Kembali
16
1
2022 Jurnal El-Pustaka Vol 3 · 1 ISSN 2775-6939

IMPLEMENTASI GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS) UNTUK MENUMBUHKAN MINAT BACA SISWA DI SMA NEGERI 7 BANJARMASIN

Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin; Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Abstract

Low reading skills will affect the quality of student learning which will have an impact on student achievement in school. To overcome these problems, SMA Negeri 7 Banjarmasin implement School Literacy Movement has been running from 2016 to the present. This is field research using a qualitative descriptive approach. Data collection techniques in this study used the methods of observation, interview, and documentation. The subjects in this study were the headmaster, Indonesian Subject teacher, homeroom teachers, and the librarian of SMA Negeri 7 Banjarmasin. The object of this research is the implementation of the School Literacy Movement to foster reading interest at SMA Negeri 7 Banjarmasin as well as the supporting and inhibiting factors for the implementation of the School Literacy Movement to foster reading interest in SMA Negeri 7 Banjarmasin. The data analysis process includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions.The results of this study are as follows: 1. Implementation of School Literacy Movement at SMA Negeri 7 Banjarmasin is realized by implementing a socialization program for implementation of School Literacy Movement, reading literacy 15 minutes before starting the classes, library utilization, reading corner, literacy competition, writing Scientific Papers, as well as socialization and assistance to other schools. The implementation of the School Literacy Movement at SMA Negeri 7 Banjarmasin has been carried out all stages, but at the stage of development and learning does not hold follow-up literacy activities consistently and sustainably, so that the implementation is still in the habituation/interest growth stage. 2. Supporting factors: Adequate Human Resources, complete facilities and infrastructure, and funds. Inhibiting factors include low parental attention, low awareness, and willingness of students, and lack of coordination between teachers and the school management team.
Keywords: Library · Literacy · Reading Interest · School Literacy Movement

Introduction

Dengan berjalannya waktu dan kemajuan teknologi yang pesat, tuntutan literasi membaca tidak cukup tanpa adanya tradisi membaca yang baik. Salah satu cara untuk mengembangkan tradisi membaca ini adalah dengan mengembangkan kebiasaan membaca sejak dini.1 Namun kemajuan teknologi belakangan ini telah membentuk pola perilaku bagi siswa yang menyukai hal-hal praktis dan instan. Misalnya, ketika seorang siswa diberi pekerjaan rumah sekolah, mereka sering mencari jawaban di google daripada mencari dari buku teks atau membaca hal-hal lain yang bukan untuk keperluan belajar. Pola sikap ini menurunkan minat baca di Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), masyarakat Indonesia lebih suka menonton TV (91,68%) atau mendengarkan radio (18,57%) daripada membaca koran (17,66%).2 Berdasarkan hasil survei BPS di atas, diketahui bahwa kebiasaan tersebut menjadi faktor yang menurunkan minat baca di Indonesia. Apalagi berdasarkan data UNESCO (2015), minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, hanya 0,001%. Jadi hanya satu dari 1.00orang Indonesia yang rajin membaca.3 Dalam studi lain "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara untuk tingkat minat bacanya. pelajaran selama 15 menit sebelum dimulainya waktu belajar. Terobosan baru tersebut dinamakan program GLS (Gerakan Literasi Sekolah). GLS merupakan upaya komprehensif yang melibatkan seluruh warga sekolah (guru, siswa, orang tua/wali) dan masyarakat sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. 5 Berdasarkan arahan tersebut, pemerintah kemudian menginstruksikan program implementasi GLS pada semua jenjang pendidikan dari SD-SMA, maka berdasarkan hasil wawancara awal peneliti dengan pustakawan di SMA Negeri 7 Banjarmasin mengatakan bahwa penerapan Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMA Negeri 7 Banjarmasin sendiri sudah berlangsung sejak tahun 2016 hingga saat ini. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk menumbuhkan minat baca siswa di SMA Negeri 7 Banjarmasin yang berada di Provinsi Kalimantan Selatan. LANDASAN TEORI Implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Pengertian Literasi Sekolah pada konteks Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan kemampuan mengakses, memahami, dan memakai sesuatu secara cerdas melalui berbagai macam aktivitas, diantaranya membaca, melihat, menyimak, menulis, dan berbicara. Adapun Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk membuat sekolah menjadi organisasi pembelajaran yang menyebabkan warga sekolah menjadi literat sepanjang hayat.6 Jadi, pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan program pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi warga sekolah khususnya siswa, dan dapat meningkatkan kemampuan literasi dan menjadi pembelajar sepanjang hayat sebagai hasil dari kebijakan itu sendiri melalui berbagai kegiatan yang melibatkan warga sekolah dan berbagai pihak. Dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, literasi yang sebelumnya hanya ditujukan pada kemampuan baca tulis berubah dan mulai meluas. Saat ini, literasi memiliki makna luas dan terdiri dari beberapa elemen,7 Sebagai berikut: Literasi Dini (Early Literacy), adalah kemampuan mendengar, memahami, dan mengkomunikasikan bahasa lisan dengan gambar dan kata-kata yang terbentuk melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungan sosial di rumah; Literasi Dasar (Basic Literacy), artinya kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung berkaitan dengan kemampuan analitis untuk menghitung, memahami, menyampaikan, dan menjelaskan informasi berdasarkan pemahaman dan penalaran individu; Literasi Perpustakaan (Library Literacy), antara lain memberikan pemahaman tentang perbedaan fiksi dan nonfiksi, penggunaan buku referensi dan koleksi jurnal, serta pemahaman tentang Dewey Decimal System (DDC). Memahami penggunaan katalog dan pengindeksan sebagai klasifikasi pengetahuan yang memfasilitasi penggunaan perpustakaan, dan memahami informasi saat menyelesaikan sebuah tulisan tugas, penelitian, pekerjaan, atau memecahkan masalah; Literasi Media (Media Literacy), artinya kemampuan untuk mengetahui berbagai media dalam berbagai format, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya; Literasi Teknologi (Technology Literacy), artinya kemampuan untuk memahami integritas teknologi, seperti perangkat keras, perangkat lunak, dan etika saat menggunakannya. Kemampuan lainnya adalah kemampuan untuk memahami teknologi pencetakan, presentasi, dan akses internet; dan Literasi Visual (Visual Literacy), adalah tingkat pemahaman yang tinggi antara literasi media dan literasi teknologi, mengembangkan keterampilan dan kebutuhan belajar melalui penggunaan materi visual dan audiovisual yang kritis dan bermartabat. Berdasarkan enam unsur literasi di atas, sebagian besar siswa berada pada tingkat literasi dasar awal. Agar siswa dapat mengembangkan keterampilan literasi, sekolah perlu mengaktifkan dan mempersiapkan siswa dengan enam elemen keterampilan literasi di atas melalui implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Tahapan Implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Tahap Pembiasaan Pelaksanaan GLS pada tahap pembiasaan membaca melalui kegiatan yang menyenangkan di sekolah, kegiatan tersebut yaitu 15 menit sebelum pelajaran dimulai membaca buku non pelajaran, mengisi jurnal membaca harian, penataan sarana literasi, memilih buku bacaan dan menciptakan lingkungan kaya teks. Tahap Pengembangan Menerapkan GLS pada tahap pengembangan akan membantu meningkatkan kemampuan literasi siswa. Kegiatan literasi pada tahap ini mengembangkan kemampuan untuk mengembangkan keterampilan komunikasi kreatif melalui kegiatan yang merespon pemahaman membaca, mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan memperkaya bacaan. Tahap Pembelajaran Implementasi GLS pada fase pembelajaran ini berbasis literasi. Level ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memahami teks, menghubungkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengembangkan keterampilan dalam hal komunikasi secara kreatif.

Method

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang menggunakan informasi yang diperoleh dari subjek penelitian (selanjutnya disebut informan) melalui berbagai alat pengumpulan data. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil studi tersebut berusaha memberikan gambaran yang sistematis dan cermat tentang fakta-fakta aktual yang menghasilkan data deskriptif dalam bentuk bahasa tertulis atau lisan manusia, atau perilaku yang diamati.9 Subjek dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah, Guru Bahasa Indonesia, Wali kelas, Siswa-siswi dan Pustakawan SMA Negeri 7 Banjarmasin. Sedangkan objek penelitian berdasarkan fokus penelitian yang sudah disusun adalah mengenai implementasi program gerakan literasi sekolah untuk menumbuhkan minat membaca di SMA Negeri 7 Banjarmasin serta afaktor pendukung dan penghambat program gerakan literasi sekolah di SMA Negeri 7 Banjarmasin. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara atau dengan tanya jawab langsung.10 Proses analisis dilakukan dengan menggunakan model kualitatif menurut Miles dan Hubberman meliputi:11 1) Reduksi data, pemilihan data pokok, peringkasan, dan pencarian tema dan pola untuk memberikan gambaran data yang lebih jelas. 2) Penyajian data, penyajian data dalam penelitian kualitatif biasanya dilakukan dalam bentuk penjelasan singkat, grafik, hubungan antar kategori, flowchart, dan lain-lain agar data lebih mudah dipahami. 3) Kesimpulan/Verifikasi, kesimpulan penelitian kualitatif ini sesuai dengan fokus penelitian yang ada dan hasil penelitian yang diperoleh berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya

Result & Discussion

Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi maka diperoleh hasil penelitian dari fokus penelitian yang dirumuskan mengenai implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk menumbuhkan minat baca di SMA Negeri 7 Banjarmasin, sebagai berikut: Implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk Menumbuhkan Minat Baca Gerakan Literasi Sekolah (GLS) telah dilaksanakan sejak tahun 2016 untuk dalam rangka menumbuhkan minat baca di SMA Negeri 7 Banjarmasin. SMA Negeri 7 Banjarmasin merupakan Sekolah Menengah Atas (SMA) pertama yang melaksanakan program Gerakan Literasi Sekolah di Banjarmasin yang berdasarkan usulan oleh Dikmen Pusat (Balai Pendidikan Menengah) dan menjadi sekolah rujukan Gerakan Literasi Sekolah. Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah di SMA Negeri 7 Banjarmasin diketuai oleh Bapak Edi Haryanta, M.Pd dan anggota atau pelaksana tim literasi terdiri dari guru bahasa Indonesia untuk kegiatan literasi membaca, Guru konsultan BK, guru atau wali kelas yang bertanggung jawab mendampingi proses pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah, dan guru pembimbing karya tulis ilmiah dalam menyusun tugas akhir siswa dengan topik tertentu, dan tentunya didukung oleh pengelola perpustakaan/pustakawan dalam penyediaan buku-buku untuk dibaca. Agar seluruh warga sekolah memiliki budaya literasi yang baik, pihak sekolah memiliki beberapa program terkait literasi berupa gerakan literasi sekolah. Program- program ini dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan dan ketersediaan infrastruktur pendukung sekolah. Berikut implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk menumbuhkan minat baca di SMA Negeri 7 Banjarmasin: Sosialisasi Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah Sosialisasi merupakan upaya untuk mensosialisasikan sesuatu yang perlu diketahui oleh masyarakat luas. Sosialisasi Gerakan Literasi Sekolah berlangsung di awal gerakan tahun 2015 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Gerakan tersebut diharapkan sejak awal mampu membentuk kepribadian positif siswa.12 Dalam rangka menyukseskan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), sekolah terlebih dahulu melakukan sosialisasi. Upaya ini dilakukan dalam beberapa tahapan, pertama sosialisasi di lingkungan sekolah, kedua sosialisasi melalui link dari perpustakaan daerah dan stakeholders/pejabat terkait, dan ketiga sosialisasi dengan orang tua siswa. Literasi Baca 15 Menit Sebelum Pelajaran Dimulai Kegiatan membaca 15 menit sebelum masuk kelas merupakan program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bertujuan untuk mendorong kebiasaan membaca sejak dini dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), dilengkapi dengan jurnal literasi sebagai alat pendukung untuk memudahkan melihat kemampuan baca siswa dan dan membuat proses evaluasi bulanan akan lebih mudah. Pelaksanaan literasi baca berlangsung setiap hari 15 menit sebelum dimulainya pelajaran di SMA Negeri 7 Banjarmasin dan diawasi oleh guru mata pelajaran pertama. Sementara itu, alokasi waktu pelaksanaan bertambah menjadi 30 menit setiap hari Senin, karena harus menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya terlebih dahulu dan kemudian membaca buku non pelajaran. Hal ini dilakukan sejalan dengan prinsip Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yaitu memahami tahapan keterampilan literasi sekolah akan memungkinkan sekolah untuk memilih kebiasaan membaca dan strategi pembelajaran yang tepat sesuai dengan kebutuhan perkembangannya.13 Pemanfaatan Perpustakaan Perpustakaan sebagai jantung sekolah, hal ini sudah dipahami oleh pihak sekolah terlihat dari dikhususukannya gedung perpustakaan yang berdiri sendiri tidak menjadi bagian gedung lain. Dan untuk pengelolaannya dikelola oleh pustakawan yang memang lulusan Ilmu Perpustakaan. Perpustakaan sekolah memiliki peran yang besar dalam aktivitas membaca karena perpustakaan dapat memperluas perhatian anak terhadap bacaan.14 Dalam rangka mencapai tujuan dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) siswa di SMA Negeri 7 Banjarmasin dihimbau untuk sering berkunjung dan memanfaatkan buku- buku yang ada di perpustakaan untuk dibaca. Koleksi yang sudah disediakan dan dikelola oleh pustakawan berjumlah 24.716 eksemplar buku. Perpustakaan juga menyediakan sarana atau tempat baca yang kondusif untuk kenyamanan pemustaka meskipun masih perlu penyediaan fasilitas yang lebih lagi agar siswa lebih rajin dan sering lagi ke perpustakaan. Pojok Baca Pojok baca kelas merupakan salah satu fasilitas yang dibutuhkan sekolah untuk mendukung pelaksanaan program Gerakan Literasi Sekolah dan termasuk dalam indeks keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah pada tahap pembiasaan yang tertuang pada buku pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pojok baca di kelas seperti perpustakaan di dalam kelas. Salah satu fungsi pojok baca adalah untuk memudahkan siswa dalam mengambil buku bacaan dan kitab suci agama atau buku-buku lainnya yang tersedia di pojok baca ini. Koleksi buku yang tersedia di pojok baca meliputi buku nonfiksi, antara lain novel, cerpen, komik, majalah, dan buku non pelajaran. Penyediaan buku-buku tersebut juga didukung oleh pustakawan yang mengelola perpustakaan di SMA Negeri 7 Banajrmasin. Selain itu, keberadaan pojok baca ini membuat penggunaan waktu menjadi tidak terbuang. Hal ini dikarenakan pojok baca ini hadir di setiap kelas, sehingga proses pencarian tidak memakan waktu lama, dan pojok baca ini merupakan tempat membaca yang nyaman. Jika tidak ada mata pelajaran maka bisa memanfaatkan pojok baca ini dengan mudah. Keberadaan pojok baca di dalam kelas pada SMA Negeri 7 Banajrmasin termasuk penerapan salah satu tujuan khusus dari GLS yaitu menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.15 Pojok baca ini merupakan fasilitas penunjang yang harus dimiliki sekolah, namun dalam proses pembuatan pojok baca ini merupakan hasil kreativitas seluruh siswa di setiap kelas. Oleh karena itu, untuk merangsang dan mengevaluasi kreativitas siswa dalam mendesain dan mendekorasi sudut baca, sekolah mengadakan lomba menghias kelas dan pojok baca. Dalam kontes ini, hadiah dan penghargaan akan diberikan untuk hasil dekorasi kelas yang dipilih. Perlombaan Literasi di Bulan Bahasa Bulan Bahasa merupakan salah satu acara peringatan rutin yang diadakan oleh setiap sekolah pada bulan Oktober untuk memperingati hari lahirnya Sumpah Pemuda yang menyatakan bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Untuk memperingati Bulan Bahasa, sangat erat kaitannya dengan kegiatan literasi karena siswa memperoleh manfaat dari membaca yaitu meningkatkan pengembangan diri dan meningkatkan minatnya terhadap suatu bidang.16 Untuk itu, SMA memasukkan Bulan Bahasa Negeri 7 Banjarmasin sebagai salah satu program tambahan GLS. Program literasi di akhir semester antara lain lomba cerdas cermat, lomba baca puisi dan lomba kreativitas mading (majalah dinding) atau perlombaan saat bulan bahasa yang berkaitan dengan kegiatan literasi. Lomba Literasi Bulan Bahasa mengumpulkan para pemenang lomba, mencetak hasil lomba yang terpilih, dan menggunakannya sebagai produk literasi di perpustakaan SMA Negeri 7 Banjarmasin. Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) Kegiatan pertama setelah membaca adalah menyalin apa yang penting atau membuat peta informasi untuk merekam dengan benar apa yang telah dibaca. Peta informasi ini dirancang sebagai kerangka konseptual yang diperluas untuk melengkapi informasi tentang berbagai karya seperti artikel, karya ilmiah, dan buku.17 Kegiatan ini dilakukan oleh SMA Negeri 7 Banjarmasin, salah satu SMA unggulan di Banjarmasin, dengan mengadakan program khusus untuk meningkatkan minat baca siswa. Semua siswa sebelum naik kelas XII harus menyusun karya tulis ilmiah, sehingga setiap siswa memiliki kemampuan membaca yang menghasilkan suatu karya tulis ilmiah yang bisa dibaca oleh siswa lainnya. Sosialisasi dan Pendampingan ke Sekolah Lain Konvensi PBBtahun 2003 tentang kecakapan literasi dasar dan kecakapan perpustakaan yang efektif adalah kunci masyarakat literasi untuk mengatasi arus teknologi informasi yang cepat. Lima elemen kunci dari literasi informasi adalah literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual (basic literacy, library literacy, media literacy, technology literacy, and visual literacy).18 Untuk mencapai kelima unsur tersebut, SMA Negeri 7 Banjarmasin merupakan SMA pertama yang melaksanakan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di Banjarmasin. SMA Negeri 7 Banjarmasin menjalankan program khusus untuk meningkatkan minat baca siswa dengan melaksanakan program penyuluhan sebagai sekolah rujukan program latihan literasi sekolah dan menghimbau sekolah lain untuk melaksanakan program GLS. Gerakan Literasi Sekolah merupakan pengaplikasian dari ilmu literasi informasi. Literasi informasi bukan hanya tentang menemukan informasi tetapi sebagai cara untuk mendapatkan perubahan dalam ranah pendidikan yang memungkinkan pembelajaran seumur hidup secara mandiri.19 Dalam hal ini adalah gerakan literat dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat baca siswa di sekolah. Pada tahap pelaksanaan GLS di SMA Negeri 7 Banjarmasin telah menyelesaikan semua tahapan, namun dalam tahap pengembangan dan pembelajaran, SMA Negeri 7 Banjarmasin tidak melakukan kegiatan literasi yang berkesinambungan dan berkelanjutan sehingga SMA Negeri 7 Banjarmasin masih berada dalam tahap pertumbuhan pembiasaan/minat. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Faktor Pendukung Sumber Daya Manusia (SDM) yang Memadai Pelaksanaan gerakan literasi sekolah di SMA Negeri 7 Banjarmasin dilakukan dengan bantuan tim atau kelompok yang disebut tim literasi. Tim literasi ini terdiri dari kepala sekolah, guru, staf, dan pustakawan yang bertanggung jawab atas berjalannya sekolah dengan baik. Sarana dan Prasarana yang Lengkap SMA Negeri 7 Banjarmasin sudah memiliki fasilitas pendukung yang cukup untuk penerapan GLS. Hal ini meliputi ketersediaan perpustakaan sekolah dengan fasilitas dan koleksi buku yang memadai, ketersediaan pustakawan pengelola perpustakaan, ketersediaan gazebo/pendopo di luar kelas, dan untuk setiap kelas dilengkapi lemari, rak buku, koleksi fiksi, dan karpet. Ketersediaan jurnal literasi untuk memudahkan proses evaluasi implementasi GLS, dan ketersediaan CCTV untuk memfasilitasi dukungan dan monitoring selama implementasi GLS. Dana SMA Negeri 7 Banjarmasin merupakan sekolah yang ditunjuk langsung oleh Dikmen Pusat sebagai sekolah rujukan Program Gerakan Literasi Sekolah. Sebagai sekolah rujukan program GLS, SMA Negeri 7 Banjarmasin mendapat dukungan finansial dari pemerintah dalam rangka pelaksanaan GLS. Dana yang disediakan pemerintah akan digunakan untuk membeli buku dan melengkapi fasilitas kegiatan literasi di sekolah. Faktor Penghambat Rendahnya Perhatian Orang Tua Siswa Pada kenyataannya, tidak semua orang tua dapat bekerja sama dengan baik. Bukan berarti orang tua siswa tersebut tidak mendukung kegiatan GLS ini. Namun, beberapa orang tua sibuk sehingga tidak memperhatikan umpan balik mereka terutama dalam memantau dan memberikan tanda tangan pada jurnal literasi setiap minggu. Rendahnya Kesadaran dan Kemauan Siswa Membaca memiliki banyak manfaat positif, namun tidak semua siswa menyukai budaya membaca yang baik dan belum memiliki kesadaran dan motivasi tersebut. Rendahnya kesadaran dan kesiapan seseorang disebabkan oleh banyak faktor, antara lain banyak jenis hiburan, antara lain game online, berbagai acara TV, produksi dan distribusi buku yang kurang, dan perhatian keluarga yang rendah. Kurangnya Koordinasi Antar Guru dan Tim Manajemen Sekolah Kolaborasi dan koordinasi yang baik diperlukan untuk menjalankan suatu program atau kegiatan dengan baik. Namun, pada kenyataannya, semuanya berjalan bukan tanpa kendala. Kegiatan yang tidak berjalan efektif merupakan salah satu dampak dari kurangnya kerjasama dan koordinasi tim. Begitu pula dengan penerapan GLS di SMA Negeri 7 Banjarmasin.

Conclusion

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: 1) Implementasi GLS di SMA Negeri 7 Banjarmasin diwujudkan dengan melaksanakan program sosialisasi pelaksanaan GLS, literasi baca 15 menit sebelum pelajaran dimulai, pemanfaatan perpustakaan, pojok baca kelas, perlombaan literasi di bulan bahasa, penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI), serta sosialisasi dan pendampingan ke sekolah lain. Implementasi GLS di SMA Negeri 7 Banjarmasin telah melaksanakan semua tahapan, namun pada tahap pengembangan dan pembelajaran SMA Negeri 7 Banjarmasin tidak mengadakan tindak lanjut kegiatan literasi secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga implementasi GLS di SMA Negeri 7 Banjarmasin masih dalam tahap pembiasaan/penumbuhan minat. 2) Faktor pendukung: Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai, sarana dan prasarana yang lengkap, dan dana. Faktor penghambat antara lain: rendahnya perhatian orangtua siswa, rendahnya kesadaran dan kemauan siswa dan kurangnya koordinasi antar guru dan tim manajemen sekolah. SARAN Kepala Sekolah, guru, pengelola perpustakaan, staf, orang tua dan siswa hendaknya saling bekerjasama lebih optimal lagi untuk melaksanakan program-program pemerintah terutama kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang sebenarnya tidak hanya bertujuan menumbuhkan minat baca siswa akan tetapi meningkatkan minat siswa untuk lebih gemar membaca lagi, sehingga rendahnya minat baca masyarakat Indonesia akan mulai bisa teratasi. Hal lain yang juga sangat penting untuk ditingkatkan adalah eksistensi perpustakaan dalam perannya menumbuhkan dan meningkatkan minat baca siswa pada semua aspek ilmu dengan ketersediaan koleksi yang tidak hanya banyak secara kuantitas tetapi juga menarik, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhan membaca siswa, juga fasilitas lainnya yang membuat nyaman siswa untuk berkunjung dan berlama-lama membaca di perpustakaan.