Urgensi Layanan Takhrij Hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang; Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang; Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Abstrak
Takhrij Hadis adalah kegiatan menelusuri hadis pada kitab sumber aslinya, merangkai perawi atau sanadnya, melihat penilaian ulama terhadap mereka serta akhirnya bisa ditentukan kualitasnya; shahih, hasan, dha’if. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui urgensi layanan takhrij hadis pada Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara pada dosen pengampu mata kuliah Ilmu Hadis dan pemustaka, observasi lapangan, studi pustaka serta dokumentasi. Selanjutnya, data dianalisis dari sumber-sumber terkait penelitian ini, menyajikan data dan menyimpulkan tentang hasil peneltian yaitu urgensi layanan takhrij hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang. Selanjutnya hasil dan pembahasan yang dikaji adalah pengertian, metode dan tujuan, daftar kitab yang dibutuhkan dalam takhrij hadis, layanan takhrij hadis di Ruang Referensi Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang, sumber informasi yang dibutuhkan dalam takhrij hadis, prosedur layanan dan urgensi layanan takhrij hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang. Kesimpulannya bahwa koleksi pendukung Takhrij Hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang sangat memadai, sangat mudah diakses, tempat atau ruang layanan juga memadai, sehingga Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang sangat urgen sebagai tempat melakukan Takhrij Hadis oleh pemustaka baik mahasiswa ataupun dosen yang mengajarkan mata kuliah ini.
Abstract
Takhrij Hadith is the activity of tracing hadith from the original source book, assembling the narrators or sanad, looking at the scholars' assessment of them and finally determining their quality; authentic, hasan, dha'if. The aim of this research is to determine the urgency of takhrij hadith services at the UIN Imam Bonjol Padang Library. This research uses a qualitative descriptive method by collecting data through interviews with lecturers who teach Hadith Science courses and readers, field observations, literature studies and documentation. Next, the data was analyzed from sources related to this research, presented the data and concluded about the results of the research, namely the urgency of the hadith takhrij service at the UIN Imam Bonjol Padang Library. Furthermore, the results and discussions studied are the meaning, methods and objectives, list of books needed in takhrij hadith, takhrij hadith services in the Library Reference Room at UIN Imam Bonjol Padang, sources of information needed in takhrij hadith, service procedures and urgency of takhrij hadith services in the Library UIN Imam Bonjol Padang. The conclusion is that the supporting collection for Takhrij Hadith in the UIN Imam Bonjol Padang Library is very adequate, very easy to access, the place or service space is also adequate, so that the UIN Imam Bonjol Padang Library is very urgent as a place to carry out Takhrij Hadith by users, both students and lecturers who teach this course.
Keywords:
Layanan Perpustakaan
· Penelusuran Hadis
· Layanan Takhrij Hadis
Introduction
Hadis Nabi adalah sumber ajaran Islam kedua. Agar bisa diamalkan dan dijadikan hujjah atau dasar hukum, hadis wajib diuji kualitas sanad dan matannya. Sebab tidak semua hadis diriwayatkan mutawatir, bahkan mayoritas hadis diriwayatkan secara ahad dan oleh beberapa orang saja. Apalagi periwayatan hadis sezaman dengan penurunan al-Qur’an. Kekhawatiran ikhtilath dengan al-Qur’an menuntut sahabat menghafalkan hadis. Pemalsuan dan penyalahgunaan hadis tahun 41 H melonggarkan ke-muttashil-an riwayatnya. (Majid Khon, 2014) Oleh karena itu, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-109 H), hadis dibukukan. Para ulama pun mengumpulkan dan mengodifikasikan hadis sehingga lahirlah banyak kitab hadis. (Safri, 2019) Banyaknya kitab hadis tidak menyulitkan ulama dan peneliti terdahulu mencari hadis. Pengetahuan dan ingatan kuat memudahkan mereka menemukan hadis bahkan di antara bab, juz dan jilid yang banyak. Namun, pembaca yang menjumpai hadis di selain kitab hadis hanya mengetahui perawi tanpa tahu keasliannya. Akhirnya, sebagian ulama men-takhrij-kan hadis di literatur selain kitab hadis. Ada beberapa kitab yang di-takhrij-kan hadisnya oleh Al-Khatib Al-Baghdadi. Ada pula beberapa kitab populer lain seperti, Takhrij Al-Fawa’id Al-Muntakhabah Al-Shihhah wa Al-Garaib karya Al-Syarif Abu Al-Qasim Al-Husaimi dan Takhrij Ahadits Al-Muhazzab karya Muhammad bin Musa Al-Hazimi Al-Syafi’i, serta kitab lainnya. (Al-Thahhan, 1995) Seiring waktu, literatur yang mengutip hadis akan terus beredar. Akibatnya, hadis-hadis yang belum jelas autentisitasnya membaur dengan hadis lain yang jelas keasliannya. Inilah yang mendorong ulama merumuskan metode takhrij hadis. Selain itu, lahir pula berbagai macam kamus hadis yang memberi petunjuk pada pencari hadis di kitab apa saja hadis tersebut berada. Hal tersebut bertujuan untuk memastikan kredibilitas hadis; ittishal sanadnya dan ‘adil lagi dhabith para perawinya. (Majid Khon, 2014) Dari pemaparan di atas, tampaknya kegiatan takhrij hadis mudah dilakukan karena metodenya sudah ada. Namun, bagi para peneliti hadis masa kini, khususnya mahasiswa, agaknya tersendat pada ketersediaan sumber data. Proses takhrij hadis mengharuskan penelitinya membolak-balik berbagai jenis mu’jam, berjilid-jilid kitab hadis dan berjuz-juz kitab rijal al-hadis. Agar penelitian berjalan dengan efektif, kitab sebanyak itu mesti terkumpul dalam satu ruangan. Untungnya, para ilmuwan masa kini telah meluncurkan beberapa aplikasi yang menghimpun jutaan buku berbahasa Arab yang semakin memudahkan proses takhrij hadis. Kendati demikian, pemakaian aplikasi tersebut membutuhkan pelatihan. Berdasarkan hal tersebut, salah satu lembaga atau institusi yang mampu menunjang penelitian takhrij hadis adalah perpustakaan. Perpustakaan sebagai jantung perguruan tinggi seharusnya juga berdetak untuk melancarkan penelitian hadis. Koleksi buku di perpustakaan mencakup segala jenis genre dan bahasa. Maka koleksi buku yang dibutuhkan untuk takhrij hadis juga sudah tersedia di Perpustakaan. Buku-buku atau kitab-kitab berbahasa Arab yang terpenting untuk kegiatan takhrij hadis ini yang telah ada di perpustakaan dan selalu dimanfaatkan berupa Kitab Mu’jam Hadis terdiri dari 8 Jilid, Kitab Jami’ Saghir, Kitab-Kitab Hadis Kutubut Tis’ah seperti Shahih Bukhari 4 Jilid, Sahih Muslim 4 Jilid, Sunan Abi Daud 2 Jilid, Sunan at-Tirmizi 5 Jilid, Sunan Ahmad bin Hanbal 6 Jilid, Sunan Ibnu Majah 2 Jilid, Sunan an-Nasai dan lain-lain, serta Kitab-Kitab Rijalul Hadis seperti Tahzib al-Kamal, Tahzib at-Tahzib, kitab Jarah wa Ta’dil dan lain sebagainya. Semua kitab-kitab tersebut disusun dan dilayankan pada Ruangan Referensi dan termasuk jenis koleksi referensi, bisa baca di tempat dan tidak boleh dipinjamkan untuk dibawa pulang (Panduan Pelayanan Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang, 2022). Dari sini jelas bahwa peran perpustakaan terhadap keberlangsungan takhrij hadis sangatlah penting. Terlebih lagi, ilmu hadis telah mengepakkan sayapnya menjadi sebuah program studi (prodi) di perguruaan tinggi Islam negeri, termasuk di Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang. Ini mengindikasikan kegiatan takhrij hadis akan semakin intens dilakukan. Sejak tahun 1989, di IAIN Imam Bonjol Padang Jurusan Tafsir Hadis sudah dipindahkan ke Fakultas Ushuluddin, sebelumnya pada Fakultas Syariah. Jurusan Tafsir Hadis wajib mempelajari mata kuliah takhrij hadis tersebut. Sekarang, mulai sejak tahun 2019 prodi Ilmu Hadis resmi berpisah dengan prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Mata Kuliah Takhrij Hadis pada jurusan Ilmu Hadis tersebut bernama Naqd al-Hadits (Kritik Hadis), sehingga semakin spesifik dalam pendalaman nilai-nilai suatu hadis. Pengertian Naqd al-Hadits yang berasal dari Bahasa Arab, sebagaimana disampaikan Idri yang beliau rujuk dari A Dictionary… karya Hans Wehr berarti penelitian, analisa, pembedaan dan pengecekan. Dari arti itu maka kritik hadis berarti penelitian kualitas, analisa terhadap sanad dan matan hadis, pengecekan hadis ke kitab aslinya serta pembedaan hadis yang diterima dan ditolak (Indri, 2015). Jadi untuk mengetahui keshahihan sebuah hadis, perlu diteliti kualitas sanad dan matannya. Langkah awal dari penelitian hadis adalah takhrij hadis, yaitu penelusuran letak atau pada bab dan nomor berapa hadis itu terdapat dalam kitab-kitab primer (mashadir ashliyah) yang mencantumkan hadis secara lengkap dengan sanadnya.
Method
Penelitian ini berjenis kualitatif dalam bentuk library research. Penulis sebagai instrumen kunci dalam penelitian mengumpulkan data berbekal teknik dokumentasi, yaitu menginvetariskan data tertulis – berasal dari literatur terkait penelitian - dan data lisan – hasil wawancara penulis dengan narasumber, seperti dosen pengampu mata kuliah Ilmu Hadis dan pemustaka layanan takhrij hadis. Semua data diolah, dikelompokkan dan dianalisa dengan teknik Analisis Tematik yaitu mengelompokkan tanggapan yang berkaitan dengan topik tertentu untuk mengidentifikasi tema atau pola umum. Bisa juga dipahami analisis tematik itu adalah salah satu metode analisis data yang umum digunakan dalam penelitian kualitatif untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menggambarkan pola-pola tematik atau topik-topik utama yang muncul dari data kualitatif. Dengan pengertian lain metode kualitatif itu merupakan metode deskriptif analitik, yaitu pencarian fakta dengan menggambarkan analisis yang tepat terhadap data yang diteliti.
Result & Discussion
1. Takhrij Hadis a. Pengertian takhrij hadis Takhrij secara etimologi berasal dari kata kharraja yang berarti al-zuhur (tampak) dan al-buruz (jelas). Takhrij juga bermakna al-istinbat (menetapkan atau mengeluarkan), al-tadrib (meneliti) dan al-taujih (menerangkan) (Al-Thahhan, 1995). Sedangkan secara terminologi, takhrij artinya berkembang sesuai kondisi dan situasi. Abdul Muhdi menyatakan takhrij hadis sebagai penyebutan hadis dengan sanadnya. Lebih panjang, takhrij hadis merupakan penyebutan sanad-sanad hadis dari beberapa kitab induk hadis dengan menyertakan penjelasan lokasi hadis (nomor bab, kitab, juz,) dan keterangan penambahan atau pengurangan pada matan, sehingga bisa ditentukan derajatnya (shahih, hasan, dha’if (Suryadilaga, 2009). Singkatnya, takhrij hadis adalah kegiatan penelusuran hadis ke kitab-kitab hadis untuk mengeksplorasi kualitas sanad dan matannya, sehingga jelas perawi, tema hadis dan statusnya (Majid Khon, 2014). b. Metode takhrij hadis Metode penelitian takhrij hadis sebenarnya sama dengan penelitian ilmiah pada umumnya. Diawali dengan mengumpulkan data, mengolahnya, lalu menganalisis data. Demi efektivitas tulisan, penulis hanya mengurai metode takhrij hadis pada tahap pengumpulan data. Sebab, di tahap itulah layanan takhrij hadis di perpustakaan menjalankan fungsinya. Sementara di tahap kedua dan ketiga, penelitilah yang berperan aktif sepenuhnya. Berikut lima metode takhrij hadis (Majid Khon, 2014). a) Takhrij bi al-lafz, yaitu menelusuri hadis berdasarkan lafal awal, tengah atau akhir matan. Pada metode ini, kitab yang digunakan adalah kamus atau yang biasa disebut mu’jam, yaitu al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawi karya A.J Wensinck. Mu’jam ini terdiri dari banyak jilid, jumlahnya tergantung pada penerbitnya. Setelah mendapatkan informasi seputar hadis dari mu’jam, peneliti langsung menjelajah ke Sembilan kitab induk hadis. Antara lain; Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad bin Hanbal, Muwaththa’ Imam Malik dan Sunan al-Darimi. b) Takhrij bi al-maudhu’, yaitu menelusuri hadis berdasarkan tema hadis. Kamus yang bisa dirujuk untuk metode ini adalah Miftah min Kunuz al-Sunnah karya Fuad Abdul Baqi, mu’jam karya A.J Wensinck, dan Sembilan kitab induk hadis ditambah Lima kitab, yaitu Musnad Zaid bin Ali, Musnad Abu Daud al-Thayyalisi, Thabaqat Ibnu Sa’ad, Sirah Ibnu Hisyam dan Maghazi al-Waqidi. c) Takhrij bi awwal al-matn, yaitu menelusuri hadis berdasarkan awal matan saja. Metode ini menggunakan Dua kamus, yaitu, al-Jami’ al-Shaghir karya al-Suyuthi dan Mu’jam Jami’ al-Ushul fi Ahadits al-Rasul karya Ibnu al-Atsir. d) Takhrij bi al-rawi al-a’la, yaitu menelusuri hadis berdasarkan perawi yang berada di tingkatan sahabat. Kitab Musnad al-Imam Ahmad dapat digunakan pada metode ini. e) Takhrij bi al-shifah, yaitu menelusuri hadis berdasarkan statusnya. Hadis-hadis maudhu’ (palsu) dapat dicari di kitab al-Maudhu’at karya Ibnu al-Jauzi. Hadis-hadis mutawatir bisa dicari di kitab al-Azhar al-Mutanatsirah fi al-Akhbar al-Mutawatirah karya Imam al-Suyuthi. c. Tujuan takhrij hadis Berikut tujuan atau misi dari penelitian takhrij hadis: (Majid Khon, 2014) a) Menjumpai hadis di kitab induk hadis guna memastikan eksistensinya. b) Mengeksplorasi berbagai redaksi matan dan rangkaian sanad dari para mukharrij. c) Menilai kualitas dan kuantitas hadis dari segi sanad dan matan untuk menentukan status maqbul atau mardud-nya. d) Memeriksa kebersambungan sanad dan ke-dhabith-an perawi. e) Mencari penguatan bagi hadis berstatus dhaif dari jalur sanad lain. f) Memetakan penilaian ulama terhadap perawi dan hadis yang diriwayatkannya. d. Daftar kitab yang dibutuhkan Berikut penulis uraikan kitab-kitab yang digunakan dalam penelitian takhrij hadis secara keseluruhan dengan beberapa tambahan. Antara lain: 1) al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawi karya A.J Wensinck. 2) Miftah min Kunuz al-Sunnah karya Fuad Abdul Baqi. 3) al-Jami’ al-Shaghir karya al-Suyuthi dan Mu’jam Jami’ al-Ushul fi Ahadits al-Rasul karya Ibnu al-Atsir. 4) Sembilan induk kitab hadis; Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad bin Hanbal, Muwaththa’ Imam Malik dan Sunan al-Darimi. 5) Hidayah al-Bari ila Tartib Ahadits al-Bukhari karya Abdurrahman Ambar al-Misri al-Tahtawi. 6) Miftahus Sahihain karya Muhammad Syarif bin Mustafa al-Tauqiah. 7) Al-Bugyatu fi Tartib Ahadits al-Hilyah disusun oleh Abdul Aziz al-Sayyid al-Qammari. 8) Tahzib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal karya Jamaluddin al-Mizzi. 9) Al-Jarh wa al-Ta’dil karya Abu Muhammad Abdurrahman al-Hanzali 10) Mizan al-I’tidal fi Naqd al-Rijal karya Syamuddin Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi. 11) Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah karya Ahmad bin Ali Hijr al-‘Asqalani. 12) Al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Ashbah karya Abu Umar Yusuf bin Abdillah. Itulah beberapa judul kitab penting yang dipakai dalam penelitian takhrij hadis. Setiap judul terdiri dari banyak jilid. Maka, kegiatan men-takhrij-kan hadis secara konvensional sangat efektif dilakukan dalam satu tempat. 2. Layanan Takhrij Hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang a. Layanan takhrij hadis di Ruang Referensi Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang. Layanan takhrij hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang berada di ruang Referensi. Ruang Referensi merupakan salah satu layanan perpustakaan yang menawarkan bimbingan kepada pemustaka untuk menemukan dan memakai koleksi referensi. Layanan referensi sangatlah penting karena selain menyediakan koleksi buku, pemustaka dapat berdialog dan berkomunikasi secara intens dengan pustakawan referensi sehingga informasi yang dicari mudah ditemukan. (Rochmah, 2016) Penempatan layanan takhrij hadis di ruang referensi bukan tanpa alasan. Kitab-kitab keperluan takhrij secara umum disusun seperti kamus. Kamus sebagai sumber data dialokasikan di ruang Referensi karena digunakan untuk menjawab pertanyaan spesifik (Gani, 2020). Di ruang Referensi tersebut tersedia sekitar 30 judul kitab-kitab untuk takhrij hadis dengan berbagai jilidnya. Untuk kitab-kitab hadis seperti Sahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunad at-Turmidzi dan Sunan an-Nasai sudah tersedia kitab tebalnya dalam satu buku untuk setiap jilidnya, tidak dibagi-bagi menjadi beberapa jilid, juga sudah tersedia di jajaran koleksi takhrij hadis tersebut. Dalam penelusuran kitab untuk takhrij hadis, peneliti hadis pada dasarnya berangkat dari penelusuran eksistensi hadis di dalam kitab induk hadis. Agar tidak tersesat di labirin jilid-jilid sembilan kitab induk hadis, peneliti harus memegang alamat pasti hadis. Jika hadis dari berbagai jalur sanad dan perawi di tiap jalur telah ditemukan, maka analisis kebersambungan sanad, keberagaman matan dan derajat hadis, sepenuhnya adalah peran peneliti. Selain itu, layanan referensi adalah layanan terbatas. Artinya, pemustaka hanya bisa membaca di tempat dan mengkopi koleksi, tetapi tidak diperbolehkan untuk meminjamnya. Hal ini diberlakukan karena mempertimbangkan beberapa hal, seperti terbatasnya jumlah koleksi atau tidak sebanyak jumlah koleksi di layanan sirkulasi (Luthfiyah, 2015), koleksi referensi tidak untuk dibaca semua isi bukunya dari awal sampai akhir, hanya term-term tertentu saja seperti yang terdapat dalam ensiklopedi dan harga dari buk-buku yang di ruangan referensi relative mahal. Hal demikian juga menjadi alasan layanan takhrij hadis diadakan di ruang referensi. Jumlah jilid yang banyak dalam satu judul kitab beresiko pada hilangnya salah satu jilid. Untuk itulah kenapa koleksi buku di ruang referensi tidak dipinjamkan. Selain itu, keterbatasan jumlah rak untuk menampung berjilid-jilid setumpuk judul kitab takhrij hadis juga menjadi penyebabnya. b. Sumber informasi yang dibutuhkan dalam takhrij hadis yang dilayankan oleh Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang Berdasarkan pemaparan penulis di depan, penelitian takhrij hadis bisa dilakukan dengan dua metode, yaitu metode konvensional dan menggunakan perangkat lunak (software). Meski ada dua metode, sumber data yang diperlukan tetap sama, hanya berbeda fisiknya. Sebagian sumber data penelitian takhrij hadis telah penulis uraikan pada sub awal pembahasan. Adapun sumber yang tersedia di ruang Referensi Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang selain yang telah disebutkan di atas adalah sebagai berikut: 1). Kitab Tahzib at-Tahzib karya Ibnu Hajar al-‘Asyqalaniy. 2). Jami’ al-Masanid wa as-Sunan al-Hadiy al-Aqwam Sunan karya Ismail bin ‘Umar Ibnu Katsir al-Qurasyiy Ad-Dimasyqiy asy-Syafi’iy. 3). Thabaqat al-Kubra karya Muhammad bin Sa’ad bin Muni’ az-Zuhriy. 4). Lisan al-Mizan karya Ibnu Hajar al-‘Askalaniy. 5). Athraf al-Hadits an-Nabawiy alsy-Syarif karya ‘Abdul Ghafar Sualiman al-Bandariy. 6). Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain karya al-Hakim an-Naisaburiy. 7). As-Sunan al-Kubro karya al-Baihaqiy. 8). Usdu al-Ghabah fi Ma’rifah al-Shahabah karya Iza al-Din bin al-Atsir al-Jazari. 9). Hilyatu al-Auliyak Wa Thabaqat al-Ashfiyak karya Abiy Na’im al-Ashbahaniy. 10). Mu’jam al-Kabir Karya al-Imam Abiy al-Qasim Sulaiman Bin Ahmad al-Thabraniy. 11). Ma’aniy al-Akhyar fiy Syarah Asamiy Rijal Ma’aniy al-Atsar Karya Badar al-Din Al-‘Ainiy. 12). Mausu’ah Athraf al-Hadits an-Nabawiy asy-Syariif susunan Abu hajar Muhammad as-Sa’id bin Bayuniy Zaghlul. 13) Hayatu ash-Shahabah karya Muhammad Yusuf al-Kandahlawiy. 14) Al-Thabaqat al-Kubra karya Muhammad bin Sa’id. 15) Al-Kitab al-Mushnif Fiy al-Ahadits wa al-Atsar Karya Abiy Bakar ‘Abdullah bin Muhammad bin Abiy Syaibah. 16) Jami’ al-Ahadits al-Jami’ al-Shoghir wa Zawaiduh wa al-Jami’ al-Kabir karya Jalaluddin ‘Abdurrahman as-Sayuthiy. Kitab-kitab tersebut terdiri dari Mu’jam Hadis, Kitab-Kitab Hadis, Kitab Rijal atau berisi para perawi hadis termasuk sahabat Nabi. Selain itu, kitab-kitab melalui perangkat lunak berupa Aplikasi Maktabah asy-Syamilah dan HaditsSoft juga sudah tersedia pada komputer yang dilayankan pada Ruang Audio Visual Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang. Kegiatan penelitian hadis atau penelusuran kitab-kitab hadis berbahasa Arab dapat dilakukan dengan aplikasi tersebut. Selain itu perangkat lunak yang mencakup berbagai kitab dalam bidang kajian Islam ini juga bisa dimanfaatkan untuk membantu menelusur sumber-sumber referensi Islami lainnya. Untuk penginstalan, pemustaka dapat berkonsultasi dengan pustakawan referensi untuk memperoleh software dan penginstalannya di laptop pemustaka, serta bimbingan singkat terkait penginstalan program dan bagaimana cara pemanfa’atan aplikasi tersebut. Jadi, dengan dibantu Aplikasi Maktabah Asy-Syamilah, sekarang pencarian dan pelacakan hadis pada kitab sumbernya yang asli sudah semakin gampang. Aplikasi ini merupakan perpustakaan komprehensif yang terdiri dari 42 folder bidang ilmu keislaman, di antaranya Kitab Tafsir, Kitab Ulumul Quran, Kitab Fiqh berbagai Mazhab, Tasawuf, Nahwu, Sejarah dan lain-lain yang memuat lebih dari 20.000 jilid kitab, 6250 judul.(Panduan Pelayanan Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang, 2022). Aplikasi HaditsSoft memiliki fitur yang memudahkan untuk penelusuran hadis dari 14 Kitab Hadis yang mu’tamat yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmizi, Sunan Abu Daud dan lain-lain. Semua Kitab Hadis tersebut berisi hadis-hadis yang telah disusun berdasarkan Bab-Bab Kitab Hadis yang aslinya (Berbahasa Arab). Isinya mencakup lafaz hadis, terjemahan, jalur sanad, nilai hadis, penilaian ulama terhadap sanad, dan biografi perawi hadis, seperti Imam Bukhari, Muslim dan lain sebagainya. c. Prosedur layanan takhrij hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang Mengenai prosedur, layanan takhrij hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang dilayankan sama dengan koleksi di ruang Referensi. Pemustaka bisa langsung berselancar di lautan berjilid-jilid kitab hadis, mu’jam dan rijal al-hadis setelah mengisi daftar pengunjung perpustakaan di komputer visitor. Akan tetapi, perlu diingat kembali bahwa kitab-kitab tersebut hanya bisa dibaca di tempat dan difotokopi, namun tidak untuk dipinjam atau dibawa pulang. Di samping pemustaka lansung menelusur kitab-kitab rujukan takhrij tersebut, perpustakaan juga memberikan layanan perkuliahan tahkrij hadis bersama bimbingan dosennya, baik dari dalam UIN Imam Bonjol sendiri maupun bagi mahasiswa kampus lainnya. Kemudian konsep lesehan yang disediakan di ruang Referensi akan memberi kenyamanan bagi pemustaka ketika membuka setiap jilid kitab. Meskipun pencarian hadis belum membuahkan hasil, setidaknya bisa menyimpan energi pemustaka yang membolak-balik kitab dengan tidak sambil berdiri. d. Urgensi Layanan Takhrij Hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang Askolan Lubis dalam artikelnya berpendapat bahwa ada beberapa poin-poin penting terkait urgensi takhrij hadis ini yaitu: 1. Mengetahui asal usul riwayat yang akan diteliti. Penting untuk mengetahui asal usul hadis yang akan diteliti agar sanad dan matan hadis dapat diketahui susunannya. 2. Mengetahui seluruh rawi. Hadis yang akan diteliti mungkin memiliki lebih dari satu sanad. Penting untuk mengetahui seluruh riwayat hadis yang bersangkutan untuk menentukan kualitas sanad. 3. Mengetahui syahid dan Mutabi’ dalam sanad. Syahid dan Mutabi adalah dukungan dari periwayat lain terhadap sanad yang sedang diteliti. Penting untuk mengetahui apakah suatu sanad memiliki syahid atau mutabi 4. Menentukan kualitas suatu hadis. Kriteria untuk hadis berkualitas sahih termasuk kesinambungan sanad, periwayat yang adil dan dabit, serta tidak syaz dan ber-illat. (Lubis, 2016) Proses penelitian hadis meliputi penelitian keadaan para rawi hadis untuk menetapkan keadilan dan kedabitannya, serta meneliti sanad atau hubungan antara perawi hadis untuk memastikan adanya kesinambungan sanad hadis. Dari penjelasan di atas, telah tersirat betapa pentingnya layanan takhrij hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang. Berikut beberapa urgensi yang jelas dari layanan takhrij hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang: 1). Memudahkan pencarian hadis berkualitas Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang, khususnya dari prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir dan prodi Ilmu Hadis, mendapatkan akses yang mudah untuk memastikan kualitas hadis, baik hadis yang tertulis di literatur, hadis yang dituturkan oleh para pendakwah, maupun hadis yang menjadi tugas mata kuliah. Maka pada saat mahasiswa menulis makalah, artikel maupun tugas akhir atau skripsi, kualitas hadis yang dimasukkan sebagai hujjah ke dalam tulisan telah dipastikan shahih, minimal hasan, sebab dirujuk langsung ke kitab sumber aslinya. 2). Menjamin keaslian atau keshahihan hadis yang diteliti / digunakan Meskipun pada akhirnya hadis shahih yang digunakan sebagai hujjah diragukan statusnya, mahasiswa atau peneliti bisa menunjukkan hasil penilaian takhrij hadis yang dilakukan berdasarkan kitab mu’jam, rijal al-hadis dan kitab induk hadis. 3). Menunjang studi dan riset keagamaan Penelitian takhrij hadis bertujuan mencapai titik terang derajat sebuah hadis. Ada jutaan hadis yang lahir sejak Nabi Muhammad Saw. diangkat sebagai Rasulullah dan adapula jutaan pengaruh (sisipan) yang merusak keaslian hadis hingga sekarang. 4). Pendapat Pemustaka yang Memanfaatkan Layanan Takhrij Hadis. Untuk menambah keakuratan artikel ini, penulis mengemukakan beberapa tanggapan dan hasil wawancara dengan pemustaka, baik dosen maupun mahasiswa. a). Jawaban dari beberapa orang pemustaka yang melakukan takhrij hadis di perpustakaan dari beberapa pertanyaan: Secara umum, sebagian besar pemustaka menjawab, pernah menerima tugas untuk melakukan penelitian hadis di perpustakaan ini. Selain itu, sebagian besar dari mereka juga mengikuti bimbingan tahkrij hadis dari dosennya di perpustakaan. Mereka juga memiliki pandangan positif tentang ketersediaan literatur terkait takhrij hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang. Pendapat mereka bahwa literatur ini sudah memadai dan dapat digunakan dalam penelitian atau pembelajaran. Akses terhadap layanan takhrij hadis di perpustakaan dianggap cukup mudah oleh sebagian besar pemustaka. Hal ini menunjukkan bahwa infrastruktur dan layanan perpustakaan mendukung kebutuhan mahasiswa dalam melakukan takhrij hadis. Selanjutnya beberapa pemustaka memberikan saran untuk meningkatkan layanan takhrij hadis di perpustakaan. Saran-saran ini termasuk memperbanyak jumlah buku takhrij hadis, memastikan jilid-jilid kitab tersedia secara lengkap, memperbaiki kitab-kitab yang rusak, serta memperluas ruang baca dan menyediakan akses WiFi yang dapat diakses oleh semua pengguna. Secara keseluruhan, pendapat pemustaka yang diwawancarai tersebut menunjukkan bahwa Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang telah memberikan pelayanan yang baik terkait takhrij hadis. Namun, terdapat juga beberapa saran yang dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan kualitas layanan ini di masa mendatang. b). Jawaban dari beberapa orang dosen yang mengajarkan takhrij hadis pada mahasiswa di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang: Dari beberapa pertanyaan di atas maka terdapat beberapa poin penting yang mencerminkan pendapat para dosen terkait layanan takhrij hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang. 1. Pengalaman Menugaskan Mahasiswa untuk Penelitian Hadis: Mayoritas dosen (seperti Novizal, Nandi, Sri Chalida, dan Riri) pernah menugaskan mahasiswa untuk melakukan penelitian hadis di perpustakaan. Ini menunjukkan bahwa dosen menggunakan perpustakaan sebagai sumber penting untuk kegiatan penelitian mahasiswa. 2. Bimbingan Tahkrij Hadis oleh Dosen, sebagian besar dosen (kecuali Novizal) juga pernah melakukan bimbingan tahkrij hadis pada mahasiswa di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang. Hal ini menunjukkan bahwa perpustakaan bukan hanya sebagai sumber, tetapi juga tempat untuk membimbing mahasiswa dalam proses tahkrij hadis. 3. Pendapat tentang ketersediaan Literatur Takhrij Hadis, seluruh dosen yang merespons menyatakan bahwa ketersediaan literatur terkait takhrij hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang dianggap sangat memadai. Ini adalah indikasi positif tentang keberhasilan perpustakaan dalam menyediakan sumber-sumber yang diperlukan. 4. Akses Mudah terhadap Layanan Takhrij Hadis, semua dosen (Novizal, Nandi, Sri Chalida, dan Riri) menyatakan bahwa mereka menganggap akses terhadap layanan takhrij hadis di perpustakaan sangat mudah. Hal ini menunjukkan bahwa dosen puas dengan kemudahan dalam menggunakan fasilitas perpustakaan. 5. Saran dan Rekomendasi untuk Peningkatan Layanan Takhrij Hadis, Dosen Riri dan Sri Chalida memberikan saran untuk menambah eksemplar kitab tertentu seperti "Kitab Mu'jam Al-Mufahras al-Hadis". Di samping itu Riri juga memberikan rekomendasi untuk menambah dan memperbanyak kitab-kitab rijal al-hadits. Sedangkan Nandi memberikan penilaian bagus dan mengatakan layak untuk diapresiasi. Lain lagi dengan Novizal, menyarankan Perpustakaan untuk memperpanjang layanan sampai hari Sabtu. Dengan memperhatikan jawaban, masukan dari para dosen, diharapkan pihak perpustakaan dapat terus meningkatkan kualitas layanan takhrij hadis untuk mendukung kegiatan penelitian dan pembelajaran mahasiswa di masa mendatang.
Conclusion
Riset keilmuan agama yang berlandaskan al-Qur’an dan hadis terus bergulir tanpa henti. Oleh karena itu, agar kedua pondasi keilmuan itu tetap kokoh dan tidak mempunyai celah kerusakan, maka penelitian takhrij hadis mesti disemarakkan. Salah satunya adalah dengan layanan takhrij hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang. Penelitian takhrij hadis pada dasarnya adalah kewajiban para penuntut ilmu di bidang hadis karena ada banyak hadis yang berseliweran di tengah masyarakat masih belum terjamah untuk dipastikan derajat sanad dan matannya. Dengan mengetahui urgensi layanan takhrij hadis di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang, setidaknya menegaskan adanya himbauan dari para ulama penyusun kitab-kitab tersebut di atas, untuk terus meng-crosscek eksistensi dan keaslian hadis karena hadis adalah pokok ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an.