Kembali
16
1
2024 Informatio: Journal of Library and Information Science Vol 4 · 3 ISSN 2775-0043

Penguatan literasi budaya Minangkabau dalam kegiatan Sapakan Pagelaran Alek Kesenian Anak Nagari Andaleh Baruh Bukik

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Literasi budaya merupakan kemampuan penting yang memungkinkan individu untuk memahami dan menghargai berbagai aspek budaya dalam konteks multikultural. Dalam era globalisasi yang semakin terkoneksi, literasi budaya berperan dalam memperkuat identitas lokal sekaligus mengatasi tantangan homogenisasi budaya. Penelitian ini mengeksplorasi penguatan literasi budaya Minangkabau melalui kegiatan Sapakan Alek Kesenian di Nagari Andaleh Baruh Bukik, Sumatera Barat. Kegiatan ini berfungsi sebagai upaya sadar untuk melestarikan tradisi lokal, termasuk seni, tari, dan permainan anak nagari, di tengah arus modernisasi. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang melibatkan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sapakan Alek Kesenian tidak hanya memperkuat ikatan sosial antarwarga tetapi juga meningkatkan pemahaman dan apresiasi generasi muda terhadap warisan budaya Minangkabau. Tantangan utama yang dihadapi adalah pengaruh globalisasi dan perubahan kurikulum yang menghilangkan muatan lokal Budaya Alam Minangkabau dari pendidikan formal. Studi ini merekomendasikan integrasi kegiatan budaya dalam pendidikan dan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan lembaga adat untuk memperkuat literasi budaya di luar sekolah. Penelitian ini memberikan wawasan praktis bagi pelestarian budaya dan penguatan identitas lokal di era global.

Abstract

Cultural literacy is an essential skill that enables individuals to understand and appreciate various cultural aspects in a multicultural context. In an increasingly interconnected era of globalization, cultural literacy plays a role in strengthening local identity while addressing the challenges of cultural homogenization. This study explores the reinforcement of Minangkabau cultural literacy through the Sapakan Alek Kesenian event in Nagari Andaleh Baruh Bukik, West Sumatra. The event serves as a conscious effort to preserve local traditions, including arts, dance, and traditional games, amid the currents of modernization. This research employs a qualitative method with a case study approach, involving participatory observation, in-depth interviews, and document analysis. The findings reveal that Sapakan Alek Kesenian not only strengthens social bonds among community members but also enhances the understanding and appreciation of Minangkabau cultural heritage among the younger generation. The main challenges encountered include the influence of globalization and changes in the curriculum that have removed Minangkabau Cultural Studies from formal education. This study recommends integrating cultural activities into education and fostering collaboration between the government, communities, and traditional institutions to strengthen cultural literacy outside of schools. The research provides practical insights for cultural preservation and the reinforcement of local identity in the global era.
Keywords: Literasi budaya · Budaya Minangkabau · Sapakan Pagelaran Alek Kesenian Anak Nagari

Introduction

Literasi budaya merupakan kemampuan individu untuk memahami, menghargai, dan berinteraksi dengan berbagai aspek budaya, baik yang berasal dari budaya sendiri maupun budaya lain. Dalam era globalisasi yang semakin terkoneksi ini, literasi budaya menjadi semakin penting karena memungkinkan individu untuk beradaptasi dan berkomunikasi secara efektif dalam lingkungan yang multikultural (Rapanta et al., 2021). Literasi budaya melibatkan pengetahuan tentang tradisi, nilai, dan praktik budaya serta kemampuan untuk mengapresiasi perbedaan dan kesamaan di antara berbagai budaya (Shliakhovchuk, 2021). Hal ini tidak hanya membantu dalam membangun toleransi dan pengertian antarbudaya, tetapi juga memperkuat identitas budaya individu dalam menghadapi pengaruh budaya asing yang kuat. Di Indonesia, yang terkenal dengan keragaman budayanya, literasi budaya memiliki peran penting dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya lokal. Setiap daerah memiliki kekayaan budaya yang unik, yang mencakup bahasa, adat istiadat, seni, dan tradisi. Dengan meningkatkan literasi budaya, masyarakat dapat lebih memahami dan menghargai kekayaan ini, serta memastikan bahwa tradisi dan nilai-nilai lokal tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang (Freedman, 2018). Budaya Minangkabau, misalnya, memiliki ciri khas yang sangat menonjol dalam konteks budaya Indonesia. Dengan sistem sosial matrilineal dan pengaruh Islam yang kuat, budaya Minangkabau menawarkan perspektif unik tentang hubungan sosial dan spiritual (Kooria, 2021). Memahami dan menghargai budaya ini tidak hanya penting bagi masyarakat Minangkabau sendiri, tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia dalam rangka memperkaya keragaman budaya nasional. Dengan demikian, literasi budaya Minangkabau tidak hanya mempertahankan identitas lokal tetapi juga memperkuat integritas budaya Indonesia secara keseluruhan. Hal ini menegaskan pentingnya literasi budaya Minangkabau sebagai bagian integral dari literasi budaya nasional, yang menjadi landasan bagi pembahasan lebih lanjut tentang pentingnya budaya Minangkabau dalam kerangka budaya Indonesia yang lebih luas. Budaya Minangkabau merupakan salah satu kekayaan budaya yang signifikan dalam kerangka budaya Indonesia. Dikenal dengan sistem kekerabatan matrilineal, di mana garis keturunan ditarik dari pihak ibu, budaya ini menawarkan perspektif unik yang berbeda dari kebanyakan budaya di Indonesia yang cenderung patrilineal (Kooria, 2021). Selain itu, budaya Minangkabau juga dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam yang kuat, yang tercermin dalam adat istiadat dan kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Kombinasi dari sistem matrilineal dan ajaran Islam menciptakan struktur sosial yang khas, di mana peran perempuan sangat dihargai, namun tetap sejalan dengan prinsip-prinsip keagamaan. Keunikan budaya Minangkabau tidak hanya terletak pada sistem kekerabatannya, tetapi juga pada seni, bahasa, dan tradisi kuliner yang kaya. Misalnya, seni tari dan musik tradisional Minangkabau tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk menyampaikan nilai-nilai budaya dan cerita rakyat. Demikian pula, masakan Minangkabau yang terkenal dengan penggunaan rempah-rempah yang kaya, seperti rendang, telah menjadi bagian dari identitas budaya yang diakui secara internasional (Lukito & Iskandar, 2019). Memahami dan melestarikan budaya Minangkabau adalah penting tidak hanya untuk masyarakat Minangkabau itu sendiri, tetapi juga untuk memperkaya keragaman budaya Indonesia secara keseluruhan. Dengan mempertahankan dan mempromosikan budaya ini, kita dapat memastikan bahwa warisan budaya yang berharga ini tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang (Junaidi et al., 2020). Hal ini sangat relevan dalam konteks perubahan kurikulum di Sumatera Barat, di mana penghapusan mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau (BAM) dari pendidikan formal menimbulkan tantangan baru dalam pelestarian budaya lokal. Perubahan kurikulum di Sumatera Barat yang menghapus mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau (BAM) dan menggantinya dengan mata pelajaran prakarya menimbulkan kekhawatiran mengenai pelestarian budaya lokal (Yulastri et al., 2018). BAM sebelumnya berfungsi sebagai sarana penting untuk mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai budaya Minangkabau kepada generasi muda. Dengan dihapusnya mata pelajaran ini, ada kekhawatiran bahwa generasi muda akan kehilangan pemahaman mendalam tentang warisan budaya mereka sendiri (Junaidi et al., 2020). Penggantian dengan mata pelajaran prakarya, meskipun memiliki manfaat dalam meningkatkan keterampilan praktis, tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran BAM dalam pendidikan budaya. Dampak dari perubahan ini dapat dirasakan dalam jangka panjang, di mana generasi muda mungkin kurang terpapar pada elemen-elemen penting dari budaya Minangkabau, seperti adat istiadat, seni, dan bahasa. Kehilangan ini bisa berdampak pada identitas budaya dan rasa kebanggaan terhadap warisan lokal. Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi cara lain untuk memperkuat literasi budaya Minangkabau di luar pendidikan formal, guna meminimalisir dampak negatif dari penghapusan BAM. Salah satu dampak negatif yang perlu diperhatikan adalah potensi penurunan pemahaman dan apresiasi terhadap budaya lokal di kalangan generasi muda. Dampak negatif dari penghapusan mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau (BAM) dari kurikulum pendidikan di Sumatera Barat dapat dirasakan dalam berbagai aspek. Salah satu dampak yang paling signifikan adalah berkurangnya kesempatan bagi generasi muda untuk mempelajari dan memahami warisan budaya mereka secara formal. BAM sebelumnya berfungsi sebagai jembatan penting yang menghubungkan siswa dengan akar budaya mereka, memperkenalkan mereka pada adat istiadat, nilai-nilai, dan tradisi yang membentuk identitas Minangkabau. Dengan dihilangkannya BAM, ada risiko bahwa pengetahuan tentang budaya lokal akan semakin terpinggirkan. Generasi muda mungkin lebih terpapar pada budaya populer global yang sering kali tidak selaras dengan nilai-nilai lokal. Ini dapat menyebabkan erosi identitas budaya dan mengurangi rasa kebanggaan terhadap warisan budaya sendiri (Darling-Hammond et al., 2020). Selain itu, hilangnya BAM juga dapat berdampak pada pelestarian bahasa dan seni tradisional Minangkabau, yang sering kali diajarkan dan dipraktekkan dalam konteks pendidikan formal. Untuk mengatasi tantangan ini, perlu ada upaya yang lebih besar untuk memperkuat literasi budaya di luar lingkungan sekolah. Ini bisa dilakukan melalui berbagai inisiatif, seperti program ekstrakurikuler, kegiatan komunitas, dan festival budaya yang melibatkan partisipasi aktif dari generasi muda. Dengan cara ini, mereka dapat terus terlibat dan belajar tentang budaya mereka dalam suasana yang lebih informal dan interaktif. Pentingnya literasi budaya dalam pendidikan tidak dapat diabaikan, karena berfungsi sebagai alat untuk melestarikan dan memperkuat identitas budaya lokal. Literasi budaya yang kuat memungkinkan individu untuk memahami dan menghargai warisan budaya mereka, serta membangun jembatan antara tradisi lama dan dunia modern. Ini menjadi landasan bagi pembahasan lebih lanjut tentang bagaimana literasi budaya dapat difasilitasi melalui berbagai metode dan pendekatan, termasuk pendidikan formal dan informal. Literasi budaya dalam pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga dan melestarikan identitas budaya lokal. Melalui literasi budaya, siswa tidak hanya belajar tentang sejarah dan tradisi nenek moyang mereka, tetapi juga mengembangkan kemampuan untuk berpikir kritis dan reflektif terhadap nilai-nilai budaya yang mereka anut. Pendidikan yang mengintegrasikan literasi budaya membantu siswa memahami konteks sosial dan sejarah dari budaya mereka sendiri, serta bagaimana budaya tersebut berinteraksi dengan budaya lain di dunia yang semakin global. Pendekatan ini dapat dilakukan melalui berbagai metode, baik dalam pendidikan formal maupun informal. Di sekolah, kurikulum dapat dirancang untuk memasukkan elemen-elemen budaya lokal dalam mata pelajaran yang ada, seperti bahasa, seni, dan sejarah. Sementara itu, di luar sekolah, program-program komunitas dan kegiatan ekstrakurikuler dapat memberikan pengalaman langsung yang memperkaya pemahaman siswa tentang budaya mereka. Dengan literasi budaya yang kuat, generasi muda akan lebih siap menghadapi tantangan globalisasi, karena mereka memiliki dasar yang kuat dalam identitas budaya mereka sendiri. Mereka juga lebih mampu berkontribusi pada dialog antarbudaya, mempromosikan toleransi dan pengertian di antara berbagai kelompok budaya. Pentingnya literasi budaya ini membuka jalan untuk diskusi lebih lanjut tentang bagaimana pendidikan dapat dirancang untuk mengakomodasi dan mempromosikan keberagaman budaya. Hal ini berkaitan erat dengan tantangan dan peluang dalam mengembangkan kurikulum yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan budaya lokal, yang akan menjadi fokus pembahasan berikutnya. Nagari Andaleh Baruh Bukik terletak di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, dan merupakan salah satu nagari yang kaya akan budaya dan tradisi Minangkabau. Secara geografis, nagari ini dikelilingi oleh perbukitan dan lahan pertanian yang subur, menciptakan lanskap yang indah dan mendukung kehidupan agraris masyarakatnya. Secara sosial, masyarakat di Nagari Andaleh Baruh Bukik masih memegang teguh adat istiadat dan norma-norma Minangkabau, yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari mereka. Nagari ini dikenal karena usaha masyarakatnya dalam melestarikan budaya lokal melalui berbagai kegiatan dan tradisi. Salah satu upaya tersebut adalah melalui kegiatan Sapakan Alek Kesenian, sebuah acara yang rutin diadakan untuk mempromosikan seni dan budaya Minangkabau. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai cara untuk mengajarkan generasi muda tentang pentingnya melestarikan warisan budaya mereka. Sapakan Alek Kesenian memiliki sejarah panjang dalam masyarakat Nagari Andaleh Baruh Bukik, dengan tujuan utama untuk memperkuat ikatan sosial dan memelihara tradisi seni lokal. Melalui acara ini, masyarakat dapat berkumpul dan merayakan identitas budaya mereka, yang akan dibahas lebih lanjut dalam konteks kontribusi acara ini terhadap pelestarian budaya lokal. Kegiatan Sapakan Alek Kesenian adalah sebuah acara budaya yang diadakan secara rutin di Nagari Andaleh Baruh Bukik, Sumatera Barat. Acara ini berfungsi sebagai platform untuk menampilkan berbagai bentuk seni tradisional Minangkabau, termasuk tari, musik, dan drama. Sapakan Alek Kesenian bukan hanya sekadar perayaan, melainkan juga sebuah upaya sadar untuk melestarikan dan mempromosikan warisan budaya lokal yang kaya dan beragam. Sejarah kegiatan ini berakar dari tradisi masyarakat Minangkabau yang selalu menempatkan seni dan budaya sebagai bagian integral dari kehidupan sosial mereka. Awalnya, acara ini dimulai sebagai pertemuan kecil antar warga untuk berbagi dan menampilkan keterampilan seni mereka. Seiring waktu, kegiatan ini berkembang menjadi acara yang lebih terstruktur dan terorganisir, melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk seniman lokal, pelajar, dan tokoh masyarakat. Tujuan utama dari Sapakan Alek Kesenian adalah untuk memperkuat ikatan sosial antar warga dan memperkenalkan generasi muda pada nilai-nilai dan tradisi budaya Minangkabau. Dengan melibatkan berbagai kelompok usia, acara ini juga berfungsi sebagai sarana pendidikan informal yang efektif, di mana pengetahuan dan keterampilan budaya dapat ditransmisikan secara langsung dari generasi ke generasi. Melalui kegiatan ini, masyarakat Nagari Andaleh Baruh Bukik berusaha membangun kesadaran dan apresiasi terhadap seni dan budaya lokal, sehingga dapat mencegah erosi identitas budaya di tengah arus globalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana kegiatan Sapakan Alek Kesenian dapat memperkuat literasi budaya Minangkabau. Dengan memahami peran dan dampak kegiatan ini, diharapkan dapat ditemukan strategi efektif untuk meningkatkan literasi budaya di kalangan generasi muda, yang akan menjadi fokus pembahasan lebih lanjut. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana kegiatan Sapakan Alek Kesenian dapat berkontribusi dalam memperkuat literasi budaya Minangkabau di Nagari Andaleh Baruh Bukik. Penelitian ini berfokus pada peran kegiatan tersebut dalam mentransmisikan pengetahuan budaya dan nilai-nilai tradisional kepada generasi muda. Dengan memahami mekanisme dan dampak dari kegiatan ini, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi cara-cara efektif dalam memanfaatkan acara budaya sebagai alat pendidikan dan pelestarian budaya. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana kegiatan Sapakan Alek Kesenian berhasil meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya mereka. Ini melibatkan analisis interaksi antara peserta acara, baik dari kalangan seniman, pelajar, maupun penonton, dalam konteks pembelajaran budaya. Dengan menyoroti aspek-aspek ini, penelitian ini berharap dapat menawarkan wawasan yang berharga bagi pengembangan strategi literasi budaya yang lebih luas di wilayah Minangkabau. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini akan menjawab beberapa pertanyaan kunci, seperti: Bagaimana kegiatan Sapakan Alek Kesenian dilaksanakan dan apa saja elemen budayanya? Bagaimana keterlibatan generasi muda dalam kegiatan ini mempengaruhi pemahaman mereka tentang budaya Minangkabau? Apa saja tantangan dan peluang yang dihadapi dalam upaya memperkuat literasi budaya melalui kegiatan ini? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi panduan dalam mengarahkan analisis dan diskusi lebih lanjut dalam penelitian ini. Penelitian ini dirancang untuk menjawab beberapa pertanyaan kunci yang berkaitan dengan peran kegiatan Sapakan Alek Kesenian dalam memperkuat literasi budaya Minangkabau. Pertanyaan pertama adalah bagaimana kegiatan ini dirancang dan dilaksanakan, serta elemen budaya apa saja yang ditampilkan dan dipertahankan. Pertanyaan kedua berfokus pada keterlibatan generasi muda: bagaimana partisipasi mereka dalam kegiatan ini mempengaruhi pemahaman dan apresiasi mereka terhadap budaya Minangkabau? Pertanyaan ketiga mengeksplorasi tantangan dan peluang yang dihadapi dalam menggunakan kegiatan budaya sebagai alat untuk meningkatkan literasi budaya. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan tentang efektivitas kegiatan budaya dalam melestarikan warisan budaya lokal. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, penelitian ini akan menggunakan pendekatan metodologi kualitatif. Metode ini melibatkan observasi langsung, wawancara mendalam dengan peserta dan penyelenggara acara, serta analisis dokumen terkait. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang dinamika sosial dan budaya yang terlibat dalam kegiatan Sapakan Alek Kesenian, yang akan dibahas lebih lanjut dalam bagian metodologi penelitian. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengkaji secara mendalam peran kegiatan Sapakan Alek Kesenian dalam memperkuat literasi budaya Minangkabau. Pendekatan ini melibatkan beberapa metode pengumpulan data, termasuk observasi partisipatif selama kegiatan berlangsung, wawancara mendalam dengan peserta, penyelenggara, dan tokoh masyarakat, serta analisis dokumen dan arsip terkait acara tersebut. Observasi partisipatif memungkinkan peneliti untuk terlibat langsung dan memahami konteks sosial budaya dari kegiatan ini. Wawancara mendalam dirancang untuk menggali perspektif dan pengalaman individu mengenai dampak acara terhadap pemahaman budaya mereka. Analisis dokumen membantu dalam memahami sejarah dan perkembangan kegiatan ini dari waktu ke waktu. Dalam kaitannya dengan literatur terdahulu, penelitian ini akan membahas studi-studi sebelumnya yang menyoroti literasi budaya dan pendidikan lokal di Sumatera Barat. Penelitian-penelitian ini memberikan kerangka teoretis dan konteks historis yang penting untuk memahami bagaimana kegiatan budaya dapat berfungsi sebagai alat pendidikan dan pelestarian budaya. Literatur terdahulu juga akan membantu mengidentifikasi gap penelitian yang ada, sehingga penelitian ini dapat memberikan kontribusi baru dalam bidang literasi budaya. Literatur terdahulu mengenai literasi budaya dan pendidikan lokal di Sumatera Barat menunjukkan bahwa upaya pelestarian budaya sering kali terfokus pada pendidikan formal dan informal. Penelitian sebelumnya telah mengeksplorasi bagaimana pendidikan formal di sekolah-sekolah memasukkan elemen budaya Minangkabau ke dalam kurikulum, seperti melalui pelajaran bahasa daerah dan sejarah lokal. Studi-studi ini menekankan pentingnya integrasi budaya dalam pendidikan untuk membangun identitas dan kebanggaan lokal di kalangan generasi muda. Selain itu, ada pula penelitian yang menyoroti peran lembaga adat dan komunitas lokal dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai budaya. Misalnya, kegiatan seni dan budaya yang diselenggarakan oleh komunitas sering kali menjadi sarana efektif untuk mentransfer pengetahuan budaya secara langsung dari generasi tua ke generasi muda. Beberapa penelitian juga mencatat tantangan yang dihadapi dalam pelestarian budaya, seperti modernisasi dan globalisasi yang dapat mengikis nilai-nilai tradisional. Namun, meskipun ada banyak studi yang membahas pendidikan dan pelestarian budaya, masih sedikit penelitian yang secara khusus mengkaji peran kegiatan budaya komunitas, seperti Sapakan Alek Kesenian, dalam memperkuat literasi budaya. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan fokus pada bagaimana acara budaya lokal dapat berfungsi sebagai alat pendidikan yang dinamis dan interaktif. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatannya yang menggabungkan analisis kualitatif mendalam terhadap interaksi sosial dan budaya dalam kegiatan tersebut, serta bagaimana kegiatan ini dapat diintegrasikan ke dalam strategi literasi budaya yang lebih luas. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pemahaman teoretis tentang literasi budaya, tetapi juga menawarkan solusi praktis untuk pelestarian budaya di era modern. Selain itu, kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatannya yang unik dalam mengeksplorasi peran kegiatan budaya komunitas, seperti Sapakan Alek Kesenian, dalam memperkuat literasi budaya Minangkabau. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang lebih banyak berfokus pada pendidikan formal dan peran lembaga adat, penelitian ini mengedepankan analisis mendalam terhadap kegiatan budaya sebagai alat pendidikan yang dinamis dan interaktif. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini menggali lebih dalam tentang bagaimana kegiatan budaya dapat memfasilitasi transfer pengetahuan dan nilai-nilai budaya secara langsung kepada generasi muda, melalui interaksi sosial yang terjadi selama acara berlangsung. Penelitian ini juga menyoroti aspek interaktif dari kegiatan budaya, yang sering kali diabaikan dalam studi sebelumnya. Dengan memfokuskan pada interaksi antara peserta, baik dari kalangan seniman, pelajar, maupun penonton, penelitian ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana kegiatan budaya dapat membangun jembatan antara generasi dan memperkuat identitas budaya. Selain itu, penelitian ini mempertimbangkan tantangan modernisasi dan globalisasi, serta bagaimana kegiatan budaya dapat diadaptasi untuk tetap relevan dalam konteks saat ini. Dalam kaitannya dengan peran pemerintah nagari, penelitian ini juga akan mendiskusikan bagaimana pemerintah setempat terlibat dalam mendukung dan memfasilitasi kegiatan budaya lokal. Pemerintah nagari memiliki peran penting dalam menyediakan dukungan finansial dan logistik, serta dalam mempromosikan kegiatan budaya sebagai bagian dari strategi pelestarian budaya. Dengan memahami keterlibatan pemerintah nagari, penelitian ini dapat mengidentifikasi kebijakan dan praktik yang efektif dalam mendukung kegiatan budaya, serta menawarkan rekomendasi untuk meningkatkan peran pemerintah dalam pelestarian budaya lokal. Pemerintah nagari memiliki peran strategis dalam mendukung kegiatan budaya lokal, seperti Sapakan Alek Kesenian, yang berfungsi sebagai sarana pelestarian dan pengembangan budaya Minangkabau. Dukungan dari pemerintah nagari dapat berupa penyediaan dana untuk penyelenggaraan acara, fasilitasi infrastruktur, serta promosi kegiatan agar dapat menjangkau audiens yang lebih luas. Selain itu, pemerintah nagari juga berperan dalam mengintegrasikan kegiatan budaya ke dalam agenda tahunan desa, memastikan bahwa acara tersebut mendapatkan perhatian dan partisipasi dari masyarakat setempat. Pemerintah nagari sering kali bekerja sama dengan lembaga adat dan komunitas lokal untuk merancang dan melaksanakan kegiatan budaya yang sesuai dengan nilai-nilai tradisional serta relevan dengan perkembangan zaman. Melalui kebijakan yang mendukung, pemerintah nagari dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pelestarian budaya, sekaligus mendorong partisipasi aktif dari generasi muda. Pengaruh kegiatan budaya ini terhadap komunitas lokal sangat signifikan, baik secara sosial maupun budaya. Secara sosial, kegiatan ini memperkuat ikatan antarwarga dan membangun rasa kebersamaan serta solidaritas. Secara budaya, kegiatan ini berfungsi sebagai media edukasi yang efektif, meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap warisan budaya lokal. Dengan demikian, kegiatan budaya tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga memperkaya kehidupan sosial dan budaya komunitas lokal, menjadikannya lebih dinamis dan berkelanjutan. Kegiatan budaya seperti Sapakan Alek Kesenian memiliki dampak yang mendalam terhadap komunitas lokal, baik dari segi sosial maupun budaya. Secara sosial, kegiatan ini berfungsi sebagai platform untuk mempererat hubungan antarwarga, menciptakan ruang bagi interaksi lintas generasi, dan memperkuat rasa kebersamaan serta solidaritas di antara anggota komunitas. Acara ini sering kali melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk seniman lokal, pelajar, dan tokoh masyarakat, yang bersama-sama berpartisipasi dalam mempersiapkan dan menyukseskan acara. Hal ini tidak hanya meningkatkan partisipasi sosial tetapi juga membangun jaringan sosial yang lebih kuat dan kohesif. Dari segi budaya, kegiatan ini berperan sebagai media pelestarian dan transfer pengetahuan budaya. Melalui pertunjukan seni dan budaya, nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal dapat diwariskan kepada generasi muda, meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap warisan budaya mereka. Ini membantu menjaga keberlangsungann tradisi dan menghidupkan kembali elemen budaya yang mungkin mulai tergerus oleh modernisasi. Dalam konteks literasi budaya dan identitas nasional, kegiatan ini berkontribusi pada pembentukan identitas nasional yang beragam namun bersatu. Literasi budaya yang kuat memungkinkan masyarakat untuk memahami dan menghargai kekayaan budaya lokal sebagai bagian integral dari identitas nasional Indonesia. Dengan menghormati dan melestarikan budaya lokal, masyarakat dapat memperkuat rasa memiliki terhadap identitas nasional yang inklusif dan pluralistik, mencerminkan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika." Literasi budaya memainkan peran penting dalam pembentukan identitas nasional di Indonesia, sebuah negara yang kaya akan keragaman budaya. Dengan memahami dan menghargai kekayaan budaya lokal, masyarakat dapat membangun identitas nasional yang kuat dan inklusif. Literasi budaya tidak hanya melibatkan pengetahuan tentang tradisi dan nilai-nilai lokal, tetapi juga kemampuan untuk mengapresiasi dan menghormati perbedaan budaya sebagai bagian dari keanekaragaman bangsa. Hal ini penting dalam konteks Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan bahasa. Identitas nasional yang kokoh dibangun di atas fondasi literasi budaya yang baik, memungkinkan masyarakat untuk merasa terhubung dengan warisan budaya mereka sendiri sekaligus menghormati budaya lain. Ini mendukung semboyan nasional "Bhinneka Tunggal Ika," yang berarti "Berbeda-beda tetapi tetap satu." Melalui literasi budaya, masyarakat dapat mengembangkan rasa kebanggaan dan kepemilikan terhadap identitas nasional yang mencerminkan keragaman budaya Indonesia (Kusmayana et al., 2024; Riani et al., 2024; Yuninda et al., 2024). Namun, dalam era globalisasi, budaya lokal menghadapi tantangan besar. Pengaruh budaya asing dan modernisasi dapat mengancam keberlangsungan tradisi dan nilai-nilai lokal. Di sinilah literasi budaya berperan sebagai solusi. Dengan meningkatkan literasi budaya, masyarakat dapat lebih kritis dalam menyaring pengaruh luar dan lebih bijak dalam mempertahankan serta mempromosikan budaya lokal. Untuk memperkuat literasi budaya, strategi yang dapat diterapkan mencakup integrasi elemen budaya lokal dalam kurikulum pendidikan, penyelenggaraan kegiatan budaya yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, dan penggunaan media digital untuk mempromosikan dan mendokumentasikan budaya lokal. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas lokal penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pelestarian budaya. Dengan strategi ini, literasi budaya dapat ditingkatkan, membantu masyarakat menjaga identitas nasional yang kuat di tengah tantangan globalisasi. Globalisasi membawa tantangan signifikan bagi budaya lokal, termasuk di Indonesia. Dengan masuknya budaya asing yang lebih dominan melalui media dan teknologi, tradisi dan nilai-nilai lokal menghadapi risiko terpinggirkan. Anak muda, yang sering kali lebih terpapar pada budaya global, mungkin kehilangan minat terhadap warisan budaya mereka sendiri. Globalisasi juga dapat menyebabkan homogenisasi budaya, di mana tradisi lokal kehilangan keunikannya dan menjadi serupa dengan budaya lain di seluruh dunia (Disantara, 2024; Huda & Istiana, 2024; Sibawaihi et al., 2024). Literasi budaya menjadi solusi penting untuk mengatasi tantangan ini. Dengan meningkatkan literasi budaya, masyarakat dapat lebih kritis dalam menyikapi pengaruh global dan lebih berkomitmen dalam melestarikan budaya lokal. Literasi budaya memungkinkan individu untuk memahami dan menghargai keunikan budaya mereka sendiri, sekaligus membangun rasa bangga dan identitas yang kuat (Brennan, 2019). Ini dapat mendorong generasi muda untuk terlibat aktif dalam pelestarian budaya, menjadikan mereka agen perubahan dalam menjaga keberlanjutan tradisi lokal. Strategi untuk memperkuat literasi budaya melalui kegiatan budaya meliputi integrasi budaya lokal dalam kurikulum pendidikan, yang dapat memberikan pemahaman mendalam tentang sejarah dan nilai-nilai budaya kepada siswa. Selain itu, penyelenggaraan festival budaya, lokakarya seni, dan pertunjukan tradisional dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan budaya (Gong et al., 2024). Penggunaan media digital juga dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan dan mempromosikan budaya lokal secara lebih luas (Buragohain et al., 2024). Literasi budaya yang kuat berkontribusi pada pembentukan identitas nasional yang kokoh, di mana masyarakat Indonesia dapat merayakan keragaman budaya sebagai bagian dari identitas nasional mereka. Dengan memahami dan menghormati perbedaan, masyarakat dapat membangun solidaritas dan kebanggaan nasional yang lebih besar. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah peningkatan kesadaran dan apresiasi terhadap budaya lokal, yang berdampak pada kebijakan pendidikan dan budaya yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur akademik dengan menyediakan data dan analisis baru mengenai pelestarian budaya dalam konteks globalisasi. Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi panduan bagi pengambil kebijakan dan praktisi budaya dalam merancang program yang efektif untuk mendukung literasi budaya. Sebagai penutup, penelitian ini menyoroti pentingnya literasi budaya dalam menghadapi tantangan globalisasi dan membangun identitas nasional yang kuat. Dengan strategi yang tepat, masyarakat dapat mempertahankan warisan budaya mereka dan menggunakannya sebagai fondasi untuk masa depan yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan berharga bagi masyarakat dan kebijakan di masa depan, mendukung pelestarian budaya lokal di tengah arus globalisasi.

Method

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang fenomena yang dialami subjek penelitian, seperti perilaku, persepsi, motivasi, dan perilaku. Menurut Kirk dan Miller, istilah penelitian kualitatif berasal dari pengamatan kualitatif daripada kuantitatif, dan mendefinisikan metode kualitatif sebagai tradisi ilmu sosial tertentu yang sangat bergantung pada perkembangan manusia (Priya, 2021). Penelitian kualitatif juga dikenal sebagai penelitian naturalistik karena sifat data yang dikumpulkan lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif karena tidak menggunakan alat ukur (Rakhmat, 2012). Ada lima pendekatan yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif (Creswell, 2014), yaitu fenomenologi, etnografi, studi kasus, grounded theory, dan naratif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan studi kasus. Menurut Suharsimi Arikunto (2010), studi kasus adalah pendekatan yang dilakukan secara intensif, terperinci, dan mendalam terhadap gejala-gejala tertentu. Creswell (2015) lebih lanjut menjelaskan bahwa studi kasus merupakan salah satu strategi penelitian yang digunakan untuk meneliti secara cermat dengan cara menghimpun berbagai informasi berdasarkan prosedur tertentu untuk pengumpulan data (Crowe et al., 2011). Pendekatan studi kasus dipilih karena memungkinkan peneliti untuk melakukan eksplorasi mendalam terhadap fenomena penguatan literasi budaya Minangkabau di Nagari Andaleh Baruh Bukik, Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Dengan pendekatan ini, penelitian dapat mengungkap berbagai aspek unik dan spesifik dari konteks budaya lokal yang mungkin tidak terjangkau oleh metode lain. Studi kasus memberikan keleluasaan bagi peneliti untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber, seperti wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih holistik dan detail (Rashid et al., 2019). Dalam penerapannya, penelitian ini akan melibatkan pengumpulan data melalui observasi langsung di lapangan, wawancara dengan tokoh masyarakat, dan partisipasi dalam kegiatan budaya setempat. Data yang diperoleh akan dianalisis secara kualitatif untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan literasi budaya dan upaya penguatannya. Penelitian ini dilakukan dari bulan April hingga Februari 2023, memberikan waktu yang cukup untuk memahami dinamika sosial dan budaya di lokasi penelitian. Dengan demikian, pendekatan studi kasus diharapkan dapat memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana literasi budaya dapat diperkuat dalam konteks budaya Minangkabau.

Result & Discussion

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif yang menerangkan penguatan literasi budaya Minangkabau. Adapun Langkah awal yang ditempuh penulis yaitu dengan melakukan pra-penelitian yang dilakukan dengan cara proses pendekatan kepada informan serta pengamatan yang dilakukan didaerah tempat penelitian sehingga penulis dapat mengajukan rangkaian pertanyaan yang sudah dirancang sebelumnya dan data penelitian dapat diperoleh. Penelitian yang dilakukan disini yaitu membahas seputar penguatan literasi budaya Minangkabau di Nagari Andaleh Baruh Bukik. Untuk itu tentu saja peneliti membutuhkan akses untuk melakukan wawancara maupun observasi terhadap subjek yang akan diteliti. Penulis sebelum melakukan wawancara tentu saja melakukan observasi awal terlebih dahulu ke daerah setempat. Setelah itu, penulis melakukan pendekatan kepada narasumber pertama yang dirasa paling berpengaruh terhadap kegiatan sapakan pagelaran alek kesenian anak nagari. Upaya pertama yang dilakukan peneliti selama proses penelitian ini yaitu mendatangi kantor pemerintahan nagari setempat, hal ini dilakukan karena penulis tidak memiliki akses dan juga tidak tau menau mengenai siapa panitia dibalik acara sapakan pagelaran alek kesenian nagari andaleh baruh bukik tersebut. Jadi untuk mendapatkan informasi mengenai siapa ketua panitia dan narasumber lainnya jalan yang bisa ditempuh yaitu dengan mengunjungi kantor wali nagari andaleh baruh bukik. Pada awal kedatangan, penulis menjelaskan kepada resepsionis maksud dan tujuan penulis sekaligus meminta izin akan melakukan penelitian disana kepada bapak wali nagari setempat. Namun, sayangnya Ketika berkunjung ertama kali penulis tidak dapat menemui bapak wali nagari dan juga ketua acara karna beliau sedang tidak ditempat dan sedang melakukan dinas keluar kota. Langkah selanjutnya yaitu penulis mulai menghubungi narasumber pertama yaitu Uda Efridho untuk menjelaskan maksud dan tujuan penulis. Setelah narasumber mengerti dengan maksud dan tujuan penulis, penulis selanjutnya membuat janji untuk dilakukannya wawancara. Dan menetapkan beliau sebagai narasumber utama selanjutnya dilakukan pengambilan data dengan wawancara pada tanggal 14 Juni 2022, dengan list pertanyaan yang telah penulis siapkan sebelumnya. Namun, karena adanya perbedaan job description ketua panitia tidak memegang acara bagian kebudayaan. Sehingga beliau menyarankan untuk melakukan wawancara mendalam mengenai kebudayaan ke pelatih kesenian sekaligus yang merancang berbagai tari kearifan local setempat. Dengan telah adanya beberapa narasumber berkat saran dari narasumber utama, maka peneliti mulai mengurus perizinan surat penelitian secara resmi yang diajukan kepada pemerintahan nagari andaleh baruh bukik. Setelah berkomunikasi dengan perangkat nagari, penulis Kembali mengunjungi kantor wali nagari andaleh baruh bukik pada tanggal 24 oktober 2022 untuk memberikan surat izin penelitian sekaligus bertemu narasumber yaitu Bapak Wali Nagari dan Bapak Ketua KAN daerah setempat. Saat wawancara dilakukan, penulis menerangkan kepada narasumber agar bapak wali dan bapak ketua KAN dapat menggunakan Bahasa yang membuat nyaman agar proses wawancara tidak terlalu kaku dan juga santai tapi tetap mendapatkan informasi yang penulis inginkan. Selanjutnya, penulis mencari narasumber pendukung lainnya untuk mendapatkan informasi mengenai sejauh apa kegiatan ini dapat berpengaruh kepada penguatan literasi budaya Minangkabau. Yang mana narasumber yang cocok dengan kategori ini adalah para peserta atau penampil dalam acara sapakan pagelaran alek kesenian anak nagari ini. Karena narasumber kali ini merupakan narasumber yang terbilang muda, maka peneliti melakukan pendekatan dengan santai sehingga dalam proses wawancara narasumber tidak merasa terbebani dengan pertanyaan yang ada. Narasumber juga melakukan pendekatan secara emosional yaitu bermain dengan narasumber diluar jadwal wawancara agar terbangun ikatan yang lebih dekat lagi dengan narasumber. Acara Sapakan Pagelaran Alek Kesenian Anak Nagari Andaleh Baruh Bukik atau yang biasa disebut dengan acara sepekan merupakan acara tahunan jorong andaleh yang biasa diadakan pada hari ke-2 raya idul fitri setiap tahunnya. Kapan pastinya acara ini awal mula terbentuk, tidak ada yang tau pasti, hal ini dikarenakan acara ini telah ada sejak lama sekali sehingga niniak mamak setempat pun juga tidak mengetahui pasti sejarah kegiatan ini mulanya diadakan. Pada mulanya, acara sepekan bertujuan untuk ajang sillaturrahmi antara masyarakat jorong andaleh yang berada diperantauan dengan masyarakat yang berada dikampung halaman. Istilah lainnya untuk menyambut para perantau yang baliak kampuang di hari raya idul fitri. Acara dalam kegiatan ini juga hanya sebatas acara kesenian dan acara hiburan yang dapat dinikmati oleh semua golongan masyarakat. Hal ini tak lain agar masyarakat masih bisa merasakan euphoria budaya saat baliak kampuang dan juga nostalgia dengan diadakannya acara permainan anak-anak yang dulu sewaktu kecil sering mereka mainkan. Seiring dengan perkembangan zaman acara ini pun juga berkembang dengan sendirinya. Mulai dari tujuan kegiatan hingga acara apa saja yang ada didalamnya mengalami peningkatan dan perubahan setiap tahunnya. Perkembangan tujuan acara kegiatan ini beberapa tahun kebelakang bukan hanya sebatas acara hiburan dan sillaturrahmi semata. Acara ini juga mengandung tujuan belajar sambil bermain yang mana karena acara dikegiatan ini dominan acara kesenian dan permainan anak nagari, maka semua kalangan dan penonton yang hadir dalam acara ini juga berkesempatan untuk belajar hal baru seputar kebudayaan Minangkabau. Terlebih lagi yang sangat banyak mendapatkan pelajaran adalah penampil dan panitia yang ikut andil dalam acara ini. Persiapan acara sepekan biasanya dimulai 40 hari sebelum acara dilaksanakan atau dimulai sebelum puasa Ramadhan dilakukan. Proses awalnya pun terbilang cukup panjang, setelah diangkatnya isu acara oleh pemuda, pemuda dan pemerintah nagari mulai membentuk kepanitian dan konsep acara tahun ini. Selanjutnya ada proses manamui niniak mamak jo datuak dimana proses ini merupakan meminta izin kepada pelaku adat nagari mengenai acara yang akan diangkat. Niniak mamak jo datuak menimbang dan memutuskan alua jo patuik dari konsep acara yang ditwarkan oleh panitia. Apakah acara ini pantas diadakan sesuai dengan adat budaya Minangkabau dan apakah acara ini sesuai dengan filsafah Minangkabau adat bsyandi syarak, syarak basyandi kitabullah. Dalam proses ini segala macam detail dan konsep acara dilakukan melalui screening dan pengawasan dari niniak mamak jo datuak yang ada di Nagari Andaleh Baruh Bukik. Acara ini dilaksanakan selama seminggu penuh dari hari raya kedua idul fitri yakni tanggal 4-10 Mei 2022. Karena acara ini diadakan dalam suasana lebaran, maka waktu dimulainya acara pun diambil dari sore hari pukul 15.00 sampai 18.00 selama 7 hari berturut-turut dengan berbagai rangkaian acara berbeda setiap harinya. Berikut ini merupakan rincian dari acara Sapakan Pagelaran Alek Kesenian Anak Nagari Andaleh Baruh Buki, yaitu: Hari Pertama, 4 Mei 2022. Pada hari pertama ini dimulai dengan diadakannya Opening Ceremony seperti acara pembukaan formal pada umumnya. Namun, ada hal yang membedakan dari acara pembukaan biasa, selain adanya sambutan atau sepatah kata dari pejabat-pejabat pemerintahan setempat dalam opening ceremony acara ini diselipkan acara adat yaitu panyarahan galanggang. Maksud dari panyarahan galanggang yaitu diserahkannya galanggang atau lapangan tempat acara diadakan dari niniak mamak ke panitia acara untuk dipergunakan sebagai mana mestinya. Dalam acara adat ini pun tata cara penyampaian bukan dengan pidato penyerahan biasa melainkan dengan petatah petitih adat Minangkabau yang disampaikan oleh niniak mamak agar lapangan dipergunakan sebagaimana mestinya tanpa ada hal-hal yang melanggar adat dan budaya Minangkabau. Dalam opening ceremony ini juga biasanya tamu yang datang akan dikumpulkan dan disambut dengan tarian khas Minangkabau yaitu Tari Galombang Pasambahan. Tari Galombang Pasambahan biasanya digunakan untuk menyambut sesuatu, baik itu menyambut tamu undangan dari suatu acara ataupun menyambut pengantin dalam pernikahan adat Minangkabau. Tari galombang dan pasambahan pun juga memiliki perbedaan walaupun secara implementasinya tarian ini dipertunjukkan dalam satu kesatuan. Tari Galombang memiliki sedikit unsur pencak silat dalam gerakannya, sehingga Ketika dipertunjukan ada atraksi bela diri dalam Gerakan-gerakan tarian ini yang memang biasanya dilakukan oleh laki-laki. Sedangkan untuk tari pasambahan lebih menonjolkan keanggunan dalam setiap Gerakan tarinya dan dilakukan oleh perempuan. Nantinya dalam acara ini para tamu undangan juga diminta untuk mancabiak siriah dalam carano sebagai ucapan selamat datang dari tuan rumah kepada tamu undangan yang datang dalam acara tersebut. Acara selanjutnya adalah pawai budaya, yaitu arak-arakan yang biasanya menampilkan baju-baju adat kebudayaan Minangkabau maupun pakaian khas dari daerah setempat. Kalau biasanya pawai diiringi dengan marcing band atau drumband namun dalam pawai budaya akan diiringi dengan music tradisional Minangkabau dapat berupa talempong pacik dan tambuah dapat juga ditambahkan dengan saluang atau bansi sebagai peramai iringan music pawai budaya. Arak-arakan pun dilakukan dengan cara berkeliling dalam kampuang yang memiliki tujuan agar lansia yang ada di nagari tetap bisa menyaksikan dan merasakan euphoria acara walaupun tidak bisa datang langsung ke lapangan tempat acara diadakan nantinya. Tujuan lain dari pawai budaya yaitu memberikan pemberitahuan kepada urang kampuang bahwa acara telah dimulai dan dihimbau segera meramaikan acara dilapangan. Selanjutnya ada tari kolosal merupakan tarian yang gerakannya merupakan gabungan dari tarian niro dan tarian katidiang. Tarian Niro merupakan tarian yang ide gerakannya terinspirasi dari mata pencaharian masyarakat Andaleh Baruh Bukik. Air Niro berasal dari pohon aren. Selain digunakan untuk membuat gula arena tau yang biasa masyarakat setempat sebut dengan gulo anau air niro pohon aren juga bisa diminum secara langsung atau dibuat minuman khas Andaleh Baruh Bukik yang dikenal sebagai Niro Talua (Niro dan Telur). Karena ini merupakan mata pencaharian yang lumayan banyak dilakukan oleh masyarakat Andaleh Baruh Bukik sehingga dijadikan kekhasan Nagari inilah yang menginspirasi Bu Ayang untuk membuat tarian niro ini. Sedangkan sama halnya dengan tari niro, tari katidiang juga terinspirasi dari mata pencaharian penduduk setempat yang mayoritas juga bertani. Dalam artian bertani lebih banyak ke menanam padi karena letak Nagari Andaleh Baruh Bukik sendiri terdapat banyak persawahan. Katidiang biasanya merupakan wadah dari anyaman rotan (bambu muda) yang dipergunakan untuk mengangkut padi yang telah selesai digiling untuk dimasukkan kedalam karung. Maka dari itu tari katidiang biasa menggunakan property katidiang itu sendiri untuk menunjukkan maksud dan makna dari tariannya sendiri. 2 tarian inilah yang kemudian digabungkan dan dimodifikasi sehingga menghasilkan sebuah tarian baru yang disebut tarian kolosal. “Tarian kolosal in ikan gabungan dari 2 macam tari ya kak, yaitu tari niro dan tari katidiang. Yang kami pernah dengar dari buk ayang bahwa tarian ini menunjukkan aktifitas sehari-hari masyarakat yang ada disini gitu kak” (hasil wawancara Bersama penampil tari tanggal 29 Oktober 2022) Hari Kedua, 5 Mei 2022. Pada hari kedua, acara dimulai dengan pertunjukan silek yang dilakukan oleh pemuda Nagari Andaleh Baruh Bukik. Silek pun sebenarnya mempunya banyak jenis atau yang disebut juga dengan aliran silat. Nagari Andaleh Baruh Bukik sendiri mengikuti aliran silat lintau yang diambil dari suatu nama daerah yang ada di Tanah Datar yaitu Lintau tepatnya Nagari Tapi Selo. Yang mana setiap Gerakan silat yang dipakai sesuai dengan falsafah Minangkabau yaitu Adat Basyandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dan diturunkan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Hari Ketiga, 6 Mei 2022. Dihari ketiga, ada tarian kipas yang mana tarian ini bukan menggunakan property kipas seperti tarian khas Sulawesi Selatan, melainkan dengan selendang yang diikatkan ke pinggang dan dikaitkan ketangan penari sehingga seperti membentuk sebuah kipas besar. Yang juga merupakan pengembangan dari tari kipas melayu. Selanjutnya ada permainan anak nagari seperti dihari kedua namun berbeda perlombaan. Lalu juga ada permainan anak nagari yang telah dimainkan dan dilestarikan secara turun temurun yaitu lukah gilo dan dabuih api. Lukah Gilo merupakah Lukah (sebuah alat untuk menangkap ikan menggunakan bambu/rotan yang dirakit) yang telah dimantrai dan berhubungan dengan hal-hal mistis sehingga membuat lukah tersebut menjadi berat sehingga dibutuhkan pemain untuk menahan lukah tersebut dan pemainnya berjumlah ganjil. Hari Keempat, 7 Mei 2022. Dihari keempat ini masih ada penampilan tarian dan musik dari anak nagari setempat dan juga ada randai. Randai merupakan permainan anak nagari yang disertai dengan musik, dendang, gerakan dan juga drama. Yang mana gerakannya merupakan perpaduan dari silat dan tarian khas Minangkabau dan biasanya dibawakan dalam bentuk legaran. Randai biasanya membawakan cerita-cerita masa lampau Minangkabau. Cerita yang dibawakan banyak sekali sesuai dengan dongeng atau legenda yang ada di Minangkabau. Beberapa dari cerita randai yang terkenal adalah Rambun Pamenan, Sabaih Nan Aluih, Umbuik Mudo, Cindua Mato, dan masih banyak lagi. Hari Kelima, 8 Mei 2022. Hari kelima dilanjutkan dengan penampilan dari sanggar sago sejati dan juga ada diadakannya festival tari rantak se Sumatera Barat. Namun, sayangnya karena masih dalam suasana lebaran sangat sedikit peserta yang mau berpartisipasi untuk festival tari rantak ini sehingga batal diadakan. Hari Keenam, 9 Mei 2022. Dihari ini, bukan hanya anak nagari yang berpartisipasi dalam memeriahkan acara. Namun, juga ada berbagai penampilan musik dan persembahan dari mahasiswa pasca sarjana ISI Padang Panjang. Penampilan yang dipersembahkan berupa tari pasambahan, tari piriang, tari rantak, penampilan music dan juga pemutaran film. Hari Ketujuh, 10 Mei 2022. Di hari terakhir ini, penampilan yang diselenggarakan yaitu Kembali Lukah Gilo dan juga debus. Debus atau dabuih ini merupakan atraksi yang memperagakan kekuatan batin, yang biasanya juga diiringi dengan music dan arian-tarian khas Minangkabau. Menggunakan benda tajam yang dipukulkan ke berbagai area tubuh tanpa terluka sedikit pun. Di Minangkabau, debus biasanya diiringi dengan tari piriang, dimana dalam tari piriang juga ada atraksi debus dengan menginjak pecahan-pecahan piring yang sudah disediakan dan penari menari di atas pecahan piring tersebut. Selain itu dihari terakhir ini juga diadakan panjek pinang dan sunatan massal. Dalam kegiatan sapakan yang merupakan salah satu kegiatan unggul yang ada di Nagari Andaleh Baruh Bukik, tentunya pemerintahan nagari tak bisa dilepaskan dalam mensukseskan acara ini. Berbagai dukungan pun dilakukan oleh pemerintahan nagari baik secara materil maupun bukan. Kantor Kerapatan Adat Nagari juga berperan penting dalam memberikan dukungan secara adat dan kebudayaan dalam kegiatan ini. Upaya dilakukan oleh pemerintah dalam menguatkan literasi kebudayaan Minangkabau adalah dengan ikut memantau konsep acara dari kegiatan sapakan sesuai dengan alur yang dianjurkan oleh adat dan kebudayaan Minangkabau. KAN juga secara tidak langsung memberikan pengetahuan dan pembelajaran kepada panitia mengenai Budaya Alam Minangkabau. Dalam tahun ini, karena adanya acara penyerahan galanggang dari datuak jo niniak mamak kepada panitia maka panitia juga harus mengetahui prosesi penyerahan tersebut. Selain itu, karna mengundang seluruh pemangku adat yang ada di nagari, para panitia juga belajar mengenai baju adat dari datuak, niniak mamak, bundo kanduang, alim ulama dan juga cadiak pandai. Hal ini tentu saja secara tidak langsung telah terjadi penguatan literasi budaya Minangkabau dari KAN kepada kepanitiaan yang ada. Upaya pemuda dalam menguatkan literasi budaya Minangkabau di nagari terbilang cukup berhasil. Dikarenakan baik sebelum, sedang, dan setelah acara pemuda nagari mempunyai cara mereka tersendiri untuk menguatkan literasi budaya. Memang kepanitiaan acara sepekan Sebagian besar juga merupakan anggota kepemudaan nagari, tapi tentu saja dalam setiap organisasi maupun kepanitian selalu ada beberapa orang yag dituakan dan dianggap selangkah lebih tau disbanding dengan anggota-anggota lainnya. Dalam Minangkabau, setiap gerakan tari maupun silek itu terdapat makna yang dikandung. Tidak bisa asal pilih saja, misalnya dalam gerakan tari katidiang terdapat gerakan manyauak yang maknanya itu adalah mengambil padi dari tampuak. Atau ada gerakan silat yang setiap pembukaannya ada langkah nan ampek dimana menandakan pesilat ini bersiap-siap untuk bertarung. Atau dalam gerakan randai terdapat gerakan silat yang menandakan pelakon drama akan segera bertarung dan gerakan menari yang menandakan pelakon dalam keadaan senang. Makna dan filosofi inilah yang kemudian diajarkan kepada para penampil agar sedikit banyaknya mereka bisa mengetahui bahwa dalam budaya Minangkabau setiap hal kecil yang ada itu benar-benar dimaknai. Tidak hanya dalam penyampaian filosofi kesenian, panitia juga mengajarkan dasar tata Bahasa dalam Minangkabau kepada para panitia muda maupun penampil. Hal yang paling mendasar yang dapat diajarkan yaitu kato nan ampek. Yang mana ini merupakan tata Bahasa atau sopan santun dalam hal berbicara di adat Minangkabau.

Conclusion

Semenjak adanya perubahan kurikulum di Indonesia membuat pemerintahan daerah Sumatera Barat meniadakan muatan local Budaya Alam Minangkabau yang kemudian diganti menjadi muatan local prakarya namun pilihan mata pelajaran muatan local dibebaskan kepada kebijakan masing-masing sekolah. Dengan adanya peraturan tersebut hampir seluruh sekolah tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama telah menghapuskan mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau. Dampak dari ditiadakannya mata pelajaran BAM yaitu berkurangnya pengetahuan generasi muda Minangkabau mengenai budayanya sendiri. Berbagai dampak buruk dapat diminimalisir dengan diadakannya kegiatan-kegiatan diluar Pendidikan fomal guna meningkatkan literasi budaya Minangkabau. Salah satu tempat yang telah mengadakan kegiatan penguatan literasi budaya Minangkabau adalah Nagari Andaleh Baruh Bukik Di Kabupaten Tanah Datar dengan kegiatan Sapakan Pagelaran Alek Kesenian Anak Nagari yang bahkan telah dikenal luas oleh masyarakat Sumatera Barat dan telah dilaksanakan sejak lama. Kegiatan ini memiliki banyak agenda dengan waktu kegiatan selama seminggu yang dilaksanakan pada Hari Raya Idul Fitri Kedua setia tahunnya. Yang menampilkan berbagai macam kesenian dan kebudayaan Minangkabau dan kearifan lokal setempat.