Kembali
16
1
2020 Jurnal Pustaka Budaya Vol 7 · 1 ISSN 2442-7799

PENGALAMAN PUSTAKAWAN DALAM PENGEMBANGAN KOLEKSI: STUDI FENOMENOLOGI MENGENAI PENGALAMAN PUSTAKAWAN DALAM PENGEMBANGAN KOLEKSI DI “PUSTAKALANA CHILDREN’S LIBRARY” WILAYAH CIBEUNYING KOTA BANDUNG

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Penelitian ini didasarkan pada pengalaman pustakawan dalam pengembangan koleksi di Pustakalana Children’s Library yang meliputi kegiatan menganalisis kebutuhan pengguna, pelaksanaan kebijakan pengembangan koleksi, menyeleksi koleksi, mengakuisisi koleksi, proses weeding koleksi serta mengevaluasi koleksi yang ada di Pustakalana Children’s Library menurut pengalaman pustakawan. Penelitian ini memusatkan pada pengalaman pustakawan dalam pengembangan koleksi di Pustakalana Children’s Library dengan merujuk pada teori pengembangan koleksi yang dikemukakan oleh Edward G. Evans (2005) mengenai tujuh tahap pengembangan koleksi yaitu analisis kebutuhan pengguna, kebijakan, seleksi, akuisisi, weeding, dan evaluasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah pustakawan Pustakalana Children’s Library. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman yang dirasakan oleh pustakawan dalam pengembangan koleksi di Pustakalana Children’s Library berbeda-beda

Abstract

This research is based on the fact of librarians' experience in developing collections in Children's Library Library which includes experience in analyzing user needs, librarian experiences in implementing collection development policies, librarian experiences in selecting collections, librarian experiences in acquiring collections, experience in weeding collections and evaluating collections at the Children's Library Library according to librarian experience. This research focuses on the experience of librarians in the development of collections at the Pustakalana Children's Library by referring to the collection development theory proposed by Edward G. Evans (2005) regarding seven stages of collection development namely user needs analysis, policy, selection, acquisition, weeding, and evaluation. This study uses qualitative methods with a phenomenological study approach. Data collection is done by observation, interviews and documentation. The informants in this study were the librarians of the Pustakalana Children's Library. The results of this study indicate that the experience felt by librarians in developing collections at the Pustakalana Children's Library is different.
Keywords: Pengembangan koleksi · perpustakaan anak · pengalaman

Introduction

Pustakalana Children’s Library merupakan perpustakaan anak yang berlokasi di Jl. Taman Cibeunying Selatan No.45 Kota Bandung. Perpusta-kaan ini terbentuk tahun 2005. Pustakalana Children’s Library merupa-kan perpustakaan khusus yang ber-tujuan untuk meningkatkan minat baca sejak dini. Pustakalana merupakan organisasi not-forprofit yang menye-diakan layanan berupa perpustakaan untuk anak, warung buku anak dan dewasa, dan kegiatan ruang terbuka untuk anak khususnya usia 2 sampai 6 tahun. Pada awal terbentuknya, kebe-radaan Pustakalana diharapkan menja-di tempat untuk orang tua agar dapat meluangkan waktu bersama anak membaca bersama, menjadi tempat alternatif baik bagi anak maupun untuk orang tua agar dapat bermain dan saling bertukar pikiran, serta yang terpenting anak-anak mendapatkan akses yang mudah untuk bisa membaca bukubuku bermutu dengan harga terjangkau. Dalam masa berdirinya, Pusta-kalana Children’s Library mengalami perpindahan lokasi ke beberapa tempat, antara lain berlokasi di Jl. Lombok, Jl. Ranggamalela, Gedebage, Jl. Tubagus Ismail dan terakhir berada di di Jl. Taman Cibeunying Selatan No.45 Kota Bandung. Selain perpindahan lokasi ke beberapa tempat, Pustakalana juga mengalami beberapa kali pergan-tian kepengurusan hingga kini dikelola oleh Ibu Puti Ceniza Sapphira. Adapun dalam melayani kebutuhan pengguna-nya, pustakawan harus memperhatikan koleksi perpustakaan yang mengikuti perkembangan zaman dan juga koleksi yang sesuai dengan umur pemustaka. Kelengkapan koleksi perpustakaan merupakan hal yang penting, dikare-nakan dengan kelengkapan koleksi pada perpus-takaan dapat memenuhi kebutuhan pemustaka dalam pencari-an sumber informasi. Koleksi yang berada di Pustaka-lana Children’s Library tidak hanya terdiri dari buku dengan satu bahasa saja, namun juga terdapat jenis buku dengan menggunakan dua bahasa. Buku dengan dua bahasa atau bilingual tersebut merupakan buku yang dida-lamnya menggunakan bahasa Indone-sia dan bahasa Inggris. Selain memiliki koleksi buku dengan dua bahasa yang diperuntukan untuk anakanak, Pusta-kalana Childrens’s Library juga menye-diakan koleksi yang dapat dinikmati oleh orang tua dari anak–anak yang berkunjung. Jumlah koleksi buku yang dimiliki oleh Pustakalana Childrens’s Library secara keseluruhan sebesar 10.000 yang terdiri dari 5.000 koleksi untuk anak–anak. Namun, untuk koleksi yang tersedia di Pustakalana saat ini berj-umlah 2.500 koleksi. Dimana jenis koleksi yang berada di Pustakalana dikelompokkan berdasar-kan jenjang usia anak–anak. Untuk keseluruhan jenis koleksi yang terdapat di Pustakalana terdiri dari jenis word book, hardcover book, paper book, chapter book, dan novel. Kegiatan pengembangan koleksi merupakan proses kegiatan yang penting karena berdampak pada terpenuhinya kebutuhan informasi pengguna. Selain pengembangan kolek-si, peran pustakawan dalam meman-faatkan sumber informasi secara cepat dan tepat juga sangat berpengaruh serta membantu pemus-taka dalam mencari sumber informasi tersebut. Sumber informasi dapat meningkat seiring dengan bertambah-nya koleksi yang terbaru dan sesuai dengan kebutuhan dari penggunanya. Penting-nya sumber informasi bahan pustaka yang sesuai dengan kebutuhan pengguna dapat juga dimanfaatkan untuk salah satu promosi guna mempengaruhi pemanfaatan perpusta-kaan semaksimal mungkin. Sumber kekuatan dan keberadaan perpusta-kaan sendiri dapat dilihat dari ciri perpustakaan, dimana koleksi berpe-ran sebagai ciri dari perpustakaan itu sendiri. Perpustakaan menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 adalah sebuah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi bagi pemustaka. Perpustakaan memi-liki visi dan misi yang berbeda, dimana perpustakaan dapat dikatakan berhasil apabila banyak pemustaka yang mengunjungi perpustakaan tersebut serta dapat memenuhi kebu-tuhannya dalam pencarian sumber informasi. Aspek yang berperan penting untuk membuat perpustakaan tersebut yaitu kelengkapan koleksi perpustakaan yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna dalam memenuhi kebutu-hannya. Oleh karena itu, perpustakaan mempunyai tugas utama yaitu membangun koleksi yang kuat guna memenuhi kepentingan dari pengguna perpustakaan tersebut. Sumber kekuatan dan kebera-daan perpustakaan yang dimiliki dari perpustakaan berasal dari koleksi bahan pustaka yang merupakan ciri khas dari perpustakaan itu sendiri. Terdapat 6 (enam) tahapan yang harus dilakukan oleh pustakawan dalam mengembangkan koleksi, keseluruhan tahapan tersebut merupakan suatu proses yang dilakukan secara terus menerus dan membentuk suatu siklus yang tepat. Keenam tahapan tersebut adalah analisis pengguna, pembuatan kebijakan, seleksi bahan pustaka, pengadaan bahan pustaka, penyiangan bahan pustaka, dan evaluasi. Dalam upaya pengembangan koleksi diharapkan dapat mening-katkan koleksi yang ada di per-pustakaan tersebut sehingga koleksi yang tersedia selalu bersifat aktual dan dapat berkembang. Selain itu peran dari pengembangan koleksi juga dapat membantu dalam upaya meningkatkan koleksi dan kebutuhan dari pengunjung perpustakaan. Pengem-bangan koleksi harus bisa menyesuaikan baik dari segi kebutuhan dan juga ketertarikan pengguna untuk datang dan memanfaatkan koleksi yang disediakan di perpustakaan. Menurut (Cahyono, 2004) Per-pustakaan khusus adalah perpustakaan yang memberikan jasa pencarian informasi kepada pemustaka tertentu dengan ruang lingkup subyek khusus. Selain itu menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007, Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diperuntukkan secara terbatas bagi pemustaka dilingkungan lembaga pemerintah, lembaga masyarakat, lembaga pendidikan keagamaan, rumah ibadah, atau organisasi lain. Perpustakaan khusus juga dapat dilihat dari koleksi fisik informasi, penge-tahuan, dan opini yang terbatas pada satu subjek atau sekelompok subjek yang berkaitan. Seperti yang dikemukan oleh (Cahyono, 2004) bahwa Perpustakaan Khusus adalah perpustakaan yang memberikan jasa pencarian informasi kepada pemustaka tertentu dengan ruang lingkup subyek khusus. Pusta-kalana telah sesuai dengan pernyataan yang dikemukan oleh (Cahyono, 2004) dimana Pustakalana termasuk kedalam perpustakaan khusus bagi kalangan anak-anak. Pada Pustakalana Children’s Library terdapat berbagai macam koleksi. Dengan adanya koleksi maka diperlukan kegiatan pengembangan koleksi. Di dalam pengadaan pengem-bangan koleksi tidak hanya menyangkut mengenai pengadaan pada bahan pustakanya saja, namun juga menyang-kut perihal kebijakan yang digunakan untuk memilih dan menentukan bahan pustaka apa saja yang diperlukan pada perpustakaan tersebut. Kegiatan dalam pengembangan koleksi di Pustakalana Children’s Library diantaranya adalah dengan mengajukan proposal dengan pihak luar. Selain itu, Pustakalana juga mengembangkan koleksinya dengan menerima hibah. Berdasarkan teknik pengembangan koleksi dan latar belakang yang telah dipaparkan, peneliti tertarik untuk meneliti “Pengalaman Pustakawan dalam Pengembangan Koleksi di Pustakalana Children’s Library Cibeunying Kota Bandung” dengan menggunakan studi pendekatan fenomenologi. Dengan penelitian ini diharapkan bahwa hasil penelitian dapat memberikan sum-bangan pemikiran dalam upaya meningkatkan pengembangan koleksi dan membawa Pustakalana Children’s Library ke arah yang lebih baik. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengalaman pustakawan dalam melakukan pengembangan koleksi Pustakalana Children’s Library Cibeunying Bandung yang meliputi pengalaman dalam .menganalisis kebu-tuhan pengguna, pelaksanaan kebijak-an, proses seleksi, akuisisi, serta pengalaman dalam penyiangan bahan pustaka..

Method

Sebagaimana yang telah dipapar-kan di awal tulisan, penelitian ini mengangkat tentang pengalaman pustakawan dalam melakukan kegiatan pengembangan koleksi. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekat-an kualitatif dengan jenis penelitian fenomenelogi. Metode fenomenologi merupakan upaya untuk mengungkapkan tentang makna dari pengalaman seseorang. Fenomenologi berusaha mendeskrip-sikan gejala sebagaimana gejala itu menampakkan dirinya pada penga-mat. Gejala yang dimaksud adalah baik gejala yang secara langsung bisa diamati oleh pancaindera (gejala eksternal), maupun gejala yang hampir bisa dialami, dirasakan, diimajinasikan, atau dipikirkan oleh si pengamat tanpa perlu ada referensi empirisnya; Teknik pengumpulan data dalam penelitian dilakukan melalui observasi atau pengamatan, wawancara serta melalui studi kepustakaan. Adapun untuk analisis data penelitiannya menggunakan model analisis interaktif yang dikembangkan (Miles and Huberman, 1984) dimana dalam analisis ini terdapat tiga komponen kegiatan yang saling terkait satu sama lain yang meliputi tahap reduksi data, tahap display data atau penyajian data serta tahap penarikan kesimpulan. Dari ketiga tahapan penelitian ter-sebut saling berhubungan dan berlang-sung secara terus selama penelitian dilakukan, jadi analisis data meru-pakan kegiatan yang kontinyu dari awal sampai akhir penelitian

Discussion

Pustakalana Library’s Children merupakan perpustakaan anak yang berada di Kota Bandung. Perpustakaan ini terbentuk tahun 2005. Pustakalana merupakan organisasi notfor-profit yang menyediakan layanan berupa perpustakaan untuk anak, warung buku anak dan dewasa, dan kegiatan ruang terbuka untuk anak (khususnya usia 2 – 6 tahun). Pada awal terbentuknya, yakni di tahun 2005, keberadaan Pustakalana diharapkan dapat menjadi tempat di mana orangtua (atau pendamping anak lainnya) dapat meluangkan waktu bersama anak untuk membaca bersama, menjadi alternatif tempat baik bagi anak maupun untuk orangtua agar dapat bermain dan saling bertukar pikiran, dan yang terpenting anak-anak mendapatkan akses mudah untuk bisa membaca buku-buku bermutu dengan harga terjangkau. Apabila dilihat dari perjalannya pustakalana Library’s children telah bebe rapa kali pindah dimulai dari Jl. Lombok, Jl. Ranggamalela, hingga ke Gedebage dan yang terakhir di Tubagus Ismail. Dan seiring perjalanan waktu juga, pengurusnya berganti. Terakhir, lokasi Pustakalana adalah di komplek perumahan Alamanda, dan dikelola oleh Ibu Sri Florianti Priadi. Kemudian jika dilihat dari kepemilikan koleksinya pustakalana Library’s Children memiliki koleksi buku sekitar 7.000 buku. Koleksinya melibatkan fiksi dan nonfiksi, parenting, filosofi, sejarah, politik, hingga buku-buku tentang hobi (fotografi, memasak, dll). Namun tidak banyak yang mengetahui keberadaan Pustakalana, karena selain akses lokasi, adalah keterbatasan SDM yang terlibat menjalankan kegiatan harian di Pustakalana (Alamanda) ini. Pada awal Desember tahun 2015, Pustakalana Children’s Library berga-bung di Bandung Creative City Forum (BCCF) yang berlokasi di Simpul Space untuk mengelola perpustakaan bersama yang difokuskan untuk anak: Simpul Library – Pustakalana. “Perpustakaan Anak dan Ruang Terbuka” ini menyimpan koleksi-koleksi buku anak berbahasa Inggris (children picture books) sekitar 6.000 koleksi dan beberapa buku referensi, serta buku untuk remaja dan parenting. Awalnya Pustakalana Children’s Library berada di Bandung Creative City Forum (BCCF) yang berlokasi di Simpul Space. Namun saat ini Pustakalana Children’s Library berlokasi di Jalan Taman Cibeunying lebih tepatnya berada di Selaras Guest House lantai 2. Gambar 1 Dekorasi Pustakalana Koleksi yang tersedia di Pusta-kalana terdapat beberapa jenis buku untuk anak dan orang tua. Seperti perpustakaan pada umumnya buku yang terdapat di Pustakalana disusun pada sebuah rak dan buku yang disimpan diklasifikasan dan dikatalogisasikan untuk memudahkan pemustaka mencari buku yang diinginkan. Gambar 2 Rak buku di Pustakalana Berdasarkan hasil penelitian di lapangan menyatakan bahwa penga-laman pustakawan dalam pengem-bangan koleksi di Pustakalana Children’s Library memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Hal tersebut dapat dilihat dari pengalaman yang diceritakan oleh pustakawan ketika melakukan proses pengembangan koleksi. Dari penga-laman yang diceritakan para pusta-kawan di Pustakalana, ketiganya tidak memiliki latar belakang ilmu perpustakaan. hal tersebut mempengaruhi kualitas kerja ketika mengembangan koleksi disana. Sebagaimana teori yang dikemukakan oleh (Daehler et al., 1985), mengatakan bahwa pengalaman dapat diartikan juga sebagai memori episodic, yaitu memori yang menerima dan menyimpan peristiwa yang terjadi atau dialami individu pada waktu dan tempat tertentu, yang berfungsi sebagai referensi otobiografi. Walaupun tidak dilatar belakangi bidang perpustakaan tetapi pustakawan tersebut secara tidak langsung belajar secara otodidak dari kegiatan sehari-hari dalam mengem-bangkan koleksi. 1. Pengalaman Pustakawan Dalam Analisis Kebutuhan Pengguna di Pustakalana Berdasarkan hasil penelitian di lapangan menyatakan bahwa di Pusta-kalana dalam menganalisa kebutuhan pengguna didasarkan pada masukan langsung yang diutarakan oleh peng-guna namun sejauh ini belum ada pengguna yang memberikan masukan dan dengan melihat dari data buku mana saja yang sering dipinjam oleh pengguna. Analisis kebutuhan pengguna merupakan tahapan awal yang harus dilakukan dalam pengembangan koleksi di suatu perpustakaan. Dengan melakukan analisis kebutuhan pustakawan mengetahui bahan pustaka koleksi seperti apa saja yang dibutuhkan oleh pengguna. Selain itu analisis kebutuhan pengguna juga dapat dijadikan patokan untuk memprioritaskan koleksi seperti apa untuk di perpustakaan. Untuk mengetahui analisa kebutuh-an pengguna bisa dengan cara menanyakan langsung ke pengguna perpustakaan atau bisa dilihat dari data peminjaman koleksi seperti apa saja yang sering dipinjam oleh pengguna sebagaimana teori yang dikemukakan oleh (Rachmawati, 2008) analisis kebutuhan pengguna dapat dilakukan secara formal dan secara non formal. Secara formal dapat dilakukan dengan cara membuat suatu tim khusus untuk melakukan penelitian mengenai kebutuahn pengguna. Secara non formal dapat dilakukan dengan cara melihat data peminjaman koleksi. Untuk analisa kebutuhan pengguna di Pustakalana sudah sesuai dengan teori yang dipaparkan. 2. Pengalaman Pustakawan Dalam Kebijakan Pengembangan Kolek-si Di Pustakalana. Selanjutnya berdasarkan hasil pene-litian di lapangan menyatakan bahwa di Pustakalana dalam kebijakan pengem-bangan koleksi di perpustakaan tidak berbentuk tertulis namununtuk kebijakan keanggotaan (membership) di Pustakalana berbentuk secara tertulis. Dari hasil penelitian di lapangan pendanaan di Pustakalana berasal dari biaya pendaftaran keanggotaan dan denda buku. Kebijakan merupakan aturan-aturan yang berlaku dalam melaksanakan suatu kegiatan di sebuah lembaga atau instansi yang menjadi acuan. Dengan adanya kebijakan diharap-kan kegiatan akan berlangsung sesuai dengan aturan yang sudah berlaku. Kebijakan sebaiknya berbentuk secara tertulis, agar kebijakan yang berlaku tidak berubah-ubah. Didalam kebijakan tidak hanya berupa aturan – aturan dalam melaksanakan kegiatan saja tetapi juga berupa pendanaan. Sebagai-mana teori yang dikemukakan oleh (Yulia, 2009) menyatakan bahwa, isi kebijakan pengembangan koleksi dapat berupa pengaturan anggaran atau dana, kebijakan seleksi koleksi, kebijakan akuisisi atau pengadaan koleksi dan kebijakan mengenai kriteria dan tata cara penyiangan. Untuk kebijakan dalam pengembangan koleksi yang berada di Pustakalana sudah cukup baik namun belum sesuai dengan teori yang paparkan. 3. Pengalaman Pustakawan Dalam Proses Seleksi Di Pustakalana Berdasarkan dari hasi penelitian dilapangan menyatakan bahwa di Pustakalana untuk proses seleksi dengan melihat dari ilustrasi buku, konten teks bacaan dan kondisi buku. Koleksi yang akan di adakan diseleksi juga berdasarkan kebutuhan penggu-nanya seperti di Pustakalana menyeleksi bukunya khusus untuk anak-anak koleksi buku yang akan dijadikan koleksinya. Seleksi merupakan proses memilah milih koleksi yang akan dijadikan koleksi di suatu perpustakaan sehingga koleksi yang berada di perpustakaan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Seorang pustakawan memi-liki hak untuk menentukan koleksi yang akan diadakan di perpustakaan. Sebab seorang pustakawan lebih mengetahui kebutuhan untuk penggunanya dan anggaran yang tersedia. Dalam proses seleksi koleksi pusta-kawan juga harus mempunyai kriteria tertentu. Pustakawan ketika sedang melakukan seleksi koleksi diharuskan bisa meninjau dari berbagai sudut, diantaranya usia kelompok atau masyarakat, keterbatasan fisik peng-guna yang dilayani dan gender pengguna yang dilayani. sebagaimana teori yang disampaikan oleh (Soetimah, 1992) mengenai prinsip-prinsip seleksi, bahan pustaka yang akan diadakan harus diseleksi secara cermat dan harus disesuaikan dengan:  Tujuan, fungsi, dan ruang lingkup perpustakaan  Minat serta kebutuhan pengguna perpustakan  Bahan pustaka yang memenuhi kualitas persyaratan  Kemajuan pengetahuan Apabila memperhatikan proses seleksi di pustakalana sudah berjalan cukup baik sesuai dengan tahapan pro-ses seleksi seperti apa yang dipaparkan dalam teori seleksi bahan pustaka. 4. Pengalaman Pustakawan Dalam Akuisisi Atau Pengadaan Pengem-bangan Koleksi Berikutnya berdasarkan hasil pene-litian dilapangan menyatakan bahwa proses akuisisi atau pengadaan pengem-bangan koleksi yang berada di Pustakalana dengan menggunakan tiga cara yaitu donasi buku, mengajukan proposal untuk buku, dan belanja. Dengan ketiga cara tersebutlah Pustakalana mendapatkan koleksi untuk di perpustakaan. Melalui donasi Pustakalana mene-rima pemberian buku baik dari anggota Pustakalana itu sendiri mau pun dari komunitas. Selanjutnya dengan menga-jukan proposal kerjasama dengan penerbit maupun suatu acara besar seperti BBW dengan mengajukan proposal Pustakalana mendapatkan koleksi tambahan. Selanjutnya dengan belanja, membeli buku sendiri juga proses untuk pengadaan koleksi di Pustakalana. Sependapat dengan apa yang sudah dilakukan Pustakalana untuk pengadaan koleksi dalam kegiatan pengembangan koleksi. Sebagaimana teori yang disampai-kan oleh (Basuki, 1991) menyatakan bahwa suatu perpustakaan dapat melakukan akuisisi atau pengadaan koleksi dengan berbagai cara, adapun cara yang dapat dilakukan dengan pembelian koleksi, pertukaran koleksi, koleksi berasal dari hadiah, koleksi berasal dari sumbangan, koleksi berasal dari titipan, koleksi terbitan sendiri. Dan dari teori tersebut sudah sesuai dengan pengadaan yang dilakukan Pustakalana. 5. Pengalaman Pustakawan Dalam Melakukan Penyiangan Bahan Pustaka Berikutnya berdasarkan hasil pene-litian dilapangan menyatakan bahwa proses weeding atau penyiangan pengembangan koleksi yang berada di Pustakalana dengan cara mengeluarkan koleksi yang sudah tidak pernah dipinjam dan menyimpan koleksi tersebut ke tempat penyimpanan milik Pustakalana. Ketika melakukan weeding atau penyiangan tidak asal mengeluarkan saja koleksi dari rak. Tetapi sebelum melakukan proses weeding atau penyiangan Pustakalana melihat dulu dari koleksi yang sudah tidak layak seperti yang sudah jarang dipinjam atau yang kondisi bukunya sudah tidak layak untuk dijadikan koleksi. Penyiangan atau weeding koleksi adalah merupakan suatu kegiatan yang berkaitan dengan pemindahan/ penarikan/pengeluaran bahan pustaka yang kurang atau sudah tidak dimanfaatkan pengguna ke gudang atau tempat penyimpanan. Misalkan ada koleksi yag sudah dalam keadaan rusak atau koleksi yang sudah tidak up to date lagi. Sebagaimana dengan teori dari (Soetimah, 1992) penyiangan koleksi adalah kegiatan memilih dan menge-luarkan dari koleksi bahan pustaka yang sudah tidak cocok lagi dengan tujuan, fungsi dan ruang lingkup layanan perpustakaan. dari hasil penelitian dilapangan proses penyiangan yang dilakukan di Pustakalana sudah sesuai dengan teori yang dipaparkan. 6. Pengalaman Pustakawan Dalam Evaluasi Pengembangan Koleksi Di Pustakalana Children’s Library Berikutnya berdasarkan hasil pene-litian dilapangan menyatakan bahwa evaluasi pengembangan koleksi yang berada di Pustakalana dilakukan setiap enam bulan sekali atau tidak secara rutin terhadap koleksi di perpustakaan tersebut. Dengan melihat juga dari koleksi yang sudah tidak pernah di pinjam dijadikan bahan evaluasi oleh Pustakalana agar kedepannya menjadi lebih baik. Evalusi koleksi merupakan proses menilai koleksi yang ada di suatu perpustakaan. Hal ini diperkuat dengan teori menurut ALA (American Library Association) dalam Sujana (2006, 3-4) pembagian metode evaluasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu metode terpusat pada koleksi dan metode terpusat pada penggunaan koleksi. Dari hasi penelitian dilapangan proses evaluasi di Pustakalana sudah cukup baik dan sesuai dengan apa yang dipaparkan oleh teori, dikarenakan Pustakalana menggunakan metode terpusat pada penggunaan. Dalam metode terpusat pada penggunaan ini dilihat berdasarkan kajian sirkulasi, meminta pendapat pengguna, menganalisis statistik pinjam antar perpustakaan, melakukan kajian sitiran dan memeriksa ketersediaan koleksi di rak. Jadi evaluasi yang dilakukan di Pustakalana berdasarkan kajian sirkulasi dan memeriksa ketersediaan koleksi di rak.

Conclusion

Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa : 1. Pengalaman pustakawan dalam kegiatan pengembangan koleksi memiliki pengalaman yang berbeda-beda dikarenakan pustakawan di pustakalana tidak memiliki latar belakang ilmu perpustakaan. Namun demikian walaupun tidak memiliki latar belakang dibidang perpusta-kaan tetapi pustakawan tersebut secara tidak langsung belajar secara otodidak dari kegiatan sehari-hari dalam kegiatan pengembangan koleksi. 2. Analisis kebutuhan pengguna yang dilakukan pustakalana dengan menganalisis kebutuhan pengguna-nya berdasarkan pada masukan langsung yang diutarakan oleh penggunanya dan melihat dari data koleksi seperti apa yang sering dipinjam oleh pengguna 3. Kebijakan pengembangan koleksi yang berada di Pustakalana tidak berbentuk secara tertulis. Namun untuk kebijakan keanggotaan (mem-bership) di Pustakalana berbentuk secara tertulis. Dari hasil penelitian di lapangan pendanaan di Pusta-kalana berasal dari biaya pendaf-taran keanggotaan dan denda buku. Untuk pendanaan koleksi di Pusta-kalan tidak diberikan target atau sejumlah berapa besar dana yang dikeluarkan untuk menambah koleksi disana; 4. Seleksi buku yang akan dijadikan koleksi di Pustakalana dengan cara melihat dari ilustrasi gambar, konten teks bacaan, dan kondisi buku. Disini ilustrasi dan konten bacaan yang dimaksud adalah ilustrasi dan konten teks bacaan yang sesuai dengan pengguna di Pustakalana. Dikarenakan pengguna di Pustakalana adalah anak – anak, maka pustakawan di Pustakalana menyeleksi buku yang disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak untuk dijadikan koleksi di Pustakalana 5. Proses akuisisi atau pengadaan di Pustakalana dengan tiga cara yaitu donasi buku, mengajukan proposal, dan belanja. Dengan ketiga cara itu lah Pustakalana mendapatkan koleksi buku untuk menambah koleksi yang baru di Perpustakaan sehingga koleksi yang disediakan tidak monoton itu – itu saja 6. Weeding atau penyiangan yang dilakukan oleh Pustakalana melaku-kan penyiangan dengan cara menge-luarkan buku atau koleksi yang sudah tidak pernah dipinjam setelah mengeluarkan koleksi tersebut dipindahkan ke tempat penyimpan-an buku atau basecamp milik Pusta-kalana jadi bukunya tidak langsung dibuang begitu saja 7. Evaluasi yang dilakukan Pustakala dilakukan tidak secara rutin atau setiap enam bulan sekali terhadap koleksi di perpustakaan tersebut. Ketika melakukan proses evaluasi dengan melihat juga dari koleksi mana saja yang seperti apa saja yang sudah tidak pernah di pinjam dijadikan bahan evaluasi oleh Pustakalana agar kedepannya menjadi lebih baik.