Kembali
16
1
2022 Informatio: Journal of Library and Information Science Vol 2 · 3 ISSN 2775-0043

Hubungan antara kemampuan literasi digital dengan pencegahan berita hoaks di kalangan mahasiswa

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Salah satu dampak dari berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi adalah adanya internet yang menyebabkan kita bisa membuat dan menerima informasi dari mana saja dan kapan saja. Hal ini bisa berakibat buruk karena tidak semua informasi yang ada di internet dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara kemampuan literasi digital yang terdiri dari kemampuan pencarian di internet (internet searching), navigasi hypertekstual (hypertextual navigation), evaluasi konten (content evaluation), penyusunan pengetahuan (knowledge assembly) dengan pencegahan berita hoaks pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif korelasional. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner secara online dan studi pustaka. Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif angkatan 2017, 2018, 2019 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran sebanyak 95 orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan proportional stratified random sampling (pengambilan sampel secara acak dan berstrata). Hasil dari penelitian ini terlihat bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan literasi digital mahasiswa yang terdiri dari pencarian di internet (internet searching), navigasi hypertekstual (hypertextual navigation), evaluasi konten (content evaluation), penyusunan pengetahuan (knowledge assembly) dengan kemampuan mencegah hoaks pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Penelitian ini diharapkan bisa menambah wawasan dalam bidang literasi digital dan pencegahan hoaks serta dapat menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya khususnya yang akan meneliti mengenai literasi digital di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

Abstract

One of the impacts of the development of information and communication technology is the internet, which allows us to create and receive information from anywhere and at any time. This can have bad consequences because not all information on the internet can be accounted for. The purpose of this study is to determine how much the relationship between digital literacy skills consisting of internet searching skills, hypertextual navigation, content evaluation, and knowledge assembly with the prevention of hoax news in students of the Faculty of Communication Sciences, Padjadjaran University. The approach used in this research is a quantitative correlational approach. Data collection techniques were carried out by distributing questionnaires online and a literature study. Respondents in this study were active students of class 2017, 2018, and 2019 of the Faculty of Communication Sciences, Padjadjaran University, as many as 95 people. The sampling technique in this study used proportional stratified random sampling (random and stratified sampling). The results of this study show a significant relationship between students' digital literacy skills consisting of internet searching, hypertextual navigation, content evaluation, and knowledge assembly with the ability to prevent hoaxes in students of the Faculty of Communication Sciences, Padjadjaran University. This research is expected to add insight into the field of digital literacy and hoax prevention and can be a reference for further research, especially for those who will examine digital literacy at the Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran.
Keywords: Literasi digital · Pencegahan hoaks · Mahasiswa

Introduction

Informasi merupakan hal yang penting bagi manusia, sadar atau tidak sadar manusia membutuhkan informasi untuk banyak hal mulai dari yang kecil seperti: keadaan cuaca hari ini atau rute mana yang bisa dipakai untuk sampai pada tujuan, sampai hal-hal yang besar seperti: kondisi geografis suatu daerah, potensi dari suatu daerah, atau ancaman bencana apa saja yang mengintai suatu daerah. Selain itu informasi dapat membantu dalam mengambil suatu keputusan yang akan diambil. Hal ini mengantarkan umat manusia menjadi masyarakat informasi. Masyarakat informasi merupakan istilah untuk mendefinisikan masyarakat yang ditandai dengan peran penting informasi dan teknologi informasi dalam kehidupan masyarakat (Zakiyyah, Winoto, & Rohanda, 2022). Menurut Purnamayanti and Oktaria (2022) sekarang ini teknologi telah berubah menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat, perkembangan teknologi telah membawa perubahan mendasar dalam kehidupan masyarakat. Dengan perkembangan teknologi khususnya dalam bidang informasi dan komunikasi, menyebabkan suatu informasi dapat diterima dengan mudah dan cepat. Berdasarkan data Hoosuite (we are social): Indonesian digital report 2020 yang dipaparkan oleh Riyanto (2020), menyebutkan ada 175,4 juta pengguna internet di Indonesia, jika dihitung dengan jumlah penduduk, ada 269,6 juta orang di Indonesia, terhitung sekitar 62% atau lebih dari setengah jumlah penduduk Indonesia. Selaras dengan perkembangan teknologi, internet tidak lagi hanya digunakan untuk menyampaikan surel (surat elektronik) atau hanya untuk mencari berita saja, tapi kini masyarakat sudah mulai mengenal dengan apa yang dinamakan media sosial. Riyanto (2020) mengemukakan Indonesia memiliki 160 juta pengguna media sosial aktif. Media sosial yang sering dikunjungi di Indonesia merupakan Youtube, WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, LINE, dan lain-lain. Fasilitas dan konten internet yang semakin beragam mengakibatkan setiap individu bisa memanfaatkan fasilitas dan konten tersebut untuk memenuhi kebutuhannya. Sayangnya, salah satu dampak negatif yang ditimbulkan dari perkembangan teknologi adalah kemudahan dan kebebasan penggunaan internet yang menyebabkan berbagai pihak menyebarkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya (hoax). "Berita hoaks adalah berita yang mengandung hal-hal yang tidak pasti atau tidak benar-benar terjadi" (Solichin, Jati, Ghalib, & Rakhmawati, 2022). Pendapat lain, "hoaks adalah berita bohong yang sengaja dibuat untuk menyamarkan kebenaran" (Astuti & Mustofa, 2020). Berdasarkan dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa berita hoaks merupakan berita yang tidak benar-benar terjadi yang dibuat untuk menyamarkan kebenaran". Septiana and Rianto (2021) mengatakan bahwa terdapat 2 (dua) dampak yang dapat ditimbulkan karena berita hoaks yang berdedar yaitu, terbentuknya opini publik yang buruk dan dapat menimbulkan kecemasan pada masyarakat. Menurut Masyarakat Telematika Indonesia (2017), isu SARA dan politik menjadi isu yang paling banyak diangkat menjadi berita hoaks, hal ini dibuktikan dengan hasil survei yang mengatakan bahwa (91,8%) responden menyatakan sering mendapatkan konten hoaks mengenai sosial politik, diikuti oleh konten yang berbau SARA sebesar (88,6%). Penyebaran berita hoaks paling banyak terjadi pada media sosial seperti Twitter, Instagram, Path, dan Facebook sebesar (92,4%), disusul oleh situs web (34,9%), Televisi 8,7%, Media Cetak (5%), Email (3,1%), dan Radio (1,2%). Dengan semakin banyaknya hoaks yang muncul menimbulkan keresahan di masyarakat karena tidak jarang berita hoaks yang beredar dapat menimbulkan kesalahpahaman dan perpecahan di kalangan masyarakat. Untuk itu pengguna internet khususnya pengguna media sosial diharapkan bisa mengenali dan mengidentifikasi berita hoaks yang beredar. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan konsep literasi digital. Literasi digital adalah kemampuan yang berkaitan dengan informasi hypertext dalam pembacaan satu arah dengan bantuan komputer (Pratiwi & Pritanova, 2017). Kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk mencari, mengevaluasi, membuat, dan menyampaikan informasi yang melibatkan keterampilan kognitif dan teknis, dari sudut pandang lain (Sujana & Rachmatin, 2019). Dari dua definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa literasi digital adalah kemampuan untuk menganalisa informasi dengan bantuan komputer. Jenis informasi yang begitu beragam pada media digital seharusnya membuat kemampuan literasi digital menjadi sangat penting agar kita tidak melakukan kesalahan dalam menggunakan media digital. Namun pada kenyataannya kajian-kajian mengenai literasi digital sangat jarang dilakukan hal ini berdasarkan data yang dikemukakan oleh Mathar (2014) yang menyebutkan bahwa negara di Asia hanya memiliki persentase sebesar 8% dalam penulisan kajian mengenai literasi digital. Perkembangan literasi digital di Indonesia tidak berbanding lurus dengan penggunaan media digital, hal ini tentunya dapat berpengaruh terhadap perkembangan perilaku masyarakat di era digital ini. Mahasiswa sebagai kaum terpelajar dan generasi milenial yang setiap hari berurusan dengan berbagai informasi di media sosial atau media online seharusnya sudah memiliki kemampuan literasi digital ini, agar tidak terjebak oleh informasi hoaks yang ada di media sosial. Namun nyatanya menurut survei yang dilakukan oleh Christanda (2020) pada 167 mahasiswa-mahasiswi dari sebuah kampus di Yogyakarta menunjukan hampir 63,5% mahasiswa-mahasiswi tersebut pernah mempercayai berita atau informasi hoaks, juga terdapat 7,7% mahasiswa-mahasiswi yang merasa kebingungan dengan konten yang ada di media sosial apakah konten tersebut benar atau hoaks. Menariknya hanya 40,4% mahasiswa-mahasiswi yang memastikan kebenaran dari berita yang mereka terima, 34,2% yang berusaha untuk memahami isi dari informasi yang mereka terima dan ada 26,3% mahasiswa-mahaswi yang membiarkan peredaran berita hoaks tersebut. Berdasarkan data tersebut kita bisa mengetahui bahwa seorang mahasiswa pun bisa saja tidak memiliki kemampuan literasi digital yang baik. Penelitian terhadap kemampuan literasi digital untuk mencegah berita hoaks telah banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Bahri (2021), penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang hasilnya adalah perlunya menumbuhkan kesadaran akan menyeleksi sumber, menambah pemahaman, berusaha mengecek informasi dari satu media dengan media lainnya dan pentingnya mengembangkan tradisi mengoreksi berita di kalangan masyarakat. Terdapat pula penelitian yang dilakukan oleh Fitriarti (2019), penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur yang hasilnya adalah dengan adanya literasi digital maka diharapkan agar khalayak dapat memproduksi pesan atau informasi serta mampu selektif dalam mencari informasi yang dibutuhkan sebab adanya kemampuan khalayak dalam memproduksi dan memilih informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Dari yang dikemukakan di atas, maka dalam penelitian ini peneliti ingin menguji apakah empat kompetensi inti literasi digital dapat digunakan untuk menangkal berita hoaks yang banyak beredar di internet karena saat ini masih banyak orang yang masih dengan mudah percaya dengan berita-berita hoaks tersebut. Peneliti memilih Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran sebagai subjek penelitian dengan cara menyebar angket online sesuai dengan jumlah sampel yang sudah ditentukan. Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran dipilih karena beberapa alasan, yaitu: mahasiswa saat ini tidak bisa dilepaskan dari internet khususnya media sosial, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran yang diajarkan bagaimana cara untuk berkomunikasi yang baik seharusnya juga memiliki kemampuan literasi digital yang baik agar tidak salah dalam menerima ataupun memberikan informasi, selain itu Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran mencapai tingkat kepuasan pengguna lulusan sebesar 85% yang artinya lulusan dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran bisa bersaing dengan lulusan dari universitas lain. Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran pun mempunyai 3 (tiga) pusat studi "Pusat Studi Komunikasi Kesehatan, Pusat Studi Komunikasi Lingkungan, dan Pusat Studi Informasi, Media dan Budaya" selain itu juga memiliki 6 (enam) jurnal yang sudah terakreditasi SINTA. Penelitian ini akan menggunakan empat kompetensi inti literasi digital yang dikemukakan oleh Gilster (1997) yang memberikan empat kompetensi dasar yang harus dimiliki pengguna media digital agar berliteret, yaitu: pencarian di internet "internet searching", navigasi hypertekstual "hypertextual navigation", evaluasi konten "content evaluation", penyusunan pengetahuan "knowledge assembly". Peneliti memilih konsep ini karena konsep ini sudah sering digunakan dalam penelitian-penelitian sebelumnya dan konsep ini merupakan dasar dalam menilai kemampuan literasi digital seseorang sehingga cocok dengan topik penelitian yang akan penulis ambil. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah kemampuan literasi digital efektif untuk mencegah berita hoaks yang beredar khususnya di kalangan mahasiswa. Apabila efektif itu artinya setiap perguruan tinggi harus mulai menaruh perhatian pada kemampuan literasi digital ini agar bisa menekan berita hoaks yang beredar di internet khususnya media sosial, apabila tidak itu artinya harus ada alternatif lain untuk mencegah penyebaran berita hoaks ini. Kemampuan mencegah berita hoaks sendiri secara sederhana merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi informasi yang diterima baik dari sumber ataupun dari isi informasi yang diterima. Sebelumnya telah ada penelitian yang dilakukan oleh Tsaniyah and Juliana (2019) dengan judul "literasi digital sebagai upaya menangkal hoaks di era disrupsi". Penelitian Tsaniyah and Juliana (2019) dilakukan dengan metode studi pustaka dan menggunakan delapan elemen esensial literasi digital yang dilakukan oleh Belshaw (2012). Maka dari itu, melalui penelitian ini diharapkan untuk menyempurnakaan penelitian sebelumnya dengan memberikan gambaran terkait fenomena menangkal hoaks berdasarkan empat kompetensi inti literasi digital yang dikemukakan oleh Gilster (1997) dengan menggunakan metode kuantitatif.

Method

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Analisis menekankan pada analisis data numerik atau angka dan menggunakan statistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan korelasi, yaitu menggunakan koefisien korelasi untuk menentukan sejauh mana perubahan pada satu faktor sesuai dengan perubahan pada satu atau lebih faktor lainnya. Populasi pada penelitian merupakan mahasiswa aktif tahun 2019 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran angkatan 2017, 2018, 2019 dengan jenjang S1 sebanyak 1.799 orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan "proportional stratified random sampling". Menurut Sugiyono (2015) "proportional stratified random sampling" adalah salah satu teknik dalam pengambilan sampel yang digunakan bila populasi memiliki anggota/elemen yang tidak homogen dan relatif terstratifikasi. Strata yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu mahasiswa aktif Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran jenjang S1 yang tersebar pada program studi: "Ilmu Komunikasi, Ilmu Komunikasi PSDKU Pangandaran, Perpustakaan dan Sains Informasi, Hubungan Masyarakat, Jurnalistik, Manajemen Komunikasi, Televisi dan Film". Jumlah anggota dari sampel total ditentukan dengan rumus slovin. Berikut ini merupakan notasi dari rumus slovin: n = N / (1 + Ne^2) Dimana: n = besaran sampel N = besaran populasi e = nilai kritis yang diinginkan yaitu 10% Maka: n = 1.799 / (1 + 1.799. (0,1)^2) n = 1.799 / (1 + 17,99) n = 1.799 / 18,99 n = 94,7 (dibulatkan menjadi 95 orang) Apabila melihat hasil perhitungan yang sudah dilakukan maka jumlah anggota sampel total yang diperlukan dalam penelitian ini adalah 95 orang mahasiswa aktif Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran angkatan 2017, 2018, 2019 jenjang S1. Jumlah dari anggota sampel bertingkat dihitung menggunakan teknik "proportional stratified random sampling". Menurut Purwanza et al. (2022) rumus untuk teknik "proportional stratified random sampling" adalah sebagai berikut: jumlah sample = (jumlah sub populasi / jumlah populasi) x jumlah sample yang diperlukan Pada penelitian ini terdapat 2 teknik/metode pengumpulan data yaitu: kuesioner/angket dan studi pustaka. Kuesioner/angket yang digunakan berupa angket yang bersifat online karena memiliki kelebihan dapat memperoleh data yang diperlukan dengan waktu yang relatif singkat, disamping itu karena adanya wabah Covid 19 yang menyebabkan sulitnya membagikan angket secara langsung maka penggunaan angket online ini dapat mempermudah dalam pengambilan data penelitian. Studi pustaka dilakukan untuk memperkuat data yang ada, dengan memahami berbagai bahan pustaka yang berkaitan dengan topik yang sedang diteliti. Sehingga diharapkan dapat menambah referensi dan pengetahuan peneliti guna kepentingan penelitian ini. Menurut Hasanah and Latifahul (2020) Ada 2 (dua) syarat untuk memvalidasi suatu kuesioner, yaitu valid dan reliabel. Dengan menggunakan instrumen pengumpulan data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan, diyakini bahwa temuan penelitian dapat digunakan. Perhitungan uji validitas variabel literasi digital dilakukan dengan jumlah total responden tidak kurang dari 95 responden melalui 20 pertanyaan yang disajikan. Keefektifan setiap item kemudian dihitung dengan penggunaan teknik korelasi pearson product moment dan dinyatakan valid jika koefisien korelasi "pearson product moment" > 0,202. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai korelasi seluruh item pada variabel kemampuan literasi digital (X) > 0,202 atau seperti terlihat pada r hitung (Pearson Correlation) > r tabel. Dengan demikian semua butir soal untuk mengukur variabel kompetensi literasi digital valid dan dapat digunakan sepenuhnya untuk penelitian. Hasil dari perhitungan yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa nilai reliabilitas (Cronbach's alpha) kuesioner literasi digital melebihi 0,6. Temuan dari uji ini mengungkapkan bahwa semua kuesioner yang digunakan dapat diandalkan, maka dapat dinyatakan bahwa instrumen yang digunakan untuk mengukur literasi digital memberikan hasil yang konsisten. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai korelasi seluruh item pada variabel kemampuan pencegahan berita hoaks (Y) > 0,202 atau seperti terlihat pada r hitung (Pearson Correlation) > r tabel. Dengan demikian semua butir soal untuk mengukur variabel kompetensi literasi digital valid dan dapat digunakan sepenuhnya untuk penelitian. Hasil dari perhitungan yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa nilai reliabilitas (Cronbach's alpha) kuesioner kemampuan pencegahan berita hoaks melebihi 0,6. Hasil uji menunjukkan bahwa seluruh kuesioner yang digunakan reliabel, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa instrumen yang digunakan dalam mengukur literasi digital memberikan hasil yang konsisten. Penelitian ini akan menggunakan dua (dua) teknik analisis data yaitu: menggunakan teknik analisis deskriptif, yaitu pemaparan dari jawaban angket yang sudah diisi oleh responden atas pertanyaan yang sudah diajukan dengan mentabulasikan data untuk dapat menjelaskan situasi tertentu. Kedua menggunakan teknik analisis inferensial dimana teknik ini menganalisis jawaban responden dengan menggunakan perhitungan statistik tertentu dengan bantuan software IBM SPSS versi 23.0. Analisis deskriptif diberdayakan untuk mendeskripsikan hasil penelitian dengan cara mendeskripsikan tujuan penelitian yang terdiri dari kondisi responden dan sebaran tujuan dari masing-masing variabel. Data yang sudah dikumpulkan dalam bentuk kuesioner atau angket dalam bentuk pertanyaan atau pun pernyataan menggunakan pilihan jawaban yang sudah disiapkan sebelumnya oleh peneliti, selanjutnya data tersebut akan diolah dan ditabulasi dalam tabel frekuensi kemudian dilakukan pembahasan deskriptif dari data yang telah diolah. Penelitian inferensial, yaitu kerangka untuk menguji hipotesis dan menarik kesimpulan yang peka terhadap kemungkinan penolakan hipotesis nol dengan suatu kesalahan. Dengan menggunakan penelitian ini, signifikansi hubungan yang diperiksa antara variabel akan ditentukan (Syukri, Rizal, & Hamdani, 2019). Menurut Sugiyono (2016) koefisien korelasi "pearson product moment" akan digunakan untuk menguji hipotesis. Setelah nilai koefisien korelasinya diketahui, selanjutnya akan didefinisikan berdasarkan pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi. Setelah melakukan analisis dengan nilai koefisien korelasi pearson (r), langkah berikutnya adalah menghitung nilai koefisien determinasi. Dalam menghitung nilai koefisien determinasi (KD) dalam melihat sebesar apa pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen dengan rumus: KD = r^2 X 100% Sedangkan untuk uji signifikansinya, penulis menggunakan uji t yang menggunakan rumus berikut: t = (r * sqrt(n-2)) / sqrt(1-r^2) Apabila hasil perhitungan uji t atau yang biasa disebut dengan t hitung melebihi t tabel, maka variabel independen (X) berhubungan signifikan dengan variabel dependen (Y).

Result & Discussion

Berdasarkan hasil rekapitulasi jawaban responden tentang tanggapan kemampuan literasi digital diperoleh persentase sebesar 78,36% yang berarti kemampuan literasi digital Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran termasuk dalam kategori sangat baik (hampir seluruh mahasiswa memiliki kemampuan literasi digital). Berdasarkan hasil pengolahan data menunjukan persentase tanggapan responden terhadap pencegahan berita hoaks adalah sebesar 73,9% yang berarti pencegahan berita hoaks pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran termasuk dalam kategori baik (sebagian besar mahasiswa memiliki kemampuan pencegahan berita hoaks.) Analisis korelasi dilaksanakan untuk melihat hubungan antara kemampuan literasi digital dengan pencegahan berita hoaks di kalangan mahasiswa. Yang memuat hasil sebagai berikut: [Tabel 1. Hasil korelasi Pearson Product Moment]. H0 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pencarian di internet dengan pencegahan berita hoaks. Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara pencarian di internet dengan pencegahan berita hoaks. Dengan menggunakan perhitungan yang sama seperti sebelumnya, koefisien korelasi "pearson product moment" sebesar 0,242. Menurut pedoman interpretasi "Guildford", korelasi sebesar 0,242 termasuk dalam kategori rasio rendah. Dengan menggunakan rumus t = r * sqrt((n-2)/(1-r^2)) kita mendapatkan nilai t hitung t = 0,242 * sqrt((95-2)/(1-0,242^2)). jika db = 93 (n-2) dan alpha = 5% untuk pengujian dua pihak, diperoleh nilai t tabel = 1,986. Karena t hitung (2,405) >= t tabel (1,986), maka H0 ditolak dan Ha diterima, berarti ada hubungan yang signifikan antara pencarian di internet dan pencegahan berita hoaks dengan kekuatan korelasi kategori rendah. Setelah diketahui adanya hubungan antara pencarian di internet dengan pencegahan berita hoaks, selanjutnya untuk mengetahui besarnya pengaruh antara pencarian di internet terhadap pencegahan berita hoaks dapat diketahui melalui nilai koefisien determinasi. KD = R2 x 100% KD = 0,242^2 x 100% KD = 5,86%. Nilai ini menunjukkan bahwa persentase pengaruh pencarian di internet terhadap pencegahan berita hoaks adalah sebesar 5,86%. Sedangkan 94,14% dipengaruhi oleh faktor lain. H0 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara navigasi hypertekstual dengan pencegahan berita hoaks. Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara navigasi hypertekstual dengan pencegahan berita hoaks. Dengan menggunakan perhitungan yang sama koefisien korelasi "pearson product moment" senilai 0,367. Menurut pedoman interpretasi "Guildford", korelasi senilai 0,367 termasuk dalam kategori rasio rendah. Dengan menggunakan rumus t = r * sqrt((n-2)/(1-r^2)) kita mendapatkan nilai t hitung t = 0,367 * sqrt((95-2)/(1-0,242^2)). jika db = 93 (n-2) dan alpha = 5% untuk menguji dua pihak, dengan perolehan nilai t tabel = 1,986. Karena t hitung (3,805) >= t tabel (1,986), maka H0 ditolak dan Ha diterima, berarti ada hubungan yang signifikan antara pencarian di internet dan pencegahan berita hoaks dengan kekuatan korelasi kategori rendah. KD = R2 x 100% KD = 0,367^2 x 100% KD = 13,47%. Nilai ini menunjukkan bahwa persentase pengaruh navigasi hypertekstual terhadap pencegahan berita hoaks adalah sebesar 13,47%. Sedangkan 86,53% dipengaruhi oleh faktor lain. H0 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara evaluasi konten dengan pencegahan berita hoaks. Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara evaluasi konten dengan pencegahan berita hoaks. Dengan menggunakan perhitungan seperti sebelumnya, koefisien korelasi "pearson product moment" sebesar 0,438. Menurut pedoman interpretasi "Guildford", korelasi sebesar 0,438 termasuk dalam kategori rasio rendah. Dengan menggunakan rumus t = r * sqrt((n-2)/(1-r^2)) kita mendapatkan nilai t hitung t = 0,438 * sqrt((95-2)/(1-0,242^2)). jika db = 93 (n-2) dan alpha = 5% untuk pengujian dua pihak, diperoleh nilai t tabel = 1,986. Karena t hitung (4,699) >= t tabel (1,986), maka H0 ditolak dan Ha diterima, berarti ada hubungan yang signifikan antara pencarian di internet dan pencegahan berita hoaks dengan kekuatan korelasi kategori sedang. KD = R2 x 100% KD = 0,438^2 x 100% KD = 19,18%. Nilai tersebut memperlihatkan persentase pengaruh evaluasi konten terhadap pencegahan berita hoaks adalah sebesar 19,18%. Sedangkan sisanya sebesar 80,82% dipengaruhi oleh faktor lain. H0 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penyusunan pengetahuan dengan pencegahan berita hoaks. Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara penyusunan pengetahuan dengan pencegahan berita hoaks. Dengan menggunakan perhitungan yang sama, koefisien korelasi "pearson product moment" sebesar 0,618. Menurut pedoman interpretasi "Guildford", korelasi sebesar 0,618 termasuk dalam kategori rasio rendah. Dengan menggunakan rumus t = r * sqrt((n-2)/(1-r^2)) kita mendapatkan nilai t hitung t = 0,618 * sqrt((95-2)/(1-0,242^2)). jika db = 93 (n-2) dan alpha = 5% dalam pengujian keduanya, diperoleh nilai t tabel = 1,986. Karena t hitung (7,581) >= t tabel (1,986), maka H0 ditolak dan Ha diterima, menandakan adanya hubungan signifikan antara pencarian di internet dan pencegahan berita hoaks dengan kekuatan korelasi kategori kuat. KD = R2 x 100% KD = 0,618^2 x 100% KD = 38,19%. Nilai ini memperlihatkan persentase pengaruh penyusunan pengetahuan terhadap pencegahan berita hoaks adalah sebesar 38,19%. Sedangkan sisanya sebesar 61,81% dipengaruhi oleh faktor lain. Sub Variabel dari kemampuan literasi digital berdasarkan pencarian di internet "internet searching" (X1) dengan pencegahan berita hoaks (Y) memiliki koefisien korelasi Person senilai 0,242. Dimana hal tersebut menunjukan bahwa keeratan korelasi antara variabel tersebut masuk kedalam kategori lemah. Besarnya kontribusi pencarian di internet "internet searching" terhadap pencegahan berita hoaks dinyatakan dengan nilai koefisien determinasi senilai 5,86%. Sisanya 94.14% dipengaruhi oleh faktor lain. Berdasarkan perhitungan dan analisis yang dilakukan mengenai sub variabel dari kemampuan literasi digital berdasarkan (X1) dengan (Y), diperoleh hasil bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara sub variabel dari kemampuan literasi digital berdasarkan (X1) dengan (Y) dengan kekuatan hubungan yang termasuk dalam kategori rendah. Menurut Gilster (1997) (X1) merupakan "kemampuan untuk menggunakan internet dan melakukan berbagai aktivitas di dalamnya." Secara umum, pencarian internet adalah kemampuan untuk menggunakan mesin pencari dalam mencari informasi di internet. Kemampuan literasi digital dalam dimensi (X1) menjadi salah satu stimulus bagi mahasiswa dalam menemukan informasi yang mereka butuhkan yang nantinya akan diolah dan dianalisis apakah informasi tersebut merupakan informasi yang benar atau hoaks. Seperti yang dikatakan Irawan (2019) bahwa terdapat 4 (empat) kelompok aktivitas yang dilakukan di internet salah satunya adalah untuk mencari informasi sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Dan untuk mendapatkan informasi tersebut mahasiswa harus memiliki kemampuan untuk menggunakan mesin pencari di internet. Dalam proses untuk menangkal berita hoaks subvariabel pencarian di internet "internet searching" dapat mempengaruhi bagaimana cara mahasiswa dalam menemukan informasi yang mereka butuhkan. Jika menggunakan buku teks mahasiswa harus mencari bukunya terlebih dahulu kemudian mencari informasi yang mereka butuhkan. Ketika menggunakan internet mereka tinggal mengetik informasi apa yang mereka perlukan kemudian akan muncul banyak informasi mengenai apa yang kita cari. Namun tidak seperti di buku informasi di internet tidak semuanya dapat dijadikan bahan rujukan atau sumber informasi karena ada banyak informasi hoaks yang bertebaran di internet. Untuk itu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Saputra, Wahyuningratna, and M.B.P, (2021) bahwa terdapat 5 (lima) langkah untuk mengidentifikasi berita hoaks yang diantaranya adalah: Kita harus melihat apakah berita atau informasi tersebut mengandung kata-kata provokatif atau tidak, karena biasanya berita atau informasi yang mengandung kata-kata provokatif digunakan untuk menjatuhkan orang atau organisasi tertentu. Kita juga harus melihat beberapa sumber berita untuk memastikan fakta dari berita atau informasi tersebut. Kita juga bisa melakukan diskusi dengan teman atau kelompok mengenai berita atau informasi yang kita dapatkan sehingga kita bisa lebih yakin untuk mempercayai berita atau informasi tersebut. Sub Variabel dari kemampuan literasi digital berdasarkan pandu arah "hypertext hypertextual navigation" (X2) dengan pencegahan berita hoaks (Y) memiliki koefisien korelasi pearson sebesar 0,367. Dimana hal tersebut menunjukan bahwa keeratan korelasi antara variabel tersebut masuk kedalam kategori lemah. Besarnya kontribusi pandu arah hypertext (hypertextual navigation) terhadap pencegahan berita hoaks dinyatakan dengan nilai koefisien determinasi sebesar 13,47%. Sisanya sebesar 86,53% dipengaruhi faktor lain. Berdasarkan perhitungan dan analisis yang dilakukan mengenai sub variabel dari kemampuan literasi digital berdasarkan pandu arah (X2) dengan (Y), diperoleh hasil bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara sub variabel dari kemampuan literasi digital berdasarkan pandu arah (X2) dengan (Y) dengan kekuatan hubungan yang termasuk dalam kategori rendah. Gilster (1997) pandu arah "hypertext" (hypertextual navigation) adalah "kemampuan untuk membaca serta pemahaman secara dinamis terhadap lingkungan hypertext." Terdapat 2 (dua) indikator dari pandu arah "hypertext" (hypertextual navigation), yaitu: (1) Pengetahuan mengenai "hypertext" dan "hyperlink" beserta cara kerjanya; dan (2) Pengetahuan mengenai cara kerja "website". Kemampuan literasi digital dalam "hypertext" (hypertextual navigation) menjadi salah satu stimulus bagi mahasiswa dalam mencari sumber informasi di internet. Irawan (2019) mengungkapkan bahwa salah satu aktivitas yang dilakukan di internet adalah untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Dengan kemampuan dimensi pandu arah hypertext (hypertextual navigation) ini diharapkan mahasiswa dapat lebih cepat dalam menemukan informasi yang mereka butuhkan. Dalam proses untuk menangkal berita hoaks subvariabel pandu arah hypertext (hypertextual navigation) dapat mempengaruhi bagaimana cara mahasiswa dalam mencari informasi, karena tidak seperti buku yang isinya sudah melalui proses pengujian sehingga kredibel untuk dijadikan bahan rujukan informasi di internet bisa dibuat siapa saja tanpa melihat fakta di lapangan dan bisa juga informasi tersebut hanya berupa opini dari si penulis. Oleh karena itu, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Saputra et al., (2021) bahwa terdapat 5 (lima) langkah untuk mengidentifikasi berita hoaks yang diantaranya adalah: hati-hati terhadap judul atau informasi bersifat provokatif karena biasanya informasi atau judul tersebut digunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan kebencian kepada kelompok atau golongan tertentu. Untuk itu ketika menemukan informasi atau judul yang provokatif, mahasiswa bisa membandingkan dengan informasi atau judul lain yang serupa kemudian bandingkan isinya. Dengan demikian setidaknya kita bisa mengambil kesimpulan apakah berita atau informasi tersebut benar atau hoaks. Selain berhati-hati dengan judul atau informasi provokatif, kita juga bisa mencari fakta dari informasi atau berita yang ada dari situs resmi baik itu situs milik pemerintah, pendidikan atau berita sehingga informasi yang kita buat nantinya bisa dipertanggung jawabkan. Sub Variabel kemampuan literasi digital berdasarkan evaluasi konten "content evaluation" (X3) dengan pencegahan berita hoaks (Y) memiliki koefisien korelasi pearson sebesar 0,438. Dimana hal tersebut menunjukan bahwa keeratan korelasi antara variabel tersebut masuk kedalam kategori sedang. Besarnya kontribusi (X3) terhadap (Y) dinyatakan dengan nilai koefisien determinasi sebesar 19,18%. Sisanya sebesar 80,82% dipengaruhi oleh faktor lain. Berdasarkan perhitungan dan analisis yang dilakukan mengenai sub variabel dari kemampuan literasi digital (X3) dengan (Y), diperoleh hasil bahwa H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya terdapat hubungan yang signifikan antara sub variabel dari kemampuan literasi digital berdasarkan (X3) dengan (Y) dengan kekuatan hubungan yang termasuk dalam kategori sedang. Evaluasi konten "content evaluation" adalah "kemampuan seseorang untuk berpikir kritis dan melakukan evaluasi terhadap apa yang ditemukan secara online, serta kemampuan untuk mengenali keakuratan dan kelengkapan informasi yang dirujuk oleh hypertext link" (Gilster, 1997). Terdapat 2 (dua) indikator dari evaluasi konten "content evaluation", yaitu: kemampuan menganalisa suatu website dan kemampuan menganalisa informasi yang ada di internet meliputi sumber dan pembuat informasi. Kemampuan literasi digital dalam dimensi evaluasi konten "content evaluation" menjadi salah satu stimulus bagi mahasiswa dalam menentukan sumber-sumber informasi yang akan digunakan. Menurut Iqbal (2019), salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengenali berita atau informasi hoaks adalah dibuat oleh situs yang tidak bisa dipercaya yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: tidak memiliki tim redaksi, tidak ada keterangan siapa yang menulis berita atau informasi tersebut, tidak ada keterangan mengenai siapa pemiliknya, tidak mencantumkan nomor telepon dan email pemilik dan domain yang tidak jelas. Domain dalam suatu situs juga bisa menjadi tolak ukur apakah berita atau informasi tersebut bisa dipercaya atau tidak. Misalnya, situs milik pemerintah atau lembaga pendidikan. Situs tersebut dapat dipercaya untuk mengetahui mengenai informasi tentang lembaga pemerintah atau pendidikan tersebut. Berbeda dengan Wikipedia atau Blogspot yang informasinya bisa buat oleh siapa saja tanpa sumber yang jelas. Dalam proses untuk menangkal berita hoaks sub variabel evaluasi konten (content evaluation) akan mempengaruhi keputusan informasi mana yang dapat dipercaya dan mana yang hoaks. Hal ini dikarenakan kemampuan evaluasi konten (content evaluation) membuat mahasiswa menjadi kritis terhadap informasi yang mereka terima. Ketika mereka menemukan informasi atau berita dengan tulisan atau judul provokatif, mereka tidak langsung mempercayai informasi tersebut tetapi mencari sumber lain yang lebih bisa dipercaya. Begitupun ketika mereka menemukan sebuah foto yang dirasa dengan narasi provokatif, mereka bisa mencari foto tersebut dari sumber lain untuk memastikan kebenaran dari foto tersebut. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Saputra et al. (2021) bahwa terdapat 5 (lima) langkah untuk mengidentifikasi berita hoaks diantaranya adalah: Kita harus hati-hati terhadap informasi atau judul yang provokatif, karena bisa jadi informasi tersebut dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk menyudutkan pihak lain; Kita harus mencermati alamat situs yang memberikan informasi, karena bisa jadi situs tersebut memberikan informasi yang kurang tepat sehingga dapat menimbulkan kebingungan; Ketika mendapatkan informasi dari internet kita harus mengecek kembali apakah informasi tersebut benar atau hoaks. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mencari informasi dari sumber yang kredibel atau berdiskusi dengan teman yang mengerti mengenai informasi yang didapatkan; Mengecek keaslian foto yang kita dapatkan dengan mencari foto serupa pada situs yang lebih bisa dipercaya atau tanyakan pada teman yang bisa membedakan apakah foto tersebut asli atau kan sudah diedit; Mengikuti diskusi anti hoaks untuk mengetahui bagaimana hoaks itu dibuat dan disalurkan, kita juga bisa berdiskusi mengenai informasi yang didapat apakah informasi tersebut merupakan informasi hoaks atau bukan. Sub Variabel dari kemampuan literasi digital berdasarkan penyusunan pengetahuan "knowledge assembly" (X4) dengan pencegahan berita hoaks (Y) memiliki koefisien korelasi pearson sebesar 0,618. Dimana hal tersebut menunjukan bahwa keeratan korelasi antara variabel tersebut masuk kedalam kategori kuat. Besarnya kontribusi (X4) terhadap pencegahan berita hoaks dinyatakan dengan nilai koefisien determinasi sebesar 38,19%. Sisanya sebesar 61,81% dipengaruhi oleh faktor lain. Berdasarkan perhitungan dan analisis yang dilakukan mengenai sub variabel dari kemampuan literasi digital berdasarkan (X4) dengan (Y), diperoleh hasil bahwa H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya terdapat hubungan yang signifikan antara sub variabel dari kemampuan literasi digital (X4) dengan (Y) dengan kekuatan hubungan yang termasuk dalam kategori kuat. Menurut Gilster (1997), penyusunan pengetahuan adalah kemampuan untuk memperoleh dan menilai fakta dan pendapat secara akurat dan tidak memihak, serta kemampuan untuk mengumpulkan dan menyusun data dari berbagai sumber. Terdapat 3 (tiga) indikator dari penyusunan pengetahuan (knowledge assembly), yaitu: (1) Kemampuan melakukan cross check informasi yang diperoleh; (2) Kemampuan dalam menyusun sumber informasi yang diperoleh dari internet; dan (3) Kemampuan untuk membuat daftar referensi. Kemampuan literasi digital dalam dimensi penyusunan pengetahuan "knowledge assembly" menjadi salah satu stimulus bagi mahasiswa dalam membuat berita atau informasi baru. Informasi atau berita baru yang nantinya dihasilkan harus sesuai dengan fakta dan data yang ada di lapangan atau berasal dari sumber-sumber yang kredibel agar tidak membuat kebingungan di antara masyarakat yang membaca informasi atau berita tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Hutahaean (2014) bahwa fungsi utama dari informasi adalah untuk mengurangi ketidakpastian dari penerima informasi sehingga penerima informasi dapat mengambil keputusan dengan tepat. Dalam proses untuk menangkal berita hoaks subvariabel penyusunan pengetahuan "knowledge assembly" dapat mempengaruhi kualitas informasi yang dihasilkan oleh mahasiswa. Hal ini karena kemampuan penyusunan pengetahuan "knowledge assembly" dapat membantu mahasiswa dalam mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dengan mengevaluasi fakta dan opini yang ada pada informasi yang dikumpulkan. Sehingga ketika mendapatkan suatu informasi mahasiswa akan mencari dari beberapa sumber untuk memastikan bahwa informasi tersebut benar dan bukan hoaks. Seperti yang dikatakan oleh Saputra et al. (2021) bahwa terdapat 5 (lima) langkah untuk mengidentifikasi berita hoaks diantaranya adalah dengan memeriksa fakta dari informasi tersebut. dengan memperhatikan sumber informasinya apakah dari sumber yang kredibel seperti lembaga pemerintah atau lembaga pendidikan atau dari sumber lain seperti tokoh politik, pengamat dan lain sebagainya. Mahasiswa juga dapat melihat dari keberimbangan isi berita atau informasi, apabila berita atau informasi tersebut menyudutkan salah satu pihak maka perlu dipertanyakan kebenarannya. Setelah semua informasi tersusun mahasiswa juga perlu memeriksa ulang informasi yang sudah dibuat apakah sudah sesuai dengan fakta ataukah belum.

Conclusion

Secara garis besar, maka kesimpulan dan hasil dari hipotesis mayor menunjukan bahwa hubungan signifikan yang moderat antara kemampuan literasi digital dengan pencegahan berita hoaks di kalangan mahasiswa. Adapun simpulan berdasarkan hasil penelitian ini, pertama terdapat hubungan yang signifikan dengan kekuatan hubungan rendah antara Pencarian di Internet "Internet Searching" dengan pencegahaan berita hoaks, artinya semakin tinggi kemampuan pencarian di internet "Internet Searching" maka semakin tinggi juga kemampuan dalam mencegah berita hoaks. Kedua, terdapat hubungan yang signifikan dengan kekuatan hubungan rendah antara navigasi hypertekstual "hypertextual navigation" dengan pencegahaan berita hoaks, artinya semakin tinggi kemampuan pencarian di internet navigasi hypertekstual "hypertextual navigation" maka semakin tinggi juga kemampuan dalam mencegah berita hoaks. Ketiga, terdapat hubungan yang signifikan dengan kekuatan hubungan sedang antara evaluasi konten "content evaluation" dengan pencegahaan berita hoaks, artinya semakin tinggi kemampuan pencarian di internet evaluasi "content evaluation" maka semakin tinggi juga kemampuan dalam mencegah berita hoaks. Keempat, terdapat hubungan yang signifikan dengan kekuatan hubungan kuat antara penyusunan pengetahuan "knowledge assembly" dengan pencegahaan berita hoaks, artinya semakin tinggi kemampuan pencarian di internet penyusunan pengetahuan "knowledge assembly" maka semakin tinggi juga kemampuan dalam mencegah berita hoaks.