Lanskap terapeutik pada perpustakaan: redefinisi peran perpustakaan pascapandemi covid-19
Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin; Universitas NU Kalimantan Selatan
Abstract
The concept of therapeutic landscapes has been widely used to describe the relationship between place and mental health improvement. This paper draws on data from qualitative research conducted with patrons from diverse backgrounds to elucidate the role of public libraries as therapeutic landscapes. Data were collected through purposive and convenience sampling methods by interviewing two librarians and ten visitors of the Regional Public Library of DKI Jakarta. The data were then analyzed using three stages: data collection and reduction, data interpretation, and research report writing. This paper positions the public library as a space that is simultaneously familiar and welcoming, comfortable and calming, and empowering. Furthermore, this paper focuses on describing the concept of therapeutic landscapes as applied to public libraries and how library users perceive the therapeutic landscapes implemented in these libraries.
Keywords:
library
· mental health
· therapeutic landscape
Introduction
UU No. 43 Tahun 2007 telah menjelaskan bahwa perpustakaan sebagai institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku mememiliki fungsi untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, namun juga dapat menjadi wahana rekreasi bagi para pemustaka atau masyarakat secara umum. Khusus untuk poin terakhir tersebut, perpustakaan dapat dipandang sebagai agen yang paling dekat dengan masyarakat. Beberapa penelitian juga telah mengeksplorasi bagaimana perpustakaan umum menjadi elemen penting dari kehidupan masyarakat (Toyne dan Usherwood, 2001; Cury dan Alstad,2003). Pemustaka “mendambakan” sebuah perpustakaan yang memiliki fungsi sosial yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan mereka (Proctor dkk., 1997). Data analisis sebuah lembaga survey berbasis di Inggris, Mass Observation Archieve menunjukkan bahwa perpustakaan umum adalah tempat refleksi, realisasi diri, dan perlindungan (Black, 2011). Kemudian, Liz Brewster (2014) mengemukakan bahwa perpustakaan umum dipandang sebagai ruang untuk tujuan pemulihan dan perbaikan serta mampu menghadirkan rasa senang dan mempromosikan gaya hidup sehat dan sejahtera. Perpustakaan tidak dilihat sebagai organisasi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan yang perlu direstorasi. Lebih jauh lagi, hasil penelitian Brewster (2014) menunjukkan bahwa unsur lingkungan yang terdapat di perpustakaan yaitu layanan dan sumber informasi, sarana dan prasarana yang disediakan telah mendorong kegiatan yang sehat dan mengarah pada pendekatan yang secara tidak langsung memberikan rasa senang, nyaman dan aman di perpustakaan. Brewster telah mengkategorikan perpustakaan umum menjadi: 1) perpustakaan merupakan institusi atau organisasi terbuka, ramah dan mudah didekati, 2) perpustakaan sebagai organisasi yang memiliki sifat yang menyenangkan dan menyejukkan, dan 3) perpustakaan sebagai organisasi yang memiliki kemampuan memberdayakan masyarakat. Oleh karenanya, telah terbukti bahwa perpustakan umum memiliki peran mendasar dan penting bagi penggunanya. Peran ini tentunya tidak hanya berfokus pada layanan yang disediakan sebuah perpustakaan umum, namun juga menilik perpustakaan sebagai sebuah institusi dan ruang. Untuk jangka panjang, Indonesia perlu mengembangkan rancangan tata ruang atau lanskap perpustakaan yang mampu mewujudkan peran perpustakaan sebagai isntitusi yang terbuka, ramah, dan dekat dengan masyarakat yaitu dengan memberikan sentuhan terapeutik pada ruangnya. Masyarakat dunia, khususnya Indonesia menghadapi tantangan hidup yang lebih beragam pada masa pascapandemi saat ini. Dalam menyikapi hal ini tentunya perpustakaan yang dianggap telah memiliki “kedekatan” dengan masyarakat harus ikut mengambil peran dalam membantu masyarakat menghadapi masalah sosial yang timbul akibat pandemi yang dialami dalam kurun waktu 2 tahun ke belakang. Masalah-masalah sosial akibat pandemi tersebut berdampak tidak hanyak secara sosial namun juga secara mental atau psikologis. Dalam hal ini perpustakaan dapat menonjolkan partisipasi sosialnya dalam masyarakat dengan memanfaatkan segala sumber informasi dan layanan yang ada diperpustakaan untuk membantu masyarakat. Di antaranya melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan sosial online ataupun offline dengan masyarakat seperti diskusi peluang bisnis, pelatihan keterampilan TIK, pelatihan literasi informasi, ataupun diversifikasi kegiatan untuk mendorong masyarakat gemar membaca (Husaini, dkk., 2018). Di samping itu, Haslinda Husaini,dkk. (2018) juga mengemukakan bahwa tantangan hidup yang berat yang dihadapi masyarakat pascapandemi membuat masyarakat merasa perlu untuk mencari lingkungan yang damai dan mampu mendorong mereka untuk berpikir dan bereaksi positif dalam menghadapi masalah. Oleh karena itu perpustakaan perlu mendefinisikan kembali keberadaannya di masyarakat. Perpustakaan diharapkan memiliki keterlibatan dalam pengembangan kesejahteraan sosial masyarakat salah satunya dengan memfasilitasi wahana rekreasi yang dapat menjadi sarana “healing” bagi masyarakat. Dalam hal ini penerapan konsep therapeutic landscape di perpustakaan dapat menjadi hal yang vital untuk dilakukan. Kajian therapeutic landscape di perpustakaan bukanlah hal baru yang pernah diteliti. Studi_x0002_studi sebelumnya yang dibahas telah membawa penelitian ini untuk dimulai. Namun penelitian ini tidak lah bertujuan untuk mengukur kesejahteraan pengguna perpustakaan, studi ini difokuskan untuk mengulas bagaimana unsur-unsur lanskap terapeutik dihadirkan pada perpustakaan dan bagaimana para personil perpustakaan dan pemustaka mengaktualisasikan dan mempersepsikan lanskap terapeutik pada perpustakaan di mana mereka berada
Method
Penelitian ini dilakukan dengan mengkombinasikan studi dokumentasi dan studi lapangan dengan pendekatan studi kasus kualitatif. Studi dokumentasi dilakukan dengan mengkaji, menganalisis temuan dari studi terdahulu berupa artikel jurnal, laporan-laporan penelitian terkait perpustakaan. Studi lapangan dilakukan dengan observasi yang mengambil lokasi di Perpustakaan Umum Daerah DKI Jakarta atau yang lebih dikenal dengan Perpustakaan Jakarta, dan wawancara terbuka kepada 12 orang yang menjadi partisipan dalam penelitian ini. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive dan convenience sampling, yaitu berbicara dengan dua orang pustakawan dan sepuluh pengunjung perpustakaan yang secara sukarela bersedia diwawancarai. Sampel tidak dimaksudkan untuk mewakili masyarakat setempat, tetapi diupayakan untuk menjangkau kelompok-kelompok yang berbeda. Sifat sensitif dari data yang dikumpulkan, beberapa di antaranya sangat pribadi bagi para partisipan, berarti menjaga kerahasiaan dan mengikuti pedoman etika adalah hal yang terpenting. Pseudonyms digunakan untuk 10 partisipan pemustaka untuk menjaga kerahasiaan partisipan, dan data demografis dijaga seminimal mungkin. Para partisipan pemustaka mewakili sampel populasi yang beragam dalam hal jenis kelamin, usia, dan latar belakang sosial-ekonomi, meskipun tidak dalam hal etnis. Kesepuluh partisipan terdiri dari lima orang perempuan dan lima orang laki-laki. Usia berkisar antara awal 20-an hingga 40-an, dengan mayoritas partisipan berusia 20-an dan 30an. Pemerolehan data akan dilakukan melalui obeservasi dan wawancara terbuka. Data penelitian dari observasi dan transkrip wawancara akan direfleksikan dan diinterpretasikan dengan metode komparatif konstan (Charmaz, 2006). Proses pengkodean dilakukan berdasarkan pembacaan data yang cermat untuk mengatasi kompleksitas banyak makna dan konseptualisasi (Saldana, 2009) Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui 3 tahapan yaitu: pengumpulan dan reduksi data, interpretasi data, dan penulisan atau penyusunan laporan penelitian. Pada tahap pertama, dilakukan penghimpunan dan penginventarisasian, serta pemilahan atau penyeleksian data yang relevan sesuai dengan kebutuhan penelitian. Pada tahapan selanjutnya, interpretasi data, yakni tahapan untuk membaca data atau informasi yang sudah diseleksi, kemudian menginterpretasikannya sehingga menjadi suatu jalinan cerita yang utuh dan lengkap (komprehensif). Ketiga, tahapan penulisan laporan penelitian merupakan langkah terakhir, yakni ketika fakta atau data yang sudah diinterpretasikan ditulis secara sistematis, logis sesuai dengan alur pembahasan. Sumber data primer penelitian ini adalah merupakan dokumen hasil wawancara dan FGD dan diskusi dengan para partisipan. Dokumen penting berupa penelitian-penelitian terdahulu berupa artikel jurnal, laporan hasil penelitian terkait penerapan lanskap terapeutik di perpustakaan yang menjadi rujukan dalam penelitian. Selanjutnya data yang ada kemudian diseleksi sesuai dengan kebutuhan penelitian. Penelitian ini menerapkan teknik triangulasi data untuk pengujian data. Triangulasi adalah metode verifikasi data yang memanfaatkan elemen di luar data itu sendiri sebagai alat pengecekan atau pembanding. (Susanto dkk., 2023) Terdapat tiga jenis triangulasi: sumber, teknik, dan waktu. Triangulasi sumber dilakukan dengan memeriksa data dari lapangan melalui berbagai sumber. Triangulasi teknik melibatkan pengecekan data dari sumber yang sama dengan metode yang berbeda, sedangkan triangulasi waktu mengacu pada pengecekan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi atau metode lainnya dalam periode yang berbeda. (Susanto dkk., 2023) Penelitian ini menggunakan ketiga jenis triangulasi yakni validitas data: sumber, teknik, dan waktu. Triangulasi sumber diterapkan dengan memeriksa kembali data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Triangulasi teknik dilakukan dengan memverifikasi informasi dari informan menggunakan berbagai metode. Sementara itu, triangulasi waktu dilakukan dengan mengecek kembali informasi yang diperoleh pada waktu yang berbeda
Discussion
DIMENSI FISIK: REVITALISASI DAN WAJAH BARU PERPUSTAKAAN JAKARTA Perpustakaan Jakarta merupakan perpustakaan daerah dengan status perpustakaan tingkat provinsi, terletak di Kompleks Pemajuan Kebudayaan dan Literasi Taman Ismail Marzuki (TIM), Kelurahan Cikini, Kecamatan Menteng, Kota Administrasi Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi perpustakaan ini kemungkinan sama dengan gedung lama Perpustakaan Umum Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang dibangun sekitar tahun 2013. Berbeda dari stereotype perpustakaan yang sepi dan tertutup, Perpustakaan Jakarta berusaha menghadirkan konsep yang berbeda. Sebelum revitalisasi dimulai pada tahun 2019, perpustakaan ini terkesan 'tersembunyi' dari publik, kurang menarik bagi pengunjung selain pelajar, peneliti, dan akademisi. Irvan Juliansyah, seorang dministrator layanan publik di DISPUSIP (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan), mencatat bahwa perpustakaan ini sebelumnya hanya dikunjungi oleh orang-orang yang kebetulan berada di area Planetarium dan Observatorium Jakarta yang berada di kompleks yang sama, atau baru mengetahui keberadaannya saat berkunjung. Anggapan bahwa banyak orang jarang mengunjungi perpustakaan terbukti benar, karena berdasarkan survei pengguna perpustakaan di DKI Jakarta tahun 2019, 6 dari 10 orang Jakarta tidak pernah mengunjungi perpustakaan (Tobing, 2022). Melalui revitalisasi ini, Perpustakaan Jakarta memiliki visi baru dengan desain yang lebih terbuka, mudah diakses, dan fasilitas interaktif yang memungkinkan masyarakat untuk berkumpul, mengakses informasi, serta belajar dan berkembang bersama. Fenti, seorang pustakawan di Perpustakaan Jakarta, menyatakan bahwa sejak revitalisasi dan peresmian Perpustakaan Umum Daerah Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin oleh Gubernur Jakarta, perpustakaan ini telah bertransformasi menjadi ruang sosial terbuka bagi masyarakat Jakarta dan pengunjung dari luar kota. Bangunan Perpustakaan Jakarta terbagi menjadi tiga bagian utama: Perpustakaan Jakarta yang berada di bagian depan bangunan, Pusat Dokumen Sastra Hans Bague Jassin yang terletak di lantai 4 bagian belakang, serta Galeri Emiria Soenassa dan Galeri Sindoedarsono Soedjojono yang menempati lantai 1 dan 2 di bagian belakang bangunan Perpustakaan Jakarta. Desain bangunannya menampilkan gedung panjang dengan jendela-jendela berundak dari lantai 9 hingga 14, serta halaman depan yang dilengkapi aksen pohon kelapa yang dirancang menyerupai not balok lagu "Rayuan Pulau Kelapa" karya Ismail Marzuki, seperti terlihat pada Gambar 2.1. di bawah ini. Pada 7 Juli 2022, Perpustakaan ini diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Periode 20172022, Anies Rasyid Baswedan setelah kawasan Taman Ismail Marzuki dilakukan revitalisasi dan rekonstruksi pada tahun 2019 dengan Andra Matin sebagai pimpinan arsitek saat itu. Perpusatakaan ini memiliki sekitar memiliki koleksi yang tersebar di area sirkulasi koleksi pada lantai 4 sampai lantai 6. Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra Hans Bague Jassin saat ini berada di bawah naungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta. Gambar_x0002_gambar berikut mencerminkan dari wajah baru dari Perpustakaan Jakarta yang bernuansa modern dengan gaya rancang bangun yang industrialis minimalis Perpustakaan ini didominasi oleh warna kayu dan beton yang hangat, terdiri dari tiga lantai yang mampu menampung lebih dari 130.000 koleksi buku dari berbagai genre dan arsip, serta menyediakan berbagai fasilitas dan area umum. Ada tangga yang menjulang ke lantai enam, yang telah menjadi favorit pengunjung untuk berfoto, terintegrasi dengan meja baca dan rak-rak yang menampilkan koleksi khusus, mulai dari buku-buku tentang Jakarta hingga karya seni, sastra, dan budaya yang dikurasi. Setiap lantai menawarkan ruang untuk pertemuan dan aktivitas. Fasilitas yang tersedia mencakup ruang baca terbuka dan pribadi, bilik diskusi, ruang siaran untuk podcast, area anak-anak, serta ruang inklusif untuk penyandang disabilitas tunanetra yang dapat mengakses materi dalam huruf braille, yang dapat dipesan dan diakses oleh anggota perpustakaan. Meskipun terpisah, perpustakaan ini berbagi lantai dengan Pusat Dokumentasi Sastra Hans Bague Jassin, sebuah lembaga yang mengelola lebih dari 3.000 buku, buku harian, kliping majalah, dan karya sastra dari penulis terkenal Indonesia. Beberapa puisi tulisan tangan dari sastrawan besar seperti Chairil Anwar dan W.S. Rendra, serta salinan asli buku-buku dari tahun 1800-an, juga tersimpan di sini. Jumlah orang yang segera mendaftar sebagai anggota perpustakaan, serta mereka yang mendaftar untuk sekadar melihat-lihat (yang saat ini menjadi keharusan sebelum berkunjung), menunjukkan bahwa banyak orang tertarik dengan perpustakaan yang berskala dan berdimensi fisik seperti ini. Data menunjukkan bahwa lingkungan fisik yang menarik dari Perpustakaan Jakarta dan Taman Ismail Marzuki secara keseluruhan sangat menginspirasi, meskipun tetap harus disertai dengan rasa tanggung jawab. Seperti yang diungkapkan oleh Irvan: "Perpustakaan ini telah menyediakan ruang yang dirancang dengan baik dengan akses gratis ke berbagai fasilitas. Harapannya, para pengunjung dapat memanfaatkan dan merawat ruang ini dengan baik." B. DIMENSI SOSIAL: PERPUSTAKAAN BERBASIS INKLUSI SOSIAL Perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah program transformasi yang ingin mengubah paradigma lama. Dari paradigma eksklusif menjadi inklusif. Sudah menjadi rahasia umum, jika perpustakaan kurang menarik karena dianggap masih konvensional. Untuk mengubah paradigma itulah, perpustakaan butuh untuk bertransformasi dengan mengubah konsep dan interpretasi dan meredefenisi peran perpustakaan di masyarakat. Oleh karenanya perpustakaan yang mengusung nilai-nilai inklusi sosial harus semaksimal mungkin diupayakan. Perpustakaan berbasis inklusi sosial (PBIS) adalah penguasaan literasi masyarakat. Dengan meningkatkan literasi masyarakat, diharapkan masyarakat akan mendapatkan kebutuhan akan informasi, pengetahuan dan mengasah keterampilan yang dimiliki sesuai dengan konteksnya masing-masing. Adapun fokus dari perpustakaan berbasis inklusi sosial, yaitu pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah program transformasi ilmu pengetahuan dan pembelajaran sepanjang hayat. Dimana lewat program ini masyarakat tidak sekedar melek literasi, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraannya. Dengan modal wajah baru yang dimiliki, Perpustakaan Jakarta berupaya melakukan transformasi perpustakaan, yaitu dengan meningkatkan kualitas layanan, meningkatkan penggunaan layanan, memenuhi kebutuhan masyarakat, membangun komitmen dan mendukung stakeholder yang ada. Dalam meningkatkan kualitas layanan dan meningkatkan penggunaan layanan, Perpustakaan Jakarta berusaha untuk menghadirkan pustakawan yang berpengetahuan dan inovatif sebagai ujung tombak dari perpustakaan. Fenti, seorang pustakawan di Perpustakaan Jakarta, menyatakan bahwa mereka harus berinovasi dalam mengelola perpustakaan serta menyediakan ruang dan koleksi yang lebih beragam. Pustakawan perlu terus memperbarui pengetahuannya dan menghadirkan bentuk layanan baru yang tidak hanya menyediakan informasi secara statis, tetapi juga berfungsi sebagai tempat diskusi dan konsultasi bagi pengunjung. Dia menambahkan bahwa pustakawan di perpustakaan ini mudah ditemukan karena mereka memakai tanda khusus, sehingga pengunjung dapat dengan mudah mendapatkan bantuan. Kenyamanan bagi pengunjung umum dan mereka dengan kebutuhan khusus menjadi prioritas utama. Fenti juga menegaskan pentingnya pengetahuan dan keterampilan pustakawan yang mencakup kualitas pribadi, moral, mental, stabilitas fisik, dan spiritual. Pustakawan harus mampu mengelola informasi melalui analisis dan sintesis, pencarian informasi, keterampilan membaca, dan biblioterapi tematik. Keterampilan interpersonal untuk berdialog dengan empati, terutama dengan individu yang memiliki masalah kesehatan mental, serta pemahaman tentang psikologi komunikasi, juga diperlukan untuk memberikan layanan biblioterapi yang efektif. Apa yang diungkapkan pustakawan tersebut seakan-akan menegaskan bahwa perpustakaan berbasis inklusi sosial bermula dari pustakawan yang insklusif sosial. Di bilik inklusi penulis berkesempatan mewawancarai dan mengamati pustakawan penyandang disabilitas tunanetra, Agatha. Agatha sangat prima dan terampil dalam memberikan pelayanan kepada setiap pemustaka yang berkunjung pada bilik tersebut. Beliau juga mahir dalam menggunakan perangkat teknologi yang terdapat pada meja kerjanya, seperti seperangkat komputer dan laptop yang nampaknya dilengkapi dengan perangkat audiovisual khusus bagi penyandang tunanetra. Di setiap sesi wawancara Agatha pun menjawab setiap pertanyaan penulis dengan sangat lugas dan komprehensif, seperti misalnya beliau menjelaskan: “salah satu program inklusi yang baru-baru ini dilaksanakan adalah workshop menulis bagi perempuan penyandang disabilitas mental pasca melahirkan.” Di kesempatan lainnya beliau juga menjelaskan: “buku-buku dengan huruf braile sekarang ini sudah kurang diminati lagi oleh kawan-kawan kami pemustaka penyandang disabilitas tunanetra. Sebagai gantinya saat ini kami memiliki lebih dari 100 koleksi buku audiovisual yang siap diakses oleh kawan-kawan kami tersebut Kemudian, Perpustakaan bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial berarti perpustakaan hadir sebagai sebuah ‘hub’, lingkungan yang melayani kebutuhan pemustaka dan masyarakat pada umumnya tanpa memandang perbedaan, baik itu sosial, ekonomi, pendidikan, kondisi fisik, kondisi mental dan kepribadian. Sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Perpustakaan Jakarta menyediakan layanan menawarkan program yang berfokus pada penguatan literasi informasi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup, meningkatkan kesejahteraan, dan juga mendorong kreativitas serta memangkas berbagai kesenjangan akses informasi. Berbagai agenda literasi yang ditawarkan di antaranya pelatihan public speaking, kelas menulis karya sastra, workshop membaca dan literasi perpustakaan, bedah buku dan bedah kitab yang rutin diselenggarakan setiap minggu, seminar dan workshop pembentukan karakter anak dan remaja, kelas menulis bagi perempuan penyandang disabilitas mental pasca melahirkan, dan masih banyak lainnya (Jaklitera, 2023). Dari segi koleksi baca, sampai dengan tahun 2022, Perpustakaan Jakarta telah memiliki lebih dari 130.000 koleksi cetak dengan beragam genre dan e-koleksi sebanyak lebih dari 120.000 yang dapat diakses pada laman https://perpustakaan.jakarta.go.id/book. C. DIMENSI SPIRITUAL: PERSEPSI PEMUSTAKA Para partisipan mendiskusikan tiga tema umum ketika berpikir tentang perpustakaan sebagai sebuah ruang: 1. Perpustakaan sebagai tempat yang akrab, terbuka dan ramah; 2. Perpustakaan sebagai tempat yang nyaman dan menenangkan; 3. Perpustakaan sebagai tempat yang memberdayakan. Elemen-elemen yang berulang ini semua berkontribusi pada pandangan peserta tentang perpustakaan sebagai tempat, dan konstruksi perpustakaan sebagai lanskap terapeutik, yaitu sebagai ruang yang aman dan peserta sering menggunakan kunjungan ke perpustakaan umum sebagai respons langsung terhadap situasi ibukota yang melelahkan dan sering membuat stres. 1. Perpustakaan sebagai tempat yang akrab, terbuka dan ramah Sifat perpustakaan umum yang terbuka dan ramah sebagai tempat yang membuat banyak orang dengan masalah kesehatan mental misalnya datang ke sana ketika mereka merasa stres atau tidak bahagia. Nathan (pertengahan 40-an, pekerjaan tidak dibahas) membahas perjuangannya dengan motivasi saat mengalami depresi, dengan menyatakan bahwa: "Perpustakaan tentu saja merupakan tempat yang baik untuk dikunjungi karena saya merasa ada sesuatu yang layak untuk dikunjungi, dan orang-orangnya ramah dan terbuka.” Keakraban perpustakaan disebutkan oleh para partisipan yang merasa bahwa perpustakaan telah menjadi tempat yang aman dan tidak menantang sehingga mereka merasa nyaman; seperti yang dikatakan oleh Amel: "Saya cukup sering datang ke sini, mungkin rata-rata dua kali dalam seminggu. Hal itu membuat saya sudah merasa akrab dengan lingkungannya dan sering saya ketemu dengan orang-orang yang sama… akhirnya kami saling senyum, kadang-kadang ngobrol pendek… itu membuat saya nyaman.” Sikap staf terhadap orang-orang dengan masalah kesehatan mental adalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman di perpustakaan. Bella (awal tahun 40-an, pekerjaan tidak dibahas) menyatakan bahwa hubungan dengan staf di perpustakaan umum setempat sangat positif: “Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan staf yang bekerja di perpustakaan. Anggota staf yang mengetahui kondisi saya, dan kadang-kadang merekomendasikan hal-hal. Mereka tahu apa yang saya sukai, dan memiliki buku-buku yang direkomendasikan.” Partisipan lain, Rudi (akhir 30-an, wiraswasta) mengomentari perubahan penggunaan ruang di perpustakaan, melihat perubahan yang terjadi di perpustakaan sebagai hal yang positif, menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang ramah. Dia mengamati bahwa di perpustakaan Jakarta: “ada area tempat duduk yang\ bagus. Ada ‘Kopi Kenangan’ yang nyediakan makanan dan kopi yang enak, dan ada komputer yang bisa kita gunakan… internet gratis.” 2. Perpustakaan sebagai tempat yang nyaman dan menenangkan Para partisipan yang merupakan commuters dan pendduduk Jakarta berbicara tentang mengunjungi perpustakaan sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi mereka, terlepas dari apakah mereka meminjam buku pada kunjungan mereka. Temuan ini menunjukkan beberapa cara orang_x0002_orang berinteraksi dengan perpustakaan umum sebagai sebuah institusi, mereka yang diwawancarai berbagi pengalaman yang sama dalam hal penggunaan perpustakaan. Semua memandang perpustakaan sebagai lingkungan yang positif dan ramah di mana mereka merasa aman. Seperti yang dikatakan Connor: “saya suka pergi ke perpustakaan. Perpustakaan tidak lagi menjadi tempat yang sepi, tapi saya merasa nyaman nyaman ketika masuk ke sana dan menghabiskan waktu di sana.” Amelia juga merasa bahwa pergi ke perpustakaan umum dapat bermanfaat karena menenangkan dan hening: "ketika saya sedang dalam keadaan sangat tertekan, saya membaca buku-buku berada dalam kondisi yang sangat tertekan, saya membaca buku-buku anak-anak, kadang-kadang Saya hanya pergi dan melihat gambar-gambar, dan itu adalah hal yang cukup mudah untuk saya lakukan, yaitu pergi ke perpustakaan ketika saya tidak ingin melakukan banyak hal. Dia berkomentar bahwa baginya, perpustakaan adalah tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi: "Saya mungkin menghabiskan cukup banyak waktu di sana, menjelajah.” 3. Perpustakaan sebagai tempat yang memberdayakan Aspek penting lainnya dari pengalaman mengunjungi perpustakaan umum adalah perasaan berdaya dan memiliki pilihan yang dialami oleh para peserta. Beberapa peserta berbicara tentang bagaimana tekanan kehidupan di Ibukota yang mereka alami membuat mereka merasa sulit dan cemas untuk membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Aris (awal 40-an, karyawan swasta) menggambarkan bahwa hidup di Ibukota membuatnya tidak memiliki banyak pilihan dan sering terjebak dalam rutinitas yang melelahkan. Untuk mengatasi perasaan tertekan dan bosan akan rutinitas tersebut, dia memilih mengunjungi perpustakaan (Perpustakaan Jakarta) di mana dia merasa bebas memilih—memilih koleksi buku yang dia ingin baca, memilih ruang atau sudut yang membuatnya nyaman untuk menyelesaikan pekerjaannya, memilih waktu yang tepat untuknya berkunjung ke perpustakaan. Dia seperti merasa memiliki otoritas untuk membuat keputusan sesuai dengan kebutuhannya dan keinginannya. Nathan (awal 20-an, mahasiswa) menyatakan reaksi yang sama ketika ia pergi ke perpustakaan pada saat-saat kecemasan dan ketidakmampuannya untuk mengambil keputusan: "saya tidak menyadari, mungkin, betapa bermanfaatnya waktu saya menghabiskan waktu di perpustakaan karena saya bisa pergi, membuat pilihan, seperti kegiatan mengunjungi perpustakaan ga punya konsekuensi negatif, yang ada disini tugas saya selesai, disini juga saya nongkrong dan bersosialisasi dengan teman-teman saya.” Tiga pengunjung – Brian, Julia dan Lala - berbicara tentang bagaimana kondisi kehidupan mereka dan masalah kehilangan pekerjaan membuat mereka menghadapi kendala keuangan, sehingga membatasi akses mereka terhadap buku-buku dan materi lain yang sebelumnya mereka nikmati. Connor, misalnya, saat ini tidak dapat bekerja karena mengalami PHK dari perusahaan dimana dia bekerja dulu pada masa pandemi Covid-19: "saya gila membaca dan selalu membeli buku, dan sekarang saya tidak mampu membeli buku sama sekali. Anggaran saya sangat terbatas, jadi saya mulai menggunakan perpustakaan. Dan menurut saya, perpustakaan itu penting.”
Conclusion
Penelitian ini telah mengidentifikasi bagaimana perpustakaan sebagai lanskap terapeutik memiliki tiga dimensi utama yaitu: dimensi fisik, dimensi sosial, dan dimensi spiritual. Penelitian ini juga sampai pada kesimpulan bahwa perpustakaan yang bertransformasi dari hanya sekedar penyedia jasa layanan penyedia informasi menjadi sebuah ruang terbuka sosial, lingkungan, lanskap terapeutik yang memiliki peran sebagai rumah kedua, pusat belajar dan sosialisasi masyarakat, berperan dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Bahkan perpustakaan sebagai lanskap terapeutik cenderung untuk dipersepsikan dapat membantu masyarakat dengan masalah kesehatan mental menggunakan ruang-ruang tertentu di lingkungan alam dan lingkungan binaan (artificial) sebagai tempat yang membantu proses pemulihan mereka. Penelitian ini tentunya berkontribusi secara teoritis, metode, dan secara praktis dalam pengembangan kajian keilmuan perpustakaan. Secara teoritis, penelitian ini telah memperluas kajian teori dan konsep laskap terapeutik yang dapat diterapkan pada setting perpustakaan. Penelitian ini juga dapat menjadi model pengembangan perpustakaan yang mengusung konsep lanskap terapeutik. Secara metode, penelitian ini juga bisa diadopsi untuk setting penelitian yang berbeda: survei kepuasaan dan kualitas lanskap terapeutik pada perpustakaan, studi korelasi, dan lain-lain. Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi dasar untuk peneliti lain untuk mengembangkan kajian penelitian lanskap terapeutik pada perpustakaan seperti misalnya bagaimana efektifitas laskap terapeutik pada perpustakaan pada peningkatan karir, kesehatan mental, atau kesejahteraan masyarakat, kajian survei kepuasan pengguna perpustakaan terhadap kualitas lanskap terapeutik di perpustakaan, perbandingan perpustakaan di Indonesia dan di Malaysia, lanskap terapeutik pada perpustakaan khusus, dan lain. Bagi pustakawan penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam meningkatkan kualitas layanan perpustakaan, koleksi, dan fasilitas perpustakaan. Bagi pengampu kebijakan perpustakaan penelitian ini dapat menjadi bahan informasi dalam mengidentifikasi strategi pengelolaan perpustakaan dan mengambil keputusan dalam arah dan kebijakan pengembangan perpustakaan di era informasi