Kembali
16
1
2020 Pustaka Karya : Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 8 · 2 ISSN 2723-7699

Gaya kepemimpinan kepala Perpustakaan Khusus Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan; Universitas Borneo Lestari

Abstract

This study aims to find out about the leadership style of the Head of the Library at Special Library of Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Descriptive qualitative type of research in which data are collected through interviews and documentation. The theory used is a leadership style based on Ralph White and Ronald Lippit, namely autocratic, democratic, and laissez-faire. For the analysis knife, four types of objects of observation are used, namely communication, supervision, direction and decision making. Leadership style applied by the Head of the Library at Special Library of Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta is democratic. This conclusion is drawn after looking at 4 objects of observation that can translate the leadership style of the librarian, namely: communication, work supervision, direction, and decision making. Of these four things, the head of the library always involves the participation of his employees with the aim of exchanging ideas with each other both in terms of completing work and in solving a problem. The results showed that the leadership style applied by the head of the library used a democratic leadership style.
Keywords: autocratic · democratic · laissez-faire · librarian leadership style · special libraries

Introduction

Segala aktivitas yang ada di muka bumi baik secara individu maupun sosial pasti memerlukan seorang jiwa kepemimpinan. Sebuah komunitas ataupun organisasi harus memiliki seorang pemimpin demi sebuah kesuksesan serta ketepatan untuk bekerja. Untuk jenis usaha dan aktivitas tersebut dibutuhkan usaha atau rencana yang maksimal secara analitis dan investigatif. Dan usaha_x0002_usaha tersebut membutuhkan orang yang mampu mengarahkan untuk tercapainya sebuah tujuan. Kepemimpinan besar pengaruhnya terhadap keberhasilan suatu organisasi, lembaga, partai politik, termasuk juga perpustakaan. Sukses atau gagalnya organisasi banyak diarahkan seorang pemimpin. Alasan seorang pemimpin secara umum yang berfungsi untuk memegang kekuasaan agar bisa mempengaruhi, mendorong, dan menggerakan orang-orang secara bersama-sama mencapai tujuan organisasi. Untuk itu, seorang pemimpin harus mampu membuat perencanaan, mampu mengorganisasi, mampu mengembangkan sumber daya manusia, dan mampu melakukan pengawasan secara efektif dan efesien. Pemimpin menurut Robbins adalah seorang yang berkemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok kearah tercapainya tujuan (Robbins, 2003). Seorang pemimpin banyak berotoritas melalui unsur seperti kemampuan yang bersifat mendorong (menyemangati), tanggung jawab, pengoperasian keadaan, objektif, serta berani. Selain itu juga pemimpin dituntut memiliki kemampuan interpersonal yaitu kemampuan mengkomunikasikan mempengaruhi, dan mengimplementasikan sebuah visi (Lensufiie, 2010). Bagi para bawahan, visi laksana kepingan-kepingan puzzle yang harus disusun membentuk sebuah gambaran besar yang padu. Pemimpin mengetahui gambar besarnya, mengetahui bagian-bagian mana yang masih berlubang, dan menciptakan sistem untuk menutupinya. Pemimpin bekerja sama dengan bawahannya untuk menyempurnakan visi tersebut. Dengan begitu, kemampuan seorang pemimpin dalam mengkomunikasikan visinya sangatlah penting, dan komunikasi yang terjadi haruslah komunikasi dua arah. Seseorang itu bisa dikatakan sebagai ahli bila mana disokong dengan rasa responsibilitas dan memiliki komitmen, gaya kepemimpinan seorang pemimpin benar-benar berdampak melalui karakter ataupun kapasitas staf. Dalam sebuah organisasi sangat diperlukan seorang pemimpin dan dibutuhkan staf serta menciptakan stimulus yang membentuk fase fertilitas yang tinggi, sehingga seorang atasan butuh meninjau nilai gaya kepemimpinannya. Dengan demikian, seorang pemimpin seperti pengawas berguna untuk memeriksa, mendirikan, mengkoreksi serta membenahi hal yang baru terhadap cara aktifitas perpustakaan. Kepala perpustakaan merupakan pemimpin di lembaga perpustakaan. Kepala perpustakaan bertanggung jawab untuk menciptakan relasi yang bersifat kemanusiaan secara koheren dengan pembinaan ataupun secara membangun kolaborasi dari segi pribadi, supaya perintah yang diinginkan, berjalan tepat serta praktis. Dengan sebab, segala penyelengaraan aktifitas perpustakaan akan memfokuskan pada ikhtiar untuk menumbuhkan kapasitas perpustakaan dan secara spesifik dalam melakukan perintah secara sistematis. Seorang kepala perpustakaan tentu harus memiliki pengelolaan perpustakaan dengan cara yang baik bagi pemustaka. Dari penjelasan di atas terlihat bahwa gaya kepemimpinan sangat mempengaruhi dari bagaimana seorang pemimpin mengelola perpustakaan. Sebuah organisasi serta pentingnya suatu kemampuan pemimpin dalam mengelola kerja terhadap bawahannya (staf) untuk mencapai suatu tujuan dengan baik. Maka dari itu peneliti tertarik untuk mengkaji gaya kepemimpinan kepala perpustakaan dalam mengelola Perpustakaan Khusus Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Perpustakaan ini dipilih karena pertama, fokus penelitian untuk meneliti jenis perpustakaan khusus dan Perpustakaan Dinas Kota Yogyakarta termasuk kedalam jenis ini. Kedua, berdasarkan data pra-research diketahui bahwa perpustakaan, pada tahun 2018 lalu, ditetapkan sebagai perpustakaan berprestasi di tingkat Kedinasan Kota Yogyakarta. Kemudian yang ketiga, yang mungkin menarik adalah bahwa kepala perpustakaan tidak pernah menempuh pendidikan ilmu perpustakaan baik secara formal maupun informal. Tentu hal ini menjadi menarik diteliti mengapa seorang kepala perpustakaan yang tidak memiliki latar belakang keilmuan perpustakaan mampu membawa perpustakaanya menjadi berprestasi, dengan berfokus melihat pada gaya kepemimpinannya dalam memimpin perpustakaan.

Method

Sosok kepala Perpustakaan Khusus Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta akan menjadi subjek penelitian dalam tulisan ini. Dan yang menjadi subjek penelitian adalah gaya kepemimpinan yang ditampilkannya dalam memimpin perpustakaan. Data utama dikumpulkan melalui wawancara kepada Staf Perpustakaan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta yakni Bapak Arsidi. Bapak Arsidi dipilih karena merupakan staf staf yang paling sering berhubungan dengan kepala perpustakaan. Yang kedua adalah Bapak Arsidi merupakan staf staf yang paling sering berada di perpustakaan, sehingga memudahkan peneliti untuk mencari data. Wawancara dilakukan secara mendalam dan tidak terstruktur. Butir pertanyaan yang telah disusun akan disesuaikan dengan kondisi yang unik dari informan dan untuk mendapatkan data yang rinci maka wawancara akan dilaksanakan dengan cara mengalir layaknya percakapan sehari-hari. Sedangkan untuk data pendukung dikumpulkan melalui observasi baik kebijakan maupun kondisi perpustakaan tersebut. Penelitian ini berjenis kualitatif. Lexy J. Moleong menjelaskan penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang dapat diamati (Meleong, 1989). Untuk teori yang dipakai adalah teori yang dikemukakan oleh Ralph White and Ronald Lippitt tentang gaya kepemimpinan. Untuk pisau analisis data menggunakan empat objek pengamatan oleh Ilmi Surotin Choiriyah yakni: pengarahan, pengawasan, komunikasi, serta pengambilan keputusan. Setelah dibedah maka akan terlihat memakai gaya kepemimpinan seperti apa Kepala Perpustakaan Khsusus Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta; otoriter, demokratis ataukah laissez-faire. Semua hasil analisis data akan ditampilkan dengan menggunakan pendekatan desktriptif

Discussion

A. Komunikasi Komunikasi merupakan salah satu aspek yang paling penting untuk mempengaruhi orang lain. Bersama dengan sikap dan perilaku, komunikasi yang ditampilkan oleh pemimpin mampu mempengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Williamson, 2009). Kesuksesan perintah atau ide yang kita sampaikan kepada orang lain sangat dipengaruhi oleh cara kita mengkomunikasikan perintah atau ide tersebut. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik agar mampu mentransfer ide-ide tentang tujuan-tujuan kelompok, sumbangsih dari bawahan dan memotivasi para bawahannya.Dari hasil wawancara menunjukkan bahwa komunikasi yang terjadi antara kepala perpustakaan kepada staf stafnya berlangsung baik dan terjadi secara dua arah. • Peneliti : “Bagaimana cara komunikasi kepala perpustakaan terhadap stafnya? Apakah satu arah atau dua arah?” o Informan : “Biasanya langsung, kita lakukan tukar pendapat. Karena beliau merasa tidak memiliki background perpustakaan. Termasuk design ruangan, pengadaan koleksi, perencanaan kedepan bagaimana, selalu konsul ke kita.” Dari jawaban informan bisa kita lihat bahwa kepala perpustakaan selalu membuka peluang untuk staf stafnya memberikan respon atau timbal balik atas perintah yang disampaikan. Tukar pendapat selalu dilakukan, ini karena kepala perpustakaan merasa tidak memiliki latar belakang ilmu perpustakaan, sehingga beliau membutuhkan masukan dan pendapat dari staf nya. Dari wawancara diketahui juga bahwa Kepala Perpustakaan tidak segan untuk merangsang pembicaraan dengan meminta pendapat mengenai hal-hal teknis di perpustakaan kepada staf, sehingga disana terjalinlah dialog antara kedua belah pihak. Komunikasi dengan gaya seperti ini tidak hanya terjadi di waktu_x0002_waktu santai, namun juga pada saat rapat koordinasi membahas seputar program kegiatan. o Informan : “Kita juga ada rapat rutin. Di sanalah waktu kita untuk menyampaikan perkembangan dan hambatan yang ada di perpustakaan.” Berdasarkan hasil data wawancara dan analisa peneliti, dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang terjalin antara pimpinan kepada staf staf bersifat demokratis. Semua “policies” merupakan bahan pembahasan kelompok kerja di mana setiap pembahasan dirangsang dan dibantu oleh kepala perpustakaan. B. Pengawasan Ada tiga langkah dalam proses pengawasan: menentukan standar, mengukur dan mengoreksi jika hasil yang dicapai tidak sesuai standar. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa kepala perpustakaan sering memberikan standar-standar perpustakaan, terkhusus pada infrastruktur. Contohnya pada 2019 mendatang beliau ingin mengadakan kursi dan meja untuk pengunjung. • Peneliti : “Apakah kepala perpustakaan menentukan standar atas pekerjaan yang akan dilakukan di perpustakaan?” o Informan : “Iya ada. Jadi dia ada memiliki bayangan mau seperti apa perpustakaanya. Seperti tahun 2019 ini beliau ingin mengadakan meja dan kursi untuk pengunjung. Makanya kita siapkan tempat untuk charge hp disini.” Dari wawancara di atas dapat diketahui bahwa kepala perpustakaan memiliki keperdulian terhadap kemajuan perpustakaanya dari keinginannya untuk mengadakan kursi dan meja untuk perpustakaan. Hal ini juga menandakan bahwa kepala perpustakaan selalu mengawasi perkembangan perpustakaanya. Meskipun kepala perpustakaan menjabat juga sebagai seorang Kasubbag dan kantornya tidak ada di perpustakaan, kunjungan ke perpustakaan tetap sering dilakukan. Ini dilakukan guna mengawasi sejauh mana progress perpustakaan yang telah dikerjakan. • Peneliti : “Apakah beliau sering datang ke perpustakaan?” o Informan : “Ya, sering. Beliau sering mengunjungi perpustakaan.” Penyampaian standar perpustakaan biasanya dilakukan saat rapat kordinasi. Dalam rapat ini pimpinan langsung memberikan perintah kepada staf staf perihal standar apa saja yang ingin diterapkan di perpustakaan. Di dalam rapat ini sering dibahas mengenai infrasturktur dan kebijakan. Kadang, standar yang diberikan oleh pimpinan terhadap kebijakan tidak bisa dipenuhi oleh staf staf sebab berbeda dengan program kerja dari dinas pendidikan kota, maka pimpinan langsung memberikan koreksi dan masukan. • Peneliti : “Apakah kepala perpustakaan sering memberikan koreksi terhadap kinerja staf?” o Informan : “Ada. terutama hal2 yang berkaitan kebijakan, seperti perlu adanya administrasi, program kerja. Kan program perpustakaan harus sejalan dengan proker dinas pendidikan.” o Informan : “Kita juga ada rapat rutin. Disanalah waktu kita untuk menyampaikan perkembangan dan hambatan yang ada di perpustakaan.” Tanggapan yang diberikan oleh staf staf umumnya cukup baik, ini karena staf menyadari bahwa kepala perpustakaan memiliki kemampuan dalam hal kebijakan sedangkan staf sendiri ada pada hal teknis. Disini terlihat ada semacam toleransi antara pimpinan dengan staf. Jika pimpinan memberikan masukan mengenai kebijakan, staf mendengarkan. Sebaliknya, jika staf memberi masukan perihal hal teknis perpusutakaan, pimpinan yang mendengarkan. Laporan kegiatan juga terus diminta oleh pimpinan kepada staf untuk mengawasi setiap kegiatan yang telah dilakukan. Dari keterangan yang diberikan maka dapat disimpulkan pengawasan yang dilakukan oleh kepala perpustakaan bersifat demokratis. C. Pengarahan Dalam konteks organisasi, pengarahan bisa diartikan sebagai usaha yang dilakukan guna membuat orang lain mengikuti apa yang dia inginkan baik itu menggunakan kekuatan dari diri pribadi maupun dari posisi jabatan secara efektif demi kepentingan jangka panjang. Dari wawancara didapati kesimpulan bahwa pengarahan yang dilakukan kepala perpustakaan kepada staf staf bersifat demokratis. Hal ini bisa dilihat pada setiap arahan yang diberikan pada sub bab pembahasan sebelumnya. Kepala perpustakaan selalu membuka peluang untuk diberi masukan atau kritik oleh staf stafnya. Kemudian yang juga penting adalah setiap arahan yang diberikan selalu jelas dan mampu difahami oleh stafstafnya. Contoh pada saat kepala perpustakaan bercerita mengenai perlunya memiliki layar proyektor guna menunjang kegiatan di perpustakaan, setelah diberi arahan, staf staf memahami hal itu dengan jelas lalu mencoba memberi masukan agar lebih baik mengadakan TV LED layar lebar saja karena lebih compatible juga lebih mudah untuk digunakan di kegiatan sehari-hari. Kepala perpustakaan pun menyetujui. • Peneliti : “Terkait masukan, dari staf, apakah beliau terima?” o Informan : “Beliau selalu terbuka dengan masukan yang diberikan staf” o Informan : “Misalkan ini dulu mau dipasang LCD proyektor, tapi saya mengusulkan tv LCD saja agar mudah dipakai sehari-hari. Dan beliau acc.” Dari sini kita bisa melihat bahwa arahan yang diberikan sangat jelas dan mampu ditangkap dengan baik oleh staf staf sehingga staf staf juga mampu memberikan masukan dan saran, namun meski begitu arahan tetap terbuka untuk diberi masukan atau kritik. D. Pengambilan Keputusan Kadangkala dalam menjalankan sebuah roda organisasi, muncul beberapa kesulitan atau hambatan yang mengakibatkan pimpinan harus mengambil keputusan. Pengambilan keputusan merupakan unsur yang paling sulit dalam manajemen organisasi, namun juga merupakan usaha yang paling penting bagi seorang pemimpin guna memutuskan arah kemajuan organisasi atau institusi yang dia pimpin. Dalam memimpin perpustakaanya, keputusan diambil secara demokratis. Artinya kepala perpustakaan tidak serta merta menyerahkan semua keputusan diambil oleh staf staf, terlebih dahulu melalui diskusi lalu terakhir diputuskan oleh beliau sebagai kepala perpustakaan Keputusan yang diambil oleh pimpinan selalu melibatkan partisipasi bawahan atau musyawarah demokratis didalam rapart-rapat kordinasi. • Peneliti : “Kalau ada masalah di perpustakaan, anda sering berkonsultasi dengan beliau?” o Informan : “Ya tentu, karena sebagai penanggung jawab kan beliau.” • Peneliti : “Pemecahan masalahnya bagaimana?” o Informan : “Beliau turun tangan, selama membutuhkan keputusan beliau, beliau turun tangan.” • Peneliti : “Terkait masukan dari staf, apakah beliau terima?” o Informan : “Beliau selalu terbuka dengan masukan yang diberikan staf.” Kepala perpustakaan memiliki komitmen yang sangat tinggi untuk memajukan perpustakaan. Sehingga semangat tersebut juga ditularkan kepada para staf stafnya. Setiap keputusan yang akan diambil tidak luput dari konsultasi dan komunikasi yang intens. Setiap keputusan yang diambil selalu untuk kebaikan dan kemajuan perpustakaan. • Peneliti : “Terus respon beliau bagaimana?” o Informan : “Ya bagus. Beliau selalu acc terhadap urusan yang bisa memajukan perpustakaan. Beliau sangat berkomitmen terhadap kemajuan perpustakaan

Conclusion

Gaya kepemimpinan yang diaplikasikan oleh Kepala Perpustakaan Khusus Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta adalah demokratis. Kesimpulan ini diambil setelah melihat 4 objek pengamatan yang dapat menterjemahkan gaya kepemimpinan kepala perpustakaan, yakni: komunikasi, pengawasan kerja, pengarahan, dan pengambilan keputusan. Dari keempat hal ini, kepala perpustakaan selalu melibatkan partisipasi stafnya dengan tujuan untuk bertukar pikiran satu sama lain baik dalam hal menyelesaikan pekerjaan maupun dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Dalam penelitian ini, akhirnya ditemukan satu fakta menarik bahwa dalam memimpin sebuah institusi tidak selalu seorang pemimpin harus menguasai secara penuh atas bidang yang digeluti institusi tersebut. Terpenuhinya aspek keilmuan baik teoritis maupun praktis tidak menjamin seorang pemimpin mampu mengantarkan institusinya mencapai tujuan yang diinginkan, ada aspek-aspek lain yang perlu diperhatikan yakni gaya kepemimpinan. Dalam kasus ini peneliti melihat bahwa meskipun kepala perpustakaan tidak memiliki background yang resmi dalam bidang ilmu perpustakaan, dalam artian beliau tidak pernah mengenyam pendidikan ilmu perpustakaan baik di lembaga formal maupun non formal, hanya belajar secara otodidak melalui pengalaman seperti kunjungan-kunjungan ke perpustakaan, tetapi beliau mampu memanfaatkan kelebihan-kelebihan dari staf stafnya yang memiliki hal tersebut, melalui gaya kepemimpinan demokratis yang beliau terapkan, untuk bekerja sama menjalankan roda institusi dengan baik.