Kembali
16
1
2025 Maktabatuna : Jurnal Kajian Kepustakawanan Vol 7 · 1 ISSN 2723-0171

Pemahaman Mahasiswa terhadap Sumber Rujukan Islam Digital dalam Pembelajaran Tafsir di Perguruan Tinggi

Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang; SMP Qu Cahaya Al-Qur?an Padang Panjang; Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang; Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Abstrak

Pemanfaatan sumber rujukan Islam berbasis digital semakin meningkat dalam mendukung pembelajaran tafsir. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman mahasiswa terhadap penggunaan sumber rujukan Islam digital, seperti Syamila.net, Waqfeya.net, dan Noor Book, serta implikasinya dalam meningkatkan literasi digital dalam pembelajaran tafsir. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan dilakukan pada bulan Oktober hingga Desember 2024. Responden adalah mahasiswa dari UIN Batusangkar dan UIN Imam Bonjol Padang yang telah menyelesaikan mata kuliah tafsir tarbawi dan tafsir. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 70% mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang dan 60% mahasiswa UIN Batusangkar belum sepenuhnya mengetahui platform sumber rujukan digital Islam. Meskipun 80% mahasiswa telah memanfaatkan sumber digital untuk tugas kuliah, sekitar 50% mengalami kesulitan dalam memanfaatkan fitur pencarian, dan lebih dari 70% belum pernah mendapatkan pelatihan literasi digital. Kesimpulannya, meskipun pemahaman mahasiswa terhadap sumber rujukan Islam digital cukup memadai, diperlukan pelatihan tambahan untuk mengoptimalkan kemampuan literasi digital mereka dalam pembelajaran tafsir.

Abstract

The use of digital-based Islamic reference sources is increasing to support tafsir learning. This article aims to analyze students' understanding of the use of digital Islamic reference sources, such as Syamila.net, Waqfeya.net, and Noor Book, as well as their implications in increasing digital literacy in tafsir learning. This research used a quantitative descriptive approach and was conducted from October to December 2024. Respondents were students from UIN Batusangkar and UIN Imam Bonjol Padang who had completed the tafsir Tarbawi and tafsir courses. Data was collected through an online questionnaire using Google Form, which included questions regarding accessibility, frequency of use, and level of understanding of digital reference sources. The research results show that the majority of students have a good level of digital literacy, but there are still challenges in terms of source selectivity and utilization of available search features. In conclusion, although students' understanding of digital Islamic reference sources is sufficient, additional training is needed to optimize their digital literacy skills.
Keywords: Student Understanding · Digital Islamic Reference Source · Digital Literacy · Interpretation Learning · Tafsir Tarbawi

Introduction

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam pendidikan, termasuk dalam pembelajaran agama Islam. Salah satu dampak positifnya adalah kemudahan akses terhadap sumber rujukan Islam digital, seperti Syamila.net, Waqfeya.net, dan Noor Book, yang kini semakin populer di kalangan mahasiswa. Literasi digital — kemampuan mencari, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi berbasis teknologi — menjadi kebutuhan utama dalam pembelajaran tafsir di era informasi (Gilster, 1997; Bawden, 2008). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital mampu meningkatkan efisiensi proses pembelajaran, termasuk di bidang studi keislaman (Hamid & Yusuf, 2020). Namun demikian, berbagai tantangan masih dihadapi. Kurangnya kemampuan dalam menilai keabsahan sumber serta keterbatasan dalam memanfaatkan fitur pencarian di platform digital menjadi hambatan umum (Hassan, 2018). Di perguruan tinggi Islam seperti UIN Imam Bonjol Padang dan UIN Batusangkar, mata kuliah tafsir tarbawi dan tafsir telah mendorong pemanfaatan sumber rujukan digital, tetapi belum seluruh mahasiswa mampu mengakses dan menggunakannya secara optimal. Kondisi ini mendorong perlunya penguatan literasi digital sebagai bagian dari pengembangan kompetensi mahasiswa dalam pembelajaran tafsir. Di perguruan tinggi Islam seperti UIN Batusangkar dan UIN Imam Bonjol Padang, mata kuliah tafsir tarbawi dan tafsir dirancang untuk memperkenalkan mahasiswa pada berbagai sumber keilmuan Islam, termasuk rujukan digital. Mata kuliah ini tidak hanya mengajarkan pemahaman konten, tetapi juga menekankan pentingnya kemampuan untuk memanfaatkan teknologi dalam studi Islam. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa memahami dan memanfaatkan sumber rujukan Islam digital sebagai bagian dari proses pembelajaran mereka (Nasution & Harahap, 2020). Dalam konteks UIN Imam Bonjol Padang, literasi digital mahasiswa dalam pembelajaran tafsir menjadi tantangan utama. Berdasarkan wawancara dengan mahasiswa di kelas bahwa banyak mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam mengakses dan memanfaatkan sumber rujukan Islam digital secara optimal, di antaranya menyatakan bahwa: “Beberapa di antara kami sering kali menggunakan sumber rujukan digital seperti Syamila.net dan Waqfeya.net hanya untuk mencari tafsir yang sudah tertera, tanpa benar-benar memahami bagaimana cara memverifikasi keabsahan sumber tersebut. Ada juga yang hanya mengandalkan hasil pencarian tanpa membaca konteksnya lebih dalam." Informan lain menyatakan bahwa tantangan utama adalah kurangnya pelatihan khusus terkait literasi digital yang mendalam. Hal ini berdampak pada ketergantungan mereka terhadap beberapa sumber saja, tanpa mengeksplorasi alternatif lain yang lebih relevan atau mendukung tugas perkuliahan. Informan lainnya juga menyoroti pengalaman pribadinya: " Kami sering merasa bingung saat menggunakan platform seperti Syamila.net. Memang banyak koleksi kitabnya, tapi tidak semua mahasiswa paham bagaimana cara mencari kitab tertentu, apalagi jika menggunakan bahasa Arab. " Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa sekitar 60% mahasiswa masih mengandalkan metode tradisional seperti fotokopi kitab, meskipun platform digital telah tersedia. Seorang mahasiswa menyatakan, “Kami sering menggunakan Syamila.net, tapi tidak paham bagaimana cara memverifikasi keabsahan sumber.” Sementara itu, dosen menyampaikan bahwa banyak mahasiswa hanya mengetahui nama platform tanpa memahami cara mengakses dan mencari kitab tertentu, terutama yang berbasis bahasa arab. Survei kecil di UIN Batusangkar menunjukkan bahwa 70% mahasiswa masih lebih nyaman dengan kitab cetak. Faktor lain seperti keterbatasan pelatihan, infrastruktur internet, serta minimnya waktu dalam kurikulum turut memperburuk kondisi ini. Mahasiswa juga kerap mengalami kebingungan saat menentukan validitas sumber digital, yang berpotensi menurunkan kualitas pembelajaran tafsir. Beberapa studi sebelumnya telah menekankan pentingnya integrasi literasi digital ke dalam kurikulum pendidikan Islam guna mendorong efisiensi dan kualitas pembelajaran (Ahmed, 2019; Rosli dkk., 2021). Di era globalisasi, keterampilan ini menjadi esensial untuk menunjang kesiapan mahasiswa menghadapi dunia akademik dan profesional (UNESCO, 2022). Hal ini menjadi perhatian utama dalam pembelajaran tafsir, yang membutuhkan ketelitian dalam memahami dan menafsirkan teks-teks suci. Peningkatan aksesibilitas sumber digital juga membawa tantangan baru dalam pengelolaan informasi (S. Ahmed, 2019). Menurut Abdullah (2021), mahasiswa sering kali merasa kewalahan dengan banyaknya pilihan sumber digital yang tersedia, sehingga berdampak pada efektivitas pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana mahasiswa mampu memanfaatkan sumber rujukan digital secara efektif, terutama dalam memahami tafsir Al-Qur'an (M. Abdullah, 2021). Penggunaan teknologi dalam pendidikan Islam menjadi salah satu fokus pengembangan kurikulum di perguruan tinggi Islam. Oleh karena itu, penelitian ini juga relevan untuk memberikan masukan terhadap pengembangan kurikulum yang berbasis teknologi digital. Dalam konteks globalisasi, literasi digital merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh mahasiswa untuk bersaing di dunia kerja maupun dalam dunia akademik (Hassan & Abdullah, 2019). Berdasarkan latar tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pemahaman mahasiswa terhadap sumber rujukan Islam digital, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, serta memberikan rekomendasi untuk meningkatkan literasi digital dalam mendukung pembelajaran Tafsir di perguruan tinggi Islam, khususnya UIN Imam Bonjol Padang dan UIN Batusangkar.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif untuk menganalisis pemahaman mahasiswa terhadap sumber rujukan Islam digital dalam pembelajaran tafsir. Pendekatan ini bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau fenomena berdasarkan data kuantitatif yang diperoleh dari responden. Populasi penelitian adalah mahasiswa UIN Batusangkar dan UIN Imam Bonjol Padang yang telah mengikuti mata kuliah tafsir tarbawi dan tafsir. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik purposive sampling, dengan kriteria mahasiswa yang telah menggunakan sumber rujukan digital seperti Shamela, Waqfeya, dan Noor Book. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang disebarkan menggunakan Google Form. Kuesioner tersebut terdiri dari pertanyaan tertutup dan terbuka yang dirancang untuk mengukur aspek-aspek seperti aksesibilitas, frekuensi penggunaan, tingkat pemahaman, dan kemampuan mahasiswa dalam memanfaatkan fitur-fitur sumber digital. Selain itu, wawancara dilakukan dengan beberapa mahasiswa dan dosen untuk melengkapi data kuesioner dan memberikan konteks yang lebih mendalam terhadap hasil penelitian. Data yang terkumpul dianalisis secara kuantitatif menggunakan teknik statistik deskriptif. Analisis ini mencakup perhitungan persentase, rata-rata, dan distribusi data untuk menggambarkan tingkat pemahaman mahasiswa secara menyeluruh. Untuk data kualitatif dari wawancara, dilakukan analisis tematik untuk mengidentifikasi tantangan utama dalam penggunaan sumber digital dan kebutuhan pelatihan literasi digital. Penelitian ini dilakukan dalam rentang waktu Oktober hingga Desember 2024. Selama proses penelitian, peneliti memastikan validitas dan reliabilitas instrumen penelitian melalui uji coba pada sekelompok kecil mahasiswa sebelum distribusi kuesioner secara luas. Dengan metode ini, penelitian berusaha memberikan gambaran yang komprehensif mengenai tantangan dan peluang literasi digital dalam pembelajaran tafsir di perguruan tinggi islam.

Result & Discussion

Bagian ini adalah analisis komparatif terhadap dua hasil angket yang dilakukan di dua kelompok mahasiswa berbeda, yaitu mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang dan mahasiswa UIN Batusangkar. Tujuan dari analisis ini adalah untuk melihat persamaan dan perbedaan antara kedua kelompok dalam aspek pemahaman, penggunaan, dan tantangan dalam mengakses sumber rujukan Islam digital. Berdasarkan hasil angket, mayoritas mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang, lebih dari 70%, tidak mengetahui atau hanya mengetahui sebagian platform sumber rujukan Islam digital seperti Shamela.net, Waqfeya.net, atau Noor Book. Sementara itu, pada mahasiswa UIN Batusangkar, angka ini sedikit lebih rendah, yaitu sekitar 60%. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap sumber-sumber digital masih terbatas di kedua kelompok, meskipun mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang memiliki tingkat ketidaktahuan yang lebih tinggi. Dalam hal penggunaan sumber digital, lebih dari 80% mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang menggunakan sumber digital untuk mengerjakan tugas kuliah, sedangkan pada mahasiswa UIN Batusangkar, angka ini sedikit lebih rendah, yaitu sekitar 75%. Selain itu, kedua kelompok juga menunjukkan bahwa mereka sering mencari informasi saat ingin memahami ayat tertentu atau saat berdiskusi di kelas. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan penggunaan sumber digital relatif sama di kedua kelompok. Dalam aspek frekuensi kebutuhan informasi, sekitar 60% responden di kedua kelompok mengaku sering membutuhkan informasi dari sumber rujukan Islam digital dalam pembelajaran tafsir. Mayoritas dari mereka memberikan skor tinggi (4-5) dalam skala Likert, yang menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap sumber digital sangat tinggi di kedua kelompok. Ketika pencarian pertama tidak berhasil, lebih dari 50% responden dari kedua kelompok memilih untuk mengubah kata kunci pencarian mereka. Namun, pada mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang, terdapat kecenderungan yang lebih tinggi untuk bertanya kepada dosen atau teman dibandingkan mahasiswa UIN Batusangkar, yang lebih memilih mencari sumber alternatif. Baik mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang maupun mahasiswa UIN Batusangkar menunjukkan pola yang mirip dalam hal jenis informasi yang dicari. Mayoritas mahasiswa di kedua kelompok mencari tafsir ayat tertentu atau melakukan perbandingan metode tafsir dari berbagai kitab. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa lebih fokus pada pemahaman mendalam terhadap suatu ayat. Sebagian besar mahasiswa dari kedua kelompok memberikan nilai di atas rata-rata (skala 3-4) dalam hal kemudahan menemukan kitab atau sumber yang relevan di platform digital. Namun, pada mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang, terdapat lebih banyak responden yang merasa kesulitan dalam pencarian dibandingkan mahasiswa UIN Batusangkar. Dalam aspek kredibilitas sumber, sekitar 50% responden dari kedua kelompok menyatakan bahwa mereka selalu memeriksa keabsahan dan kredibilitas sumber sebelum menggunakannya. Namun, metode yang digunakan sedikit berbeda; mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang lebih sering membandingkan dengan kitab lain, sedangkan mahasiswa UIN Batusangkar lebih banyak mengandalkan reputasi platform tempat sumber tersebut diakses. Sebanyak lebih dari 70% responden di kedua kelompok belum pernah mengikuti pelatihan literasi digital terkait penggunaan sumber rujukan Islam. Hal ini menunjukkan perlunya inisiatif pelatihan literasi digital yang lebih masif untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam mencari dan mengevaluasi sumber digital. Dalam hal kesulitan pencarian, sekitar 40% responden dari mahasiswa UIN Batusangkar menyatakan sering mengalami kesulitan saat mencari referensi tafsir, sementara pada mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang, angka ini lebih tinggi, sekitar 50%. Faktor utama yang menjadi hambatan adalah keterbatasan fitur pencarian dan kurangnya informasi yang tersedia dalam bahasa yang mereka pahami. Dalam membantu mahasiswa memahami penggunaan sumber digital, sekitar 50% responden dari kedua kelompok memberikan skor sedang (3-4) terhadap peran dosen. Namun, mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang cenderung lebih banyak memberikan skor rendah (1-2), yang mengindikasikan bahwa dukungan dari dosen dalam kelompok ini masih lebih rendah dibandingkan mahasiswa UIN Batusangkar. Mayoritas mahasiswa di kedua kelompok memberikan skor tinggi (4-5) terhadap efektivitas pencarian informasi di sumber digital Islam. Namun, sekitar 30% dari mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang merasa kurang puas (skor 1-2), sementara di mahasiswa UIN Batusangkar, persentase ketidakpuasan lebih rendah, sekitar 25%. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang menghadapi lebih banyak tantangan dalam efektivitas pencarian. Secara keseluruhan, kedua kelompok memiliki pola yang serupa dalam penggunaan sumber rujukan Islam digital, namun ada beberapa perbedaan mencolok. Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang memiliki tingkat kesulitan pencarian yang lebih tinggi dan lebih sedikit dukungan dari dosen dibandingkan mahasiswa UIN Batusangkar. Selain itu, mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang juga memiliki tingkat ketidaktahuan yang lebih tinggi tentang platform digital Islam. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih besar untuk meningkatkan literasi digital di kelompok ini, serta memastikan akses yang lebih luas terhadap sumber digital yang berkualitas bagi kedua kelompok.

Conclusion

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kebutuhan tinggi terhadap sumber rujukan Islam digital dalam pembelajaran tafsir, dengan sekitar 80% menggunakan platform seperti Syamila.net, Waqfeya.net, dan Noor Book untuk tugas akademik dan diskusi kelas. Meskipun demikian, sekitar 70% mahasiswa belum pernah mengikuti pelatihan literasi digital, dan 50% di antaranya mengalami kesulitan dalam menggunakan fitur pencarian. Tingkat pemahaman terhadap kredibilitas sumber juga masih bervariasi, di mana mahasiswa umumnya mengandalkan reputasi platform atau membandingkan dengan kitab lain sebagai metode verifikasi. Tantangan terbesar ditemukan pada mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang yang mencatat tingkat ketidaktahuan terhadap platform digital mencapai lebih dari 70%, disertai rendahnya dukungan dosen dalam proses pembimbingan. Berdasarkan temuan tersebut, diperlukan upaya sistematis dari institusi dan dosen untuk mengintegrasikan pelatihan literasi digital ke dalam kurikulum, menyelenggarakan workshop teknis pencarian dan evaluasi informasi digital, serta meningkatkan infrastruktur pendukung. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mampu mengakses sumber digital, tetapi juga dapat memanfaatkannya secara kritis dan optimal dalam pembelajaran tafsir di era digital ini.