak merasa dipaksa untuk belajar. Hal ini pula yang dilakukan untuk mengenalkan literasi budaya kepada anak-anak desa Denai Lama. Awal mula pengenalan literasi budaya pada masyarakat yaitu dengan diadakannya sanggar seni yang berisikan tentang pembelajaran tarian tradisional. Perpustakaan Lingkaran menyajikan program belajar menari tradisional. Tujuan dari tarian tradisional ini yaitu untuk mengepresikan budaya lokal. Anak-anak yang telibat dalam tarian tradisional ini adalah anakanak desa yang putus sekolah serta rasa ingin ahu yang rendah. Hal ini dijelaskan oleh informan yang merupakan koordinator relawan di Perpustakaan Lingkaran. “Anak-anak yang menari disini adalah anak-anak pesisir yang putus sekolah dan tadinya juga sangat acuh dengan budaya sekitar, yang dominan mengikuti budaya-budaya yang seharusnya tidak mereka ikuti, seperti ikut- ikut menonton hiburan erotis, narkoba ngelem, judi dan ini yang harus nya diselamatkan.” Anak-anak yang bergabung dalam tim tari ini kemudian dilatih oleh para relawan dan kemudian diikut sertakan kedalam sebuah perlombaan. Selain perlombaan, tim tari pula mulai dikenalkan ke publik dengan tujuan untuk mengenalkan budaya daerah, mengembangkan bakat anak-anak desa serta agar anak-anak mendapatkan apresiasi dan penghasilan tambahan dari menari. Tim tari yang dikenalkan ke publik sering dilibatkan kedalam beberapa kegiatan yang mana mereka juga akan mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalan dari penampilannya. “Menari tradisional di gempuran budaya modern ini menjadi hal yang bisa dibilang jarang ditemukan apalagi yang berperan besar disini adalah anak- anak remaja kan, nah mungkin ini yang menjadi alasan kenapa kita menarik di mata masyarakat, mulai dari dipercaya mengisi acara hajatan, sampai lambat laun kita dipercaya untuk mengisi di acaraacara kebudayaan bergengsi, menurut saya itu termasuk penghargaan dari segala proses yang kita lalui terlepas dari penghargaan resmi yang telah didapat”. Pernyataan dari salah satu relawan tersebut pula didukung oleh pernyataan koordinator relawan. “Awalnya kita hanya melakukan yang menjadi tujuan kita yaitu mengenalkan budaya melayu di kancah yang lebih luas, mengikuti event sampai akhirnya kita mendapat respon positif dari segala elemen dan akhirnya kita mendapat diluar dari tujuan awal kita, karena saya percaya dan yang selalu saya tanamkan pada teman-teman relawan, kita hanya butuh konsisten untuk melakukan sesuatu percaya tidak percaya semuanya hal yang positif pasti mengikuti”. Perpustakaan Lingkaran dalam upayanya untuk melestarikan budaya serta untuk meningkatkan literasi budaya masyarakat di desa Denai Lama membangun sebuah coffee shop dengan nama Kafe Baca. Kafe Baca ini di dirikan oleh pengelola Perpustakaan yang bekerjasama dengan para relawan dengan konsep Kafe yang dikelilingi oleh berbagai macam buku. Kafe Baca ini memanfaatkan buku-buku yang ada di perpustakaan Lingkaran agar dapat dibaca oleh siapa saja. Dalam upayanya untuk melestarikan budaya, Kafe Baca kerap mengadakan berbagai pertunjukan budaya seperti tarian, drama, puisi, teater dan sebagainya. Kafe Baca memberikan kesempatan bagi siapa saja yang ingin menampilkan bakatnya. Kegiatan ini rutin diadakan setiap sabtu malam. “Kegiatan kolaborasi sering kita lakukan, kolaborasi sesama sanggar tari maupun kolaborasi dengan mahasiswa-mahasiswa jurusan seni, karena fasilitas seperti panggung teater, lampu teater, alat musik dan lainnya kita punya, jadi terkadang mahasiswa seni sering hanya ingin menampilkan karya mereka atau karena keperluan tugas kuliah jadi mereka join nya di sini, tampil malam hari di kafe baca dan kadang-kadang juga kolaborasi sama anakanak sanggar Lingkaran, yang akhirnya secara tidak langsung menjadi salah satu edukasi masyarakat juga tentang budaya, karena menghadirkan karya dan ilmu mahasiswa yang mereka pelajari di kampus mereka”. Keberadaan Kafe Baca mendapatkan banyak respon positif dari masyarakat termasuk masyarakat diluar desa Denai Lama. Banyak pengunjung Kafe yang berasal dari luar daerah untuk menikmati suasana perpustakaan yang merangkap sebagai kafe ini. Berkat adanya Kafe Baca ini, tingkat baca Setelah tim tari dan kafe baca mulai dikenal oleh masyarakat luas, selanjutnya perpustakaan Lingkaran membuat berbagai program berbasis literasi budaya masyarakat di desa Denai Lama. Program-program ini tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dan lingkungan di desa Denai Lama. Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui pemaparan informan dan dokumen melalui informan maupun melalui instagram resmi Lingkaran Institute @lingkaran-institute @tbm-lingkaran @kafe-baca bahwa Lingkaran Institute sudah melakukan beberapa kegiatan yang berbasis literasi budaya antara lain sebagai berikut : 1) Kegiatan mengulik lebih dalam mengenai daerah sendiri dan akhirnya tercetus ide untuk mengangkat cerita rakyat ini menjadi suatu karya seni yaitu pertunjukan sendra tari paloh naga yang diadakan di Agrowisata paloh naga dan dibawakan juga dalam perlombaan nasional dan mendapat peringkat pertama. 2) Kegiatan rutin setiap hari minggu penampilan anak-anak sanggar di agrowisata paloh naga yang membawakan tari-tarian tradisional baik dari budaya lokal maupun budaya luar. 3) Kegiatan rutin 1 bulan 2 kali pertunjukan budaya dengan tema yang berbeda-beda (penampilan tari dari berbagai etnis, tari kreasi Puteri Bunga, pertunjukan tari kontemporer, fashion show hasil karya, tari kreasi kuthidieng, pertunjukan musik yang dibawakan oleh anak-anak sanggar lingkaran yang diadakan pada malam hari di kafe baca. 4) Kegiatan kolaborasi 3 sanggar seni (Sanggar Lingkaran, Sanggar Hang Tuah, Sanggar Serampang Laut) dalam acara Gelar Tari Tradisi Melayu yang pernah diadakan di kafe baca Lingkaran, yang mengusung konsep “Takkan Melayu Hilang di Bumi”. 5) Pesta rakyat Desa wisata kampoeng lama dengan berbagai macam acara kebudayaan seperti Karnaval budaya, Festival Budaya Melayu, Pagelaran Tari Mekarsi, Musik Tradisional, Lomba Melukis Budaya. 6) Pertunjukan teater dengan tema “3 Wan a” serial teater bangsawan melayu yang dikemas secara komedi yang diadakan di kafe baca lingkaran. 7) Pertunjukan tarian budaya collab bersama universitas fakultas bahasa dan seni UNIMED dengan tema “Master piece performing art” “Angguk Ritual” “Tari zapin adab dan budi” “Pertunjukan Makyon”. 8) Nonton bareng film budaya yang diadakan pada malam hari di kafe baca Lingkaran (Laskar pelangi, Pengejar angin, Serial Musikal Siti Nurbaya, Tenggelamnya kapal van der wijck). 9) Pesta permainan rakyat menggelar permainan tradisional yang berkolaborasi dengan sanggar lingkaran, pengkotrad beringin dan mahasiswa KKN UPB yang diadakan di agrowisata paloh naga. 10) Pertunjukan musik kelompok soerkam. Kelompok yang memadukan aransemen musik etnik dengan musik modern yang setiap karya yang mengandung filosofi dan yang memiliki nilai-nilai kearifan lokal dan cerita rakyat berbagai suku. Selain Kafe Baca, anak-anak tari yang dinaungi oleh Perpustakaan Lingkaran pula menunjukkan kemampuannya di Agrowisata Paloh Naga pada setiap minggu pagi. Pengunjung Agrowisata dapat menikmati pemandangan sawah sembari menjajaki jajanan tradisional pula diisi dengan pertunjukan dari tim tari yang menjadi hiburan tersendiri bagi para pengunjung. Perpustakaan Lingkaran yang berada dibawah naungan Lingkaran Institute tersebut. Perpustakaan Lingkaran terus berupaya dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan berbasis literasi budaya demi menyelamatkan anak-anak generasi calon penerus bangsa yang berasal dari desa Denai Lama, serta untuk mengenalkan literasi budaya kepada masyarakat luas. Untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan berbasis literasi budaya tersebut, Perpustakaan Lingkaran memiliki peran yang cukup besar dalam mengupayakan peningkatan literasi budaya di Desa Denai Lama tersebut, diantaranya: 1) Melakukan Pendekatan kemasyarakatan Pendekatan kemasyarakatan ini dilakukan karena masyarakat desa Denai Lama adalah target utama dari peningkatan literasi budaya tersebut. pendekatan yang dilakukan yaitu Lingkaran Institute menyediakan sarana bermain sambil belajar. Lingkungan belajar ini didesign dengan konsep menyenangkan dan ramah anak. Hal ini merupakan langkah awal Perpustakaan Lingkaran melakukan pendekatan pada masyarakat. Orang tua dari anak-anak yang belajar di Perpustakaan lingkaran pula turut mendapatkan edukasi parenting mengenai hal-hal dasar orang tua dan anak seperti sikap antara anak dan orang tua, bahasa yang sopan baik anak maupun orang tua, pendidikan maupun pergaulan anak. Pendekatan ke masyarakat ini sesuai dengan pernyataan (Erzad, 2018) bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh orang tua, sekolah, dan lingkungan. Perpustakaan Lingkaran terus berupaya untuk menciptakan lingkungan yang baik agar tercipta kepribadian yang baik pada masyarakat khususnya anak-anak desa Denai Lama. Lingkungan yang baik begitu berdampak pada pembentukan karakter seseorang, oleh karena itu Lingkaran institute sangat gencar untuk menciptakan lingkungan yang baik tersebut. Sehingga Perpustakaan Lingkaran dapat menjadi wadah pembentuk karakter anak-anak desa Denai Lama. 2) Mengajak masyarakat untuk ikut andil dalam kegiatan pemberdayaan Ajakan untuk turut andil pada kegiatan-kegiatan pemberdayaan ini diharapkan dapat meningkatkan kepekaan masyarakat desa akan pentingnya budaya serta manfaatnya bagi lingkungan. Masyarakat turut berpartisipasi dalam pemberdayaan masyarakat yang mana pada kegiatan pemberdayaan tersebut para orang tua diarahkan untuk membuat suatu karya kerajinan tangan yang memiliki nilai jual sehingga masyarakat tidak akan merasa sia-sia dalam mengikuti kegiatan pemberdayaan tersebut. Ada banyak hal positif dari kegiatan pemberdayaan tersebut selain adanya nilai jual dari produk yang diciptakan. Dampak positif lainnya yaitu tingkat kreatifitas dan berekspresi masyarakat menjadi lebih meningkat serta masyarakat perlahan meninggalkan kebiasaan tidak baik. Kegiatan pemberdayaan yang diadakan oleh Lingkaran Institute ini justru memberikan peluang usaha untuk meningkatkan perekonomian masyarakat desa. Sebagaimana pendapat (Rahman, 2011) bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat sangat berperan dalam peningkatan kemampuan serta keterampilan masyarakat sehingga masyarakat memiliki kapasitas yang lebih dalam memanfaatkan peluang serta berdampak positif pada berbagai aspek kehidupan dan salah satunya yaitu aspek ekonomi. Hal ini diperkuat oleh pernyataan asnawi pada penelitian Atmi et al., (2022) yang menyatakan bahwa perpustakaaan berperan dalam menciptakan kemakmuran di masyarakat karena perpustakaan merupakan sumber informasi utama masyarakat desa. 3) Melakukan Kegiatan Kebudayaan Perpustakaan Lingkaran turut aktif dalam kegiatan literasi di desa Denai Lama, yang dapat dilihat dari adanya program pendidikan karakter, membuat kereta pustaka, keranjang ilmu, kegiatan dongeng dan juga memegang peran yang penting sebagai agen kebudayaan yaitu dengan menghadirkan koleksi kebudayaan dan menjadi tempat dalam mengekspresikan dalam hal kebudayaan. Perpustakaan Lingkaran melakukan beberapa hal agar penerapan literasi budaya di desa Denai Lama dapat berjalan dengan baik, diantaranya yaitu; penyediaan bahan bacaan mengenai budaya, hal ini bertujuan agar masyarakat khususnya anak-anak semakin tertarik untuk membaca. Selanjutnya yaitu mengadakan pelatihan tentang literasi budaya serta bahayanya disinformasi di era teknologi informasi kini. Kegiatan lainnya yang yaitu mengadakan studi budaya seperti pengenalan budaya lokal, kunjungan ke tempat-tempat budaya dan lainnya. Terakhir yaitu mengadakan kegiatan dengan tema nasionalisme dan cinta tanah air. Pengenalan budaya yang dilakukan oleh perpustakaan Lingkaran dilakukan melalui berbagai kegiatan dan salah satu kegiatan pengenalan budaya yang dilakukan yaitu dengan tarian tradisional. Pengenalan budaya dengan memperkenalkan tarian ini dilakukan dengan mengekspresikan tarian tradisional dengan wajah baru dan inovasi baru (Indrayuda & Hadi, 2019). Tidak hanya meliputi tarian daerah saja, namun turut pula permainan tradisional dan pakaian tradisional yang ikut serta ditampilkan kepada para pengunjung. Pengenalan budaya ini tentunya menarik minat masyarakat desa Denai Lama dan para pengunjung kafe baca serta Agrowisata Paloh Naga. Permainan tradisional yang masih dimainkan anak-anak desa serta pakaian tradisional yang masih dikenakan pada acara tertentu cukup menarik perhatian dari masyarakat luar. Perhatian yang mulai didapatkan ini lah yang menjadi langkah awal masyarakat luar ingin mencari tahu lebih mengenai kebudayaan tradisional Indonesia. Dampak yang diperoleh dari pengenalan budaya ini tentunya tercipta generasi penerus yang berkarakter sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Budaya tidak dapat dihilangkan dari keseharian masyarakat Indonesia, untuk itu Perpustakaan Lingkaran sangat gencar mengembangkan kebudayaan Indonesia agar kebudayaan yang ada tetap lestari dan terus dikembangkan. Implementasi literasi budaya ini sejalan dengan yang dikemukakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam penelitian Saepudin et al., (2018) yang menyatakan bahwa literasi budaya yaitu kemampuan dalam bersikap pada kebudayaan Indonesia dan melestarikan kebudayaan tersebut sebagai identitas bangsa Indonesia. Dampak dari penerapan literasi budaya di desa Denai Lama dapat dilihat dari antusias masyarakat desa serta masyarakat luar daerah pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan olh Perpustakaan Lingkaran. Berbagai kegiatan yang telah dilakukan perpustakaan Lingkaran yang mendapatkan respon positif dari berbagai kalangan serta dengan kegiatan kebudayaan tersebut pula turut membantu masyarakat desa dalam peningkatan perekonomian menjadi bukti bahwa perpustakaan Lingkaran telah berhasil dalam mengenalkan literasi budaya pada masyarakat luas. Peningkatan ilmu dan keterampilan masyarakat desa Denai Lama tidak lepas dari peran Perpustakaan Lingkaran yang selalu mengutamakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat desa Denai Lama. Perpustakaan Lingkaran terus berupaya untuk mengembangkan desa Denai Lama dengan penerapan Literasi Budaya di Desa Denai Lama.
Conclusion
Zaman modern yang membawa masyarakat Indonesia mulai mempelajari danmengikuti budaya barat (luar negeri) menjadikan pemerintah harus dengan gencar melakukan sosialisasi pentingnya budaya agar nilai-nilai budaya Indonesia tidak luntur dimakan waktu. Perpustakaan Lingkaran dengan beberapa program literasi budayanya mengajak masyarakat luas khususnya masyarakat desa Denai Lama untuk mengetahui dan menyukai kebudayaan Indonesia. Perpustakaan Lingkaran yang terus menerus melakukan pendekatan kepada masyarakat dengan menyampaikan apa saja fungsi dan manfaat yang diperoleh dari budaya, serta mengajak masyarakat untuk terjun langsung pada kegiatan kebudayaan tersebut menjadikan masyarakat dapat merasakan dengan sendirinya bagaimana sensasi dan perasaan haru akan pentingnya kebudayaan. Perpustakaan Lingkaran sembari mengajak masyarakat ikut andil dalam kegiatan literasi budaya, pula turut menyampaikan dan menunjukkan secara nyata apa saja manfaat dari mempelajari kebudayaan selain untuk meningkatkan raya cinta tanah air yaitu berdampak pula pada perkembangan perekonomian masyarakat desa. Dengan berbagai manfaat dan dampak positif yang ada semakin banyak masyarakat desa Denai Lama hingga masyarakat dari luar daerah ikut tertarik dengan berbagai kegiatan literasi budaya yang dijalankan oleh Perpustakaan Lingkaran. Untuk itu, maka dapat dinyatakan bahwa Perpustakaan Lingkaran sangat berperan penting dalam peningkatan Literasi Budaya yang ada di Desa Denai Lama. Melihat antusias yang tinggi dari berbagai lapisan masyarakat menjadikan Perpustakaan Lingkaran optimis dan yakin bahwa Perpustakaan Lingkaran dapat memberikan dampak yang nyata dan positif dalam peningkatan Literasi Budaya di Desa Denai Lama. Perpustakaan Lingkaran pula akan terus melakukan berbagai inovasi untuk mengenalkan dan menanamkan budaya Tradisional Indonesia kepada masyarakat luas khususnya pada masyarakat desa Denai Lama.