Kembali
16
1
2024 Pustaka Karya : Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 12 · 1 ISSN 2723-7699

Potensi daya tarik wisata Perpustakaan Kota Bandung dalam upaya mengembangkan edu-tourism

Universitas Widyatama; Universitas Widyatama; Universitas Widyatama; Universitas Widyatama; Universitas Widyatama; Universitas Widyatama

Abstrak

Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi dalam rangka meningkatkan kecerdaskan dan keberdayaan bangsa. Penerapan fungsi rekreasi di perpustakaan telah dikembangkan dengan adanya program edu-tourism. Edu-tourism merupakan penggabungan antara konsep wisata dengan pendidikan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui potensi daya tarik perpustakaan untuk pengembangan program edu-tourism. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dan proses analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi daya tarik perpustakaan untuk pengembangan program edu-tourism di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bandung, antara lain: (1) Arsip sejarah kota Bandung; (2) Pameran tematik; (3) Koleksi perpustakaan; (4) Kegiatan Pendidikan; (5) Ruang baca dan studi. Perpustakaan Kota Bandung memiliki potensi daya tarik yang besar dalam mengembangkan edu-tourism, membawa manfaat pendidikan dan pengalaman wisata kepada masyarakat. Dengan koleksi arsip dan perpustakaan yang kaya, mencakup dokumen sejarah, artefak budaya, dan sumber daya lainnya, perpustakaan ini menawarkan peluang pembelajaran langsung yang mendalam dan otentik.
Keywords: daya tarik perpustakaan · dinas perpustakaan dan kearsipan kota bandung · edu-tourism · potensi wisata perpustakaan

Introduction

Penelitian tentang edu tourism di perpustakaan sudah pernah dilakukan sebelumnya, seperti penelitian di Surabaya mengenai perpustakaan sebagai upaya kebertahanan desa wisata (Reindrawati et al., 2021) dan Implementasi edutourism di Museum Asia Afrika (Fauzi et al., 2017). Namun, yang membuat penelitian ini unik adalah objek penelitiannya, yaitu Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bandung. Hal ini memberikan perspektif baru karena lokasi dan konteks yang spesifik, sehingga bisa menghasilkan temuan atau insight yang berbeda dari studi-studi sebelumnya. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bandung merupakan salah satu perpustakaan umum yang mengimplementasikan berbagai fungsi perpustakaan, antara lain fungsi informasi, pendidikan, penyimpanan dan rekreasi (Krismayani, 2018). Fungsi rekreasi pada perpustakaan dikatakan berhasil jika telah menyediakan informasi yang bersifat menghibur sehingga pemustaka mendapatkan kembali rasa gembira dan rasa senang dari objek tersebut. Objek yang dimaksud adalah koleksi perpustakaan yang terdiri dari koleksi non fiksi, penyediaan koleksi game edukatif (catur, scramble, congklak, monopoli, dan sebagainya), penyediaan ruangan nyaman dengan iringan musik, desain menarik serta beberapa fasilitas yang mendukung kegiatan hiburan seperti layanan internet dan audiovisual. Fungsi rekreasi pada perpustakaan erat kaitannya dengan wisata edukasi (edu-tourism), yang mana konsep tersebut memadukan antara kegiatan pembelajaran dengan wisata yang bertujuan untuk memberikan hiburan positif. Wisata edukasi bermakna sebagai suatu kegiatan dimana peserta kegiatan wisata melakukan perjalanan wisata pada suatu tempat tertentu dalam suatu kelompok dengan tujuan utama mendapatkan pengalaman belajar secara langsung terkait dengan lokasi yang dikunjungi (Priyanto et al., 2018). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahayu & Utami, (2018) menjelaskan bahwa potensi daya tarik Kawasan Wisata Trawas dapat dikembangkan sebagai daerah wisata berbasis pendidikan dengan menyediakan paket wisata edukasi yang terdiri dari kegiatan berkemah di Air Terjun Dlundung (belajar mengenai alam), kunjungan ke Situs Reco Lanang dan Candi Jolotundo (pengenalan sejarah) serta kunjungan ke PPLH Seloliman (pengenalan keanekaragaman hayati, pengelolaan sumber daya alam) sehingga secara tidak langsung dapat berpartisipasi dalam melestarikan alam. Penelitian tersebut fokus pada pengembangan potensi wisata alam melalui penyediaan paket wisata edukasi, namun belum menjelaskan secara terperinci mengenai potensi wisata edukasi. Penelitian lain yang dilakukan oleh Juwita et al., (2019) mengungkapkan bahwa model wisata edukasi pada Musem dapat dikelompokkan menjadi beberapa kebijakan, yaitu kebijakan edukasi & koleksi; kebijakan pengelolaan wisata edukasi dan kebijakan metode pembelajaran. Fokus penelitian tersebut mengenai pengembangan model wisata pada museum, namun belum menjelaskan tentang potensi wisata yang akan diimplementasikan. Berdasarkan pemaparan penelitian-penelitian tersebut, maka penulis mengambil gap dengan fokus pada analisis potensi daya tarik wisata perpustakaan kota Bandung dalam upaya mengembangkan edu-tourism. Saat ini jenis wisata edukasi berpotensi untuk dikembangkan terutama pada segmen pasar pelajar di Jawa Barat. Data Statistik Pendidikan Kota Bandung tahun 2023 menyebutkan bahwa sebanyak 118.483 peserta didik setingkat SMA/SMK/MA, sebanyak 97.456 peserta didik setingkat SMP/MTs, sebanyak 195.314 peserta didik setingkat SD, dan sebanyak 19.943 peserta didik setingkat TK (Jumlah Data Peserta Didik: Berdasarkan Jenjang Pendidikan Dan Status, 2023). Melihat segmen pasar yang besar, maka peluang bagi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bandung untuk mengembangkan wisata pendidikan terbuka lebar, sehingga rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana potensi daya tarik wisata perpustakaan kota Bandung dalam upaya mengembangkan edu-tourism. Ritchie et al., (2003) dalam (Sari et al., 2022) mengungkapkan bahwa terdapat 4 indikator yang dapat mengembangkan produk wisata edukasi, yaitu atraksi, sumber daya manusia, perencana perjalanan dan tour operator. Penulis fokus pada implementasi indikator tersebut, sehingga akan terlihat potensi wisata edukasi yang dapat dikembangkan, khususnya untuk Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bandung, umumnya untuk praktisi dan akademisi bidang ilmu Pariwisata dan Perpustakaan. Urgensi penelitian ini terlihat dari Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Provinsi Jabar sebesar 8,48 poin. Nilai tersebut menegaskan bahwa Jabar merupakan lima provinsi dengan nilai terendah di Indonesia selain diantaranya Sulawesi Utara 8,33 dan Papua 6,7 poin. Menurut data Indeks Aktivitas Literasi Membaca 34 Provinsi, tingkat melek huruf di Jawa Barat memang cukup tinggi, yakni 98,55, sedangkan rata-rata lama sekolah warga Jawa Barat hanya 8,14 tahun. Dalam indeks ini Jawa Barat berada di urutan 10 dari 34 provinsi di Indonesia (Indeks Aktivitas Literasi Membaca, 2019). Artinya, perlu dilakukan upaya-upaya baru untuk meningkatkan indeks aktivasi literasi membaca melalui program edu-tourism. Melihat permasalahan tersebut, maka peneliti bermaksud ingin melakukan penelitian mengenai Analisis potensi daya tarik wisata di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disarpus) Kota Bandung untuk mengembangan edu-tourism sebagai salah satu upaya meningkatkan indeks baca sesuai dengan visi misi Disarpus Kota Bandung. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan khusus dari dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi daya tarik wisata di Disarpus Kota Bandung dalam upaya mengembangkan edu-tourism.

Method

Metode penelitian yang digunakan untuk penulisan artikel ini adalah metode penelitian kualitatif yang disusun secara deskriptif. Data kualitatif diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam dengan responden, yang dalam hal ini adalah pustakawan Disarpus, pengunjung dan akademisi. Selain itu data juga diperoleh melalui studi dokumen dan literatur, yaitu berupa peraturan-peraturan tentang perpustakaan dan pariwisata, undang-undang perpustakaan dan pariwisata, kebijakan-kebijakan pemerintah tentang perpustakaan dan pariwisata. Responden dalam penelitian ini menggunakan triangulasi yakni pustakawan Disarpus Kota Bandung (pustakawan muda, pustakawan ahli madya), pengunjung dan Akademisi Pariwisata dengan jumlah responden sebanyak 7 orang. Analisis data bersifat induktif atau kualitatif dan bersifat deskriptif. Adapaun tahapan reduksi dapat diuraikan secara ringkas berikut: (1) bahwa reduksi dimulai dengan memilih, memfokuskan perhatian untuk disederhanakan, dimunculkan agar nampak (abstrak), dan memproses data kasar yang didapatkan (transformasi). (2) menyajikan data, dengan cara dikembangkan informasi kemudian dibuat tersusun, lalu ditarik kesimpulan dan tindakan, melalui sajian teks naratif. (3) kesimpulan dan memverifikasi, di bagian ini peneliti menarik kesimpulan, mencari makna pada gejala-gejala yang didapat dilapangan, dicatat teratur, alur sebab-akibat, dari fenomena yang ada (Rijali, 2018).

Discussion

POTENSI DAYA TARIK WISATA PERPUSTAKAAN KOTA BANDUNG DALAM UPAYA MENGEMBANGKAN EDU-TOURISM Pengembangan edu-tourism di Disarpus Kota Bandung dapat memanfaatkan potensi daya tarik wisata yang ada dan memberikan nilai tambah dalam bentuk pendidikan dan peningkatan kesadaran budaya sesuai dengan teori pembelajaran learning by doing oleh John Dewey. Wisata edukasi menekankan pentingnya pembelajaran melalui pengalaman langsung, interaksi dengan lingkungan, dan refleksi atas pengalaman tersebut. Pendekatan ini memungkinkan pembelajaran yang aktif, mendalam, dan relevan, serta dapat meningkatkan motivasi dan minat siswa terhadap pembelajaran. John Dewey Sebagai seorang filsuf dan pendidik terkenal, Dewey menekankan pentingnya pembelajaran melalui pengalaman langsung. Menurutnya, pengalaman adalah fondasi dari proses pendidikan, dan wisata edukasi memberikan kesempatan untuk pembelajaran praktis di luar lingkungan kelas, memungkinkan siswa untuk menghubungkan teori dengan aplikasi nyata. (Hasbullah, 2020) Berikut beberapa potensi daya tarik wisata yang dapat digunakan dalam upaya mengembangkan edu-tourism di Disarpus Kota Bandung. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dikemukakan oleh Tokić & Tokić (2018) bahwa potensi wisata di perpustakaan terdiri dari koleksi, aktivitas dan layanan. Banguna perpustakaan pun merupakan salah satu potensi wisata perpustakaan, namun berdasarkan hasil penelitian di lapangan, bangunan Disarpus Kota Bandung belum dapat dijadikan daya tarik wisata oleh pengunjung. 1. Arsip sejarah kota bandung Disarpus dapat menampilkan arsip sejarah yang berharga tentang perkembangan Kota Bandung dari masa ke masa. Ini dapat mencakup dokumen, gambar, peta, dan artefak lainnya yang mencerminkan sejarah dan budaya kota. Tur sejarah yang dipandu dapat memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana kota ini telah berkembang. Seperti yang disampaikan oleh pustakawan Dadan, “nonton film dokumenter tentang bandung tempo dulu, sangat menarik bagi pengunjung” Senada dengan yang disampaikan oleh pustakawan Muthia, “nonton bareng dan diskusi terkait sejarah kota Bandung atau pahlawan atau peristiwa bersejarah”. Arsip sejarah Kota Bandung memiliki keterkaitan erat dengan teori pembelajaran langsung atau experiential learning theory. Teori ini menekankan pentingnya pembelajaran melalui pengalaman langsung, di mana individu belajar secara efektif melalui interaksi dengan lingkungan sekitar (Idris, 2018). Dalam konteks arsip sejarah Kota Bandung, wisatawan dan pengunjung dapat memperoleh pengalaman belajar yang mendalam dengan langsung berinteraksi dengan dokumen dokumen sejarah (Mersita & Muhsin, 2015), foto-foto historis, dan artefak budaya yang disajikan dalam arsip tersebut. Melalui pengalaman melihat, membaca, dan memahami materi-materi sejarah yang autentik, pengunjung dapat mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang sejarah Kota Bandung. Pembelajaran langsung dari arsip sejarah juga melibatkan interaksi langsung dengan para peneliti atau pustakawan yang ahli di bidangnya. Pengunjung dapat bertanya, mendiskusikan, dan mendapatkan penjelasan langsung mengenai konteks sejarah dari sumber daya yang ada. Hal ini memberikan pengalaman belajar yang aktif, memungkinkan pengunjung untuk mengajukan pertanyaan, berdiskusi, dan menggali pengetahuan secara mendalam. Dengan menghubungkan teori pembelajaran langsung dengan arsip sejarah Kota Bandung, pengunjung tidak hanya membaca atau melihat sejarah, tetapi juga merasakannya dan mengalami proses pembelajaran yang lebih mendalam dan bermakna. Ini menciptakan pengalaman belajar yang lebih berkesan dan memungkinkan pengunjung untuk merasakan sejarah Kota Bandung secara langsung, memperkaya pengetahuan dan pemahaman mereka tentang kota tersebut. 2. Pameran tematik Dinas Kearsipan dan Perpustakaan mengadakan pameran tematik yang berfokus pada aspek tertentu dari sejarah, budaya, atau sastra. Pameran ini dapat menjadi titik fokus bagi wisatawan yang ingin memahami lebih dalam tentang topik tertentu. Seperti yang diungkapkan oleh pustakawan Yustiani, “kami juga berhasil menggelar pameran foto dan film pendek menggunakan media sosial Instagram bekerjasama dengan IT Dinas Arsip dan Perpustakaan (DAP) sekaligus sebagai sarana advokasi DAP Kota Bandung”. Pameran tematik yang berfokus pada aspek tertentu dari sejarah, budaya, atau sastra memiliki keterkaitan yang kuat dengan teori pembelajaran langsung. Dalam pameran tematik, pengunjung dapat langsung terlibat dalam proses pembelajaran melalui pengalaman langsung dan interaktif (Sukri & Tandililing, 2017). Pengunjung dapat melihat, menyentuh, dan merasakan artefak, benda seni, atau dokumen sejarah yang dipamerkan. Pengalaman langsung ini memungkinkan pengunjung merasa dekat dengan konten pameran, membangkitkan minat dan rasa ingin tahu mereka. Pengunjung juga dapat berpartisipasi dalam kegiatan interaktif, seperti demonstrasi, lokakarya, atau permainan edukatif yang terkait dengan tema pameran. Dengan berpartisipasi secara aktif, pengunjung memiliki kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam situasi nyata, memperkuat pemahaman mereka. Pameran tematik sering kali merancang area-refleksi di mana pengunjung dapat merenungkan apa yang mereka pelajari. Diskusi dengan pemandu atau kurator pameran juga dapat memperdalam pemahaman pengunjung melalui dialog langsung dan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang pemikiran. Selain itu, pengunjung dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan sesama pengunjung. Diskusi dan tukar pikiran antar pengunjung menciptakan lingkungan pembelajaran sosial yang memperkaya pemahaman bersama. Melalui pendekatan ini, pameran tematik yang menekankan aspek tertentu dari sejarah, budaya, atau sastra memberikan pengalaman pembelajaran yang mendalam, terlibat, dan berkesan. Pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga aktor utama dalam proses pembelajaran, menciptakan pengalaman belajar yang berharga dan berdampak. 3. Koleksi perpustakaan Perpustakaan bisa menjadi sumber pengetahuan yang kaya dengan koleksi buku, majalah, jurnal, dan sumber daya lainnya. Tur perpustakaan dapat memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk belajar tentang berbagai topik dan mengakses referensi yang berguna, Pustakawan Dadan mengungkapkan “perpustakaan dapat menjadi sumber pengetahuan yang kaya melalui koleksi buku, majalah, jurnal, dan sumber daya lainnya. Menurutnya, tur perpustakaan memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk belajar tentang berbagai topik dan mengakses referensi yang berguna”. Dalam wawancara tersebut, menekankan pentingnya akses terhadap beragam bahan bacaan dan sumber daya pengetahuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang dunia di sekitar mereka. Pengunjung Angga turut mengungkapkan, “menyajikan karya seni lokal seperti seni lukis, patung, dan fotografi melalui buku katalog, sehingga pengunjung dapat mengapresiasi dan memahami seni local”. Tujuannya adalah agar pengunjung dapat mengapresiasi dan memahami seni lokal tersebut. Dalam konteks ini, buku katalog berfungsi sebagai medium yang memperlihatkan gambaran visual dan informasi terkait karya seni, memungkinkan pengunjung untuk merasakan keindahan, makna, serta nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap karya seni yang dipamerkan. Dengan demikian, pengunjung memiliki kesempatan untuk lebih mendalam dalam memahami seni lokal dan menghargai bakat seniman lokal melalui pengalaman visual dan pengetahuan yang diperoleh dari buku katalog tersebut. Koleksi perpustakaan memiliki hubungan erat dengan teori pembelajaran langsung atau experiential learning theory. Dalam konteks perpustakaan, koleksi buku, majalah, jurnal, dan sumber daya lainnya memberikan peluang untuk pembelajaran langsung melalui pengalaman membaca, penelitian, dan eksplorasi informasi. Berikut adalah cara di mana koleksi perpustakaan terkait dengan teori pembelajaran langsung: Pengalaman membaca. Pengunjung perpustakaan dapat memilih buku dari berbagai genre dan topik yang menarik minat mereka. Melalui membaca buku-buku tersebut, pembaca dapat mendapatkan pengetahuan baru, memperluas wawasan, dan mengembangkan pemahaman tentang berbagai subjek. Penelitian dan eksplorasi. Perpustakaan menyediakan sumber daya untuk penelitian dan eksplorasi topik tertentu. Pengunjung dapat mencari informasi dari buku referensi, jurnal ilmiah, dan materi lainnya yang relevan dengan minat atau kebutuhan mereka. Proses ini melibatkan pencarian informasi, evaluasi sumber, dan pemahaman konsep melalui eksplorasi aktif. Interaksi dengan materi. Pengguna perpustakaan dapat berinteraksi langsung dengan materi, seperti mengambil buku dari rak, membaca halaman-halaman tertentu, dan merespons konten yang dibaca. Interaksi fisik dengan materi membantu memperkuat pemahaman dan memperdalam pengetahuan melalui pengalaman langsung. Pembelajaran kolaboratif. Perpustakaan sering kali menjadi tempat untuk diskusi kelompok, lokakarya, atau acara literasi. Interaksi antar pengunjung, berbagi pendapat, dan berdiskusi tentang materi yang dibaca menciptakan pembelajaran kolaboratif yang melibatkan pengguna secara aktif. Pengembangan keterampilan literasi. Menggunakan koleksi perpustakaan melibatkan pengembangan keterampilan membaca, menulis, dan pemahaman. Proses membaca buku dan bahan lainnya melibatkan pemahaman teks, penafsiran makna, dan penerapan informasi dalam konteks nyata. Melalui pengalaman membaca, penelitian, interaksi, dan pembelajaran kolaboratif di perpustakaan (Haerah, 2020), pengguna terlibat dalam pembelajaran langsung yang mendukung pengembangan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan. Pengalaman ini menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendalam dan berpusat pada pengguna, sesuai dengan prinsip prinsip teori pembelajaran langsung. 4. Kegiatan pendidikan Kegiatan workshop, seminar, atau ceramah tentang topik-topik budaya, sejarah, atau literasi di ruang perpustakaan atau arsip dapat menjadi cara yang efektif untuk menggabungkan pendidikan dengan pengalaman wisata. “Kami telah mengadakan kegiatan pokja literasi kegemaran membaca warga Kota Bandung sehingga indeks membaca terus naik menuju puncak budaya baca yang semakin memasyarakat” Ujar pustakawan Muthia. Pustakawan Yustiani menambahkan, “pokja Literasi akan menyempurnakan kinerjanya dengan menggadeng stake holder seperti DPR RI, DPRD Jabar, RRI, Sona FM, media televisi dan media cetak yang terbit di Bandung”. Kegiatan workshop, seminar, atau ceramah tentang topik-topik budaya, sejarah, atau literasi di ruang perpustakaan atau arsip memiliki keterkaitan yang erat dengan teori pembelajaran langsung atau experiential learning theory. Dalam konteks ini, berikut adalah cara di mana kegiatan-kegiatan tersebut mendukung pendekatan pembelajaran langsung: Pengalaman praktis. Workshop, seminar, atau ceramah di ruang perpustakaan atau arsip memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengalami pembelajaran langsung dengan mendapatkan informasi dari para ahli dan praktisi di bidangnya. Mereka dapat bertanya langsung, berinteraksi dengan pembicara, dan mendapatkan wawasan yang mendalam dari pengalaman nyata (Karsiyem, 2023). Partisipasi aktif. Peserta dapat berpartisipasi aktif dalam diskusi, tanya jawab, atau kegiatan praktik langsung yang diorganisir dalam kegiatan workshop atau seminar. Melalui partisipasi ini, mereka tidak hanya mendengarkan informasi, tetapi juga mengaplikasikannya dalam situasi praktis, menciptakan pengalaman pembelajaran yang mendalam dan berkesan. Refleksi dan diskusi kelompok. Setelah mengikuti workshop atau seminar, peserta sering kali terlibat dalam sesi refleksi dan diskusi kelompok. Proses ini memungkinkan mereka untuk merenungkan pengalaman, membagikan pemahaman, dan mendiskusikan konsep-konsep yang telah dipelajari. Refleksi dan diskusi ini menciptakan kesempatan bagi pembelajaran kolaboratif dan pertukaran ide. Stimulasi kognitif dan emosional. Melalui ceramah, seminar, atau workshop, peserta diberikan rangsangan kognitif dan emosional yang mendalam melalui pembicaraan tentang budaya, sejarah, atau literasi. Diskusi tentang konsep-konsep kompleks ini merangsang pemikiran kritis, refleksi, dan respon emosional, menciptakan pengalaman belajar yang mempengaruhi pikiran dan perasaan mereka. Penerapan teori dalam praktik. Melalui contoh dan studi kasus yang disajikan dalam kegiatan workshop atau seminar, peserta dapat melihat bagaimana teori diterapkan dalam praktik sehari hari. Hal ini membantu mereka mengaitkan konsep-konsep teoritis dengan pengalaman nyata, memperdalam pemahaman mereka dan memperkaya pembelajaran. Dengan menghadirkan kegiatan-kegiatan seperti workshop, seminar, atau ceramah di ruang perpustakaan atau arsip, pustakawan dan kurator dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendalam dan berbasis pengalaman. Peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga merasakan, berpartisipasi aktif, dan merespons materi pelajaran, menciptakan pengalaman wisata pendidikan yang kaya dan berdampak. 5. Ruang baca dan studi Menyediakan fasilitas bagi pengunjung untuk membaca, belajar, atau melakukan penelitian di tempat bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menjalani pengalaman pendidikan yang lebih dalam. Gambar 1 Ruang layanan anak Gambar 2 Ruang studi anak Dalam wawancara tersebut, narasumber menyatakan bahwa memiliki fasilitas bagi pengunjung untuk membaca, belajar, atau melakukan penelitian di tempat dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menjalani pengalaman pendidikan yang lebih dalam. Menurutnya, adanya ruang baca, akses ke referensi, dan dukungan dari staf perpustakaan atau pusat penelitian dapat menciptakan lingkungan yang mendukung bagi mereka yang ingin mendalami pengetahuan tentang berbagai topik. Narasumber menyoroti betapa pentingnya lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran dan penelitian bagi wisatawan yang ingin menggali lebih dalam tentang budaya, sejarah, dan aspek-aspek lain dari destinasi wisata yang mereka kunjungi. “Dengan adanya fasilitas tersebut, wisatawan memiliki kesempatan untuk memperkaya pengetahuan mereka dan merasakan pengalaman pendidikan yang bermakna selama kunjungan mereka” ujar Dosen Pariwisata Evi. Fasilitas bagi pengunjung untuk membaca, belajar, atau melakukan penelitian di tempat memiliki keterkaitan yang kuat dengan experiential learning theory. Dalam konteks ini, berikut adalah cara di mana fasilitas-fasilitas tersebut mendukung pendekatan pembelajaran langsung: Pengalaman pembelajaran langsung. Fasilitas yang memungkinkan pengunjung membaca, belajar, atau melakukan penelitian di tempat memberikan pengalaman pembelajaran langsung. Pengunjung dapat merasakan proses pencarian informasi, membaca berbagai materi, dan mendapatkan pemahaman melalui interaksi langsung dengan bahan bacaan dan sumber daya yang tersedia. Penerapan Pengetahuan dalam Konteks Nyata. Dengan mengakses fasilitas ini, wisatawan dapat menerapkan pengetahuan yang mereka pelajari dari bahan bacaan dan penelitian dalam konteks nyata. Mereka dapat melihat bagaimana teori dan informasi yang mereka pelajari relevan dengan lingkungan sekitar mereka, menciptakan pengalaman belajar yang otentik dan bermakna. Interaksi dengan sumber daya. Pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan sumber daya perpustakaan atau pusat penelitian, bertanya kepada staf yang berpengetahuan, dan mendapatkan bimbingan dalam pencarian informasi. Interaksi ini menciptakan pengalaman belajar yang interaktif, di mana pengunjung dapat mendapatkan panduan langsung dan jawaban atas pertanyaan mereka. Pengalaman belajar aktif. Dalam fasilitas tersebut, pengunjung terlibat dalam pembelajaran aktif dengan membaca, mencatat, merespons materi, dan mendiskusikan temuan mereka. Proses ini menciptakan pengalaman belajar yang melibatkan, memungkinkan mereka untuk mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri melalui interaksi aktif dengan materi pelajaran. Pengembangan keterampilan literasi. Fasilitas membaca dan penelitian memungkinkan pengunjung mengembangkan keterampilan literasi, seperti keterampilan membaca kritis, analisis, dan sintesis informasi. Mereka belajar memilah-milah informasi, menilai keandalan sumber, dan menghasilkan pemahaman yang mendalam melalui proses literasi yang aktif. Dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas ini, pengunjung memiliki kesempatan untuk menggabungkan pendidikan dengan pengalaman wisata mereka. Mereka tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga aktor utama dalam proses pembelajaran, menciptakan pengalaman wisata pendidikan yang mendalam dan berdampak.

Conclusion

Berdasarkan tujuan dari penelitian yang ingin mengetahui potensi daya tarik wisata di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disarpus) Kota Bandung dalam rangka mengembangkan edu tourism, dapat disimpulkan bahwa Disarpus Kota Bandung memiliki sejumlah aspek yang bisa menjadi daya tarik wisata edukatif. Melalui analisis yang dilakukan, ditemukan bahwa Disarpus tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan arsip dan bahan bacaan, tetapi juga dapat diintegrasikan dengan kegiatan wisata edukasi yang menarik bagi pengunjung. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung menawarkan sejumlah potensi yang bisa dijadikan daya tarik untuk pengembangan edu-tourism, termasuk arsip sejarah yang menggambarkan perkembangan Kota Bandung, pameran tematik yang menarik dan berubah-ubah sesuai dengan event atau tema tertentu, koleksi perpustakaan yang luas meliputi berbagai genre dan topik, kegiatan pendidikan seperti workshop dan seminar yang memperkaya pengetahuan pengunjung, serta ruang baca dan studi yang nyaman dan kondusif untuk pembelajaran dan penelitian. Keseluruhan aspek ini menciptakan lingkungan yang mendidik dan menginspirasi, menjadikan Disarpus Kota Bandung sebagai destinasi yang ideal untuk pengunjung yang mencari pengalaman edukatif yang kaya dan bermanfaat.