Preservasi naskah kuno (manuskrip) Kalimantan Selatan (studi kasus pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi dan Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan)
Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin; Universitas Antasari Banjarmasin
Abstract
Preserving ancient manuscripts is key to safeguarding cultural heritage and human knowledge. However, many ancient manuscripts in DISPERSIP and the Lambung Mangkurat Museum, South Kalimantan, have not received adequate attention. The research employed a qualitative approach with data collection techniques including observation, in-depth interviews, and documentation at DISPERSIP and the Lambung Mangkurat Museum. The subjects were ancient manuscripts, with data covering respondent identities, descriptions of preservation efforts, obstacles, and solutions. Data were analyzed through interactive and continuous processes of data reduction, data display, and conclusion drawing/verification until saturation was reached. Preservation of ancient manuscripts involved physical treatment and digitization of content. The main constraints were insufficient budget and human resources. Proposed solutions included collaboration with other parties such as ANRI and the University of Indonesia, as well as increased budget and staff training. The study emphasizes the importance of preserving ancient manuscripts in DISPERSIP and the Lambung Mangkurat Museum. Through collaboration and increased funding, preservation efforts can be enhanced to protect the cultural heritage of South Kalimantan. It is also recommended to create both manual and digital catalogs to raise public awareness of the manuscript treasures.
Keywords:
ancient manuscript
· conservation
· manuscript
· preservation
· safeguarding
Introduction
Indonesia adalah negara dengan kebudayaan yang sangat beragam, terdiri dari berbagai bentuk yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Kalimantan Selatan adalah salah satu provinsi yang memiliki keanekaragaman budaya yang menjadi ciri khas masyarakatnya, membedakannya dari provinsi lain di Indonesia. Salah satu warisan budaya yang bernilai tinggi dari nenek moyang adalah naskah kuno atau manuskrip. Naskah kuno ini merupakan bukti dari kegiatan masa lampau dan menyimpan potensi besar untuk mengungkapkan nilai-nilai sejarah yang dimiliki oleh pemilik, penulis, maupun daerah tempat naskah tersebut ditulis. Sebagai benda cagar budaya, naskah kuno dilindungi oleh undang-undang. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 menyatakan bahwa benda-benda cagar budaya adalah buatan manusia, baik yang bergerak maupun tidak bergerak, yang berupa kesatuan atau kelompok, bagian-bagian, atau sisa-sisa yang berusia minimal 50 tahun, atau mewakili masa gaya yang khas, serta dianggap memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. (Indonesia, t.t.) Naskah kuno atau manuskrip menyimpan beragam informasi dan kearifan lokal yang mencerminkan sejarah kebudayaan yang beragam. Namun, naskah-naskah ini cenderung lebih rentan terhadap kerusakan, yang sering kali disebabkan oleh kelembaban tinggi dan air, serangan serangga berbahaya, tikus, ketidakpedulian, bencana alam, kebakaran, pencurian, serta perdagangan naskah ke luar negeri oleh pihak-pihak tertentu. Sayangnya, upaya pelestarian naskah kuno ini masih kurang mendapat perhatian. Akibatnya, banyak naskah bersejarah yang mengalami kerusakan, kotoran, bahkan hilang, sehingga kualitas isinya menurun. Banyak naskah kuno di wilayah nusantara masih terabaikan. Penyimpanannya hanya di lemari kaca tanpa perlindungan atau pengawet apapun. Bahkan, beberapa naskah yang sobek hanya ditambal dengan kertas lain untuk merekatkan kembali. (Goodreads Indonesia Kliping Artikel Koran/Majalah: Di Dalam Negeri Terabaikan, di Luar Termuliakan Showing 1-6 of 6, t.t.) Sebagian besar naskah kuno di Kalimantan Selatan disimpan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi, Museum, serta oleh individu atau masyarakat pribadi. Peran penting dari perpustakaan dan museum sebagai lembaga ilmiah tidak dapat disangkal, karena mereka bertanggung jawab dalam melestarikan naskah kuno dan koleksi lain yang berhubungan dengan pengetahuan, pendidikan, dan riset. Kehadiran perpustakaan dan museum menjadi indikator kemajuan suatu negara, karena keduanya menjadi sarana utama untuk akses informasi. Seperti yang diungkapkan oleh Richard, ilmu perpustakaan dan informasi adalah disiplin yang berorientasi pada penyediaan akses terhadap pengetahuan dan informasi yang luas: prosesnya mencakup penciptaan, penyebaran, pengumpulan, organisasi, penyimpanan, pengambilan, interpretasi, dan penggunaan informasi. (Rubin Richard, 2015) Menurut Wiji Suwarno, koleksi yang disimpan dalam perpustakaan dan museum merupakan hasil dari karya dan pikiran manusia, baik di masa lampau maupun saat ini (Suwarno, 2010). Informasi yang terhimpun dari berbagai sumber ini merupakan catatan nyata tentang sejarah manusia yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan pada waktu tertentu. Perpustakaan seharusnya menyediakan materi dan informasi yang mencerminkan berbagai sudut pandang mengenai isu-isu terkini dan sejarah. (Evans dkk., 1992) Menurut Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 5 Tahun 1992, dalam Bab I Pasal 2, naskah kuno atau manuskrip diakui sebagai bagian dari koleksi perpustakaan dan museum yang merupakan sumber pengetahuan paling otentik tentang identitas dan latar belakang budaya manusia dari masa lampau. Sesuai dengan undang-undang tersebut, naskah kuno adalah dokumen yang ditulis secara manual atau mesin ketik dan belum dicetak menjadi buku yang telah berusia lebih dari 50 tahun. (Indonesia, t.t.) Perpustakaan dan museum memiliki kewajiban untuk menjaga kelestarian naskah kuno. Pelestarian, atau preservasi, merupakan tindakan untuk merawat dan melindungi koleksi naskah kuno dari berbagai faktor yang dapat menyebabkan kerusakan, sehingga nilainya tetap terjaga dan dapat digunakan oleh masyarakat dalam jangka waktu yang panjang. Tujuan dari pelestarian naskah kuno adalah untuk menjaga isi informasi dan nilai sejarahnya, serta agar tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Karena naskah kuno tidak akan bertahan lama tanpa perawatan yang tepat, maka penting untuk melakukan pelestarian agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang. (Mahawar & Kuriya, t.t.) Setelah melakukan observasi awal, peneliti menemukan sekitar 476 naskah kuno yang disimpan di DISPERSIP (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi) dan Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan. Naskah-naskah tersebut termasuk dalam beberapa kategori, seperti naskah keagamaan, mistik rahasia, peraturan hukum, dan silsilah raja-raja. Namun, mayoritas naskah kuno tersebut tidak mendapat perhatian yang memadai. Proses pelestarian naskah kuno memang tidak mudah dan memerlukan penanganan yang tepat serta melibatkan tenaga yang ahli di bidangnya. Penelitian ini menyoroti keberadaan naskah kuno di Kalimantan Selatan, khususnya yang disimpan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi serta Museum Lambung Mangkurat. Fokusnya adalah pada upaya preservasi naskah kuno, dengan mempertimbangkan tantangan dan solusi yang dihadapi dalam menjaga kelestarian warisan budaya ini. Keunikan penelitian ini terletak pada pendekatannya yang holistik terhadap masalah pelestarian naskah kuno. Selain mencatat jenis naskah yang ada dan kondisinya, penelitian ini juga akan menelusuri upaya-upaya konkret yang telah dilakukan untuk pelestarian naskah tersebut. Dalam mempertimbangkan hambatan-hambatan yang dihadapi, penelitian ini juga berusaha untuk mengidentifikasi solusi-solusi inovatif yang dapat diterapkan dalam konteks budaya dan sumber daya yang ada di Kalimantan Selatan. Penelitian ini tidak hanya melihat naskah kuno sebagai benda fisik, tetapi juga sebagai representasi nilai-nilai sejarah, kebudayaan, dan pengetahuan lokal yang unik. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman lebih lanjut tentang pentingnya pelestarian naskah kuno sebagai bagian integral dari identitas budaya suatu daerah. Dalam konteks yang lebih luas, penelitian ini memberikan landasan bagi pengembangan strategi pelestarian yang lebih efektif dan berkelanjutan untuk naskah kuno di seluruh Indonesia. Dengan memperkuat upaya-upaya pelestarian, diharapkan dapat memastikan bahwa warisan budaya berharga ini tetap terjaga untuk dinikmati oleh generasi masa depan
Method
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan cara penulis langsung terjun ke lokasi penelitian untuk mendapat data-data yang diperlukan (Suharsimi, 2006). Subjek dalam penelitian ini adalah pustakawan Dinas perpustakaan dan Kearsipan serta pengelola museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan. Sedangkan objek penelitian ini adalah naskah-naskah kuno (manuskrip) yang ada di Dinas perpustakaan dan Kearsipan, museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan serta upaya preservasi yang dilakukan. Penelitian ini dilakukan pada perpustakaan Provinsi Kal-Sel yaitu DISPERSIP dan Museum Lambung Mangkurat. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan konsep analisis Miles dan Huberman yang terdiri dari data reduction, data display, conclusion drawing/verification (Huberman & Saldana, 2014). Aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh (Ramadan & Juniarti, 2020)
Result
Berdasarkan hasil observasi tentang preservasi naskah kuno (masuskrip) yang ada di DISPERSIP dan Museum Lambung Mangkurat dengan kegiatan yang dilakukan peneliti terkait hal yang akan diteliti. Tabel 1 Data Observasi Preservasi Naskah Kuno (Masuskrip) No Rumusan masalah Hasil observasi Teori 1. Apa saja naskah kuno (manuskrip) yang ada di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPERSIP) Provinsi Kalimantan Selatan dan Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan? Naskah yang ada di DISPERSIP dan Museum Lambung Mangkurat berdasarkan hasil observasi awal ada yang tulisan tangan dengan menggunakan bahasa arab melayu, bahasa banjar melayu yang berasal dari ungkapan pikiran dan perasaan orang banjar dimasa lampau Menurut Baried dalam Faizal Amin (2011: 91) naskah adalah karangan dengan tulisan tangan yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya bangsa masa lampau 2. Bagaimana upaya preservasi naskah kuno (manuskrip) yang ada di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan dan Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan? Preservasi naskah kuno (manuskrip) yang dilakukan di DISPERSIP lebih kepada isi dari naskah tersebut dengan cara digitalisasi dan re-produksi. Musieum Lambung Mangkurat dalam melakukan preservasi naskah kuno (manuskrip) mengutamakan isi dan fisik artinya melakukan perbaikan fisik dengan cara konservasi dan restorasi naskah, melestarikan isi dengan digitalisasi dan re-produksi Menurut Primadesi (2010: 121-122) Dua hal yang dilakukan dalam proses preservasi naskah kuno yaitu: Konservasi dan Restorasi 3. Apa saja hambatan dan solusi yang dilakukan dalam preservasi naskah Hambatan dalam upaya preservasi naskah kuno (manuskrip) di DISPERSIP yaitu Pelestarian menurut IFLA (International Federation Of Library) yaitu mencakup semua No Rumusan masalah Hasil observasi Teori kuno(manuskrip) di kedua Lembaga tersebut keterbatasan dana sama halnya dengan Museum Lambung Mangkurat aspek usaha melestarikan bahan pustaka, keuangan, ketenagaan, metode dan teknik serta penyimpanannya. Hasil observasi ini dipertegas dengan hasil wawancara langsung oleh peneliti terhadap pihak pengelola naskah kuno (manuskrip) di DISPERSIP dan Museum Lambung Mangkurat. Untuk lebih jelasnya tentang preservasi naskah kuno (masuskrip) yang ada di DISPERSIP dan Museum Lambung Mangkurat peneliti jabarkan pada poin hasil wawancara yaitu pada pembahasan dan analisis data. A. NASKAH KUNO (MANUSKRIP) DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN (DISPERSIP) PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPERSIP) Provinsi Kalimantan Selatan berlokasi di 3 (tiga) tempat secara terpisah yakni di Jl. A. Yani Km. 6.400 No. 6 Banjarmasin, Jl. K.P. Tendean No. 106 Banjarmasin, dan Jl. Panglima Batur No. 1 Banjarbaru. 1. Koleksi di Jl. A. Yani Km. 6.400 No. 6 Banjarmasin Adapun informan penelitian untuk lokasi ini adalah : Jubaidah, S.Sos (Kasi Deposit dan Pelestarian), Muhammad Ade Chisty. A.Md (Staf Deposit dan Pelestarian), Gusti Rifqi Ikhsan. S.Kom (Staf Deposit dan Pelestarian), dan Muhammad Anshari. S.Kom (Staf Deposit dan Pelestarian). Koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPERSIP) Provinsi Kalimantan Selatan adalah sebagai berikut: Tabel 2 Koleksi DISPERSIP Umum Anak-anak Referensi Keliling 1 2 3 4 Jdl Eks Jdl Eks Jdl Eks Jdl Eks 59.929 183.361 7631 26.011 6.766 13.315 22.470 99.053 LTPS Deposit Audio Visual 5 6 7 Jdl Eks Jdl Eks Jdl Eks 22.470 99.053 8.312 8.790 714 1057 Berdasarkan tabel 4.1 tersebut di atas koleksi yang dimiliki oleh bagian Deposit adalah 8.312 judul, 8.790 eksampler. Koleksi Deposit adalah bahan cetakan yang menyangkut tentang Provinsi Kalimantan Selatan yang diterbitkan di Kalimantan Selatan atau di luar Kalimantan Selatan sejak dahulu, sekarang sampai masa yang akan datang mencakup: 1) Terbitan yang diterbitkan di daerah Kalimantan Selatan, 2) Diterbitkan di daerah lain yang isinya tentang Kalimantan Selatan. Terbitan dimaksud dapat berupa : Karya cetak, semua jenis terbitan dari setiap karya intelektual dan atau artistik yang dicetak dan digandakan dalam bentuk buku, majalah, surat kabar, peta, brosur dan sejenisnya yang diperuntukkan bagi umum. Karya rekam, jenis rekaman dari setiap karya intelektual dan atau artistik yang direkam dan digandakan dalam bentuk piringan hitam dan bentuk lain sesuai dengan perkembangan teknologi yang diperuntukkan bagi umum (terbilang masih langka), 3) Pengarang daerah Kalimantan Selatan, 4) Sejarah Kerajaan Banjar, 5) Adat istiadat Banjar, 6) Kebudayaan Banjar, 7) Bahasa sastra Banjar, 8) Kesenian Banjar, 9) Makna/simbol rumah Banjar, 10) Kamus Bahasa Banjar, dan 11) Petatah Petitih Banjar Koleksi Deposit sengaja dikumpulkan dan diolah, disimpan serta dilestarikan untuk kepentingan masyarakat bangsa Indonesia dan bangsa lain untuk keperluan peneliti dan kegiatan yang relevan (pengumpulan dan pengolahannya diatur dengan Undang-Undang republik Indonesia Nomor 4 tahun 1990 tentang serah simpan karya cetak dan karya rekam). Koleksi deposit tidak dilayankan secara bebas atau terbuka, namun lebih kepada layanan tertutup, layanan koleksi deposit diperuntukkan bagi peneliti dan pengamat sejarah. 2. Depo Arsip yang beralamat di Jl. Panglima Batur No. 1 Banjarbaru Petugas Depo Arsip yang langsung yang menangani arsip dan naskah kuno (manuskrip) ada dua orang yaitu: Muhammad Alfajri, A.Md, dan Fendi Trisunuaribowo .P., S.Hut. Berdasarkan alasan itulah pada lokasi penelitian di depo arsip ini peneliti hanya menemukan hasil re-produksi naskah kuno (manuskrip), hanya satu naskah yang asli. Berikut foto naskah kuno (manuskrip) dari Yayasan Dayak Bakumpai yang berumur lebih dari 100 tahun: Gambar 2 Naskah Kuno Yayasan Dayak Bakumpai Naskah kuno (manuksrip) asli yang berumur 100 tahun lebih yaitu dari Yayasan Dayak Bakumpai Naskah kuno (manuksrip) asli yang berumur 100 tahun lebih yaitu dari Yayasan Dayak Bakumpai. B. NASKAH KUNO (MANUSKRIP) MUSEUM LAMBUNG MANGKURAT Petugas yang menangani langsung koleksi naskah kuno (manuskrip) pada Museum Lambung Mangkurat adalah: Busri, S.Pd (Fungsional Pamong Budaya Ahli Madya), dan Khairul Fahmi (Pemelihara Koleksi dan museum). Informasi tentang naskah kuno (manuskrip) apa saja yang ada di Museum Lambung Mangkurat peneliti peroleh dari 2 orang informan tersebut yaitu:Koleksi Museum Lambung Mangkurat berdasarkan data tanggal 31 Desember 2018 adalah sebagai berikut: Tabel 3 Koleksi Museum Lambung Mangkurat NO KODE JENIS KOLEKSI KEADAAN KOLEKSI PER 21-12-2017 PENGADAAN KOLEKSI 2018 PER 31-122018 STATUS KEPEMILIKAN JUMLAH KOLEKSI GANTI RUGI HIBAH TITIPAN PINJAM AN JUMLAH KOLEKSI 1 GEOLOGIKA 123 123 2 BIOLOGIKA 181 181 3 ETNOGRAFIKA 6411 6411 4 ARKEOLOGIKA 356 356 5 HISTORIKA 495 495 6 NUMISMATIKA/HERALDI KA 3331 3338 7 FILOLOGIKA 158 158 8 KERAMOLOGIKA 1002 4 1006 9 SENI RUPA 143 1 144 10 TEKNOLOGIKA 80 80 JUMLAH 12287 5 12292 JUMLAH KOLEKSI SELURUHNYA 12287 BUAH 5 BUAH 12292 BUAH Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah koleksi naskah kuno yang dimiliki Museum Lambung Mangkurat berjumlah 158 (Filologika). Dari penjelasan kedua informan tersebut bahwa rincian datanya hanya sebagian yang tercatat yaitu sebagai berikut: Tabel 4 Daftar Koleksi Naskah/Filologika NO NO INV NAMA KOLEKSI TEMPAT NO NO INV NAMA KOLEKSI TEMPAT 1 ... Al-Qur'an Sumb Kel Prof Anwar Dilmy T. Koleksi Rak 1 36 07.14 SYAIR DALANG JANTERA MAS sda 2 5704 Al-Qur'an Tulis Tangan (N) sda 37 07.13 SYAIR AJAR PERWIRA AGUNG sda NO NO INV NAMA KOLEKSI TEMPAT NO NO INV NAMA KOLEKSI TEMPAT 3 5012 Al-Qur'an Cetakan Depag Th 1974 sda 38 07.12 SYAIR AJAR SUSUNAN sda 4 2923 Kitab Tuhfah III sda 39 3634 SYAIR PANJI KASMARAN sda 5 2925 Kitab Hasyiah II sda 40 2825 SYAIR BURUNG SIMBANGAN sda 6 2362 Kitab Syirus Salikin sda 41 2826 SYAIR SITI ZUBAIDAH sda 7 2924 Kitab Bajuti sda 42 4699 SYAIR DAMARWULAN sda 8 2922 Kitab Misbah I sda 43 4574 SYAIR RANGGANDIS I sda 9 2832 Kitab Sabilal Muhtadin Juz I sda 44 4244 SYAIR SAPUTAR sda 10 3975 Kitab Bukhari Juz III tentang Wasiat sda 45 4576 NASKAH SYAIR GUNTUR sda 11 2926 Kitab Hasyiah III sda 46 4572 NASKAH SYAIR GUNTUR sda 12 2828 Kitab Syirus Salikin II sda 47 3635 SYAIR sda 13 3397 a Fotokopy Kitab Sabilal Muhtadin Juz 1 (N) sda 48 4696 SYAIR BULAN SEIRANG sda 14 3397 b Fotokopy Kitab Sabilal Muhtadin Juz 2 (N) sda 49 4245 SYAIR CARANG KULINA sda 15 3397 c Fotokopy Kitab Sabilal Muhtadin Juz 3 (N) sda 50 3593 NASKAH TUTUR CANDI sda 16 3397 d Fotokopy Kitab Sabilal Muhtadin Juz 4 (N) sda 51 E. 4226 SYAIR KINTAMBUAN sda 17 4220 a Fotokopy Kitab Sabilal Muhtadin Juz 1 (N) sda 52 E. 4249 SYAIR DAMARWULAN sda 18 4220 b Fotokopy Kitab Sabilal Muhtadin Juz 2 (N) sda 53 E. 4227 SYAIR sda 19 4220 c Fotokopy Kitab Sabilal Muhtadin Juz 3 (N) sda 54 E.4298 SYAIR sda 20 4220 d Fotokopy Kitab Sabilal Muhtadin Juz 4 (N) sda 55 4247 SYAIR CARANG KULINA I sda 21 07.56 Fotokopy Kitab Sabilal Muhtadin Juz 1 (N) sda 56 07.8430 SYAIR RAJA MUKADAM sda 22 07.57 Fotokopy Kitab Sabilal Muhtadin Juz 2 (N) sda 57 E. 4229 SYAIR sda 23 07.58 Fotokopy Kitab Sabilal Muhtadin Juz 3 (N) sda 58 E. 4248 SYAIR sda 24 07.59 Fotokopy Kitab Sabilal Muhtadin Juz 4 (N) sda 59 E. 4575 SYAIR GUNTUR sda 25 4300 Kitab Qoshoshul Anbiya sda 60 002 HIKAYAT sda 26 2823 Kitab Jalalain sda 61 4246 SYAIR RATU KURIPAN sda 27 2927 Kitab Hasyiah IV sda 62 8523 KITAB MUQADDIMATUL MUBTADIN sda 28 07.16 Naskah Lukisan Wayang sda 63 4510 NASKAH BRAHMA SYAHDAN sda 29 2824 Kitab Tajul Muluk sda 64 07.8191 KITAB UNSUL MUTTAQIN sda 30 2301 Kitab Tahkik (N) sda 65 4228 SYAIR sda 31 07.60 Fotokopy Kitab Tuhfatur Rogibin (N) sda 32 6004 Riwayat Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari sda 33 5765 KITAB LOQTHATUL 'AJLAN sda 34 4223 EPISODE SEJARAH BANJAR sda 35 5764 SYAIR BAGINDA HAMZAH sda Informan juga menyampaikan bahwa ada beberapa koleksi yang tidak dimasukkan di daftar tersebut seperti Kitab Sabilal asli tulisan tangan asli dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary. Berikut foto-foto sebagian koleksi naskah kuno (manuskrip Naskah Kuno pada Daun Lontar/ Naskah Daun Lontar yang perlu dilakukan preservasi untuk menjaga sebagai bahan keilmuan masa yang akan datang. C. UPAYA PRESERVASI NASKAH KUNO (MANUSKRIP) YANG ADA DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN (DISPERSIP) PROVINSI KALIMANTAN SELATAN DAN MUSEUM LAMBUNG MANGKURAT KALIMANTAN SELATAN 1. Preservasi di Perpustakaan yang berlokasi Jl. A. Yani Km. 6.400 No. 6 Banjarmasin Hasil penelitian berupa observasi dan wawancara dengan semua informan mendapatkan penjelasan bahwa: preservasi yang dilakukan meliputi preservasi fisik dan isi. Dalam kegiatan sehari-hari preservasi isi lebih dominan, sedangkan preservasi fisik tidak terlalu dominan. Preservasi isi dilakukan dengan digitalisasi dan re-produksi naskah kuno tersebut. Adapun proses digitalisasi dilakukan adalah melakukan scanning pada koleksi, menjadikan file Pdf, memasukkan file pdf tersebut ke dalam CD, memberikan cover pada CD, memajang pada lemari pajangan. Koleksi yang sudah didigitalkan tidak dikatalog lagi, dengan alasan buku aslinya sudah dikatalog. Untuk CD hasil re-produksi, disusun di rak dan lemari kaca yang ada, dengan susunan biasa, tidak mengikuti suatu klasifikasi atau pengelompokan tertentu. Koleksi yang sudah didigitalkan tidak dikatalog lagi, karena koleksi aslinya sudah dikatalog. Untuk CD hasil re_x0002_produksi, disusun di rak dan lemari kaca yang disediakan. 2. Preservasi di Depo Arsip yang beralamat di Jl. Panglima Batur No. 1 Banjarbaru Penelitian di tempat ini dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap 2 orang petugas yang menangani naskah kuno (manuskrip) yang dijadikan informan yaitu Bapak Fajri dan Fendi. Kegiatan preservasi arsip dan naskah kuno (manuskrip) pada Depo Arsip seperti yang mereka jelaskan adalah sebagai berikut: 1) Setiap berkas arsip dibungkus menggunakan kertas casing/samson, lalu dimasukkan dalam boks arsip dan disimpan di rak/lemari arsip. 2) Dalam boks arsip diberi kamper/kapur barus, idealnya diberi lagi setiap 6 bulan sekali. 3) Setiap tahun ruang arsip difumigasi (macam pengasapan), pestcontrol, dan pernah juga disuntik anti rayap di sekeliling bangunan setiap sekitar 30 cm. 4) Ruang ber AC, di tempat (Depo Arsip) walaupun belum optimal, karena belum bisa 24 jam. Selain itu, tidak semua ruang penyimpanan arsip ber AC, dan 5) Pembatasan cahaya dengan gorden pada jendela kaca. Naskah kuno yang ada di Depo Arsip berupa Re-produksi dari Naskah kuno yang sudah di re-pruduksi menjadi Buku. 3. Museum Lambung Mangkurat Berbeda dengan DISPERSIP yang dilakukan di dua tempat yang melakukan preservasi koleksi deposit ataupun naskah kuno (manuskrip) lebih mengutamakan isi/informasi yang terkandung dalam naskah, museum lambung mangkurat mengutamakan keduanya yaitu fisik dan isi/informasi naskah kuno (manuksrip) yang ada. Hal ini terlihat dari hasil observasi dan wawancara terhadap dua (2) orang informan yaitu pak Busri dan Fahmi bahwa: Preservasi manuskrip yang dilakukan di Museum Lambung Mangkurat dilakukan sesuai dengan SOP yang sudah mengikuti standard Nasional (Menurut Informan Bpk Fahmi). Preservasi yang dilakukan meliputi preservasi fisik dan isi. Preservasi fisik yang meliputi dua kegiatan pokok konservasi dan restorasi. Sedangkan preservasi isi dilakukan dengan digitalisasi dan re-produksi naskah kuno tersebut. Adapun pemaparan informan tentang kegiatan preservasi manuskrip pada museum Lambung Mangkurat adalah sebagai berikut: Konservasi, yang dilakukan terhadap naskah kuno adalah melindungi, mengawetkan dan memelihara naskah kuno agar tetap utuh dan tidak rusak, antara lain dengan cara melakukan perawatan secara alami pada naskah kuno yaitu dengan memberikan bahan-bahan alami untuk menjaga fisiknya agar tidak rusak. Bahan-bahan tersebut adalah cengkeh yang diletakkan di sekeliling naskah kuno (manuskrip) yang harus diganti setiap 3 bulan, yaitu ketika cengkehnya tidak lagi berbau wangi. Selain Cengkeh, mereka juga menggunakan “Silikagel” sebagai pengawet. Silikagel adalah pengawet yang sering digunakan orang untuk mengawetkan tas atau sepatu. Pemberian zat kimia hanya dilakukan apabila dalam kondisi terpaksa karena kondisi manuskripnya, dan tetap memperhatikan ukuran yang seimbang agar tidak merusak naskah kuno tersebut. Untuk keamanan mereka menempatkannya pada ruang khusus, dijaga oleh satu orang petugas dan hanya boleh dilihat oleh orang-orang yang berkepentingan misalnya karena alasan penelitian. Meski begitu, ada beberapa yang dipajang di ruang pamer yang merupakan koleksi unggulan yaitu sebuah mushaf Alquran berukuran besar yang hanya berisi 10 juz. Kertasnya tampak usang dan tua namun terawat dengan baik. Mushaf ini merupakan karya tulisan tangan asli dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary. Gambar 11 Mushaf ini merupakan karya tulisan tangan asli Restorasi, setiap naskah yang akan direstorasi harus dimasukkan ke Laboratorium dulu, kemudian diperiksa dan dianalisis oleh tenaga ahli untuk melihat keadaan manuskrip tersebut dan menentukan langkah yang tepat, karena tiap kerusakan fisik perlu ditangani dengan cara yang berbeda. Hal ini dikarenakan cara manuskrip rusak ada bermacam-macam, tergantung sebab dan jenis kerusakan. Langkah-langkah melakukan restorasi naskah kuno pada museum Lambung Mangkurat adalah melapisi dengan kertas khusus (doorslagh) pada lembaran naskah yang rentan, memperbaiki lembaran naskah yang rusak dengan bahan Kearsipan, menempatkan di dalam tempat aman (almari), menempatkan pada ruangan ber-AC dengan suhu udara teratur, membersihkan dan melakukan fumigasi. Dalam kegitan fumigasi museum Lambung Mangkurat bekerjasama dengan Sucofindo. Proses Fumigasi dengan pihak Sucofindo berdasarkan penjelasan kedua informan adalah sebagai berikut hari pertama survey gudang dan pengukuran gudang, hari ke dua penutupan angin-angin gudang dan penyemprotan gas Metil Bromide dan sulfur untuk membunuh insek, hari ke tiga menyeterilkan ruangan gudang agar aman (19 Juli 2019). Digitalisasi naskah kuno, kegiatan digitalisasi pada Museum Lambung Mangkurat dilakukan dengan bekerja sama dengan Universitas Indonesia dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Ada 39 koleksi yang sudah didigitalisasi yaitu : Tabel 5 Daftar Koleksi Naskah Dan Syair Yang Akan Dikonservasi & Digitalisasi Di Universitas Indonesia Dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jakarta NO NAMA KOLEKSI NO INV JUMLAH HALAMAN KETERANGAN PANJANG LEBAR TEBAL 1 KITAB LOQTHATUL 'AJLAN 5765 28 ( 14 lbr) 20 cm 16,5 cm 0,25 cm 2 EPISODE SEJARAH BANJAR 4223 40 ( 20 lbr) 21,5 cm 17,1 cm 0,6 cm 3 SYAIR BAGINDA HAMZAH 5764 166 ( 83 lbr) 22 cm 17,5 cm 1,5 cm 4 SYAIR DALANG JANTERA MAS 07.14 94 ( 47 lbr) 21,4 cm 17,5 cm 0,7 cm 5 SYAIR AJAR PERWIRA AGUNG 07.13 72 ( 36 lbr) 21,5 cm 17 cm 0,6 cm 6 SYAIR AJAR SUSUNAN 07.12 78 ( 39 lbr) 22 cm 18 cm 0,8 cm 7 SYAIR PANJI KASMARAN 3634 104 ( 52 lbr) 20,2 cm 15,9 cm 1 cm 8 SYAIR BURUNG SIMBANGAN 2825 108 ( 54 lbr) 19,4 cm 15,2 cm 1 cm 9 SYAIR SITI ZUBAIDAH 2826 230 (115 lbr) 21,9 cm 17,5 cm 2 cm 10 SYAIR DAMARWULAN 4699 30 ( 15 lbr) 20,3 cm 16,6 cm 0,4 cm 11 SYAIR RANGGANDIS I 4574 108 ( 54 lbr) 20,9 cm 16,3 cm 1 cm NO NAMA KOLEKSI NO INV JUMLAH HALAMAN KETERANGAN PANJANG LEBAR TEBAL 12 SYAIR SAPUTAR 4244 88 ( 44 lbr) 20,8 cm 17,2 cm 1,3 cm 13 NASKAH SYAIR GUNTUR 4576 64 ( 32 lbr) 2,3 cm 17 cm 0,6 cm 14 NASKAH SYAIR GUNTUR 4572 96 ( 48 lbr) 21,7 cm 18,3 cm 0,9 cm 15 SYAIR 3635 152 ( 76 lbr) 21,4 cm 17,4 cm 2,2 cm 16 SYAIR BULAN SEIRANG 4696 124 ( 62 lbr) 21,5 cm 17,6 cm 1,1 cm 17 SYAIR CARANG KULINA 4245 100 ( 50 lbr) 20,7 cm 16,7 cm 0,8 cm 18 NASKAH TUTUR CANDI 3593 180 ( 90 lbr) 21,4 cm 17,5 cm 2,5 cm 19 SYAIR KINTAMBUAN E. 4226 ( lbr) cm cm cm 20 SYAIR DAMARWULAN E. 4249 ( lbr) cm cm cm 21 SYAIR E. 4227 ( lbr) cm cm cm 22 SYAIR E.4298 ( lbr) cm cm cm 23 SYAIR CARANG KULINA I 4247 ( lbr) cm cm cm 24 SYAIR RAJA MUKADAM 07.8430 ( lbr) cm cm cm 25 SYAIR E. 4229 ( lbr) cm cm cm 26 SYAIR E. 4248 ( lbr) cm cm cm 27 SYAIR GUNTUR E. 4575 ( lbr) cm cm cm 28 HIKAYAT 002 ( lbr) cm cm cm 29 SYAIR RATU KURIPAN 4246 ( lbr) cm cm cm 30 KITAB MUQADDIMATUL MUBTADIN 8523 ( lbr) cm cm cm 31 NASKAH BRAHMA SYAHDAN 4510 ( lbr) cm cm cm 32 KITAB UNSUL MUTTAQIN 07.8191 ( lbr) cm cm cm 33 SYAIR 4228 ( lbr) cm cm cm 34 SYAIR MADI KENCANA 2826 ( lbr) cm cm cm 35 SYAIR BULAN SEIRAMA 4696 ( lbr) cm cm cm 36 SYAIR BAGINDA HAMZAH 5764 ( lbr) cm cm cm 37 SYAIR JANTERA MAS 07.14 ( lbr) cm cm cm 38 SYAIR INDERA DEWA 5930 ( lbr) cm cm cm 39 SYAIR INDERA SUMAYA ( lbr) cm cm cm Re-produksi naskah Kuno, koleksi yang sudah didigitalisasi tersebut diproduksi (re_x0002_produksi) kembali menjadi buku oleh Museum Lambung Mangkurat. Buku tersebut berisi naskah yang sudah didigitalisasi dilengkapi dengan Transliterasi/terjemahannya. Sebagai contoh yaitu syair ratu anom bagian 1: transliterasi naskah kuno, syair ratu anom bagian 2: transliterasi naskah kuno, syair indera sumaya. Gambar 12 Hasil Re-produksi naskah Kuno Jadi dapat disimpulkan bahwa upaya preservasi naskah kuno (manuskrip) yang ada di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPERSIP) Provinsi Kalimantan Selatan lebih mengutamakan isi/informasi yang terkandung dalam naskah kuno (manuskrip) dari pada fisik, sedangkan pada Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan melakukan preservasi terhadap fisik dan isi/informasi dari naskah kuno (manuskrip) itu HAMBATAN DAN SOLUSI YANG DILAKUKAN DALAM PRESERVASI NASKAH KUNO (MANUSKRIP) DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN (DISPERSIP) PROVINSI KALIMANTAN SELATAN DAN MUSEUM LAMBUNG MANGKURAT KALIMANTAN SELATAN Dalam melakukan kegiatan, hambatan merupakan hal yang biasa dihadapi, oleh sebab itu Dalam setiap kegiatan, hambatan seringkali menjadi hal yang biasa dan harus dianalisis dengan seksama sebelumnya. Dalam penelitian ini, hambatan dalam upaya pelestarian naskah kuno di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPERSIP) Provinsi Kalimantan Selatan serta Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan, seperti yang diungkapkan oleh 8 informan dari kedua lokasi penelitian, terutama berkaitan dengan dana dan sarana prasarana. Semua informan dari DISPERSIP di Jln. A. Yani KM. 6,400, maupun lokasi Depo Arsip Banjarbaru, sepakat bahwa dana dan sarana prasarana merupakan hambatan utama. Di DISPERSIP Kalimantan Selatan, terlihat kurangnya dana dan sarana prasarana menjadi hambatan dalam upaya pelestarian naskah kuno. Sebagai solusi, DISPERSIP diusulkan untuk melakukan kerjasama dengan Arsip Nasional Republik Indonesia dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Penelitian di Museum Lambung Mangkurat juga menemukan hambatan serupa, yaitu keterbatasan dana dan sarana prasarana dalam upaya pelestarian naskah kuno. Sebagai langkah solutif, Museum Lambung Mangkurat menggandeng Universitas Indonesia dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk melaksanakan pelestarian naskah kuno. Langkah-langkah yang diambil untuk memelihara naskah kuno di DISPERSIP Kalimantan Selatan dan Museum Lambung Mangkurat mencakup restorasi, konservasi, digitalisasi, reproduksi, serta menjaga fisik dan isi informasi dari naskah tersebut. Ini sesuai dengan konsep Hazen dalam Ibrahim tentang ragam kegiatan dalam pelestarian. Konsep ini mencakup tiga aspek utama: pertama, mengatur lingkungan untuk memastikan kondisi yang mendukung pelestarian; kedua, berbagai tindakan untuk memperpanjang umur bahan pustaka, seperti deasidifikasi, restorasi, atau penjilidan ulang; dan ketiga, upaya untuk mengalihkan isi informasi dari satu format ke bentuk lain. Tentunya, setiap aspek tersebut masih dapat diperluas dan diperinci dalam berbagai aktivitas lainnya. Pelestarian naskah kuno di kedua institusi tersebut sejalan dengan teori Sutarno, yang menyatakan bahwa pelestarian adalah upaya mencegah kerusakan dan mempertahankan nilai guna barang penting untuk jangka waktu yang panjang. Kegiatan yang dilakukan mencakup restorasi, konservasi, digitalisasi, dan mempertahankan fisik serta isi informasi dari naskah tersebut, sejalan dengan konsep Hazen dalam Ibrahim tentang ragam kegiatan dalam pelestarian (NS, 2005). Pelestarian dilakukan tidak hanya semata mencegah dari kerusakan, tetapi untuk mempertahankan nilai guna dari barang yang bersifat penting untuk jangka waktu yang panjang.
Conclusion
Naskah kuno (manuskrip) yang ada di DISPERSIP Kalimantan Selatan pada lokasi pertama yaitu Jln. A yani KM 6,400 koleksi yang dimiliki oleh bagian deposit adalah 8.312 judul, 8.790 eksemplar, sedangkan pada lokasi kedua di depo arsip Banjarbaru didapatkan satu naskah kuno (manuskrip) asli dari Yayasan Dayak Bakumpai, yang lainnya berada di Arsip Nasional Republik Indonesia dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Pada Museum Lambung Mangkurat koleksi naskah kuno yang dimiliki Museum Lambung Mangkurat berjumlah 158 (Filologika). Berdasarkan hasil penelitian terhadap Preservasi Naskah Kuno di DISPERSIP Kalimantan Selatan dan Museum Lambung Mangkurat bahwa keduanya memiliki pendekatan yang berbeda dalam menjaga keberlangsungan naskah kuno. DISPERSIP lebih mengutamakan preservasi isi informasi melalui digitalisasi, sementara Museum Lambung Mangkurat juga memperhatikan aspek fisik naskah dengan metode konservasi yang lebih komprehensif. Meskipun keduanya menghadapi kendala dana dan sarana, mereka mengatasi hal ini dengan menjalin kerjasama dengan lembaga lain seperti Arsip Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Universitas Indonesia, dan yayasan lokal