Kembali
16
1
2022 Jurnal El-Pustaka Vol 3 · 2 ISSN 2775-6939

ADAPTASI PUSTAKAWAN DALAM MENGHADAPI KEMAJUAN TEKNOLOGI INFORMASI DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI BINA SRIWIJAYA

Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Abstract

Information technology is an information that is formed in detail and simply by going through the delivery process from the sender to the recipient with a fast process. The role of libraries in this information technology era is very helpful for librarians and users. The method used in this study is a qualitative research method using descriptive research and data collection by using interviews, observation and literature review. The object of this research study is Bina Sriwijaya College. Mastery and application of information technology at Bina Sriwijaya College can be said to still use the old way. The use of information technology for user needs is still in the process of digitizing. The development of a digital library or e-library for library management staff can help work in the library through the function of the library automation system.
Keywords: Information Technology · Librarian · Library

Introduction

Perkembangan teknologi di saat sekarang ini sangat cepat. Teknologi merupakan suatu inovasi yang dibuat oleh manusia yang membuat kehidupan manusia menjadi mudah dan efisien. Perkembangan teknologi saat ini sering kita tak menyadarinya, kita terkadang tak menyadari bahwa teknologi sekarang sudah sangat maju dan modern, banyak dari kita masih menggunakan dengan metode lama yang terkadang itu membuat menjadi sulit untuk dilakukan1 . Tetapi tak banyak juga masyarakat sekarang mengandalkan teknologi yang ada karena mereka menginginkan hasil yang cepat dan tak bertele-tele. Informasi akan berubah baik dari jumlah maupun isinya Tak jarang informasi yang di dapatkan tidak sesuai dengan fakta yang ada. Hal ini karena perkembangan teknologi yang semakin pesat, dengan adanya komputer dan handphone masyarakat mudah unttuk mengakses informasi yang mereka inginkan. Tak hanya dalam kehidupan sehari-hari, teknologi juga bermanfaat untuk perpustakaan. Perkembangan teknologi di saat sekarang ini sangat cepat. Teknologi merupakan suatu inovasi yang dibuat oleh manusia yang membuat kehidupan manusia menjadi mudah dan efisien. Perkembangan teknologi saat ini sering kita tak menyadarinya, kita terkadang tak menyadari bahwa teknologi sekarang sudah sangat maju dan modern, banyak dari kita masih menggunakan dengan metode lama yang terkadang itu membuat menjadi sulit untuk dilakukan. 2 Tetapi tak banyak juga masyarakat sekarang mengandalkan teknologi yang ada karena mereka menginginkan hasil yang cepat dan tak bertele-tele. Informasi akan berubah baik dari jumlah maupun isinya Tak jarang informasi yang di dapatkan tidak sesuai dengan fakta yang ada. Hal ini karena perkembangan teknologi yang semakin pesat, dengan adanya komputer dan handphone masyarakat mudah unttuk mengakses informasi yang mereka inginkan. Tak hanya dalam kehidupan sehari-hari, teknologi juga bermanfaat untuk perpustakaan. Perpustakaan merupakan sebuah lembaga pendidikan yang berisikan berbagai macam informasi, koleksi buku, serta pengetahuan tercetak maupun terekam. 3 Di semua perpustakaan memegang kewajiban dengan desakan keahlian pada bidang pengerjaan informasi, dalam mengimbangi rangkaian zaman dan merespons serta berjuang dalam memenuhi kebutuhan pemustaka. Pada dasarnya perpustakaan merupakan tempat paling nyaman bagi semua orang untuk menemukan informasi. Mulai dari layanan yang disediakan pada perpustakaan itu sendiri, fasilitas, sarana dan prasarana, dan sebagainya. Menurut Sulistyo Basuki dalam bukunya yang berjudul “Pengantar Ilmu Perpustakaan”, Perpustakaan merupakan sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual.4 Setiap perpustakaan dituntut untuk menyajikan informasi dari berbagai aspek sesuai dengan bidangnya. Teknologi informasi telah membentuk perpustakaan sampai saat ini, ada berbagai macam perkembangan yang telah dilakukan teknologi yang membuat perpustakaan menjadi canggih. Perpustakaan akan terus terlibat dalam masa depan pendidikan dan masyarakat yang membutuhkan pengetahuan. Karena ini merupakan fungsi perpustakaan, dan juga mereka membutuhkan masa depan yang aman untuk menyampaikan informasi serta mengumpulkan pengetahuan tenntang zaman sekarang, dan melestarikan warisan budaya dan terus mengembangkan layanan informasi dan pendidikan. Teknologi informasi adalah berbagai macam aspek yang menyangkut dengan teknologi, rekayasa dan teknik pengelolaan yang digunakan dalam pengendalian dan pemprosesan informasi serta penggunaanya komputer dan hubungan mesin (computer) dan manusia ,dan hal yang berkaitan dengan sosial, ekonomi dan kebudayaan [British Advisory Council for applied Research and Development Report on Information Technology; H.M. Stationery Office. 1980]. 5 Adaptasi merupakan suatu tindakan atau proses perubahan yang lebih sesuai dengan situasi yang ada. Adaptasi juga dapat diartikan sebagai proses manusia dalam menyesuaikan diri mereka ke beberapa hal seperti halnya dengan manusia yang lain, kebiasaan, situasi maupun tempat. Permasalahan yang dibahas pada penelitian ini mengenai bagaimana pustakawaan pada perpustakaan Perguruan Tinggi Bina Sriwijaya beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi yang ada, hal apa saja yang dipersiapkan perpustakaan Universitas Bina Sriiwijaya dalam kemajuan teknologi informasi. Serta apa factor penghambat dalam proses adaptasi pada kemajuan teknologi informasi di perpustakaan Universitas Bina Sriwijaya. TINJAUAN PUSTAKA Pustakawan Pustakawan menurut Undang-Undang 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, menjelaskan bahwa Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.6 Dalam UU No.43 tahun 2007 Bab I Pasal 1 disebutkan bahwa Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Lebih lanjut dalam UU No.43 tahun 2007 pasal 29 ayat 2 menyebutkan bahwa tugas-tugas tenaga teknis perpustakaan dapat dirangkap oleh pustakawan sesuai dengan keadaan perpustakaan yang bersangkutan.7 Pemerintah telah mengakui bahwa pekerjaan Pustakawan merupakan kerja yang besifat profesional. Sebagaimana dikeluarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 132/ KEP/M.PAN/12/2002 dan Keputusan Bersama Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 23 Tahun 2003 dan No. 21 Tahun 2003 tentang jabatan fungsional pustakawan dan angka kreditnya. Pustakawan dengan kemampuan profesionalnya, walaupun sekecil apapun perpustakaannya, mereka harus mampu memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada pengguna.8 Hasil kerja dari Pustakawan inilah yang akan membuat pengguna merasakann layanan yang prima. Teknologi Informasi Teknologi merupakan suatu inovasi yang sangat cepat perkembangannya, hampir semua aktivitas organisasi saat ini telah dimasuki oleh aplikasi dan otomatisasi teknologi informasi. Menurut Darmawan (2012: 17) mendefinisikan bahwa “Teknologi Informasi adalah hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dari pengirim ke penerima sehingga lebih cepat, lebih luas sebarannya, lebih lama penyimpanannya”. Lalu ada menurut Richardus Eko Indrajit (2011: 2) “Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang berhubungan dengan pengolahan data menjadi informasi dan proses penyaluran data informasi tersebut dalam batas-batas ruang dan waktu”. Lalu dapat disimpulkan bahwasanya teknologi informasi merupakan suatu informasi yang dibentuk secara rinci dan sederhana dengan melalui proses penyampaian dari pengirim ke penerima dengan proses yang cepat. Kehadiran teknologi informasi memberikan usulan kemudahan-kemudahan dalam melakukan kegiatan di perpustakaan, tetapi tidak semua pekerjaan bisa tergantikan sepenuhnya oleh teknologi informasi. 9 Dasar inilah, yang memunculkan pro dan kontra bagi perpustakaan. Sebagian perpustakaan telah menerima teknologi sebagai media untuk mengembangkan perpustakaan mereka kearah yang lebih baik, hal ini terlihat dengan persiapan dalam berbagai perangkat teknologi informasi, menyiapkan keahlian Pustakawan dalam bidang teknologi. Tetapi di sisi lain, ada beberapa perpustakaan juga masih khawatir atas kehadiran teknologi informasi, teknologi informasi merasa menggeser pekerja rutin perpustakaan dan pustakawan. Perpustakaan juga belum menyediakan perangkat teknologi, bahkan tidak memiliki sumber daya manusia yang menguasai teknologi informasi. Perkembangan Teknologi Informasi Perkembangan teknologi sudah mengembangkan diri mereka dan memperkenalkan sampai ke daerah-daerah terpencil. Teknologi yang kita gunakan saat ini sudah bisa dipakai kapanpun dan dimanapun.10 Tidak dapat disangkal bahwa salah satu penyebab terjadinya pengembangan teknologi disebabkan karena tuntutan kebutuhan masyarakat terhadap penggunaan teknologi informasi itu sendiri. Perkembangan teknologi pada era Komputerisasi dimulai pada Tahun 1960, ketika mini computer dan mainframe diperkenalkan. Pengguna computer untuk meningkatkan efisiensi kerja perusahaan telah terbukti, dibandingkan dengan memperkerjakan berpuluh-puluh SDM (Sumber Daya Manusia). Lalu pada perkembangan teknologi era kemajuan teknologi digital yang dipadukan dengan telekomunikasi yang telah membawa computer memasuki masa revolusinya. Kunci keberhasilan di era ini adalah penciptaan dan penguuasaan informasi secara cepat dan akurat. Pemanfaatan internet dan komunikasi data secara big data semakin mempermudah pekerjaan manusia. Kemudian perkembangan teknologi era globalisasi informasi, fenomena yang terlihat adalah tidak ada satu Negara pun yang mampu menahan laju perkembangan teknologi informasi. Tidak ada yang mampu mencegah aliran informasi yang masuk dan keluar dari Negara tersebut, hal ini dikarenakan tidak adanya batasan dalam virtual world of computer. Penerapan teknologi LAN, MAN, WAN, GlobalNet, Internet, Ekstranet semakin merata di masyarakat. Dampak dari Perkembangan Teknologi Informasi Dengan hadirnya teknologi informasi memberikan dampak, baik dampak negative maupun positif bagi pengguna dan penikmat. Menurut Niamkholidin (2002) dampak positif dari perkembangan teknologi informasi, diantaranya: 1. Teknologi informasi lebih jauh di semua belahan dunia. Sehingga pelaku bisnis dapat menjangkau pasar lokal dan pasar luar negeri. Masyarakat pengguna aktif teknologi, situs-situs, serta media komunikasi sosial akan dapat menyampaikan dan mendapatkan informasi secara lebih mudah. 2. Menemukan cara yang efektif dan efesien serta cepat dalam system pembelajaran. Kita dapat memanfaatkan internet dalam kegiatan pembelajaran yang efektif. Dampak negative dari teknologi informasi diantaranya: 1. Mudahnya akses pornografi di kehidupan masyarakat. Dengan bebasnya pengaksesan internet maka mempermudah terjadinya pornografi. Seperti akses video porno, jual beli film porno hingga terjadinya aksi porno. 2. Menjadikan masyarakat malas dan ketagihan dalam mengakses teknologi informasi. Akan banyak masyarakat yang akan malas untuk melakukan komunikasi secara langsung, karena mereka akan lebih memilih berkomunikasi melalui sosial media. 3. Sosialisasi menjadi sangat lambat. Peranan media massa, teknologi, serta sosial media memegang kendali yang cukup tinggi. Hal ini akan mempengaruhi opini publik. Kebanyakan informasi yang disampaikan merupakan rekayasa atau hoaks yang dapat merugikan pihak tertentu.11 Menurut Lyotard (1984) dalam The Postmodern Condition, berpendapat bahwa transformasi teknologi memberikan dampak yang cukup besar bagi pengetahuan. Selain itu, dengan hadirnya teknologgi informasi ini, maka orang awam pun dapat mengakses informasi. Dan juga kehadiran teknologi informasi ini mempermudah proses penyebaran informasi. Dampak teknologi informasi terhadap perpustakaan adalah 1) Memungkinkan terciptanya informasi digital. 2) Memungkinkan terbentuknya akses terpasang (online access) serta transfer berkas. 3) memungkinkan terbentuknya jaringan computer. Kemudian dampak teknologi informasi bagi pemustaka adalah 1) Meningkatnya tingkat melek teknologi. 2) Meningkakan tuntutan pada akses yang lebih cepat dan baik pada informasi. 3) meningkatnya kesenjangan antara kelompok kaya informasi dan miskin informasi. Manfaat dan Ruang Lingkup Teknologi Informasi pada Perpustakaan Adapun alasan pemanfaatan dari teknologi di perpustakaan menurut MacKellar, diantaranya: 1) Pencarian katalog akan lebih mudah; 2) Pengguna akan dapat mencari katalog perpustakaan dari luar perpustakaan; 3) Memberikan layanan informasi yang lebih baik; 4) Mudah untuk mengedit dan memperbarui informasi bibliografi; 4) Membuat lebih banyak ruang di perpustakaan; dan 6) Image perpustakaan Anda akan meningkat. Aplikasi teknologi informasi yang tercakup dalam ruang lingkup suatu sistem informasi, baik itu perpustakaan maupun pusat-pusat dokumentasi dan informasi, secara umum dapat diklasifikasikan menjadi 4 bidang utama, yaitu : 1. Library Housekeeping (Perawatan /pengelolaan perpustakaan) istilah umum yang mengacu pada berbagai macam kegiatan rutin yang perlu dilakukan agar supaya perpustakaan dapat berjalan sebagaimana mestinya. Contohnya dengan akuisisi atau pengadaan, pengatalogan, sirkulasi, pengaksesan katalog oleh umum atau yang dikenal dengan nama OPAC (Online Public Access Catalog), dan peminjaman antar perpustakaan. 2. Information retrieval (Temu kembali informasi / Penelusuran Informasi) Ada tiga macam sarana dalam Penelusuran informasi atau temu kembali informasi secara elektronis, yaitu : a) Menggunakan Pangkalan Data Lokal b) Menggunakan CD-ROM c) Menggunakan jaringan Wide Area Network, atau yang banyak dikenal melalui Internet. 3. General purpose software (Perangkat lunak untuk berbagai macam keperluan) Misalnya, word processing, spreedsheets, graphics, desktop publishing, electronic mail. 4. Library networking (Jaringan kerjasama perpustakaan),kerjasama antar perpustakaan atau jaringan informasi antar lembaga-lembaga yang bergerak di bidang informasi yang sama atau relevan, atau pengkaitan computer perpustakaan atau lembaga informasi dengan lembaga lainnya. 12

Method

Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, metode yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya eksperimen) di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. Metode ini disebut juga sebagai metode artistik, karena proses penelitian lebih bersifat seni (kurang berpola) dan disebut juga metode interpretive karena data hasil penelitian lebih berkenaan dengan interpretasi terhadap data yang ditemukan dilapangan. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan jenis penelitian deskriptif, dengan berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada berdasarkan data-data dan fakta-fakta yang ada.15 Objek kajian penelitian ini adalah Perguruan Tinggi Bina Sriwijaya.16 Pengumpulan data dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan tinjauan literatur. Wawancara merupakan proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dalam dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi dan keterangan. Wawancara dilakukan pada penelitian ini dengan mewawancarai pihak kepala perpustakaan serta pustakawan Perguruan Tinggi Bina Sriwijaya. Dengan mendeskripsikan hasil wawancara dari beberapa sumber serta observasi lapangan selama 1 bulan melalui kegiatan PKL (Praktek Kerja Lapangan) yang dilaksanakan di Perguruan Tinggi Bina Sriwijaya. Literatur yang digunakan dalam penelitian ini adalah jurnal-jurnal serta buku yang terkait dengan teknologi informasi dan pustakawan.

Result & Discussion

Pada dasarnya setiap instansi maupun perusahaan akan menerapkan berbagai macam teknologi informasi yang telah tersedia, demi mempermudah pekerjaan yang mereka miliki. Peran perpustakaan dalam era teknologi informasi ini sangat membantu untuk pustakawan dan pengguna. Pustakawan dapat meningkatkan serta mengembangkan kompetensi intelektual dan kompetensi pendukung dalam kompetensi komputer, kompetensi fisik, pribadi, dan kompetensi sosial. Tidak dapat dipungkiri sehingga peran seorang pustakawan menjadi tolok ukur apakah informasi yang disampaikan bermanfaat atau tidak, sesuaikah dengan kebutuhan para pengguna atau pengunjung perpustakaan.17 Menurut Mulyadi (2019) setiap perpustakaan sudah berusaha pada tahap perpustakaan hibrida. Yang artinya, telah mengaplikasikan koleksi tercetak dan digital yang dilayankan di internet, sedangkan untuk perpustakaan maya yang semua koleksinya digital masih terbatas di Indonesia karena peralatan dan teknologi masih belum memadai.18 Pengembangan perpustakaan menuju digital library sebenarnya bukan sekedar menyesuaikan dengan berkembangan Teknologi informasi, tetapi lebih karena tuntutan adanya perubahan paradigma perguruan tinggi, yang mencakup adanya perubahan paradigma dalam pembelajaran dengan E-learning, perubahan dalam komunikasi ilmiah yang mengarah kepada e-research, serta kebutuhan mendesak untuk menciptakan information literacy diperguruan tinggi.19 Ada beberapa alasan mengapa teknologi informasi harus diterima di perpustakaan diantaranya : 1. Tuntutan terhadap jumlah dan mutu layanan perpustakaan 2. Tuntutan terhadap penggunaan koleksi bersama (Resource Sharing) 3. Kebutuhan untuk mengefektifkan sumber daya manusia 4. Tuntutan terhadap efisiensi waktu 5. Keragaman informasi yang dikelola 6. Kebutuhan akan ketepatan pelayanan informasi.20 Penguasaan serta penerapan teknologi informasi pada Perguruan Tinggi Bina Sriwijaya dapat dikatakan masih menggunakan cara lama. Penggunaan teknologi informasi untuk kebutuhan pengguna masih dalam proses pendigitalan. Ada beberapa faktor yang membuat perguruan tinggi Bina Sriwijaya belum mencoba penggunaan teknologi informasi, diantaranya 1. Kurangnya pengetahuan tentang perpustakaan pada staf pustakawan 2. Kurangnya fasilitas yang memadai 3. Biaya yang relative mahal 4. Butuhnya persetujuan kepada direktur pada perguruan tinggi tersebut 5. Promosi untuk peprustakaan masih kurang. Beberapa faktor diatas merupakan alasan mengapa perguruan tinggi Bina Sriwijaya baru bisa mengotomasikan perpustakaan mereka. Pada awalnya staf perpustakaan Bina Sriwijaya bukan merupakan lulusan jurusan ilmu perpustakaan, melainkan dari lulusan jurusan lain. Hingga pada saat ini, Bina Sriwijaya sudah memperkerjakan seorang pustakawan pada perpustakaanya. Dengan ini pustakawan diharapakan dapat memenuhi dan menerapkan pengetahuannya dengan meningkatkan kemampuan dalam teknologi informasi, dapat mengembangkan komunikasi bagi sesama pustakawan, dapat menumbuhkan jiwa kewirausahaan, dan diharapkan mampu meningkatkan kompetensi kepemimpinan berbasis informasi sehingga diharapkan pustakawan mahir dalam penggunaan teknologi informasi dan mereka dapat membantu para pengguna perpustakaan dalam menemukan informasi yang diperlukan. Fasilitas yang memadai akan menjadikan perpustakaan mempunyai nilai tambah, karena fasilitas pada perpustakaan juga mempunyai standar nasional-nya. Dengan terpenuhinya fasilitas maupun koleksi yang sesuai untuk pelayanan pada perpustakaan maka dengan itu juga perpustakaan yang baik tercipta. Perpustakaan dengan fasilitas dan pengolahan koleksi yang baik akan menciptakan minat baca maupun ketertarikan pada pemustaka dalam mengunjugi perpustakaan. Untuk mendigitalkan dan mengotomasikan perpustakaan tentunya membutuhkan biaya yang relative besar, karena dalam mendigitalkan sebuah perpustakaan yang berisikan dokumen serta informasi-informasi yang berbentuk tercetak dibutuhkan beberapa hal diantaranya proses scanning, editing, perlindungan atau keamanan, jaringan internet, serta computer, dan untuk mengaktifkan website serta layanan hosting untuk perpustakaan membutuhkan biaya yang lumayan. Dan juga untuk mentransformasikan perpustaakaan ke perpustakaan digital tentunya membutuhkan persetujuan dari atasan, dalam hal ini perpustakaan perguruan tinggi Bina Sriwijaya memerlukan izin dari direktur lalu jika direktur sudah menyetujuinya barulah meminta izin ke pihak pemilik yayasan Bina Sriwijaya untuk mendapatkan konfirmasi. Dalam meminta persetujuan inilah yang merupakan hal yang sedikit sulit, dikarenakan atasan yang hanya mengetahui fungsi perpustakaan sebagai tempat membaca, mencari, meminjam dan mengembalikan buku, tanpa mengetahui bagaimana perpustakaan juga seharusnya harus berkembang seiring dengan waktu yang sekarang. Kurangnya promosi untuk perpustakaan merupakan faktor penghambat dalam mentransformasikan perpustakaan konvesional menjadi digital pada perpustakaan perguruan tinggi Bina Sriwijaya, mahasiswa di perguruan tinggi Bina Sriwijaya masih belum terbuka akan pentingnya membaca serta mencari beberapa referensi untuk tugas akhir, mereka lebih memilih berselanjar di mesin penacarian untuk mencari informasi. Kurangnya promosi inilah yang menjadi perpustakaan tidak berjalan dengan semestinya. Dan setelah peniliti melihat beberapa buku, dalam hal peminjaman masih kurang, terakhir peminjaman dan pengembalian buku berjalan sekitar pada tahun 2019, dimana pandemi sudah masuk ke Indonesia. Hal inilah diperlukan promosi untuk perpustakaan, dalam meningkatkan literasi informasi. Menurut Sulistyo Basuki (1991:286) dalam mempromosikan perpustakaan ada beberapa metode, yaitu: (1) nama dan logo, (2) poster dan leaflet, (3) pameran, (4) media dan video, (5) ceramah, (6) iklan. Pada saat ini melalui Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Islam Raden Fatah, peneliti ikut andil dalam memperbaiki sistem perpustakaan mereka serta mendigitalkan perpustakaan mereka melalui database seperti slims. Hal ini merupakan sebuah proses awal bagi perpustakaan untuk mengubah perpustakaan mereka menjadi lebih canggih serta dapat mempermudah pengguna dalam mencari informasi yang mereka butuhkan. Menurut Fahmi (2004), perpustakaan digital adalah sebuah sistem yang terdiri dari perangkat hardware, software, koleksi elektronik, staf pengelola, pengguna, organisasi, mekanisme kerja, serta layanan dengan memanfaatkan berbagai jenis teknologi informasi. Pengembangan perpustakaan digital atau e-library bagi tenaga pengelola perpustakaan dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi sistem otomasi perpustakaan. Sehingga proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien. Fungsi sistem otomasi perpustakaan melibatkan pada bagaimana mengontrol sistem administrasi layanan secara otomatis atau terkomputerisasi. 21 Dalam hal ini kepala perpustakaan dan pustakawan pada perguruan tinggi Bina Sriwijaya berupaya untuk beradapatasi dalam teknologi informasi pada perpustakaan. Hal yang dilakukan kepala perpustakaan serta pustakawan dalam menghadapi dan beradaptasi dengan teknologi informasi yaitu dengan: 1. Buku dan Jurnal Buku merupakan sebuah gudang ilmu yang berisikan informasi yang akan dibahas. Jurnal merupakan sebuah karya ilmiah yang berorientasikan akademik. Mereka membaca beberapa buku dan jurnal yang membahas tentang perpustakaan, dari sinilah mereka bisa memahami bagaimana seharusnya perpustakaan berkembang, dengan berbagai macam penelittian yang telah dilakukan oleh beberapa peniliti dalam menjawab beberapa permasalahan yang terjadi pada perpustakaan. Menurut Ranganathan (2006) berpendapat bahwa “Books (Information) are for use”, informasi adalah untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin. Informasi yang tidak digunakan adalah mubasir. Semua hal yang ditujukan untuk mendukung diseminasi informasi seperti gedung, koleksi, lokasi dan juga pekerjaan pustakawan itu sendiri.22 2. Seminar Pertemuan antara beberapa kelompok untuk membahas dan mencari solusi atas sebuah masalah yang dipimpin oleh seorang ahli sebagai pemateri. Dalam hal ini, pustakwan serta kepala perpustakaan mengikuti beberapa seminar untuk menambah pengetahuan mereka mengenai perpustakaan baik dari lembaga, dan perpustakaan lainnya. Melalui inilah mereka bisa beradaptasi dan tidak terkejut akan majunya teknologi informasi pada perpustakaan baik dalam negeri maupun luar negeri. Menurut Rachel W. Gammons, Attend a seminar in the Academic Library, will explore the role of the academic library within the framework of higher education. This course will cover a wide range of topics, including planning programs and services, collection development and management, patron support, fiscal management, physical spaces, faculty partnerships, teaching, special collections, and access services. Mengikuti seminar pada Perpustakaan Akademik, akan dapat mengeksplorasi peran perpustakaan akademik dalam rangka pendidikan tinggi. Dengan mengikuti ini akan mencakup berbagai topik, termasuk program dan layanan perencanaan, pengembangan dan pengelolaan koleksi, dukungan patron, manajemen fiskal, ruang fisik, kemitraan fakultas, pengajaran, koleksi khusus, dan akses jasa.23 3. Webinar Webinar berasal dari dua kata yaitu web dan seminar. Web merupakan sebuah pengaksesan yang terhubung dengan jaringan internet. Lalu seminar merupakan pertemuan antara kelompok maupun individu dalam mencari informasi dan mencari solusi pada materi yang dibahas. Menurut Arif Budiyanto (2016) webinar merupakan kependekan dari web-based seminar, presentasi, kuliah, workshop atau seminar yang dilakukan melalui web dan secara online. Pada webinar ini kepala perpustakaan serta pustakawan pada perpustakaan Bina Sriwijaya mengikuti webinar bertujuan untuk menambahkan pengetahuan lebih mereka terkait dengan topik yang mereka pilih. Kepala perpustakaan dan pustakawan Bina Sriwijiya lebih sering mengikuti webinar-webinar berkaitan dengan perpustakaan untuk menambah relasi mereka. Menurut Nurma Harumiaty (2016) mengikuti webinar dapat meningkatkan kompetensi perpustakaan yang bisa menambahkan beberapa skill sesuai dengan topik yang diikuti. Jika mengikuti webinar yang membahas tentang teknologi informasi maka skill yang di dapat yaitu kemampuan untuk menggunakan berbagai perangkat teknologi informasi. Keunggulan mengikuti webinar ini sharing informasi dapat dilakukan secara cepat sehingga menghemat waktu serta biaya (tidak memerlukan biaya mahal bahkan gratis), tidak perlu hadir secara fisik, terkadang mendapatkan sertifikat. Apabila tidak memungkinkan mengikuti secara langsung (live), dapat mengikuti secara delay (rekaman/ recorded).24 4. Workshop Menurut Romivera (2013) Lokakarya (workshop) adalah program pendidikan dan pelatihan yang padat dan singkat. Pemimpin lokakarya memberi tugas kepada peserta yang harus dikerjakan pada waktu itu juga. Kegiatan lokakarya identik dengan seminar yaitu suatu pertemuan ilmiah untuk membahas masalah tertentu oleh para pakar dalam bidang tertentu pula. Workshop merupakan diskusi atau pelatihan kerja yang dilakukan oleh beberapa orang yang membahas dan berbagi pengalaman yang telah mereka lakukan dengan ilmu tertentu. Melalui workshop ini, kepala perpustakaan serta pustakawan perguruan tinggi Bina Sriwijaya mendapatkan pengalaman yang baru dalam beradaptasi dengan teknologi informasi. Mereka mengetahui bagaimana cara mengaplikasikan beberapa software dan website untuk mengotomasikan serta mendigitalkan perpustakaan mereka, seperti contohnya penggunaan slims, opac, serta repository. Workshop ini dilakukan secara online yang mana bisa langsung diaplikasikan atau mencoba hal tersebut. Menurut Andrea A. Wirth (2010) berpendapat bahwasannya “Workshop was deliberately designed to train librarians in their roles as authors and as envoys to educate others on campus. Its design addresses some known challenges to achieving scholarly communication education initiatives. Workshop sengaja dirancang untuk melatih pustakawan dalam perannya sebagai penulis dan sebagai pendidik pada pemustaka di kampus.25 Desainnya membahas beberapa tantangan yang diketahui untuk mencapai inisiatif pendidikan komunikasi ilmiah. Dapat dikatakan bahwa mengikuti workshop perpustakaan tentang teknik pencarian, atau tentang cara menggunakan database tertentu, dapat sangat membantu tugastugas yang bahkan belum diketahui yang akan datang. Dengan meluangkan waktu untuk mempelajari sedikit tentang bagaimana informasi diatur, atau bagaimana database bekerja, kita akan mulai merasa lebih nyaman menggunakannya secara teratur sebagai bagian dari kegiatan belajar dan pelatihan.26 Dampak positif dari pengadaan sarana prasarana modern seperti komputer serta internet. Layanan semacam ini cukup membantu pengguna untuk memanfaatkannya secara bijak. Namun kemajuan zaman dalam hal teknologi dapat berdampak negatif bagi perpustakaan. Arus informasi yang begitu cepat, dapat diakses dimana saja, darimana saja, dan kapan saja terkadang menyebabkan labelling bagi perpustakaan sebagai lembaga yang kurang kompetitif, karena pelayanannya tidak dapat mengikuti perubahan zaman. Oleh karena itu diperlukan adanya pembelajaran serta pengadaptasian terhadap teknologi informasi pada pustakawan. Pustakawan merupakan profesi yang memiliki beberapa tugas pokok dan fungsi yang sepesifik. Tiga kunci utama yang digunakan untuk menjalankan strategi kepuasan (satisfaction) bagi pengguna perpustakaan yaitu, memahami kebutuhan pengguna, pengembangan database yang akurat, dan pemanfaatan informasi yang didapat dari riset (Rahmah, Makmur, & Testiani, 2015). Pasar informasi, dapat berkontribusi dalam pengembangan, pemasaran dan penggunaan produk informasi. Adaptasi di era digital mengubah cara pengolahan dan layanan dengan adanya aplikasi software yang basisnya website, sehingga mengubah wajah perpustakaan dari konvensional menjadi terotomasi berbasis online dengan internet sebagai penunjangnya.

Conclusion

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adaptasi kemajuan teknologi pada perpustakaan untuk pustakawan harus dilakukan agar seorang pustakawan dapat berkembang dengan seiring berjalannya waktu. Perguruan tinggi Bina Sriwijaya sudah dalam proses untuk mentransformasikan perpustakaan mereka ke perpustakaan digital, dengan menginput data mereka ke dalam database slims. Dengan mengikuti beberapa seminar, webinar, dan workshop serta membaca buka dan jurnal penelitian tentang perpustakaan, pustakwaan pada perguruan tinggi Bina Sriwijaya dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi pada perpustakaan dan menerima akan perkembangan teknologi informasi yang sudah terjadi. Dengan adaptasi inilah pustakawan sebagai jembatan dalam menghubungkan penggguna dengan layanan yang berbasis modern dan mudah untuk diakses.