Kembali
16
1
2022 Informatio: Journal of Library and Information Science Vol 2 · 1 ISSN 2775-0043

Kegiatan preservasi di Pustakalana Children’s Library

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Berlatarbelakang pentingnya kegiatan preservasi suatu perpustakaan perlu untuk menjadi tajuk utama dalam aktivitas perpustakaan. Terlebih sebagai lingkup tugas perpustakaan, preservasi menjadi kegiatan wajib yang dilakukan untuk memperpanjang umur suatu koleksi. Penulis melakukan penelitian pada perpustakaan anak, Pustakalana Children’s Library untuk mengetahui kegiatan preservasi yang dilakukan di Pustakalana. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus di mana data-data nonkuantitatif akan diinterpretasikan secara deskriptif. Adapun pemilihan narasumber sebagai perolehan data primer, menggunakan metode purposive sampling. Narasumber yang dipilih penulis ialah kepala Pustakawan Pustakalana, yang tak lain dikarenakan dekatnya pustakawan dalam aktivitas preservasi. Selanjutnya, dilakukan observasi untuk perolehan data sekunder serta kajian pustaka untuk mendapatkan data tersier sebagai pendukung data primer dan sekunder. Analisis data menggunakan tiga tahap, yakni, reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan jika aktivitas preservasi di Pustakalana meliputi kegiatan konservasi aktif yang berhubungan langsung dengan koleksi pustaka seperti melakukan penyampulan pada buku, konservasi pasif yang dilakukan dengan cara mengondisikan lingkungan sekitar koleksi mulai dari suhu ruangan di Pustakalana yang optimal pada 20˚C – 23˚C, tingkat kelembapan, sirkulasi udara hingga cahaya matahari, dan konservasi preventif yang berkaitan dengan penyusunan kebijakan serta standar operasional mengenai kegiatan preservasi dan konservasi itu sendiri. Lebih lanjut, pentingnya untuk mengenal faktor penyebab terjadinya kerusakan pada suatu koleksi di Pustakalana terbagi menjadi dua hal, yaitu, faktor internal meliputi karakteristik koleksi, dan faktor eksternal meliputi lingkungan, manusia, bencana alam serta biota. Diperoleh kesimpulan jika Pustakalana telah amat menyadari pentingnya kegiatan preservasi di perpustakaan. Baik secara pasif, aktif maupun preventif telah Pustakalana lakukan untuk memperpanjang umur koleksi pustaka yang dimiliki.

Abstract

With the background of the importance of preservation activities, a library needs to be the main headline in library activities. Moreover, as the scope of the library's duties, preservation is a mandatory activity that is owned to extend the life of a collection. The author conducted research on the children's library, Pustakalana Children's Library to find out the preservation activities carried out at Pustakalana. This study uses a qualitative descriptive research method with a case study approach in which non-quantitative data will be interpreted descriptively. The selection of sources as primary data acquisition, using purposive sampling method. The resource person chosen by the author is the head of the Pustakalana librarian, which is none other than the proximity of the librarian in preservation activities. Furthermore, observations were made for the acquisition of secondary data and a literature review to obtain tertiary data to support primary and secondary data. Data analysis used three stages, namely, data reduction, data presentation and drawing conclusions and verification. The results show that preservation activities in Pustakalana include active conservation activities that are directly related to library collections such as wrapping books, passive conservation which is carried out by conditioning the environment around the collection starting from the optimal room temperature in Pustakalana at 20˚C - 23˚C. , humidity levels, air circulation to sunlight, and preventive conservation related to the formulation of policies and operational standards regarding preservation and conservation activities themselves. Furthermore, it is important to recognize the factors that cause damage to a collection in Pustakalana divided into two, namely, internal factors include collection characteristics, and external factors include environment, humans, natural disasters and biota. It was concluded that Pustakalana was very aware of the importance of preservation activities in the library. Pustakalana has done both passively, actively and preventively to extend the life of its library collections.
Keywords: Preservasi · Perpustakaan · Konservasi

Introduction

Perpustakaan sebagai lembaga informasi tidak hanya bertugas mengumpulkan dan mengolah koleksi pustaka untuk disajikan kepada penggunanya. Namun, perpustakaan juga bertugas untuk menjaga serta melestarikan koleksi pustaka yang sudah dihimpun agar tetap dapat digunakan dengan baik di masa yang akan datang. Pelestarian koleksi pustaka ini tidak semata-mata hanya menjaga bentuk fisiknya saja, namun juga menjaga kandungan informasi yang ada di dalamnya. Preservasi merupakan perawatan sebuah koleksi guna menyelamatkan kandungan informasi serta fisiknya (Khadijah, Khoerunnisa, Anwar, & Apriliani, 2021). Selain itu, preservasi mencakup kebijakan terkait ruang penyimpanan koleksi pustaka, penentuan pegawai, teknik hingga metode yang akan digunakan di dalam pemeliharaan perpustakaan, koleksi pustaka, dan informasi yang terkandung di dalamnya (Khadijah et al. 2018). Pendapat ini juga kian diperkuat oleh Ismayati (2014) dalam Rifauddin and Pratama (2020) yang menyatakan bahwa preservasi ialah kegiatan yang mencakup seluruh usaha untuk menjamin keadaan koleksi pustaka dan arsip dalam kondisi baik selama mungkin. Tindakan preservasi mencakup preventif maupun kuratif. Preservasi preventif, yaitu pengaturan, pencegahan dan perlindungan dari musibah yang tidak diharapkan. Preservasi kuratif dimaksudkan untuk memperbaiki objek yang telah rusak atau terancam bahaya kerusakan (Maryono & Pramono, 2020). Selain itu, kegiatan preservasi tidak dapat dipisahkan dari kegiatan konservasi dalam upaya pelestarian koleksi pustaka. Konsep konservasi ini sebenarnya sudah jauh lebih spesifik dibandingkan preservasi yang merupakan kegiatan pelestarian koleksi pustaka secara umum. Konservasi dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan teknis yang bertujuan untuk menghindari dan melindungi koleksi pustaka dari berbagai kerusakan dan kehancuran. Kegiatan konservasi ini dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: a) konservasi aktif yang merupakan upaya serta tindakan perlindungan koleksi pustaka yang dilakukan dengan cara berhubungan langsung dengan koleksi tersebut. Koservasi aktif mencakup tindakan menjilid, memberi sampul, dan membersihkan koleksi pustaka, serta menetralkan kandungan asam pada kertas; b) konservasi pasif yang merupakan upaya serta tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk memperpanjang umur koleksi pustaka. Hal ini mencakup kegiatan pengawasan (monitoring) kebersihan ruangan, pengondisian keadaan suhu ruangan, serta pengontrolan kondisi fisik dan lingkungan di mana koleksi pustaka tersebut disimpan; c) konservasi preventif merupakan upaya dan tindakan yang bertujuan untuk mengoptimalkan kondisi lingkungan perpustakaan dalam rangka memperpanjang umur koleksi pustaka. Adapun tindakan preventif yang dilakukan berkaitan dengan penyusunan kebijakan pelatihan petugas perpustakaan. Pelatihan ini diharapkan dapat membangun kesadaran petugas perpustakaan akan pentingnya kegiatan preservasi dan konservasi, lalu d) konservasi kuratif merupakan upaya dan tindakan untuk mengembalikan fungsi koleksi pustaka dengan cara menyelamatkan kondisi fisik koleksi agar selamat dari kerusakan dan ancaman yang lebih lanjut (Fatmawati 2018). Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan preservasi dan konservasi merupakan kegiatan yang penting untuk dilakukan di suatu perpustakaan demi menjaga keberlangsungan koleksi-koleksi pustaka yang ada. Perpustakaan sendiri sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan adalah institusi yang mengelola koleksi pustaka seperti karya tulis, karya cetak dan atau karya terekam secara berpengalaman, dengan sistem baku guna untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian informasi, dan rekreasi pemustaka (Indonesia 2007). Seiring berjalannya waktu, definisi serta cakupan perpustakaan kian meluas kian harinya. Dalam perkembangannya, Perpustakaan sebagaimana dalam Buku Dasar Layanan Perpustakaan karya Sukaesih danWinoto (2019) menyatakan jika perpustakaan merupakan sebuah agent of change (agen perubahan). Di mana dewasa ini, suatu perpustakaan perlu untuk dapat menjembatani tata pikir masyarakat, dengan pelayanan yang bukan hanya berkutat pada “menyimpan bahan bacaan” namun perpustakaan mampu untuk menyajikan informasi baik ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebudayaan untuk wawasan dan cakrawala seseorang. Adapun dengan perolehan informasi yang baik dan berguna sebagaimana Yusup dan Subekti dalam Augustine, Prijana, dan Rodiah (2021) dalam diharapkan seseorang dapat mampu untuk menunjang peningkatan pola kehidupan yang dimiliki sehingga seseorang dapat terus-menerus mencapai kompleksitas yang makin meninggi. Dalam memfasilitasi hal tersebut, penting untuk perpustakaan memiliki jenis koleksi serta pembagian yang sesuai dalam menunjang kebutuhan informasi pemustaka yang ada. Adapun jenis pembagian koleksi perpustakaan menurut Afrizal (2019) terbagi menjadi empat kategori, a) Media cetak yang meliputi buku, majalah/jurnal, terbitan berkala, cetak biru, peta serta foto; b) Media film yang meliputi mikrofis, mikrofilm, film dan sled (slade); c) Media elektronik/digital meliputi kaset audio, CD ROM, sumber dalam internet, dan jurnal elektronik; d) Media gabungan meliputi kaset video, CD, sumber dalam internet dan jurnal elektronik. Kategori pembagian jenis koleksi perpustakaan sendiri bukanlah hal yang mutlak perlu ada seluruhnya dalam suatu perpustakaan. Banyak aspek yang perlu diperhatikan dalam pengadaan suatu koleksi, seperti pemustaka, sumber daya, pendanaan hingga lembaga penaungnya. Terlebih, tidak semua jenis perpustakaan membutuhkan secara lengkap empat kategori jenis koleksi di atas. Dewasa ini, jenis perpustakaan sendiri telah terbagi menjadi beberapa kategori. Sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Pasal 20 membagi jenis perpustakaan menjadi lima, yaitu, Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah/Madrasah, Perpustakaan Perguruan Tinggi serta Perpustakaan Khusus (Indonesia 2007). Berdirinya suatu perpustakaan memiliki entitas, identitas serta karakteristik pemustaka yang berbeda sebagai targetnya. Seperti perpustakaan umum dengan target khalayak masyarakat umum, perguruan tinggi dengan mahasiswa atau perpustakaan khusus yang menyokong aktivitas lembaga penaungnya. Pada hal ini, Pustakalana Children’s Library hadir sebagai perpustakaan umum berbasis komunitas untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat umum khususnya pada anak-anak. Penelitian yang berkaitan dengan kegiatan preservasi koleksi pustaka merupakan sebuah penelitian yang telah dikaji oleh penulis terlebih dahulu, akan tetapi penulis berkeyakinan bahwa penelitian ini belum pernah dilakukan di Perpustakaan Pustakalana. Penelitian terdahulu yang dimaksud ialah sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ria Rosa Sopiyanti dan Jazimatul Husna dari Universitas Diponegoro dengan judul jurnal “Analisis Faktor Pelapukan Kertas Pada Koleksi Deposit Bertajuk Jawa Tengah di Dinas Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor pelapukan kertas pada koleksi deposit di Dinas Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah yang mana hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor kimia merupakan faktor yang paling dominan dalam penyebab rusaknya kertas-kertas pada koleksi deposit tersebut. Kerusakan ini dapat terjadi karena bahan baku koleksi seperti pemutih, perekat, tinta, dan pewarna yang terbuat dari zat selulosa. Zat selulosa dapat membuat kertas tidak mampu bertahan lama dan dapat mempercepat pelapukan. Hal ini juga kemudian diperparah dengan kondisi suhu ruangan perpustakaan yang tidak mengondisikan suhu stabil di antara 20-24o C sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan. Hal ini menyebabkan kertas-kertas pada koleksi pustaka lebih mudah mengalami kerusakan. Perbedaaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis ialah penelitian yang dilakukan oleh penulis lebih membahas mengenai kegiatan preservasi dan konservasi perpustakaan secara umum dan tidak terfokus pada faktor-faktor yang dapat menyebabkan kerusakan. Sebagai kerangka pemikiran yang dilakukan, penulis menggunakan teori Piramida Preservasi dari Rene Teygeler dalam Ichsan, Khadijah, dan Sumiati (2012) sebagai dasar teori pada pelaksanaan penelitian ini. Piramida pada gambar tersebut menggambarkan hierarki kegiatan preservasi sebagai garda terdepan dalam pengelolaan koleksi. Di mana, preventive preservation (preservasi preventif) berada di bagian paling bawah sebagai pengamanan paling awal dari koleksi pustaka dan paling tinggi ialah restoration (restorasi) sebagai aktivitas paling terakhir jika suatu koleksi pustaka telah rusak fatal dan perlu perbaikan secara ahli. Secara ringkas, preventive preservation merupakan langkah preventif awal dari suatu kegiatan preservasi, hal ini meliputi pelatihan sumber daya manusia di perpustakaan. Passive conservation (konservasi pasif) merupakan kegiatan konservasi bahan pustaka secara pasif, seperti kebersihan ruangan, suhu ruangan yang sesuai, dan lainnya dalam mendukung terjaganya koleksi pustaka. Active conservation (konservasi aktif), merupakan kegiatan konservasi yang bersentuhan langsung dengan bahan pustaka seperti wrapping (pembungkusan), disinfecting (desinfektan), dan lainnya. Terakhir, pada bagian paling atas sebagai puncak yang mana jika suatu bahan pustaka memiliki kerusakan berat, dan perlu diperbaiki secara ahli karena isi maupun luaran bagian bahan pustaka tersebut tidak bisa diperbaiki dengan peralatan seadanya, restoration active (restorasi aktif). Beranjak dari teori piramida preservasi tersebut, pentingnya preservasi pada suatu perpustakaan menjadi hal yang amat krusial. Dalam aktivitasnya, kegiatan preservasi bukan hanya berkutat pada restorasi maupun konservasi bahan pustaka, melainkan aspek manajerial, sumber daya dan aspek lainnya menjadi satu kesatuan utuh, baik hal tersebut langsung maupun tidak langsungnya akan berdampak pada suatu pengelolaan koleksi, keutuhan isi, kualitas dan keindahan perpustakaan. Tulisan ini dibangun dengan menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penulis ingin mengetahui terkait aktivitas kegiatan preservasi perpustakaan yang berada di Pustakalana. Adapun rumusan masalah di sini ialah terkait bagaimana kegiatan preservasi yang ada di Pustakalana Children’s Library dilakukan, dengan bertujuan untuk mengetahui kegiatan preservasi yang dilakukan Pustakalana dalam mengelola bahan pustaka yang ada.

Method

Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif sendiri sebagaimana dalam Sutikno dan Hadisaputra (2020) merupakan metode yang digunakan untuk meneliti serta memahami perilaku individu maupun kelompok, dan fenomena sosial dalam suatu kondisi alamiah hingga didapatkan data-data deskriptif (nonkuantitatif) berupa lisan maupun tulisan, yang diinterpretasi secara deskriptif. Pemilihan metode ini dikarenakan perlunya penulis untuk menjelaskan kegiatan preservasi yang ada di Pustakalana itu sendiri. Adapun pendekatan yang dilakukan ialah pendekatan studi kasus. Studi kasus sendiri ialah sebuah interpretasi makna dari sumber-sumber informasi, yaitu pengalaman yang berkaitan dengan “the integration of special needs children” yang berfokus pada kebutuhan belajar dan mengajar yang terjadi di sekolah. Sementara itu, Creswell berpendapat bahwa studi kasus ialah sebuah penilaian terhadap suatu kejadian di lapangan yang mencakup beberapa aspek seperti masalah, konteks, isu, dan lesson learned (pelajaran yang diambil) (Manab 2016). Lebih lanjut Creswell juga menjelaskan karakteristik-karakteristik yang ada di dalam studi kasus, yaitu: 1) kasus yang teridentifikasi untuk sebuah studi; 2) Kasus yang sudah dipilih ialah sebuah sistem yang terikat dengan ruang dan waktu; 3) Dalam pengumpulan data, digunakan berbagai sumber informasi untuk memberikan gambaran yang mendetail mengenai respons dari sebuah peristiwa; 4) Peneliti akan menghabiskan waktu untuk mendeskripsikan konteks sebuah kasus (Kusmarni 2012). Dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendekatan studi kasus ialah sebuah kegiatan eksplorasi dari suatu kasus melalui pengumpulan data yang mendalam dari berbagai sumber informasi dalam suatu konteks. Dalam pengumpulan datanya, wawancara secara mendalam merupakan opsi yang penulis pilih sebagai pengumpulan data primer. Pada tulisan ini, penulis menggunakan metode purposive sampling sebagai pemilihan unit sampel. Hal ini dipilih karena tidak semua sumber daya yang terlibat di Pustakalana dapat bersentuhan langsung dengan koleksi pustaka yang ada. Pada tulisan ini, dua narasumber yang penulis wawancarai ialah kepala pustakawan Pustakalana itu sendiri, yakni Claudine Patricia yang telah menjadi bagian dari kepala pustakawan di Pustakalana selama kurang lebih 2 tahun dan Citra Rini Ceria yang telah menjadi bagian di Pustakalana selama kurang lebih tiga tahun. Adapun waktu pelaksanaan wawancaranya sendiri ialah melalui Google Meet pada hari Senin, 27 dan 28 September 2021 lalu. Pengumpulan data lainnya yang digunakan ialah observasi langsung ke Pustakalana untuk memperoleh data sekunder. Pemilihan observasi dilakukan karena perlunya penulis mengetahui kondisi Pustakalana secara langsung dalam menopang umur suatu koleksi Pustaka yang dimiliki serta untuk melihat langsung terkait aktivitas preservasi baik secara pasif maupun aktif pada koleksi pustaka yang ada di Pustakalana. Terakhir, metode yang digunakan dalam pengumpulan data, ialah melalui studi pustaka. Studi Pustaka sendiri merupakan metode pengumpulan data melalui buku referensi yang ada untuk memperkuat data yang dimiliki. Pada hal ini, studi pustaka digunakan untuk mengumpulkan data tersier dalam memperkuat temuan data primer serta sekunder di atas. Menurut Noe Muhadjir dalam Rijali (2018) analisis data dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan yang bermaksud untuk mencari dan menyusun hasil observasi, wawancara, atau lainnya secara sistematis demi meningkatkan tingkat pemahaman penulis mengenai kasus yang sedang dikaji dan mampu menyajikannya sebagai sebuah temuan bagi orang lain. Di sisi lain, untuk meningkatkan pemahaman tersebut diperlukan upaya pencarian makna dalam analisis (Rijali 2018). Pendapat ini tampaknya seiringan dengan pendapat Bogdan yang menyatakan bahwa sebuah analisis data ialah proses pencarian dan penyusunan secara sistematis dari hasil wawancara atau data lainnya yang diakumulasikan untuk meningkatkan pemahaman serta kemampuan penulis untuk menyajikan penelitian kepada yang lain (Rijali 2018). Hal ini juga sejalan dengan pendapat Spradley dan Sugiyono (2007) dalam Barlian (2016) yang mengemukakan bahwa analisis data ini berkaitan dengan pengujian yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan hubungan serta bagian secara keseluruhan. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada teknik analisis berdasarkan model Miles dan Huberman dalam bukunya yang berjudul Qualitative Data Analysis (Miles, Huberman, & Saldana, 2014) yang mengemukakan bahwa analisis data dapat dilakukan dengan tiga tahapan, yakni: 1) Reduksi data Reduksi data ialah sebuah proses pemilihan, penyederhanaan, dan transformasi data kasar yang berada di dalam catatan tertulis di lapangan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meringkas data, menelusur tema, dan menggolongkan hasil ringkasan ke dalam pola yang lebih luas. Reduksi data juga mencakup kegiatan pengodean dan membuat bagian-bagian yang dapat membantu penulis dalam penyusunan kesimpulan akhir dan proses verifikasi. Kegiatan reduksi data berlangsung selama proses pengumpulan data hingga laporan tersusun lengkap. 2) Penyajian data (display data) Setelah melakukan reduksi data, tahap selanjutnya ialah penyajian (display) data di mana kegiatan ini merupakan upaya penyusunan informasi yang nantinya akan menjadi sebuah kesimpulan yang mampu menjadi landasan dalam pengambilan keputusan. Informasi-informasi yang telah dihimpun dapat disajikan dalam bentuk grafik, teks naratif hingga matriks. Di dalam penelitian kualitatif, penyajian data ini umumnya dijabarkan dalam bentuk teks naratif yang dibantu oleh bagan-bagan tertentu. Hal ini bertujuan untuk memudahkan penulis untuk memahami langkah apa yang perlu dilakukan selanjutnya. 3) Penarikan kesimpulan dan verifikasi Setelah data direduksi dan disajikan, penulis selanjutnya perlu menarik kesimpulan dari informasi-informasi yang telah disajikan tersebut. Apabila pada tahap pengumpulan data tidak ditemukan bukti yang mendukung, maka kesimpulan awal dapat berubah dan bersifat sementara. Namun, hal ini tentu tidak akan terjadi apabila kesimpulan awal telah didukung bukti-bukti yang valid pada tahap pengumpulan data. Jika hal tersebut terjadi, maka kesimpulan yang disajikan merupakan kesimpulan yang berkredibilitas. Kesimpulan yang telah tersusun kemudian perlu juga diverifikasi guna pesan tersirat yang ada di kesimpulan juga dapat dipahami dengan mudah (Putra 2017).

Result & Discussion

Perpustakaan Pustakalana merupakan sebuah perpustakaan anak dengan basis komunitas yang terletak di Jalan Taman Cibeunying Selatan No. 5, Kota Bandung. Sebagai perpustakaan anak, target pemustaka terbesar yang ada di perpustakaan ini meliputi balita, anak-anak, serta para orang tua dengan tidak menutup kemungkinan jika siapapun dapat menjadi pemustaka di Pustakalana. Dalam memenuhi kebutuhan informasi para pemustakanya, Perpustakaan Pustakalana memiliki berbagai jenis koleksi pustaka yang dapat dimanfaatkan. Koleksi yang dimiliki oleh Perpustakaan Pustakalana meliputi buku cerita anak buku anak terjemahan hingga buku anak berbentuk pop-up. Seluruh koleksi ini kemudian diklasifikasikan sesuai rentang usia dan juga tema. Penggolongan tersebut dilakukan untuk memudahkan para pemustaka dalam menemukan koleksi yang dibutuhkan. Mengingat pemustaka yang dimiliki oleh Pustakalana sebagian besar adalah anak-anak. Meskipun Head of Library Pustakalana mengemukakan bahwa sebelum pandemi Covid-19 berlangsung, pengklasifikasian koleksi pustaka di Pustakalana memakai Dewey Decimal Classification (DDC). Namun, saat ini penggolongan koleksi yang digunakan ialah pengelompokan koleksi pustaka sesuai dengan usia dan tema. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pemustaka dalam melakukan peminjaman. Pihak Pustakalana sendiri, melakukan labeling (pelabelan) buku dengan warna-warna tertentu untuk menandai seluruh koleksinya. Labeling buku ini terbagi menjadi tiga bagian, yakni: 1) hijau, untuk buku-buku standar; 2) biru, untuk buku-buku impor yang sulit didapat; 3) merah, untuk buku-buku yang mudah rusak seperti buku pop-up. Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh Claudine di mana, Lebih lanjut, pelabelan sendiri merupakan upaya bagian dari kebijakan preservasi yang dilakukan Pustakalana, di mana buku atau koleksi dengan label hijau dan biru dapat dipinjam oleh pemustaka selama dua minggu. Berbeda dengan buku berlabel merah yang hanya dapat dibaca di tempat dan tidak bisa dipinjam untuk dibawa pulang. Hal tersebut disebabkan oleh kerentanan buku tersebut yang mudah rusak. Berbagai koleksi pustaka yang dimiliki oleh Perpustakaan Pustakalan ini tentu perlu dilestarikan dan dijaga, demi keberlangsungan nilai informasi dan kondisi fisik koleksi yang tetap utuh sehingga koleksi dapat dimanfaatkan jauh lebih lama. Lebih lanjut, pelabelan sendiri merupakan upaya bagian dari kebijakan preservasi yang dilakukan Pustakalana, di mana buku atau koleksi dengan label hijau dan biru dapat dipinjam oleh pemustaka selama dua minggu. Berbeda dengan buku berlabel merah yang hanya dapat dibaca di tempat dan tidak bisa dipinjam untuk dibawa pulang. Hal tersebut disebabkan oleh kerentanan buku tersebut yang mudah rusak. Berbagai koleksi pustaka yang dimiliki oleh Perpustakaan Pustakalana ini tentu perlu dilestarikan dan dijaga, demi keberlangsungan nilai informasi dan kondisi fisik koleksi yang tetap utuh sehingga koleksi dapat dimanfaatkan jauh lebih lama. Kegiatan preservasi yang dilakukan oleh Pustakalana akan dikaji lebih dalam menggunakan teori piramida milik Rene Teygeler di mana menurutnya, kegiatan preservasi di lembaga informasi dibagi menjadi empat tahapan mencakup restorasi, konservasi aktif, konservasi pasif, dan konservasi preventif. Tahap restorasi dapat diartikan sebagai sebuah upaya dalam memperbaiki kondisi dan tampilan fisik bahan pustaka yang telah mengalami kerusakan sehingga paling tidak dapat mendekati kondisi semula (Ramadhan 2019). Kegiatan restorasi ini juga dapat mencakup teknik serta metode yang akan digunakan oleh pustakawan perpustakaan dalam memperbaiki kondisi fisik koleksi pustaka. Dalam penelitian ini, tahap restorasi tidak menjadi aspek yang tidak akan dikaji mendalam di Pustakalana, mengingat kegiatan restorasi merupakan kegiatan eksklusif yang membutuhkan staf ahli dan biaya yang relatif mahal. Konservasi aktif dapat didefinisikan sebagai tindakan pelestarian dan perlindungan yang berhubungan langsung dengan koleksi pustaka tersebut. Kegiatan ini meliputi menyampul buku, menjilid kembali buku hingga mengganti lembar pelindung buku dengan kertas bebas asam. Kegiatan konservasi aktif dapat dilakukan oleh pegawai perpustakaan tanpa kompetensi khusus dan mendapatkan pendidikan mengenai konservasi sekalipun. Meskipun, akan lebih baik apabila pegawai perpustakaan yang melakukan kegiatan preservasi dan konservasi ini diberi pelatihan terlebih dahulu mengenai tahap dan metode pelaksanaannya untuk menghindari kesalahan. Dalam aktivitasnya kerja Pustakalana sendiri, kegiatan konservasi aktif dilakukan dengan cara memberikan sampul plastik pada buku, mereparasi halaman buku yang lepas dengan cara melakukan binding (mengikat) untuk menyatukan kembali rangkaian rangkaian kertas menjadi satu kesatuan. Selain itu, apabila terdapat koleksi pustaka yang halamanya terkoyak akibat terlalu sering dipinjam oleh pemustaka, pihak Perpustakaan Pustakalana akan menarik koleksi tersebut untuk “diistirahatkan” sementara agar kertas yang ada di dalam buku tidak makin parah kerusakannya. Kemudian, koleksi di Perpustakaan Pustakalana ini umumnya mengalami kerusakan di sudut-sudut buku yang terbuka atau terkoyak. Apabila hal ini terjadi, pegawai perpustakaan selalu memberikan selotip di bagian sudut buku tersebut untuk mencegah kerusakan yang lebih parah. Dalam kegiatan konservasi aktif ini, pihak Perpustakaan Pustakalana tidak menyiapkan waktu yang khusus untuk melakukannya. Mengingat arus sirkulasi buku yang terjadi terlebih selama pandemi, tidak ada buku yang masuk maupun keluar tanpa adanya campur tangan Pustakawan. Di mana setiap ada koleksi pustaka yang rusak atau perlu direparasi dan perlu dilindungi, pegawai perpustakaan akan langsung melakukan kegiatan konservasi aktif tersebut. Namun di sisi lain, Claudine sebagai Kepala Pustakawan Pustakalana dalam Iskandar, Sukaesih, Rukmana, & CMS (2021) juga mengemukakan apabila koleksi yang dipinjam oleh para pemustaka mengalami kerusakan yang cukup berat maka pemustaka tersebut akan dikenakan denda dan wajib mengganti buku yang dipinjam dengan buku yang baru. Selain itu, pihak Perpustakaan Pustakalana juga selalu membersihkan rak-rak buku dan juga memberikan disinfektan pada buku yang masuk dan keluar – yang tentu sudah diberikan sampul plastik – untuk menjaga kebersihan koleksi. Secara berkala, koleksi koleksi yang ada di Perpustakaan Pustakalana juga selalu dilakukan rotasi dan penyiangan buku agar koleksi-koleksi yang dapat dimanfaatkan selalu koleksi yang terbaru. Konservasi pasif ialah sebuah kegiatan pelestarian dan perlindungan koleksi pustaka yang bertujuan untuk memperpanjang umur koleksi tersebut. Konservasi pasif dapat dilakukan dengan cara mengoptimalkan suhu ruangan sesuai pedoman yang ada, menjaga kebersihan ruangan serta rak penyimpanan koleksi, mengondisikan sirkulasi udara ruang dan penggunaan AC hingga mengontrol kondisi lingkungan di sekitar koleksi pustaka disimpan. Kegiatan konservasi pasif di Perpustakaan Pustakalana dilakukan dengan cara mengoptimalkan suhu ruangan untuk tetap stabil di rentang 20˚C – 23˚C. Hal ini telah sesuai dengan pedoman yang dikemukakan oleh Razak (2004) bahwa suhu yang sesuai untuk sebuah ruangan perpustakaan ialah 20˚C hingga 24˚C. Sedangkan rentang kelembapan ruangan adalah 50% hingga 65% (Sopiyanti and Husna n.d.). Pada ukuran kelembapan sendiri, Perpustakaan Pustakalana juga tidak membiarkan terlalu banyak cahaya matahari yang masuk agar kondisi fisik kertas koleksi tetap terjaga. Namun, tidak juga dengan membiarkan ruangan perpustakaan cenderung gelap untuk menghindari suhu udara yang lembap. Konservasi preventif ialah sebuah upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan kondisi lingkungan perpustakaan agar dapat memperpanjang umur koleksi pustaka. Kegiatan konservasi preventif dapat dilakukan dengan cara menyusun kebijakan atau SOP (Standard Operating Procedure) terkait kegiatan preservasi dan pelatihan pegawai perpustakaan. Hal ini dimaksudkan agar pegawai perpustakaan yang bertugas melakukan preservasi paham betapa pentingnya kegiatan tersebut bagi perpustakaan dan tahu metode serta teknik seperti apa yang benar dan tepat. Sayangnya, di Perpustakaan Pustakalana sendiri pegawai perpustakaannya tidak diberikan pelatihan terkait kegiatan preservasi dan konservasi secara khusus. Adapun pelatihan yang diberikan kepada pegawai ialah pelatihan secara umum ketika pegawai tersebut baru saja diangkat menjadi staf. Hal ini tentu saja akan berpengaruh terhadap kompetensi pustakawan dalam melakukan kegiatan preservasi dan konservasi. Di Pustakalana, kegiatan ini akhirnya dilakukan dengan mengandalkan pengetahuan mendasar dan logika saja. Lalu, terkait kebijakan atau SOP preservasi, pihak Perpustakaan Pustakalana tidak memiliki aturan tertulis yang memaparkan dengan jelas. Sehingga, tidak ada aturan khusus yang mengikat seluruh pegawai perpustakaan terkait kegiatan preservasi dan konservasi ini. Lebih lanjut, hal tersebut akan berdampak pada kegiatan preservasi dan konservasi, di mana tentu saja dalam berjalannya tidak akan berlangsung secara optimal apabila sebuah perpustakaan mengesampingkan hal-hal apa saja yang dapat menjadi faktor penyebab kerusakan pada koleksi pustaka. Pentingnya untuk mengenal faktor penyebab terjadinya kerusakan pada suatu koleksi menjadi fokus utama. Di mana, hal tersebut akan membantu dalam memudahkan perumusan kebijakan preservasi koleksi yang akan dilakukan baik terkait isi maupun fisiknya. Sebagaimana dalam Fatmawati (2017) menyatakan jika dalam suatu koleksi memiliki kemungkinan kerusakan dari dua hal, yaitu, faktor internal meliputi karakteristik koleksi, dan faktor eksternal meliputi lingkungan, manusia, bencana alam serta biota. 1. Faktor Internal Merupakan kerusakan yang disebabkan oleh karakteristik koleksi itu sendiri. Dengan basis sebagai perpustakaan anak, maka koleksi buku yang dimiliki pun memiliki jenis yang berbeda. Seperti pada bagian isi, di mana buku cerita anak sebagaimana yang digolongkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dalam Trimansyah (2020) ialah, a) buku kumpulan (antologi) cerpen anak; b) novel; dan c) buku kumpulan drama anak atau buku drama anak. Terbatasnya pembagian isi tersebut menyesuaikan dengan daya tangkap anak dengan umur 0 – 12 tahun. Meskipun karakteristik seluruh buku anak 0 – 12 tahun tidak dapat dibilang serupa, seperti pada anak umur 9 tahun ke atas, anak sudah mulai bisa mengenyam buku referensi dan novel ringan dengan jenis kertas paperbook. Sementara untuk anak 0 – 9 tahun, cenderung memiliki karakteristik yang cukup serupa di mana, isi bukunya lebih sedikit yang berdampak pada ringannya cerita serta teks yang tidak banyak dalam setiap halamanya. Berbanding terbalik dengan bahan yang dimiliki, buku cerita anak cenderung lebih tebal karena keperluan ilustrasi dan gambar yang pada umumnya, buku cerita anak berbahan art paper serta board book. Dalam wawancara kami, Claudine Patricia menyatakan jika perbandingan koleksi buku yang ada di Pustakalana ialah 80% picture book dengan kertas art paper, 20% board book (buku berbahan bookpaper sendiri tidak penulis cantumkan). Lebih lanjut dalam Fatmawati (2017), art paper sendiri merupakan jenis kertas berbahan selulosa di mana serat selulosa yang berasal dari batang tumbuhan seperti kayu, bambu, maupun merang pada kertas merupakan bahan murni yang membuat kertas lebih stabil dan tahan lama sehingga faktor kimiawi yang terjadi pada buku akan terjadi lebih lambat. Untuk koleksi yang ada di Pustakalana sendiri, sudah banyak terbitan buku anak yang mulai mengusung acid free sehingga menguningnya tidak akan terjadi. Menurut Razak dalam Fatmawati (2017) kualitas kertas yang baik adalah kertas yang bebas asam dari senyawa lignin atau disebut dengan permanent paper atau acid free /archival materials. Berbekal art paper yang memiliki kemampuan tidak mudah rusak atau sobek, bahkan saat bersentuhan dengan air art paper cenderung mampu menahannya agar tidak mudah terserap. Dalam buku cerita anak sendiri, art paper menggunakan tinta Pigment Art Paper China yang membuat warna di permukaan lebih merata dengan warna yang lebih mencolok serta tinta yang tidak mudah pudar sehingga tinta tidak dapat merusak buku. Terakhir, pada bagian cover di mana, untuk board book sendiri memiliki sampul berbahan chipboard, bahkan ada yang dilengkapi dengan book jacket. Sementara untuk soft cover buku cerita anak menggunakan art paper dengan gramasi lebih tebal daripada isinya. Melihat kriteria tersebut, tak ayal karakteristik buku cerita anak memiliki modal konservasi yang lebih baik dari segi fisik. 2. Faktor Eksternal Pertama ada faktor lingkungan, yang meliputi pencahayaan, pencemaran udara, suhu, kelembapan, kebersihan serta kondisi rak yang ada di suatu perpustakaan akan membantu dalam konservasi preventif perpustakaan. Pencahayaan di Pustakalana sendiri menggunakan dua sumber cahaya, yakni lampu serta sinar matahari. Pustakalana sendiri hanya terdiri dari satu ruangan dengan bentuk persegi panjang yang berdampak pada pencahayaan yang diperlukan tidak terlalu banyak. Sinar matahari yang ada, masuk melalui pintu dengan kaca tembus pandang di tengahnya, serta ventilasi yang berada di atas rak Pustakalana. Dengan berada di lantai dua, maka Pustakalana tidak memiliki halangan dalam memperoleh sinar matahari langsung. Saat Pustakalana beroperasi, maka pintu ruangan Pustakalana akan dibuka sehingga cahaya matahari yang masuk, dapat dengan optimal menyinari ruangan tanpa adanya buku yang tersentuh secara langsung dengan sinar matahari. Meskipun tidak beroperasi setiap saat, namun pencahayaan yang diterima akan cukup terlebih jika adanya beberapa lampu dalam ruangan Pustakalana akan membantu kehangatan yang cukup bagi koleksi buku yang ada. Meskipun berada di lantai dua dengan sirkulasi udara yang baik, Pustakalana menyadari jika temperatur koleksi suatu perpustakaan akan berpengaruh besar pada umur koleksi itu sendiri. Sebagaimana yang diungkapkan oleh narsumber kami, Cita Rini Ceria di mana, “Suhu di Pustakalana tidak pernah di atas 23 derajat, ada pada kisaran 20 – 23 derajat celcius.” Hal tersebut senada dengan Fatmawati (2017) di mana kondisi suhu / temperatur bagi ruang koleksi perpustakaan sekitar 20 - 24 C dan kelembapan udara sebaiknya berada pada rentang sekitar 45 - 60 % RH. Lebih lanjut, lokasi Pustakalana yang berada jauh dari keramaian menjadikan kondisi udara yang ada di Pustakalana terjaga dengan baik. Namun, pada bagian shelving koleksi buku di Pustakalana ada beberapa bagian rak yang berimpitan karena terlalu banyaknya buku dengan tema serupa dalam satu bagian rak. Selanjutnya, faktor ulah manusia (man-made) yang biasanya berasal dari pemustaka, pihak ketiga, serta pustakawan itu sendiri. Pihak ketiga pada hal ini, biasanya ialah petugas fotokopi. Namun, di Pustakalana tidak melibatkan orang ketiga dalam aktivitasnya. Semantara untuk Pustakawan, bukan menjadi aspek utama kerusakan buku di Pustakalana. Melainkan, kenakalan pemustaka lah yang menjadi faktor utama kerusakan buku di Pustakalana. Hal tersebut mengingat karakteristik penggunanya ialah anak-anak. Kedua narasumber kami selaku head of library Pustakalana sepakat jika pemustaka menjadi faktor utama dalam “pemotongan hidup” suatu buku. Aktivitas seperti vandalisme, mutilasi, membuat buku keriting, perusakan sampul, hilang, pencurian dan lainnya menjadi masalah yang paling sering ditemui. Sebagai bentuk upaya preservasi, Pustakalana menyusun Standard Operating Procedure (SOP) peminjaman buku, yang memberlakukan denda di dalamnya. Di mana kerusakan buku ringan akan membayar denda Rp20.000, kerusakan sedang dengan membayar setengah harga buku tersebut serta kerusakan berat dengan mengganti buku yang sama. Dalam aktivitasnya, Pustakalana menyadari sosialisasi kepada pemustaka terkait peraturan yang ada menjadi lebih utama dibanding mengenakan denda pada pemustaka. Selanjutnya, faktor bencana alam. Lokasi yang dimiliki Pustakalana sendiri terbilang cukup strategis, di mana posisinya yang berada jauh dari daerah perairan, terlebih di lantai dua dengan resapan air yang baik, maka banjir hampir tidak mungkin menyentuh ruangan Pustakalana. Ancaman bencana yang mungkin terjadi ialah kebakaran. Hal ini dikarenakan ruangan Pustakalana sendiri yang bergabung dalam guest house (rumah singgah) sehingga melibatkan banyak aktivitas lalu-lalang manusia yang datang. Meskipun begitu, bencana lain seperti gempa memungkinkan terjadi sehingga perlu kesiapsiagaan terhadap becana perlu diperhatikan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) Pustakalana. Terakhir, faktor biota atau bio deterioration. Sebagaimana dalam Fatmawati (2017) biota pada hal ini adalah makhluk perusak (pest) berupa: semut, serangga (booklice, kecoak, rayap, silverfish, bookworm, kutu buku), jasad renik/ mikroorganisme seperti jamur (mold / fungus), binatang pengerat (tikus), maupun substansi biologis (bakteri, lumut). Ketatnya Pustakalana dalam menjaga kebersihan terbukti pada tidak adanya biota yang merusak koleksi buku di Pustakalana. Dengan adanya peraturan untuk tidak membawa makanan maupun makan dalam ruangan Pustakalana sehingga tidak adanya remah yang dapat mengundang biota tersebut. Tak lupa, upaya kebersihan seperti melakukan penyedotan debut setiap setelah beroperasinya Pustakalana, menggunakan AC dengan suhu yang sesuai standar, menjaga pencahayaan yang masuk. Sirkulasi udara yang optimal, penyampulan buku dengan sampul plastik serta melakukan penyemprotan terhadap masuk keluarnya buku dengan disinfektan menjadi upaya konservasi preventif Pustakalana melawan biota di Perpustakaan.

Conclusion

Preservasi sendiri merupakan aktivitas manajemen yang meliputi konservasi serta restorasi, pada hal ini ialah konservasi preventif serta konservasi aktif. Beragam upaya dilakukan Pustakalana dalam menjaga umur koleksi yang dimilikinya. Seperti kegiatan preservasi yang meliputi kegiatan konservasi aktif, konservasi pasif, dan konservasi preventif. Di mana kegiatan konservasi aktif Perpustakaan Pustakalana dengan rutin melakukan penyampulan buku, pembersihan buku dan rak penyimpanannya hingga mereparasi bagian-bagian buku yang terkoyak sehingga koleksi-koleksi tersebut masih bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para pemustaka. Kegiatan konservasi aktif ini dilakukan secara berkala namun tidak ditentukan jangka pelaksanaannya. Konservasi pasif yang dilakukan Perpustakaan Pustakalana mencakup kegiatan-kegiatan pengoptimalan kondisi lingkungan tempat disimpannya seluruh koleksi yang ada. Seperti pengaturan suhu ruangan yang tetap stabil di 23˚C yang menyebabkan tingkat kelembapan ruangan juga terjaga, tidak terlalu kering, tetapi tidak terlalu lembap juga. Hal ini sudah sesuai dengan pedoman di mana perpustakaan perlu menjaga kondisi suhu di angka 20˚C hingga 24˚C untuk menjaga kondisi buku tetap baik dan tidak mudah rusak. Konservasi preventif ini sendiri dilakukan dengan cara membuat kebijakan atau SOP (Standard Operating Procedure) tertulis yang berhubungan dengan kegiatan preservasi dan konservasi koleksi pustaka. Namun, di Perpustakaan Pustakalan sendiri penyusunan kebijakan dan SOP ini belum dilaksanakan secara terkhusus untuk kegiatan preservasi dan konservasi sehingga aktivitas konservasi preventif di Perpustakaan Pustakalan belum berjalan optimal. Pentingnya dilakukan preservasi berbanding lurus dengan perlunya untuk mengenal faktor penyebab terjadinya kerusakan pada suatu koleksi pustaka, pada hal ini ialah buku. Pengenalan ini akan membantu dalam mempermudah perumusan kebijakan preservasi koleksi yang dilakukan baik terkait isi bahan pustaka maupun kualitas fisik agar tetap utuh dan terjaga serta dipergunakan dalam jangka waktu yang lama. Dewasa ini, suatu koleksi pustaka berpotensi rusak dengan dua penyebab, yaitu faktor internal serta faktor eksternal. Faktor internal sendiri meliputi karakteristik buku itu sendiri. Pada Pustakalana, dengan basis buku cerita anak kualitas bahan pustaka yang dimiliki hampir seluruhnya telah menggunakan bahan art paper serta boardbook. Kedua bahan tersebut, diperhitungkan karena target pasarnya sendiri yang merupakan anak-anak dengan geliat aktif sehingga berpotensi merusak buku lebih mungkin terjadi dibandingkan orang dewasa dengan buku yang rata-rata menggunakan bookpaper. Keuntungan lainnya ialah, kemungkinan menguningnya buku yang akan jauh lebih lamban serta bahannya yang akan lebih rentan terhadap air. Terakhir, faktor eksternal yang meliputi lingkungan, manusia, bencana alam serta biota. Di Pustakalana sendiri, kerusakan buku paling tinggi berasal dari faktor manusia, hal tersebut menimbang dari kurangnya kebijakan terkait preservasi serta pemustaka yang mayoritas ialah anak-anak. Lingkungan yang ada di Pustakalana tergolong bersih sehingga biota menjadi faktor yang tidak dipermasalahkan Pustakalana. Terlabih pencahayaan yang baik, suhu dengan temperatur yang sesuai serta sirkulasi udara yang baik menjadikan kegiatan preservasi di Pustakalana baik secara aktif, preventif maupun pasif menjadi saling menyokong satu dengan yang lainnya.