Kembali
16
1
2025 Maktabatuna : Jurnal Kajian Kepustakawanan Vol 7 · 2 ISSN 2723-0171

Analisis Bibliometrik Penelitian Tentang Studi Islam Pada Perpustakaan di Database Web of Science (2004 – 2024)

Universitas Airlangga

Abstrak

Studi yang berkaitan dengan Islam mendapatkan atensi yang tinggi secara global. Hal ini dikarenakan Islam tidak hanya mencakup mengenai agama, tetapi juga ekonomi, keuangan, serta budaya masyarakat. Kontribusi perpustakaan terhadap penelitian tentang studi Islam diperlukan sebagai penyedia informasi dan literasi publik. Studi ini bertujuan untuk mengobservasi bagaimana popularitas penelitian tentang studi Islam pada Web of Science (SCI). Studi ini menggunakan data sekunder yang didownload dari website SCI. Studi ini menganalisis 174 artikel Web of Science (2004 – 2024) dengan bibliometrik menggunakan R Studio Biblioshiny. Sampel didownload dalam bentuk CSV file dan dianalisis dengan software R studio untuk dianalisis kata - kata yang sering digunakan pada judul dan abstrak, jumlah sitasi, tren kata kunci yang digunakan tiap tahun, serta afilisi yang paling banyak mendapatkan sitasi. Selain itu, kata kunci dominan ( Islamic , libraries , Malaysia , library , study ), dengan Malaysia dan Pakistan sebagai kontributor uta ma, namun kolaborasi internasional masih rendah (14,37%). Evolusi topik bergeser dari tema infrastruktur ( academic libraries ) ke isu substantif Islam ( Islam, wakaf, keuangan ). Iran, Arab Saudi, dan Pakistan menjadi afiliasi paling banyak disitasi, menegaskan dominasi regional serta celah riset tentang peran perpustakaan dalam literasi sosial - ekonomi Islam

Abstract

Studies related to Islam have received significant global attention. This is because Islam encompasses not only religion but also economics, finance, and community culture. Libraries' contributions to Islamic studies research are essential as providers of public information and literacy. This study aims to observe the popularity of Islamic studies research on the Web of Science (SCI). This study uses secondary data downloaded from the SCI website. This study analyzed 174 Web of Science articles (2004 – 2024) using bibliometrics using R Studio Biblioshiny. The samples were downloaded as CSV files and analyzed using R Studio software to analyze frequently used words in titles and abstracts, the number of citations, annual keyword trends, and the most cited affiliations. Furthermore, the dominant keywords (Islamic, libraries, Malaysia, library, study) were found, with Malaysia and Pakistan as the main contributors. However, international collaboration remained low (14.37%). The topic evolution shifted from infrastructure themes (academic libraries) to substantive Islamic issues (Islam, waqf, finance). Iran, Saudi Arabia, and Pakistan are the most cited affiliates, highlighting regional dominance as well as the research gap on the role of libraries in Is lamic socio - economic literacy.
Keywords: Economy · finance · Islamic literacy · li brary Ekonomi · Keuangan · Literasi Islam · Perpustakaan

Introduction

Pustakawan di era modern memiliki tanggung jawab yang luas, yang dapat bervariasi tergantung pada jenis perpustakaan tempat mereka bekerja (Fatmawati 2018) . Dimasa lalu, pekerjaan seorang pustakawan hanya terfokus pada memperoleh dan mengatur koleksi, serta memilih dan memperoleh bahan baru untuk koleksi perpustakaan mereka (Pratiwi, Wardhana, and Rusgianto 2022) . Setelah diperoleh, pustakawan membuat katalog sehingga pelanggan dapat dengan mudah menemukan apa yang mereka cari (Mafruchati et al. 2023) . Pustakawan tugasnya berbeda tergantung pada dimana lembaga mereka bernaun g. Pustakawan pada universitas i slam dan pada ponpes serta lembaga - lembaga Islam berbeda tugasnya dengan pustakawan pada perpustakaan publik yang dikelola oleh pemerintah kota ataupun pustakawan pada perpustakaan didalam sekolah (Ghifara et al. 2022) . Perpustakaan i slam adalah perpustakaan yang mengkhususkan diri pada bahan - bahan Islami, seperti Alquran, hadits, dan teks - teks keagamaan lainnya (Iman et al. 2022) . Perpustakaan Islam memainkan peran penting dalam melestarikan d an mentransmisikan pengetahuan i slam (Wardhana 2022) . Oleh karena itu , pustakawan pada perpustakaan i slam harus menguasai tidak hanya ilmu perpustakaan, teta pi juga literasi tentang studi i slam serta aspek - aspek sosial ekonomi dalam i slam (Salamon 2016) . Studi tentang agama Islam mencakup keuangan sosial i slam, teologi, filsafat, pendidikan, dan budaya. Pengenalan wakaf merupakan salah satu topik dalam studi Islam. Wakaf merupakan aspek penting dari yurisprudensi dan filantropi Islam (Qosim et al. 2023) . Berakar pada ajaran i slam, wakaf melibatkan sumbangan aset, seperti tanah, bangunan, atau uang, untuk tujuan amal dengan cara yang memberi manfaat bagi masyarakat secara terus - menerus (Pratiwi, Wardhana, and Rusgianto 2022) . Tidak seperti sumbangan konvensional, wakaf bersifat unik karena aset utamanya tetap utuh sementara hanya pendapatan yang dihasilkan yang digunakan untuk tujuan amal yang ditentukan. Signifikansi historis wakaf sangat mendalam, karena telah memainkan peran penting dalam pengembangan infrastruktur sosial di dunia m uslim, mendanai masjid, sekolah, rumah sakit, dan berbagai lembaga kesejahteraan (Wardhana 2021) . Dalam studi keuangan dan hukumi Islam, wakaf diteliti melalui sudut pandang Syariah, yang menyediakan kerangka hukum untuk pendirian dan pengelolaannya. Para sarjana menyelidiki seluk - betuk kondisi dan ketentuan yang mengatur wakaf, memastikan keselarasanny a dengan prinsip - prinsip i slam (Juliansyah et al. 2021) . Donor, yang dikenal sebagai wakif, menentukan tujuan dan penerima manfaat wakaf, yang harus sah dan bermanfaat bagi masyarakat. Pengelolaan wakaf, yang sering dipercayakan kepada mutawalli (wali amanat), diuraikan dengan cermat untuk menjaga aset dan memastikan keberlanjutan tujuan amal (Santoso and Kusuma 2023) . Pe nelitian mengenai perpustakaan i slam terhadap aspek literasi masyarakat tentang wakaf belum begitu banyak ada pada studi - studi pendahulu. Literasi masyarakat tentang syariat Islam perlu untuk ditingkatkan, terutama dalam bidang ekonomi dan keuangan. Terlebih lagi, penelitian mengenai topik tersebut pada jurnal - jurnal terindeks internasional seperti Web of science (SCI) sebagai lembaga indeksasi tidak begitu banyak yang menyinggung per i hal peran perpustakaan islam terhadap literasi masyarakat di Indonesia . Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk mengobservasi aspek - aspek yang paling banyak dibahas oleh pe nelitian mengenai perpustakaan i slam pada jurnal - jurnal terindeks SCI.

Method

Studi ini menggunakan metode kuantitatif bernama bibliometrik untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang dikumpulkan pada website Web of science (SCI). Alasan mengapa studi ini menggunakan data - data tentang b erbagai karya ilmiah yang telah terpublikasi pada jurnal - jurnal terindeks SCI karena SCI merupakan salah satu lembaga indeksasi jurnal internasional yang kredibel selain Scopus (Okagbue et al. 2020) . SCI juga memudahkan para pengguna untuk mendownload data sekunder dalam bentuk Excel yang mana dapat dibaca dengan mudah oleh publik (Wardhana and Ratnasari 2022) . Studi ini mengumpulkan sampel dengan mengetik beberapa kata kunci atau disebut juga sebagai query pada fitur pencarian di halam website SCI. Kata kunci tersebut yakni Islam* (Topic) AND Stud* (Topic) AND library (Topic) . Ada 563 sampel ditemukan, dan sampel diverifikasi dan dieliminasi jika tidak sesuai dengan kriteria. Kriteria paper - paper sebagai sampel penelitian yakni "(bukan berbentuk article atau conference paper ) , (bukan merupakan bidang studi sosiologi, perpustakaan, antropologi, sastra, komunikasi, kajian budaya, ekonomi, keungan, serta bisnis), dan tidak menggunakan bahasa Inggris". Setelah dilakukan eliminasi, tersisa sekitar 174 sampel. Sampel diambil dari pap er yang terindeks di website SCI mulai tahun 2004 - 2024. Sampel disimpan dalam bentuk plain text file agar dapat dianalisis dengan perangkat bibliometrik. Sebelum diekspor dalam bentuk file, konten data yang dipilih pada bagian menu ekspor di website SCI yakni full record and cited reference. Saat mengekspor paper, hendaknya peneliti memilih records from 1 to…, bukan memilih all records on this page, agar semua karya ilmiah yang telah didapatkan sebagai sampel data - datanya dapat masuk semuanya kedalam file. File yang tersimpan biasanya bernama savedrecs . Data dianalisis dengan menggunakan metode bibliometrik. Aplikasi yang digunakan untuk menjalankan metode bibliometrik yakni R Studio dengan fitur Biblioshiny. Ada beberapa kriteria yang diteliti pada studi ini, yang pertama yakni jumlah sitasi dan perkembangan sitasi, kata yang paling banyak digunakan pada judul. Analisis sitasi penting untuk diteliti untuk mengetahui popularitas suatu topik yang diteliti pada sekelompok karya ilmiah terhadap jumlah pembaca yang dinilai dengan banyaknya sitasi yang didapat kan (Qosim et al. 2023) . Kriteria yang diteliti kedua yakni kata yang paling sering digunakan pada bagian judul, abstrak, serta kata kunci pada setiap parya ilmiah. Kata - kata yang paling sering digunakan dapat melambangkan topik yang sering dibahas pada beberapa karya ilmiah, dima na topik tersebut sedang digandrungi oleh para akademisi.

Result & Discussion

Perpustakaan i slam telah memainkan peran penting dalam melestarikan pengetahuan i slam. Mereka telah mengumpulkan dan menyimp an manuskrip, buku, dan materi i slam lainnya selama berabad - abad. Hal in i memastikan bahwa pengetahuan i slam telah diwariskan dari generasi ke generasi, dan masih dapat diakses hingga saat ini. Tabel 1 memperlihatkan bahwa dengan jumlah dokumen sekitar 174 dalam 33 tahun terakhir, perkembangan jumlah dokumen berdasarkan topik perpustakaan Islam hanya sekitar 7.58%, dimana hal tersebut sangatlah kecil. berdasarkan studi oleh (Larsen and Von Ins 2010) , tingkat pertumbuhan publikasi tulisan ilmiah dalam jurnal peer - review memang meningkat dari waktu ke waktu. Namun, tingkat pertumbuhan tersebut menurun dikarenakan banyaknya akademisi, terutama pada negara - negara berkembang menggunakan saluran baru, seperti prosiding dan konferensi, dimana persentasi tulisan ilmiah mereka diterima untuk diterbitkan lebih tinggi . Studi ini juga berpendapat bahwa model penerbiatn seperti article in press lebih cepat dalam memperbanyak perkambangan jumlah tulisan ilmiah den gan topik tertentu (Mafruchati and Makuwira 2021) . Mereka berpendapat bahwa model baru dalam penerbitan tulisan ilmiah perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan perubahan sifat komunikasi ilmiah oleh para akademisi didunia (Ryandono et al. 2022) . Tabel 2 memperlihatkan bahwa jumlah dengan jumlah penulis yang mencapai 346, hanya 48 dokumen yang menggunakan penulis tunggal. Hal ini sangat bagus karena jumlah dokumen dengan penulis yang beragam akan semakin memperkaya konten dari tulisan ilmiah tersebut. Namun, persentase kolaborasi antara penulis local dengan penulis luar negeri hanya sekitar 14.37%, dimana jumlahnya sangat s edikit sekali. Menurut Rumus subramanyan, yakni C= Nm/(Nm+Ns) , dimana Nm adalah jumlah artikel yang ditulis secara kolaboratif dan Ns merupakan jumlah artikel yang ditulis secara individu menunjukkan bahwa tingkat kolaborasi penulis yakni 52/(52+48)=0.52. itu berarti derajat tingkat kolaborasi penulis lebih dari separuh (Adirestuty et al. 2025) . Hal ini akan memperbesar kekayaan isi dari suatu tulisan ilmiah, dimana kolaborasi penulis antar negara dapat memberikan wawasan yang lebih luas pada konten tulisan ilmiah (Mendo et al. 2023) . Mereka mempunyai sumberdaya, latar pendidikan dan budaya, serta wawasan yang berbeda dalam meneliti suatu objek penelitian yang sama, sehingga kolaborasi dapat memperkaya kebaruan penelitian tersebut (Fauzi, Ulfah, and Wijayanti 2024) . Gambar 1 memperlihatkan bahwa negara yang paling disebut pada topik perpustakaan i slam adala h Malaysia. Ini berarti bahwa akademisi yang paling banyak membahas mengenai perpustakaan i slam berasal da ri Malaysia, atau perpustakaan i slam paling berkembang di negara Malaysia. Dalam lanskap pendidikan tinggi, perpustakaan bukan sekadar ruang penyimpanan buku, melainkan aktor epistemik yang membentuk kapabilitas akademik mahasiswa dan dosen. Gambar 1 memperlihatkan lima kata kunci terbesar frekuensinya seperti Islamic , libraries , Malaysia , library , dan study, dapat dirumuskan kerangka kolaboratif yang menempatkan perpustakaan sebagai katalisator pengembangan studi Islam. Esai ini mengaitkan peran strategis perpustakaan dengan teori Capability Approach oleh Amartya Sen, yang menekankan pentingnya memperluas kebebasan dan kemampuan individu untuk mencapai fungsi - fungsi yang mereka nilai (Shara 2022; Ichsan et al. 2020) . Kata Islamic pada gambar 1 mencerminkan orientasi nilai dalam studi Islam. Perpustakaan berperan sebagai penjaga dan penyedia sumber primer seperti Al - Qur’an, Hadis, dan kitab klasik, serta literatur kontemporer yang relevan. Melalui pelatihan etika riset Islam (Muslimin 2019) , perpustakaan memperluas kapabilitas sivitas akademika untuk melakukan penelitian yang berintegritas, bebas plagiarisme, dan berbasis adab ilmiah (Qosim and Buhori 2022; Susanto et al. 2025) . Kolaborasi dalam penyusunan kurikulum berbasis pustaka juga memungkinkan mahasiswa dan dosen mengakses sumber yang bermakna, sesuai dengan nilai - nilai yang mereka junjung (Fatihah 2018) . Menurut teori Capability Approach , akses terhadap literatur Islam bukan hanya soal ketersediaan sumber, tetapi tentang kemampuan aktual mahasiswa dan dosen untuk menggunakannya secara bermakna dalam proses belajar dan berkarya (Shara, Kholis, and Ikhsan 2024; Ma`arif and Rusydi 2020) . Tabel 3 memperlihatkan bahwa beberapa kata yang memiliki frekuensi tinggi seperti Pakistan, Islam, academic libraries, dan Malaysia. Data pada table 3 menunjukkan dimana selama satu decade terakhir mengungkapkan pola yang menarik. Terdapat empat istilah dominan dengan frekuensi tinggi yang muncul secara berurutan: Malaysia (2013), Academic Libraries (2014), Islam (2016), dan Pakistan (2018). Secara kasat mata, tabel 3 hanya menunjukkan pergeseran topik riset. Namun, apabila dibedah menggunakan teori Capabi lity Approach (Pendekatan Kapabilitas) oleh Amartya Sen, data tersebut menggambarkan sebuah proses dari perpustakaan sebagai sekedar pemilik infrastruktur menjadi agen pembawa perubahan untuk kemajuan intelektual studi Islam. Teori Amartya Sen memberikan kerangka dasar bahwa kesejahteraan dan kemajuan tidak semata - mata diukur dari sumber daya yang dimiliki ( resources/commodities ) (Sen 1984) , melainkan dari apa yang sesungguhnya mampu dilakukan oleh individu dengan sumber daya tersebut ( capabilities & functionings ) (Fuadah and Marwini 2024; Nurjanah et al. 2025) . Dalam konteks ekosistem pengetahuan, "sumber daya" dapat berupa koleksi buku, jurnal, dan gedung perpustakaan ( commodities ) (Arrafi, Marwini, and Dja’akun 2022) . Namun, agar buku - buku tersebut berubah menjadi pengetahuan yang bermanfaat, diperlukan faktor yang dapat mengkonversi sumber daya tersebut seperti kemampuan literasi individu, dukungan sosial, dan kebijakan negara. Hal tersebut dapat menghasilkan peluang ( capabilities ) yang dieksekusi menjadi pencapaian nyata ( functionings ), seperti produksi riset ilmiah. Menerapkan kerangka kerja ini pada data tabel, istilah "Academic Libraries", yang mendominasi pada tahun 2014, merepresentasikan tahap penyediaan Commodities atau sumber daya. Dalam pandangan Sen, perpustakaan adalah sarana ( means ), bukan tujuan akhir. Keberadaan indikasi besar pada istilah ini menandakan bahwa pada periode tersebut, fokus utama komunitas akademik adalah pada pembangunan dan penguatan infrastruktur pengetahuan. Perpustakaan perguruan tinggi diposisikan sebagai inve stor yang menyediakan akse s fisik dan digital (Irawati and Haidar 2023; Chen, Hsiao, and Wu 2018) . Kendati demikian, Sen berargumen bahwa sekadar memiliki perpustakaan tidaklah cukup; infrastruktur tersebut harus dapat diakses dan relevan agar memiliki nilai guna (Nurjanah et al. 2025; Ma’ruf et al. 2025) . Agar sumber daya perpustakaan tersebut dapat dikonversi menjadi output keilmuan, diperlukan lingkungan pendukung yang kondusif. Di sinilah peran istilah "Malaysia" (2013) dan "Pakistan" (2018) menjadi krusial. Kedua negara ini bertindak sebagai Environmental Conversion Factors atau faktor konversi Kemunculan dominan kedua negara ini sebagai pusat riset menunjukkan bahwa kapabilitas untuk mengembangkan studi Islam terjadi pada ekosistem kebijakan pendidikan Islam yang kuat, pendanaan riset, serta budaya akad emik di negara mayoritas Muslim agar sumber daya perpustakaan yang ada dikonversi secara efektif menjadi kegiatan intelektual (Marwini 2021; Qosim 2022) . Negara - negara ini menyediakan ekosistem yang dapat mempercepat transformasi sumber daya perpustakaan menjadi pemahaman ilmu pada akademisi. Dalam kerangka teori Capability Approach yang dikemukakan oleh Amartya Sen, proses percepatan transformasi ini adal ah manifestasi dari Valued Functioning atau capaian yang dihargai (Marwini et al. 2025) . Pergeseran tren dari fokus institusional ("Academic Libraries") menuju materi subjek ("Islam") menandakan bahwa perpustakaan telah sukses menjalankan fungsinya. Para peneliti dan mahasiswa tidak hanya berhenti pada tahap mengunjungi perpustakaan, tetapi mereka telah berhasil memanfaatkan kapabilitas yang ada untuk memproduksi pengetahuan nyata tentang Islam (Majid and Kassim 2000) . Hal ini membuktikan bahwa infrastruktur yang dibangun (2014) dan didukung oleh lingkungan yang kondusif (Malaysia/Pakistan), pada akhirnya berfokus pada pencapaian tujuan intelektual yang substansial.

Conclusion

Berdasarkan hasil diatas, dapat disimpulkan bahwa penelitian - penelitian terdahulu tentang perpustakaan Islam menunjukkan tren meningkat namun masih terbatas jumlahnya. Fokus utama penelitian terdahulu menurut hasil analisis data pada studi ini ada pada ka ta kunci Islamic , libraries , Malaysia , library , dan study . Kolaborasi penulis cukup tinggi di tingkat lokal, tetapi masih rendah secara internasional. Malaysia dan Pakistan muncul sebagai pusat riset dengan ekosistem akademik yang mendukung. Perpustakaan Islam perlu bertransformasi dari sekadar penyedia koleksi menjadi fasilitator kapabilitas akademik. Langkah strategis meliputi digitalisasi manuskrip, pelatihan literasi berbasis nilai Islam, kolaborasi regional dan internasional, serta program literasi wakaf dan keuangan syariah. Selain itu, pengembangan zona riset tematik, repository ilmiah, dan forum akademik sangat penting. Penelitian selanjutnya dapat berfokus lebih jauh mengenai pada evaluasi program literasi wakaf, studi komparatif antar negara, pengembangan indikator kapabilitas akademik berbasis perpustakaan, serta integrasi bibliometrik dengan analisis sosial. Dengan de mikian, perpustakaan Islam dapat menjadi aktor strategis dalam pembangunan intelektual dan sosial umat.