Kembali
16
1
2023 Pustaka Karya : Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 11 · 2 ISSN 2723-7699

Upaya perpustakaan dalam penguatan literasi di Perpustakaan Archivelago di Kementerian Kelautan dan Perikanan

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstract

This paper investigates and analyze Archivelago Library efforts in literacy about marine and fisheries. This research focuses on program participated by the Bunayya Integrated Play Group, on November 16, 2022 in Jakarta. This research is qualitative type with descriptive study approach. Data collection method by interview, documentation and literature study. The data is discussed with the theory of literacy, namely the theory of emergent literacy. Data analysis techniques in the form of data reduction, data presentation, and conclusions. The research subjects consisted of head librarians, librarians, and teachers from schools participating in this program. The results of this study showed that 39 childrens participated and were accompanied by 7 teachers. This program is carried out based on the planning concept in accordance with the Terms of Reference and the Minister of Maritime Affairs and Fisheries Regulation Number PER. 08/PERMEN-KP/2014 concerning Guidelines for Organizing Special Libraries. Based on the findings, the concept of this program focuses on forming mindsets, perspectives on oneself and the environment as a maritime nation. The various activities carried out include library tours, storytelling, watching movies, and coloring. The benefits of this program are not only felt by the participants, but also the Archivelago Library
Keywords: archivelago library · intrease the reading and literacy interest · marine and fisheries literacy

Introduction

Literasi dibutuhkan dalam menjalani kehidupan. Literasi tidak hanya menjadikan individu mampu membaca, tetapi untuk mencari informasi, membaca informasi, memahami informasi, hingga mengaplikasikan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Literasi informasi menurut Byerly dan Brodie adalah suatu kemampuan dalam proses pembelajaran seumur hidup (lifelong learning), kemampuan tersebut bukanlah kemampuan bawaan, melainkan beriringan dengan proses pembelajaran yang terus dipupuk dan dibina dari waktu ke waktu (Lien, 2020). Menurut McGee dan Purcell-Gates dalam Marwiyati (2018), bahwa literasi mengalami perkembangan pada dua periode waktu, yakni diawali dari lahir hingga usia lima tahun, kemudian dari usia lima tahun hingga mampu membaca sendiri (Marwiyati & Hidayatulloh, 2018). Memposisikan literasi sebagai suatu kebiasaan merupakan proses yang tidak mudah dan Panjang, sebagaimana pepatah mengatakan “Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar di waktu dewasa bagai mengukir di atas air”. Melakukan stimulasi dapat dilakukan sejak anak dalam usia dini karena mereka dalam proses pertumbuhan dan perkembangan (Aulinda, 2020). Program penguatan literasi untuk kalangan anak-anak merupakan salah satu program kerja dari Perpustakaan Archivelago sebagai perpustakaan khusus instansi pemerintah di bawah naungan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Program ini dibuat sebagai perwujudan atas pemikiran/ gagasan dari para pustakawan di Perpustakaan Archivelago yang menyadari bahwa pengetahuan bertema laut dan perikanan masih perlu ditanamkan kepada masyarakat, sebagaimana Negara Indonesia dijuluki sebagai negara maritim karena memiliki garis pantai sepanjang 3,25 juta km² dan 2,55 juta km² merupakan Zona Ekonomi Eksklusif (Pratama, 2020), sehingga menjadi penting untuk mempelajari dan memahami pengetahuan mengenai laut dan perikanan serta ruang lingkup kajiannya. Program ini juga menjadi salah bentuk dukungan dari perpustakaan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam merealisasikan salah satu dari tujuh Agenda Pembangunan Nasional (Prioritas Nasional) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2020-2024, yaitu meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing, sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan Tahun 2020-2024 (BRSDM Kelautan dan Perikanan, 2021). Pada pelaksanaannya, kegiatan berbagi pengetahuan bertema laut dan perikanan tidak hanya bagi masyarakat yang menetap di kawasan pesisir saja melainkan seluruh masyarakat di Indonesia baik yang di kawasan perkotaan sekalipun. Menjadikan masyarakat umum sebagai sasaran program berlandaskan pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.08/PERMEN_x0002_KP/2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Khusus di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta berlandaskan pada Standar Nasional Perpustakaan Khusus dalam Peraturan Perpustakaan Nasional No 7 Tahun 2022 (Biro Hukum, Organisasi, 2022) Program penguatan literasi kali ini menyasar kalangan anak-anak. Anak-anak yang menerima pengetahuan kelautan dan perikanan sejak dini akan tumbuh dan berkembang dengan semangat kebangsaan dan nilai-nilai kemaritiman karena telah mengenal jati diri bangsa sebagai negara maritim (Sulistiyono, 2016). Literasi bagi anak menjadi proses panjang berkelanjutan yang dinamis, dimana anak akan mampu memahami orang lain dan lingkungannya, menumbuhkan kreativitas, melatih kemampuan dasar anak. Memunculkan minat anak terhadap sesuatu tidak terjadi secara instan dan tidak juga merupakan bawaan saat lahir. Dalam membiasakan literasi kepada anak diupayakan untuk melakukannya secara natural dengan bimbingan dari orang-orang terdekat agar anak merasa nyaman. Upaya yang dapat dilakukan dalam berliterasi bersama anak melalui pendekatan tentang lingkungan, misalnya untuk literasi tentang laut dapat melalui hal-hal kecil seperti memberikan pemahaman dan pengetahuan umum tentang keindahan-keindahan potensi laut untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap laut, anak merasakan potensi perikanan dengan dibiasakan untuk mengkonsumsi ikan, serta menyisipkan materi tentang laut dan perikanan ketika anak belajar. Materi tentang laut dan perikanan dapat diberikan kepada anak dengan memanfaatkan pembelajaran yang melibatkan visual dan kinestetik. Penelitian ini mengenai pelaksanaan program penguatan literasi. Peneliti merujuk kepada beberapa penelitian terdahulu, pertama berjudul Identifikasi Pola Pengenalan Literasi pada Anak Usia Dini di Kota Mataram oleh Nani Husnaini dalam Jurnal Pendidikan Anak: Volume 7 Nomor 1 (2018). Penelitian ini membahas tentang konsep pengenalan literasi pada anak-anak di Kota Mataram, metode pengenalan literasi, serta capaian kemampuan literasi anak-anak di Kota Mataram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengenalan literasi memiliki makna sebagai proses untuk mengenalkan baca-tulis dasar dengan memperhatikan tahapan, perbedaan kemampuan anak, materi literasi, dan metode literasi yang digunakan seperti bercerita, bermain, dan bernyanyi. Media literasi yang dapat digunakan sangat beragam, seperti kartu huruf, teka-teki huruf, buku cerita, pohon literasi, balok huruf, dan lain sebagainya. Kemampuan anak dalam baca_x0002_tulis permulaan sudah dapat dilihat ketika memasuki semester dua. Rata-rata anak dapat membaca kalimat sederhana (Husnaini, 2018). Kemudian, peneliti juga merujuk pada penelitian kedua berjudul Literasi Membaca Anak_x0002_anak di Pesisir Pantai Sawarna Lebak Banten oleh Suraya, dkk dalam Jurnal Pengabdian dan Kewirausahaan: Volume 3 Nomor 1 (2019). Penelitian ini membahas tentang penyelenggaraan sosialisasi literasi untuk siswa TK PGRI di Pesisir Sawarna, Lebak Banten sebagai implementasi mengabdi pada masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa belum memiliki kebiasaan membaca yang baik, sehingga kegiatan sosialisasi literasi menjadi motivasi untuk rutin membaca. Kegiatan diikuti oleh 35 anak-anak dijadikan sebagai agen perubahan yang memiliki tugas untuk menyampaikan cerita kepada teman-teman lainnya. Selama kegiatan sosialisasi berlangsung, siswa bersemangat dan senang bahkan berani mengajukan. Terkait materi sosialisasi, ditentukan dengan menganalisis kebutuhan siswa-siswa yang bersangkutan agar manfaat kegiatan ini dapat dirasakan oleh anak-anak tersebut meskipun mereka belum sepenuhnya memiliki keterampilan membaca yang baik. Baik dalam kedua penelitian tersebut memiliki kelebihan yaitu keduanya bertujuan mengetahui konsep pengenalan literasi kepada anak-anak. Penelitiannya mencakup media literasi, metode literasi, hingga bagaimana mengukur capaian/ tingkat kepuasan anak-anak terhadap kegiatan literasi yang diikuti, sehingga dapat digunakan oleh peneliti sebagai rujukan dalam menganalisis pelaksanaan program penguatan literasi untuk kalangan anak-anak di Perpustakaan Archivelago. Namun, pada kedua penelitian terdahulu tersebut tidak dijumpai penjelasan tentang bagaimana kelanjutan dari kedua kegiatan literasi tersebut dan upaya apa saja yang dilakukan agar kedua kegiatan tersebut bisa dilaksanakan kembali di waktu mendatang. Diketahui bahwa program penguatan literasi yang digagas oleh Perpustakaan Archivelago telah beberapa kali dilaksanakan, salah satunya di Jakarta pada tanggal 16 November 2022. Lokasi pelaksanaannya yaitu di ruang Perpustakaan Archivelago di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gedung Mina Bahari IV lantai 2, dimana pada kesempatan kali ini pihak perpustakaan turut mengundang seorang Musical Storyteller Sarang Cinta sebagai salah satu pengisi kegiatan. Hasil kunjungan didapati kehadiran dari 39 anak-anak yang disertai oleh 7 orang guru pendamping dari Kelompok Bermain Terpadu Bunayya, Kota Depok. Pelaksanaan program penguatan literasi ini sesuai dengan teori literasi emergen yaitu memberikan kesempatan untuk anak sedini mungkin berliterasi. Peneliti melihat bahwasannya program program penguatan literasi ini tidak sebatas membaca dan menulis saja. Selama program berlangsung para peserta diajak untuk melakukan berkeliling perpustakaan, menonton film pendek bertema laut dan perikanan, mewarnai, kemudian melakukan kegiatan yang mencairkan suasana dengan menari sambil meniru gerakan biota laut seperti menari kepiting, ikan, dan lumba-lumba. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai bagaimana pelaksanaan program penguatan literasi untuk kalangan anak-anak di Perpustakaan Archivelago dengan melakukan analisis menggunakan teori literasi emergen yang menjelaskan tentang konsep literasi pada anak-anak. Hasil yang didapat dari penelitian ini meliputi latar belakang inisiasi program, proses persiapan dan pelaksanaan, adanya manfaat nyata dari program penguatan literasi yang dirasakan oleh anak-anak dari Kelompok Bermain Terpadu Bunayya mencakup aspek kognitif dan afektif, serta dengan adanya manfaat nyata tersebut membuat program penguatan literasi ini tetap menjadi program kerja Perpustakaan Archivelago di tahun 2023. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi gambaran dan acuan bagi perpustakaan lainnya dalam melaksanakan program penguatan literasi, khususnya untuk kalangan anak-anak

Method

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi deskriptif. Menurut Denzin dan Lincoln (1994) dalam Sahliani (2021), penelitian kualitatif ditujukan untuk memperoleh pemahaman mendalam atas organisasi atau peristiwa khusus daripada mendeskripsikan bagian permukaan dari sampel besar suatu populasi (Sahliani, 2021). Dalam penelitian ini, fenomena yang diteliti adalah program penguatan literasi di Perpustakaan Archivelago. Subjek dalam penelitian ini adalah kepala perpustakaan, pustakawan, peserta, serta guru yang mendampingi peserta selama program penguatan literasi di Perpustakaan Archivelago berlangsung. Objek penelitian ini adalah program penguatan literasi untuk kalangan anak-anak di Perpustakaan Archivelago. Informan dipilih menggunakan purposive sampling dengan kriteria yaitu pustakawan, peserta, dan guru pendamping yang berpartisipasi dalam program penguatan literasi untuk kalangan anak-anak di Perpustakaan Archivelago. Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, peneliti menentukan lima orang informan yang sesuai dengan kriteria. Informan tersebut terdiri dari kepala perpustakaan, pustakawan, peserta, dan guru pendamping dari sekolah peserta yang bersangkutan. Adapun jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Wawancara dilakukan dengan cara semi terstruktur. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan proses merangkum, memilih, dan fokus terhadap hal-hal pokok, dicari tema dan polanya, kemudian data disajikan dalam bentuk uraian. Berikut merupakan alur penelitian yang dimuat dalam diagram: Identifikasi Masalah Rumusan Masalah Hipotesis Metode Penelitian Kualitatif Pengumpulan Data (Wawancara, Dokumentasi, Studi Pustaka) Analisis Data (Deskriptif) Hasil Penelitian Kesimpulan Gambar 1 Alur Penelitian

Discussion

Literasi dalam implementasinya sejak lama diartikan sebagai kegiatan belajar membaca. Literasi didahului oleh proses berpikir dan aksi nyata. Literasi menjadi jembatan untuk membawa informasi yang dipahami untuk digunakan pada berbagai situasi. Pengambil kebijakan, komunitas, guru, pustakawan, dan lembaga pendidikan dan informasi lainnya, semua sepakat bahwa literasi harus diimplementasikan (Shihab & Komunitas Guru Belajar, 2019) Program penguatan literasi di Perpustakaan Archivelago memiliki empat kegiatan edukatif yang utama diantaranya mendongeng bertema laut dan perikanan, menonton film pendek berjudul “A Tale Of Whale”, berkeliling perpustakaan, dan kompetisi mewarnai. Berdasarkan keempat kegiatan tersebut, perpustakaan ingin menyampaikan konsep dari program ini untuk pembentukan pola pikir, cara pandang terhadap diri dan lingkungan sebagai negara maritim yang memengaruhi dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku. Lebih lanjut, untuk memahami program penguatan literasi untuk kalangan anak-anak di Perpustakaan Archivelago, maka perlu dideskripsikan terlebih dahulu gambaran umum beserta latar belakang dibuatnya program penguatan literasi ini. Diketahui bahwa program penguatan literasi ini dibuat sebagai upaya untuk mengedukasi, meningkatkan minat baca dan literasi tentang kelautan dan perikanan dengan harapan bahwa masyarakat bisa lebih peduli terhadap kondisi laut, dimana ketika pustakawan mengunjungi beberapa daerah di Indonesia, terutama di kawasan-kawasan pesisir, bahwa pustakawan menemukan masyarakat disana yang masih melakukan hal-hal yang dapat memberi dampak negatif terhadap laut, seperti membuang sampah ke laut dan sungai, memberi makan hewan laut menggunakan makanan manusia, serta menyentuh terumbu karang pada saat menyelam. Selain itu, program literasi ini sebagai implementasi dari upaya perpustakaan untuk membantu Kementerian Kelautan dan Perikanan merealisasikan salah satu dari tujuh Agenda Pembangunan Nasional (Prioritas Nasional) yang tertulis dalam Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2020-2024. Sebagaimana yang diperoleh dari hasil wawancara dengan Kepala Perpustakaan Archivelago, sebagai berikut: “Kalau di Kementerian itu ada rencana strategis yang 5 tahun, nah salah satunya meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing dengan menyelenggarakan pendidikan di bidang kelautan dan perikanan. Dari rencana strategis itu muncul bentuk implementasinya yaitu program penguatan literasi anak-anak. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, kalau memberikan literasi kan salah satu tugasnya perpustakaan ya, makanya salah satu hal yang bisa dilakukan perpustakaan untuk mendukung rencana strategis tersebut membuat program penguatan literasi ini.” (Hasil wawancara pada 7 Februari 2023 kepada Ibu Pamela Damayanti sebagai Kepala Perpustakaan Archivelago) Sebagai perpustakaan khusus instansi pemerintah, Perpustakaan Archivelago menyasar masyarakat umum dalam program ini memiliki rujukan norma yaitu Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 8/PERMEN-KP/2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Khusus di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan, dalam Bagian Kedua Tugas dan Fungsi Perpustakaan Khusus, Pasal 6. Selain rujukan norma, terdapat rujukan standar yaitu Standar Nasional Perpustakaan Khusus yang tercantum dalam Peraturan Perpustakaan Nasional No 7 Tahun 2022 (Biro Hukum, Organisasi, 2022). Menentukan sasaran program untuk pelaksanaan program dalam rentang waktu satu tahun membuat program literasi lebih terarah. Di tahun 2022, program penguatan literasi ini dibuat khusus untuk anak-anak. Perpustakaan Archivelago memberikan kesempatan untuk anak-anak berliterasi tentang kelautan dan perikanan sejalan dengan yang dikemukakan dalam teori literasi emergen bahwa anak-anak harus diberikan kesempatan untuk berliterasi. Anak pada usia dibawah 5 tahun sedang dalam proses untuk melek huruf. Teori ini menjelaskan bahwa dalam diri anak terdapat proses pengembangan keaksaraan yang terjadi secara bertahap dan berlangsung seiring waktu (Pratiwi et al., 2020). Sepanjang tahun 2022, Perpustakaan Archivelago melakukan program penguatan literasi dengan terus melakukan perbaikan dan pengembangan kualitas dari segi fasilitas dan pelayanan. Hal ini terwujud dalam tindakan para pustakawan dengan mempersiapkan ruang/ area membaca khusus anak yang dilengkapi meja, kursi, rak, mainan, hingga koleksi bahan pustaka khusus anak_x0002_anak. Penyediaan fasilitas tersebut menjadi bukti keseriusan dari Perpustakaan Archivelago agar pelayanannya bisa menjangkau kalangan anak-anak. Sebagaimana yang diperoleh dari hasil wawancara dengan Kepala Perpustakaan Archivelago, sebagai berikut: “Sebetulnya di tahun 2022 itu fokus kami adalah pelaksanaan program penguatan literasi untuk anak-anak, tapi di tahun 2021 kami fokus ke mahasiswa seperti taruna dan taruni yang berada di bawah satuan unit Kementerian Kelautan dan Perikanan. Mengapa dibedakan demikian karena tentu akan lebih baik jika dalam satu waktu kami menentukan satu fokus saja, jadi 2022 memang difokuskan untuk anak-anak.” (Hasil wawancara pada 7 Februari 2023 kepada Ibu Pamela Damayanti sebagai Kepala Perpustakaan Archivelago) Literasi tentang kelautan dan perikanan ini merupakan keunikan tersendiri bagi program penguatan literasi yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Archivelago, dimana tema literasi seperti ini bisa menarik minat anak terhadap literasi, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa akan ada kesulitan tersendiri ketika memberi literasi kepada anak, terutama yang berkaitan dengan konsentrasinya. B. PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN PROGRAM Berdasarkan hasil penelitian di lapangan pada pelaksanaan program penguatan literasi saat 16 November 2022, para pustakawan mendapatkan dukungan dari Perpustakaan Archivelago untuk menjalankan perannya dalam melakukan pendampingan literasi untuk kalangan anak-anak. Adapun bentuk dukungan yang diberikan yaitu menyusun dan menetapkan sasaran kinerja pegawai (SKP). Dalam SKP tersebut meliputi aspek kualitas, kuantitas, biaya, dan waktu dari setiap tugas yang merupakan penjabaran dari visi, misi, dan tujuan Perpustakaan Archivelago. Melalui SKP dapat diketahui besar beban kerja pustakawan, menjadi bahan evaluasi, dan bahan pertimbangan untuk mengikuti pelatihan tambahan seputar kepustakawanan. Pernyataan terkait hal tersebut dibuktikan pada uraian jawaban ibu Pamela Damayanti sebagai berikut: “Ada beberapa hal yang mendukung pustakawan dalam melakukan pendampingan literasi di Perpustakaan Archivelago yang pertama pasti dukungan manajerial yaitu kami ada sasaran kinerja pegawai (SKP).” (Hasil wawancara pada 28 April 2023 kepada Ibu Pamela Damayanti sebagai Kepala Perpustakaan Archivelago) Selain itu, bentuk dukungan lainnya adalah pendanaan. Pendanaan untuk kegiatan edukasi dan literasi sektor perikanan bersumber dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Sekretariat Jenderal tahun 2022. Dalam melakukan perencanaan program, pustakawan menyusun suatu kerangka acuan kerja yang diberi nama sebagai dokumen Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Komunikasi, Informasi Publik dan Umum yang disusun oleh Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri, dimana isi dari kerangka ini meliputi dasar hukum, gambaran umum, penerima manfaat, strategi pencapaian keluaran (metode pelaksanaan, tahapan dan waktu pelaksanaan), waktu pencapaian keluaran, dan dana yang diperlukan. Dalam rangka melaksanakan kerangka acuan kerja tersebut, penting untuk melakukan koordinasi dan membangun komunikasi yang baik karena program penguatan literasi ini melibatkan berbagai macam pihak. Oleh karena itu, koordinasi berlandaskan atas kelengkapan legalitas program sehingga pihak-pihak yang dilibatkan tersebut harus memberikan dukungannya agar program ini dapat dilaksanakan dengan baik. Adapun pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program penguatan literasi ini diantaranya pegawai Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri dimana pustakawan di Perpustakaan Archivelago termasuk di dalamnya, kemudian terdapat unit kerja lain seperti Biro Umum dan Pengadaan Barang/ Jasa, pengelola Galeri Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT), serta para guru dan siswa dari Kelompok Bermain Terpadu Bunayya. Diantara pihak-pihak tersebut, diselenggarakannya rapat baik secara formal maupun non-formal. Saat mengenalkan literasi, makna dari suatu tulisan harus diperhatikan karena sangat penting bagi anak. Anak akan lebih mudah mengenali tulisan-tulisan yang merupakan simbol sesuatu yang bermakna bagi dirinya, misalnya benda kesukaannya atau nama dirinya. Anak juga cenderung untuk meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain, sehingga sering mengajak anak berbicara dan membaca buku bersama merupakan hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan literasinya (Novrani et al., 2021). Majalah anak berjudul Si Mila merupakan bahan pustaka yang digunakan oleh pustakawan untuk kegiatan mendongeng dan mewarnai pada program penguatan literasi di Perpustakaan Archivelago. Majalah anak berjudul Si Mila merupakan bahan pustaka yang digunakan oleh pustakawan untuk kegiatan mendongeng dan mewarnai pada program penguatan literasi di Perpustakaan Archivelago. Majalah Si Mila berisi berbagai macam informasi seputar kelautan dan perikanan yang diterbitkan oleh Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pada penjelasan sebelumnya bahwa program penguatan literasi ini diisi dengan berbagai kegiatan edukatif diantaranya kegiatan berkeliling perpustakaan, mendongeng, menonton film pendek, dan mewarnai. Berkeliling perpustakaan menjadi kegiatan pembuka yang berhasil menarik minat anak-anak terlihat dari munculnya antusiasme terhadap program penguatan literasi yang sedang mereka ikuti. Pernyataan terkait hal tersebut dibuktikan pada uraian jawaban ibu Bernavita Fiana sebagai berikut: “Ketika mereka berkunjung ke perpustakaan kemudian disambut oleh kami dan mereka langsung bertanya di depan itu pas mau masuk ruang perpustakaan ada replika kapal ya itu jadi mereka tanya ‘kak itu kapal apa?’ bisa dilihat ya kalau baru datang pun mereka sudah antusias dan penasaran sama barang-barang yang ada di perpustakaan. Anak-anak juga merasa nyaman dengan enaknya menggandeng tangan saya sambil bilang ‘Kak Berna kita mau keliling kemana lagi?’ gitu loh.” (Hasil wawancara pada 15 Februari 2023 kepada Ibu Bernavita Fiana sebagai Pustakawan di Perpustakaan Archivelago) Adapun kegiatan menonton film pendek dilakukan dengan menonton film dalam bentuk animasi berjudul “A Tale of Whale” tentang dampak negatif membuang sampah ke laut. Kemudian untuk kegiatan mendongeng pustakawan mengundang seorang pendongeng Sarang Cerita yang membawakan dongeng dengan tema Cinta Laut, dilengkapi dengan kelengkapan mendongeng seperti alat peraga untuk membuat anak betah menyimak. Kegiatan kompetisi mewarnai juga menjadi bagian dari program penguatan literasi ini. Pustakawan menjadikan kegiatan mewarnai sebagai media untuk anak berimajinasi dan bereksplorasi. Dalam konsep teori literasi emergen, kegiatan literasi bagi anak dilakukan dengan memberi kesempatan untuk anak menyampaikan cerita, menulis ide/ gagasan yang ada di pikirannya, hingga melakukan permainan bermain peran untuk menstimulasi keterampilan membaca permulaan. Gambar 3 kegiatan mendongeng dalam program penuatan literasi Gambar 4 kegiatan menonton film pendeK Dalam menemukan kegiatan yang cocok untuk literasi anak, pustakawan melakukan riset melalui internet dengan menerapkan metode ATM (amati, tiru, dan modifikasi), disesuaikan dengan tema kelautan dan perikanan. Melihat hasil penelitian di lapangan, diketahui bahwa para pustakawan memiliki peran sangat kompleks, terutama dalam memberikan pelayanan kepada anak-anak. Pernyataan terkait hal tersebut dibuktikan pada uraian jawaban ibu Desi Novita Sari sebagai berikut: “Kalau ide kegiatan biasanya saya pakai sumber dari YouTube atau dari perpustakaan lain yang udah selenggarain kegiatan serupa ya, tapi disini cuma dijadikan sebagai referensi aja, bukan berarti kami bisa menjiplak. Sebagai salah satu pustakawan yang bisa dikatakan sebagai pengajar di kegiatan ini, saya biasanya menerapkan metode ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Cerita yang kami gunakan itu seputar laut, atau untuk sesi menonton film biasanya kami pakai potongan-potongan film tentang laut dan perikanan.” (Hasil wawancara pada 15 Mei 2023 kepada Ibu Desi Novita Sari sebagai Pustakawan di Perpustakaan Archivelago) Lamanya pelaksanaan program ini menghabiskan waktu sekitar satu jam. Dalam proses berliterasi terkadang anak-anak menjadi kurang fokus dan merasa bosan. Untuk mengatasi hal tersebut, pustakawan menerapkan yang mencairkan suasana di sela-sela program literasi. Berdasarkan hasil penelitian Harianja (2022), bahwa kegiatan untuk mencairkan suasana atau ice breaking bertujuan menghadirkan suasana berliterasi yang menyenangkan, dimana beberapa jenis kegiatan tersebut yang dapat dilakukan diantaranya bermain permainan, tepuk tangan, serta gerak anggota badan (Harianja, 2022). Adapun kegiatan ice breaking yang dilakukan pada program penguatan literasi di Perpustakaan Archivelago diantaranya menari gerakan hewan laut, bermain permainan, dan sesi tanya jawab, dalam hal ini pustakawan juga menunjukan sikap yang ramah sehingga suasana berliterasi menjadi nyaman dan menyenangkan. C. MANFAAT NYATA PROGRAM PENGUATAN LITERASI Program penguatan literasi untuk kalangan anak-anak di Perpustakaan Archivelago menghasilkan manfaat yang telah dirasakan oleh berbagai pihak yang bersangkutan. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, manfaat yang dirasakan oleh Perpustakaan Archivelago selaku lembaga yang menyelenggarakan program ini adalah terpenuhinya tugas Perpustakaan Archivelago yang berkedudukan sebagai perpustakaan khusus instansi pemerintah yang mendukung tujuan lembaga induknya yaitu Kementerian Kelautan dan Perikanan seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 8/PERMEN-KP/2014, Pasal 6, dengan terlaksananya program ini juga membuat penilaian kinerja perpustakaan menjadi baik. Pernyataan terkait hal tersebut dibuktikan pada uraian jawaban Ibu Pamela Damayanti sebagai berikut: “Kalau manfaat nyata untuk perpustakaannya sendiri sudah menjadi salah satu tugas kan, jadi misalnya kalau program penguatan literasinya terlaksana ya pasti nilai kinerja perpustakaan menjadi baik karena itu salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh Perpustakaan Archivelago.” (Hasil wawancara pada 28 April 2023 kepada Ibu Pamela Damayanti sebagai Kepala Perpustakaan Archivelago) Bagi para peserta yang merupakan dari kalangan anak-anak bahwa manfaat program penguatan literasi ini telah mencakup aspek kognisi dan afeksi. Aspek kognisi ditunjukan dengan bertambahnya pengetahuan anak tentang hewan-hewan laut dan hal-hal yang biasanya dilakukan oleh manusia tetapi memberi dampak negatif terhadap laut, sedangkan aspek afeksi ditunjukan dengan sikap anak-anak yang antusias dan sangat bersemangat selama program ini berlangsung. Anak-anak tersebut juga berani untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada para pustakawan di Perpustakaan Archivelago tentang banyak hal yang ingin mereka ketahui. Dari program ini, anak-anak juga diberikan bingkisan berupa makanan dari olahan ikan beserta majalah anak berjudul Si Mila agar dapat digunakan kembali saat di sekolah maupun di rumah. Pernyataan terkait hal tersebut dibuktikan pada uraian jawaban Ibu Rina Fitria sebagai berikut: “Anak-anak jadi berwawasan ya, mereka jadi lebih tahu apasi yang ada di laut. Setelah pulang pun banyak anak yang merasa puas dengan kunjungan bisa dilihat saat mereka bercerita ke orang tua setelah programnya selesai. Anak antusias bertemu orang tuanya, mereka bilang wah ada ini ini ini, jadi alhamdulilah materinya ada yang mereka sukai.” (Hasil wawancara pada 23 Februari 2023 kepada Ibu Rina Fitria sebagai Kepala Sekolah Kelompok Bermain Terpadu Bunayya) Kemudian, manfaat yang dirasakan oleh pustakawan adalah dapat terpenuhinya tanggung jawab sebagai pendamping literasi bagi masyarakat, hal tersebut berpengaruh terhadap penilaian kinerja pustakawan sebagaimana yang tertera dalam sasaran kinerja karyawan (SKP). Selain itu, pustakawan juga dapat belajar berbagai kompetensi yang belum dikuasainya dari narasumber yang merupakan ahli dalam suatu bidang yang diundang dalam program penguatan literasi ini. D. KEBERLANJUTAN PROGRAM PENGUATAN LITERASI Adanya manfaat yang dirasakan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam program penguatan literasi ini sehingga program ini harus berlanjut. Maka dari itu, pustakawan melakukan berbagai upaya untuk menjamin keberlanjutan dari program penguatan literasi ini. Pertama, upaya advokasi yaitu dengan membuat laporan pelaksanaan program untuk diserahkan kepada bagian Badan Tata Usaha di Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mendaptkan dukungan kebijakan dan anggaran di tahun berikutnya. Kedua, penting untuk tetap menjaga hubungan kerja sama yang baik antara pihak-pihak yang pernah dilibatkan pada pelaksanaan program penguatan literasi sebelumnya, yaitu dengan pihak sekolah dan unit-unit kerja lain di Kementerian Kelautan dan Perikanan, seperti Galeri Muatan Kapal Tenggelam dan Biro Umum dan Pengadaan Barang/Jasa. Bentuk kerja sama dengan Galeri Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) dilakukan agar anak-anak bisa mengunjungi galeri tersebut untuk melihat benda-benda bersejarah yang berasal dari muatan kapal tenggelam di Perairan Indonesia. Sedangkan kerja sama dengan Biro Umum dan Pengadaan Barang/ Jasa dilakukan perihal perizinan penyelenggaraan acara dan penyediaan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan selama program penguatan literasi ini berlangsung. Pernyataan terkait hal tersebut dibuktikan pada uraian jawaban Ibu Pamela Damayanti sebagai berikut: “Upaya yang bisa kami lakukan itu ya dengan kerja sama dengan sekolah-sekolah ya. Nah, selain dengan pihak eksternal, kami juga berusaha merangkul dari internal Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu para pegawai dimana para pegawai KKP ini pasti punya keluarga, putra dan putri, Kami juga mem-follow up lagi ke guru-guru dari sekolah yang udah kerja sama dengan kami nih apakah majalah anak yang sudah diberikan itu masih dipakai atau tidak ketika programnya udah selesai, kami juga ada membuat konten tentang kegiatan mereka ke media sosial.” (Hasil wawancara pada 7 Februari 2023 kepada Ibu Pamela Damayanti sebagai Kepala Perpustakaan Archivelago) Ketiga, monitoring dan evaluasi. Bentuk monitoring pada program ini dilakukan oleh pustakawan dengan memantau program ini dari proses persiapan hingga pelaksanaan. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan bahwa terjadi beberapa kendala yang dialami seperti perizinan penyelenggaraan program sempat terhambat dan terjadi keterlambatan pada sesi mendongeng, maka hal tersebut menjadi bahan untuk evaluasi agar tidak terulang lagi untuk pelaksanaan program penguatan literasi di masa mendatang Keempat, memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan program penguatan literasi ini kepada masyarakat Adapun jenis media sosial yang digunakan diantaranya Instagram, Twitter, LinkedIn, dan Whatsapp. Informasi terkait program ini disajikan dalam tampilan yang sangat menarik, tertata, dan bahasanya mudah dipahami. Meskipun anak-anak belum bermain media sosial, tetapi ada para orang tua yang bisa menerima informasi terkait program ini dan menyampaikannya kepada anak mereka. Pustakawan mendapatkan respon yang sangat baik di akun Instagram Perpustakaan Archivelago yaitu @perpuskkp terkait dengan program penguatan literasi ini. Kelima, pihak sekolah juga turut berupaya untuk keberlanjutan program ini yaitu dengan sesekali mengulang materi literasi terkait kelautan dan perikanan ketika kegiatan belajar mengajar di sekolah mereka masing-masing sedang berlangsung agar anak-anak tetap mengingat pengetahuan yang telah mereka dapatkan meskipun programnya sudah selesai diikuti. Pihak sekolah juga memberi saran kepada para orang tua untuk membimbing anaknya berliterasi di rumah menggunakan majalan anak Si Mila yang telah diberikan oleh Perpustakaan Archivelago kepada setiap anak-anak di Kelompok Bermain Terpadu Bunayya. Selain itu, pihak sekolah juga merekomendasikan program penguatan literasi ini kepada sekolah lainnya, agar semakin banyak sekolah yang berminat untuk mengikuti program penguatan literasi ini. Menjaga keberlanjutan literasi melewati proses yang tidak mudah, melibatkan berbagai pihak, berjalan konsisten dan terus diperkaya dengan perencanaan yang lebih baik agar mencapai tujuan literasi yang lebih utuh.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian bahwa pelaksanaan program penguatan literasi telah dilaksanakan secara maksimal, hal ini dapat dilihat dari Perpustakaan Archivelago yang berkontribusi penuh karena terlibat secara langsung baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan program penguatan literasi tentang kelautan dan perikanan untuk kalangan anak-anak. Program ini sebagai bentuk memenuhi tanggung jawab perpustakaan sebagai perpustakaan khusus instansi pemerintah yang mengetahui kondisi masyarakat yang masih jarang mendapatkan pengetahuan kelautan dan perikanan. Memilih anak-anak sebagai sasaran pada pelaksanaan program di tahun 2022, ini sejalan dengan yang dikemukakan dalam teori literasi emergen bahwa perolehan literasi diartikan sebagai perkembangan yang berkelanjutan, memberikan kesempatan untuk anak belajar tentang literasi. Pelaksanaan program ini didukung secara penuh sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan PER. 08/PERMEN-KP/2014. Adapun ragam kegiatan pada program ini diantaranya berkeliling perpustakaan, mendongeng, menonton film pendek, dan mewarnai. Berdasarkan hal tersebut, maka manfaat dari program ini untuk anak-anak dari Kelompok Bermain Terpadu Bunayya mencakup aspek kognitif dan afektif yang ditunjukan dengan bertambahnya pengetahuan dan munculnya minat dan semangat berliterasi tentang kelautan dan perikanan. Bagi Perpustakaan Archivelago dan para pustakawan dapat memenuhi tanggung jawab terkait literasi yang turut mempengaruhi penilaian kinerja perpustakaan dan pustakawan. Adanya manfaat-manfaat tersebut menjadikan program penguatan literasi ini terus berlanjut di tahun berikutnya